EPrints UMPO
Not a member yet
12467 research outputs found
Sort by
PERAN PENDIDIKAN FILANTROPI DALAM MENIGKATKAN SOSIAL KEAGAMAAN SISWA
Latar Belakang Pendidikan tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga penting dalam membentuk karakter dan nilai sosial siswa. Pendidikan filantropi menjadi salah satu pendekatan yang efektif dalam menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, dan solidaritas sosial. Di MI Muhammadiyah 4 Jetis, pendidikan filantropi diintegrasikan dengan program beasiswa untuk membantu siswa yang kurang mampu dan membentuk karakter siswa yang peduli terhadap sesama. Namun, masih sedikit penelitian yang membahas keterkaitan antara pendidikan filantropi dan program beasiswa di sekolah dasar.
Tujuan penelitian ini mengkaji peran pendidikan filantropi dalam pembentukan karakter siswa di MI Muhammadiyah 4 Jetis, dengan menitikberatkan pada keterlibatan guru, program beasiswa, dan dampaknya terhadap peserta didik. Pendidikan filantropi dipahami sebagai proses integrasi nilai-nilai empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial ke dalam pembelajaran, yang bertujuan mengembangkan kesadaran moral dan sosial siswa secara berdampingan dengan pencapaian akademik. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan guru, siswa, dan pihak administrasi sekolah. Hasil penelitian menunjukkan tiga aspek utama. Pertama, guru berperan sebagai teladan (role model) dalam menanamkan nilai-nilai filantropi melalui pengintegrasian materi ajar dan dorongan terhadap keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial. Kedua, program beasiswa tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menumbuhkan tanggung jawab sosial melalui inisiatif seperti dukungan antarteman dan proyek kemasyarakatan. Ketiga, implementasi pendidikan filantropi secara signifikan meningkatkan kesadaran sosial, empati, dan rasa tanggung jawab siswa, serta menciptakan lingkungan sekolah yang lebih inklusif. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada identifikasi pendidikan filantropi sebagai pendekatan karakter yang terintegrasi secara sistematis dalam konteks sekolah dasar berbasis keagamaan, serta penekanan pada beasiswa sebagai media praktis dalam membentuk kesadaran sosial siswa. Model ini menawarkan kerangka yang dapat direplikasi oleh lembaga pendidikan lain yang ingin menggabungkan pendidikan karakter ke dalam kurikulum para siswa.
Kata Kunci: Pendidikan Filantropi, Pendidikan Agama, Sosialita
ASUHAN KEBIDANAN CONTINUITY OF CARE PADA NY.S MASA KEHAMILAN SAMPAI DENGAN KELUARGA BERENCANA DI TPMB BIDAN ROHMATUL ASTRIANA,S.TR.KEB DS KARANGAN KEC BADEGAN KAB PONOROGO
Pelayanan Continuity of Care sudah seharusnya didapatkan oleh ibu hamil TM III, bersalin,nifas,neonates dan Keluarga Berencana. Namun, kenyataannya, belum semua ibu mendapatkan layanan kebidanan yang menyeluruh, berkesinambungan, dan berkualitas. Pentingnya untuk memahami manfaat asuhan Continuity of Care agar bisa diterapkan secara berkelanjutan, komprehensif, dan berkualitas tanpa penyulit atau komplikasi.
Pemberian asuhan kebidanan Ny. S usia 20 tahun G1P00000, UK 39 minggu hingga keluarga berencana. Berdasarkan KSPR Ny.S termasuk resiko rendah.. Selama pendampingan ANC, ditemukan masalah yaitu puting susu sebelah kanan tenggelam dan. Sudah dilakukan asuhan sesuai dengan masalah. Proses persalinan Ny S berlangsung dalam waktu yang normalkurang lebihselama 9 jam 15 menitdari kala 1 fase laten sampai dengan kelahiran bayi. proses persalinan berlangsung lancar pukul 00.15 WIB bayi lahir spontan di tolong oleh bidan, menangis kuat,gerak aktif,warna kemerahan, jenis kelamin laki-laki, Bayi lahir dengan berat badan 3. 400 gram dan panjang 49 cm., tanpa melewati garis waspada dalam pemantauan partograf, Kala III plasenta lahir lengkap 00.20 wib selama 5 menit setelah bayi lahir,tidak terdapat luka jahitan.dan kala IV(pengawasan) dalam kondisi yang normal ( 2 jam). Selama proses pendampingan masa nifas berlangsung ditemukan beberapa masalah pada Ny.S di antaranya puting susu ibu terpantau masih masih tenggelam pada KF 1 - KF 2 dan bayi rewel pada malam hari,KF 3 putting sudah menonjol dan bayi menyusu di kedua payudara dengan baik. Seluruh permasalahan tersebut dapat teratasi melalui edukasi yang telah diberikan serta ibu kooperatif dalam menerima dan melaksanakan nasihat yang sudah diberikan. . Pada pendampingan BBL langsung diberi IMD 1 jam,serta pemberian imunisasi Hb.0,vitamin K 0,5 ML, salep mata serta asuhan BBL sesuai dengan prosedur.Secara keseluruhan hanya ditemukan permasalahan pada KN 2 tepatkan pada hari ke-6 hari yaitu bayi rewel krena bingung putting dan bayi di beri susu formula.Permasalahann ini dapat teratasi melalui edukasi yang telah diberikan pada Ny.S yaitu KIE perawatan payudara bisa dibantu dengan menggunakan alat berupa spuit dan sering menyusui bayinya.Pada pendampingan KB ibu memilih KB non hormonal yaitu KB kalender alasannya karena tidak berhubungan aktif dengan suami (LDR), terpantau ibu sudah mengetahui keuntungan,kerugian,manfaat dan efek samping yang mungkin timbul.
