Repository Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang
Not a member yet
5701 research outputs found
Sort by
PROSES GAS FREEING UNTUK PERSIAPAN DRY DOCK
Kapal Gas Arjuna mengalami hambatan dan
keterlambatan pada proses Gas Freeing saat persiapan Dry
Dock dikarenakan keterbatasan waktu serta kurangnya
peralatan pada saat proses gas freeing. Proses ini krusial
untuk menghilangkan hidrokarbon pada tangki guna
mencegah ledakan, keterlambatan ini mengganggu dan
mengurangi optimalitas persiapan Dry Dock berikutnya.
Penelitian ini memfokuskan pada proses Gas Freeing di
kapal Gas Arjuna, faktor penyebab hambatan, dan upaya
pencegahannya. Metode deskriptif kualitatif digunakan
dengan wawancara kru kapal, terutama Chief Officer,
Boatswain, dan Second Engineer, sebagai sumber primer,
serta buku, pustaka, dan dokumen sebagai sumber
sekunder. Teknik pengumpulan data mencakup observasi,
wawancara, dan dokumentasi, dengan analisis data
kualitatif menggunakan teknik reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan menggunakan teknik
fishbone analysis.
Hasilnya menunjukkan bahwa proses Gas Freeing
melibatkan empat tahapan: liquid freeing, warm up,
Inerting, dan aeration/purging, untuk persiapan Dry Dock.
Namun, keterlambatan disebabkan oleh waktu yang
singkat, perbedaan metode, kurangnya flexible hose, dan
kesulitan dalam menjalankan N2 generator. Upaya
pencegahan termasuk permintaan peralatan yang memadai
sebelumnya kepada perusahaan, penambahan waktu, dan
pengujian peralatan sebelum operasi
OPTIMALISASI PENGGUNAAN ALAT LASHING CONTAINER GUNA MENUNJANG KEAMANAN MUATAN DI MV. SELILI BARU
Untuk mengurangi kerusakan fisik pada container dan
muatannya, penataan muatan selama proses pemuatan di
pelabuhan dan penggunaan tata lashing sesuai standar
sangat penting. Khususnya pada kapal peti kemas, lashing
yang benar-benar kuat dan aman diperlukan untuk
menahan gerakan peti kemas yang dapat terjadi dalam
enam jurusan berbeda (rolling, pitching, yawing, heaving,
swaying, dan surging) akibat keadaan laut yang tidak stabil
selama pelayaran. Keselamatan kapal dan muatannya
sangat bergantung pada pelaksanaan pengikatan yang
tepat. Pada penelitian ini peneliti merumuskan masalah
penelitian meliputi apa saja kendala yang dihadapi pada
saat melakukan optimalisasi dari penggunaan alat lashing
container di MV. Selili Baru dan bagaimana cara
melakukan optimalisasi penggunaan alat lashing container
yang aman untuk mencegah kerusakan container di MV.
Selili Baru.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini
adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data primer
yang didapat melalui catatan hasil wawancara dengan Chief
officer dan Boatswain, lalu data sekunder diperoleh dari
data dokumentasi, arsip-arsip resmi, serta referensi buku.
Teknik pengumpulan data menggunakan gabungan riset
lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Teknik Analisis
data kualitatif menggunakan metode reduksi data,
penyajian data, serta penarikan kesimpulan, selain itu juga
digunakan metode Fishbone diagram. Penelitian ini
dilaksanakan dan bertempat di MV. Selili Baru sebagai
tempat peneliti melaksanakan praktik laut selama 12 bulan.
