Universitas Terbuka Repository
Not a member yet
9681 research outputs found
Sort by
Perbandingan Prestasi Belajar Matematika dengan Model Quantum Learning dan Cooprative Learning Ditinjau dari Berpikir Kreatif Matematis Siswa
Pennasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah "Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Dengan Model Quantum Learning dan Cooperative Learning Ditinjau Dari Berpikir Kreatif Maternatis Siswa". Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan prestasi belajar matematika siswa. Sementara pembelajaran matematika yang menggunakan model quantum learning dan cooperative learning, siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif matematis (KBKM) (tinggi ,sedang dan rendah) dengan model quantum learning apakah mempunyai prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan model cooperative learning serta adakah pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan berpikir kreatif matematis (KBKM) terhadap prestasi belajar rnatematika. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain kelompok kontrol pretes-postes. Populasinya adalah siswa kelas IX di SMP Negeri 1 Pabuaran yang berjumlah 278 siswa yang terbagi menjadi 8 kelas yaitu kelas IXA, IXB, IXC, IXD, IXE, IXF, IXG dan lXH. Pengambangan sampel dalam perbandingan menggunakan teknik cluster random sampling, suatu teknik penetapan sampel dengan pengundian secara acak tanpa ada yang diistimewakan. Karena sampel berada dalam suatu kelompok (cluster ) dan setiap kelotnpok memiliki kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel . Dalam penelitian ini yang akan diundi adalah kelasnya, bukan
siswanya. Dari 8 kelas yang ada akan diambil 3 kelas saja, dimana 2 kelas sebagai sampel penelitian dan I kelas sebagai kelas uji coba Hasil pengundian didapat kelas IX.F sebagai kelas eksperimen dan kelas IX.D sebagai kelas kontrol sedangkan kelas IX.E sebagai kelas uji coba. Penelitian untuk kelas IX F mendapatkan model quantum learning dan untulc kelas IX D mendapatkan model cooperative learning. Berdasarkan basil analisis temyata prestasi belajar matematika siswa yang diajarkan mendapatkan model quantum learning lebih tinggi dengan nilai rata-rata 69,06 dari pada siswa yang diajarkan dengan menggunakan model cooperative teaming dengan nilai rata-rata 68,24. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan prestasi belajar matematika siswa yang menggunakan model quantum learning dengan siswa yang menggunakan model cooperative /earning dimana dalam basil analisis statistik bahwa pembelajaran quantum learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dibanding dengan model pembelajaran cooperative learning pada pokok bahasan bangun -bangun yang sebangun pada bangun datar segitiga siswa kelas IX SMP Negeri I Pabuaran tahun pelajaran 2017 /2018
Efektivitas Pelayanan Kartu Pencari Kerja (AK-1) ada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau
Pelayanan kartu pencari kerja pada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau berdasarkan pengamatan awal adalah kurang efektif, sehingga tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi melalui penyediaan pelayanan kartu pencari kerja belum secara optimal diwujudkan. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kategori penelitian kualitatif yang didasar dengan tujuan penelitian untuk memperoleh gambaran tentang efektivitas pelayanan kartu kuning pad.a Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau. Penelitian yang dilakukan penulis menggunakan metode analisa kualitatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif seperti yang dikembangkan oleh Miles, Huberman dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelayanan kartu pencari kerja (AK-I) yang dilaksanakan pada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau telah dilaksanakan dengan baik. Pelayanan telah dilaksanakan secara efektif dengan pencapaian hasil sesuai dengan rencana clan target yang sudah ditetapkan. Faktor - faktor yang menghambat dalam pelayanan kartu pencari kerja pada Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau terdiri dari keterbatasan anggaran dan keterbatasan sumber daya manusia. Penurunan APBD Kabupaten Malinau yang berdampak terhadap penurunan anggaran. Keterbatasan PNS sebagai pelayan publik secara kuantitas dan kualitas juga menjadi faktor penghambat pelaksanaan pelayanan. Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kabupaten Malinau telah melakukan upaya untuk mengatasi hambatan dan kendala yang dihadapi dengan melakukan efisiensi dan rasionalisasi anggaran, meningkatkan kapasitas PNS melalui kegiatan pelatihan dan bimbingan teknis, pengajuan penambahan formasi pengadaan PNS dan melakukan rekrutmen tenaga honorer sebagai upaya untuk menjamin pelayanan yang optimal bagi masyaraka
