Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
Asuhan Keperawatan Perioperatif pada Pasien Mastectomy dengan General Anestesi di Ruang Operasi RSU Aminah Blitar
Tindakan operasi atau pembedahan merupakan pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan membahayakan bagi pasien. Kecemasan yang mereka alami biasanya terkait dengan segala macam prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap keselamatan jiwa akibat segala macam prosedur pembedahan dan tindakan anestesi. Keseluruhan prosedur anestesi dimulai sejak periode pra anestesi dan diakhiri pada periode pasca anestesi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan pasien baik secara fisik maupun psikis. Mastectomy adalah operasi pengangkatan seluruh payudara (biasanya termasuk puting payudara) dan termasuk pengangkatan satu atau lebih kelenjar getah bening (lymph nodes) dari daerah ketiak. Berdasarkan data laporan operasi di RSU Aminah tahun 2019 sebanyak 54 kasus mastectomy. Hal ini meningkat dari tahun sebelumnya yakni 28 kasus mastectomy. Diperlukan asuhan keperawatan perioperatif yang berkesinambungan dan tepat yang akan berpengaruh terhadap suksesnya pembedahan dan kesembuhan pasien. Diagnosa keperawatan pada teori pada pasien mastectomy dengan general anestesi adalah ansietas, gangguan ventilasi spontan, resiko perdarahan, resiko infeksi, hipotermi, dan nyeri akut. Namun pada praktek di lapangan, tidak semua diagnosa muncul pada semua kasus, hal ini menurut penulis karena faktor pemeriksaan fisik pasien. Sehingga menentukan keberhasilan prosedur pembedahan dan pemberian anestesi. Dari empat kasus yang dikelola penulis diagnosa yang muncul rata- rata sama yaitu diagnosa ansietas, gangguan ventilasi spontan, dan nyeri. Munculnya diagnosa ansietas karena kurangnya terpapar informasi tentang prosedur pembedahan dan anestesi, diagnosa gangguan ventilasi sponta karena pemberian obat anestesi dan diagnosa nyeri muncul karena agen pencederab fisik pembedahan. Hasil evaluasi yang dilakukan masalah dapat taratasi sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam intervensi keperawatan, kecuali untuk masalah nyeri akut.
Kata Kunci : mastectomy, general anestes
Pengaruh Terapi Musik Klasik terhadap Status Hemodinamik pada Pasien dengan Cedera Kepala di RS Katolik Budi Rahayu Blitar
Cedera Kepala merupakan cedera akibat trauma pada otak, yang menimbulkan perubahan fisik, intelektual, emosi, sosial ataupun vokasional (pekerjaan). Pasien dengan cedera kepala pada umumnya akan memberikan gambaran hemodinamik yang tidak stabil, Ketidakstabilan status hemodinamika pada pasien cedera kepala akan berpengaruh terhadap TIK, hal ini akan mempengaruhi perfusi pada jaringan serebral, sehingga pada pasien cedera kepala perlu dilakukan pemantauan status hemodinamik. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi musik klasik terhadap status hemodinamik pada pasien cedera kepala. Penelitian ini menggunakan desain Pre Experimental Design dengan one group pretest and posttest dengan tehnik Purposive Sampling pada 16 pasien diruang ICU dan rawat inap RS Katolik Budi Rahayu Blitar. Setelah dianalisa menggambarkan bahwa sesudah dilakukan terapi musik klasik terjadi penurunan rerata MAP (4,5 mmHg), penurunan rerata HR (4,9 xmnt) dan penurunan rerata RR (4,2 x/mnt). Hasil analisa bivariate dengan Paired Sample Test menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh bermakna terapi musik terhadap MAP (p value = 0,044), RR (p value = 0,000), tetapi tidak ada pengaruh terhadap HR (p value = 0,101). Menurut penulis terapi musik klasik berpengaruh terhadap penurunan status hemodinamik pada pasien cedera kepala, hal ini akan membantu stabilisasi hemodinamik pasien sekaligus membantu proses pemulihan pasien
Pemberian Feedback pada Home Learning CPR untuk Meningkatkan Kemampuan Bystander CPR