Pada penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa
dalam rangka meningkatkan keamanan di kapal MV. Selili
Baru, peralatan lashing container yang tidak terawat,
ketersediaan alat yang terbatas, perubahan cuaca,
kurangnya pemahaman teknik penegikatan, serta
kebutuhan optimalisasi penggunaan alat lashing
memerlukan pendekatan komprehensif. Rekomendasi
termasuk jadwal perawatan rutin, pemisahan alat lashing
rusak, briefing kepada crew deck, peningkatan pengawasan
selama bongkar muat, pemeriksaan pengikatan pasca-muat,
dan pelatihan bagi stevedore. Optimalisasi juga mencakup
penggunaan metode pelashing yang tepat, dinas jaga
optimal, dan peningkatan pengetahuan stevedore untuk
memastikan keamanan di MV Selili Baru
OPTIMALISASI PEMBERSIHAN RUANG PALKA GUNA MENCEGAH KETERLAMBATAN SAAT MEMUAT PADA KAPAL MV ULTRA CORY
ABSTRAK
Ambo, Muhammad Andhiki Amirudin, 2024.“Optimasi pembersihan ruang
palka guna mencegah keterlambatan saat memuat pada kapal MV Ultra
Cory”. Skripsi Program Diploma IV, Program Studi Nautika, Politeknik
Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Manungku Trinata Pramudhita,
S.Si.T., M.Pd. dan Pembimbing II: Sri Purwantini, S.E., S.Pd., M.M.
Ketidaksiapan ruang palka kapal dapat menyebabkan keterlambatan operasi
pemuatan dengan konsekuensi kerugian waktu dan menghambat kelancaran
kegiatan. Pembersihan ruang palka perlu dilakukan sesuai aturan perusahaan dan
Maritime Labour Convention, tetapi seringkali pelaksanaan tersebut melebihi jam
kerja awak kapal karena keterbatasan waktu dan penggunaan peralatan tidak layak
pakai selama pelaksanaan pembersihan ruang palka. Tujuan penelitian ini yaitu
untuk mengetahui pelaksanaan pembersihan ruang palka di kapal MV. Ultra Cory,
faktor hambatan yang terjadi pada pelaksanaan pembersihan ruang palka di kapal
MV. Ultra Cory, dan upaya pencegahan keterlambatan pemuatan.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, data yang
digunakan adalah data primer dan sekunder, metode pengumpulan data meliputi
observasi langsung, wawancara, studi dokumentasi meliputi Standard Operational
Procedure (SOP) pembersihan ruang palka dan laporan pembersihan ruang palka
serta melalui studi pustaka. Data dianalisis sesuai kualitatif dan pengujian
keabsahan data menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber.
Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan pembersihan ruang palka
di kapal MV. Ultra Cory mengikuti SOP dengan 3 (tiga) tahap, yaitu tahap pra�bilas, tahap bilas, dan tahap paska bilas yang pelaksanaannya diawasi oleh Chief
Officer dan hasil dari pembersihan harus memenuhi kriteria prosedur ruang palka
sesuai National Sanitary Authorities (SENASA). Pelaksanaan pembersihan ruang
palka di kapal MV. Ultra Cory mengalami beberapa hambatan, hambatan tersebut
meliputi keterbatasan peralatan pembersihan ruang palka dan keterbatasan waktu
pelaksanaan. Upaya yang dilakukan untuk menangani hambatan yaitu melakukan
pengadaan peralatan baru, perawatan berkala pada peralatan pembersihan, dan
mengkoordinasikan masing-masing tugas kepada crew
PENGARUH KEBOCORAN DI TUBE L.O COOLER TERHADAP KENAIKANL.O TEMPERATUR YANG MENYEBABKAN TERGANGGUNYA PENGOPERASIAN AUXILIARY ENGINE NO. 3DI KM . SPIL HAPSRI
ABSTRAK
Saputro, Ageng Bayu. 2024. “Pengaruh Kebocoran Di Tube L.O Cooler Terhadap
Kenaikan L.O Temperatur Yang Menyebabkan Terganggunya
Pengoperasian Auxiliary Engine No. 3 KM. Spil Hapsri”, Program Studi
Diploma IV, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Rahyono,
SP.1.M.M.,M.Mar.E. Pembimbing II: Imam Safi’I, S.Si.T., M.Si.
Auxiliary Engine generator merupakan suatu pesawat bantu atau
permesinan bantu, yang berfungsi untuk menghasilkan listrik. Listrik tersebut
berguna untuk keperluan diatas kapal seperti sebagai supply listrik pompa,
peralatan listrik dan permesinan yang menggunakan energi listrik di atas kapal.
Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, triangulasi hasil
observasi, wawancara dan dokumentasi. Digunakan teknik analisis data SHEL,
peneliti mengidentifikasi faktor penyebab, dampak dan upaya yang dilakukan
terkait pengaruh kebocoran Tube L.O Cooler Auxiliary. Engine No. 3 terhadap
kenaikan L.O temperature.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa penyebab
kenaikan L.O temperature Auxiliary. Engine No. 3 disebabkan oleh tersumbatnya
pada Tube L.OCooler, dengan adanya kebocoran tersebut akan berdampak pada
komponen Tube L.O Cooler sehingga tekanan L.O menurun dan pelumasan L.O
menjadi tidak maksimal. Upaya yang dilakukan untuk mencegah hal tersebut
adalah melakukan pembersihan pada Tube L.O Cooler yang tersumbat dan
melakukan perbaikan Tube L.O Cooler yang bocor dengan cara di plug oleh karena
itu terpaksa menggunakan Tube L.O Cooler yang telah diperbaiki agar auxiliary
engine tetap beroperasi. pengantian spare part kapal dengan standar sesuai dengan
manual book dan ukuran Tube L.O Cooler setelah perbaikan, serta melakukan plan
maintenance system secara rutin
RANCANG BANGUN OIL WATER SEPARATOR SEBAGAI PERAGA PEMBELAJARAN BERBASIS MIKRO KONTROLLER ATmega2560
Abstrak- Oil water separator merupakan alat yang
digunakan dikapal untuk memisahkan air dengan campuran
minyak dari limbah operasi separator minyak lumas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara membuat
serta cara kerja sistem OWS di kapal dan diimplementasikan
sebagai alat peraga pendukung pembelajaran. Metode yang
digunakan peneliti yaitu deskriptif kualitatif dengan model
Research and Development (RnD). Peneliti mulai tertarik
untuk meneliti sistem OWS pada saat praktik laut di kapal
MT. Phoenix Alpha XXXV. Peneliti mulai membuat
kerangka berpikir untuk membuat prototype sistem OWS
menggunakan mikro kontroller ATmega2560 secara
prototype. Kemudian melakukan pembuatan desain sistem
OWS dan melakukan rancangan mekanik dan elektronik.
Peneliti juga melakukan tes alat mekanik maupun elektronik.
Setelah melakukan pengetesan, peneliti mulai menemukan
masalah terkait dengan bentuk penampungan alat peraga
dan penambahan layar LCD TFT. Kemudian peneliti
melakukan revisi produk. Setelah melakukan revisi produk,
peneliti melakukan penyempurnaan produk. Proses
pembuatan sistem OWS menggunakan mikro kontroller
ATmega2560 dimulai dengan melakukan perakitan, uji
produk dan dilanjutkan dengan revisi mengenai bentuk alat
penampungan alat peraga serta penambahan layar LCD
TFT. Output dari rancang bangun alat ini untuk menjadi alat
peraga pendukung pembelajaran. Saran untuk penggunaan
rancang bangun ini adalah dilakukan pengembangan
penelitian dengan menggunakan topik yang sama namun
berbeda metode dan juga waktunya, dikembangkan di kapal
lain dengan menggunakan metode yang sama untuk
mendapatkan perbandingannya, dan untuk para taruna/i
semester I, II, III, IV agar memperbanyak literasi dan belajar
mengenai sistem OWS agar ketika nanti sudah tiba waktunya
menjalankan tugas praktik laut (prala) sudah familiar
dengan alat OWS
ANALISIS TERIKATNYA JANGKAR KIRI MT.GAMSUNORO PADA SAAT BERLABUH JANGKAR DI PELABUHAN JEBEL ALI
ABSTRAKSI
Fahreza, Hifzhan Rizky, NIT. 562911127119 N, 2024, “Analisis Terikatnya
Jangkar Kiri MT.Gamsunoro Pada Saat Berlabuh Jangkar di Pelabuhan Jebel Ali,
Dubai”, Skripsi, Program Diploma IV, Program Studi Nautika, Politeknik Ilmu
Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Yustina Sapan.S.Si.T, M.M, Pembimbing II:
Retno Hariyanti,S.Pd., M.M
Jangkar adalah perangkat penambat kapal ke dasar perairan, di laut, sungai
ataupun danau sehingga kapal tidak dapat berpindah tempat karena dorongan
angin, arus atau gelombang. Jangkar merupakan salah satu alat wajib yang ada di
atas kapal mengingat fungsinya sebagai alat untuk menahan kapal supaya tidak
bergerak dan tetap dalam posisinya, jangkar dirangkaikan dengan rantai jangkar
yang pergerakannya turun dan naik yang diatur dengan menggunakan mesin
jangkar (anchor windlass) yang dipasang di atas forecastle deck. Keadaan darurat