Selama proses pendampingan berlangsung pada Ny.S tidak mengalami permasalah yang mengharuskan dilakukan rujukan begitu juga dengan bayi, semua permasalah ibu dan bayi teratasi dengan baikserta ibu mampu menerapkan semua edukasi yang terlah diberikan dan mampu kooperatif atas semua tidakan yang diberikan.
Pada pendampingan ini harapanya pada asuhan kebidanan secara Continuity Of Care, penulis dapat menerapkan asuhan kebidanan secara COC sehingga pada Ny.S mulai dari masa kehamilan TM II,bersalin,nifas,bayi baru lahir sampai dengan keluarga berencana sudah dilakukan secara berkesinambungan dan masalah yang dialami ibu sudah teratasi dengan baik.
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE DENGAN MASALAH KEPERAWATAN HIPERVOLEMIA
Chronic kidney disease disebabkan tekanan darah tinggi yang dapat merusak pembuluh darah ginjal yang pada akhirnya merusak ginjal dan tidak dapat berfungsi dengan baik yang mana akan menimbulkan salah satu penyakit yaitu hipervolemia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan salah satu asuhan keperawatan pada pasien Chronic Kidney Disease dengan masalah keperawatan hipervolemia di ruang muzdalifah RSU’Aisyiah kabupaten Ponorogo.
Asuhan keperawatan pada Tn. I pasien chronic kidney disease dengan masalah keperawatan hipervolemia dilakukan di ruang muzdalifah RSU’Aisyiah kabupaten Ponorogo selama 3 hari kegiatan pada 20 juni – 22 juni 2025. Metode dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini menggunakan desain studi kasus dengan metode pemecahan masalah melalui pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, analisa data, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.
Hasil pengkajian pada Tn. I didapatkan pasien mengalami Hipervolemia dengan data subjektif pasien mengeluh sesak nafas, data objektif ditemukannya adanya JVP, adanya peningkatan berat badan sebesar 5 Kg dan ditemukannya odem pada kaki grade 2.
Setelah dilakukan implementasi dengan menggunakan pembatasan cairan dan edukasi selama 3 hari pasien menunjukan perkembangan yang baik, pasien kooperatif dalam mengikuti program pembatasan cairan. Pasien dengan hipervolemia membutuhkan tindakan penanganan yang baik dan peran perawat maupun keluarga sangat dibutuhkan dalam asuhan keperawatan yang koperhensif.
Kata kunci: CKD, Hipervolemia, pembatasan cairan
PERAN PETUGAS POS WASRIK DALAM DETEKSI DIN PENCEGAHAN GANGGUAN KAMTIB DI LAPAS SESUAI PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAM NO 33 TAHUN 2015
Banyak permasalahan yang menghambat pengelolaan keamanan. Keterbatasan sumber daya,
baik dalam hal alat deteksi canggih maupun tenaga kerja yang berpengalaman, merupakan masalah
utama, Tingginya dinamika konflik antara narapidana dan petugas juga merupakan masalah lain yang
dihadapi. Dinamika konflik ini seringkali mengganggu stabilitas keamanan Lapas. Selain itu, hambatan
utama adalah kurangnya kolaborasi antara pelaksanaan di tingkat lokal dan kebijakan pusat.
