Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Tenaga Kesehatan dalam Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di UPTD Puskesmas Kecamatan Sananwetan Kota Blitar
Alat pelindung diri (APD) sangat penting bagi tenaga kesehatan untuk melindungi diri dari infeksi. Pada fasilitas pelayanan kesehatan, jumlah pekerja yang terbanyak dan beresiko terkena infeksi adalah tenaga kesehatan. Namun berdasarkan berbagai hasil penelitian terhadap beberapa profesi tenaga kesehatan didapatkan sikap bervariasi dalam penggunaan APD. Sikap yang buruk juga menyebabkan perilaku yang buruk. Salah satu komponen koqnitif pada sikap adalah pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tenaga kesehatan terhadap sikap penggunaan APD
Desain penelitian ini adalah deskriptif korelasi. Populasi penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan di UPTD Kesehatan Puskesmas Sananwetan Kota Blitar yang berjumlah 69 orang. Jumlah sampel 61 responden dengan teknik sampling purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap. Analisis menggunakan uji Spearman rank (α=0,05).
Hasil penelitian ini didapatkan tingkat pengetahuan 49,18% baik, 45,9% cukup dan
4,92% kurang. Sikap responden menunjukkan 96,72% baik, 3,28% cukup. Ada hubungan yang lemah antara tingkat pengetahuan dengan sikap penggunaan APD (p=0,389;) dengan arah positif. Perlunya meningkatkan pengetahuan untuk memperbaiki sikap sehingga mengubah perilaku untuk menurunkan resiko infeksi dan penularan ke pasien.
Personal protective equipment (PPE) is very important for health workers to protect themselves from infection. In health care facilities, the largest number of workers and at risk of infection is health workers. However, based on various research results on several health professionals, there were varied attitudes in the use of PPE. Bad attitude also causes bad behavior. One of the coqnitive components of attitude is knowledge. This study aims to determine the relationship of knowledge level of health personnel to the attitude of use of PPE The design of this research is descriptive correlation. The population of this research is
all health workers at UPTD Health Health Center of Sananwetan City of Blitar which is 69 people. The sample size is 61 respondents with purposive sampling sampling technique. Data collection using questionnaire instrument to know the level of knowledge and attitude. The analysis used Spearman rank test (α = 0,05).
The results of this study obtained a knowledge level of 49.18% good, 45.9% enough and
4.92% less. Attitude of respondents showed 96.72% good, 3.28% enough. There is a weak relationship between the level of knowledge with the attitude of use of PPE (p = 0.389;) with a positive direction. The need to increase knowledge to improve attitudes thereby altering behaviors to reduce the risk of infection and transmission to patients
Efek Kartu Kendali Edukasi Inisiasi Menyusu Dini pada Ibu Hamil Trimester III
Pencapaian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Indonesia masih sangat rendah, hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan ibu dalam pelaksanaan IMD. Terkait dengan hal ini maka dibutuhkan instrumen yang tepat untuk menambah pengetahuan ibu hamil secara komperehensif.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan mendesain dan memvalidasi kartu kendali edukasi IMD pada ibu hamil trimester III yang dapat digunakan oleh bidan dalam meningkatkan pengetahuan IMD pada ibu kartu tersebut di desain dan diuji coba terlebih dahulu oleh beberapa tim ahli untuk divalidasi kepada beberapa orang sampel sebelum akhirnya digunakan kepada sampel pasien.
Metode Penelitian : jenis penelitian ini adalah quasi eksperiment dengan desain one gruppretest – posttes with kontrol. Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar, tehnik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling. jumlah sampel sebanyak 60 orang kemudian dibagi menjadi 2 kelompok. Yang akan di berikan perlakuan satu kelompok menggunakan kartu kendali satu kelompok tanpa menggunakan kartu kendali Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden sebelum dan sesudah edukasi. Analisis menggunakan uji Chisquare, Mannwhitney dan Friedman. kartu kendali edukasi divalidasi oleh 3 tim ahli yaitu ahli komunikasi, konselor laktasi dan kebidanan.