Penyakit kardiovaskuler masih menjadi penyebab kematian tertinggi di negara maju maupun negara berkembang, hal ini dikarenakan risiko Sudden Cardiac Arrest pada orang dengan penyakit jantung sangat tinggi. Peran bystander CPR pada pasien henti jantung sangat penting, oleh karena itu kemampuan dan jumlah bystander perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas feedback pada metode Home Learning CPR untuk meningkatkan kemampuan bystander CPR. Metode penelitian komparatif, dengan responden pengunjung Car Free Day di Kota Tulungagung sebanyak 47 responden periode September-Oktober 2018 dengan teknik Accidental sampling. CPR dipelajari secara mandiri oleh responden menggunakan video dan guidebook dirumah, dipertemuan selanjutnya dilakukan evaluasi kemampuan responden melakukan Hands-only CPR pada phantom. Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan pada kemampuan responden dalam melakukan Hands-only CPR menggunakan metode Home Learning dan kemampuan responden melakukan Hands-only CPR pada phantom setelah mendapatkan feedback dari peneliti. Uji Wilcoxon didapatkan p-value : 0,000; α : 0,05. Metode Home Learning CPR belum sesuai digunakan untuk pelatihan Hands-only CPR di Kota Tulungagung karena berbagai faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran. Metode demonstrasi dan praktik lebih tepat digunakan untuk pelatihan CPR.
Cardiovascular disease was the highest cause of death in developed country, because the risk of Sudden Cardiac Arrest in people with heart disease was very high. Bystander CPR role was very important to patient with Sudden Cardiac Arrest, therefore the ability and number of bystander CPR need to be increased. This study aims to determine the effectiveness of feedback on Home Learning CPR method to increase the competence of bystander CPR. Method was used comparative, sample was 47 respondents in Tulungagung Car Free Day on September-October 2018 by Accidental sampling. Video and guidebook was used to learn Hands-only CPR at home, then evaluated by doing Hands-only CPR on Adult CPR Mannequin with feedbcak from researcher. The result showed there was a difference on respondents abilities doing Hands-only CPR after Home Learning CPR, and respondents abilities doing Hands-only CPR on Adult CPR mannequin and getting feedback from researcher. Wilcoxon signed rank test showed p-value : 0,000; α : 0,05. It was conclude that Home Learning CPR method was unconvenient to use in Hands-only CPR training in Tulungagung. Demonstration and practice method are more appropriate for CPR Training
Perbedaan Pemberian MP-ASI Menu Tunggal dan 4 (Empat) Kwadran terhadap Status Pertumbuhan Anak
Upaya menciptakan sumber daya manusia yang baik dan berkualitas dimulai sejak kehamilan sampai setelah kelahiran. Periode emas pada anak dapat diwujudkan apabila masa ini anak memperoleh asupan gizi yang sesuai dan optimal. Namun sayangnya masih banyak masalah gizi dialami oleh golongan anak bawah lima tahun (balita) dan anak bawah dua tahun (baduta) ini, sehingga golongan ini disebut juga dengan golongan rawan gizi. Rekomendasi IDAI tentang praktik pemberian makan berbasis bukti pada bayi dan balita di Indonesia menyebutkan bahwa MP-ASI yang terbaik adalah menu lengkap/seimbang dengan tetap memberikan ASI, namun dalam praktiknya di Kelurahan Wonokromo Surabaya masih didapatkan orang tua yang memberikan anaknya MP-ASI menu tunggal berupa pure buah dan bubur tepung beras. Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan MP-ASI menu tunggal dan 4 (empat) kwadran terhadap status pertumbuhan anak. Desain penelitian ini analitik cross sectional. Populasi adalah seluruh bayi yang berusia 6-12 bulan di Kelurahan Wonokromo sebesar 94 bayi. Sampel diambil menggunakan simple random sampling. Jumlah sampel 74 bayi. Pengumpulan data secara langsung menggunakan lembar kuisioner dan secara tidak langsung menggunakan kartu menuju sehat (KMS) Hasil uji statistik menunjukkan nilai p= 0,003 maka p < 0,05 berarti ada perbedaan antara MP-ASI menu tunggal dan menu 4 (empat) kwadran terhadap status pertumbuhan anak. Berdasarkan hal tersebut diharapkan anak mendapatkan menu lengkap atau 4 (empat) kwadran sejak pertama kali mendapatkan MP-ASI yakni saat berusia 6 bulan.