Pengaruh Stres dan Peran Ganda Terhadap Kinerja Pegawai Wanita Pada Sekretariat Kabupaten Tana Tidung
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh stres dan peran ganda baik secara parsial maupun simultan terbadap kinerja pegawai wanita pada Sekretariat Kabupaten Tana Tidung. Hasil pengujian hipotesis tentang pengaruh stress terhadap kinerja pegawai wanita, sifat negatif dari nilai yang diperoleh menunjukkan apabila stres diturunkan maka akan berdampak pada peningkatan kinerja pegawai. Jika stres pegawai meningkat maka hal itu dapat menjadi kinerja pegawai semakin berkurang. Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis pertama diterima, karena stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai wanita. Artinya dengan tugas, peran dan tanggungjawab yang harus dipenuhi oleb seorang pegawai wanita, terkadang setiap individu mengalami stres kerja karena beban yang terlalu berat. Peran ganda berpengaruh terhadap kinerja pegawai wanita. Peran ganda signifikan berpengaruh terhadap kinerja pegawai, terbukti dari hasil penelitian ditemukan nilai positif dan lebih besar dari Ttabel Hal ini menunjukkan peran ganda dapat mempengaruhi para pegawai dalam mencapai kinerja yang lebih tinggi Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis kedua diterima, karena peran ganda berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai wanita. Artinya karena tuntutan pekerjaan dan kewajiban dirinya sebagai ibu rumah tangga membuamya menggunakan rasionya untuk mengatur waktu sebaik mungkin sehingga antara kepentingan pekerjaan dan kepentingan keluarga terpenuhi dan tercukupi. Secara simultan stres dan peran ganda berpengaruh terhadap kinerja pegawai wanita
Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai dengan Motivasi Kerja Sebagai Variabel Moderasi (Studi Pada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara)
Tujuan Penelitian ini untuk mempelajari kondisi sebenarnya dari organisasi berkaitan dengan budaya organisasi dan motivasi kerja sebagai variabel moderasi yang berpengaruh pada kinerja pegawai. Penelitian ini dilakukan terhadap pegawai pada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung dengan jumlah pegawai sebanyak 75 orang. Moderated Regression Analysis (MRA) sebagai analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini didalam pengujian hipotesis dan koofisien determinasi dan diperoleh persamaan Y = l,634X + 0,114Mo. Pengujian hipotesis 2 pada Tabel 4.10, Dari basil analisis tersebut terlihat bahwa, nilai Koefisien Determinasi (R2) variabel moderasi sebesar 0,425. Dengan kata lain terjadi penurunan pengaruh budaya organisasi sebesar 6,6 % (AR.2 = -0,066) terhadap kinerja pegawai dari 49,10 % pada uji analisis hipotesis I, kemudian 42,5 % pada uji analisis hipotesi 2. Terlihat bahwa Variabel motivasi kerja (Mo) menunjukan pengaruh yang negatif artinya variabel motivasi kerja (Mo) tidak memoderasi pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai. Sehingga hipotesis kedua dalam penelitian ini yang menyatakan bahwa motivasi kerja memoderasi pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai dinyatakan ditolak. Koefisien Determinasi (R2) variabel budaya organisasi diperoleh nilai sebesar 0,491. Hal ini dapat dijelaskan bahwa variabel budaya organisasi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai, dimana besarnya pengaruh budaya organisasi terhadap kinerja pegawai tersebut adalah 49, 1. Penelitian ini menunjukan bahwa kinerja pegawai pada Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Tana Tidung dipengaruhi secara positif oleh budaya organisasi
Discusion-Making Techniques In Managing Universitas Terbuka Regional Offices In Indonesia
