5337 research outputs found
Sort by
Tari Kreasi Mapepare
Mapepare adalah sebuah karya tari kreasi baru yang menggambarkan tentang kegiatan sekelompok wanita
Tenganan Pegringsingan yang mempersembahkan banten Pepare pada saat Ngusaba Kasa di Desa Tenganan
Pegringsingan. Setiap prosesi upacara yang diselenggarakan di Desa Tenganan Pegringsingan membutuhkan persiapan
yang matang baik dari segi fisik maupun dari segi mental, karena apabila terjadi hal yang tidak diinginkan dalam prosesi
akan dikenakan sanksi adat. Hal ini berlaku dalam prosesi mesuunan banten Pepare, apabila salah satu masyarakat yang
bertugas dalam mesuunan banten Pepare tersebut dengan tidak sengaja menjatuhkan salah satu unsur dalam
upakara/banten Pepare akan dikenakan sanksi adat yang berlaku di Desa Tenganan Pegringsingan. Metode penciptaan
yang digunakan dalam karya tari Mapepare adalah metode penciptaan oleh Alma M. Hawkins yang mencangkup tahap
penjajagan (exploration), tahap percobaan (improvisation), dan pembentukan (forming), sehingga melahirkan pola-pola
gerak baik bentuk fisiknya, serta eksplorasi ide sehingga muncul konsep karya yang akan digarap. Karya tari Mapepare
menggunakan konsep kelompok besar dengan tujuh orang penari wanita. Pola gerak yang digunakan bersumber dari
gerak-gerak dalam tari Bali seperti agem, tandang, tangkis, dan tangkep yang kemudian dikembangkan kembali sesuai
dengan ide dan tema yang digunakan. Properti yang digunakan yaitu banten Pepare yang disuun oleh para penari. Musik
iringan yang digunakan yaitu gamelan Selonding. Durasi keseluruhan karya adalah 13 menit, karya tari Mapepare
dipentaskan di Sanggar Pelangi Budaya Nusantara, Denpasar.
Kata kunci: Mapepare, mesuunan, sanksi ada
PROCEEDING: Cartoon as A Communicative Educational Media in The Covid-19 Pandemic
This study focuses on the role of cartoons as a medium of communication
during the COVID-19 pandemic. In the past, cartoons were considered as illustrations that
were only used for children's education because they had a funny and fun impression. In
subsequent developments, cartoons became a critical communication medium for various
social problems that occurred in society. This critical communication media is often found in
newspapers, magazines, tabloids and others. During the COVID-19 pandemic, cartoons have
become a medium of communication to provide education to the public regarding health
protocols. Aside from being a medium for educating health protocols, cartoons are also widely
used as a medium of communication about the introduction of the corona virus, the dangers of
covid-19 and vaccines. The lack of research on cartoons as an educational medium makes this
research interesting. The descriptive qualitative methodology used by observing and
referential data related to cartoons shows that cartoons are a very communicative educational
medium. This can be seen in the cartoon media that displays local identities so that people can
understand them well.
Keywords: Cartoon, Communication Media, Covid-19 Pandemic, Educational Medi
Introduction to “Liput Semara” Creative Composition Pengantar Komposisi Kreasi “Liput Semara”
Garapan Liput Semara dilatarbelakangi oleh sebuah rasa cinta yang pernah penata alami. Dimana rasa cinta tersebut
terjadi karena sebuah pertemuan kali pertama kepada seorang wanita yang menyebabkan muncul rasa saling suka,
hingga berujung pada menjalin hubungan asmara dan mengikat janji cinta yang pantang diingkari. Ungkapan
rasa cinta tersebut dijadikan sebagai pijakan dasar penata menggarap garapan komposisi karawitan Liput Semara.
Adapun pengertian liput dapat diartikan sebagai suasana hati ketika terbawa akan suatu perasaan, dan semara yang
diambil dari mitologi Hindu sebagai simbol rasa cinta. Dari karya komposisi Liput Semara ini terinspirasi dari
wujud rasa cinta penata terhadap seorang wanita yang pernah penata cintai. Garapan Liput Semara merupakan
garapan tradisi dengan mengambil bentuk komposisi kreasi yang menggunakan media ungkap gamelan Semar
Pegulingan Saih Pitu. Mengenai struktur, penata menggunakan struktur Tri Angga yang terdiri dari Kawitan,
Pengawak dan Pengecet sebagai struktur utama. Tahapan proses dari karya ini melalui proses elaborasi tahapan,
dimana tahapan-tahapan tersebut diambil dari konsep Bambang Sunarto dalam buku Metodologi Penciptaan
Seni dan buku Wayan Senen yang berjudul Wayan Beratha – Pembaharu Gamelan Kebyar. Sehingga dari elaborasi
tersebut menghasilkan tahapan penalaran, kreasi, menahin dan ngelesin.
Kata kunci: Cinta, Kreasi Musik, Modulasi, Elaborasi
Neo Nolin “Genre” New Music
The development of Mandolin music today is experiencing very rapid
development. We can see this in the presence of various artistic creativities
that are present in the midst of society. The presence of artistic creativity is
due to the opening of wide creative spaces for the younger generation who
love traditional music. Various types of new repertoires have appeared to
color the development of Mandolin music today as a result of this freedom of
space to create the repertoire work and the musical instruments. This has
resulted in the emergence of many new musical genres in the community.
The main problems discussed in this study include: What is the form of
renewal carried out in Mandolin music? What are instrument development,
repertoire, and presentation system? This research aims to identify, describe,
and analyze the form of Mandolin music from classical to its development.
Data were analyzed using interpretive qualitative methods, and the results of
the analysis were presented informally in narrative form. The results of this
study indicate that Neo Nolin is a renewal of the existing Mandooin music,
reconstructed to present a new atmosphere, form, and presentation system
that is more aesthetically attractive
PEER Review Karya Tari "Baris Canang" oleh Sanggar Cudamani, Banjar Pengosekan, Ubud pada Tour ke Amerika Serikat
Bentuk dan Makna Pertunjukan Tari Renteng di Desa Saren, Nusa Penida, Klungkung, Bali
This article discusses the meaning of Renteng Dance in the Saren Village of
Nusa Penida. In Bali, there are many ceremonial dances, but recently many
people have created ceremonial dances inspired by the Renteng Dance. This
study focuses on the forms and meanings of the Renteng Dance shown in
Saren Village. Data collected through observation, documentation study,
and interviews with informants were analyzed descriptively using aesthetic
theory and reception. It can be concluded that the people of Saren Village
performed the Renteng Dance in the form of tari lepas which is a dance
performance without stories. This can be seen from the presentation,
choreography, and the music accompanying the performance. Renteng
dance is accompanied by Balinese gamelan Balaganjur music with a specific
movement dance performance structure. Saren community members support
this dance because it has meaning as an expression of faith, social concern,
and the interest in ecological preservation.
Keywords: meaning, renteng dance performance, dewa yadnya ceremony,
Saren village, Nusa Penida, Bal