IAIN Palangka Raya

IAIN Palangkaraya
Not a member yet
    6024 research outputs found

    Pengaruh Financial Literacy, Financial Inclusion dan Akses Permodalan Terhadap Kinerja Keuangan Umkm Kota Palangka Raya

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh financial literacy, financial inclusion dan akses permodalan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner. Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik sampel jenuh yang berjumlah 77 responden yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Taman Wisata Kuliner Sangomang. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Software SPSS 22 For Windows. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel financial literacy berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya dibuktikan dengan original sample sebesar 0,167 dan nilai signifikansi 0,030 < 0,05. Variabel financial inclusion berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya dibuktikan dengan original sample sebesar 0,250 dan nilai signifikansi 0,002 < 0,05. Variabel akses permodalan berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya dibuktikan dengan original sample sebesar 0,655 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Variabel financial literacy, financial inclusion dan akses permodalan berpengaruh signifikan secara simultan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Besaran pengaruh variabel financial literacy, financial inclusion dan akses permodalan terhadap kinerja keuangan UMKM kota Palangka Raya dibuktikan dengan nilai R2 sebesar 87,8 % dan 12,2 % di pengaruhi variabel lain yang tidak diteliti Abstract This study aims to determine the effect of financial literacy, financial inclusion and access to capital on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya. This study uses a quantitative approach to the type of survey research. The data collection technique used was a questionnaire. Sampling in this study used a saturated sampling technique with a total of 77 respondents who were actors of Micro, Small and Medium Enterprises at the Sangomang Culinary Tourism Park. The analytical tool used in this research is SPSS 22 For Windows Software. Based on the results of the study it can be concluded that the financial literacy variable has a positive and significant effect on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya as evidenced by the original sample of 0.167 and a significance value of 0.030 <0.05. The financial inclusion variable has a positive and significant effect on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya as evidenced by the original sample of 0.250 and a significance value of 0.002 <0.05. The access to capital variable has a positive and significant effect on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya as evidenced by the original sample of 0.655 and a significance value of 0.000 <0.05. The variables financial literacy, financial inclusion and access to capital have a significant simultaneous effect on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya with a significance value of 0.000 <0.05. The magnitude of the influence of the variables financial literacy, financial inclusion and access to capital on the financial performance of MSMEs in the city of Palangka Raya is evidenced by the R2 value of 87.8% and 12.2% is influenced by other variables not examine

    Fenomena Selfie Di Platform Tiktok Pada Mahasiswa Iain Palangka Raya

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena selfie di platform TikTok. Fenomena ini menjadi sangat mencolok karena TikTok telah menjadi salah satu platform media sosial yang paling populer, terutama di kalangan generasi muda. Selfie, sebagai bentuk ekspresi diri, telah mengalami transformasi yang signifikan melalui penggunaan filter, efek kreatif, dan tren konten di TikTok. Fenomena tiktok bukanlah suatu yang aneh di kalangan masyarakat khususnya mahasiswa. Fenomena selfie di paltform tiktok kini telah menjadi hal wajib dilakukan. Terkadang sebagian dosen di suatu kampus memberikan tugas dan penilaian melalui media sosial tiktok dimana mengharuskan mahasiswanya menampilkan tugas di platform tiktok melalui video yang memperlihatkan mahasiswa itu sendiri dalam mengekspresikan dan menjelaskan hasil dari tugas yang diberikan oleh dosen. Adapun metode dalam penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena selfie di TikTok mencerminkan dinamika budaya dan tren saat ini. Pengguna TikTok cenderung menggabungkan unsur kreativitas dengan ekspresi diri dalam setiap selfie mereka. Filter dan efek visual menjadi sarana utama untuk mengekspresikan identitas digital mereka. Abstract This research aims to analyze the selfie phenomenon on the TikTok platform. This phenomenon is very striking because TikTok has become one of the most popular social media platforms, especially among the younger generation. Selfies, as a form of self-expression, have undergone a significant transformation through the use of filters, creative effects and content trends on TikTok. The TikTok phenomenon is not something strange among the public, especially students. The selfie phenomenon on the TikTok platform has now become a mandatory thing to do. Sometimes some lecturers on a campus give assignments and assessments via social media TikTok which requires students to display assignments on the TikTok platform via videos showing the students themselves expressing and explaining the results of the assignments given by the lecturer. The method in this research uses a type of qualitative research with a phenomenological approach. Data collection techniques use observation, interviews and documentation techniques. The research results show that the selfie phenomenon on TikTok reflects cultural dynamics and current trends. TikTok users tend to combine creativity with self-expression in each of their selfies. Filters and visual effects have become the main means of expressing their digital identity

