Universitas Terbuka Repository
Not a member yet
9681 research outputs found
Sort by
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Problem Based Learning Bernuansa Etnosains Untuk Meningkatkan Sikap Tanggung Jawab Dan Kemampuan Komunikasi Materi Pesawat Sederhana Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SD
Pembelajaran IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri, mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah dan pembelajaran yang berbasis learning community (masyarakat belajar). Berdasarkan hasil pengamatan
yang dilaksanakan ditemukan bahwa pembelajaran di SD Negeri Tumbrep 0l masih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan IPA sebagai produk: dan siswa menghafal informasi faktual, hasil belajar kognitif siswa pada materi
pesawat sederhana masih rendah, perencanaan pembelajaran yang disusun guru belum mencerminkan adanya sebuah inovasi pembelajaran. Perangkat penilaian itu dilakukan dalam rangka mempermudah pemahaman konsep siswa terhadap materi pesawat sederhana dan meningkatkan sikap tanggung jawab dan
kemampuan komunikasi. Perangkat pembelajaran bemuansa etnosains ini memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengamati dan bekerjasama dalam pembelajaran yang berorientasi pada lingkungan setempat, sehingga
memudahkan siswa untuk mendapatkan gambaran dalam pembelajaran.
Kelebihan Pembelajaran Problem Based Learning Bemuansa Etnosains akan terjadi pembelajaran bermakna Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan. Pembelajaran Problem Based Learning Bemuansa Etnosains dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. Kelebihan dari perangkat pembelajaran Problem Based Learning Bernuansa Etnosains ini adalah adanya pengembangan tanggung jawab dan kemampuan komunikasi terhadap mata pelajaran IPA. Pembelajaran Problem Based Learning Bemuansa Etnosains
sebagai suatu model pembelajaran yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu solusi yang efektif. Model Pembelajaran Problem Based Learning Bemuansa Etnosains mendukung peserta didik dalam belajar, di mana nuansa alam yang
dihadirkan dalam kelas dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk selalu ingin tahu dan memiliki minat, mampu bekerjasama dalam kelompok, dan bertanggungjawab. Berdasarkan hasil uji ketuntasan rata-rata hasil
belajar IPA siswa yang diajar menggunakan pembelajaran model Pembelajaran Problem Based Learning Bemuansa Etnosains lebih dari rata-rata yang ditetapkan yakni sebesar 70 dengan nilai rata-rata 74,75. Hasil tersebut sejalan dengan
ketuntasan klasikal yang diperoleh, dimana lebih dari 75% atau sebesar 95,7% siswa yang diajar menggunakan pembelajaran model Pembelajaran Problem Based Learning Bernuansa Etnosains mencapai hasil belajar IPA minimal 70.
Model Pembelajaran Problem Based Learning Bernuansa Etnosains yang dilakukan guru lebih antusias para peserta didik dalam tiap tahap, baik tahap belajar klasikal, tahap belajar dalam kelompok. Sikap tanggung jawab terlihat
pada tahap siswa mempraktekkan materi pembelajaran di depan kelas. Terjadi peningkatan hasil belajar kognitif (pemahaman konsep) siswa setelah mengikuti pembelajaran model problem based learning bemuansa etnosains untuk meningkatkan sikap tanggung jawab dan kemampuan komunikasi materi pesawat
sederhana pada mata pelajaran IPA kelas V yang ditandai dengan peningkatan hasil belajar IPA siswa yang diajar menggunakan pembelajaran model problem based learning bernuansa etnosains kemampuan komunikasi materi pesawat
sederhana pada mata pelajaran IPA kelas V lebih dari siswa yang diajar menggunakan model konvensional
Implementasi Kebijakan Pengelolaan Hutan Pasca Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Di Provinsi Sumatera Barat
