Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
Pengaruh Penerapan Family Centered Care terhadap Kemampuan Keluarga dalam Terapi Inhalasi Nebulizer pada Anak dengan Bronchopneumonia
Bronchopneumonia sering terjadi pada anak, apabila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan berbagai komplikasi. Pemberian terapi inhalasi nebulizer pada anak adalah salah satu penatalaksanaan untuk pasien Bronchopneumonia. Akan tetapi, saat ini keluarga masih ketakutan untuk ikut serta dalam pemberian terapi inhalasi. Oleh karena itu perlu kerjasama antara perawat dan keluarga untuk keberhasilan terapi inhalasi nebulizer. Hal ini dilakukan dengan pemberian metode Family Centered Care untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan Bronchopneumonia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh FCC terhadap kemampuan keluarga dalam pemberian terapi inhalasi nebulizer pada anak dengan Bronchopneumonia.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian pra eksperimental yaitu one group pra post test design di paviliun 4 RSK Budi Rahayu Blitar pada 27 Januari- 9 Februari 2020. Jumlah responden 14 yang diambil menggunakan purposive sampling. Responden akan diberikan kuesioner sebelum diberikan intervensi FCC kemudian diberikan FCC selama 3 kali perlakuan dan kemudian setelah 3 kali perlakuan akan de evaluasi kemampuan responden.
Hasil penelitian menunjukkan skor rata-rata kemampuan keluarga sebelum diberikan FCC adalah 28,93 dan kemampuan keluarga setelah diberikan FCC adalah 37,78. Jadi dapat disimpulkan terdapat kenaikan 8,86 dari nilai rata- rata. Hasil uji Wilcoxon Range Test didapatkan p value = 0,001 dimana p value lebih kecil dari nilai α (0,05) artinya ada pengaruh kemampuan keluarga dalam pemberian terapi inhalasi nebulizer pada anak dengan Bronchopneumonia di RSK Budi Rahayu Blitar. Perawat diharapkan dapat menggunakan Family Centered Care sebagai pendekatan perawat kepada keluarga pasien guna membantu proses perawatan pasien anak
Asuhan Keperawatan Perioperatif pada Pasien Mastectomy dengan General Anestesi di Ruang Operasi RSU Aminah Blitar
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan anestesi. Keseluruhan prosedur anestesi dimulai sejak periode pra anestesi dan diakhiri pada periode pasca anestesi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan pasien baik secara fisik maupun psikis. Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh payudara (biasanya termasuk puting payudara) dan termasuk pengangkatan satu atau lebih kelenjar getah bening (lymph nodes) dari daerah ketiak. Berdasarkan data laporan operasi di RSU Aminah tahun 2019 sebanyak 54 kasus mastectomy. Hal ini meningkat dari tahun sebelumnya yakni 28 kasus mastectomy. Diperlukan asuhan keperawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat yang akan berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien. Diagnosa keperawatan pada teori pada pasien mastectomy dengan general anestesi adalah ansietas, gangguan ventilasi spontan, resiko perdarahan, resiko infeksi, hipotermi, dan nyeri akut. Namun pada praktek di lapangan, tidak semua diagnosa muncul pada semua kasus, hal ini menurut penulis karena faktor pemeriksaan fisik pasien. Sehingga menentukan keberhasilan prosedur pembedahan dan pemberian anestesi. Dari empat kasus yang dikelola penulis diagnosa yang muncul rata- rata sama yaitu diagnosa ansietas, gangguan ventilasi spontan, dan nyeri. Munculnya diagnosa ansietas karena kurangnya terpapar informasi tentang prosedur pembedahan dan anestesi, diagnosa gangguan ventilasi sponta karena pemberian obat anestesi dan diagnosa nyeri muncul karena agen pencederab fisik pembedahan. Hasil evaluasi yang dilakukan masalah dapat taratasi sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam intervensi keperawatan, kecuali untuk masalah nyeri akut
Literatur Review : Gambaran Pengaruh Akupresur pada Titik CV 17, Si 1, Li 4, Sp 6, St 36, St 16, St 18 terhadap Produksi ASI pada Ibu Postpartum
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama terbaik untuk bayi ibu di Indonesia yang berhasil memberikan ASI Eksklusif di tahun 2018. ASI yang tidak keluar pada hari pertama kehidupan bayi adalah salah satu faktor penghambat pemberian ASI eksklusif. Masalah ini dapat diantisipasi sejak kehamilan melalui konseling laktasi. Upaya untuk mengatasi masalah yang tidak dapat dilakukan pada ibu postpartum selain perawatan payudara adalah dengan akupresur. Akupresur selama 10-30 menit adalah upaya yang dapat membantu ibu postpartum meningkatkan produksi ASI. Akupresur melalui titik meridian sesuai dengan organ yang akan dituju dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan. Acupressure points for lactation merupakan tindakan yang berfungsi merangsang diproduksinya hormon prolaktin dari otak. Hormon ini yang mempengaruhi banyak sedikitnya ASI. Dengan dilakukannya acupressure points for lactation di titik-titik tertentu yang sesuai dengan acupoints pada tindakan akupunktur akan bisa merangsang produksi hormon prolaktin.
