Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA VIDEO TERHADAP PENGETAHUAN TENTANG METODE RICE UNTUK PERTOLONGAN PERTAMA CEDERA BAHU PADA PEMAIN BADMINTON
Cedera bahu adalah rasa nyeri pada
bahu karena adanya masalah pada
bagian otot-otot ligamen yang berada di
daerah sendi bahu. Bulutangkis
memiliki karakteristik gerakan yang
bersifat explosive sehingga memiliki
risiko cedera/injury yang tinggi bagi
para atletnya. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui pengaruh pendidikan
kesehatan dengan media video terhadap
pengetahuan tentang metode RICE
untuk pertolongan pertama cedera bahu
pada pemain badminton. Desain
penelitian ini adalah Pra-
Eksperimental dengan rancangan one-
group pre-post test design (without
control). Populasi penelitian ini adalah
anggota badminton STIKes Patria
Husada Blitar sebanyak 30 orang dan
Polkesma 25 orang, dan besar sampel
sebanyak 48 responden dengan metode
Purposive Sampling. Variabel
peneltian ini adalah untuk menganalisis
pengaruh pendidikan kesehatan dengan
media video terhadap pengetahuan
tentang metode rice untuk pertolongan
pertama cedera bahu pada pemain
badminton. Skala data penelitian ini
interval, dilakukan ujinnormalitas
dengan shapiro wilk sesuai dengan
sampel. Instrument berupa kuesioner
untuk mrngukur tingkat pengetahuan.
Analisa data menggunakan uji
Wilcoxon Rank’s. Hasil pre-test
menunjukkan responden memiliki
tingkat pengetahuan kurang sebanyak
15 orang 31,2% dan tingkat
pengetahuan cukup berjumlah 33 orang
68,7% dan hasil post-test menunjukkan
responden memiliki tingkat
pengetahuan baik sebanyak 47 orang
97,9%. Hasil statistic menunjukkan
bahwa ada pengaruh pendidikan
kesehatan menggunakan video
pertolongan pertama dengan nilai
signifikan yaitu α 0,00 atau p< 0.05.
Dari hasil tersebut diharapkan anggota
badminton untuk menyadari
pentingnya pertolongan pertama pada
cedera bahu agar tidak terjadi cedera
yang lebih parah dan menerapkan
pertolongan pertama menggunakan
metode RICE sebagai sarana penunjang
pada cedera bahu untuk kedepannya
PENGARUH POSISI PRONASI TERHADAP SATURASI OKSIGEN BAYI YANG MENGGUNAKAN CONTINUOUS POSITIVE AIRWAY PRESSURE (CPAP) DI RSUD NGUDI WALUYO WLINGI
Asfiksia pada bayi menyebabkan bayi mudah mengalami
gangguan pada sistem pernafasan yang disebut dengan Respirasi Distres Syndrom
(RDS) yang menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi turun.
Penatalaksanaan pada bayi dengan Respirasi Distres Syndrom (RDS) dapat
dilakukan tindakan invasif dan noninvansif. Tindakan invasif dapat dibantu
dengan penggunaan ventilasi mekanik tanpa menginvasi langsung dengan
menggunanakan Continuos Positive Airway Pressure (CPAP) yang merupakan
suatu alat yang sederhana dan efektif untuk tatalaksana respiratory distress pada
neonatus yang bertujuan untuk mempertahankan tekanan positif pada saluran
napas neonatus selama pernafasan spontan. Sedangkan penatalaksanaan tindakan
noninvasif bayi dengan Respirasi Distres Syndrom (RDS) yaitu dengan
menyokong terapi oksigen melalui pengaturan posisi yaitu dengan posisi pronasi.
Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh posisi pronasi terhadap saturasi
oksigen bayi yang menggunakan CPAP di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi.
Metode: Desain penelitian ini adalah Pre Eksperimental dengan rancangan one
group pretest-postest dengan menggunakan instrument lembar observasi.