    Strategi Pengembangan Kerajinan Getah Nyatu Pada Warga Binaan Dewasa Laki-Laki Di Rutan Kelas Ii A Kota Palangka Raya

    No full text
    Abstrak Sejalan dengan perkembangan zaman saat ini kerajinan getah nyatu belum banyak yang bisa mengerjakannya, warga binaan dewasa laki-laki di Rutan Kelas II A dalam pembinaan lebih menggunakan keterampilan yang dimiliki untuk dapat melakukan pengembangan kerajinan getah nyatu. Penelitian ini bertujuan: 1) Mengetahui dan menganalisis strategi pengembangan kerajinan getah nyatu pada warga binaan dewasa laki-laki di Rutan Kelas II A Kota Palangka Raya. 2) Mengetahui dan mendeskripsikan target yang diperoleh dari hasil pengembangan kerajinan getah nyatu pada warga binaan dewasa laki-laki di Rutan Kelas II A Kota Palangka Raya. 3) Mengetahui kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan kerajinan getah nyatu pada warga binaan dewasa laki-laki di Rutan Kelas II A Kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik penentuan informan menggunakan purposive sampling. Adapun teknik pengabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik serta analisis data menggunakan koleksi data, pengolahan data, penyajian data dan menarik kesimpulan. Temuan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa 1) Strategi pengembangan kerajinan getah nyatu yaitu dengan menggunakan 6 strategi, yaitu strategi produksi, strategi pemasaran, strategi promosi, strategi keuangan, strategi sumber daya manusia (SDM) dan strategi fungsional. 2) Target yang diperoleh dari hasil pengembangan kerajinan getah nyatu yang dijalankan di Rutan Kelas II A ini tidak ada target penjualan yang dilakukan dan bukan berorientasi profit. Karena bukan untuk mencari laba atau keuntungan. 3) Kendala yang dihadapi dalam upaya pengembangan ada 2, yaitu kendala eksternal dan kendala internal adalah langkanya bahan baku getah nyatu, tingkat produksi dan distribusi. Abstract In line with the development of the current era, not many nyatu sap crafts can do it. Adult male residents in Class II A detention centers use their skills to be able to develop nyatu sap crafts. This study aims to: 1) Know and analyze the strategies for developing nyatu resin crafts in adult male residents in Class II A Detention Center, Palangka Raya City. 2) Knowing and describing the targets obtained from the results of the development of nyatu sap crafts for adult male residents in Class II A Detention Center, Palangka Raya City. 3) Knowing the obstacles faced in efforts to develop nyatu sap crafts for adult male residents in Class II A Detention Center, Palangka Raya City. This study uses descriptive qualitative methods, with data collection techniques carried out in the form of observation, interviews and documentation. The informant determination technique used purposive sampling. The data validation technique uses source triangulation and technical triangulation as well as data analysis using data collection, data processing, data presentation and drawing conclusions. The findings of this study can be concluded that 1) The strategy for developing nyatu sap crafts is by using 6 strategies, namely production strategy, marketing strategy, promotion strategy, financial strategy, human resource strategy (HR) and functional strategy. 2) The target obtained from the results of the development of nyatu sap crafts which are carried out in the Class II A detention center has no sales target and is not profit oriented. Because it's not for profit or profit. 3) There are 2 constraints faced in the development effort, namely external constraints and internal constraints, namely the scarcity of raw sap, the level of production and distribution

    Praktik Tawar-Menawar Barang Di Pasar Kota Palangka Raya (Studi Perbandingan Pasar Besar Dan Pasar Blauran Kota Palangka Raya)

