Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
Not a member yet
    294 research outputs found

    Tren Pendidikan Teologi Di Dunia (Perspektif C&MA) “Quality Control”: Keunggulan Dalam Pendidikan Teologi

    No full text
    Artikel ini membahas tentang tren-tren baru dalam pendidikan tinggi teologi di dunia hari ini dari perspektif C&MA. Pendidikan teologi telah mengalami Perubahan, yang dulunya hanya dibatasi pada beberapa orang di abad ke-18 dan ke-19, sampai saat ini di mana pendidikan terbuka bagi orang-orang dari bermacam-macam latar belakang. Ada beberapa isu keunggulan yang harus dihadapi oleh sekolah-sekolah teologi. Pertama adalah keunggulan dalam kepemimpinan, termasuk menentukan masa depan sekolah dan memimpin dengan rendah hati serta menjadi teladan. Yang kedua adalah keunggulan dalam bahan akademis, termasuk kepentingan penerbitan, khususnya dari “Dunia Selatan”, kepentingan tren oralitas, dan tren mengenai kepentingan mahasiswa. Yang ketiga adalah keunggulan dalam administrasi. Isu ini membahas tentang kejujuran dan integritas dan USAha untuk masuk dalam dunia teknologi abad ke-21. Yang keempat adalah keunggulan dalam karakter atau formasi rohani. Jika sebuah sekolah memerhatikan keempat isu mengenai keunggulan ini, maka akan ada masa depan yang penuh pengharapan.Kata-kata kunci: keunggulan, pendidikan teologi, kepemimpinan, formasi rohani, teladan, orality, adminstrasi, akademis, perspektif C&MA, sekolah tinggi, penerbitanThis article addressed recent trens in theological education in the world today from a C&MA perspective. Theological Education has changed over the many years, from being limited to a select few in the 18th and 19th centuries, to now be open to many different people from many backgrounds. There are areas of excellence that theological schools must address. These are, first of all, excellence in leadership. This includes shaping the future of the school and leading with humility and example. Secondly is excellence in the area of academics. This includes the importance of publishing, especially from the “Global South”, the important tren of orality, and the tren of “student-first” mentality. Thirdly is excellence in the area of administration. The speaks primarily to the area of honesty, integrity, and seeking to enter the technological world of the 21st century. Fourthly is excellence in the area of character, or spiritual formation. If a school attends to these four areas of excellence, the future will be promising

    Ulasan Buku: Bagaimana Aku Dapat Meminta Allah Untuk Kesembuhan Fisik?: Panduan Alkitabiah