Populasi penelitan adalah seluruh bayi yang menggunakan CPAP di RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi dengan sample sejumlah 20 responden yang dipilih dengan teknik
purposive sampling Hasil: Hasil penelitian didapatkan rata-rata nilai saturasi
oksigen sebelum dilakukan posisi pronasi pada bayi yang menggunakan CPAP di
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi yaitu 93,60% dan rata-rata nilai saturasi oksigen
sesudah dilakukan posisi pronasi pada bayi yang menggunakan CPAP di RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi yaitu 96,55%. Hasil uji T-Paired test menunjukkan ada
pengaruh yang signifikan antara saturasi oksigen sebelum dan sesudah dilakukan
intervensi posisi pronasi selama 6 jam pada bayi yang menggunakan CPAP di
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dengan nilai ρ = 0,000 < α = 0,05. Diskusi:
Ketepatan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan untuk melakukan
intervensi posisi pronasi pada bayi dengan CPAP dapat mengotimalkan proses
perbaikan status pernafasan bayi. Dari hasil tersebut diharapkan dapat menjadi
acuan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan terutama yang berhubungan
dengan tindakan pada bayi yang menggunakan CPAP
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ANGGOTA POSYANDU LANSIA MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL TENTANG PENYAKIT GOUT ARTHRITIS DI POSYANDU LANSIA MAWAR IV SUMBERJO
Gout arthritis adalah penyakit akibat penumpukan asam urat yang
sering disebabkan oleh makanan tinggi purin dan ditandai dengan serangan radang
sendi berulang. Lansia sering mengalami kekambuhan karena kurangnya
pengetahuan dan kesadaran menjaga kadar asam urat. Jika tidak diobati dapat
berakibat fatal bahkan kematian, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi
serius seperti tophi, kerusakan sendi, batu ginjal, dan gagal ginjal. Sehingga
diperlukan pendidikan kesehatan tentang asam urat sehingga dapat tercegahnya
penyakit gout arthritis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan
sikap anggota posyandu lansia setelah pemberian pendidikan kesehatan dengan
media audio visual tentang Gout Arthritis di Posyandu Lansia Mawar IV
Sumberjo. Penelitian ini menggunakan metode Pre-Eksperimen dengan desain
One Group Pre-Test Post-Test. Dari populasi 60 terpilih 49 anggota posyandu
lansia secara accidental sampling. Instrumen penelitian adalah kuesioner
pengetahuan dan sikap, dianalisis dengan uji Wilcoxon Sign Rank Test (α = 0,05).
Hasil Pre-Test menunjukkan mayoritas memiliki pengetahuan kurang (49%) dan
sikap kurang (59,2%). Setelah intervensi, hasil Post-Test menunjukkan
peningkatan dengan mayoritas memiliki pengetahuan baik (67,3%) dan sikap baik
(61,2%). Hasil statistik menunjukkan ada pengaruh signifikan pendidikan
kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dengan p=0,000 (α ≤0,05). Kesimpulan
penelitian ini adalah ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan
dan sikap pada anggota posyandu lansia menggunakan media audio visual tentang
penyakit Gout Arthritis di Posyandu Lansia Mawar IV Sumberjo. Petugas
kesehatan diharapkan lebih memperhatikan pelayanan kesehatan, khususnya
penderita gout arthritis, dengan mengadakan kegiatan KIE (Komunikasi,
Informasi, dan Edukasi) tentang gout arthritis menggunakan media audio visual.
