Institut Teknologi Nasional Malang Repository
Not a member yet
13381 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENENTUAN LOKASI DAN RUTE TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) SAMPAH DI KABUPATEN GIANYAR
Pengelolaan sampah menjadi isu krusial di Bali, hal ini menyebabkan TPA Suwung di wilayah Serbagita mencapai kondisi overload dan tidak lagi layak untuk beroperasi. Maka TPA Suwung yang berdekatan dengan Pelabuhan Benoa, fasilitas pertamina, kura-kura bali, dan area permukiman masyarakat menyebabkan pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan, daya tarik wisata, dan konflik tata ruang yang mengancam keberlanjutan kawasan sekitarnya. Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Kabupaten Gianyar sebagai lahan yang potensial untuk TPA baru. Kementerian PUPR telah mengeluarkan panduan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 19-3241-1994 yang membahas tentang kriteria untuk memilih lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Penentuan lokasi dan rute TPA sampah kriteria regional dan penyisih di Kabupaten Gianyar menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), dimana metode yang digunakan adalah overlay, network analyst, dan Analytic Hierarchy Process (AHP). Berdasarkan hasil total, zona layak TPA seluas 19.615,81 Ha yang terbagi menjadi enam lokasi rekomendasi, salah satunya terdapat TPA eksisting Temesi yang terdapat zona layak TPA. Kecamatan Gianyar merupakan lokasi rekomendasi karena memiliki luas zona layak terbesar seluas 89,61 Ha dan rute pengangkutan sampah terdekat dengan jarak rata-rata 14,29 Km dan waktu tempuh 34 menit 17 detik
ANALISIS DATA MULTI TEMPORAL SENTINEL-2 A UNTUK PEMETAAN WILAYAH SEKITAR BANJIR BANDANG DI KECAMATAN ADONARA TIMUR DAN ADONARA TENGAH (Studi Kasus: Kab. Flores Timur)
Banjir bandang merupakan jenis banjir yang sangat berbahaya karena mengangkut air dan lumpur serta memberikan dampak yang cukup parah. Penyebab utama banjir bandang adalah siklon tropis seroja pada 4 April 2021 di Kecamatan Adonara Timur dan Adonara Tengah. Maka dapat dirumuskan masalah pada penelitian ini adalah perubahan tutupan lahan menggunakan Sentinel-2 A. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui hasil perubahan tutupan lahan akibat banjir bandang menggunakan citra Sentinel-2 A.
Maximum Likelihood Classification (MLC) merupakan metode yang membandingkan dan menghitung nilai rata-rata dari berbagai macam kelas dan band yang ada. Metode MLC didasari dengan nilai piksel yang sama dalam pengenalan citra. Proses klasifikasi menggunakan metode MLC didasarkan pada nilai densitas probabilitas yang dihitung pada setiap kategori tutupan lahan, yang memiliki 7 (tujuh) kelas yaitu hutan, kebun, pemukiman, lahan terbuka, sawah, semak belukar, dan sungai. Metode maximum likelihood merupakan metode yang memiliki akurasi paling tinggi.
Banjir bandang yang terjadi pada area terdampak di kecamatan Adonara Timur dan Adonara Tengah pada bulan april tahun 2021 menyebabkan perubahan yang signifikan pada tutupan lahan. Perubahan terbesar pada area kelas hutan berubah menjadi area sungai akibat banjir bandang sebesar 12,780 ha, pemukiman berubah menjadi sungai sebesar 3,982 ha. Kebun berubah menjadi sungai sebesar 2,874 ha, semak belukar berubah menjadi sungai sebesar 0,034 dan yang mengalami perubahan paling kecil yaitu lahan terbuka menjadi 0,04 ha, perubahan luas sungai neningkat sebesar 27,063 ha yang sebelum banjr sebesar 2,399 ha, sehingga luas sungai setelah banjir menjadi 29,462 ha. Hasil pemetaan wilayah sekitar banjir bandang di Kecamatan Adonara Timur menggunakan cintra Sentinel 2A tahun 2021 (Tahun bencana) dan tahun 2024 (Pasca bencana) dapat dilihat perubahan kondisi tutupan lahan yang berubah secara signifikan pada tiap kelas tutupan lahan.
