Universitas Terbuka Repository
Not a member yet
9681 research outputs found
Sort by
Evaluasi Kinerja TPID Dalam Rangka Pengendalian Inflasi di Provinsi Kalimantan Utara
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis mengenai evaluasi kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dalam rangka Pengendalian Inflasi di Provinsi Kalimantan Utara. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis mengenai evaluasi kinerja TPID dalam rangka pengendalian inflasi di Provinsi Kalimantan Utara. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif studi kasus. lnforman penelitian ini adalah anggota TPID Provinsi Kalimantan Utara. lnstrumen penelitian yang digunakan adalah (a) Pedoman Wawancara, (b) Panduan Observasi berupa pengamatan terhadap obyek yang diteliti, dan (c) Dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan melalui penelitian kepustakaan dan observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa responsivitas tim telah mampu memberikan rekomendasi solusi yang dihasilkan dan memerlukan penanganan langsung dari Pemerintah Pusat dikomunikasikan oleh Pokjanas TPID kepada kementerian lembaga terkait. Pemrosesan informasi, TPID Provinsi Kalimantan Utara telah memproses informasi mengenai perkembangan inflasi di Provinsi Kalimantan Utara dan setiap Kabupaten/Kota dengan baik. Analisis kritis, TPID belum mampu menyusun sebuah kebijakan pengendalian inflasi yang tepat sasaran. Kesadaran diri, TPID Provinsi Kalimantan Utara belum memiliki kesadaran diri yang tinggi dalam menyusun kebifakan yang tepat sasaran. Kualitas kebijakannya adalah kebijakan yang telah ditetapkan Provinsi Kalimantan Utara masih standar. Akuntabilitas adalah kebijakan yang telah ditetapkan dapat dipertanggungjawabkan baik dari sisi tujuan, alasan pengambilan kebijakan
Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Likuiditas, dan Leverage Terhadap Kepatuhan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (Studi Empiris Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012 S.D. 2017)
Terdapat kesenjangan antara target penerimaan negara dengan realisasi penerimaan pada APBN mengharuskan peningkatan optimalisasi penerimaan negara serta pengawasan kepatuhan terhadap peraturan pemerintah di bidang fiskal termasuk peraturan Kepabenaan dan Cukai. Hasil audit kepabeanan dan cukai perusahaan terbuka berupa tagihan alas _selisih kurang pungutan negara yang disetor menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir padahal perusahaan terbuka dituntut untuk menjalankan Corporate Good Governace dengan prinsip responsibility sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan anggaran dasar dan mempertanggungjawabkannya dalarn bentuk laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan merupakan gambaran kondisi dan kinerja keuangan perusahaan baik dari sisi ukuran, profitabilitas, likuiditas dan leverage pada saat atau periode tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas, dan leverage terhadap kepatuhan peraturan Kepabeanan dan Cukai. Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012 - 20 I 7 dan tel ah dilakukan audit kepabeanan dan cukai dengan populasi berjumlah 2.246. 157 sampel dipilih dengan metode purposive sampling. Variabel terikat (endogen) pada penelitian ini adalah kepatuhan terhadap kepabeanan dan cukai sedangkan variabel be bas ( eksogen) adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas, dan leverage. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Model (SEM) dengan pendekatan PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel terikat kepatuhan terhadap peraturan Kepabeanan dan Cukai dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas, dan leverage secara simultan atau bersama-sama sebesar 54,6% sedangkan sisanya sebesar 45,4% dipengaruhi faktor-faktor lain di luar model penelitian ini. Pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas, likuiditas, dan leverage memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap kepatuhan peraturan Kepabeanan dan Cukai