    No full text
    Review by Daniel Ronda Kesehatan adalah hal yang berharga dari umat manusia saat ini, dan sakit adalah masalah yang besar bagi umat manusia. Sampai saat ini dunia kesehatan dan pengobatan telah mencapai dalam tahap yang mutakhir, tapi tetap saja masih tidak mampu mengatasi masalah penyakit yang rupanya juga semakin berkembang dan kompleks. Tidak sedikit yang putus asa karenanya, bahkan sekalipun berada dalam perawatan rumah sakit yang terbaik sekalipun. Akhirnya, dipahami dan dipercayai ada satu pribadi yang dapat melakukan intervensi terhadap masalah kesehatan fisik manusia, yaitu Tuhan sendiri. Ada catatan yang menarik dalam buku ini, di mana 86 persen orang Amerika percaya kepada kesembuhan ilahi, 75 persen dokter percaya bahwa doa dapat membuat pasien memiliki kehidupan yang lebih baik dan banyak keluarga dokter percaya yaitu 99 persen percaya bahwa praktik keagamaan menjadi elemen penting dalam proses kesembuhan yang sakit (hal. 9). Catatan ini menjadikan buku ini layak untuk dibaca lebih lanjut. Buku ini berisi kajian biblika tentang kesembuhan ilahi dan bukti bahwa pengobatan modern mengakui peran doa dalam kesembuhan. Walaupun demikian, tidak sedikit jemaat Kristen yang sudah membaca Alkitab dan menghadiri ibadah gereja dan bahkan mendengarkan khotbah karya dan sabda Yesus tentang kesembuhan tetap belum mengerti bagaimana dapat menerima kesembuhan dari Tuhan. Pertanyaan yang diajukan adalah: darimana dan bagaimana memulai doa kesembuhan? Selanjutnya, apa yang harus dibuat bila tidak ada Perubahan atau tidak ada jawaban? Apakah orang Kristen perlu pakai kata-kata seperti “mantra” atau syarat khusus untuk doa dapat didengar? Semua pertanyaan tentang doa kesembuhan fisik ada dalam buku ini, sehingga buku ini layak menjadi sebuah buku panduan pastoral bagi mereka yang melakukan pelayanan jemaat, di mana perjumpaan dengan orang sakit pasti akan terjadi. Di buku ini juga berisi bukan hanya pembuktian kebenaran Alkitab tentang kesembuhan ilahi, tapi buku ini menjadi buku pedoman yang berisi langkah-langkah secara menyeluruh, serta beberapa nasehat yang diperlukan dalam berkomunikasi dengan Allah untuk menerima kesembuhan fisik. Jadi buku ini berisi banyak pembuktian dari Alkitab tentang kesembuhan ilahi, kemudian diakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi pada akhir bab, juga beberapa contoh doa tentang bagaimana seseorang berdoa untuk mendapatkan kesembuhan fisik. Secara garis besar buku ini terdiri dari tiga bagian, di mana bagian pertama membahas tentang apa yang dibuat sebelum berdoa untuk kesembuhan? Kedua, apa yang harus dibuat selama berdoa untuk kesembuhan? Dan ketiga, apa yang kita buat setelah berdoa untuk kesembuhan. Buku ini sungguh menarik karena akhirnya atau puncaknya adalah menuntun seseorang untuk dekat kepada Yesus, sang sumber kesembuhan. Pertanyaan yang paling krusial tentunya adalah apakah seseorang pasti sembuh jika didoakan dan bagaimana jika orang tersebut tidak sembuh? David Smith dengan lugas memberikan penjelasan yang akurat (hal. 222-3). Baginya kesembuhan adalah kedaulatan Allah sendiri, sehingga tidak layak mempertanyakan iman dan ketaatan seseorang yang sakit jika kesembuhan tidak terjadi. Kesembuhan adalah kedaulatan Tuhan dan Ia memiliki hak untuk menyembuhkan, melewati proses, atau melewati pengobatan dan bahkan menyempurnakannya ketika seseorang meninggal dan masuk sorga. Pertanyaan yang tidak kalah pentingnya adalah jika Tuhan berdaulat, untuk apa gereja melakukan pelayanan doa untuk kesembuhan orang sakit dengan bersungguh-sungguh? Saya rasa David Smith berhasil memberikan penjelasan tentang arti pelayanan kesembuhan bagi kesaksian pelayanan gereja (hal. 223). Di sini gereja harus melakukan pelayanan ini untuk membuktikan Tuhan ada dan hidup, dan bahwa Dia berkuasa sehingga dapat menjadi kesaksian bagi dunia. Buku ini dapat saya simpulkan sebagai buku yang berisi kajian akademis biblika tentang kesembuhan ilahi dan pada saat yang sama diberikan penjelasan sederhana untuk menjadi panduan dalam pelayanan pastoral gereja. Tiap pemimpin gereja yang pasti berhadapan dengan pelayanan mendoakan orang sakit, patut menyediakan waktu khusus untuk membaca dan meneliti buku ini kembali. Tidak ada pelayanan yang lebih efektif bila kombinasi antara praktika dan keyakinan berpada menjadi satu sehingga kesaksian gereja dapat jauh lebih luas jangakuannya

