Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
Faktor Ketidakpuasan Ibu Hamil dalam Pelayanan Asuhan Kehamilan
Pelayanan asuhan kehamilan sebagai strategi untuk menurunkan angka kematian ibu. Salah satu masalah penting yang terus dihadapi adalah kurangnya kualitas baik pelayanan antenatal sehingga mempengaruhi kepuasan klien. Kepuasan merupakan indikator mutu pelayanan. Kepuasan ibu hamil penting untuk perbaikan lebih lanjut dari kualitas perawatan antenatal terfokus dan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang beragam bagi wanita hamil. Tujuan dari systematic literature review ini adalah untuk menyimpulkan dan memeriksa literature yang berhubungan kepuasan ibu hamil terhadap kualitas pelayanan dalam asuhan kehamilan dan untuk mengetahui penyebab ketidakpuasan dalam pelayanan asuhan kehamilan. Studi apprasial menggunaan program Critical Appraisal Skills Program (CASP) dan metode sintesis menggunakan modifikasi PICO dengan sumber data didapatkan dari PubMed dan ProQuest terdapat 734 artikel yang di review. Kriteria inklusi adalah (1) Ibu hamil; (2) Pelayanan dalam Asuhan kehamilan; (3) Kepuasan ibu hamil; (4) Teks lengkap; (5) Artikel yang diterbitkan dari 2013 hingga 2018; dan (6) jurnal internasional. Terdapat 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Kepuasan ibu hamil terhadap kualitas pelayanan asuhan kehamilan di fasilitas kesehatan dipengaruhi oleh layanan klinik, aksesibilitas klinik dan interaksi dokter. Penyebab ketidakpuasan ibu hamil dalam pelayanan asuhan kehamilan diantaranya lamanya waktu menunggu, fasilitas kesehatan dan komunikasi interpersonal. Dari hasil 4 artikel yang diulas didapatkan faktor utama yang menyebabkan ketidakpuasan dalam pelayanan asuhan kehamilan adalah lamanya waktu menunggu. Perlu pelayanan ANC dengan pendekatan HTA (health technology assasment) untuk mempercepat pelayanan administrasi dan observasi awal pada ibu hamil dengan mengintegrasikan teknologi RFID (Radio Frequency identification) dan WSN (wireless sensor network).
Pregnancy care services as a strategy to reduce maternal mortality. One important problem that continues to increase is the good quality of antenatal services that affects client satisfaction. Satisfaction is an indicator of service quality. Pregnancy satisfaction is important for further improvement of the quality of focused antenatal care and to provide comprehensive health services for pregnant women. The purpose of this, systematic literature review is to conclude and examine the literature relating to the satisfaction of pregnant women with the quality of care in care Appraisal studies using the Critical Appraisal Skills Program (CASP) and synthesis methods using PICO with data sources obtained from PubMed and ProQuest containing 734 articles as reviewed. Inclusion criteria are (1) Pregnant women; (2) Services in Pregnancy Care; (3) Satisfaction of pregnant women; (4) Full text; (5) Articles published from 2013 to 2018; and (6) international journals. There are 5 articles that meet the inclusion criteria. Satisfaction of pregnant women towards the quality of pregnancy care services in health facilities as assessed by clinical services, clinic accessibility and physician interaction. The cause of dissatisfied pregnant women in pregnant care services is waiting for the length of waiting time, health facilities and interpersonal communication. From the results of 4 articles worthy of review about the main factors that cause dissatisfaction in care services Need ANC assistance by discussing HTA (health technology assessment) to improve administrative services and early monitoring of pregnant women by integrating RFID technology (Radio Frequency Identification) and WSN (network wireless sensor)
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Penanganan Gawat Darurat Hipotermi pada Pendaki Gunung di Organisasi Primapala Ampel Kabupaten Boyolali
Latar Belakang : Pendaki gunung dan hipotermi merupakan sebuah hubungan yang sangat terkait dalam pendakian. Cuaca buruk di puncak gunung Merbabu menyebabkan 7 pendaki harus dievakuasi karena mengalami hipotermi saat mendaki. Kondisi tubuh yang terlalu lama kedinginan, khususnya dalam cuaca berangin dan hujan dapat menyebabkan mekanisme pemanasan tubuh terganggu. Pentingnya pengetahuan pada pendaki dapat menjadikan pendaki tersebut terhindar dari hipotermi, tetapi tak jarang para pendaki menganggap remeh dan tidak peduli. Tujuan Penelitian: Mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku penanganan gawat darurat hipotermi pada pendaki gunung di organisasi Primapala Ampel Boyolali. Metode: Jenis penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anggota Primapala Ampel Boyolali yang berjumlah 30 orang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisa data menggunakan Uji Kendal Tau. Hasil : Hasil analisa diperoleh tingkat pengetahuan tentang penanganan gawat darurat hipotermi dalam katgori baik sebanyak 27 responden (90%), kategori cukup sebanyak 3 responden (10%). Perilaku penanganan gawat darurat hipotermi dalam kategori baik sebanyak 28 responden (93,3%), kategori cukup 2 responden (6,7%). Nilai Signifikansi uji Kendal Tau yaitu 0,013 Diskusi: Perilaku penganganan gawat darutat Hipertermi mayoritas dalam kategori baik dan terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penanganan gawat darurat hipotermi pada pendaki gunung di organisasi Primapala Ampel Boyolali.
Background: Mountaineer and hypothermia have correlation in climbing. Bad weather at the top of Merbabu caused 7 mountaineers to be evacuated because of hypothermia. Body condition was too long periods of cold, especially in windy weather and rain can cause the body's warming mechanism to be disrupted. The importance of cognitive for mountaineers can make the mountaineers avoid hypothermia, but not infrequently the mountaineers underestimate and do not care. The purpose of research: Knowing the realtion of cognitive level and hypothermia emergency handling of mountaineers in Primapala ampel Boyolali organization. Method: The research used analytic reasearch with cross sectional approach. The research population is all members of Primapala ampel Boyolali organization which are consist of 30 people. The number of samples is 30 people. The sampling technique used total sampling. The research instrument used questionnaire. The data analysis used Fisher Test. Result: Cognitive level of hypothermia emergency handling is good category which are 27 respondents (90%), enough category which are 3 respondents (10%). Hypothermia emergency handling in good category is 28 respondents (93,3%) and enough category is 2 respondents (6,7%). Significance Value of Kendall’s Tau test that is 0.013 Discussion: Majority of emergency treatment behavior Hypertherm is in the good category. Discuss: There is a realtionship between the cognitive level and hypothermia emergency handling of mountaineers in Primapala ampel Boyolali organization