Evaluasi Kebijakan Pemberian Tambahan Perbaikan Penghasilan (TPP) Studi Sekretariat Daerah Kabupaten Tana Tidung
Tambahan Perbaikan Pengbasilan diberikan kepada selurub Pegawai Negeri Sipil maupun Calon Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tana Tidung berdasarkan Peraturan Bupati Tana Tidung Nomor 4 Tahun 2017. Pelaksanaan pemberian tambahan perbaikan pengbasilan sudab terlaksana 7 tabun lebih, dalam impelementasinya belum optimal terdapat celah-celah pelanggaran dalam pelaksananya seperti kurangnya kesadaran dan konsisten pegawai untuk bekerja secara maksimal sebagaimana diatur dalam Peraturan Bupati Tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis implementasi kebijakan dan menganalisis evaluasi kebijakan pemberian Tambahan Perbaikan Pengbasilan dalam rangka meningkatkan kinerja pegawai di Sekretariat Daerah Kabupaten Tana Tidung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif yaitu dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan dan juga wawancara berdasarkan hasil penelitian penulis melakukan kesimpulan dan saran. Informrui penelitian adalah unsur pimpinan sekretariat daerah, pejabat struktural dan staf sekretariat daerah. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tambahan Perbaikan Pengbasilan (TPP) di Sekretariat Daerah Kabupaten Tana Tidung belum sepenuhnya terimplementasi dan basil evaluasi menunjukkan bahwa penilaian kinerja kurang berdampak pada disiplin yang berindikasi pada lemahnya fungsi dan tugas yang menjadi tanggungjawabnya, selain itu masih kurangnya penilaian kebadiran pada Apel di Pagi dan Sore bari yang kadang tidak dilaksanakan oleb sebagian pegawai serta penilaian prestasi kerja tidak pernab dilaksanakan. Berangkat dari basil penelitian menyarankan agar kebijakan pemberian tambahan perbaikan pengbasilan perlu dievaluasi kembali
Kinerja Pembangunan Desa Terpencil dan Percepatan Pembangunan Desa Tertinggal di Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara
Pembangunan desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, kualitas hidup manusia dan penanggulangan kemiskinan dengan menjalankan perogram-program pembangunan desa secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan menganalisi kinerja pembangunan desa terpencil, kinerja percepatan pembangunan desa tertinggal, mengidentifikasi faktor penghambat, pendukung, dan mendeskripsikan upaya pemerintah kecamatan dalam menanggulangi factor – factor penghambat dalam membangun desa. Lokasi penelitan di Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalab deskriptif kualitatif, data yang digunakan adalab data primer dan data sekunder, pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi langsung dilapangan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan babwa kinerja pembangunan desa tepencil dan desa tertinggal belum cukup optimal, hasilnya masih belum memuaskan dilihat dari tiga aspek yaitu; (I). Tersedianya infrastruktur fisik dan sosial, pada aspek ini belum memadainya prasarana kebutuhan dasar masyarakat yaitu air, listik. Sedangkan akses transfortasi yaitu dermaga, jalan masih belum terpenuhi secara merata di desa. (2). Terlaksananya pembangunan ekonomi, pada aspek ini belum maksimal, sektor pertanian menurun baik dari hasil maupun pelaku pertanian dan pelaku usaha pasar tidak berjalan. dan (3). Terciptanya kelestarian lingkungan, pada aspek ini kesadaran akan kelestarian lingkungan masyarakat dilakukan dengan tindakan nyata masyarakat yaitu; dengan membuang sampah pada tempatnya, ikut penanaman pohon dan kerja bakti rutin, yang dilakukan oleh pemerintah kecamatan dalam menghadapi pemasalaban/hambatan yaitu; a. mengupayakan lahan kehidupan masyarakat yang masuk dalam kawasan hutan produksi dikeluarkan menajadi hutan non produksi, b. Mengupayakan program peningkatan sdm masyarakat secara berkelanjutan, c. mengupayakan pertemuan tiap bulannya antara camat, kepala desa, Iembaga desa dan pimpinan instasi yang ada di kecamatan untuk menyatukan visi dan misi, d. Mengupayakan lembaga desa mendapatkan dana oprasional. e. mengupayakan Dokumen RPJMDeas diserahkan pada Kecamatan, dan setiap pencairan tahapan dana ADD dan DD mesti melewati tim verifikasi kecamatan
