University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
8735 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Arthropoda Tanah di Hutan Wisata Bukit Penyabung Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat
Hutan Wisata Bukit Penyabung merupakan salah satu kawasan tropis yang memiliki beranekaragam flora dan fauna. Hubungan keberadaan arthropoda tanah dengan Hutan Wisata Bukit Penyabung memiliki peran penting dalam daur materi dan nutrisi bagi flora dan fauna. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi genus dan menganalisis indeks keanekaragaman serta keberadaan arthropoda tanah di Hutan Wisata Bukit Penyabung Kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat. Metode penelitian dilakukan dengan menarik garis transek sebanyak 9 transek yang terdiri dari 3 plot dan pengambilan sampel menggunakan pitfall trap. Data keanekaragaman, kekayaan, kemerataan dianalisis menggunakan rumus Shannon-Wiener dan data keadaan lingkungan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian arthropoda tanah yang diperoleh 14 famili, 19 genus dengan total individu 15.091. Arthropoda tanah yang dominan ditemukan adalah Famili Formicidae dengan Genus Diponera dengan jumlah 1354 individu. Nilai Indeks keanekaragaman pada artrhopoda tanah setiap stasiun (2,83) kategori sedang, indeks kekayaan (2,12) kategori sedang, indeks kemerataan (0,96) kategori tinggi, dan indeks dominansi (0,7) kategori tinggi. Keadaan lingkungan di Bukit Penyabung yaitu suhu tanah 32oC, kelembaban tanah 70%, pH tanah 6,90, intensitas cahaya 0,42cd, kelembapan udara 86%. Data analisis vegetasi yang ditemukan pada tingkat semai diperoleh dengan nilai INP tinggi adalah Alchornea sp. (70,6), tingkat pancang tumbuhan Artocarpus dadah Miq. dengan INP tinggi (23,7), tingkat tiang Alchidendron pauciflorum (Benth).I.C Nielson. dengan nilai INP 38,7, dan tingkat pohon Euphorbiaceae sp. dengan nilai INP (25,4)
Analisis regresi data panel pada pemodelan angka kematian Ibu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Angka kematian ibu merupakan suatu ukuran yang digunakan untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu disuatu wilayah tertentu. Terdapat beberapa variabel yang berpengaruh terhadap angka kematian ibu yaitu perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan sistem pendarahan, gangguan metabolik, dan lain-lain (emboli air ketuban, vertigo, gangguan ginjal, lupus, kelainan jantung). Tujuan dari peneliti ini mengetahui variabel yang berpengaruh terhadap angka kematian ibu. Data yang digunakan pada penelitian ini berupa data sekunder yang diperoleh dari dinas kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Periode yang digunakan adalah enam tahun yaitu dari tahun 2017 hingga 2022. Metode yang digunakan pada penelitian ini merupakan regresi data panel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Common Effect Model (CEM) adalah model terbaik untuk diestimasikan. Dari hasil tersebut perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, gangguan sistem pendarahan, gangguan metabolik, dan lain-lain (emboli air ketuban, vertigo, gangguan ginjal, lupus, kelainan jantung) berpengaruh signifikan terhadap angka kematian ibu
Variasi elemen penstabil panas pada prototype alat pengering ikan teri menggunakan bahan bakar hemat energi
Potensi ikan teri kering sangat memberikan keuntungan bagi ekonomi
nelayan di Desa Air Nyato. Namun pengeringan tradisional yang dilakukan dengan
memanfaatkan sinar matahari seringkali terhambat oleh cuaca mendung bahkan
hujan. Oleh karena itu, dibutuhkan alat untuk membantu proses pengeringan, salah
satunya adalah alat pengering teri menggunakan bahan bakar hemat energi.