Hasil Penelitian : terdapat pengaruh kartu kendali edukasi dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD dengan nilai P = 0,000 yaitu pengetahuan kurang sebelum edukasi 40,5, setelah pemberian edukasi pertama menggunakan kartu pengetahuan ibu meningkat menjadi 50,17, pada edukasi edukasi ke dua menjadi 60,17 dan pada edukasi terakhir menjadi 73,17 Hal ini membuktikan bahwa kartu kendali edukasi dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil akan praktik IMD
Kesimpulan : kartu kendali edukasi IMD pada ibu hamil terbentuk dan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang IMD secara signifikan.
Saran : penggunaan kartu kendali edukasi dalam meningkatkan pengetahuan praktik IMD perlu dimulai sejak trimester II kehamilan
Analisi Faktor yang Mempengaruhi Lansia datang ke Pelayanan Kesehatan
Sarana dan fasilitas dalam pelayanan kesehatan bagi lansia telah disediakan oleh pemerintah Indonesia melalui satuan terkecil di masyarakat yaitu puskesmas & posyandu lansia, akan tetapi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia baik untuk upaya promotif, preventif, dan kuratif masih belum optimal. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi lansia datang dan memanfaatkan pelayanan kesehatan. Tujuan penelitian mengetahui pengaruh faktor pengambilan keputusan, sumber pembiayaan, kualitas pelayanan, akses jarak, akses transportasi, persepsi terkait gejala yang mempengaruhi lansia datang ke pelayanan kesehatan. Metode yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Nonprobability sampling dengan teknik accidental sampling. Populasinya lansia yang terdaftar di Posyandu lansia Dusun Wonosari Desa Pandansari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Partisipan penelitian ini adalah para lansia yang bertemu dengan peneliti saat pengambilan data didapatkan sampel sebanyak 50 responden. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang sebelumnya telah disiapkan. Hasil analisis data menggunakan chi-square didapatkan ada pengaruh antara pengambilan keputusan (p=0.031), sumber pembiayaan (p=0,021), kualitas pelayanan (p=0.021), akses jarak (p=0.006), akses transportasi (p=0.043) masing-masing terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia. Hasil uji multivariat menggunakan regresi logistik didapatkan hasil tidak ada faktor yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia (p>0.05). Berdasarkan hasil penelitian, perlu adanya perhatian terhadap pelayanan kesehatan primer khususnya posyandu lansia agar lebih optimal pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh lansia khususnya dalam upaya preventif dan promotif dengan memberdayakan masyarakat setempat melalui kader kesehatan posyandu lansia bekerjasama dengan tim kelompok kerja (pokja) lansia dari Puskesmas dan juga tenaga kesehatan yang bertugas di desa
Efektifitas Metode Double D terhadap Depressi Post Partum pada Ibu Nifas Fase Letting Go di Kelurahan Wonokromo Surabaya
Setiap ibu melahirkan beresiko terjadinya depresi post partum. Depresi post partum didefinisikan sebagai depressi non psikotik yang berupa gangguan mood pada pasca persalinan yang berlangsung hingga satu tahun lamanya (Almond, 2009; Apter, Devouche, Gratier, Valente, & Nestour, 2012). Di negara Amerika depresi post partum mencapai 10-20 % sedangkan di negara berkembang mencapai > 20 %. Depressi post partum berdampak pada status sosial ibu, gangguan kepercayaan diri bahkan berkeinginan untuk bunuh diri serta terganggunya perkembangan anak (Hansotte, Payne, & Babich, 2017). Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Maret 2018 di kelurahan Wonokoromo Surabaya didapatkan 45 % ibu pasca melahirkan mengalami depresi post partum pada level ringan dan sedang. Adapun tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektifitas metode double D ( Dzikir dan doa ) terhadap penurunan tingkat depresi post partum fase letting go pada ibu post partum hari ke 7. Desain Penelitian ini menggunakan analitik kuantitaif quasi eksperimen dengan instrument kuesioner EDPS ( Edinburgh Depresi Post partum Scale). Sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan menetapkan kriteria inklusi yang berjumlah 84 responden dengan pembagian 42 responden sebagai kelompok kontrol dan 42 responden sebagai kelompok perlakuan. Uji analitik yang digunakan adalah mann whitney dengan nilai p< 0.005. Hasil uji analisis didapatkan p = 0.001 yang berarti efektif metode double D ( Doa dan Dzikir ) terhadap penurunan tingkat depressi post partum pada ibu nifas fase letting go ( hari ke 7 ). Kesimpulan : Metode double D efektif menurunkan depressi post partum pad ibu post partum fase letting go
Every mother giving birth is at risk of post partum depression. Post partum depression is defined as non psychotic depression in the form of mood disorders in postpartum that lasts up to one year (Almond, 2009; Apter, Devouche, Gratier, Valente, & Nestour, 2012). In America, post partum depression reaches 10-20%, while in developing countries it reaches> 20%. Post partum depression affects the mother's social status, self-esteem, and even suicidal ideation and disruption of child development (Hansotte, Payne, & Babich, 2017). A preliminary study conducted in March 2018 in the Wonokoromo Surabaya village found that 45% of post-partum mothers experience post partum depression at mild and moderate levels. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the double D method (dhikr and prayer) to reduce levels of depression post partum letting go phase in post partum mothers day 7. Design This study used a quasi-quantitative analytic analytic questionnaire with the EDPS questionnaire instrument (Edinburgh Depression Post Partum Scale ). The sampling used was purposive sampling by establishing inclusion criteria totaling 84 respondents with the division of 42 respondents as the control group and 42 respondents as the treatment group. The analytical test used was Mann Whitney with a p value <0.005. The analysis test results obtained p = 0.001 which means effective double D method (Prayer and Dhikr) against decreasing the level of post partum depression in the postpartum mother letting go phase (day 7). Conclusion: The double D method is effective in reducing post partum depression in post partum letting go mothers
Prevalensi, Karakteristik dan Faktor Resiko Prediabetes di Wilayah Pesisir, Pegunungan dan Perkotaan
Latar Belakang : Prediabetes merupakan kondisi kadar glukosa darah diatas normal, tapi belum memenuhi standar diagnosis diabetes. Kondisi ini bila tidak dilakukan perubahan gaya hidup, dapat jatuh pada diagnosis diabetes. Penelitian ini bertujuan memperoleh prevalensi, karakteristik dan faktor resiko prediabetes di wilayah pesisir, pegunungan dan perkotaan. Methode : Penelitian ini merupakan studi prevalensi pada populasi penduduk pegunungan, pesisir dan perkotaan yang melibatkan 90 subjek berusia 40 - ≥ 65 tahun ( 30 di wilayah pegunungan, 30 subjek di wilayah pesisir dan 30 subjek di wilayah perkotaan) dilakukan di wilayah pegunungan, pesisir dan perkotaan dipilih secara acak dengan teknik simple random sampling selama periode bulan Mei – Juni 2019. Pada subjek di lakukan anamnesa menggunakan Kuesioner sesuai kriteria American Diabetes Association dan juga di lakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 21.0 untuk Windows. Analisis deskriptif menggambarkan distribusi variabel penelitian dengan persentase dan rata-rata. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara gaya dengan Prediabetes/diabetes. Hasil : Prevalensi prediabetes diperoleh dari hasil pemeriksaan GDA di wilayah pegunungan sebesar 83,3%, pesisir43,4%, perkotaan 73,4%.Karakteristik prediabetes di di wilayah pegunungan adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, hipertensi, dan obesitas. Di wilayah pesisir adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, hipertensi. Di wilayah perkotaan adalah jenis kelamin perempuan, usia 40-54 tahun, obesitas, dan tidak aktif beraktifitas. Faktor resiko di wilayah pegunungan adalah asam urat dan kolesterol (p <0,05), di wilayah pesisir adalah asam urat, kolesterol dan penyakit pembuluh darah lainnya (p <0,05), sedangkan di wilayah perkotaan adalah riwayat keturunan dan kolesterol (p <0,05). Kesimpulan: Prevalensi prediabetes di wilayah pesisir sebesar ( 43,3%), di wilayah pegunungan sebesar (83,3%), di wilayah perkotaan sebesar (73,4%) Diskusi : Diwilayah pegunungan prevalesi prediabetes lebih besar di bandingkan dengan wilayah perkotaan dan pesisir karena hipertensi dan obesitas. Hipertensi juga merupakan faktor resiko tertinggi penyebab prediabetes pada masyarakat pesisir, sedangkan obesitas menjadi faktor resiko prediabetes di wilayah perkotaan. Perlu dilakukan strategi pencegahan baik terhadap prediabetes maupun progresivitas prediabetes menjadi diabetes dan diharapkan dapat menambah keahlian tenaga medis utuk mengenali prediabetes, mengidentifikasi orang –orang yang beresiko tinggi prediabetes dan memberikan penatalaksanaan yang tepat agar kejadian diabetes dan komplikasi dapat di kurangi
Background : Prediabetes is a condition of blood glucose levels above normal, but does not yet meet the standard diagnosis of diabetes. This condition if lifestyle changes are not made, can fall on the diagnosis of diabetes. This study aims to obtain the prevalence, characteristics and risk factors for prediabetes in coastal, mountainous and urban areas.
Method : This study is a prevalence study in mountainous, coastal and urban populations involving 90 subjects aged 40 - ≥ 65 years (30 in mountainous areas, 30 subjects in coastal areas and 30 subjects in urban areas) conducted in mountainous, coastal and cities were randomly selected by simple random sampling technique during the period May - June 2019. On the subject, anamnesia was performed using a questionnaire according to the American Diabetes Association criteria and physical examination and laboratory examination were also carried out. Statistical analysis was performed using SPSS version 21.0 for Windows. Descriptive analysis illustrates the distribution of research variables by percentages and averages. Chi-square test was used to analyze the relationship between style and Prediabetes / diabetes. Results : The prevalence of prediabetes was obtained from the results of GDA examination in the mountainous region of 83.3%, coastal43.4%, urban 73.4%. The characteristics of prediabetes in the mountainous region were female sex, age 40-54 years, hypertension, and obesity . In coastal areas are female sex, age 40-54 years, hypertension. In urban areas are female sex, age 40-54 years, obesity, and not active activity. Risk factors in mountainous regions are uric acid and cholesterol (p <0.05), in coastal areas are uric acid, cholesterol and other vascular diseases (p <0.05), whereas in urban areas are history of heredity and cholesterol (p <0.05). Conclusion : The prevalence of prediabetes in coastal areas is (43.3%), in mountainous areas is (83.3%), in urban areas is (73.4%). Discussion : Prevention strategies for both prediabetes and the progression of prediabetes to diabetes are needed and are expected to increase the expertise of medical personnel to recognize prediabetes, identify people at high risk of prediabetes and provide appropriate management so that the incidence of diabetes and complications can be reduce
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Peppermint terhadap Nausea pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea dengan Anestesi Spinal
