University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
    8735 research outputs found

    Aktivitas Minyak Atsiri Tanaman Nilam (Pogostemon cablin Benth.) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli, dan Shigella dysenteriae Penyebab Diare

    No full text
    Penyakit diare merupakan penyebab kematian ketiga terbesar pada semua usia saat ini. Infeksi patogen Escherichia coli dan Shigella dysenteriae merupakan penyebab utama diare pada anak. Kontaminasi Staphylococcus aureus yang memicu keracunan makanan juga merupakan salah satu penyebab terjadinya diare. Tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.) mengandung minyak atsiri dengan senyawa dominan patchouli alcohol dan diketahui berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik dan menganalisa komposisi minyak nilam serta untuk mengukur efektivitas antibakteri minyak atsiri nilam terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Shigella dysenteriae penyebab diare. Metode uji antibakteri yang digunakan adalah difusi cakram dengan konsentrasi minyak nilam yang divariasikan (6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%) serta kontrol negatif berupa DMSO 10% dan kontrol positif berupa chloramphenicol. Hasil pengujian karakteristik minyak nilam memenuhi semua persyaratan SNI 06-2385-2006. Komposisi senyawa paling dominan pada minyak atsiri nilam adalah patchouli alcohol (33,46%), diikuti δ-guaiene (18,48%) dan αguaiene (15,01%). Hasil pengujian antibakteri menunjukkan aktivitas yang berbeda-beda tiap bakteri uji. Konsentrasi 25% dan 50% minyak atsiri nilam mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus dengan kategori kuat. Sementara pada konsentrasi 6,25% hingga 50% minyak atsiri nilam hanya menghambat pertumbuhan Escherichia coli pada kategori lemah. Pada konsentrasi 6,25% hingga 25% minyak atsiri nilam dapat menghambat pertumbuhan Shigella dysenteriae dengan kategori kuat dan pada konsentrasi 50% dengan kategori sangat kuat. Minyak atsiri nilam juga memiliki kemampuan bakterisidal pada konsentrasi 25% dan 50% terhadap Staphylococcus aureus dan Shigella dysenteriae

    Analisis Dwelling Time Dan Effective Time Peti Kemas Di Pelabuhan Pangkalbalam Kota Pangkalpinang

    No full text
    Pelabuhan Pangkalbalam Kota Pangkalpinang merupakan pintu masuk utama pergerakan barang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan sarana angkutan laut berupa kapal. Aktivitas utama di pelabuhan ini adalah bongkar muat barang berupa peti kemas. Setiap tahunnya penggunaan peti kemas di pelabuhan ini semakin meningkat sehingga berdampak pada tingkat pelayanan peti kemas berupa dwelling time dan effective time peti kemas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi faktor -faktor dwelling time dan effective time peti kemas, serta menghitung kapasitas daya tampung peti kemas berdasarkan luasan penumpukan yang ada di Pelabuhan Pangkalbalam Kota Pangkalpinang. Metode untuk analisis dwelling time peti kemas menggunakan pendekatan operasional pelayanan peralatan penanganan peti kemas. Sementara itu, untuk analisis effective time peti kemas berdasarkan time sheet 8 kapal angkutan peti kemas. Perhitungan kapasitas daya tampung peti kemas mengacu pada Keputusan Menteri Nomor 53 Tahun 2002. Hasil analisis menunjukkan dwelling time peti kemas di Pelabuhan Pangkalbalam paling singkat sebesar 0,08 jam dan paling lama sebesar 72,10 jam. Effective time peti kemas paling singkat sebesar 4,5 jam dan paling lama sebesar 18,4 jam. Faktor-faktor yang mempengaruhi dwelling time dan effective time peti kemas di Pelabuhan Pangkalbalam antara lain, peralatan penanganan peti kemas, jumlah tenaga kerja bongkar muat, masa penumpukan peti kemas, jumlah gang kerja, jumlah muatan, dan letak peti kemas. Kapasitas daya tampung peti kemas berdasarkan luasan penumpukan yang ada di Pelabuhan Pangkalbalam sebesar 3.329 box atau 5.659 TEUs. Kapasitas daya tampung peti kemas per tahun sebesar 101.520 box atau 172.585 TEUs