Kata kunci: Banjir bandang, Maximum Likelihood (MLC), Supervised Clasification, Tutupan lahan
UPAYA PENGENDALIAN CACAT ABNORMAL SELVAGE PADA PEKERJAAN PEMBUATAN SARUNG TENUN DI PT. BTX PANDAAN JAWA TIMUR
Perkembangan industri sarung di Indonesia saat ini terlihat semakin pesat. Setiap industri diharuskan selalu memperbaiki kualitas produk yang dihasilkan agar dapat memenuhi permintaan setiap konsumen. Semakin tinggi produktivitas maka akan mengakibatkan semakin besar risiko cacat yang di timbulkan. PT BTX adalah perusahaan tekstil yang ternama dan berpengalaman di Indonesia berdiri sejak tahun 1953. PT BTX juga dikenal sebagai salah satu produsen busana muslim terbesar di dunia, khususnya pada kategori produk sarung tenun berkualitas yang diproduksi dengan alat tenun bukan mesin dan alat tenun mesin. Berdasarkan penelitian diperoleh bahwa terdapat potensi cacat saat proses produksi sarung tenun yang mengakibatkan terjadinya cacat abnormal selvage yang termasuk dalam kategori cacat mayor.
Dengan Seven QC Tools sebagai upaya Pengendalian Mutu Pada Pekerjaan Pembuatan Produk Sarung dapat diketahui akar masalah, penyebab timbulnya masalah, serta solusi pemecahan masalah hingga pembutan standar baru sehingga permasalahan yang sama tidak terulang kembali. Hal ini tentunya diharapkan akan sebagai upaya pencegahan cacat abnormal selvage yang terjadi, serta diharapkan sebagai upaya pengendalian mutu di departemen weaving.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa resiko yang ditimbulkan karena setting mesin yang berhubungan dengan pinggiran kain serta pengggunaan benang catchcord yang tidak ketidak sesuai standar akan berakibat pada terjadinya cacat abnormal selvage yang termasuk dalam cacat mayor. Sehingga dari permasalahan tersebut perlu upaya pengendalian mutu produk sarung tenun dengan menggunakan Seven QC Tools
Sportartainment di Kota Malang
Kota Malang menempati peringkat pertama prevalensi depresi pada Generasi Z akibat tekanan pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan, yang diperparah oleh kurangnya fasilitas untuk mendukung penurunan stres. Fasilitas olahraga, seni, dan hiburan berperan penting dalam membantu Generasi Z mengelola stres. Tugas Akhir ini bertujuan merancang fasilitas sportartainment berbasis Arsitektur Biophilic yang dapat menurunkan tingkat stres melalui pengalaman ruang menenangkan sekaligus mendukung aktivitas olahraga, seni, dan hiburan. Metode perancangan menggunakan concept-based framework dengan strategi menghadirkan suasana dataran tinggi ke dalam desain arsitektur. Pendekatan Biophilic diterapkan untuk menghubungkan manusia dengan alam sehingga tercipta desain yang responsif dan menenangkan. Hasil perancangan berupa fasilitas sportartainment yang mengintegrasikan elemen alam, manusia, dan arsitektur dengan kesan visual menenangkan, ruang fungsional, serta atmosfer alami yang membantu pengguna mengelola stres. Rancangan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan olahraga, seni, dan hiburan, tetapi juga mendukung penurunan stres pada Generasi Z di Kota Malang
Pusat Seni Pertunjukan Di Lawang Kabupaten Malang Tema Arsitektur Neo-Vernakular
Seni merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia karena lahir dari kreativitas dan kebebasan berekspresi. Kecamatan Lawang di Kabupaten Malang memiliki potensi besar dalam pengembangan seni dan budaya, baik tradisional maupun modern. Sebagai kota tua dengan jejak sejarah dan arsitektur yang khas, Lawang juga menyimpan beragam kesenian lokal, seperti bantengan, jaranan, caplokan, hingga wayang kulit. Akan tetapi, derasnya arus globalisasi dan perubahan pola pikir masyarakat membuat seni tradisional dianggap kurang menarik, terutama bagi generasi muda. Permasalahan ini semakin kompleks dengan keterbatasan fasilitas yang layak untuk mewadahi kegiatan seni, sehingga pertunjukan sering dilaksanakan di ruang publik yang kurang sesuai. Menanggapi kondisi tersebut, diperlukan suatu wadah yang tidak hanya menyediakan fasilitas pertunjukan, tetapi juga berperan sebagai pusat pembelajaran, pelestarian, dan pengembangan seni lokal. Oleh karena itu, dirancanglah Pusat Seni Pertunjukan di Lawang yang mampu menampung berbagai aktivitas seni, mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, musik, hingga seni kriya, melalui penyediaan ruang yang fleksibel, representatif, dan mudah diakses. Konsep perancangan menggunakan pendekatan arsitektur neo-vernakular agar bangunan tetap selaras dengan budaya lokal sekaligus mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern. Keberadaan pusat seni diharapkan menjadi simbol baru yang dapat menarik perhatian generasi muda untuk lebih mengenal dan mencintai seni lokal serta memperkuat ciri khas seni tradisional Lawang. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan konsep Neo-Vernakular dalam rancangan pusat seni pertunjukan dapat meningkatkan nilai estetika sekaligus aspek fungsional, sekaligus mendukung pelestarian budaya setempat dan mendorong perkembangan ekonomi kreatif di wilayah tersebut
ANALISIS KEBUTUHAN BENANG DAN IDENTIFIKASI DEFECT DALAM PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK (Studi Kasus : PT. Delta Surya Textile)
PT. Delta Surya Textile adalah sebuah perusahaan kepemilikian swasta, didirikan pada
Juli 2001 yang berlokasi di Purwodadi. Perusahaan ini merupakan salah satu industri tekstil
(pemintalan) dimana output hasil produksinya berupa benang dalam berbagai jenis dan
nomor disesuiakan dengan standart tertentu sesuai permintaan konsumen, dengan pemasaran
lokal maupun ekspor. Berdasarkan data yang diperoleh, dalam proses produksi di PT. Delta
Surya Textile memiliki permasalahan pada produk yang dihasilkan (benang), yakni jumlah
kecacatan (defect) yang melebihi standart yang ditetapkan sebesar <2%.
Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi jenis benang yang paling
banyak dibutuhkan konsumen dan menganalisis penyebab kecacatan (defect) pada produk
benang yang ditimbulkan dalam proses produksi di PT. Delta Surya Textile serta
merekomendasikan usulan perbaikan dalam upaya mengurangi cacat produk. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Distribusi Frekuensi, Fault Tree Analysis
(FTA), Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) serta metode 5W +1H dan 5S untuk
merekomendasikan usulan perbaikan. Dari hasil analisis kebutuhan benang menunjukkan
jenis benang PE 20 yang paling mendominasi dibutuhkan konsumen. Dengan presentase
hasil frekuensi permintaan data tertinggi sebesar (40%). Dalam proses produksi di PT. Delta
Surya Textile terdapat pada jenis benang regular PE 10 dan PE 20 yang memiliki jumlah
cacat terbanyak dan melebihi standart perusahaan sebesar <2%. Dengan jenis kecacatan
yang paling mendominasi yaitu cacat slub/gelombang. Diketahui akibat timbulnya kecacatan
yang menjadi prioritas untuk diperbaiki yaitu disebabkan oleh faktor material terkait kualitas
bahan baku (kotor/terkontaminasi). Rekomendasi usulan perbaikan untuk masalah tersebut
yaitu, dengan rancangan SOP dan penerapan konsep 5S dalam upaya mengurangi cacat
produk atau pengendalian kualitas
PERENCANAAN PONDASI TIANG PANCANG BERDASARKAN DATA SPT PADA ABUTMENT JEMBATAN DI TOL CIPULARANG KM 71
Perencanaan fondasi tiang pancang pada abutment jembatan di Tol Cipularang KM 71 memerlukan analisis yang cermat terhadap daya dukung tanah serta stabilitas struktur. Studi ini menggunakan data hasil investigasi tanah melalui Standard Penetration Test (SPT), hasil uji laboratorium tanah, dan gambar kerja sebagai dasar perencanaan. Analisis pembebanan dilakukan menggunakan perangkat lunak Robot Structural Analysis Professional 2022 untuk menentukan gaya aksial, gaya geser, dan gaya momen yang bekerja pada struktur. Data ini kemudian digunakan untuk menganalisis kapasitas daya dukung tiang tunggal dan kelompok sesuai dengan SNI 2833:2016 tentang perencanaan jembatan terhadap beban gempa. Selain itu, perhitungan penurunan fondasi dilakukan untuk memastikan bahwa nilai penurunan masih dalam batas aman. Stabilitas abutment dievaluasi berdasarkan faktor keamanan terhadap geseran dan penggulingan, dengan nilai minimum 1,5 sesuai dengan rekomendasi Bowles (1997) dan Hardiyatmo C.H. (2017). Tekanan tanah lateral akibat timbunan di belakang abutment juga diperhitungkan untuk menjaga kestabilan struktur.Hasil penelitian menunjukkan bahawa perhitungan beban yang bekerja pada abutment memastikan distribusi gaya yang optimal, sehingga stabilitas struktur jembatan tetap terjaga. Faktor keamanan terhadap tekanan tanah aktif dan vertikal sesuai dengan standar perencanaan, termasuk pengaruh beban gempa dan angin. Dengan demikian, desain abutment yang diusulkan memenuhi kriteria keamanan dan kelayakan teknis untuk digunakan dalam jangka panjang
PEMBUATAN TEPUNG BUAH MENGKUDU (MORINDA CITRIFOLIA) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN SUBSTITUSI PRODUK COOKIES DENGAN VARIASI WAKTU DAN SUHU PENGERINGAN MENGGUNAKAN ALAT DEHIDRATOR.
