University of Bangka Belitung Repository
Not a member yet
    8735 research outputs found

    Analisis kondisi terumbu karang di Peraian Pulau Panjang Kabuaten Bangka Tengah

    No full text
    Terumbu karang merupakan organisme yang hidup di dasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur yang cukup kuat menahan daya gelombang laut. Secara ekologis, terumbu karang merupakan tempat organisme hewan maupun tumbuhan mencari makan dan berlindung. Meskipun terumbu karang memiliki manfaat yang tinggi bagi manusia, akan tetapi terumbu karang sangat rentan terhadap kerusakan, terutama oleh tekanan manusia. Pulau Panjang merupakan salah satu pulau-pulau kecil yang terdapat di Kabupaten Bangka Tengah. Pulau ini memiliki potensi ekosistem terumbu karang. Luasan terumbu karang Pulau Panjang menurut penelitian Adi et al (2021) memiliki luas sebesar 475 ha. Ekosistem terumbu karang di perairan ini belum dimanfaatkan oleh masyarakat secara optimal, mengingat besarnya potensi ancaman kerusakan terumbu karang yang mungkin terjadi karena aktivitas manusia seperti kegiatan pariwisata, jalur pelayaran, ataupun aktivitas pertambangan pertambangan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kondisi ekosistem terumbu karang di Perairan Pulau Panjang dan menganalisis rekomendasi pengelolaaan sumberdaya hayati perairan berkelanjutan di Perairan Pulau Panjang Kabupaten Bangka Tengah. metode UPT (Underwater Photo Transect) dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital bawah air atau kamera digital biasa yang diberi pelindung (housing) untuk pemakaian bawah air sehingga tahan terhadap rembesan air laut. Hasil penelitian menunjukakan bahwa persentase tutupan karang hidup di Perairan Pulau panjang dengan nilai antara 70,07-14,07% dikategorikan baik hingga buruk menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001 tentang Baku Mutu Kerusakan terumbu Karang. Bentuk pertumbuhan terumbu karang yang ditemukan pada Perairan Pulau Panjang sebanyak 14 jenis life form. Terdapat 17 genus Terumbu karang yang dijumpai pada Perairan Pulau Panjang. Rekomendasi Pengelolaan sumberdaya hayati perairan pada Pulau Panjang yaitu pengembangan wisata yang berkelanjutan. Pengembangan wisata yang berbasis lingkungan dapat menjadi solusi untuk memanfaatkan terumbu karang secara lestari dan berkelanjutan dan peningkatan pengelolaan pesisir dan perikanan berbasis perlindungan KKL (Kawasan Konservasi Laut)

    Konflik lahan atas pengelolaan izin hutan tanaman industri (studi pada PT. Agro Pratama Sejahtera dengan masyakakat di Desa Penagan Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka).

    No full text
    Penelitian ini mengenai konflik lahan yang terjadi karena adanya protes penolakan yang dilakukan masyarakat atas masuknya pengelolaan kawasan hutan tanaman industri oleh PT. Agro Pratama Sejahtera. Proses konflik terjadi dimulai adanya salah satu pihak yang ingin menguasai yakni PT. Agro Pratama Sejahtera dan salah satu pihak yang ingin mempertahankan lahan tersebut yaitu dari Masyarakat Desa yang bertahan hidup di wilayah tersebut. Konflik agraria dalam masalah ini bersifat konflik vertikal karena konflik yang terlibat adanya Pemerintah desa, masyarakat, dengan perusahaan yang berkonflik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses konflik yang terjadi serta upaya penyelesaian konflik antara masyarakat dengan perusahaan. Penelitian ini menggunakan teori konflik menurut Fisher. Adapun Tahapan dinamika konflik dalam menangani permasalahan konflik menurut Fisher diantaranya tahapan pra-konflik, konfrontasi, krisis, akibat, dan pasca-konflik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara teknik purposive sampling dengan cara wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa kelompok masyarakat menolak masuknya perusahaan untuk melakukan aktivitas hutan tanaman industri dan meminta ke pihak Pemerintah Daerah untuk mencabut izin atas perusahaan di Desa Penagan. Aksi penolakan yang dilakukan oleh pihak masyarakat yakni dengan memasang spanduk agar perusahaan tidak beraktivitas di kawasan tersebut, serta melakukan aksi demo ke kantor DPRD. Upaya penyelesaian sudah melalui tahap mediasi, arbitrasi, dan perundingan antara kedua belah pihak, dan Perusahaan sudah memiliki izin atas lahan tersebut dari tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Bupati Bangka dengan SK No. 208/Menhut-II /2011, namun tidak adanya sosialisasi ke masyarakat yang membuat masyarakat resah dan menolak kawasan hutan mereka dijadikan kawasan HTI