Efforts to create good and quality human resources begin from pregnancy until after birth. The golden period in children can be realized if this time the child gets an appropriate and optimal nutritional intake. But unfortunately there are still many nutritional problems experienced by the group of children under five years old (toddlers) and children under two years (baduta), so this group is also called the vulnerable nutrition group. The practice of giving MP-ASI in a diverse society, MP-ASI with a single menu, and a combined menu containing 4 (four) quadrants. In the MP-ASI single menu mother gives MP-ASI with content of one or 2 types of food. While the 4 (four) quadrant menu contains carbohydrates, minerals and vitamins, protein and fat. This research is to find out the differences of MP-ASI single menu and 4 (four) quadrants on the growth status of children. The design of this research was comparative analytic cross sectional The population was all infants aged 6-12 months in the Wonokromo village of 94 babies. Samples were taken using simple random sampling. The number of samples was 74 babies. Direct data collection using questionnaire sheets and indirectly using cards to health (KMS). Statistical test results show the value of p = 0,003 then p <0.05, its meaning that there is a difference between the MP-ASI single menu menu and 4 (four) quadrants to the child's growth status. Based on this, children are expected to get a complete menu or 4 (four) quadrants since first getting MP-ASI ie at the age of 6 months
Pengaruh Postnatal Massage terhadap Proses Involusi dan Laktasi Masa Nifas di Malang
Masa Nifas merupakan masa kritis bagi ibu pasca melahirkan. Ketidaksiapan secara fisik, psikis, mental dan spiritual dalam menghadapi masa ini akan membuat masa nifas berjalan tidak normal. Parameter kesuksesan masa nifas adalah proses involusi dan laktasi. Permasalahn involusi dilihat dari banyaknya perdarahan postpartum yang disebabkan oleh atonia uteri di Kabupaten Malang sebanyak 34%, sedangkan permasalahan laktasi dikaitkan dengan pemberian ASI Eksklusif di Kota Malang masih rendah sekitar 60%. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah tindakan postnatal massage. Tindakan tersebut dapat merelaksasikan ketegangan dan mengatasi keletihan pasca melahirkan yang dapat memicu subinvolusi dan kegagalan laktasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh postnatal massage terhadap proses involusi dan laktasi pada masa nifas. Penelitian dilaksanakan di beberapa Bidan Praktik Mandiri (PMB) di kota dan kabupaten Malang menggunakan desain quasi experimental. Populasi adalah ibu postpartum 2 jam sampai dengan 6 hari. Sampel diambil menggunakan purposive sampling sebanyak masing-masing 21 ibu postpartum kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data penelitian menggunakan data primer dan dianalisis secara deskriptif dan analitik. Analisis data menggunakan uji Mann-Whitney menunjukkan hasil p-value 0,093 untuk involusi dan 0,369 untuk laktasi. Kesimpulannya adalah tidak ada pengaruh signifikan antara postnatal massage dengan involusi dan laktasi pada masa nifas. Postnatal massage lebih berkaitan dengan efek jangka pendek dalam memberikan efek relasasi dan mengurangi keletihan pasca melahirkan. Dukungan dan motivasi dalam bentuk dukungan psikologis dan peran dalam merawat bayi sangat diperlukan oleh ibu postpartum dalam menjaga proses involusi dan laktasi tetap lancar.