yang terjadi pada saat kapal sedang berlabuh jangkar pun bermacam-macam, seperti
tubrukan, kandas, jangkar larat, maupun terikatnya rantai jangkar. Terikatnya rantai
jangkar merupakan kondisi saat keadaan rantai jangkar didasar perairan tidak
teratur karena tidak sesuai dengan jumlah perhitungan panjang rantai shackle dan
kedalaman dasar laut. Tujuan penelitian ini meneliti bagaimana penanganan
terhadap terikatnya rantai jangkar kiri dan faktor-faktor penyebab terikatnya rantai
jangkar kiri di kapal MT. Gamsunoro.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data
penelitian diperoleh saat observasi langsung, hasil wawancara dengan Nakhoda dan
Mualim 1, hasil dokumentasi berupa gambar. Teknik pengumpulan data melalui
observasi, dokumentasi, dan wawancara selama peneliti melaksanakan penelitian
di MT. Gamsunoro. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
Fishbone Diagram, kemudian dilakukan uji kredibilitas.
Hasil penelitian menunjukan bahwa anak buah kapal kurang memahami
prosedur berlabuh jangkar, kurangnya pengetahuan crew kapal dalam memahami
prosedur berlabuh jangkar menimbulkan kurang maksimalnya proses berlabuh
jangkar. Tindakan yang dilakukan dalam penanganan terhadap terikatnya rantai
jangkar kiri MT. Gamsunoro yaitu memotong center shackle rantai jangkar agar
dapat mempermudah mengeluarkan rantai jangkar yang terikat dan mengganti
center shackle yang baru. Saran dari peneliti untuk dapat mencegah permasalahan
pada rantai jangkar selalu memperhitungkan kondisi lingkungan dan area tempat
berlabuh terlebih dahulu sebelum melaksanakan proses berlabuh jangkar agar dapat
disesuaikan dengan metode berlabuh jangkar yang akan digunakan
IDENTIFIKASI KENAIKAN SUHU MINYAK LUMAS PADA MOTOR INDUK DI MV. MANALAGI DASA
ABSTRAKSI
Wisnu Aldi Pradana, 561911227282 T, 2024, “ Identifikasi kenaikan suhu minyak
lumas pada motor induk di MV. Manalagi Dasa”, Program
Diploma IV, Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang.
Pembimbing I Dr.Andy Wahyu Hermanto,ST.MT dan
Pembimbing II Arya Widiatmaja, S.Si.T., M.Si.
Pelumasan merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan mengingat
bahwa bila sampai terjadi suatu kelambatan dalam pelumasan atau pelumasan yang
tidak sempurna makan akan mengakibatkan kerusakan pada bagian-bagian yang
bergesekkan, rendahnya tekanan minyak lumas merupakan salah satu faktor
penyebab tidak sempurnanya pelumasan pada mesin. Guna pelumasan bagi kinerja
mesin induk yaitu untuk mengurangi gesekan antar komponen mesin induk yang
lain.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab terjadinya kenaikan
suhu minyak lumas pada motor induk dan mengetahui dampak akibat kenaikan
suhu minyak lumas pada motor induk
Penelitian ini dilaksanakan di MV.Manalagi Dasa, metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode Kualitatif dengan Teknik Fishbone. Adapun
responden adalah KKM dan Masinis II, Pengambilan data dilakukan dengan
menggunakan wawancara.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ada beberapa faktor yang
menyebabkan kurang optimalnya lubrication oil cooler pada mesin induk yaitu
faktor mesin meliputi kerusakan pada gasket, faktor manusia yaitu kurangnya
pemahaman masinis tentang lo cooler, faktor metode pengoperasian dan perawatan
yaitu ketidaksesuain dalam melaksanakan PMS (Plan Maintenance System) serta
faktor lingkungan yaitu kotornya filter sea chest. Dampak yang terjadi adalah
menurunnya kinerja operasional mesin induk, kinerja lo cooler menjadi tidak
maksimal, meningkatnya suhu minyak lumas pada motor induk dan naiknya
pressure jacket cooling
STRATEGI PEMELIHARAAN DIESEL GENERATOR MV. TANTO PRATAMA (STUDI KASUS RING PISTON PATAH CYLINDER NO 5 DAN 6 SELAMA PERIODE OVERHAUL YANG DITUNDA)
ABSTRAKSI
Mustahfirin, NIT: 561911237361 T, 2024, “Strategi pemeliharaan diesel
generator MV. Tanto Pratama (Studi kasus ring piston patah cylinder no 5
dan 6 selama periode overhaul yang ditunda)”, Skripsi. Program Diploma IV,
Studi Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Pembimbing I: Didik
Dwi Suharso,S.Si.T.M.Pd, Pembimbing II: Kresno Yuntoro,S.ST,M.M.