Komponen utama pada alat tersebut salah satunya ialah elemen penstabil panas
yang berfungsi untuk menstabil dan menyimpan energi panas guna menghemat
energi, dengan tingkat keberhasilan yang ditentukan oleh jenis elemen penstabil
panas. Penelitian ini melakukan variasi air, pasir dan batu sebagai elemen penstabil
panas pada prototype alat pengering ikan teri menggunakan bahan bakar hemat
energi. Metode penelitan ini dilakukan dengan III tahap pengujian. Pengujian tahap
I memilih jenis elemen penstabil panas yang terbaik dengan indikator waktu
tercepat mencapai suhu ruangan 50℃ tanpa ikan teri, hasil terbaik adalah pasir
dengan waktu rata-rata 4,95 menit. Pengujian tahap II mencari volume terbaik dari
pasir yang digunakan dengan indikator waktu tercepat mencapai suhu ruangan 50℃
tanpa ikan teri, volume terbaik adalah 1000 gram dengan waktu rata-rata 3,45
menit. Pengujian tahap III mencari lama waktu proses pengeringan yang optimal
menggunakan ikan teri dengan indikator kekeringan ikan teri dan penyusutan kadar
air sesuai SNI (60%), waktu terbaik adalah 2 jam dengan penyusutan kadar air ratarata 64,7% sesuai SNI (60%)
Karakteristik biokomposit bermatriks pati tapioka yang diperkuat fitoplankton untuk pembuatan plastik ramah lingkungan
Penggunaan plastik telah membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan biokomposit diperlukan untuk mengatasi permasalahan plastik. Menurut studi biokomposit bermatriks pati tapioka bisa terurai dan dapat dijadikan bahan alternatif pengganti plastik, namun masih rendah dalam kekuatannya. Oleh karena itu, penelitian ini diakukan pengembangan biokomposit bermatriks pati tapioka yang diperkuat fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanik, dan Indeks Kristalin (Icr) dari penambahan fitoplankton terhadap pati tapioka. Penelitian diawali dengan pembuatan matriks pati, setelah itu dilakukan dengan memvariasikan penambahan suspensi fitoplankton dengan volume fraksi dari fitoplankton yang digunakan adalah 0 ml, 10 ml, 20 ml. Pada biokomposit dilakukan pengujian Uji Tarik dan X-Ray Diffraction. Hasil pengujian uji tarik biokomposit yang terbaik dihasilkan pada fraksi suspensi fitoplankton 20 ml dengan nilai kekuatan tarik (2,62 MPa), modulus tarik (209,67 MPa), dan Elongation At Break (2,1%). Hasil ini berbanding lurus dengan kenaikan indeks kristalin pada fraksi suspensi fitoplankton 20 ml dengan nilai indeks kristalin 53,57 %. Hasil ini menunjukkan matriks pati tapioka yang diperkuat dengan suspensi fitoplankton meningkatkan kekuatan tarik
Penerapan metode geographically weighted regression dengan tiga fungsi pembobot kernel pada indeks pembangunan manusia di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia mengalami pertumbuhan dan pengurangan, tanpa terkecuali juga di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model geographically weighted regression dan variabel-variabel yang mempengaruhi IPM untuk setiap kabupaten/kota di Provinsi Bangka Belitung tahun 2023. Adapun variabel dependen (Y) pada penelitian ini yaitu IPM dengan variabel independennya (X), meliputi: angka harapan hidup (X1), rumah tangga dengan akses air minum layak (X2), rumah tangga dengan sanitasi layak (X3), morbiditas (X4), harapan lama sekolah (X5), rata-rata lama sekolah (X6), angka partisipasi sekolah (X7), laju pertumbuhan PDRB ADHK (X8), tingkat pengangguran terbuka (X9), angka kemiskinan (X10), dan tingkat partisipasi angkatan kerja (X11). Pada penelitian ini, diperoleh 21 model GWR dengan masing-masing kabupaten/kota memiliki 7 pemodelan GWR. Adapun model GWR untuk IPM pada tahun 2023 dengan sampel Kota Pangkalpinang sebagai Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk 3 dimensi variabel independen, yaitu: (dimensi umur panjang dan hidup sehat), (dimensi pengetahuan), dan (dimensi standar hidup yang layak)
Gambaran Darah Ikan Lele (Clarias sp.) Terinfeksi Aeromonas hydrophila Pasca Pemberian Pakan Yang Disuplementasi Ekstrak Daun Mensirak (Ilex cymosa)
Ikan Lele (Clarias sp.) merupakan jenis ikan air tawar yang mudah untuk dibudidayakan, namun tidak jarang ikan terserang penyakit. Penyakit yang biasa ditemukan pada kegiatan budidaya ikan lele adalah penyakit Motile
