Institut Seni Indonesia Denpasar

ISI Denpasar | Institutional Repository
Not a member yet
    5337 research outputs found

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Karya Seni Rupa: TATA BUSANA (KOSTUM) TARI SEKAR JEPUN

    Get PDF

    PEER Review KARYA MONUMENTAL: Shita

    Get PDF

    Motivation for Creating the Baris Nadewa Creation Dance in the New Normal Era

    Get PDF
    Baris Nadewa creation dance is one of the male dance creations whose existence is still relatively new in Bali. The duration of this dance is approximately 10 minutes and in each performance, this dance is accompanied by the Gong Kebyar gamelan instrument. Baris Nadewa dance is a duet dance because it is performed by two male dancers and each carries the property of a spear that looks like a bow. This dance represents the bravery and patriotism of Nakula and Sahadewa fighting on the battlefield. The creation of this dance was inspired by the characters Nakula and Sahadewa who are part of the Five Pandavas in the Mahabharata story. The idea of the movement comes from the development of the bebarisan dance movement (a traditional dance genre in Bali) that already existed before. The form of presentation of this dance represents the spirit of patriotism, courage, and skill of Nakula and Sahadewa in martial arts while on the battlefield. The motivation for creating this dance is none other than responding to the existence of radicalism that has begun to poison the younger generation in particular which can break up national unity. Presented through dynamic and firm movements, indirectly the creation of this dance work wants to convey the message of the importance of cultivating patriotism, such as being brave, never giving up, and being willing to sacrifice for the nation and state. This study uses a qualitative descriptive research method to determine the function and motivation for the creation of the Baris Nadewa dance

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Musik Karawitan: PERING UTAMA

    Get PDF

    DESKRIPSI SANDYAGITA “RANU MURTI”

    Get PDF
    Karya Sandyagiya “Ranu Muti” terlahir adanya permintaan dari Dinas Kebudayaan Propisi Bali sebagai penanggungjawab penyelenggaraan Peringatan Bulan Bahasa Bali ke IV Tahun 2022 kepada Rektor ISI Denpasar untuk menyajikan sajia Sandyagita sebagai pertunjukan puncak pada peringatan dimaksud. Oleh forum pimpinan pada tingkat Rektorat dan Dekranat menugaskan sebagai pengkatya untuk mengkonsep sebuah Sandyagita yang mengacu kepada tema sentral peringatan Hari Bulan Bahasa Bali IV tahun 2022 yakni “Danu Kerthi: Gitaning Toya Ening’ yang bermakna pemuliaan air sebagai sumber kehidupan. Merujuk pada tema dengan pemaknaan air dalam kehidupan digaraplah Sandyagita ini dengan judul Ranu Murti yakni kekuatan air sebagai sumber kehidupan yang diharapkan dapat menyampaikan pesan akan betapa pentingnya “air/tirta” merasupi seluruh lini kehidupan masyarakat Bali yang religious, agraris yang bersumber pada pemuliaan air sebagai sumber utamanya

    SURAT PENCATATAN CIPTAAN Pidato: Confidence Dalam Public Speaking

    Get PDF

    TRANSITIVITY IN THE TRANSLATION OF THE TEXT TALKS BETWEEN LORD SIVA AND SATI FROM ENGLISH INTO INDONESIAN

    Get PDF
    The research is a descriptive translation study focusing on the transitivity analysis which is a stylistic aspect of the text Talks between Lord Siva and Sati that will provide an understanding of the types of process, participant, and circumstance in the English text and its translations into Indonesian. All the transitivity structures of the source language text and its translations in the target language one are analyzed. Besides, the character value contained in the text is described as well. The quality of the translation of the text, especially its readability, will be analyzed by involving informants who are the target language users. Readability is the degree to which a text can be understood easily. The translation is said to have a high degree of readability when the text is easily understood by the target language text readers. Theoretically, the analysis of translation quality is very significant to see how the transitivity of the source language text is translated into the target language text when viewed from the existing theories, such as translation theory proposed by Larson and functional grammar theory proposed by Halliday. Since the text is a religious one, the results of this analysis will provide insight not only in terms of the quality of the translation, but also in terms of the practice of building the character of students or anyone who read it. Keywords: transitivity, stylistics, translation, character buildin