    Efektivitas ketentuan pidana Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang nomor 7 tahun 2019 tentang penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat (studi kasus terhadap penertiban pedagang kaki lima)

    No full text
    Pedagang kaki lima adalah mereka yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dengan menggunakan sarana usaha bergerak maupun tidak bergerak, menggunakan prasarana kota, fasilitas sosial, fasilitas umum, lahan dan bangunan milik pemerintah atau swasta yang bersifat sementara atau tidak menetap. Kegiatan PKL menggangu ketertiban umum dan menyebabkan kemacetan lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Ketentuan Pidana Peraturan Daerah Kota Pangkalpinang Nomor 7 Tahun 2019 tentang penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat, khususnya terkait penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL). Latar belakang penelitian ini berfokus pada meningkatnya jumlah PKL yang beroperasi di ruang publik, seperti trotoar dan badan jalan, yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis-empiris dengan pendekatan undang-undang dan kasus, melibatkan wawancara dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Perda telah ditetapkan, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala, seperti kurangnya pengetahuan masyarakat tentang peraturan, keterbatasan lokasi berjualan, dan budaya toleransi terhadap keberadaan PKL. Penegakan hukum oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga dinilai kurang efektif, mengingat banyaknya pelanggaran yang terjadi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi yang lebih baik mengenai peraturan, serta penataan zona khusus untuk PKL agar dapat berjualan tanpa mengganggu ketertiban umum. Dengan demikian, diharapkan Perda ini dapat lebih efektif dalam menciptakan ketertiban dan ketentraman masyarakat di Kota Pangkalpinang

    Analisis perbandingan kesehatan perbankan syariah di Indonesia dan Malaysia dengan pendekatan RGEC Periode 2020-2024

    No full text
    Perkembangan ekonomi syariah secara global telah mengalami pertumbuhan yang substansial dalam beberapa waktu terakhir, bank syariah menjadipilar penting atas perkembangan tersebut. Dalam kawasan ASEAN, Indonesia dan Malaysia berada pada urutan teratas berdasarkan Islamic Finance Development Indicator (IFDI) Tahun 2024. Penelitian ini akan membandingkan kesehatan Perbankan Syariah di Indonesia dan Perbankan Syariah di Malaysia dengan menggunakan pendekatan RGEC (Risk Profile, Good Corporate Governance, Earnings, dan Capital). Indikator Risk Profile dinilai menggunakan rasio Non Performing Financing (NPF), faktor Good Corporate Governance menggunakan laporan self-assessment, kemudian Earning diproksikan dengan rasio Return on Assets (ROA) dan Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), serta Capital menggunakan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR). Penelitian ini menggunakan data sekunder laporan keuangan Bank Umum Syariah dengan teknik purposive sampling meliputi 8 bank umum syariah Indonesia dan 8 bank umum syariah Malaysia pada Periode 2020-2024. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Mann-Whitney U Test. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dari NPF, GCG, ROA, BOPO dan CAR antara Bank Syariah di Indonesia dan Bank Syariah di Malaysia. Bank Syariah di Indonesia memiliki kesehatan yang lebih baik ditinjau dari rasio ROA dan CAR, sedangkan kesehatan perbankan syariah di Malaysia lebih baik pada rasio NPF, GCG, dan BOPO dibandingkan perbankan syariah di Indonesia

    Analisis Cluster Berdasarkan Faktor Penyebab Stunting Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Menggunakan Metode Agglomerative Nesting (AGNES) Dan K-Medoids

