Repository STIKes Patria Husada Blitar
Not a member yet
1105 research outputs found
Sort by
The Effect of Health Education to The Active Presence of Mother to Take Their Toddlers to Posyandu
Asuhan Keperawatan Keluarga pada Pasien TB Paru di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Wates
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobakterium Tuberculosa dan merupakan bakteri berbentuk batang tahan asam, merupakan organisme pathogen yang dapat menimbulkan komplikasi spesifik pada tubuh jika pengelolaannya tidak tepat. WHO menyatakan Global Emergency TB, dan merekomendasikan pengendalian TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO yang bisa dari keluarga atau orang terdekat pasien Tujuan dari asuhan keperawatan ini adalah melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien TB Paru meliputi aspek bio-psiko-sosial dengan pendekatan proses keperawatan keluarga yang menggunakan cara studi kasus yang melibatkan empat pasien TB. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, studi pustaka dan studi dokumentasi. Analisa data dilakukan dengan mencocokkan data subyektif dan obyektif dengan batasan kharakteristik dari teori. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa sebanyak 4 kasus mengalami masalah keluarga yaitu ketidakefektifan managemen kesehatan keluarga. Saran bagi petugas agar meningkatkan upaya pencegahan penyakit TBC, bagi puskesmas agar menyediakan sarana prasarana untuk melayani penderita TBC. serta bagi pasien dan keluarga diharapkan dapat meningkatkan dukungan keluarga dalam upaya pencegahan dan proses penyembuhan penyakit TBC, serta tetap menjaga PHBS.
Kata kunci: Pasien TB Paru, Asuhan keperawatan keluarga pada pasien TB Paru, Wilayah kerja UPT Puskesmas Wate
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Mioma Uteri Post Histerectomy di Ruang Rawat Inap RSU Aminah Blitar
Mioma uteri belum pernah ditemukan sebelum terjadinya menarche dan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih tumbuh, sebagian besar ditemukan pada wanita usia reproduksi sebanyak 20-25%. Prevalensi mioma uteri mengalami peningkatan hingga 14,1% pada kelompok umur 40 tahun ke atas. Rata-rata mioma uteri didiagnosis pada rentang usia 33,5 hingga 36,1 tahun. Di Surabaya angka kematian mioma uteri adalah sebesar 10,30%. Sebelum tahun 2001 di Surabaya penelitian yang dilakukan Susilo Rahardjo angka kejadian mioma uteri sebesar 11,87 % dari 1000 wanita setiap tahunnya. Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik di Indonesia pada umumnya adalah tindakan operasi yaitu histerektomi (pengangkatan rahim) atau pada wanita yang ingin mempertahankan kesuburannya, miomektomi (pengangkatan mioma) dapat menjadi pilihan. Diagnosa keperawatan pada teori pada pasien post histerectomy adalah resiko kekurangan volume cairan, nyeri akut, gangguan pola tidur, kerusakan mobilitas fisik, resiko infeksi, disfungsi seksual, harga diri rendah, pola nafas inefektif, gangguan eliminasi urine, nutrisi kurang dari kebutuhan, konstipasi. Tapi pada praktek dilapangan tidak semua diagnosa keperawatan muncul di semua kasus, hal ini menurut penulis karena Faktor usia, riwayat penyakit dahulu ,dan hasil pemeriksaan fisik. Sehingga menentukan panjang pendeknya lama perawatan pasien. Dari empat kasus yang dikelola penulis diagnosa keperawatan yang muncul rata rata sama dengan diagnosa keperawatan dalam teori yaitu nyeri akut dan resiko infeksi. Munculnya diagnosa keperawatan nyeri akut karena adanya keluhan nyeri pada luka operasi dan diagnosa resiko infeksi karena adanya luka bekas operasi yang tertutup kasa steril. hasil evaluasi dilakukan selama 2 hari, ada yang dalam 2 hari masalah teratasi ada yang dalam 2 hari masalh belum teratasi, bahkan ada yang dalam 1 hari masalah sudah teratasi
Kata Kunci : mioma uteri, histerectom