Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Repository
Not a member yet
294 research outputs found
Sort by
Pencegahan Plagiarisme dengan Anti-Plagiarism Software dan Reference Management Tools sebagai Terobosan Inovasi Pendidikan dalam Publikasi Karya Ilmiah
Inovasi pendidikan dalam bidang akademik untuk mencegah plagiarisme dengan alat anti-plagiarisme dan juga alat referensi sangat dibutuhkan peserta didik mengingat perkembangan informasi teknologi yang semakin pesat dan terus-menerus berubah dalam hitungan jam di seluruh dunia, dan tantangan global di era Revolusi Industri 4.0. Tulisan ini memberikan penjelasan kelebihan penggunaan perangkat lunak (software) anti-plagiarisme dan solusinya.Penggunaan alat perangkat lunak (software) sebaiknya dapat dijangkau dengan harga murah supaya peserta didik yang telah mengalami Perubahan pola pikir dapat mengaksesnya dan dengan kesadaran bertanggung jawab mau mengoreksi karya ilmiahnya dalam sistem tersebut. Sebagai pendidik akan menjadi mentor atau pembimbing untuk mengarahkan dan sebagai fasilitator untuk menegakkan peraturan pemerintah tentang plagiarisme di dunia pendidikan.
Educational innovations in academics to prevent plagiarism with anti-plagiarism tools and reference tools are urgently needed given the rapidly changing and rapidly changing technological information in hours of the world, and the global challenges of the Industrial Revolution 4.0 era. This paper provides an explanation of the advantages of using anti-plagiarism software and its solution. The use of software tools (software) should be reached at low prices so that learners who have experienced the mindset change can access it and with responsible awareness to correct his scientific work in the system. As an educator will be a mentor or mentor to direct and as a facilitator to enforce government regulations on plagiarism in educatio
Peranan Guru Kristen sebagai Pembimbing dalam Penanggulangan Perkelahian Kelompok di Lingkungan SMP Kristen Makassar
Pembimbingan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam perkembangan hidup seseorang. Dalam hal ini pembimbingan dilakukan oleh setiap guru Kristen dalam mengatasi perkelahian kelompok di SMP Kristen Protestan. Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui sejauh mana peranan guru Kristen melakukan pembimbingan kepada siswa/i yang bermasalah dalam hal perkelahian. Guru Kristen sebagai pembimbing hendaknya dapat menempatkan diri secara tepat khususnya dalam awal pembimbingan agar dapat menjalin komunikasi yang baik kepada siswa yang dibimbing sehingga walaupun guru Kristen menjalankan tugas mengajar bidang studi umum guru Kristen juga dapat menjalankan bimbingan dengan baik dan terarah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan research and development (R&D) yaitu melakukan suatu penelitian dengan menyebarkan angket kepada siswa, kemudian dianalisis melalui deskripsi atau pemaparan hasil. Disamping itu penulis juga melakukan studi kepustakaan dan wawancara kepada orang-orang berkompeten yaitu, Kepala Sekolah, Guru PAK, dan guru-guru Kristen lainnya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peranan guru Kristen sebagai Pembimbing dalam penanggulangan perkelahian, berpengaruh baik terhadap siswa-siswi untuk pembentukan sikap mereka. Karena melalui pengamatan perkelahian mulai berkurang dalam sekolah ini
Analisis Peranan Guru Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pertumbuhan Iman Siswa Kelas V SDN Gugus II Malinau Utara
Tujuan penulisan skripsi adalah untuk menjelaskan sejauh manakah peranan guru Pendidikan Agama Kristen terhadap pertumbuhan iman siswa di SDN Gugus II Malinau Utara. Adapun hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: Pertama, guru Pendidikan Agama Kristen pada sekolah dasar sangat diperlukan, sebab berperan sebagai orang tua siswa selama siswa berada di lingkungan sekolah, untuk memberi perlindungan, menjaga semua siswanya sehingga setiap siswa dapat merasakan keamanaan dan kenyamanan selama berada di lingkungan sekolah. Kedua, guru Pendidikan Agama Kristen pada sekolah dasar sangat diperlukan sebagai pendidik, sebab guru Pendidikan Agama Kristen tidak hanya berusaha menjadikan anak didiknya berpendidikan dan berpengetahuan, tetapi