    No full text
    Abstrak Praktik tawar-menawar sering dilakukan di beberapa pasar tradisional. Pasar Besar dan pasar Blauran merupakan pasar tradisional di Palangka Raya yang menggunakan sistem tawar-menawar dalam jual beli. Tawar-menawar biasanya digunakan untuk membeli barang seperti pakaian, sendal, sepatu, tas dan lain-lain. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui (1) Praktik tawar-menawar barang di pasar Besar kota Palangka Raya, (2) Praktik tawar-menawar barang di pasar Blauran kota Palangka Raya dan (3) Perbandingan praktik tawar-menawar barang di pasar Besar dan pasar Blauran kota Palangka Raya. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research). Subjek dalam penelitian ini adalah 2 pedagang serta 2 pembeli di pasar Besar dan 2 pedagang dan 2 pembeli di pasar Blauran. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Praktik tawar-menawar di pasar Besar diawali dengan pembeli yang langsung datang ke toko baju dan pedagang hanya menunggu pembeli di toko. Tawar-menawar bisa diawali oleh pembeli maupun pedagang. Barang yang sudah dibeli bisa dikembalikan asalkan memiliki janji. Pelayanan pedagang yang baik yaitu senyum, ramah da menjelaskan bahan atau jenis kain. (2) Tawar-menawar di pasar Blauran diawali dengan pedagang yang menawarkan barang dagangannya kepada pembeli yang lewat di depan lapaknya. Tawar-menawar bisa diawali oleh pembeli maupun pedagang. Barang yang sudah dibeli bisa dikembalikan ada yang harus memiliki janji dan ada yang tidak. Pelayanan pedagang yang baik ramah, mau ditawar, menjawab pertanyaan pembeli dengan baik dan membolehkan pembeli memcoba-coba barang. (3) Perbedaan tawar-menawar di pasar Besar dan pasar Blauran adalah pedagang di pasar Besar hanya diam menunggu pembeli di tokonya sedangkan pedagang di pasar Blauran pedagang memanggil pembeli yan lewat di depan lapaknya. pedagang di pasar Besar bisa mengembalikan barang asalkan memiliki janji sedangkan di pasar Blauran ada pedagang yang membolehkan pengembalian barang tanpa memiliki janji. Abstract Bargaining practices are often carried out in several traditional markets. Pasar Besar and Pasar Blauran are traditional markets in Palangka Raya that use the bargaining system in buying and selling. Bargaining is usually used to buy goods such as clothes, sandals, shoes, bags and others. The purpose of this research is to find out (1) The practice of bargaining goods in the Besar market of Palangka Raya city, (2) The practice of bargaining goods in the Blauran market of Palangka Raya city and (3) Comparison of bargaining practices in the Besar market and the Blauran market of Palangka Raya city. The approach in this research is descriptive approach. This research is a field research. The subjects in this study were 2 traders and 2 buyers in Besar market and 2 traders and 2 buyers in Blauran market. Data collection techniques using observation, interview and documentation techniques. The results of this study are (1) The practice of bargaining in the Besar market begins with buyers who come directly to the clothing store and traders only wait for buyers in the store. Bargaining can be initiated by both buyers and traders. Goods that have been purchased can be returned as long as they have a promise. Good merchant services are smiling, friendly and explaining the material or type of fabric. (2) Bargaining at the Blauran market begins with traders offering their merchandise to buyers passing in front of their stalls. Bargaining can be initiated by both buyers and traders. Goods that have been purchased can be returned, some must have a promise and some do not. Good merchant services are friendly, willing to bargain, answer buyers' questions well and allow buyers to try on goods. (3) The difference between bargaining in the Besar market and the Blauran market is that traders in the Besar market only quietly wait for buyers in their shops while traders in the Blauran market call buyers who pass in front of their stalls. traders in the Besar market can return goods as long as they have a promise while in the Blauran market there are traders who allow the return of goods without having a promise

    Strategi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Dalam Mengoptimalkan Pengembangan Pemasaran Kerajinan Getah Nyatu