    Provokasi Sekitar Teologi Pembangunan Yang Kontekstual

    No full text
    Contextual Theology of Development speaks about possible efforts to overcome the unability of oneself and others to achieve a more meaningful life in one's own surrounding, based on one's faith. Whatever effort of development is undertaken, it is eschatological in nature. Wherever they are, Christians are called by Head of the Church to be partners of development within a civilized society, which is becoming more and more pluralistic in the era of globalization. Within such kind of society, the proper relationship with other partners of development is “I-Thou” instead of “I-It.” Teologi Pembangunan yang kontekstual berbicara tentang kemungkinan USAha membebaskan diri sendiri dan orang lain untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih bermakna, berdasarkan iman. Apa pun USAha pembangunan yang dilakukan, cirinya adalah eskatologis. Dimana pun orang Kristen berada, ia dipanggil ole Kepala Gereja untuk menjadi mitra pembangunan di dalam masyarakat yang beradab, yang kian menjadi majemuk di era globalisasi. Di dalam masyarakat sedemikian ini, hubungan antar mitra pembangunan yang tepat adalah “I-Thou” ketimbang “I-It.

    Ulasan Buku: Spiritual Formation: Menjadi Serupa Dengan Kristus

    No full text
    Berdasarkan pengalamannya dalam pelayanan, Andrew Brake berkesimpulan bahwa akhir-akhir ini banyak gereja memprioritaskan penginjilan, tetapi mengabaikan pemuridan (hal. 6). Gereja-gereja kurang menekankan ajaran Alkitab sebagai bagian integral dalam pengajaran-pengajarannya (hal. 9). Mencermati keadaan gereja demikian, Andrew Brake menegaskan bahwa para pendeta, majelis gereja, mahasiswa sekolah teologi, dan kaum awam yang terlibat dalam pelayanan dan pengajaran di gereja membutuhkan pengajaran tentang pembentukan rohani yang menolong mereka membentuk kehidupan rohani mereka. Untuk itu Andrew Brake menulis buku tentang Spiritual Formation: Menjadi Serupa dengan Kristus yang dasar kajiannya terambil dari Khotbah Yesus di Bukit dalam Matius 4-8. Menurut Brake, seluruh anggota jemaat atau semua orang percaya dari berbagai denominasi yang berbeda, tempat ibadah yang berbeda, dan bentuk ibadah yang berbeda, memerlukan pembentukan rohani (hal. 22-24). Menurut Andrew Brake, orang yang hidup dalam pembentukan rohani adalah (hal. 7): orang menjadi semakin serupa dengan Yesus (1 Yoh. 3:2-3); orang yang menjalani kehidupan serupa dengan Yesus; orang yang menginginkan Roh Kudus memperbarui kehidupannya secara rohani; dan orang yang hidup sesuai dengan harapan Yesus (hal. 7). Penekanan utama dalam pembentukan rohani adalah Yesus sebagai model/teladan utama dalam mengkomunikasikan Injil, memuridkan orang Kristen baru, dan hidup menjadi serupa dengan Yesus (hal. 9). Dasar pembentukan rohani adalah firman Allah. Hal ini dimulai dari Yesus memfokuskan diri-Nya dengan berpegang pada firman Allah (hal. 12). Kita mendengar firman (hal. 13), membacanya (hal. 15), berinteraksi dengannya (hal. 16), merenungkannya (hal. 17 [menguyah/menikmati]), dan menghafal (hal. 19). Tanggung jawab dalam pembentukan rohani adalah pekerjaan Allah dalam kehidupan orang percaya, tetapi orang percaya juga harus memiliki upaya dalam proses pembentukan rohani. Dengan perkataan lain, orang percaya memiliki tanggung jawab di bawah kepemimpinan Allah (hal. 8)