Universitas Terbuka (UT) is a university with the largest management of student services which spread throughout Indonesia as well as Indonesian citizens living abroad with a total number of 320,700 students during 2019.1 registration period. Student service satisfaction is largely determined by the accuracy of the policy and the effectiveness of its implementation as set out in UT's strategic plan. The implementation of this policy is realized in the operationalization of the annual work program. There is a strategic power to operationalize the UT work program in the field, namely the role and presence of 40 regional offices (ROs) as UT's leading service sectors that must be supported by the leadership effectiveness capabilities and accuracy of operational decision making. The existence of UT ROs institutionally has been standardized in accordance with UT policy, but operationally every leadership of UT ROs will certainly face challenges, even problems related to the diversity of characteristics of its management area which are much influenced by social aspects (homogeneous and heterogeneous), culture (constructive and destructive), economy (income), geography (easy and difficult services), internal resources (governance and human resources), and national policies (implementation). The ability of a leader in applying decision-making techniques determines the success or failure in managing UT ROs
Pengaruh Model Pembelajaran Make A Match dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar
Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil belajar siswa kelas 6 pada pembelajaran matematika. Rendahnya hasil belajar matematika siswa terlihat dari nilai yang diperoleh siswa masih di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Tujuan dari penelitian ini yaitu a. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match terbadap hasil belajar siswa kelas VI sekolah dasar; b. Untuk mengetahui motivasi belajar terhadap basil belajar matematika siswa kelas VI sekolah dasar; c. Untuk mengetahui keterkaitan antara model pembelajaran Make A Match dengan motivasi belajar terhadap basil belajar matematika siswa kelas VI sekolah dasar. Metode penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan populasi seluruh siswa kelas VI SDN 210 Babakan Sinyar Kota Bandung, dengan sampel Kelas VI Adan VIC SDN 210 Babakan Sinyar. Instrumen yang digunakan adalah instrumen soal dan angket. Kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran kooperatif tipe make a match dan motivasi belajar dan kelas kontrol diberi pembelajaran biasa. Data hasil penelitian berupa nilai pretes dan postes siswa yang diberikan pada kelas ekperimen dan kelas kontrol. Hasil data pretes dan postes dianalisis menggunakan uji normalitas kemudian dilakukan uji persamaan dua rata-rata nonparametrik mann-whitney, serta uji Korelasi Rank Spearman. Hasil analisis data dengan taraf signifikansi 0,5% yaitu: (I) ada pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe make a match terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VI sekolah dasar; (2) ada pengaruh motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika siswa kelas VI sekolah dasar; (3) tidak ada keterkaitan antara model pembelajaran make a match dengan motivasi belajar terhadap hasil belajar matematika siswa
Pengaruh Strategi Pembelajaran (RME vs Konvensional) Dan Gaya Belajar (Auditorial Vs Kinestetik) Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Kelas V
Pembelajaran matematika yang terjadi sekarru1g ini lunumnya masih berpusat pada guru, akibatnya siswa kurang menyukai matematika. Pcmbelajaran matematika seharusnya dapat menghublD1gkan permasalahan sehari-hari dengan
matematika. Strategi Pembelajaran realistic Afathematics education (RME) merupakan strategi dalam pembelajaran matematika yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal dalam proses
pembelajaran. RME dilaksanakan dengan menggunakan masalah realistik sebagai acuan dalam pe1nbelajaran. Melalui strategi tersebut siswa diharapkan dapat menemukan serta mengembangkan konsep-konsep matematikanya sendiri sebagai
pengetahuan untuk dirinya sendiri. Penelitian ini termasuk penelitian ekperimen semu dengan sampel yang digunakan adalah siswa kelas V SDN Babakan Turi Kecamatan Pulomerak Kota Cilegon. Teknik analisis yang digunakan adalah
teknik analisis ANOVA dua jalur, (Two way ANOVA). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu (I)terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar
dengan menggunakan Strategi pembelajaran Realistic mathematics education (RME) dengan siswa yang diajar dengan menggunakan Strategi Pembelajaran