Literature review ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengaruh akupresur pada titik CV 17, SI 1, LI 4, SP 6, ST 36, ST 16, ST 18 terhadap produksi asi pada ibu postpartum. Pencarian jurnal dilakukan secara elektronik menggunakan beberapa basis data, yaitu: Science Direct, Pubmed, dan Google Scholar dari tahun 2015 hingga 2020. Kata kuncinya adalah “Akupresur” dan “Produksi ASI” dan “Ibu Pospartum”. Kriteria yang digunakan adalah penelitian kuantitatif studi. Hasil penelitian memilih artikel dalam jurnal nasional sebanyak : 9 jurnal penelitian dan internasional sebanyak 1 studi.
Akupresur dapat digunakan sebagai alternative dalam upaya peningkatan produksi ASI selama masa nifas. Akupresur adalah intervensi yang dapat dilakukan dengan aman, mudah dan tanpa efek samping. Intervensi ini juga dapat dilakukan oleh suami/keluarga/ setelah dilatih oleh bidan/tenaga kesehatan
Pengaruh Pemberian Hot Pack terhadap Shivering pada Pasien Post Sectio Caesarea dengan Anestesi Spinal
Penggunaan teknik anastesi menjadi pilihan pada pasien dengan sectio caesarea karena pasien dalam keadaan sadar dan masa pemulihan lebih cepat. Dampak yang sering muncul dari pasca spinal anastesi adalah shivering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hot pack terhadap shivering pada pasien post sectio caesaria dengan anastesi spinal. Desain penelitian ini adalah Quasi Eksperiment dengan rancangan pre test post test control group design, variabel independen penelitian ini adalah pemberian hot pack dan variabel dependennya adalah shivering. Penelitian ini dilakukan Ruang High Care Unit (HCU) RSI Aminah Blitar pada tanggal 6 sampai dengan 31 Januari 2020. Sampel yang didapat 32 responden, 16 responden kelompok perlakuan dan 16 responden kelompok kontrol dengan menggunakan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat mayoritas responden pada kelompok perlakuan dan kontrol sebelum pemberiaan hot pack mengalami shivering skala 2. Setelah pemberian hot pack skala shivering pada kelompok perlakuan mengalami penurunan signifikan menjadi 0 sedangkan pada kelompok kontrol mengalami penurunan skala shivering yang tidak terlalu signifikan yaitu menjadi 1. Uji statistik penelitian ini menggunakan Mann Whitney dengan nilai p-value 0,000. Artinya pemberian hot pack berpengaruh terhadap shivering pada pasien post sectio caesarea dengan anastesi spinal
Pengaruh Posisi Tubuh terhadap Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Wilayah RW 06 Kelurahan Bongkaran Sejahtera Kecamatan Pabean Cantian Surabaya
Salah satu gangguan kesehatan yang banyak dialami oleh lansia adalah pada sistem kardiovaskuler yaitu hipertensi. Pada berbagai posisi akan menghasilkan tekanan darah yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran tekanan darah pada lansia yang menderita hipertensi antara posisi duduk dan posisi berdiri. Penelitian ini dilaksanakan di RW 06 Kelurahan Bongkaran Sejahtera Kecamatan Pabean Cantian Surabaya pada 27 Januari 2018. Metode pada penelitian yaitu pra eksperimental dengan tipe one group pre post test design dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ditentukan secara total sampling yang berjumlah 50 orang. Data dianalisa menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukan terdapat pengaruh posisi tubuh terhadap tekanan darah. Hasil penelitian yang diperoleh sebagai berikut: tekanan darah yang diukur pada saat duduk sebesar 29 orang (58%) dikategorikan Hipertensi Derajat 1, sedangkan posisi berdiri sebesar 20 orang (34%) dikategorikan Hipertensi Derajat 2. Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara posisi duduk dan posisi berdiri dengan nilai p = 0,000 < α =0,05. Kecepatan denyut jantung akan meningkat pada posisi duduk karena jantung memompa darah akan lebih keras sehingga melawan gaya gravitasi. Hal ini membuat tekanan darah cenderung stabil.. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan pada posisi tubuh yang lain dengan perbedaan waktu istirahat, dan berikan interval waktu dalam melakukan pengukuran tekanan darah.
One of the many health problems experienced by the elderly is the cardiovascular system, that is hypertension. Blood pressure varies in a wide range of circumstances, one of which is the change in position. The purpose of this research is to know the results of the measurement of the blood pressure between sitting position and standing position on the elderly who suffer from hypertension. This research was carried out in the prosperous Village 06 RW Bongkaran Sejahtera Kecamatan Pabean Cantian Surabaya on 27 January 2018. Research on the methods of experimental type with pre eksperiment one group pre post test design with cross sectional approach. Sample determined in simple random sampling of 50 people. The data were analyzed using the Wilcoxon Signed Ranks test. The results showed there are. influence of the position of the body against blood pressure. The research results obtained the following data: blood pressure sitting of 29 people (58%) categorized Hypertension Degrees 1, while a sitting position by 20 people (34%) categorized Hypertension Degrees 2. Test results Wilcoxon Signed Ranks Test showed that there were significant differences between the positions of sitting and standing position with a value of p = 0.000<α = 0.05. Seated position makes blood pressure tend to be stable. Working the heart in a sitting position, in pumping blood will be harder because it opposes the gravitational force so that the heart rate increases. Blood pressure measurement can be done a variety of positions, the time difference break, as well as to provide an interval of time in doing the measurement of blood pressure