    Baptisan Roh Kudus Berdasarkan Perjanjian Baru

    No full text
    Karya ilmiah ini ditulis dengan membahas hal-hal berikut: analisis katatentang baptisan Roh Kudus terhadap tujuh ayat dalam Perjanjian Baru yangberkaitan langsung dengan baptisan Roh Kudus, yaitu Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas3:16; Yohanes 1:33; Kisah 1:5; 11:26; dan 1 Korintus 12:13, yang menjelaskan bahwabaptisan dalam Roh Kudus ke dalam tubuh Kristus adalah untuk semua orang, yangmeliputi semua orang yang telah percaya kepada Yesus, baik orang Yahudi maupunorang Yunani, baik budak maupun orang merdeka.Baptisan dalam Roh Kudus dalam Perjanjian Baru yang meliputi: 1) BaptisanRoh Kudus bukan suatu pengalaman yang harus dicari dan diusahakan dan bukanpula merupakan berkat kedua sesudah pertobatan. Baptisan Roh Kudus pada hariPentakosta adalah peristiwa bersejarah yang tak pernah diulang, satu kali untukselama-lamanya, dengan mengikutsertakan semua orang percaya, yang terjadi padasaat orang percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat; 2)Baptisan Roh Kudus berlaku bagi orang-orang Samaria yang merupakan musuhturun-temurun bangsa Yahudi. Karena faktor historis, peristiwa itu harus disahkanoleh dua orang rasul Yahudi melalui penumpangan tangan. Kemudian mereka punditerima dan dipersatukan dengan orang-orang percaya dari bangsa Yahudi menjadisatu tubuh Kristus tanpa mengenal perbedaan; 3) Baptisan dalam Roh Kudus jugaberlaku bagi orang-orang bukan Yahudi (kafir) yang dipandang hina dan najis olehbangsa Yahudi; 4) Baptisan Roh Kudus tidak berlaku bagi orang-orang yang belummenjadi Kristen, tetapi hanya untuk mereka yang percaya sungguh-sungguh kepadaKristus, seperti kelompok kedua belas murid Yohanes Pembaptis di Efesus

    Diutus Untuk Menghasilkan Umat Yang Kudus:Eksposisi Yesaya 6:1-13

    No full text
    Pengutusan Yesaya sebagai nabi dimulai dengan perjumpaannya denganTuhan. Dalam perjumpaannya dengan Tuhan, Yesaya mengakui kenajisan dirinya,dan ia pun dikuduskan oleh TUHAN melalui pelayanan para seraf. Setelahdikuduskan, ia siap menerima pengutusan yang dinyatakan kepadanya.Pengutusan nabi Yesaya bukan untuk menghasilkan pertobatan seluruhbangsa, tetapi menghasilkan umat yang mengeraskan hati dan tertutup terhadap halhalrohani, kemerosotan rohaninya semakin meningkat, dan bahkan sebagian besarumat Yehuda dibinasakan. Ia yang diutus oleh TUHAN balatentara yang kudus,tetapi dalam pelayanannya, ia tidak disenangi oleh umat dan para pemimpin Yehuda.Ini menunjukkan bahwa pengutusan Yesaya bukan untuk menghasilkan banyakpetobat baru, tetapi sekelompok kecil orang kudus.Bercermin kepada panggilan nabi Yesaya, mungkin ada di antara para hambaTuhan yang dipanggil oleh Allah dengan memiliki karakter pelayanan seperti yangdimiliki oleh Yesaya. Hal yang harus dipercaya adalah ia dipanggil dengan jaminanpenyertaan. Pembelanya adalah TUHAN balatentara. Penjaminnya adalah Rajayang bertakhta. Penyedianya adalah Tuhan yang memiliki segalanya.Keberhasilan pelayanan dalam konteks pengutusan Yesaya bukan dilihat dariberapa banyak jumlah umat yang dihasilkan dan bukan pula pada besarnyapenghasilan yang diterima, tetapi menghasilkan umat yang kudus. Untuk itu, yangterpenting untuk diperlihara adalah hidup dalam kekudusan dan melayani untukmenghasilkan umat yang kudus, sehingga walaupun sedikit jumlah umat yangdilayani, tetapi mereka adalah umat yang berkenan kepada Allah. Allah yangmenyatakan diri kepada hamba-Nya dan umat-Nya adalah Allah yang maha kudus.Sebagai Allah yang kudus, maka segala sifat dan apa pun yang dimiliki-Nya adalahkudus, termasuk hamba-Nya dan umat-Nya. Bersekutu dengan Tuhan yang kudusadalah prioritas utama dalam penyembahan, kekudusan harus menjadi prioritas diri,dan menghasilkan umat yang kudus harus menjadi prioritas dalam pelayanan