Konvensional. Hasil ini menunjukan pada nilai F hitung untuk strategi pembelajaran lebih besar dari F tabel, 20,229 > 4,94 dengan taraf signifikansi a = 0,01. (2) Terdapat perbedaan hasil belajar matetnatika siswa yang memiliki gaya belajar auditorial dibandingkan dengan siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik. Hasil ini dapat dilihat dari F hitung pada gaya belajar lebih besar dari F tabel nya. yaitu
28,670 > 4,94 dengan taraf signifikansi a = 0,00 I. (3) Hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya belajar auditorial tidak lebih tinggi bila diajar dengan
Strategi Pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) dibandingkan dengan Strategi Pembelajaran Konvensional. Hal ini dapat dililiat dari F hitung pada strategi pembelajaran*gaya belajar lebih kecil dari F tabel nya, yaitu 1,147 < 4,49 dengan taraf signifikansi a= 0,01. (4) Hasil belajar matematika siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik tidak lebih tinggi bila diajar dengan Strategi
Pembelajaran Konvensional dibandingkan dengan Strategi Pembelajaran Realistic Mathematics education (RME). Hal ini dapat dilihat dari F hitung pada strategi pembelajaran*gaya belajar lebih kecil dari F tabel nya, yaitu 1, 147 < 4,49 dengan taraf signifikansi a= 0,01. (5) Terdapat pengaruh interaksi yang tidak signifikan antara Strategi Pembelajaran dengan gaya belajar terhadap hasil belajar matematika siswa. Hasil 1n1 dapat dilihat dari F hitung strategi pembelajaran*Gaya belajar lebih kecil dari F tabelnya, yaitu 1,147< 4,94 dengan taraf signifikansi a = 0,01
Pengaruh Motivasi Dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kinerja Tenaga Pendidik Di Diklat Reserse LEMDIKLAT POLRI
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh motivasi dan kompetensi sumber daya manusia terhadap kinerja tenaga pendidik di Diklat Reserse Lemdiklat Polri. Penelitian
dilaksanakan di Diklat Reserse Lemdiklat Polri pada Tahun 2018. Dalam penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh yaitu semua anggota populasi sejumlah 78 orang
dijadikan sampel, terdiri dari anggota Polri dan PNS yang telah memiliki Surat Perintah dari Kadiklat Reserse yang berhak untuk mengajar. Pengumpulan data untuk setiap variabel yang diteliti menggunakan kuesioner dengan skala rating. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan teknik analisis statistik inferensial. Hasil penelitian penelitian menunjukkan: (1) Terdapat pengaruh positif motivasi terhadap kinerja tenaga
pendidik. Hal ini berarti bahwa kinerja tenaga pendidik di Diklat Reserse Lemdiklat Polri ditentukan oleh motivasi. Motivasi yang baik akan mengakibatkan tingginya kinerja tenaga pendidik dan sebaliknya jika motivasi tidak baik maka kinerja tenaga pendidik juga rendah,(2)terdapat pengaruh positif kompetensi sumber daya manusia terhadap kinerja tenaga pendidik. Hal ini berarti bahwa kinerja tenaga pendidik di Diklat Reserse Lemdiklat Polri ditentukan oleh kompetensi sumber daya manusia. Kompetensi sumber daya manusia yang baik akan mengakibatkan tingginya kinerja tenaga pendidik dan sebaliknya jika kompetensi sumber daya manusia tidak baik maka kinerja tenaga pendidik juga rendah, dan (3) Terdapat pengaruh positif motivasi dan kompetensi sumber daya manusia secara bersama-sama terhadap kinerja tenaga pendidik. Hal ini berarti bahwa kinerja tenaga pendidik di Diklat Reserse Lemdiklat Polri ditentukan oleh motivasi dan kompetensi sumber daya manusia secara bersama-sama. Motivasi dan kompetensi sumber daya manusia secara bersama-sama yang baik akan mengakibatkan tingginya kinerja tenaga pendidik dan sebaliknya jika motivasi dan kompetensi sumber daya manusia secara bersama-sama tidak baik maka
kinerja tenaga pendidik juga rendah
Pendidikan Dan Pelatihan Dalam Peningkatan Kinerja Di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tana Tidung Melalui Pendidikan Dan Pelatihan
Penelitian ini membahas proses penyelenggaraan progam pendidikan dan pelatihan pada peningkatan kinerja dan mcngidentifikasi faktor-faktor pendukung dan
penghambat penyelenggaran pendidikan dan pelatihan pada Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tana Tidung. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Sumber data dalam
penelitian diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling. Validitas data menggunakan cara trianggulasi
sumber data. Teknik analis data yang dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu program untuk meningkatkan kinerja ASN Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tana Tidung adalah penyelenggaran pendidikan dan pelatihan.
Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Badan Kepegawaian Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tana Tidung dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu tahapan analisis kebutuhan, tahapan pelaksanaan, tahapan evaluasi
dan tahapan pelaporan dimana keseluruhannya saling berkaitan. Adapun faktor pendukung dalam pengembangan kompetensi ASN melalui pendidikan dan pelatihan adalah adanya dukungan dari pemerintah, motivasi yang tinggi dari ASN,narasumber yang berkompeten pada bidangya, lingkungan belajar yang kondusif serta sarana dan prasarana yang memadai. Sedangkan faktor penghambat dalam pengambangan kompetensi ASN melalui pendidikan dan pelatihan adalah jumlah jam pelajaran yang dilaksanakan tidak sesuai dengan yang direncanakan dan biaya untuk mengikuti diklat yang cukup besar
Kearifan Lokal sebagai Basis Mitigasi Bencana
Pada dasarnya, kekayaan alam yang berupa sumber daya hayati baik flora maupun fauna disediakan dan dimanfaatkan oleh manusia agar tetap bertahan hidup. Manusia dengan segala bentuk karakter yang dimilikinya berusaha untuk mengeksploitasi kekayaan flora tersebut dengan mengatasnamakan berbagai kepentingan, seperti untuk pembangunan nasional dan peningkatan perekonomian. Telah terjadi berbagai bentuk pelanggaran perilaku manusia baik secara perorangan maupun berkelompok terhadap pemanfaatan kekayaan flora Indonesia terutama pada ekosistem hutan hujan tropis. Kegiatan yang dikenal dengan istilah illegal logging terjadi hampir di semua hutan sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan yang sangat parah. Kondisi tersebut memicu terjadinya beragam bencana yang terjadi di kawasan negara kita. Masyarakat menanggung cukup besar biaya kerugian yang ditimbulkan akibat bencana, selain berupa kerugian materi juga lebih utama jiwa manusia. Kearifan lokal yang terdapat di beberapa kelompok masyarakat tradisional di Indonesia menjadi salah satu alternatif untuk mencegah ataupun mengurangi saat penanggulangan bencana maupun penanganan pasca-bencana, sehingga dampak bencana susulan dapat diantisipasi. Tujuan penulisan untuk menjelaskan kepada publik tentang pentingnya peran dan manfaat kearifan lokal yang dimiliki oleh kelompok masyarakat tradisional dalam mitigasi bencana yang terjadi di Indonesia. Berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat tradisional yang berorientasi pada mitigasi bencana seperti konstruksi pada rumah-rumah adat pada suku Mentawai di Sumatera Barat, suku Osing di Banyuwangi, suku Bali di Karangasem dan Buleleng Bali, suku Baduy di Banten, masyarakat Tanaai di Kabupaten Sikka NTT, dan suku Kaili di Sulawesi Tengah telah terbukti secara ilmiah mampu bertahan terhadap goncangan gempa. Beragam kearifan lokal tersebut sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan dilestarikan oleh mereka. Bercermin dari berbagai kejadian bencana di negara ini, sudah selayaknya masyarakat perkotaan yang terdampak oleh bencana, dengan besar hati dapat mengadopsi beragam kearifan lokal tersebut dengan menyesuaikan karakter dan keperluan daerahnya. Dalam hal ini, keterlibatan dan peran pemerintah sangat diperlukan agar dampak kejadian bencana ulangan yang lebih buruk dapat dikurangi