Kebijakan UU Nomor 23 Tahun 2014 telah mengatur sejumlah kewenangan terutama penyerahan kemba1i kewenangan pengelolaan hutan dari Kabupaten/kota ke provinsi dan pemerintah pusat. Pemda Sumatera Barat telah
mengimplementasikan kebijakan UU ini dan melalui Peraturan Gubemur Sumatera Barat No. 75 Tahun 2017 telah rnenetapkan 10 unit KPH yang akan menjalankan fungsi pengelolaan hutan serta rnernberikan pelayanan kepada masyarakat di
kabupaten/kota serta mampu menyelesaikan persoalan-persoalan spesifik pada tingkat tapak. Tujuan dari penelitian ini adalah rnenganalisa implementasi kebijakan pengelolaan hutan dan menjelaskan peran KPH dalam pengelolaan hutan
pasca diberlakukannya UU No 23 Tahun 2014 di Provinsi Sumatera Barat. Metode penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan rnenggunakan instrumen observasi, wawancara, analisa isi dan pengurnpulan data. Teknik
rnenentukan informan secara Purpossive, berasal dari dinas kehutanan provinsi,bappeda provinsi, KPHL, KPHP dan walinagari. Hasil penelitian menunjukan sejumlah faktor keberhasilan implementasi yaitu terbangunya komunikasi antara pemda provinsi dan pemda kabupaten, adanya kejelasan tugas pokok dan fungsi,dukungan surnberdaya seperti staf, sudah ada sarana dan prasarana termasuk fasilitasi pembiayaan walaupun masih terbatas. Peran KPH sangat penting dan strategis dalam penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi, reklarnasi, pengamanan, perlindungan dan konservasi daya alam dan semua peran diatas adalah dalarn rangka
mengoptimalkan pengelolaan hutan bagi kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini juga menyarankan agar kegiatan-kegiatan yang bersifat operasional yang selama ini dilaksanakan dinas kehutanan provinsi diserahkan kepada UPTD KPH. KepalaKPH disarankan rnemiliki jiwa bisnis dalarn mengelola hutan dan peningkatan eselon Kepala KPH dari III B ke Eselon III A
Pengaruh Komunikasi, Pelatihan, Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bima
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh komunikasi, pelatihan, dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bima
baik secara simultan maupun parsial. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu peneliti ingin menggambarkan mengenai pengaruh komunikasi,
pelatihan, dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bima. Populasi tmtuk penelitian ini adalah pegawai di Lingkungan Kantor
Kementerian Agama Kota Bima yang beijmnlah 105 orang dengan jumlah sampel 69 orang ditentukan secara purposive sampling dihitung dengan rumus Slovin. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda ootuk melihat
pengaruh komunikasi, pelatihan, dan budaya organisasi terhadap kinerja pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bima. Penelitian ini menggunakan variabel independen : komunikasi (XI), pelatihan (X2), budaya organisasi (X3). Sedangkan
variabel dependen yaitu kinerja (Y). pengujian hipotesis secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji t komunikasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja, pelatihan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja,budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja.
Sedangkan pengujian hipotesis simultan dilakukan dengan menggunakan uji F komunikasi, pelatihan, dan budaya organisasi secara bersama-sama memiliki pengaruh
yang positif dan signifikan terhadap kinerja. Hasil uji simultan menunjukkan bahwa semua varabel independen komunikasi (X1), pelatihan (Xz), dan budaya organisasi (X3)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja sebesar 61,4%, dinlana sisanya sebesar 38,6% dipengaruhi faktor lain yang tidak tennasuk didalam variabel penelitian.
Hasil uji parsial menunjukkan bahwa komunikasi (X1), pelatihan (Xz), dan budaya organisasi (X3) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja.