    No full text
    Abstrak Strategi adalah suatu proses untuk mencapai tujuan jangka Panjang. Sehingga dalam menjalankan usaha, khususnya Kerajinan Getah Nyatu diperlukan Strategi Pemasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi Pemasaran Kerajinan Getah Nyatu, Pengembangan Strategi pemasaran Kerajinan Getah Nyatu untuk selanjutnya dan Kendala yang di hadapi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dalam mengoptimalkan pengembangan pemasaran Kerajinan Getah Nyatu. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan kualitatif dan konseptual. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah 2 orang subjek dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Tengah, 1 orang subjek dari Dekranasda Central Borneo Souvenir dan 2 orang informan yang mana satu orang sebagai pelaku atau pengrajin kerajinan getah nyatu yang telah memenuhi kriteria dan satu orangnya sebagai informan tambahan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah Observasi, Wawancara dan Dokumentasi kemudian di analisis melalui tahapan Collection, Reduction, Display dan Conclusing drawing. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Strategi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dalam Mengoptimalkan Pengembangan Pemasaran Kerajinan Getah Nyatu yakni dengan cara melakukan upaya pembinaan dan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi dengan pendirian Gedung Central Borneo Souvenir yang mana Dewan Kerajinan Nasional Daerah juga berperan aktif melakukan kerja sama pameran, event-event dengan instansi terkait seperti OJK, BI dan Perbankan lainnya, serta gencarnya promosi Tim Sosial Media Dekranasda melakukan pemasaran Kerajinan Pengrajin Industri kecil menengah yang menitipkan barang kerajinan di Central Borneo Souvenir melalui platform market online E-Commerce www.Toko kalteng Berkah. Com. Harga yang ditawarkan untuk Kerajinan Getah Nyatu berdasarkan dari tingkat kerumitan dan banyaknya kreasi. Kendalanya yakni terbatasnya kemampuan pengrajin dalam memenuhi keinginan pelanggan, sulitnya mendapatkan bahan baku getah nyatu, kurangnya rantai pasokan sehingga terjadinya persaingan. Abstract Strategy is a process to achieve long-term goals. So that in running a business, especially Nyatu Rubber Crafts, a Marketing Strategy is needed. This study aims to determine the Marketing Strategy for Getah Nyatu Crafts, the Development of a Marketing Strategy for Getah Nyatu Crafts in the future and the constraints faced by the Regional National Crafts Council (Dekranasda) in optimizing the marketing development for Getah Nyatu Crafts. This research is a field research using descriptive qualitative method through a qualitative and conceptual approach. The subjects in this study were 2 subjects from the Office of Industry and Trade of Central Kalimantan Province, 1 subject from the Dekranasda Central Borneo Souvenir and 2 informants where one person was the actor or craftsman of the getah nyatu crafts who met the criteria and one person was the informant. addition. Data collection techniques in this study were observation, interviews and documentation then analyzed through the stages of Collection, Reduction, Display and Conclusive drawing. The results of the study can be concluded that the Strategy of the Regional National Crafts Council (Dekranasda) in Optimizing the Marketing Development of Getah Nyatu Crafts is by carrying out coaching efforts and collaborating with the Provincial Government by establishing the Central Borneo Souvenir Building in which the Regional National Crafts Council also plays an active role in collaborating exhibitions, events with related agencies such as OJK, BI and other banks, as well as the incessant promotion of the Dekranasda Social Media Team conducting marketing for small and medium-sized industrial craftsmen who deposit handicrafts in Central Borneo Souvenirs through the online market platform E-Commerce www.Toko Kalteng Berkah.com. The price offered for Getah Nyatu Crafts is based on the level of complexity and the number of creations. The obstacles are the limited ability of craftsmen to fulfill customer desires, the difficulty of obtaining raw materials for getah nyatu, the lack of a supply chain resulting in competition

    Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Tingkat Kemiskinan Di Kalimantan Tengah Tahun 2013-2021