    No full text
    Stunting merupakan masalah gizi yang masih menjadi perhatian dunia sampai saat ini, termasuk di Indonesia. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi yang mengalami kenaikan prevalensi stunting sebesar 20,6% di tahun 2023. Perbedaan efektivitas upaya penurunan stunting antar wilayah yang kurang merata menunjukkan perlunya analisis pengelompokan wilayah berdasarkan faktor penyebab stunting untuk memahami karakteristik masing-masing daerah. Penelitian ini menerapkan metode Agglomerative Nesting (AGNES) dan K-Medoids dalam analisis cluster, serta membandingkan kedua metode tersebut untuk menentukan metode yang paling efektif. Penerapan kedua metode ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai faktor-faktor penyebab stunting di setiap wilayah kecamatan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini dilakukan supaya daerah-daerah yang perlu diprioritaskan dalam upaya penurunan stunting dapat diidentifikasi secara lebih fokus dan tepat sasaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bantuan metode elbow, jumlah cluster yang terbentuk sebanyak 2, 3 dan 4 cluster. Perbandingan kedua metode menunjukkan bahwa metode agglomerative nesting dengan average linkage merupakan metode yang paling optimal. Karakteristik dari setiap cluster menunjukkan cluster 1 memiliki kondisi cukup baik, sedangkan cluster 2 menunjukkan kondisi kurang baik. Sementara pada cluster 3 dan 4 masih terdapat indikator yang perlu diperhatikan

    Pengaruh Harga, Promosi dan Inovasi Produk Terhadap Keputusan Pembelian Di 3HB Bakery Kota Pangkalpinang.

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena semakin ketat nya persaingan pada industri bakery di Kota Pangkalpinang sehingga butuh strategi yang efektif untuk menarik minat konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengenai pengaruh harga, promosi dan inovasi produk terhadap keputusan pembelian di 3HB Bakery Kota Pangkalpinang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 100 responden, yang ditentukan dengan menggunakan metode non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan perangkat lunak SMARTPLS versi 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga, promosi dan inovasi produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan pembelian . Analisis koefisien determinasi (R2) menunjukkan bahwa terdapat R2 79,2% sedangkan sisanya 20,8% dipengaruhi oleh faktor lain diluar variabel penelitian

    Pertumbuhan setek anggrek (Papilionanthe hookeriana) Lokal Bangka Dengan pemberian indole butyric acid (IBA) dan naphthalene acetic acid (NAA)

    No full text
    Anggrek pensil (Papilionanthe hookeriana) merupakan salah satu anggrek lokal Bangka yang berpotensi untuk dibudidayakan. Perbanyakan anggrek pensil menggunakan setek dapat dilakukan dengan pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) sintetis Indole Butyric Acid (IBA) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan setek anggrek pensil dengan pemberian zat pengatur IBA atau NAA dan mengetahui perlakuan zat pengatur tumbuh IBA atau NAA yang menghasilkan pertumbuhan terbaik pada setek anggrek pensil. Penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Desember 2023 hingga Maret 2024, di Kebun Penelitian dan Percobaan (KP2) Universitas Bangka Belitung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan yaitu konsentrasi zat pengatur tumbuhan sintetis (A) Indole Butyric Acid (IBA) atau Naphthalene Acetic Acid (NAA). Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ZPT auksin IBA atau NAA menghasilkan setek anggrek pensil yang tetap hidup hingga akhir penelitian cukup tinggi yaitu mencapai 92%. Pertumbuhan setek anggrek pensil memberikan respon yang berbeda-beda terhadap pemberian berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh IBA dan NAA. Perlakuan zat pengatur tumbuh IBA 1000 ppm memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan setek tanaman anggrek pensil

    Pengaruh pendidikan, kesehatan dan upah terhadap produktivitas tenaga kerja pada Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    No full text
    Produktivitas Tenaga Kerja merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur efisiensi dan kinerja ekonomi suatu wilayah. Penelitian ini menganalisis pengaruh antara Pendidikan, Kesehatan dan Upah terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah regresi linier data panel dengan pendekatan kuantitatif data sekunder dan sampel berjumlah 7 Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan jumlah observasi sebanyak 105 data Berdasarkan hasil penelitian Pendidikan yang diambil dari rata-rata lama sekolah berdampak positif pada Produktivitas Tenaga Kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kesehatan yang diambil dari rata-rata angka harapan hidup berdampak negatif terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Upah yang diambil dari upah minimum kabupaten berpengaruh positif terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Kab Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hasil secara simultan menunjukkan bahwa Pendidikan, Kesehatan dan Upah berpengaruh positif dan signifikan terhadap Produktivitas Tenaga Kerja di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    Rancang bangun mesin pembelah bambu menggunakan mata pisau vertikal