Penggunaan anestesi spinal yang besar pada operasi sectio caesarea tidak menutup kemungkinan adanya komplikasi. Salah satu komplikasi dari anestesi spinal adalah Post Operative Nausea and Vomiting (PONV). Penatalaksanaan dari komplikasi tersebut meliputi terapi farmakologi dan terapi komplementer. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian aromaterapi peppermint terhadap nausea pada pasien post operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal. Desain penelitian adalah Pra-eksperimen dengan pendekatan one grup pretest postest design. Sampel dalam peneltian ini adalah 7 responden. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi dengan alat ukur Visual Analog Scale (VAS). Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan p-value 0,014 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pada pemberian aromaterapi peppermint terhadap nausea pada pasien post operasi sectio caesarea dengan anestesi spinal. Aromaterapi peppermint dalam penelitian ini menunjukkan pengaruh terhadap nausea, hal tersebut dapat digunakan sebagai terapi komplementer untuk menurunkan nausea pada pasien post operasi sectio caesarea. Saran bagi Rumah Sakit, hasil penelitian dapat diaplikasikan sebagai inovasi dalam penatalaksanaan kasus nausea
Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Keberhasilan ASI Eksklusif pada Bayi Usia 0-6 Bulan di BPM Nihayatur Rokhmah Kuningan Kabupaten Blitar
Satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian ASI. Pemberian ASI merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus dimasa depan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap keberhasilan ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPM Nihayatur Rohmah Kuningan Kabupaten Blitar.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah ibu yang menyusui bayinya pada usia 0-6 bulan di BPM Nihayatur Rohmah Kuningan Kabupaten Blitar. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 25 responden dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner. Uji statistik yang digunakan adalah Uji Man Whitney.
Berdasarkan hasil pengetahuan diketahui hasil ibu dengan dukungan keluarga baik dengan keberhasilan ASI Eksklusif baik sebanyak 64% (16 responden). Ibu dengan dukungan keluarga cukup dengan keberhasilan ASI Eksklusif cukup sebanyak 20% (5 responden). Hasil uji Man Whitney menunjukkan nilai p value = 0,0000, sehingga nilai p value 0,0000 < 0,05 atau signifikan artinya adanya hubungan dukungan keluarga terhadap keberhasilan ASI Eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di BPM Nihayatur Rokhmah Kuningan Kabupaten Blitar.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan kepada tempat penelitian lebih meningkatkan kegiatan berupa program yang berhubungan dengan keberhasilan ASI Eksklusif seperti penyuluhan dan konseling tentang manfaat ASI Eksklusif dan pentingnya ASI Eksklusif pada ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan
Hubungan Paritas dengan Kejadian Post Partum Blues di UPTD Puskesmas Kecamatan Kepanjen Kidul
Post partum blues atau baby blues merupakan perasaan sedih yang dialami oleh ibu setelah melahirkan berkaitan dengan bayinya. Post partum blues merupakan sindroma ganguan afektif ringan yang terjadi setelah melahirkan. Apabila post partum blues tidak tertangani dengan tepat dapat menjadi faktor pencetus terjadinya depresi postpartum yang dapat berakibat fatal bagi ibu dan bayinya.
Desain penelitian cross sectional dan jenis penelitian menggunakan Analitik Korelasional dan. Sampel terdiri dari 20 responden yang dipilih dengan teknik Total Sampling. Instrumen penelitian menggunakan EPDS (Edinburg Postnatal Depression Scale). Penelitian ini menggunakan uji statistik Spearman Rank.
Hasil penelitian menunjukkan ibu post partum yang mengalami post partum blues sebanyak 45% dan tidak post partum blues sebanyak 55%. Pada paritas, ibu primipara yang mengalami post partum blues sebanyak 25%, multipara sebanyak 20% dan grandemultipara sebanyak 0%.
Berdasarkan hasil analisa dengan uji statistik Spearman Rank didapatkan p value = 0,133, sehingga p value = 0,133 > α 0,05. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan paritas terhadap kejadian post partum blues. Ada faktor lain yang mempengaruhi kejadian post partum blues, diharapkan tenaga kesehatan meningkatkan pemenuhan kebutuhan ibu post partum dan memberikan penyuluhan kepada suami, keluarga tentang post partum blues agar ibu tidak mengalami post partum blues