    Karakteristik briket dari 3 jenis bahan dasar yang berbeda dengan menggunakan perekat getah damar dan campuran LDPE

    No full text
    Pemanfaatan limbah pertanian seperti tempurung kelapa, cangkang sawit, dan cangkang kemiri dapat diolah menjadi sumber energi alternatif yaitu briket. Briket tempurung kelapa, cangkang sawit dan cangkang kemiri merupakan salah satu alternatif jenis bahan bakar yang ramah lingkungan, ekonomis, serta dapat diperbarui dalam waktu yang relatif cepat. Briket yang baik adalah briket yang mempunyai nila kalor yang tinggi, hal-hal yang mempengaruhi kualitas briket bisa ditentukan oleh bahan bahkan proses pembuatan briket itu sendiri, sehingga dilakukan penelitian yang berjudul “KARAKTERISTIK BRIKET DARI 3 JENIS BAHAN DASAR YANG BERBEDA MENGGUNAKAN PEREKAT GETAH DAMAR DAN CAMPURAN LDPE”. Metode penelitian yang digunakan dalam Penelitian ini adalah metode eksperimental dengan membandingkan 3 jenis bahan dasar yang berbeda yaitu tempurung kelapa, cangkang sawit dan cangkang kemiri. Pembuatan briket dari bahan dasar tersebut menggunakan komposisi masing-masing 70% dari tempurung kelapa, 70% cangkang sawit dan 70% cangkang kemiri, serta untuk campuran lainnya 20% perekat getah damar dan 10% LDPE. Tujuan dari penelitian ini ntuk mengetahui kualitas briket yang diuji menggunakan pengujian proximate untuk mengukur kadar air, kadar abu, kadar zat mengup dan kadar karbon, serta nilai kalor pada briket. Dari hasil pengujian briket diperoleh bahwa briket yang memiliki kualitas terbaik adalah cangkang kemiri dengan kadar air 5,03%, kadar abu 3,20%, kadar zat menguap 24,88%, kadar karbon 66,89% dan nilai kalor sebesar 7387 kal/g. Dari hasil dan analisis yang telah dilakukan dalam penelitian ini dapat diuraikan bahwa bahan yang digunakan dalam pembuatan briket akan mempengaruhi kualitas dari sebuah briket

    Karakteristik Morfologi dan Molekuler Ikan Temelayar Kaca (Gymnochanda verae) Asal Sungai Lenggang, Belitung Timur

    No full text
    Ikan Temelayar Kaca merupakan ikan yang berpotensi sebagai ikan hias endemik dari Pulau Belitung. Status konservasi yang hampir punah dari ikan ini serta belum teridentifikasi secara molekuler menjadi salah satu permasalahan dari upaya pelestariannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengukur morfologi, memperoleh basa nukleotida serta hubungan kekerabatan dari spesies ini. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Parameter yang diidentifikasi pada penelitian ini meliputi morfologi ikan, basa nukleotida spesies dan hubungan kekerabatan. Hasil pengamatan ciri visual dari Ikan Temelayar Kaca jantan memiliki sirip anal dan sirip dorsal kedua yang melebar dengan gradasi warna merah membentuk segitiga dan ciri fisik pada Ikan Temelayar Kaca betina memiliki warna yang transparan pada seluruh tubuhnya tanpa ada variasi bentuk sirip maupun warna. Hasil parameter morfologi menunjukkan Ikan Temelayar Kaca yang diperoleh dari Sungai Lenggang, Belitung Timur merupakan spesies Gymnochanda verae. Melalui proses sekuensing diperoleh komposisi basa nukleotida pada sampel OV1 yaitu Timin berjumlah 182 (27,3%), Citosin 206 (30,9%), Adenin 146 (21,9%) dan Guanin 132 (19,8%), sedangkan sampel OV2, OV3, OV 4 dan OV 5 memiliki komposisi basa nukleotida Timin 183 (27,4%), Citosin 205 (30,7%), Adenin 147 (22%) dan Guanin 131 (19,6%). Kontruksi pohon filogenetik menunjukkan G. verae asal Sungai Lenggang, Belitung Timur dengan G. filamentosa asal Riau memiliki kekerabatan sebesar 88% dengan jarak genetik sebesar 12,6-12,8

    Identifikasi kedalaman lindi menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi schlumberger di TPA Parit Enam Kota Pangkalpinang