    Makna Bait Allah Dalam 1 Korintus 3:16-17 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini

    No full text
    Sesuai dengan pokok masalah yang ada, maka yang menjadi tujuan dalampenulisan karya ilmiah adalah: Pertama, untuk mengetahui pengertian yang benartentang konsep orang percaya adalah bait Allah seperti yang dijelaskan dalam 1Korintus 3:16-17. Kedua, untuk memberikan gambaran implikasi makna Bait Allahdalam kehidupan orang percaya masa kini.Kesimpulan karya ilmiah ini adalah: Pertama, Bait Allah berarti kumpulanorang percaya. Sebagai kumpulan orang percaya, maka Bait Allah terdiri dari orangorangyang percaya kepada Kristus. Kedua, Bait Allah adalah tempat kediamanAllah. Dalam surat Korintus ini, kehadiran Allah ditengah-tengah umat-Nyadiungkapkan dalam kehadiran Roh-Nya. Ketiga, Bait Allah itu harus dipelihara. BaitAllah sebagai bangunan milik Allah tidak boleh dibinasakan atau dihancurkandengan cara apapun. Bait Allah harus dijaga kemurniannya dan keberadaannyasebagai tempat yang menyatakan kebenaran Allah. Keempat, Bait Allah itu kudus.Bait Allah sebagai orang percaya dikatakan kudus karena mereka adalah milik Allahdan Allah berdiam di dalam mereka.Implikasi makna Bait Allah tersebut bagi orang percaya masa kini adalah:Pertama, Orang percaya masa kini patut hidup dalam kesatuan. Kedua, hidup dalampenyembahan. Ketiga, hidup dalam kekudusan. Sebagai Bait Allah rohani, orangpercaya masa kini patut hidup dalam kekudusan yang sejati. Keempat, hidup dalampelayanan. Pelayanan adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap orangpercaya sesuai dengan karunia yang dimilikinya

    Peran Gembala Jemaat Terhadap Pengembangan Pelayanan Holistik Di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Yegar Sahaduta Jayapura

    No full text
    Tujuan yang hendak dicapai dalam tulisan ini antara lain: Pertama, membahas peranan gembala jemaat terhadap pengembangan pelayanan holistik. Kedua, menemukan bentuk-bentuk pelayanan holistik yang efektif untuk memenuhi kebutuhan jemaat GKII Jemaat Yegar Sahaduta Jayapura. Ketiga, membahas hambatan dan penerapan pelayanan holistik di Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Jemaat Yegar Sahaduta Jayapura. Peranan Gembala Jemaat dalam pelayanan holistik adalah menentukan visi dan misi gereja, mendelegasikan tugas, memberi pertimbangan, pelayanan mimbar, menjaga kebutuhan dan persekutuan jemaat dengan Allah.Kata-kata kunci: Peran gembala, pelayanan holistik, mimbar, persekutuanThe goals, among others, which are hoped to be achieved in this article are: First, to discuss the role of the congregational pastor in the development of a holistic ministry. Second, to discover the forms of holistic ministry which are effective for meeting the needs of the Yegar Sahaduta Church of the Gereja Kemah Injil Indonesia in Jayapura. Third, to discuss the obstacles and application of holistic ministries in the Yegar Sahaduta Church of the Gereja Kemah Inji Indonesia in Jayapura. The roleof the congregational pastor in holistic ministries includes establishing the vision and mission of the church, delegating responsibilities, giving opinions, ministering in the pulpit, and caring for the needs and fellowship of the church with God