juga harus memiliki perubahan tingkah laku dan memiliki keterampilan dalam memperaktekkan karunia yang diberikan Tuhan. Ketiga, guru Pendidikan Agama Kristen pada sekolah dasar sangat diperlukan menjadi pembinaan rohani secara material dan spiritual agar nantinya siswa dapat mengembangkan dirinya di dalam jemaat dan masyarakat di mana ia menempatkan dirinya kelak. Keempat, guru Pendidikan Agama Kristen sangat diperlukan di sekolah dasar berperan sebagai gembala bagi siswanya yang dengan setia dan sepenuh hati menyampaikan Firman Tuhan, mencari dan menjunjungi, mendoakan serta membimbing siswa agar beriman kepada Kristus. Kelima, peranan guru Pendidikan Agama Kristen sebagai gembala, ia harus menjadi mentor. Dalam arti membimbing siswa agar imannya bertumbuh dan kelak siswa mampu menolong dirinya serta mengerti dengan baik pelajaran yang diajarkan, bagaimana bertumbuh secara rohani, sehingga mencapai kedewasaan rohani. Keenam, peranan guru Pendidikan Agama Kristen terhadap pertumbuhan iman siswa adalah yang terutama membawa siswa mengenal Yesus sebagai Juruselamat, dan bertumbuh dalam iman
Keunggulan Kristus Dan Kerajaan Allah Refleksi-refleksi Dari Matius 9-20
Saya telah memilih judul untuk buku ini, Keunggulan Kristus dan Kerajaan Allah karena penekanan pada supremasi Yesus dan kemuliaan-Nya yang begitu jelas dikomunikasikan oleh Matius. Jika Matius pasal 5-7, Khotbah di Bukit, dapat dianggap sebagai sebuah pengantar untuk sisa kitab Matius selanjutnya, maka Matius pasal 9-20 pasti meng-gambarkan ciri-ciri karakter yang diharapkan Yesus dari putra dan putri Kerajaan. Apa yang digambarkan sebagai pengembangan karakter dasar bagi anak-anak dari kerajaan Kristus dalam Matius pasal 5-7 terungkap melalui kehidupan dan pelayanan Yesus, dan diajarkan lebih lanjut dalam Matius pasal 9-20. Dalam Matius pasal 21-28, kemudian, kita melihat puncak pelayanan Yesus, gairah (renjana), atau kisah kematian dan kebangkitan-Nya – Kerajaan Allah diantar ke dunia berkemena-ngan melalui kematian dan kebangkitan Kristus
Model-Model Pendidikan Perdamaian Bagi Anak dalam Konteks Gereja
Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis model-model pendidikan perdamaian bagi anak dalam konteks gereja. Tulisan ini dimotivasi oleh maraknya tindakan kekerasan dalam berbagai relasi, baik dalam ranah domestik maupun publik yang ada di Indonesia, sehingga menyebabkan membudayanya kekerasan. Tulisan ini membuktikan bahwa pendidikan perdamaian adalah suatu upaya jangka panjang yang efektif yang dapat menjadi budaya tandingan bagi budaya kekerasan tersebut. Pendidikan perdamaian dapat dilaksanakan lebih maksimal apabila ditanamkan sejak dini dalam diri anak-anak dan dalam konteks gereja, karena bersama dengan gereja, anak-anak turut mengemban misi perdamaian demi terwujudnya Kerajaan Allah. Penulis juga menemukan bahwa pendidikan perdamaian perlu dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap penyadaran melalui model kontemplatif dan model problem-posing, tahap penghayatan melalui model integrasi (dengan kalender gerejawi) dan model bermain peran, serta tahap penerapan melalui model aksi-refleksi. Penelitian lanjutan yang berkaitan dengan aplikasi model-model tersebut dalam konteks gereja lokal di Indonesia sangat direkomendasikan.This writing aims to describe and analyze models of peace education for children in the context of the church. This writing is motivated by the emergent acts of violence in various relationships both in the domestic and public sphere in Indonesia, which is causing violence to become culture. This writing proves that peace education is an effective long-term effort, which can be a counter-culture for the violence culture. Peace education can be done more optimally if it is planted early on in the lives of children and in the context of the church, because together with the church, children are also held responsible in taking the mission of peace for the spreading of the kingdom of God. The author also found that peace education needs to be done in three stages: the awareness stage through contemplative model and problem-posing model; the stage of affection through the integration model (with ecclesiastical calendar) and role playing model; then the implementation stage through the action-reflection model. Further research linking the application of these models in the context of local churches in Indonesia is strongly recommended