Aeromonas Septicemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan; menguji dosis pemberian ekstrak daun mensirak yang dicampurkan kepakan terhadap respon imun ikan; menganalisis gambaran darah ikan; dan mengetahui dosis terbaik dalam
meningkatkan respon imun ikan lele. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) 5 perlakuan 3 kali ulangan. Perlakuan A (20%), perlakuan B (25%), perlakuan C (30%), perlakuan D (kontrol +),dan perlakuan E (kontrol -). Pada awal penelitian dilakuan pengambilan darah
ikan lele untuk mengecek gambaran darah ikan lele yaitu; kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan jumlah sel darah putih. Pada pertengahan minggu dilakukan injeksi bakteri dan pasca injeksi bakteri dilakukan lagi pengecekan gambaran darah ikan dan pada hari terakhir penelitian dilakukan lagi pengecekan gambaran darah ikan. Hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa pakan yang mengandung ekstrak daun mensirak mampu mencegah ikan lele yang terinfeksi A.hydrophila . Dosis terbaik yaitu perlakuan C (30%) dengan total eritrosit 2,58 x 106 ± 0,20b, leukosit 2,18 x 106±0,20 sel mm3 kadar hemoglobin 10,6 g/dL, kelangsungan hidup 79,17%. Kualitas air selama penelitian adalah suhu 26-
28 0C, pH 6-8, DO 2,9-3,5 mg/L dan amonia 0,1-0,2 ppm
Penegakan hukum tindak pidana penipuan dengan modus arisan di kepolisian resor (polres) Bangka Selatan
Penegakan hukum tindak pidana penipuan dengan modus arisan di Kepolisian Resor (POLRES) Bangka Selatan merupakan upaya yang dilakukan pihak kepolisian dalam menanggulangi kasus penipuan arisan ini sudah sering terjadi, dalam melancarkan aksinya pelaku membuat atau menjual arisan yang tidak ada atau fiktif dengan memakai nama palsu, atau keadaan palsu, baik dengan akal tipu muslihat maupun dengan karangan perkataan-perkataan bohong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui upaya penegakan hukum tindak pidana penipuan dengan modus arisan di Kepolisian Resor (POLRES) Bangka Selatan dan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat penegakan hukum tindak pidana penipuan dengan modus arisan di Kepolisian Resor (POLRES) Bangka Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian yuridis empiris dengan pendekatan konseptual dan pendekatan kasus. Hasil dari penelitian ini adalah Penegakan hukum melakukan upaya pencegahan yang dilakukan dengan cara memberikan himbauan kepada masyarakat. Sedangkan pada tahap penindakan pihak kepolisian melakukan beberapa tahapan, dimulai dari tahap penyelidikan, tahap penyidikan, tahap pemeriksaan hingga sampai ke tahap penyelesaian. Namun pada kasus ini belum maksimal dikarenakan banyaknya faktor penghambat yang menjadi kendala dalam penyelesaian kasus ini daripada faktor pendukung dalam penyelesaian kasus ini. Hal ini dikarenakan masyarakat bersifat tidak mau memahami dan tidak mau belajar bagaimana mencegah supaya tidak terulang kembali terjadinya tindak pidana
Analisis yuridis kewenangan Komisi Yudisial terhadap teknis yudisial dalam menegakan kode etik dan pedoman perilaku hakim
Disparitas pandangan Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial dalam memahami limitasi dan ruang lingkup teknis yudisial menjadi masalah hukum yang urgentif dalam implementasi kewenangan Komisi Yudisial. Kekosongan dan kekaburan hukum terkait teknis yudisial menjadikan latensi diskursus kewenangan Komisi Yudisial terus terjadi dalam menegakkan kode etik dan pedoman perilaku hakim. Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif, dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa hakim dalam memutus perkara tidak dapat terlepas dari penerapan kode etik dan perilaku. Teknis yudisial sebagai wilayah penetapan putusan terintegralisasikan dengan kode etik dan perilaku sehingga tidak dapat lepas dari pengawasan Komisi Yudisial. Revitalisasi kewenangan Komisi Yudisial diproyeksikan berfungsi secara optimal dengan kewenangan pengawasan terhadap wilayah pembuktian dalam putusan hakim. Dalam pengawasan pada wilayah teknis yudisial, Komisi Yudisial dapat melakukan eksaminasi putusan, termasuk pada bagian substansi, yakni pembuktian. Eksaminasi putusan pada bagian pembuktian tidak bertentangan dengan peraturan normatif dan prinsip independensi hakim, serta diperlukan sebagai instrumen mencegah judicial corruption secara strategis melalui pengawasan eksternal yang mandiri. Pengawasan di wilayah teknis yudisial harus diformulasikan secara tepat guna mengakomodasi kepentingan penegakan kode etik dan perilaku serta independensi kekuasaan kehakiman
