University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
8735 research outputs found
Sort by
Kajian teknis pengaruh sudut kemiringan dan kecepatan alat vibrator screening pada feed sisa hasil pengolahan timah skala laboratorium
Unit Produksi Sisa Hasil Pengolahan (SHP) PT Babel Utama Korpora Site Pemali merupakan perusahaan yang mengelola Sisa Hasil Pengolahan (SHP) timah. Ukuran material SHP PT Bumako beragam ukuran, dikarenakan feed yang digunakan merupakan hasil dari proses pengolahan sebelumnya maka menyebabkan kadar Sn tergolong rendah. Oleh karena itu, dilakukan pemisahan material berdasarkan ukuran butir dengan menggunakan vibrator screening. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dari feed SHP timah, megetahui distribusi ukuran butir dari hasil pengayakan menggunakan vibrator screening yang paling optimal, serta mengetahui pengaruh sudut kemiringan dan kecepatan alat yang bekerja terhadap loose dengan metode analisis regresi linear. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Karakterisitik fisik diketahui dengan analisis sieve shaker dan dilakukan uji XRF pada tiap hasil saringan. Variabel yang digunakan pada alat vibrator screening adalah sudut kemiringan screening dengan variasi 8,09°; 12,17°; 18,43° dan 24,17° serta variasi kecepatan alat 2300 rpm, 2400 rpm, 2500 rpm dan 2600 rpm. Pada tiap variasinya dilakukan percobaan sebanyak 3 kali dengan berat sampel SHP timah sebesar 2500 gr di tiap percobaan. Hasil dari analisa diketahui bahwa feed SHP timah memiliki ukuran butir antara 4 cm - <0,074 mm yang tergolong kedalam kategori kerikil – lempung. Kadar unsur logam Timah (Sn) pada ukuran 10 mesh sampai 200 mesh memiliki nilai kadar <1% Sn, kadar unsur Timah (Sn) tertinggi ada pada ukuran -200 mesh, yakni sebesar 1,829% Sn. Kemudian untuk percobaan menggunakan vibrator screening, nilai persentase kumulatif lolos saringan, percobaan pada kemiringan 12,17° dan kecepatan alat 2600 rpm diperoleh nilai tertinggi pada ukuran saringan 20 mesh sebesar 57,50%, 30 mesh sebesar 38,46% dan 40 mesh 26,99%. Pengaruh kecepatan alat terhadap memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,0588 yang berarti nilai ini menunjukkan hubungan yang lemah antara kecepatan alat dan loose. Pengaruh sudut kemiringan terhadap loose memiliki nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,9335, nilai ini menunjukkan hubungan yang kuat antara sudut kemiringan dan loose
identifikasi potensi mineral timah menggunakan metode geolistrik pada sisa hasil produksi PT Babel Utama Korpora Pemali Kabupaten Bangka
Bangka Belitung merupakan daerah yang memiliki banyak potensi sumberdaya alam, baik itu potensi sumberdaya mineral logam maupun potensi sumberdaya mineral non-logam. Dalam pemanfaatan potensi mineral langkah pertama yang harus dilakukan yaitu tahapan eksplorasi. Salahsatu eksplorasi sebaran mineral dapat dilakukan dengan pengukuran secara langsung dilapangan menggunakan metode geofisika. Telah dilakukan penyelidikan potensi mineral dengan metode geolistrik konfigurasi Wenner pada Sisa Hasil Produksi PT. Babel Utama Korpora Pemali Kabupaten Bangka. Pengambilan data dilakukan pada 4 lintasan menggunakan 16 buah elektroda. Lintasan 1 dan 3 menggunakan spasi 5 m dengan panjang lintasan 75 m. Lintasan 2 dan 4 menggunakan spasi elektroda 10 m dengan panjang lintasan 150 m. Hasil interpretasi data geolistrik potensi mineral timah lintasan 1 berada pada kedalaman ± 1 m – 6,72 m dengan jarak 12,5 – 17,5 m, dengan uji GCA diperoleh kadar Sn sebesar 0,342%, uji XRF diperolah kadar Sn sebesar 0,01465%. Lintasan 2 