    SAWEN SASTRA DESA (MONOGRAF) MARAKATA-BATURAN-MAHACITTA DESA SWABUDAYA BATUAN

    Get PDF
    Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menginisiasi program pengabdian masyarakat Nata Citta Swabudaya (NCS) pada Desa/Desa Adat terpilih di Bali. Program ini sepenuhnya didedikasikan untuk memajukan seni budaya berbasis kearifan lokal pada lokus pengabdian masyarakat yang dipilih. Pada program ini, ISI Denpasar terjun dengan tim terbaik dari unsur-unsur dosen dan tenaga kependidikan lintas Fakultas-lintas Program Studi (Prodi). Pilihan tim seperti ini dilakukan, guna memastikan seluruh potensi seni budaya dalam menopang pemajuan ekosistem dapat terakomodasi dengan optimal sejalan kecakapan dan profesionalisme bidang seni masing-masing anggota tim. Ekosistem seni budaya di desa/desa adat seluruh Bali secara umum telah berlangsung turun-temurun dan terpelihara secara baik, namun harus diakui pula bahwa masih banyak terjadi stagnasi, kerapuhan, bahkan kehilangan ekosistem. Pada beberapa desa, banyak terjadi kemacetan sistem pewarisan, kelangkaan, dan kepunahan seni budaya klasik dan tradisi. Antusiasme generasi muda dalam kerja pemajuan seni budaya di desa/ desa adat juga mengalami pemudaran. Kondisi objektif tersebut, menjadikan kehadiran NCS selalu dinanti desa/desa adat di Bali. Pada tahun 2022 ini, telah diselenggarakan program NCS di 5 desa/desa adat, yaitu: Nagasepaha (Buleleng), Penglipuran (Bangli), Batuan (Tabanan), Tenganan Pegringsingan (Karangasem), dan Batuan (Gianyar). Pemilihan Desa Batuan selain karena pengajuan oleh Perbekel Desa setempat, hal terpenting justru menunjuk pada potensi kekayaan seni budaya yang dimiliki. Adapun potensi seni dimaksud, meliputi: drama tari gambuh, seni lukis khas Batuan, seni pahat dan topeng, sungging wayang kulit, kerajinan perak dan keris, serta berbagai properti pagelaran. Selain potensi seni, Desa ini memiliki keistimewaan karena mewarisi berbagai artefak sakral Bali Kuno, diantaranya: prasasti Baturan, lingga-yoni, dan beragam arca. Kehidupan sehari-hari masyarakat juga kental dan menyatu dengan tata laku tradisi, adat, seni budaya, serta kearifan lokal yang diwarisi dari zaman ke zaman. Selain alasan potensi seni budaya, pada tahun 2022 ini pula dimuliakan perayaan seribu tahun Prasasti Baturan. Momentum penting ini menjadi pertimbangan tersendiri penyelenggaraan NCS di desa Batuan. Potensi objektif ekosistem seni budaya Desa Batuan yang memadai untuk penyelenggaraan NCS, ternyata gayut harapan dan komitmen Kepala Desa Batuan, Ari Anggara menyatakan “Desa Batuan sebagai desa yang berbasis seni budaya yang didukung potensi sumber daya alam yang sangat layak untuk di hidupkan guna mendukung program-program desa terkait dengan penguatan dan pemajuan potensi seni budaya tersebut. Menimbang potensi objektif dan antusiasme pihak pengelola desa, maka diputuskan luaran NCS di Desa Batuan, yaitu: Panyembrama Citta (tari penyambutan), Sasmita Desa (video profil desa), Sawen Sastra Desa (monografi desa), dan Swabudaya Patra (prasasti NCS)

    4,402

    full texts

    5,337

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ISI Denpasar | Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