Ketidaksinkronan ini dapat memperburuk kondisi lapangan dan mengurangi efisiensi pengelolaan
keamanan. Dengan rumusan masalah Bagaimana efektivitas pelaksanaan tugas pengawasan dan
pemeriksaan (Wasrik) di Lembaga pemasyarakatan dalam mendeteksi dan mencegah gangguan
keamanan dan ketertiban (Kamtib)? Dan Apa saja tantangan utama yang dihadapi petugas Wasrik dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan Permenkumham RI No. 33 Tahun 2015?. Hasil dari penelitian
ini adalah Petugas pos Wasrik memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas keamanan Lembaga
Pemasyarakatan melalui pengawasan rutin dan deteksi dini gangguan kamtib sesuai Permenkumham
No. 33 Tahun 2015. Namun, efektivitas pelaksanaannya masih terkendala keterbatasan SDM, teknologi,
dinamika konflik, dan kurangnya pelatihan. Tantangan juga muncul dari kurangnya infrastruktur
pendukung, lemahnya koordinasi pusat-daerah, dan minimnya evaluasi berkala. Untuk itu, perlu
optimalisasi teknologi modern, peningkatan kapasitas petugas, serta penguatan kerja sama lintas
lembaga guna mendukung efektivitas pengawasan di Lapas
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI : HALUSINASI PENDENGARAN
ABSTRACT
MENURIAL NURSING CARE FOR SCHIZOPHRENIA PATIENTS WITH NURSING PROBLEMS OF SENSORY PERCEPTION DISORDERS: AUDITORY HALLUCINATIONS
(Case Study at RSJD Dr. Arif Zainudin Surakarta)
By:
Fitri Indra Lestari
22613502
Auditory hallucinations are a common symptom experienced by clients with schizophrenia. This symptom is characterized by the perception of hearing voices that are not real and differ from normal thought processes. Generally, these voices are disturbing, offensive, or even command the client to perform actions that are harmful to themselves or others. This paper aims to apply psychiatric nursing care to clients with schizophrenia with sensory perception disorders in the form of auditory hallucinations.
The method used is a nursing process approach through a case study conducted from June 3, 2025, to June 7, 2025, in the Larasati Room of Dr. Arif Zainuddin Mental Hospital, Surakarta.
Based on the assessment results, the client was experiencing auditory hallucinations. Interventions were carried out for four days in accordance with the Indonesian Nursing Intervention Standards (SIKI), including controlling hallucinations through reprimands, collaborative antipsychotic medication administration, deep breathing distraction, and activities (conversation). After the nursing interventions, the client agreed to control his hallucinations with the assistance of a nurse, and on the fourth day, the client refused to be taught how to control them. After the nursing interventions, the auditory hallucinations remained unresolved.
This nursing care aimed to increase the client's understanding of the hallucinations he was experiencing, enabling him to more effectively control and manage them.
Keywords: Schizophrenia, auditory hallucination
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KONSUMSI GULA DENGAN RESIKO DIABETES MELITUS PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR DI SDN 1 PLUNTURAN KECAMATAN PULUNG KABUPATEN PONOROGO
ABSTRACT
THE RELATIONSHIP BETWEEN SUGAR CONSUMPTION LEVELS AND
THE RISK OF DIABETES MELLITUS IN ELEMENTARY SCHOOL AGE
CHILDREN AT SDN 1 PLUNTURAN PULUNG DISTRICT PONOROGO REGENCY
Endra Bagus Hanafi
Bachelor of Nursing Study Program Faculty of Health Sciences Muhammadiyah University Ponorogo [email protected]
Diabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disease characterized by elevated blood glucose levels due to impaired insulin production or function. The prevalence of DM in Indonesia continues to rise, including among children, driven by highsugar diets, obesity, and physical inactivity. This study aimed to analyze the relationship between sugar consumption levels and the risk of DM among elementary school children at SD Negeri 1 Plunturan. A cross-sectional design was employed with a total of 43 students selected through total sampling. Sugar consumption data were collected using the Food Frequency Questionnaire (FFQ), while DM risk was assessed using the Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC). Data were analyzed using Spearman’s rho correlation test. The results showed that all respondents had sugar consumption levels in the moderate (42%) to high (58%) categories, and DM risk in the moderate (63%) to high (37%) categories. Statistical analysis revealed a very strong and significant relationship between sugar consumption and DM risk (r = 0.810; p < 0.001), indicating that higher sugar consumption is associated with a higher risk of DM. It is concluded that early interventions, such as nutrition education, limiting sugar intake, and increasing physical activity, are necessary to prevent DM in children.