    No full text
    Bambu adalah tanaman yang tumbuh melimpah di Indonesia, baik di daerah dataran tinggi maupun rendah. Tanaman bambu juga memiliki banyak kegunaan bagi masyarakat, seperti untuk kerajinan tangan, dan yang lainnya. Berdasarkan wawancara dengan ibu Had selaku pengrajin di desa Pergam, waktu yang digunakan untuk proses pembelahan satu ruas bambu membutuhkan waktu rata-rata 2 menit 16 detik dan menghasilkan rata-rata 12 belahan bambu tergantung diameter bambu. Proses pembelahan bambu ini dilakukan dengan metode tradisional secara manual (dengan sabit atau golok). Cara tersebut dinilai kurang efisien sebab memerlukan waktu dan tenaga yang lebih, sehingga perlu dirancang dan dibangun sebuah mesin pembelah bambu dengan dimensi panjang 500 mm, lebar 400 mm dan tinggi 650 mm. Mesin digerakkan oleh motor listrik 0,5 HP dengan sistem transmisi pulley dan belt lalu diteruskan rantai dan gear dengan putaran poros roll karet 335 rpm. Mesin menggunakan roll karet untuk mendorong dan menarik bambu yang masuk dari hopper in menuju mata pisau pembelah lalu keluar belah melalui hopper out, mesin diuji dengan 5 kali pengujian, setiap pengujian menggunakan diameter dan ketebalan bambu yang berbeda. Rata-rata kapasitas produksi yang dihasilkan oleh mesin mencapai rata-rata 1.995 belah/jam. Dengan rata-rata lebar bambu 13,72 mm. Perbandingan proses manual 2 menit 16 detik menghasilkan rata-rata 12 belah, sedangkan menggunakan mesin mampu membelah bambu dalam waktu 2 menit 16 detik menghasilkan 71 belah bambu, Adanya mesin pembelah yang dibuat ini, maka pengrajin dapat membelah bambu yang seragam dan cepat

    An Analysis of Illocutionary Acts Used In The Father Movie Script by Florian Zeller

    No full text
    The study of speech acts examines how an utterance demonstrates an activity. Locutionary speech acts, illocutionary speech acts, and perlocutionary speech acts are the three categories into which it is separated. Nevertheless, this study will use John Roger Searle's theory of speech acts to discuss illocutionary speech acts. The classification of illocutionary speech acts and the purpose of illocutionary speech acts given by the protagonist in Florian Zeller's film script, The Father, are the two primary subjects of this study. Descriptive qualitative research is therefore used in this study to examine every statement made by the main character. The five categories of assertive, directive, commissive, expressive, and declarative will be used to classify each statement. According to the study's findings, 40 utterances were found to be a part of the illocutionary speech act. Eleven of the data are assertive, nineteen are directive, six are commissive, five are expressive, and none are declarative. Because Anthony, the primary character in The Father, is constantly trying to get his audience to do something for him, directive speech acts are the ones that the key characters employ the most. Meanwhile, assertive speech acts serve three distinct purposes, according to the findings of a study on the function of illocutionary speech acts: stating with five data, describing with three data, and complaining with three data. There are three functions in directive speech acts: asking with 14 data, requesting with 2 data, and commanding with 3 data. The last speech act is an expressive speech act with three functions: thanking with two data, welcoming with one data, and apologizing with two data. Commissive speech acts have one function, which is swearing with six data. Because Anthony usually seems to have a lot of questions for his audience, the question-asking tool is the most often used one

    3,607

    full texts

    8,735

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    University of Bangka Belitung Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