Berdasarkan basil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa komunikasi (X1), pelatihan (X2), dan budaya organisasi (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
pegawai Kantor Kementerian Agama Kota Bima. Oleh karena itu bagi Kantor Kementerian Agama Kota Bima agar mampu membangun komunikasi yang efektif,pelatihan kerja yang baik dan budaya organisasi yang mendukung terhadap pelaksanaan tugas, karena ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh dalam meningkatkan kinerja pegawai
Behavior of Millennials in Using The Internet for learning
This study aims to determine the behavior of the millennials in using the Internet for learning. The study was conducted by performing a survey of the millennials in Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, and Banda Aceh. As a result, the general behavior of the millennials in the use of the Internet for learning was relatively good, even though those who have ever used the Internet for learning was less than half. Based on the next-generation data regarding the millennials’ internet use, it was found that the intensity of the internet use is in the moderate category; they mostly access the Internet to do the assignments given by teachers; most of the access is at school; they access the Internet to learn as ordered by their teachers; most of the materials are interactive multimedia; and nearly all of the students who never use the internet for learning spend no more than two hours a day; the rest use of internet is for other purposes. Based on the correlation test, it was revealed that the students’ intensity in using the Internet to learn was significantly and positively associated with students’ attitudes towards the internet, the intensity of the tasks or lessons given by the teachers, their search for interactive materials, and the encouragement from their teachers. To improve these variables, the teachers’ encouragement to use the Internet for the learning needs to be improved, particularly in classroom assignments, materials enrichment, and finding learning resource
Pengaruh Google Suite For Education Terhadap Literasi ict Siswa SMP Pada Kemampuan Akademik Berbeda
Keterampilan Literasi TIK Siswa sangat penting, tetapi pada kenyataannya, keterampilan Literasi TIK Siswa belum memenuhi harapan. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba menggunakan Coogle Suite For Education dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan Literasi ICT Pada Siswa Kemampuan Akademik Berbeda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan jenis penelitian yang digunakan adalah quasi experimental. Adapun responden penelitian terdiri dari dua kelas yaitu kelas kontrol sebanyak 32 siswa dan kelas ekspecimen sebanyak 32 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwasetelah penggunaan Coogle Suite For Education dalam pembelajaran, diperoleh bahwa nilai pengetahuan kemarnpuan Literasi ICT untuk kelas kontrol kategori tinggi adalah Access 59%, Manage 69%, Integrate 41%, Evaluate 56% dan Create 44% . Kategori sedang adalahAccess 31%, Manage i9%, integrate 38%, Evaluate 15% dan Create 36%. Kategori rendah adalah Access 9%, Manage 13%, Integrate 22%, Evaluate 19% dan Create 44%. Nilai keterampilan kemampuan Literasi ICT untuk kelas control kategori tinggi adalah Access 53%, Manage 69%, Integrate 66%, Evaluate 75% dan Create 34%. Kategori sedang adalahAccess 44%, Manage 25%, Integrate 0%, Evaluate 0% dan Create 50%. Kategori rendah adalah Access 3%, Manage 6%, Integrate 34%, Evaluate 25% dan Create 16%. Sedangkan untuk nilai pengetahuan kemarnpuan Literasi ICT untuk kelas eksperimen kategori tinggi adalah Access 72%, Manage 78%, Integrate 53%, Evaluate 84% dan Create 59% . Kategori sedang adalah Access 25%, Manage 13%, Integrate 38%, Evaluate 9% dan Create 34%. kategori rendah adalah Access J%, Manage 9%, 1ntegrate 9%, Evaluate 6% dan Create 6%. Nilai keterampilan kemampuan Literasi ICT untuk kelas eksperimen kategori tinggi adalah Access 63%, Manage 84%, Integrate 78%, Evaluate 78% dan Create 41%. Kategori sedang adalah Access 38%, Manage 13%, Integrate 0%, Evaluate 0% dan Create 47%. Kategori rendah adalah Access 0%, Manage 3%, Integrate 12%, Evaluate 22% dan Create 13%. kemudian nilai independent sample t-test dari post-test pengetahuan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang significant antara kelas kontrol dan eksperimen dengan nilai sig (2- tailed) adalah 0,046 < 0,05 (p=<0,05). Nilai independent sample t-test dari post-test keterampilan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang significant antara kelas kontrol dan eksperimen dengan nilai sig (2-tailed) adalah 0,045 < 0,05 (p=<0,05). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan Google Suite F'or Education dapat meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan literasi ICT siswa menengah pertama