Pendekatan Penginjilan Kontekstual Kepada Masyarakat Baliem Papua
Studi ini memperlihatkan adanya nilai-nilai budaya dan konsep worldview masyarakat Baliem yang “relatif dekat”, yaitu kepercayaan kepada Walhowak atau Nyopase Kain atau Elalin Walhasikhe, konsep cargo cults berupa pengharapan situasi ideal masa depan dalam mitos Nabelan–Kabelan atau Nawulal-Hawulal atau Nabudlal-Habudlal atau Nabutal–Habutal atau Nanggonok-Kanggonok serta pengharapan oknum ideal masa depan dalam mitos Naruekul, serta sikap loyalitas kepada Ap Kain sebagai “kepala suku” akhuni Palim meke, sehingga dapat “dipertemukan” dengan nilai-nilai Injil melalui penggantian fungsi. Dengan demikian maka sangatlah memungkinkan untuk menentukan konsep pendekatan penginjilan kontekstual kepada mereka.This study demonstrates the existence of cultural values and the concept of the worldview of the “relatively close” Baliem society, which is the belief in Walhowak or Nyopase Kain or Elalin Walhasikhe, the concept of cargo cults in the hope of the ideal situation of the future in the myths of Nabelan-Kabelan, Nawulal-Hawulal, Nabudlal-Habudlal, Nabutal-Habutal or Nanggonok-Kanggonok, as well as the hope of the future ideal person in the myth of Naruekul, as well as the attitude of loyalty to Ap Kain as the “head of the tribe” akhuni Palim meke, so as to be "reunited" with the values of the gospel through functional replacement. Thus it is possible to determine an approach concept of contextual evangelism for them
Kajian Biblika Mengenai Nabi-Nabi Palsu Berdasarkan Matius 7:15-23 Serta Implikasinya dalam Kehidupan Hamba Tuhan
Seperti yang orang percaya Imani, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia. Ia melakukan tugas-Nya dengan baik dan sempurna. Melalui kehidupan-Nya, akhlak-Nya, kerohanian-Nya, sikap-Nya, bahkan kasih dan pengajaran-Nya telah Ia lakukan dengan sempurna. Secara khusus dalam perikop ini, Yesus memberikan pengajaran yang begitu berharga namun sekaligus juga begitu keras. Kasih yang sesungguhnya Ia tunjukkan melalui pengajaran-Nya di atas bukit (Matius 5-7). Tidak hanya janji dan pengajaran yang Ia berikan, lebih dari itu Yesus memberikan sebuah teguran keras bagi murid-murid-Nya dan juga orang percaya hari ini untuk hidup di dalam kekudusan. Dalam menganalisis Matius 7:15-23, penulis menggunakan metode penafsiran Hermeneutik yang pada umumnya digunakan. Secara umum penulis tidak menggunakan metode-metode khusus dalam menganalisis teks ini, oleh karena teks ini berbentuk umum. Penulis juga menggunakan metode penelitian literatur, yaitu mengumpulkan data dari berbagai sumber, baik dari buku-buku, jurnal-jurnal, dan juga dari internet. Dalam karya tulis ini, penulis mencoba menganalisis apa yang menjadi penyebab semakin maraknya “nabi-nabi palsu” di tengah-tengah orang percaya. Penulis juga mencoba mencari makna dari perikop Matius 7:15-23. Lebih dari itu, penulis mencoba untuk memaparkan kesalahan-kesalahan yang seringkali pemimpin gereja lakukan, yang berakibat pada penolakan Allah atas mereka. Menjadi kesimpulan dalam karya tulis ini adalah, Yesus adalah pribadi yang mengasihi manusia, namun Ia adalah pribadi yang adil. Apapun yang menjadi tujuan hidup umat manusia secara khusus orang percaya yang melenceng dari keinginan-Nya, maka penghukuman tetap akan Ia berikan. Allah tidak pernah menginginkan ucapan manis, teriakan, hormat orang percaya tanpa disertai tindakan yang nyata dalam kehidupannya. Tindakan nyata melalui sikap hidup serta kekudusan menjadi hal yang mutlak bagi-Nya
Implementasi Perkunjungan Pastoral terhadap Pertumbuhan Iman Jemaat GKII Long Jelet