Diharapkan, upaya ini dapat mengurangi atau mencegah bertambahnya jumlah
penderita gout arthritis
PENGARUH TERAPI MUSIK INSTRUMENTAL TERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN PRA PEMBEDAHAN SECTIO CAESAR
Musik Instrumental adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya Eropa dan digolongkan melalui periodisasi tertentu. Terapi musik instrumental dapat merangsang tubuh mengeluarkan opoid endogen yaitu endorphin dan enkefalin yang memiliki sifat seperti morfin yaitu untuk mengurangi kecemasan. Kecemasan ibu hamil akan meningkat jika terdapat faktor-faktor penyulit proses persalinan, yaitu pembedahan Sectio Caesarea, tindakan pembedahan tersebut adalah suatu ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan kecemasan ketika akan menghadapinya, sehingga menjadikan perasaan yang tidak nyaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui terapi musik instrumental untuk mengurangi kecemasan pada ibu bersalin dengan tindakan operasi Caesar. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode Pra-Eksperimental dengan pendekatan One Group Pra-Post Test Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien pre operasi sectio caesarea bersalin RSU Ananda Srengat yang merasakan cemas. Pada tahun 2023 pada bulan Maret-April yaitu berjumlah 27 pasien. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 21 orang. Penelitian ini menggunakan purposive sampling, pengumpulan data menggunakan instrumen alat hitung interval, untuk analisa datanya menggunakan wiloxon test, Pada hasil perlakuan yang telah dilakukan oleh peneliti pada 21 orang pasien pre sectio caesarea. Pada awal diberikan terapi musik Instrumental rata-rata tingkat kecemasan adalah 19,4 (mengalami kecemasan berat). Setelah pemberian terapi musik Instrumental dan diobservasi, ternyata tingkat kecemasan mampu menurun menjadi rata-rata 14,9 dan responden mengalami kecemasan sedang. Penelitian membuktikan bahwa ada perbedaan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi sectio caesarea sebelum dan sesudah diberikan terapi musik Instrumental. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar dan pembanding untuk penelitian selanjutnya
PENGARUH EDUKASI AUDIOVISUAL TERHADAP PENGETAHUAN STUNTING PADA REMAJA
Kurangnya kesadaran dan pengetahuan remaja akan akibat stunting, ciri-ciri stunting, cara pencegahannya dengan pola konsumsi yang baik merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya stunting. Edukasi dengan menggunakan media audio visual merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan remaja akan stunting. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh edukasi audio visual terhadap pengetahuan stunting pada remaja di Poli PKPR UPT puskesmas kepanjenkidul.
Desain penelitian ini quasi experiment dengan pendekatan pre-test post-test control group design. Populasi penelitian ini adalah 56 remaja yang berkunjung ke Poli PKPR UPT Puskesmas Kepanjenkidul Kota Blitar. Sampling yang digunakan adalah accidental sampling dengan jumlah sampel 50 responden. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Uji statistik untuk menganalisis perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah pada kelompok kontrol menggunakan uji wilcoxon rank dan menganalisis perbedaan posttest kelompok kontrol dan perlakuan dengan menggunakan mann-whitney (α < 0,05)
Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan remaja tentang stunting sebelum dan setelah diberikan edukasi audio visual dengan hasil uji wilcoxon nilai signifikan 0,000. Hasil uji mann whitney didapatkan p=0.004, artinya ada perbedaan bermakna sebelum dan setelah diberikan edukasi audiovisual terhadap pengetahuan remaja tentang stunting.