Deteksi fraud laporan keuangan pada BUMN Indonesia: Perspektif Fraud Diamond Theory
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi kecurangan pada pelaporan keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan perspektif Fraud Diamond Theory. Sampel yang digunakan adalah perusahaan BUMN baik yang terdaftar (listed-SOEs) maupun tidak terdaftar (Non-listed SOEs) di Bursa Efek Indonesia periode 2009-2018. Dengan menggunakan analisis regresi logistik, hasil penelitian menunjukkan preferensi manajemen BUMN untuk melakukan kecurangan pelaporan keuangan (fraud) tidak sesuai dengan prediksi Fraud Diamond Theory. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pressure, opportunity, dan rationalization yang seharusnya meningkatkan preferensi fraud, justru menurunkan preferensi fraud. Pada kelompok sampel listed-SOEs, aspek opportunity, dan rationalization menurunkan preferensi fraud. Sedangkan ada kelompok sampel non listed-SOEs, aspek rationalization menurunkan preferensi fraud. Adapun aspek capability meningkatkan preferensi fraud pada kelompok sampel non listed-SOEs. Aspek capability merupakan satu-satunya aspek yang sesuai dengan prediksi Fraud Diamond Theory. Hasil penelitian ini memiliki implikasi konseptual mengenai terbukanya peluang untuk mengelaborasi model atau teori yang berbeda untuk mendeteksi fraud laporan keuangan pada kedua jenis BUMN. Adapun implikasi praktis, kementrian BUMN dan pihak terkait perlu mempertimbangkan langkah antisipasi penanganan fraud pada BUMN Non-Listed pada saat dilakukan pergantian direksi. Direksi baru terindikasi akan menggunakan kapabilitasnya sebagai direksi untuk melakukan fraud demi meningkatkan kinerja BUMN yang ditinggalkan oleh direksi sebelumnya
Mengembangkan Model Pembelajaran Inkuiri dengan Metode Eksperimen Pembelajaran IPA Materi Cahaya Kelas 4 di Sekolah Dasar
Metode Eksperimen merupakan salah satu metode yang banyak digunakan dalam pembelajaran Sains karena tujuan utama metode ini adalah menemukan kebenaran dari data / fakta yang dapat diamati atau diperoleh. Model pembelajaran inkuiri merupakan metode yang banyak dianjurkan karena mendorong siswa memecahkan masalah secara mandiri. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan. Data yang digunakan dalam penelitian meliputi data kualitatif dan kuantitatif. Uji validasi model pembelajaran inkuiri dengan metode eksperimen pembelajaran IPA oleh para ahli materi, ahli media, dan ahli baasa menggunakan lembar angket yang kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala likert dilanjutkan persentase validitas. Pelaksanaan proses pembelajaran pada materi perubahan wujud benda diamati oleh observer yaitu guru kelas dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan proses pembelajaran inkuiri dengan metode eksperimen dengan menggunakan lembar angket. Nilai hasil belajar atau evaluasi siswa menggunakan metode tes dengan model One Group Pretest-Posttest Design untuk mengentahui sejauh mana hasil belajar siswa sebelum dan sesudah diberi model pembelajaran inkuiri dengan metode eksperimen ditunjukkan dengan penilaian skor rata-rata kevalidan sebesar 85,05% (sangat valid), rata-rata kepraktisan sebesar 94,4% (sangat praktis), dan efektif dalam mengingatkan hasil belajar siswa. Jadi, model pembelajaran inkuiri dengan metode eksperimen pembelajaran IPA sangat layak dari segi valid, praktis, dan efekti
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Saintifik 5m Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar Dalam Menyelesaikan Masalah Mengurutkan Pecahan
Keterampilan berpikir kritis siswa merupakan suatu hal yang penting, namun kenyataannya belum sesuai dengan yang diharapkan. Dalam penelitian ini peneliti mencoba untuk mengembanglam perangkat pembelajaran dengan menggunakan pendekatan berbasis saintifik 5M untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian campuran, yaitu kombinasi antara metode kuantitatif dan metode kualitatif . Metode kuantitatif digunakan untuk menganalisis jenis data interval hasil belajar siswa, sedangkan metode kualitatif akan digunakan untuk menganalisis jenis data ordinal keterampilan berpikir kritis siswa. Responden dalam penelitian ini terdiri dari dua kelas, yaitu kelas kontrol yang terdiri dari 24 siswa dan kelas eksperimen yang terdiri dari 27 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah diterapkan perangkat pembelajaran berbasis saintifik dipereleh bahwa-nilai keterampilan berpikir kritis siswa untuk kelas kontrol adalah interpretasi 65%, analisis 63%, evaluasi 62% dan inferensi 60%. Sedangkan pada kelas eksperimen adalalah interpretasi 74%, analisis 72%, evaluasi 72% dan inferensi 11%. Nilai-independent sample t-test dari post-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara 'Kelas kontrol dengan kelas eksperimen dengan nilai sig (2-tailed) adalah 0,00 (~0,05), dapat disimpulkan bahwa penerapan perangkat pembelajaran berbasis saintiflk 5M dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasat dalam menyelesaikan masalah mengurutkan pecahan