berada pada kedalaman ± 6,76 m – 26,2 m dengan jarak 20 – 75 m, dan pada kedalaman ± 1 – 13 m dengan jarak 75 – 110 m, dengan uji GCA diperoleh kadar Sn sebesar 0,221%, uji XRF sebesar 0,1934%. Lintasan 3 berada pada kedalaman ± 1 m – 6,72 m dengan jarak 7,5 – 20 m dan pada kedalaman ± 1- 10,8 m dengan jarak 27,5 – 42,5 m, dengan uji GCA diperoleh kadar Sn sebesar 0,683%, uji XRF diperoleh kadar sebesar 0,02909%. Lintasan 4 berada pada kedalaman ± 1 m – 13,4 m dengan jarak 75 – 95 m, dengan uji GCA diperoleh kadar Sn sebesar 0,286%, uji XRF diperolah kadar sn sebesar 0,01955%
Estimasi stok karbon pada ekosistem mangrove sebagai upaya pengelolaan blue carbon di Desa Riding Panjang Kabupaten Bangka
Salah satu peranan mangrove yang menjadi perhatian saat ini yakni peran dalam mitigasi perubahan iklim sebagai bagian dari ekosistem blue carbon. Desa Riding Panjang merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Merawang yang
memiliki ekosistem mangrove dengan luasan sekitar 70 Ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan nilai kerapatan vegetasi, menganalisis nilai biomassa, serta menganalisis nilai stok karbon pada ekosistem mangrove di Desa Riding Panjang Kabupaten Bangka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu non destructive sampling method, menggunakan plot lingkaran berdiameter 14 meter. Data yang dianalisis diantaranya kerapatan jenis mangrove, biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, karbon biomassa, karbon sedimen, dan stok karbon total. Hasil penelitian ini ditemukan 8 jenis mangrove di Desa Riding Panjang yaitu Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia alba,
Lumnitzera littorea, Lumnitzera racemosa, Ceriops tagal, dan Ceriops decandra. Estimasi rata-rata kandungan biomassa di Desa Riding Panjang mencapai 115,09 ton/Ha. Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata memiliki rata-rata
kandungan biomassa tertinggi yaitu berturut-turut mencapai 2,35 – 839,68 ton/Ha dan 7,38 – 457,93 ton/Ha. Secara keseluruhan rata-rata stok karbon mangrove di Desa Riding Panjang adalah sebesar 252,38 ton/Ha, dengan rata-rata karbon biomassa atas permukaan sebesar 40,63 ton/Ha, karbon biomassa bawah sebesar 13,45 ton/Ha, serta karbon sedimen sebesar 198,30 ton/Ha
Etnobotani Tumbuhan Pelawan (Tristaniopsis spp.) pada Suku Melayu Bangka di Kabupaten Bangka Tengah
Studi etnobotani merupakan salah satu cara dalam mengetahui pengetahuan lokal dan pemanfaatan tumbuhan secara berkelanjutan, salah satunya jenis Tristaniopsis spp. yaitu tumbuhan multifungsi yang dimanfaatkan oleh berbagai suku di Indonesia, termasuk suku Melayu Bangka. Adapun tujuan penelitian dilakukan yaitu mengidentifikasi pengetahuan lokal dan menganalisis upaya pelestarian tumbuhan pelawan (Tristaniopsis spp.) pada suku Melayu di Kabupaten Bangka Tengah. Metode penelitian menggunakan pendekatan etnobotani melalui survei pendahuluan, observasi lapangan, teknik wawancara terstruktur terhadap 99 responden , dan wawancara mendalam terhadap 10 informan di Desa Namang, Desa Terak, dan Desa Terentang III. Analisis hasil data kualitatif menggunakan statistik deskriptif dengan membuat tabulasi data sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan statistik sederhana dan formula ICS (Index Cultural Significance).Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis tumbuhan pelawan yang ada di Desa Namang, Desa Terak, dan Desa Terentang yaitu Tristaniopsis merguensis (Griff.) Peter G Wilson & J.T.Waterh, Tristaniopsis obovata (Benn.) Peter G Wilson & J.T.Waterh, dan Tristaniopsis whiteana (Griff.) Peter G Wilson & J.T.Waterh. Bagian tumbuhan pelawan yang dimanfaaatkan antara lain akar (obat tradisional), daun( obat tradisional dan teh), batang (tajar lada, kayu bakar, kayu penyangga, bahan baku arang, alat permainan tradisional dan bangunan),kulit batang (bahan pewarna dan teh), dan bunga (sumber nektar untuk lebah). Masyarakat suku Melayu Bangka melakukan upaya konservasi dengan melakukan upaya reboisasi di kawasan hutan desa sebagai upaya dalam melestarikan tumbuhan pelawan, mengetahui nama lokal pada jenis tumbuhan pelawan, serta mempertahankan pengetahuan lokal dan pemanfaatan tumbuhan pelawan agar tetap terjaga
Pengaruh Kompetensi dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurang maksimalnya sarana dan prasarana yang tersedia di kantor. Peningkatan kinerja pegawai bertujuan untuk mencapai tujuan dalam suatu organisasi, peningkatan kinerja pegawai juga penting dilakukan untuk membentuk pegawai memiliki kualitas yang lebih baik, pengembangan kompetensi pegawai akan membuat pegawai lebih mudah termotivasi untuk melakukan pekerjaannya. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu metode kuantitatif. Jumlah sampel terdiri dari 30 responden dengan menggunakan teknik sampling sederhana. Model analisis yang digunakan adalah analisis regresi linear berganda sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh kompetensi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Kantor Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan. Lingkungan kerja juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai Kantor Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan. Hasil uji secara simultan diketahui pengaruh kompetensi dan lingkungan kerja secara bersama sama berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Kantor Kecamatan Airgegas, Kabupaten Bangka Selatan
Kajian pengolahan batu granit di PT Tanjung Bukit Nunggal menggunakan jaw crusher skala laboratorium untuk mendapatkan split 1x2 dan 2x3
PT Tanjung Bukit Nunggal adalah perusahaan tambang batu granit di Desa Air Mesu, Bangka Tengah. Pada perusahaan ini crushing plant dalam pengolahan batu granit masih belum efektif. Penelitian ini menganalisis kinerja jaw crusher skala laboratorium dan memberikan informasi penggerusan yang lebih efektif. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan data primer berupa; 2 sampel material batuan granit untuk petrografi, 12 data waktu penggerusan dan hasil penggerusan. Data sekunder berupa; spesifikasi alat, dan prosedur kerja laboratorium. Pengolahan data dengan perhitungan rata-rata waktu dan hasil penggerusan, loose material, serta tabulasi dan pembuatan grafik data hasil. Hasil diketahui bahwa waktu dan hasil gerusan pada pengujian dengan ukuran feed 4 cm membutuhkan waktu penggerusan 51,27 detik untuk split 1x2 dan 45,34 detik untuk split 2x3 serta dengan hasil 3,9 kg dan 4,45 kg, serta loose material 1,1kg dan 0,55 kg. Pada pengujian dengan ukuran feed 6 cm membutuhkan waktu pengerusan 52,44 detik untuk split 1x2 dan 47,70 detik untuk split 2x3 dan menghasilkan hasil sebayak 3,8 kg dan 4,35 kg, serta loose material 1,2 kg dan 0,65 kg. Pada percobaan dengan ukuran feed 8 cm dibutuhkan waktu penggerusan 53,80 detik untuk split 1x2 dan 49,89 detik untuk split 2x3 serta menghasilkan hasil gerusan sebanyak 3,65 kg dan 4,15 kg dan loose material 1,35 kg dan 0,85 kg. Persentase berat split 1x2 dan 2x3 yang paling besar dihasilkan pada penggujian dengan ukuran feed 4 cm yaitu 78% dan 89 %, dan yang paling kecil dihasilkan pada pengujian dengan ukuran feed 8 cm yaitu 73% dan 83 %. Persentase hasil loose material yang paling sedikit dihasilkan pada pengujian dengan ukuran feed 4 cm yaitu masing-masing 22% dan 11%, dan yang paling banyak dihasilkan pada pengujian feed 8 cm yaitu 27% dan 17%. Hasil tersebut dapat dikatakan bahwa semakin kecil ukuran feed yang digunakan dalam penggerusan maka semakin cepat waktu penggerusan dan semakin banyak pula hasil output yang didapatkan