Keywords: sugar consumption, diabetes mellitus risk, elementary school children, cross-sectiona
IMPLEMENTASI RESTORATIVE JUSTICE DALAM PENANGANAN KASUS TINDAK PIDANA PENCURIAN DI STADION BATORO KATONG PONOROGO
Restorative justice adalah pendekatan dalam sistem peradilan pidana yang bertujuan untuk memulihkan hubungan yang rusak akibat tindak pidana. Pendekatan ini melibatkan korban, pelaku, keluarga korban, dan masyarakat untuk mencari solusi yang sesuai. Di dalam restorative justice terdapat prinsip dasar yang merupakan pemulihan kepada korban yang menderita akibat kejahatan dengan memberikan ganti rugi kepada korban, perdamaian, pelaku yang melakukan kerja sosial, maupun kesepakatan lain. Prinsip utama dari Restorative Justice adalah menggeser fokus dari hukuman dan pembalasan semata kepada penyelesaian masalah dan pemulihan. Dalam sistem tradisional, biasanya pelaku dihukum dengan hukuman penjara atau denda, sementara korban sering kali merasa tidak puas dengan hasilnya dan dampak jangka panjang tetap ada. Restorative justice tidak dapat diterapkan untuk semua jenis tindak pidana. Beberapa contoh tindak pidana yang tidak dapat diselesaikan dengan restorative justice adalah: Tindak pidana terorisme, Tindak pidana radikalisme dan separatisme, Tindak pidana korupsi, Tindak pidana terhadap nyawa orang
PENERAPAN TERAPI SLOW DEEP BREATHING PADA PASIEN POST OPERASI FRAKTUR DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT DI RUMAH SAKIT UMUM MUHAMMADIYAH PONOROGO
ABSTRACT
APPLICATION OF SLOW DEEP BREATHING THERAPY IN POST
OPERATIVE FRACTURE PATIENTS WITH ACUTE PAIN NURSING
PROBLEMS
At the Muhammadiyah Ponorogo General Hospital
By: Indirwan Darwis Wibisono
NIM. 24650555
A fracture is a break in the continuity of the bone structure. Fractures occur due to
trauma such as traffic accidents and sports injuries. Fracture treatment includes
surgery which causes pain. The main problem that arises after fracture surgery is
pain. Slow deep breathing therapy can affect the patient's pain. The aim of this study
was to determine the effectiveness of slow deep breathing therapy in post-fracture
surgery patients with acute pain nursing problems.
The method used was a nursing process approach carried out on one patient
managed with a medical diagnosis of close fracture metacarpal 4-5 manus dextra.
The nursing problem is acute pain because the patient complains of pain in the right
hand. Nursing care was carried out in the Mas Mansur room at RSUM Ponorogo
on 29 July – 31 July 2025 and at the patient's home on 1 & 2 August 2025.
The results of the assessment showed that the patient complained of pain in the right
hand with a pain scale of 6. The nursing action taken to reduce pain was teaching
non-pharmacological techniques by applying slow deep breathing therapy. After
slow deep breathing therapy, pain decreased from scale 6 to scale 1.
Slow deep breathing therapy can reduce pain intensity in post-fracture surgery
patients with acute pain management issues. It is recommended that post-fracture
surgery patients utilize slow deep breathing therapy, as it offers numerous benefits
and is free from side effects.
Keywords: Acute Pain, Post Fracture Surgery, Slow Deep Breathin
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN SKIZOFRENIA DENGAN MASALAH KEPERAWATAN GANGGUAN PERSEPSI SENSORI HALUSINASI PENDENGARAN
Sensory perception disorder with auditory hallucinations is a false
perception disorder that occurs due to maladaptive neurological responses. This
problem can disrupt the patient's social, emotional, and cognitive functioning and
pose a risk of dangerous behavior.
This research method uses a problem-solving approach. The nursing
process includes assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation, and
evaluation. A case study was conducted on Mr. A from February 4 to 9, 2025.
The assessment revealed the patient talking to himself, withdrawing, and
being unable to distinguish between reality and the unreal. The diagnosis was
sensory perception disorder with auditory hallucinations. Interventions provided
included hallucination management, distraction techniques, therapeutic
communication, and collaborative antipsychotic administration The evaluation was
carried out on the fifth day when the patient was able to control hallucinations
according to the method of controlling hallucinations taught by the author.
Consistent nursing interventions demonstrated a decrease in the frequency
of hallucinations, an increase in the patient's ability to recognize hallucinatory
stimuli, and increased participation in social activities. This psychiatric nursing
care is expected to be a source of knowledge and information for healthcare
providers.
Keywords: Schizophrenia, Auditory Hallucinations, Nursing car
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN UMKM DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
The Industrial Revolution 4.0 era demands that MSMEs adopt digital technology to maintain their competitiveness. This literature study aims to systematically examine the role of digital technology-based marketing strategies in enhancing MSME competitiveness. A synthesis of recent empirical studies reveals that the adoption of core technologies such as IoT, Big Data, and AI remains hampered by limited costs and digital literacy. On the other hand, technologies like e-commerce and social media are relatively easier to adopt, although they still face technical and logistical challenges. The results show that digital marketing strategies, particularly the use of social media and content marketing, consistently contribute to increased brand awareness, market expansion, and sales increases of up to 30-80%. However, their effectiveness is not uniform; paid advertising is considered less than optimal for micro-MSMEs, and there are sectoral disparities, with culinary MSMEs benefiting more than craft MSMEs. The conclusions of this study confirm that while digital marketing is a vital competitive lever, its success depends on the strategy's alignment with the resource capacity and specific characteristics of MSMEs