Pada saat MV. Tanto Pratama anchorage di Jakarta untuk melakukan
perbaikan pada sistem pendingin air laut, terdengar alarm pada diesel
generator No. 3, menunjukkan exhaust cylinder nomor 5 dan 6 temperature
mencapai 4500C, diambil tindakan untuk mengganti dengan diesel generator
No.2 dan melakukan pemeriksaan pada diesel generator No.3
Dengan menggunakan metode kualitatif, mengumpulkan data suhu gas
buang, pendingin jaket cooling, tekanan indicator diesel generator, log book
perawatan, wawancara, untuk mengetahui faktor-faktor penyebab, dampak
dan upaya mencegah patahnya ring piston, dengan menambahkan studi kasus
penyebab ring piston patah. Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan
fishbone dan diolah dengan teknik triangulasi untuk mengetahui penyebab
patahnya ring piston dan strategi pemeliharaan diesel generator.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan diesel generator
yang melebihi batas beban maksimum 100kW, tertundanya penggantian ring
piston sesuai jam kerja mencapai 10.000 jam. Berdampak pada tingginya
temperature gas buang, penurunan tekanan indicator 35-40 kgf/cm2
pada
cylinder no. 5 dan 6. Dengan melakukan overhaul penggantian ring piston
yang patah, saling berkomunikasi pada saat berdinas jaga dan melakukan
perawatan sesuai jam kerja
OPTIMALISASI PERAWATAN WIRE SETELAH WIRE CRANE NO. 2 PUTUS PADA PROSES MUAT BONGKAR DI MV. LGH PROSPER
ABSTRAK
Assakhafi, Abil B. 2024. “Optimalisasi Perawatan Wire Setelah Wire Crane No.
2 Putus Pada Proses Muat Bongkar Di MV. LGH Prosper”. Skripsi.
Program Diploma IV, Program Studi Nautika, Politeknik Ilmu Pelayaran
Semarang, Pembimbing I: Capt. Anugrah Nur Prasetyo, M. Si.,
Pembimbing II: Fatimah, S. Pd., M. Pd.
Peranan kapal laut tidak terlepas dari hubungan dengan keberadaan alat
muat bongkar di atas kapal yang digunakan untuk proses muat bongkar kargo. Wire
rope adalah tali baja yang terbuat dari beberapa wire yang membentuk strand,
kemudian beberapa strand tersebut dipilin mengelilingi core untuk membentuk
wire rope. Pada pelaksanaan praktek laut menemukan masalah berupa putusnya
wire pada deck crane no. 2 akibat kegiatan muat bongkar ditambah kegiatan
tersebut relatif padat dan cepat. Kejadian tersebut dipengaruhi oleh peran peralatan
muat bongkar di atas kapal, maka peralatan harus dirawat secara rutin dan dengan
baik. Perawatan rutin terhadap alat muat bongkar diharapkan agar selalu dalam
keadaan prima dan siap digunakan. Tujuan karya ini dibuat adalah untuk
mendeskripsikan dan mengetahui penyebab putusnya wire crane no. 2 dan
bagaimana rutinitas perawatan wire crane terhadap kelancaran proses muat bongkar
serta apa upaya untuk mengoptimalkan proses muat bongkar di kapal MV. LGH
Prosper.
Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian yang diperoleh penulis berasal dari
observasi, wawancara, dan dokumentasi serta didukung metode diagram fishbone
untuk menganalisis faktor yang menyebabkan masalah pada rumusan masalah
pertama. Selanjutnya dianalisa sehingga menjadi sebuah temuan yang diberikan
pemecahan masalahnya dan menjadi sebuah tulisan penelitian.
Faktor-faktor yang menjadi penyebab putusnya wire crane no.2 di MV.
LGH Prosper adalah akibat kurangnya perawatan. Mengacu pada SOP, wire luffing
tersebut ditemukan sudah tua sehingga tidak layak digunakan. Rutinitas perawatan
wire crane di MV. LGH Prosper telah mengalami peningkatan signifikan setelah
mengalami kejadian putus wire crane. Jika perawatan tidak rutin dilakukan
mengakibatkan wire menjadi lebih cepat rusak. Upaya yang dilakukan untuk
mengoptimalkan kegiatan muat bongkar yaitu melakukan perawatan berencana dan
mengganti spare part yang dibutuhkan, pengawasan regular oleh seluruh crew serta
memberikan pemahaman mengenai peningkatan performa terhadap ABK kapal
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab
OPTIMALISASI KERJA FUEL PUMP PADA DIESEL GENERATOR DI MV. APL JEDDAH
ABSTRAKSI
Arifin, Yusup 561911227306 T, 2024, “Optimalisasi Kerja Fuel Pump pada
Diesel Generator di MV APL Jeddah”, Program Diploma IV, Program Studi
Teknika, Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Dosen Pembimbing I : Dr.
F. Pambudi Widiatmaka, S.T, M.T Pembimbing II : Capt. Anugrah Nur
Prasetyo,M.Si,. M.Mar.
Fuel Pump adalah sebuah komponen pada mesin Diesel generator yang
berfungsi sebagai komponen pendorong bahan bakar bertekanan tinggi menuju
nozzle untuk dikabutkan diruang bakar. Fuel pump bekerja dengan memanfaatkan
dorongan dari camshaft oleh putaran mesin yang diteruskan hingga plunger akan
mendorong bahan bakar dengan tekanan tinggi. Penurunan performa fuel pump
menyebabkan pada proses kerja dari diesel generator menjadi terganggu hingga
daya outputnya tidak mencapai proses kerja yang diharapkan.
Jenis metode penelitian yang digunakan peneliti dalam melakukan
penyusunan skripsi ini menggunakan yaitu deskriptif kualitatif dengan metode
pendekatan SHEL karena peneliti menganggap lebih kompleks dalam pembahasan.
Metode pengumpulan data menggunakan Triangulasi yaitu obervasi, wawancara
dan studi dokumentasi untuk memperkuat analisis olah data. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui faktor penyebab tidak optimalnya kerja fuel pump pada
diesel generator, dampak yang ditimbulkan dari tidak optimalnya keraj fuel pump
pada diesel generator serta upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan kerja fuel
pump pada diesel generator di MV. APL Jeddah.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan ada beberapa
faktor penyebab tidak optimalnya kerja fuel pump pada diesel generator di MV
APL Jeddah antara lain secara fisik terlihat kondisi fuel pump mengalamai
kebocoran yang disebabkan seal didalam fuel pump yang sudah mengeras dan
kurang presisi karena tidak dilakukannya perawatan. Plunger yang aus
menyebabkan tekanan tekanan bahan bakar menuju nozzle menurun. Kualitas
bahan bakar yang kurang baik juga berpengaruh terhadap kerja fuel pump. Dampak
yang terjadi berupa pembakaran yang kurang maksimal dan menghasilkan daya
mesin kurang baik. Upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan kerja fuel pump
yaitu dengan melakukan overhoule dan melakukan penggantian part yang sudah
mengalami kerusakan/jam kerjanya melewati batas standart. Membersihklan filter
bahan bakar secara berkala waktu agar bahan bakar yang menuju fuel pump dalam
keadaan benar-benar bersih