Analisis Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Stad di Sekolah Dasar Se-Gugus 1 Kendit Kabupaten Situbondo
Model pembelajaran kooperatif STAD merupakan pendekatan pembelajaran yang sederhana dan mudah dipahami. Model pembelajaran ini dirasa tepat karena menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam kelompok belajar. Hal tersebut sesuai dengan Kurikulum 2013 saat ini yang menuntut guru untuk merubah model pembelajaran dari teacher centered menjadi student centered. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar guru Sekolah Dasar se-Gugus I Kendit khususnya guru kelas 4 sudah menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD. Model pembelajaran kooperatif STAD yang diterapkan oleh guru diharapkan dapat meningkatkan basil belajar siswa. Akan tetapi, basil pengamatan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mendapat hasil belajar di bawah nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kenyataan tersebut menunjukkan adanya suatu masalah dalam penerapan model pembelajaran STAD se-Gugus 1 Kendit Situbondo. Subjek penelitian ini adalah seluruh guru kelas 4 di Sekolah Dasar se-Gugus 1 Kendit, Kecamatan Kendit Kabupaten Situbondo yang berjumlah 6 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Model analisis data pada penelitian ini menggunakan model analisis Model Miles and Huberman. Aktivitas yang dilakukan dalam analisis data ini adalah penggolongan data, penyajian data, dan verifikasi data. Pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif STAD di Sekolah Dasar seGugus I Kendit Situbondo menunjukkan bahwa narasumber kurang memahami mengenai langkah-langkah dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD, kesesuaian guru dalam menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif STAD serta perencanaan pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif STAD. Faktor pendukung dalam model pembelajaran kooperatif STAD yakni kesiapan diri guru dalam menyiapkan materi, lingkungan kelas, kemampuan guru, sarana dan prasarana serta interaksi siswa. Sedangkan, factor penghambatnya adalah perbedaan kemampuan siswa dalam menerima materi dan model pembelajaran STAD butuh waktu yang lama dalam penerapannya. Dampak yang dirasakan terhadap penggunaan metode pembelajaran kooperatif ST AD yaitu meningkatkan keaktifan siswa dan meningkatkan hasil belajar, kecakapan
kerjasama, memahami perbedaan, mempermudah menguasai kelas dalam pembelajaran dan menuntut siswa untuk aktif dalam belajar, memudahkan guru untuk menyampaikan materi karena siswa yang memiliki kemampuan Jebih disebar merata di setiap kelompok. Berdasarkan simpulan tersebut diajukan saran sebagai berikut: guru hendaknya lebih mencennati dalam menerapkan langkah - langkah dalam pembelajaran kooperatif STAD agar berhasil meningkatkan hasil belajar siswa
Strategi Guru dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di Kelas VI
IPA merupakan salah satu rnata pelajaran penting bagi siswa, namun penerapan strategi guru yang tidak efektif pada mata pelajaran IPA berdampak pada basil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi guru yang meliputi proses perencanaan, pelaksanaan strategi, dan evaluasi strategi dalam rangka meningkatkan basil belajar siswa. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, dokumentasi dan observasi, sedangkan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa basil belajar siswa SDN 210 Babakan Sinyar, SDN 160 Sukalaksana, dan SDN 116 Cicaheum Gugus 29 Kiaracondong Bandung pada mata pelajaran IPA lebih rendah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Pada tahap perencanaan strategi pembelajaran dilakukan tahapan-tahapan antara lain identifikasi dan menetapkan spesifikasi serta kualifikasi, identifikasi strategi, dan penetapan strategi. Pada pelaksanaannya, strategi pembelajaran inovatif yang diterapkan adalah metode lagu dan gambar. Strategi tersebut mampu menarik minat siswa untuk belajar IP A sehingga berimplikasi pada peningkatan hasil belajar siswa. Kelebihan strategi ini adalah menggunakan media yang sederhana, murah dan mudah didapat, sedangkan hambatannya adalah kemampuan siswa dalam menggambar dan membuat lirik yang berbeda-beda, sehingga siswa yang tidak bisa menggambar akan cenderung pasif
Empirical Study to Evaluate the Economic Resilience of Agricultural Household with Adjusted Living Standard Index (ALSI) Approached (Case Study for Victims of Merapi’s Eruption 2012
Bencana dapat menyebabkan perekonomian hancur, terutama sektor pertanian di empat kabupaten: Magelang, Sleman, Klaten, dan Boyolali. Untuk mengevaluasi kondisi ekonomi korban bukanlah sesuatu hal yang mudah, sehingga memerlukan pendekatan alternatif. Oleh karena itu, tujuan dari makalah ini adalah mengevaluasi ketahanan ekonomi korban menggunakan indeks komposit, uji-t,uji berpasangan, dan ANOVA unbalanced. Penelitian ini berhasil membangun indikator yang disebut The Adjusted Living Standard Index (ALSI) untuk pendekatan standar hidup. Dimensi yang digunakan
terdiri atas pendapatan, transfer sosial, aset non produktif, dan aset produktif. Studi ini juga menemukan
bahwa standar hidup para korban sebelum erupsi di seluruh daerah tergolong rendah. Namun pasca bencana menyebabkan dimensi standar kehidupan mengalami penurunan secara signifikan, kecuali transfer sosial. Disisi lain, setelah dua puluh dua bulan masyarakat mengalami pemulihan. Hanya saja uji statistik menunjukkan bahwa banyak perbedaan dalam ketahanan ekonomi yang disebabkan oleh komponen transfer sosial. Sehingga untuk membuat masyarakat lebih resilience, diperlukan kebijakan yang mendukung serta penyediaan asuransi
Kontribusi Analisis Wavelet Dalam Permodelan Kasus Demam Berdarah Dengue
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat urban yang
tinggal di daerah tropis maupun subtropis. Metode yang umum dipergunakan dalam permodelan epidemi DBD
adalah regresi poisson atau binomial negatif yang menggunakan variabel-variabel iklim seperti curah hujan,
kelembaban dan suhu sebagai variabel independen, serta metode box-jenkins (ARIMA atau SARIMA). Akan tetapi
metode-metode tersebut memiliki keterbatasan. Regresi data hitung gagal dalam menjelaskan kejadian luar biasa
yang muncul sewaktu-waktu. Sedangkan metode box-jenkins kurang jelas dalam mendeskripsikan siklus-siklus
dalam variabel dependen maupun independen dengan frekuensi yang berbeda-beda yang berperan pada setiap
waktu. Dalam hal ini analisis wavelet memberi kontribusinya. Analisis wavelet merupakan pengembangan lebih jauh
dari transformasi fourier berjendela (windowed fourier transform) yang memberikan kemudahan untuk mengkaji
signal dalam multiresolusi atau pada berbagai frekuensi pada setiap waktu. Sebagai ilustrasi kontribusi analisis
wavelet dalam kajian demam berdarah dengue ini digunakan data sekunder dari publikasi penelitian berupa jumlah
kasus DBD, curah hujan, kelembaban dan suhu di Banjarbaru periode 2004 – 2013. Dilakukan permodelan regresi
poisson dan binomial negatif pada data. Plot kedua permodelan dibandingkan. Kemudian dilakukan juga permodelan
metode box-jenkins. Analisis wavelet dilakukan dengan melakukan transformasi wavelet kontinu dan dilakukan
perhitungan koherensi wavelet antara variabel dependen dengan variabel independen. Hasil pengolahan data
memperlihatkan pada regresi data hitung, regresi binomial negatif memberikan nilai uji kecocokan yang lebih baik
daripada regresi poisson, namun memberikan kurang prediksi yang baik pada saat terjadi lonjakan epidemi. Metode
box-jenkins memberikan hasil yang lebih baik termasuk saat lonjakan terjadi dengan SARIMA (1,0,1)(0,1,1)12.