Analisis perubahan luasan terumbu karang di Pulau Semujur Bangka Tengah dengan menggunakan citra satelit sentinel 2A
Pulau Semujur dikenal sebagai sentra kegiatan penangkapan ikan dan budidaya ikan kerapu, dengan potensi wisata bahari yang meliputi keindahan terumbu karang dan keanekaragaman ikan karang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan luasan terumbu karang menggunakan Citra Satelit Sentinel 2A dan mengetahui pengaruh suhu permukaan air laut terhadap perubahan luasan terumbu karang di Pulau Semujur. Metode penelitian melibatkan pengambilan data ground check pada bulan Maret 2023 dengan 60 sampel data, terbagi dalam empat kelas: terumbu karang, karang mati, lamun, dan pasir. Analisis data citra satelit Sentinel 2A melibatkan tahapan Koreksi Sunglint, Koreksi Kolom Air, dan Klasifikasi Citra secara Supervised dengan metode Maximum Likelihood Classifier. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam luasan terumbu karang di Pulau Semujur. Pada tahun 2016, luas terumbu karang mencapai 104,61 Ha, tetapi mengalami penurunan pada tahun 2023 menjadi 99,91 Ha menunjukkan luasan terumbu karang pada tahun 2016 hingga tahun 2023 mengalami penurunan luasan sebesar 4,7 Ha dengan laju perubahan luasan 4%. Luasan karang mati pada tahun 2016 mencapai 34,63 Ha namun mengalami penurunan luasan pada tahun 2018 menjadi 22,98 Ha menunjukkan luasan karang mati mengalami peningkatan luasan sebesar 7,15 Ha dengan laju perubahan luasan 21%. Peningkatan suhu permukaan laut pada tahun 2016, khususnya pada bulan April-Mei, berkaitan dengan kenaikan Hotspot dan Degree Heating Weeks di perairan Bangka Belitung. Kenaikan suhu ini sejalan dengan fenomena El Nino yang kuat pada tahun 2015-2016
Peningkatan laju pemindahan tanah pada kapal isap produksi 17 PT Timah Tbk di perairan laut penyusuk Kabupaten Bangka
Penelitian dilakukan di Unit Penambangan Laut Bangka PT Timah Tbk pada Kapal Isap Produksi Timah 17 yang berada di Perairan Laut Penyusuk Kabupaten Bangka. Kapal Isap Produksi Timah 17 merupakan kapal yang dioperasikan untuk penambangan biji timah di laut (offshore). Secara Teknis, laju pemindahan tanah pada Bulan Mei, Juni, Juli yaitu 172,166, dan 186 didapatkan rata-rata dalam 3 bulan yaitu sebesar 174,6 m3 /jam dari target yang ditetapkan oleh perusahaan sebesar 200 m3 /jam, perlu dilakukan optimalisasi pada unit penggaliannya dikarenakan belum tercapainya Laju Pemindahan Tanah. Metode penelitian yang digunakan menghitung Laju Pemindahan Tanah yang optimal dengan metode pengumpulan data aktual dan teoritis dengan perhitungan rata-rata nilai percepatan tekanan cutter, kedalaman penekanan ladder, kecepatan daya isap pompa tanah dan kecepatan daya propeller swing. Selanjutnya data diolah menggunakan angka analisis berbentuk tabel dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, mendiskripsikan rata-rata data aktual, serta meneliti dan menjelaskan hasil dari nilai rata-rata sehingga diketahui optimalisasi peralatan penggalian. Kemudian membandingkan Perhitungan laju pemindahan tanah Untuk mencapai target laju pemindahan tanah 200 m2 /jam pada lapisan tanah atas dan kaksa dengan kapasitas alat penggalian, jam jalan (500 jam) dan laju pemindahan tanah teoritis (200 m3 /jam). Hasil laju pemindahan tanah untuk mencapai laju pemindahan tanah teoritis sebesar 200 m3 /jam pada penggalian lapisan tanah atas dan kaksa dapat dicapai dengan Pengaturan kecepatan penekanan cutter 180 bar, Pengaturan daya isap pompa 1.700 rpm, pengaturan kedalaman penekanan ladder 85 cm/jam dan Pengaturan putaran propeller swing yaitu sebesar 1.508 rpm