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Bangun Datar Menggunakan Inquiry Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas 4 Sekolah Dasar
Perangkat pembelajaran adalah bagian penting yang akan menunjang proses pembelajaran di sekolah. Adanya perangkat pembelajaran yang valid akan membantu siswa agar menjadi lebih paham akan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Matematika merupakan salah satu materi pelajaran yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan mata pelajaran yang lain. Sehingga guru memerlukan perangkat pembelajaran yang tepat dan valid dalam menyampaikan
materi. Inquiry based learning adalah metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait dengan materi pelajaran matematika khusunya pokok bahasan bangun datar. Metode ini mengedepankan partisipasi aktif siswa untuk dapat memahami materi yang diberikan sehingga dengan
penggunaan metode ini dalam pembuatan perangkat pembelajaran diharapkan dapat membantu untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pengembangan perangkat pembelajaran pada penelitian ini menggunakan metode 4-D yaitu Define (pendefinisian), Design (perancangan), Develop (pengembangan) dan Disseminate (diseminasi). Perangkat pembelajaran yang akan dikembangkan yaitu silabus, RPP, dan LKS. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran berbasis inkuiri dinyatakan valid. Uji coba di SDN Sawaran Kulon 02 Lumajang menunjukkan bahwa terjadi peningkatan positif dari kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran inkuiri dibandingkan kelas kontrol dengan model pembelajaran konvensional Kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen memiliki kategori sedang, sedangkan kelas kontrol memiliki kategori rendah
Pengaruh Karakteristik Pekerjaan, Beban Kerja dan Komitmen Organisasional Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai Pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima
Kepuasan kerja merupakan suatu sikap atau perilaku yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dari pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan. Hal tersebut merupakan hasil dari pandangan mereka pekerja atau karyawan tentang pekerjaan yang erat kaitannya dengan irnbalan-imbalan yang mereka yakini yang akan diterima setelah melakukan sebuah pengorbanan. Kepuasan kerja rnencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaanya, ini terlihat dalarn sikap positif karyawan terhadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya untuk mencapai kepuasan kerja tersebut, terdapat beberapa faktor yang menentukan diantaranya adalah Karakteristik Pekerjaan, beban Kerja, dan Komitmen Organisasional. Dari hasil pengamatan penulis terhadap fenomena yang terjadi pada Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Birna bahwa terdapat banyak dinamika yang berhubungan dengan kepuasan kerja pegawai diantaranya tingkat kehadiran pegawai, tingkat kenyamanan pegawai, aktivitas harian pegawai, serta kemampuan pegawai melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Berdasatkan hasil pelitian sebelumnya menunjukan adanya pengaruh faktor karakteristik pekerjaan, dan komitmen organisaional terhadap kepuasan kerja. Namun ada pula hasil penelitian yang tidak rnenunjukan
adanya pengaruh.
Oleh karena itu upaya untuk membuktikan apakah ada pengaruh karakteristik pekerjaan, beban kerja, dan komitmen organisasional terhadap kepuasan kerja Pegawai pada kantor Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima. Responden dalam penelitian inil menggunalakan seluruh populasi pegawai Negeri sebanyak 119 responden. Analisis data menggunakan analisis statistik regresi linier berganda dengan aplikasi SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa, variabel Karakteristik Peketjaan (XI) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai, dernikian pula Komitmen Organisasional (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kepuasan Kerja Pegawai, sedangkan Variabel Behan Kerja (X2 berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kepuasan Kerja (Y) Pegawai pada Djnas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima. Oleh karena itu ketiga variable independen tersebut pemerintah perlu memperhatikan
karena bepengaruh pada kepuasan kerja pegawai