5337 research outputs found
Sort by
Piagam Penghargaan sebagai Penerjemah Terpilih dalam Seleksi Penerjemah Karya Sastra, Balai Bahasa Provinsi Bali a.n Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum.
BERDUA
”Pembentukan” status fungsi kriya dengan pencitraan nilai guna serta pemaknaannya belum sepenuhnya dapat berdiri sendiri. Keterkaitan dan saling ketergantungan masih tetap dibutuhkan walaupun dengan kadar yang berbeda. Bagi karya seni yang indah tidak saja mempunyai keselarasan serta pola-pola yang baik, tetapi juga ada kepribadian dan makna simbolis yang impresionisme.
Sebagai benda budaya, kriya tidak bisa lepas dari tujuan awal diciptakan seperti misalnya sebuah karya yang dibuat oleh bangsa atau suku primitif dengan tujuan utamanya sebagai personifikasi untuk menghadirkan roh nenek moyang mereka. Karya yang mereka ciptakan tidak mempertimbangkan atas dasar unsur-unsur seni rupa seperti: fungsi bentuk, warna, proporsi, komposisi apalagi atas pesanan konsumen.
Beberapa sumber tertulis secara historis menyebutkan, kriya yang berkonotasi kerajinan pada mulanya bukan sebagai profesi, kriya ada karena manusia membutuhkan dan kebutuhan itu ia sediakan sendiri. Kriya berfungsi sebagai media untuk pemenuhan kebutuhan atau kepentingan survival. Kriya dapat dikatakan sebagai kegiatan sampingan untuk mengisi waktu senggang setelah melakukan kegiatan pokok keseharian. Seiring perkembangan perkembangan selanjutnya kriya atau kerajinan tersebut oleh sekolompok masyarakat pedesaan maupun perkotaan dijadikan pekerjaan pokok (profesi) untuk mencari nafkah
WERKUDARA
Menginjak jaman modern kiprah ornamen mengalami hambatan seiring dengan
kompleksitas kehidupan manusia sebagai penyangga jaman di mana ornamen selalu bergayut
di dalamnya. Ornamen tidak lagi mempunyai peran multi dimensi yang selalu mendominasi
setiap karya seni rupa yang bertujuan untuk mencapai keindahan, karena kandungan seni tidak
selalu harus menjawab keindahan tersebut. Hal ini disebabkan adanya pergeseran pola pikir
manusia yang cukup signifikan dari kehidupan masyarakat “kolektif religius estetik” menjadi
“individu konsumtif estetik”. Masyarakat kolektif religius estetik adalah masyarakat yang
kesehariannya masih menjujung tinggi kebersamaannya dengan melahirkan karya seni secara
gotong-royong di mana orientasi utamanya sebagai seni persembahan. Masyarakat individu
konsumtif estetik adalah masyarakat yang mengagungkan individunya dalam berkarya juga
masyarakat yang sebagian besar hanya sebagai pengguna tanpa ingin berusaha untuk
memikirkan atau menciptanya.
Sejarah telah membuktikan bahwa terdapat hubungan yang sinergis antara tumbuhnya
pola pikir modern dengan program modernisasi yang dijalankan oleh suatu bangsa. Suatu
masyarakat akan menjadi modern yang sesungguhnya, jika diikuti oleh berkembangnya
modernisasi pemikiran masyarakatnya, kemudian diikuti oleh terbentuknya mentalitas dan
nilai-nilai modernitas (Sachari, 2002: 1). Modernitas multi dimensi berimplikasi pada
tumbuhnya karya seni rupa sebagai ranting budaya yang selalu larut dan hanyut dalam arus
gelombang peradaban manusia
Turnitin PENGUATAN KETAHANAN BUDAYA DAERAH DAN IDENTITAS BANGSA MELALUI REKONSTRUKSI TARI LEGONG TOMBOL DI DESA BANYUATIS
JANUARY TO JANUARY
Thesis entitled "January To January" where MBKM (Merdeka Belajar - Merdeka Campus) in
Independent Studies / Project where cultivators get the opportunity to cooperate with bmtc
(Balawan Music Training Centre) on the title entitled January To January which is in the work
of curcerting the season in tropical countries, namely the rainy season and also the drought.
January To January is like the title that cultivators work on the work in this final task, January
To January which tells about the season in the tropical country, where in the country Tropish
There are 2 seasons namely the Dry Season and the Rainy Season, in this January To January
work There are 3, which starts with an intro and then menusul in the first part that tells the
atmosphere of drought and in the second part tells the atmosphere of rain, In the second part
of the cultivator gets a lot of references while in the place of BMTC partners, namely Balawan,
Where Balawan's game shows touch tapping style skills in his guitar playing, here the cultivator
wants to include Touch Tapping Style technique in the work of January To January, Where in
the second part, all full players play the game Pizzicato Technique. Continue to Part three Where
part three takes the Pattern in the first part again, which means the Season will continue to
rotate every year after year according to the title that the cultivator is working on
SILI UWI : THE MAJESTY OF REBA DALAM BUSANA GAYA EXOTIC DRAMATIC
Reba merupakan sebuah upacara ritual adat yang dipercaya masyarakat Ngadha untuk mengingat
kembali amanat yang telah ditinggalkan oleh Sili Ana Wunga dimana tanaman ubi disanjung-sanjung dan
dipuja-puja. Upacara Reba berasal dari Flores, Kab. Ngadha, Nusa Tenggara Timur. Hal-hal yang dianggap
tabu selama perayaan bila dilanggar akan menimbulkan malapetaka. Penciptaan karya busana ready to wear
deluxe dan semi haute couture ini ditujukkan untuk mewujudkan busana exotic dramatic dengan tradisi Reba
sebagai ide pemantik. Tradisi Reba diimplementasikan dengan teori metafora dan kata kunci yang terpilih yaitu
ubi, bambu, magis, tempurung kelapa dan tuba. Metode penciptaan yang digunakan yaitu terdiri dari delapan
tahapan penciptaan “Frangipani” Desain Fashion dari Dr. Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016
meliputi design brief, research and sourching, design development, sample, prototype, dummy, final collection,
promoting, branding, sale, production business. Diharapkan hasil penciptaan ini dapat menambah kepustakaan
khususnya dibidang mode dengan teori metafora tradisi Reba yang diimplementasikan dalam busana exotic
dramatic.
Kata Kunci: Tradisi Reba, Exotic Dramatix, Ready to Wear Deluxe, Semi Houte Coutur