    Penyebab Krisis Identitas Waria

    No full text
    Penyebab adanya perilaku waria ini tidak dapat dijelaskan dengan sederhanadikarenakan ada banyak faktor penyebab seperti faktor lingkungan dan pola asuhorang tua yang cenderung mendidik dengan kasih sayang yang berlebihan. Sesuaidengan pokok masalah yang ada, maka tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah:untuk mengetahui krisis identitas yang dihadapi oleh waria dan mengetahui faktorpenyebab krisis identitas waria.Adapun metode penelitian yang penulis pakai atau gunakan untuk menyusunkarya ilmiah ini adalah: Pertama, metode studi kepustakaan adalah metode di manapenulis mengambil atau mengumpulkan data atau informasi dari buku-bukukepustakaan dan dari bahan-bahan penulisan yang lainnya yang ada kaitannyadengan pokok-pokok bahasan dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang lebihakurat. Kedua, wawancara adalah tanya jawab dalam suatu pertemuan pribadidengan maksud untuk mengumpulkan data yang aktual, yang diperlukan dalampenulisan penelitian ini. Ketiga, Observasi adalah pengamatan yang penulis lakukansaat wawancara berlangsung dan pengumpulan data dari informan.Adapun kesimpulan karya ilmiah ini adalah: Pertama, krisis identitas padawaria disebabkan karena pola asuh orang tua yang salah, yang mendidik anak tidaksesuai gender, anak laki-laki dididik seperti anak perempuan dan sebaliknya.Pemberiaan kasih sayang yang berlebihan, memanjakan anak dengan berdalih anakkesayangan, penolakan-penolakan orang tua yang mengakibatkan anak lari darirumah dan bergaul dengan teman yang salah, orang tua kurang menyadari pentingnyakerohanian anak, yang dapat dimulai dari rumah. Kedua, seseorang menjadi wariadisebabkan karena lingkungan, terlalu banyak bergaul dengan lawan jenis (anak lakilakiteman bergaulnya kebanyakan wanita), berada dalam lingkungan waria danbergaul dengan waria ikut terlibat dalam kegiatan waria

    Etika Dalam Pendidikan: Kajian Etis Tentang Krisis Moral Berdampak Pada Pendidikan

    No full text
    Etika pendidikan berdasarkan pada sebuah kajian nyata bahwa manusia harusmelakukan sesuatu dalam tindakan yang beretika, termasuk di dalamnyaproses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Ada kesenjangan yang terjadisekarang bahwa antara penanaman nilai-nilai yang baik dan benar di sekolahpada proses pendidikan, namun di masyarakat sebagai lapangan pendidikantempat mempraktikkan pendidikan tidak memberikan nilai-nilai etika yangbenar sebagai dasar yang mendidik. Kondisi ini akan terus terjadi dari generasike generasi dan pengaruhnya terus berlangsung dan menghasilkan kerusakanmoral bagi generasi selanjutnya, termasuk juga di dalamnya pendidik. Karenaitu, untuk mengatasi krisis moral dalam dunia pendidikan, maka secara internalharus diterapkan model pendidikan berkarakter yang berbasis padafirmanTuhan.Kata-kata kunci: etika, pendidikan, karakterEducational ethics is founded upon the observation that when a person doessomething it must be done in an ethical manner, including that which is donethrough the educational process in the educational context. There is adiscrepancy which now occurs between the schools, where good and rightvalues are plantedthrough the educational process, and the community, as aneducational context, a place that teaches,which does not give ethical valuesthat are correct as a foundation which teaches. This condition will continue tohappen from generation to generation and its influence will be direct and willresult in moral breakdown for the succeeding generations, including theeducator. Because of this, in order to overcome the moral crisis in theeducational world, a model of character education which is based upon God'sword needs to be implemented internally

    73

    full texts

    294

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