Urgensi penafsiran hukum historis terhadap perubahan pengajuan rencana reklamasi usaha pertambangan
Pemerintah saat ini terkesan terlalu memihak kepada perusahaan tambang untuk tidak terlalu memaksakan perusahaan tersebut untuk melakukan reklamasi bagi pertambangan yang telah selesai, dan itu akan dialihkan kepada pihak ketiga. Terdapat pasal 99 ayat ( 1 ) Undang – Undang Nomor 3 Tahun 2020 yang berbunyi “ Pemegang IUP atau IUPK wajib menyusun dan menyerahkan rencana reklamasi dan atau rencana pasca tambang sedangkan pasal 99 ayat ( 1 ) Undang – Undang Nomor 4 Tahun 2009 yang berbunyi “ Setiap Pemegang IUP dan IUPK Wajib menyerahkan Rencana Reklamasi dab rencana pasca tambang pada saat mengajukan permohon IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi. Penelitian dilakukan untuk menganalisis urgensi penafsiran hukum historis terhadap perubahan pengajuan rencana reklamasi usaha pertambangan. Penelitian menggunakan metode hukum normatif melalui Pendekatan perundang - undangan (Statute Approach) , Pendekatan Kasus (Case Approach) dan Pendekatan Historis (historical approach). Urgensi Penafsiran Hukum Historis Dari Perspektif Ratio Legis terhadap pasal 99 ayat 1 dalam Asas lex posterior derogate legi priori. Undang-Undang Minerba yang baru ini juga batas waktu IUPK dinilai tidak logis dan memberikan kesan keberpihakan Pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan besar dan semakin lemah nya pengawasaan pemerintah terhadap rencana reklamasi kepada pihak – pihak usaha pertambangan. Dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri ESDM menjelaskan wajib menyusun dan menyerahkan rencana reklamasi sebelum melakukan kegiatan. Dan kepastian hukum nya dalam pasal tersebut kurang efektif dan bertentangan dengan Asas Lex Posterior Derogat Legi Priori . Bukannya mempertegas aturan Reklamasi dan Kegiatan Pascatambang, alih - alih mempidanakan perusahaan yang tidak memperbaiki lahan bekas tambang, bahkan pemerintah justru membuat aturan baru yang membebaskan kewajiban pengusaha tambang perusak lingkungan dengan jalan merubah isi Undang-Undang
Kelimpahan Fitoplankton dan Kandungan Klorofil-a di Muara Sungai Air Kantung Kecamatan Sungailiat
Perairan Muara Sungai Air Kantung merupakan hilir dari Sungai Pebabri-Jelitik yang terletak di sebelah utara Pulau Bangka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis fitoplankton yang ditemukan, kandungan klorofil-a dan hubungan antara kelimpahan fitoplankton, kandungan klorofil a dengan parameter kualitas perairan di Muara Sungai Air Kantung Kecamatan Sungailiat. Waktu dan tempat penelitian ini dilaksankan bulan Mei 2024 hingga bulan Juli 2024 di Perairan Muara Sungai Air Kantung Kecamatan Sungailiat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan dari dalam Muara Sungai Air Kantung Sungailiat menuju laut lepas.Hasil penelitian menunjukan bahwa kelimpahan fitoplankton berkisar 30 - 110ind/l dan kandungan klorofil-a berkisar 0,3239-1,1885 mg/m3. Total fitoplankton yang ditemukan yaitu 130 individu, kelas Bacillariophyceae paling banyak ditemukan sejumlah 10 genus. Parameter fisika-kimia yang berpengaruh terhadap kelimpahan fitoplankton dan kandungan klorofil-a diolah menggunakan Software Statistica 64 dengan menggunakan metode PCA (Principal Component Analysis). Parameter yang diuji yaitu kecepatan arus, suhu, kecerahan, TSS, DO, Salinitas dan pH. Hasil analisis komponen utama (PCA) diperoleh dengan nilai F1 sebesar 76,44% dan F2 sebesar 13,67%. Diagram korelasi perpotongan sumbu F1 dan F2 menunjukkan bahwa adanya korelasi positif yaitu kelimpahan fitoplankton, klorofil-a, kecerahan dan DO membentuk F1 positif. Sedangkan kecepatan arus, suhu, TSS, salinitas dan pH membentuk F1 negati
Perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual dengan tipu muslihat di Kota Pangkalpinang (studi putusan No.376/Pid.Sus/2022/PN Pgp)
Peningkatan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Pangkalpinang menjadi permasalahan mengenai bagaimana hukum dalam menegakkan keadilan bagi pelaku serta mengedepankan pemulihan korban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis upaya perlindungan hukum terhadap anak
sebagai korban kekerasan seksual dengan tipu muslihat di Kota Pangkalpinang serta untuk mengetahui dan menganalisis kendala dalam pemberian perlindungan anak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penulisan hukum
yuridis empiris. Sedangkan pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kasus, pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan komparatif. Hasil penelitian yang pertama, menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual
mengutamakan pendampingan pada anak melalui lembaga pemerintahan seperti UPTD PPA Pangkalpinang dan Unit PPA Polresta Pangkalpinang. Kedua, kendala dalam pemberian perlindungan hukum terhadap anak sebagai korban kekerasan seksual di Kota Pangkalpinang meliputi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban belum adanya suatu ketentuan yang mengatur sanksi apabila pelaku tidak memberikan restitusi, sarana dan prasarana yang belum memadai meliputi kesediaan anggaran dan layanan medikolegal yang terbatas, masyarakat yang masih minim edukasi, serta budaya pembiaran yang masih melekat di masyarakat
Pemanfaatan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terfermentasi Sebagai Pakan Untuk Pengembangan Produksi Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp)
Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) adalah jenis tumbuhan air yang mengapung di permukaan perairan. Eichhornia crassipes mengandung nutrisi, yaitu bahan kering 8,05%, protein kasar 13,86%, serat kasar 21,10%, lemak kasar 0,98%, abu 1,65%, BETN 29,16%. Kandungan tersebut dapat digunakan untuk pakan Cacing Sutra (Tubifex sp). Penelitian ini untuk membudidayakan Tubifex sp dengan memanfaatkan potensi Eceng Gondok terfermentasi sebagai pakan untuk bobot
mutlak Tubifex sp. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan mengunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan sidik ragam ANOVA. Data hasil sidik
ragam akan dilakukan uji lanjut dengan BNT. Pemberian Eceng Gondok terfermentasi sebagai pakan Tubifex sp selama 50 hari pemeliharaan berpengaruh terhadap bobot mutlak, dan kualitas air Cacing Sutra. Perlakuan dengan pemberian Eceng Gondok terfermentasi terhadap bobot mutlak Tubifex sp menghasilkan bobot mutlak terbanyak pada perlakuan 1 dengan pemberian 25 gram Eceng Gondok terfermentasi menghasilkan 19.93 gram. Pengaruh perlakuan pemberian Eceng Gondok terfermentasi sebagai pakan Tubifex sp mendapatkan hasil kisaran kualitas air yang sama pada setiap perlakuan dengan nilai pH 5.57- 7.97, suhu 24.13- 33.4 °C, Amoniak 0 - 1.08 mg/L, dan DO 1.43 - 4.1 mg/L nilai kualitas air tersebut masuk kategori aman untuk kehidupan Tubifex sp