    No full text
    TPA Parit Enam Kota Pangkalpinang merupakan tempat pembuangan sampah bagi penduduk di kota maupun di pinggiran kota. Setiap hari berbagai jenis sampah penduduk diangkut dari bak-bak sampah yang terdapat di kota dan pinggiran kota, kemudian ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir sehingga menjadi tempat terbesar terbentuknya lindi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi kedalaman lindi menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi Schlumberger. Pengambilan data lapangan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Schlumberger memiliki spasi elektroda arus 0,5 meter; 1 meter; 4 meter; 5 meter dan 10 meter. Selanjutnya data yang diperoleh di lapangan diolah untuk mendapatkan nilai faktor geometri (K) dan nilai resistivitas semu (Ωa). Setelah itu, dilakukan pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan nilai resistivitas yang sebenarnya berupa pemodelan 1D dan 2D. Pemodelan data ini dilakukan menggunakan algoritma yaitu matriks Jacobi. Berdasarkan hasil pemodelan 1D dan 2D, bahwa tahanan jenis rendah diduga sebagai air lindi yang sudah mengkontaminasi hampir seluruh lintasan pengukuran pada kedalaman 0,5 hingga 1, 36 meter dengan nilai resistivitas 1,14 Ωm ₋ 4,32 Ωm. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa air lindi yang sudah mengkontaminasi daerah penelitian memiliki nilai resistivitas yang rendah yaitu <10 Ωm

    Pengaruh Perbedaan Jenis Pakan terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

    No full text
    Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan suatu usaha budidaya. Pakan yang berkualitas selain berperan sebagai sumber energi juga mampu meningkatkan daya cerna ikan sehingga pertumbuhan menjadi optimum. Maggot (Hertemia illucens) dan ikan rucah (Trash fish) bisa dijadikan salah satu solusi pakan alternatif dikarenakan kaya akan kandungan protein hewani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian jenis pakan berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan lele dumbo. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan : P1 (pelet), P2 (tepung maggot), dan P3 (ikan rucah) setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis pakan berbeda berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan lele. Laju pertumbuhan ikan meliputi panjang, bobot, SGR, FCR, dan SR yang terbaik terdapat pada perlakuan P1 (pelet) dengan nilai panjang 2,62 cm, nilai bobot 1,72 gram, nilai SGR 0,95%, nilai FCR 1,29, dan nilai SR 81,1%

    Evaluasi Sistem Drainase terhadap Banjir di Kawasan Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Bangka Menggunakan Software EPA SWMM 5.1

    No full text
    Banjir seringkali terjadi pada beberapa ruas jalan di Kota Sungailiat, salah satunya Jalan Ahmad Yani Kelurahan Parit Padang tepatnya di depan Kantor Bupati Kabupaten Bangka. Saluran drainase di depan Kantor Bupati Kabupaten Bangka ini selalu terisi air yang mengalir baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Setiap terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi, saluran drainase pada ruas jalan tersebut meluap karena tidak mampu menerima kapasitas debit yang mengalir. Untuk menyelesaikan persoalan banjir pada ruas jalan tersebut, perlu dilakukan suatu upaya perbaikan pada sistem drainase. Langkah-langkah evaluasi dan pemodelan perlu dilakukan sebelum menetapkan bentuk perbaikan sistem yang dibutuhkan. Salah satu software yang digunakan dalam proses pemodelan dan pengevaluasian sistem drainase adalah SWMM (Storm Water Management Model). Data yang digunakan dalam proses pemodelan sistem drainase pada EPA SWMM 5.1 mencakup data intensitas hujan, data dimensi saluran yang terbagi menjadi Junction, Conduit dan Outfall, serta data pengolahan peta topografi berupa % slope, luas DTA, width dan % impervious. Dari pengolahan data tersebut didapatkan model simulasi yang terdiri dari Rain Gage, 9 Subcatchment, 22 Junction, 14 Conduit dan 1 Outfall. Hasil simulasi pemodelan sistem drainase didapakan besar debit limpasan total dari 9 Subcatchment sebesar 1,30 m3 /s. Terdapat 3 Junction yang mengalami luapan serta semua Conduit dan Outfall masih dalam keadaan aman. Secara keseluruhan sistem saluran drainase saat ini masih mampu menampung debit curah hujan rencana 5 tahun

    Perubahan luasan dan kondisi padang lamun di pulau Lepar Bangka Selatan menggunakan citra sentinel 2A