Buah mengkudu muda memiliki kandungan nutrisi karbohidrat sebesar 51,67%, dimana dengan jumlah kandungan nutrisi tersebut buah mengkudu dapat di olah menjadi tepung sebagai bahan tambahan pangan supaya berfungsi secara optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan buah mengkudu, mengetahui pengaruh variasi temperatur dan waktu pengeringan terhadap kandungan gizi tepung buah mengkudu serta mengetahui laju pengeringan buah mengkudu. Menggunakan pengeringan dengan alat Dehidrator, variabel yang digunakan yaitu suhu 50oC, 55oC, 60oC, 65oC, 70oC dan waktu 4 jam, 5 jam dan 6 jam. Dengan proses pengeringan, hasil penelitian menunjukkan sesuai dengan SNI, dimana Kadar air di variasi waktu dan temperatur di bawah 14,5%, kadar abu dibawah 0,70%, uji bakteri Escherichia Coli 0 CFU/g, kadar karbohidrat 23,64%, kadar protein sebesar 8,98%, dan tidak ada cemaran logam timbal pada tepun
Analisis Pengendalian Kualitas Produk Benang Menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) (Studi Kasus : PT. XYZ)
Pemilihan Lokasi Pabrik Baru Menggunakan Pembobotan Rank Order Centroid Dalam Brown Gibson pada CV. Tirta Indo Megah
Permintaan pasar air minum dalam kemasan (AMDK) yang meningkat menyebabkan CV. Tirta Indo Megah menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan konsumen akibat keterbatasan kapasitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan lokasi alternatif pembangunan pabrik baru guna meningkatkan kapasitas produksi perusahaan. Metode yang digunakan adalah Rank Order Centroid (ROC) untuk menentukan bobot prioritas dari faktor subjektif, dan metode Brown Gibson yang menggabungkan faktor subjektif dan objektif dalam pengambilan keputusan multikriteria. Faktor subjektif meliputi ketersediaan bahan baku, keamanan, kondisi jalan, dan lokasi pasar, sedangkan faktor objektif mencakup biaya lahan dan biaya tenaga kerja. Alternatif lokasi yang dievaluasi meliputi Kabupaten Malang, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, dan Jombang
Pada pembobotan faktor subjektif dengan metode rank order centroid prioritas kriteria paling tinggi adalah ketersediaan bahan baku. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku merupakan faktor yang paling diutamakan dalam menentukan lokasi pabrik.
metode Brown Gibson evaluasi dari faktor pbejektif menunjukkan lokasi Kabupaten Malang, Probolinggo dan Jombang memiliki niliai OFi tertinggi (0.222) artinya dari segi biaya lahan dan biaya tenaga kerja, ketiga lokasi ini paling efisien.
Berdasarkan alternatif lokasi terhadap faktor subjektif (Rij) melalui pairwise comparison dan perhitungan nilai preferensi Kabupaten Malang, Pasuruan, dan Probolinggo unggul dalam ketersediaan bahan baku Kabupaten Mojokerto dan Probolinggo unggul dari faktor keamanan dengan tingkat kriminalitas dan rawan bencana yang rendalı, kabupaten Malang, Mojokerto, dan Pasuruan unggul pada faktor kondisi jalan. Berdasarkan kriteria lokasi pasar daerah Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan merupakan lokasi terdekat dari pusat distribusi.
Berdasarkan hasil pengukuran preferensi lokasi menunjukkan nilai tertinggi terdapat pada Kabupaten Probolinggo dengan bobot sebesar 0.239. Kabupaten Probolinggo memiliki biaya tenga kerja terendah dibandingkan alternatif lain yaitu RP. 2.989.407. Biaya lahan sebesar Rp. 1.250.000/meter, memiliki ketersediaan bahan baku air banyak dan kualitas air bagus. Kondisi jalan pada lokasi alternatif menunjukkan adanya kerusakan struktural ringan, namun tetap dapat diakses oleh kendaraan logistik berukuran besar seperti truk. Selain itu, wilayah tersebut berada di zona dengan tingkat kerawanan kriminalitas dan potensi bencana alam yang tergolong rendah Kabupaten Probolingg