Tujuan penulisan skripsi ini adalah: Pertama, anggota jemaat hidup saling membangun artinya melalui perkunjungan pastoral gembala akan membuat anggota jemaat saling memperhatikan, saling menguatkan iman dalam menghadapi masalah dan perkunjungan gembala haruslah memberi semangat baru kepada anggota jemaatnya. Kedua, anggota jemaat hidup mengutamakan Tuhan artinya perkunjungan gembala hendaknya mendorong jemaat untuk takut akan Tuhan dan mengutamakan Tuhan maka akan diberkati dan akan mengalami pertumbuhan iman dalam Yesus Kristus. Ketiga, anggota jemaat hidup tekun membaca firman Tuhan artinya melalui perkunjungan pastoral, gembala harus dapat memastikan dan mendorong anggota jemaatnya setia untuk membaca firman Tuhan, setia dalam persekutuan umum maupun organisasi dalam jemaat. Keempat, seorang gembala mendoakan anggota jemaat yang sakit artinya melalui pelayanan perkunjungan doa gembala, anggota jemaat akan diberkati dan merasa ingin selalu didoakan pada saat mengalami penyakit dan akan mendapat kekuatan. Kelima, anggota jemaat yang bermasalah akan dihiburkan artinya melalui perkunjungan gembala harus menolong anggota jemaat yang bermasalah karena mereka adalah domba-domba yang perlu untuk dipimpin menuju jalan yang benar dan akan menjadi berkat bagi kehidupan kerohanian anggota jemaat yang ada di Jemaat GKII Long Jelet
Pengaruh Konseling Kristen dalam Membangun Keharmonisan Pasangan Keluarga Kristen di GKII Jemaat Ebenhaezer Oelbima Kupang Nusa Tenggara Timur
Adapun yang menjadi tujuan penulisan karya ilmiah ini ialah: untuk mengetahui adanya pengaruh konseling dalam membangun keharmonisan pasangan keluarga Kristen di GKII Jemaat Ebenhaezer Oelbima Kupang Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah metode kuantitatif. Dengan teknik pengumpulan data sebagai berikut: Pertama, studi kepustakaan yaitu penulis membaca dan mengambil data dari buku-buku, dan jurnal-jurnal yang berhubungan dengan judul sebagai penambah materi untuk memperoleh sumbangan pikiran, gagasan, dan ide-ide yang baru yang berguna untuk penyusunan skripsi. Kedua, penulis mengadakan observasi langsung di lapangan dengan cara membagikan angket (tertutup) yang disebarkan kepada pasangan keluarga Kristen, dengan tujuan untuk mendapat data yang akurat tentang sejauh mana pengaruh konseling Kristen dalam membangun keharmonisan pasangan keluarga Kristen di GKII Ebenhaezer Kupang NTT.
Adapun kesimpulan dan saran-saran tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, pelayanan konseling adalah pelayanan yang harus dikembangkan karena pelayanan konseling merupakan pelayanan yang membantu individu bahkan kelompok dari masalah-masalah yang dihadapi. Kedua, pelayanan konseling adalah pelayanan yang membutuhkaan persiapan baik rohani maupun jasmani karena konseling bukan pelayanan asal-asalan. Ketiga, pelayanan konseling adalah pelayanan yang berlaku untuk semua kasta karena masalah atau persoalan datang tidak mengenal kasta. Keempat, keharmonisan dalam keluarga bukan hanya tergantung pasangan suami istri tapi juga bagaimana pelayanan konseling diadakan oleh konselor dalam keluarga-keluarga karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain.
Kata Kunci: Konseling Kristen, Keharmonisan, Pasangan, Keluarga Kristen
Pengaruh Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Terhadap Prestasi Belajar Siswa Di Sekolah Dasar Negeri 002 Salueno Sulawesi Barat
Tujuan penulisan skripsi adalah untuk menjelaskan pengaruh metode pembelajaran pendidikan Agama Kristen terhadap prestasi siswa di Sekolah Dasar Negeri 002 Salueno Sulawesi Barat. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, pada dasarnya metode sangat penting dalam proses belajar mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa demi tercapainya suatu tujuan yang diharapkan. Kedua, alasan penggunaan metode dalam mengajar karena adanya perbedaan, pemahaman, perbadaan pengalaman, situasi dan lingkungan belajar. Ketiga, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam mengajar itu sangat besar pengaruhnya terhadap siswa sehingga siswa mampu mengerti pelajaran yang diajarkan oleh guru disekolah dan bisa untuk berprestasi. Keempat, dalam belajar sangat dibutuhkan motivasi baik dari guru maupun dari orang tua siswa, sehingga siswa dapat belajar dengan baik, dan mampu mengaplikasikan setiap pelajaran yang diterima disekolah, untuk dikembangkan dan siswa bisa berprestasi sebagaimana yang diharapkan oleh guru maupun orang tua siswa itu sendiri. Kelima, dalam hal penerapan metode mengajar, dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria-kriteria yang ada, seperti kemampuan dan keterampilan guru dalam menggunakan metode yang diterapkan, sehingga dapat membantu siswa untuk memahami pelajaran dengan baik