Media audio visual merupakan metode edukasi yang mampu menampilkan unsur gambar dan juga suara secara bersamaan dalam penyampaian pesan ataupun informasi. Oleh karena itu petugas kesehatan dalam memberikan edukasi untuk menggunakan media audiovisual karena mudah untuk diterima dan dipahami oleh masyarakat
Deteksi Penanda Prognosis kasus COVID 19: Studi terhadap Factor- Faktor yang Mempengaruhi Kadar D-Dimer
Pengaruh Edukasi Media Booklet terhadap Pengetahuan Keluarga tentang Penurunan Kesadaran pada Pasien Stroke di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi
Rendahnya kesadaran akan faktor risiko stroke, kurang dikenalinya gejala stroke, belum optimalnya pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk pencegahan stroke ulang yang rendah merupakan permasalahan yang muncul pada pelayanan stroke di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh edukasi media booklet terhadap pengetahuan keluarga tentang resiko resiko penurunan kesadaran pada pasien stroke di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian Quasi eksperimental, dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 30 Keluarga pasien stroke. Penelitian ini menggunakan media booklet yang diberikan kepada keluarga pasien stroke sebanyak satu kali selama pasien di rawat di rumah sakit. Penelitian ini menunjukan adanya peningkatan pengetahuan setelah diberikan edukasi media booklet dilihat dari nilai pre-test dan post-test. Hasil analisa statistic menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan bahwa ada pengaruh edukasi media booklet terhadap pengetahuan keluarga tentang penurunan kesadaran pada pasien stroke di RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dengan nilai signifikan α 0,00 (p< 0.05). Hasil tersebut diharapkan mampu dijadikan sebagai motivasi pada keluarga pasien dalam penerapan edukasi media booklet bagi masyarakat sehingga dapat mewujudkan masyarakat yang sejahter
Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Manfaat Daun Kelor untuk Meningkatkan Berat Badan pada Anak Usia 1-3 Tahun
Status gizi merupakan gambaran keadaan keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan yang diperlukan oleh tubuh untuk metabolism. Berdasarkan data dari profil kesehatan Dinkes yang didapat, di kabupaten Blitar terdapat balita gizi kurang yang menempati urutan pertama yang berjumlah 129 berada di kecamatan Gandusari. Daun kelor merupakan salah satu sumber pangan nabati yang memiliki kandungan gizi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Oleh karena itu daun kelor sangat cocok untuk digunakan dalam meningkatkan berat badan anak usia 1-3 tahun. Jenis penelitian One Group Pretest Postest Desain dengan rancangan pre-test and post-test yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Gandusari pada bulan Oktober 2022. Sampel yang digunakan adalah ibu yang memiliki anak usia 1-3 tahun sejumlah 30 responden diambil secara purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan kuesioner dan leaflet. Uji statistic menggunakan uji Shapiro Wilk dengan program SPSS 16.0. Responden memiliki pengetahuan cukup (50%) terkait manfaat daun kelor. responden memiliki pengetahuan yang baik (93,3%) terkait manfaat daun kelor. Berdasarkan uji statistic Shapiro wilk didapatkan p value = 0.000, sehingga p value = 0.000 < α = 0.05.pengaruh pendidikan kesehatanpendidikan kesehatan tentang manfaat daun kelor untuk menambah berat badan anak usia 1-3 tahun. Terdaapt pengaruh pendidikan kesehatanpendidikan kesehatan tentang manfaat daun kelor untuk menambah berat badan anak usia 1-3 tahu
Hubungan Koping dan Efikasi Diri dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa
Prevalensi pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa (HD) semakin meningkat secara global maupun nasional. HD bertujuan untuk mempertahankan kehidupan dan meningkatkan kualitas hidup pada penderita GGK. Hemodialisa dalam jangka waktu panjang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan fisik, kondisi psikologis, spiritual, status sosial ekonomi dan dinamika keluarga. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup adalah koping dan efikasi diri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan koping dan efikasi diri dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa. Rancangan penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan menggunakan data kuantitatif. Populasi penelitian ini sebesar 120 pasien GGK yang menjalani HD di RSUD Ngudi Waluyo. Sampel penelitian ini sebanyak 91 responden menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh dari kuesioner Brief COPE inventory (BCI) untuk mengukur koping, kuesioner CKD SE untuk mengukur efikasi diri dan kuesioner WHOQoL– BREF untuk mengukur kualitas hidup pasien. dianalisis dengan uji statistik korelasi Spearman Rho dengan tingkat kemaknaan p <0,05. Hasil penelitian menunjukkan koping sebesar 97,8%, efikasi diri sebesar 90,1 %, kualitas hidup pasien sebesar 62,6%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara koping dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik (p-value 0.712). Ada hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik (p-value 0.001). Dari hasil penelitian tersebut dapat di artikan bahwa koping yang adaptif akan memiliki kualitas hidup yang baik. Begitu juga semakin baik efikasi diri maka kualitas hidup pasien akan meningka