Puerperium is a critical period for mother after giving birth. Physical, psychological, mental and spiritual unpreparedness in dealing with this period will make the puerperium run abnormally. The parameters of the success of the puerperium are ivolution and lactation. The problem of involution can be seen from the amount of postpartum hemorrhage caused by uterine atony in Malang as much as 34%, while the lactation problem associated with exclusive breastfeeding in malang is still around 60% low. One effort that can be done is postnatal massage. These action can relax tension and overcome postpartum fatique wich can trigger subinvolution and lactation failure. This study aims to know the effect of postnatal massage on involution and lactation during the puerperium. The study was conducted in several independent midwifery practice in the city and district of Malang using a quasi experimental design. The population is postpartum mothers 2 hours to 6 days. Samples were taken using purposive sampling as amany as 21 postpartum mothers in the treatment group dan control group. Data analysis using the Mann-Whitney test showed p-values 0,093 for involution and 0,369 for lactation. The conclution is that there no significant effect between postnatal massage with involution and lactation in the puerperium. Postnatal massage has more to do with short-term effects in providing a relationship effect and reducing postpartum fatique. Support and motivation in the form of psychological supports and the role in caring for infants is needed by postpartum mothers in maintaining the process of involution and lactation remain smooth
Implementasi Kegiatan Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya dalam Upaya Pencegahan Triad KRR di Pusat Informasi dan Konseling Remaja
Introduction : Perilaku remaja banyak yang berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Dalam kondisi semacam ini remaja membutuhkan informasi mengenai kesehatan reproduksi, aktifitas yang bermanfaat dan menjadi kreatif. PIK Remaja BPMP & KB Kabupaten Sumenep merupakan tempat remaja mendapatkan informasi yang benar, tepat dan objektif tentang TRIAD KRR dengan informasi yang positif dan tempat peningkatan life skill yang bermanfaat bagi kehidupannya. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan pelaksanaan kegiatan Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya dalam upaya pencegahan TRIAD KRR di PIK Remaja dan faktor penyebab serta pendukungnya. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang prosesnya dimulai dari pengumpulan data dan diakhiri dengan penarikan kesimpulan. Subjek utama penelitian ini adalah Lima orang Pendidik Sebaya dan Lima orang Konselor Sebaya yang dipilih secara purposive sampling. Dengan pengumpulan data subjek utama dengan indepth interview Subjek triangulasi adalah sepuluh teman dekat subjek utama dengan teknik Focus Group Discussion, Ketua dan Pembina PIK Remaja BPMP & KB Kabupaten Sumenep dengan indepth interview. Teori perilaku dari Lawrence Green digunakan sebagai kerangka konsep dalam penelitian dengan analisis data secara induktif. Hasil : Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan kegiatan Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya dalam upaya pencegahan TRIAD KRR sudah baik. Hal ini terjadi karena pengetahuan, persepsi, motivasi, pemberian materi, pengaruh teman dekat, dukungan keluarga dan supervisi Pembina yang baik.
Adolescent behavior has changed much in line with technological developments. Under these conditions young people need information about reproductive health, activities that are beneficial and be creative. CICA RISMA is where adolescents get the right information, accurate and objective information about TRIAD ARH with a positive and a life skill enhancement for the benefit of life. The purpose of this study is to describe the implementation of Peer Educators and Peer Counsellors in the prevention TRIAD ARH in CICA RISMA as well as supporting factors. This study uses a descriptive qualitative approach of data collection process began and ended with inferences. The main subject of this study is Five Peer Educators and Peer Counsellors Five persons selected by purposive sampling. With the main subject of data collection by indepth interview . Triangulation subject is a close friend of ten major subject with Focus Group Discussion techniques, the Leader and Supervisor CICA with indepth interview with. Behavioral theory of Lawrence Green is used as a conceptual framework in research with inductive data analysis. The results of this study can be concluded that the implementation of Peer Educators and Peer Counsellors in the prevention TRIAD ARH is good. This happens because the knowledge, perception, motivation, provision of materials, the influence of a close friend, family support and supervision of a good coach