Universitas Terbuka Repository
Not a member yet
9681 research outputs found
Sort by
Urgensi Penyuluh Swadaya dalam Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis
Urgensi penyuluh dapat ditinjau dari sejauh mana fungsi-fungsi penyuluhan dijalankan oleh penyuluh pertanian, tak terkecuali penyuluh swadaya sebagai salah satu ujung tombak penggerak masyarakat petani. Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran penyuluh swadaya dalam masyarakat serta fungsi-fungsi penyuluhan apa saja yang masih perlu diperhatikan dalam upaya pemberdayaan masyarakat agribisnis. Tulisan dikembangkan berdasarkan kajian literatur terkait penyuluh swadaya serta hasil penelitian terkait fungsi-fungsi penyuluhan yang harus dilakukan oleh penyuluh swadaya. Penelitian dilakukan terhadap sejumlah penyuluh pertanian swadaya yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur dan Bogor. Populasi penelitian adalah seluruh penyuluh swadaya yang berada di Kabupaten Cianjur dan Bogor, masing-masing berjumlah 80 dan 160 orang. Sampel diambil sejumlah 27 persen sehingga diperoleh 22 orang responden dari Kabupaten Cianjur dan 44 responden Kabupaten Bogor, total sampel adalah 66 responden. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, didukung dengan data kualitatif untuk memberikan penjelasan yang lebih luas. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui metode survey dengan mewawancarai penyuluh swadaya berdasarkan kuesioner. Data yang dikumpulkan kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel dan disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabulasi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum penyuluh swadaya telah menjalankan fungsi penyuluhan dengan baik. Dari semua fungsi yang dijalankan, urgensi penyuluh swadaya yang masih harus ditingkatkan dalam memberdayakan masyarakat agribisnis adalah kemampuannya dalam upaya penumbuhan kepemimpinan, manajerial, dan wirausaha serta dalam upaya penumbuhan organisasi
Prototipe Pengembangan UKM Melalui Kolaborasi Pemerintah, Perguruan Tinggi Dan Industri UKM (Usaha Kecil Dan Menengah)
Abstract SMEs or small and medium enterprises are a type of small scale business that does not have branches. SMEs are a type of business that is resilient in facing storms of economic downturn. The research entitled SME Development Through Collaboration between Government, Universities & Industry (small & medium) aims to obtain a development concept for small and medium enterprises that can encourage small and medium enterprises (SMEs) to grow and become the economic resilience of society. The methodology used in this research is research and development (R&D). This methodology was chosen because the collaboration between the 3 elements of local government, universities and industry, known as the triple helix, has not yet worked properly. From the existing development concept, it was developed into a new concept that can be applied in the development of SMEs as a result of collaboration between regional governments and universities. Primary data was obtained from observations, interviews with local governments, universities and SMEs. Secondary data was obtained from various article sources contained in printed and electronic data sources. Data processing uses the triple helix model, which describes the triple helix concept in the development of collaboration between regional government, universities and industry. This research will analyze qualitative data related to the role of each actor involved. The results of data processing found that in collaboration between regional government, universities and small and medium business actors, there is a lack of suitability between collaboration between universities and SMEs. In contrast to local governments which intensively provide guidance to SMEs, universities are still weak in assisting these SMEs. For this reason, it is necessary to emerge a new concept regarding collaboration between regional governments, universities and SMEs so that community economic empowerment through SMEs can truly be realized. Key words: collaboration between government, SMEs, universities, community economic resilience, community empowermen
Collaborative Governance Dalam Pengelolaan Dana Desa Di Desa Cemaga Utara Kecamatan Bunguran Selatan Kabupaten Natuna
Collaborative governance adalah salah satu pendekatan yang ideal dalam upaya peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan kinerja kebijakan publik di tengah keterbatasan pemerintah dalam hal kemampuan
sumber daya, sumber dana, dan jaringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji kolaborasi pemerintah terkait pengelolaan dana desa di Desa Cemaga Utara Kabupaten Natuna selama masa pandemi COVID-19. Metode penelitian
yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data primer dan data sekunder. Berdasarkan hasil penetian bahwa collaborative governance dalam pengelolaan dana desa di Desa Cemaga Utara Kabupaten Natuna sudah berjalan cukup baik dengan dikaji dari beberapa komponen; starting condition, collaborative process, facilitative leadership dan institutional design.
Rekomendasi penelitian juga menunjukkan bahwa faktor-faktor yang menghambat proses kolaboratif masih terjadi pada indikator koordinasi yaitu belum optimalnya pertemuan atau dialog tatap muka dalam keadaan COVID-19 sehingga hams
dilakukan lebih optimal
Pengaruh Strategi Pembelajaran Saintifik Berbantu Multimedia Dan Sikap Ilmiah Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Sekolah Dasar Kelas IV Pada Mata Pelajaran IPA
Pembelajaran Saintifik pada Kurikulum 2013 di Gugus 3, kecamatan Rawalumbu yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik yang kreatif dan berpikir kritis
belum dilaksanakan secara optimal sehimgga kemampuan tersebut bel urn tampak dimiliki oleh peserta didik. Hal ini terlihat dari hasil belajar peserta didik hanya 8% peserta
didik yang dapat menjawab soal berdimensi C4-C6. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh interaksi penerapan pembelajaran Saintifik berbantu multimedia dan sikap ilmiah terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik
Sekolah Dasar kelas IV pada mata pelajaran IP A Penelitian dilakukan di SDN Bojong Rawalumbu IX kota Bekasi. Populasi penelitian adalah sekolah dasar yang ada di Gugus 3 kecamatan Rawalumbu kota Bekasi. Sampel diambil dengan
cara pemilihan secara acak (Random Sampling) dan terpilih SDN Bojong Rawalumbu IX yang terdapat 2 kelas dengan jumlah peserta didik 60 orang.
Penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain factorial 2 x 2. Teknik analisis data menggunakan analisis varians dua jalur (ANOV A), dengan bantuan SPSS versi 25. Kriteria uji F adalah terima Ho, jika Fhitung<Ftabel, dengan
tarafs ignifikasi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat perbedaan antara penerapan strategi pembelajaran Saintifik berbantu multimedia dan strategi
pembelajaran Saintifik tanpa multimedia secara signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas IV Sekolah Dasar, maka Hoditolak. Terlihat dari
hasil pada Strategi pembelajaran Saintifik yang signifikansi<0,05 (0,032)< 0,05.
(2) terdapat perbedaan antara sikap ilmiah tinggi dengan sikap ilmiah rendah terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik di Sekolah Dasar yang signifikan sebesar < 0,05 (0,004) < 0,05 maka Ho ditolak. (3) terdapat interaksi
antara strategi pembelajaran Saintifik dan sikap ilmiah terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik yang signifikan sebesar > 0,05 (0,33 > 0,05) maka Ho
diterima. Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah terdapat interaksi antara strategi pembelajaran Saintifik berbantu multimedia dan sikap ilmiah terhadap
berpikir kritis peserta didik sekolah dasar mata pelajaran IP
Multi-Attribute Utility Theory Algorithm for Selection two-wheeled Vehicle, Educational Review Process
Motorcycles are a highly efficient and effective means of transport. Currently, the increasing number of motorcycle products allows consumers to buy the correct motorcycle and according to their wishes, requirements, and abilities. The objective is to design and use the Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) method to choose a motorcycle product. The MAUT method has advantages, including simple calculations, leads to the ultimate value used to classify vehicles and determines the weight value of the criteria that leads to vehicle selection according to the buyer's wishes and needs. The data sources are based on the data required, namely observations and interviews with the public as motorcycle users and motorcycle dealers in the North Sumatra Region as a sample. Price, quality, design, after sales, fuel consumption and popularity are the criteria for evaluation. While Honda, Yamaha and Suzuki for motorcycles moped; sport; and matic are the alternatives used in research. The ranking results are obtained with the final value on alternative 1 = 0.8500; alternative 2 = 0.7500; and alternative 3 = 0.2250, so alternative 1 (Honda (New Vario 125 Esp CBS-ISS) is the alternative chosen as a recommendation in the selection of two-wheeled vehicles based on needs. The results of this study demonstrate that MAUT can be used as a recommendation for the public in choosing motorcycle products based on needs
Implementation of Collaborative Governance in Flood Management in the Greater Bandung Area
Indonesia is a country that is prone to natural disasters, especially floods. This disaster usually hits Indonesia during the rainy season. This hurts human life, the economy and the environment. This paper aims to examine collaborative governance implementation in flood management that occurs in the Greater Bandung area. The research method used is a literature study with qualitative methods. The research location is a flood-prone area, namely 4 (four) districts/cities around the Greater Bandung metropolitan area in West Java Province, Indonesia. All of them have a high flood hazard index. In conclusion, sustainable flood management requires the involvement and participation of various stakeholders from the community simultaneously. Flood management in collaborative governance must be carried out with a systematic approach and synergy from multiple disaster management efforts. Therefore, strengthening a sense of crisis, commitment, shared roles and responsibilities, and continuity of cooperation/collaboration in governance networks is needed to maintain effective flood management
Penentuan Tarif Kursus Daring
Adanya peningkatan minat dari siswa dan mahasiswa untuk mengikuti kursus daring saat ini membuat adanya peningkatan tawaran dari institusi atau organisasi pendidikan terkait dengan kursus daring. Pandemi covid19 pada tahun 2020 semakin membuat siswa beradaptasi untuk melakukan pembelajaran secara daring sehingga menambah minat untuk mengikuti kursus daring. Karena meningkatnya minat pada pembelajaran online, pertanyaan dasar terkait bagaimana merancang biaya untuk pembelajaran online menjadi menarik untuk dibahas. Hasil analisis awal menunjukkan bahwa tarif kursus daring dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak ada angka pasti yang dapat menentukan tarif tersebut. Namun biaya kursus dapat diestimasi dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya keseluruhan, jumlah siswa yang mengikuti kursus tersebut, kebijakan pemerintah, dan kondisi PT yang mengikuti kursus daring tersebut
E-LEARNING PROGRAM IS IT A NEW HYBRID FROM OF EDUCATION?
Since e-learning was introduced as part of the higher education landscape, many universities have adopted e-learning in their learning designs. However, developing e-learning requires internet technology skills, learning design, and high mastery of substance, so e-learning development becomes complicated and expensive for some universities. Because of this, many universities have started researching and experimenting with hybrid Universitas Terbuka (UT), has been designed to provide distance higher education (PTJJ). UT has organized hybrid education. Hybrid education in this study combines face-to-face education, distance education with media outside the network, and education with online media. So far, most of the hybrid education described in the literature uses the flipped classroom model. Other e-learning models are also often applied in the curriculum. Distance education is in dire need of management support. Several studies report the importance of adequate institutional support in implementing hybrid education policies and their benefits from a curricular perspective. Institutional support and effective employee engagement will improve organizational performance. This study explores the opportunities that arise from the use of e-learning in the learning process. This paper presents the policy implementation of a hybrid education model and a framework that describes the e-learning hybridization initiative with conventional education as a two-factor continuum, namely: (1) institutional support for the use of e-learning and (2) aligning curriculum content between e-learning and hybridization programs. In addition, hybrid education suggests indicators to measure the impact of these initiatives at the education and university level