Koherensi wavelet memberikan hasil yang signifikan untuk jumlah kasus dan curah hujan pada siklus dengan periode
8 – 14 bulan dalam periode awal dan akhir data observasi; untuk jumlah kasus dan kelembaban pada siklus 8 – 14
bulan pada awal, pertengahan dan akhir data observasi serta juga memperlihatkan dominasi siklus panjang 18 – 28
bulan pada pertengahan data observasi; untuk jumlah kasus dan suhu pada siklus 20 – 24 bulan sepanjang data
observasi, 8 – 12 bulan pada pertengahan data observasi dan 6 – 8 bulan pada awal dan akhir data observasi
Profesionalitas Kinerja Tenaga Administrasi Kearsipan Sekolah Dalam Rangka Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP Negeri 2 Sintang
Tesis ini mengangkat masalah kinerja tenaga administrasi kearsipan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 2 Sintang Kabupaten Sintang. Tenaga Admini strasi Sekolah saat ini dijadikan sebagai pusat pelayanan publik dalam meningkatkan pencitraan sekolah karena para tenaga administrasi sekolah merupakan pusatnya dalam mengelola pendidikan dan profesional kinerja tenaga pendidik maupun non pendidik dalam meningkatkan mutu pendidikan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, pada penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan suatu kejadian secara sistematik, faktual, fakta dan akurat sesuai dengan fakta-fakta yang terjadi dilapangan. Pengumpulan sumber data dilakukan dengan teknik kuesioner, wawancara, dan observasi. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, staf tata usaha, dan 9 orang dewan guru yang merangkap jabatan sebagai tenaga administrasi sekolah. Hasil penelitian menunjukkan babwa kinerja tenaga administrasi kearsipan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan yang meliputi tugas dan proses
pelaksanaan kinerja tenaga adrninistrasi kearsipan sekolah berdasarkan Permendiknas No.24 Tahun 2008 yang mencakup Kompetensi Tenaga Admini strasi Sekolah, Proses Pelaksanaan Tenaga Administrasi Kearsipan Sekolah, dan faktor- faktor yang mendukung pelaksanaan tenaga administrasi
kearsipan sekolah dikategorian cukup baik. Dan dengan adanya tenaga pendidik yang merangkap tenaga administrasi sekolah dapat membantu proses pelaksanaan tugas dan tanggung jawab administrasi sekolah, ini dibuktikan dengan angka kelulusan tiga tahun terakhir cukup meningkat. Profesionalitas tenaga administrasi sekolah sudah dilaksanakan dengan baik dengan dukungan sarana dan prasarana maupun anggaran sekolah yang sudah tersedia
Implementasi Kebijakkan Kartu Indonesia Sehat Di Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang
Pennasalahan dalam pelaksanaan kebijakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah masih banyakny kesenjangan yang merugikan masyarakat miskin baik secara langsung maupun tidak langsung. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya, baik masyarakat miskin itu sendiri, infrastmktur,dari pengelola maupun dari pengambil kebijakan di daerah. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan Program Kartu Indonesia Sehat di Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang, dan untuk menganalisis faktor-faktor yang rnernpengamhi pelaksanaan Program Kartu Indonesia Sehat di Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang.
PeneJitian ini bersifat deskripif kualitatif yang bertujuan menganalisis implementasi kebijakan Kartu Indonesia Sehat di Kecamatan Ketungau Hulu Kabupaten Sintang. Adapun sumber informasi dalam penelitian ini terdiri dari para pengambil kebijakan yang terdiri dari Kepala Dinas Kesehatan, Camat, Kepala Puskesmas dan Kepala desa sebanyak 3 orang.
Serta masyarakat penerima program KIS sebagai pengguna layanan.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara, observasi, dan dokurnentasi. Instrumen penelitian yang digunakan berupa pedoman wawancara, pedomah observasi dan alat dokumentasi. Hasil analisis menunjukan bahwa dalam pelaksanaan di lapangan terdapat masalah dalam pengorganisasian, terutarna dari regulator (Kementerian
Kesehatan), Badan penyelenggara(BPJS), maupun dari pemberi layanan (Dinas Sosial, Dinas Kesehatar, Puskesmas). Sosialisasi program KIS ini masih sangat minim dan ketidaktahuan penerima program akan hak dan kewajiban mereka berdasarkan peraturan yang berlaku, serta adanya
ketimpangan dalam penerima program KlS terhadap jumlah masyarakat miskin di Ketungau Hulu. Dalam prosedur pelayanan menimbulkan kebingungan terutarna kepengurusan pendaftaran kepesertaan KIS. Dari pemberi layanan masih kurangnya sumber daya tenaga kesehatan serta fasilitas yang kurang memadai untu'k pelayanan di daerah perbatasan dan jauh dari rumah sakit yang memiliki fasilitas yang lebih komplit.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Implementasi Kebijakan Kartu Indonesia Sehat belum sesuai dalam aspek pengorganisasian, aspek interpretasi, dan aspek penerapan atau aplikasi. Faktor yang mempengaruhi Implementasi Kebijakan Kartu Indonesia Sehat di Kecamatan Ketungau
Hulu adalah komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur organisasi dalam pelaksanaan program