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luasan lamun, dan perubahannya dari tahun 2020-2023 di Pulau Lepar Bangka Selatan menggunakan Citra Sentinel 2A, serta menganalisis kondisi padang lamun di Pulau Lepar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli tahun 2023 di Pulau Lepar, Kabupaten Bangka Selatan. Metode yang digunakan untuk penentuan titik stasiun adalah purposive sampling dan penentuan kondisi padang lamun menggunakan metode transek kuadrat di 3 stasiun yaitu Penutuk, Tanjung Sangkar, dan Tanjung Labu. Hasil penelitian luasan lamun di Pulau Lepar pada tahun 2020 adalah 1.437,53 Ha, tahun 2021 adalah 1428,14 Ha, tahun 2022 adalah 1.339,54 Ha, dan tahun 2023 adalah 1.258,22 Ha. Perubahan luasan lamun yang terjadi adalah pengurangan luasan sebesar 9,39 Ha dari tahun 2020-2021, tahun 2021-2022 berkurang sebesar 88,6 Ha, pada tahun 2022-2023 berkurang sebanyak 81,22 Ha dan total perubahan luasan lamun dari tahun 2020-2023 adalah berkurang sebesar 179,31 Ha. Kondisi padang lamun di Pulau Lepar dikategorikan miskin dengan persentase stasiun 1 (Penutuk) 22,04 %, stasiun 2 (Tanjung Sangkar) 14,07 % , dan Stasiun 3 (Tanjung Labu) 0,86 %

    Perbandingan karakter morfometrik lamun oceana serrulata (byng & christenh) di Perairan Bangka Selatan

    No full text
    Oceana serrulata (Byng & Christenh) adalah spesies lamun dengan memiliki bentuk daun ramping dan melengkung serta mempunyai gerigi di ujung yang mampu hidup di berbagai substrat, mulai dari substrat pecahan karang sampai lumpur berpasir. Morfometrik dapat dipengaruhi oleh lingkungan tempat hidup lamun yang dapat dilihat dari daun, tangkai, rhizoma dan akar. Morfometrik merupakan pengukuran untuk mengetahui morfologi dari struktur organisme. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi morfologi lamun, menganalisis karakter morfometrik lamun dan pengaruh substrat terhadap morfometrik O. serrulata. Penelitian dilakukan bulan Juni 2023 di Pantai Tanjung Kerasak, Penutuk, Kumbung dan Tanjung Sangkar. Sampling lamun dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Data dianalisis dengan menggunakan analisis one way Anova, PCA dan analisis kluster. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, panjang daun berkisar antara 22,86-101,48 mm, lebar daun 6,19-8,19 mm, panjang tangkai lamun 14,79-36,06 mm, diameter tangkai yaitu 2,14-2,46 mm, panjang rhizoma 40,8-51,35 mm, diameter rhizoma 2,19-2,63 mm dan panjang akar 32,69-88-92 mm. Pada analisis komponen utama, substrat yang berpengaruh adalah pecahan karang, pasir, dan lumpur. Hasil analisis kluster yang mempunyai kesamaan antar lokasi yaitu Kumbung dan Tanjung Sangkar sedangkan hasil analisis Anova yaitu hanya mempunyai perbedaan secara signifikan pada bagian tangkai O. serrulata

    Rancang bangun mesin penyemprot fungisida pada tanaman cabai sistem batang penyemprot otomatis

    No full text
    Desa Paya Benua memiliki jumlah rata-rata 70% penduduk berkerja sebagai petani cabai. Dari total jumlah petani cabai di Desa Paya Benua, 15% diantaranya mengalami kerugian yang diakibatkan gagal panen karena serangan hama. Penanganan masalah tersebut dilakukan penyemprotan menggunakan fungisida secara manual. Namun cara tersebut memerlukan waktu dan tenaga yang lebih. Dari permasalahan yang ada maka penulis mengambil penelitian yang berjudul rancang bangun mesin penyemprot fungisida pada tanaman cabai sistem batang penyemprot otomatis. Tujuan penelitian dilakukan adalah untuk mendapatkan mesin penyemprot tanaman cabai dengan tuas sprayer otomatis naik turun, dan tangki tanpa harus digendong. Penelitian menggunakan metode studi kasus dan riset lapangan. Perancangan mesin penyemprot tanaman cabai menggunakan metode French. Mesin ini berdimensi 1.100 x 850 x 1.500 mm. Mesin dilengkapi dengan pompa DC 12 volt single pump dengan tuas sprayer sistem naik turun yang diambil dari kedua roda. Pengujian dilakukan untuk mengetahui keberhasilan mesin. Uji coba keberhasilan mesin diukur dari rata-rata daya yang digunakan, waktu, dan jarak. Uji coba mesin dilakukan dalam 3 kali percobaan dengan volume 17 liter cairan fungisida. Mesin penyemprot tanaman cabai mendapatkan rata-rata daya yang digunakan 0,77 watt, waktu penyemprotan 10,28 detik per 17 liter, dan panjang lintasan yang disemprot 114,66 meter. Maka dapat disimpulkan proses pengoperasian mesin lebih mudah, proses penyemprotan lebih cepat karena menggunakan lebih dari 1 nozzle dan sprayer, daya yang dibutuhkan lebih kecil. Sehingga mesin penyemprot otomatis lebih ekonomis/berhasil

    3,607

    full texts

    8,735

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    University of Bangka Belitung Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