    No full text
    Abstrak Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan masyarakat dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam data BPS Kalimantan Tengah kemiskinan mengalami penurunan setiap tahunnya tetapi pertumbuhan ekonominya tidak stabil sehingga tahun 2021 kemiskinan mengalami kenaikan. Oleh karena itu, tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 2013-2021. Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif secara time series (tahun 2013-2021) dan jenis penelitian ini menggunakan penelitian kausal sebagai identifikasi hubungan sebab akibat. Metode pengumpulan data menggunakan teknik data sekunder melalui sumber website BPS Provinsi Kalimantan Tengah. Maka pengambilan data sampel dari data pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan dari tahun 2013 sampai 2021 atau selama 9 tahun. Sedangkan teknik analisis data menggunakan SPSS 24 dan metodenya dilakukan secara regresi linear sederhana. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif secara signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Semakin tinggi pertumbuhan ekonomi maka tingkat kemiskinan akan semakin menurun. Sedangkan hasil uji koefisien determinasi (R2) dapat diketahui bahwa pengaruh variabel bebas (pertumbuhan ekonomi) terhadap variabel terikat (tingkat kemiskinan) sebesar 83,7%, sedangkan sisanya 16,3% dipengaruhi oleh variabel lain. Poverty is seen as the inability of society from an economic standpoint to meet basic needs. In Central Kalimantan BPS data poverty has decreased every year but economic growth is unstable so that in 2021 poverty will increase. Therefore, the aim is to find out how economic growth influences the poverty rate in Central Kalimantan Province in 2013-2021. Abstract Poverty is seen as the inability of society from an economic standpoint to meet basic needs. In Central Kalimantan BPS data poverty has decreased every year but economic growth is unstable so that in 2021 poverty will increase. Therefore, the aim is to find out how economic growth influences the poverty rate in Central Kalimantan Province in 2013-2021. This study uses a quantitative analysis method in a time series (2013-2021) and this type of research uses causal research to identify causal relationships. The data collection method uses secondary data techniques through the BPS website of Central Kalimantan Province. Then taking sample data from economic growth and poverty data from 2013 to 2021 or for 9 years. While the data analysis technique uses SPSS 24 and the method is carried out by simple linear regression. The results of the study concluded that the variable economic growth has a significant negative effect on the poverty rate. The higher the economic growth, the poverty rate will decrease. Meanwhile, the results of the test for the coefficient of determination (R2) show that the effect of the independent variable (economic growth) on the dependent variable (poverty level) is 83.7%, while the remaining 16.3% is influenced by other variables

    Penyelesaian Wanprestasi Dalam Sewa Menyewa Rumah Kos Mahasiswa Di Kecamatan Jekan Raya

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi dengan pelanggaran sewa menyewa rumah kos. Dalam perjanjian ini memiliki permasalahan yang terjadi karena tidak sesuai dengan isi perjanjian sewa menyewa yang telah dilakukan antara pemilik dan penyewa sehingga mengakibatkan wanprestasi. Fokus penelitian ini adalah (1) Bagaimana kronologi terjadinya wanprestasi sewa menyewa rumah kos mahasiswa di Kecamatan Jekan Raya (2) Bagaimana penyelesaian wanprestasi sewa menyewa rumah kos mahasiswa di Kecamatan Jekan Raya. Penelitian ini termasuk yuridis empiris yaitu dengan cara turun langsung kelapangan untuk mendapatkan informasi mengenai sewa menyewa dengan cara pendekatan yuridis sosiologis yaitu objek kajian mengenai perilaku masyarakat. Objeknya adalah sewa menyewa rumah kos di Kecamatan Jekan Raya yang terkait wanprestasi. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan wawancara, observasi serta dokumentasi sebagai alat pendukung penelitian. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa sewa menyewa rumah kos belum sesuai dengan isi perjanjian mengenai kronologi terjadinya wanprestasi sewa menyewa rumah kos yaitu jangka waktu pembayaran, tidak menjaga fasilitas rumah kos dengan baik, tidak menjaga kebersihan rumah kos, menambah penghuni rumah kos. Mengenai permasalahan tersebut penyewa melanggar perjanjian sehingga tidak sesuai dengan teori pacta sunt servanda. Adapun penyelesaian dalam wanprestasi ini dilakukan melalui jalur non litigasi yaitu negosiasi dan mediasi, seperti penyelesaian secara musyawarah dari pemilik rumah kos akibat wanprestasi berupa dikeluarkan dari rumah kos, adanya peringatan dan perdamaian antara pemilik dan penyewa. Pada dasarnya penyelesaian tersebut sebagai bentuk pertanggung-jawaban atas kerugian dari sewa menyewa sehingga penyelesaian ini sesuai dengan teori tanggung jawab. Abstract This research was motivated by a violation of the lease of a boarding house. In this agreement, there are problems that occur because it is not in accordance with the contents of the lease agreement that has been made between the owner and the tenant resulting in default. The focus of this research is (1) How is the chronology of default in renting student boarding houses in Jekan Raya District (2) How is the settlement of default in renting student boarding houses in Jekan Raya District. This research includes empirical juridical, namely by going directly to the field to get information about leasing by means of a sociological juridical approach, namely the object of study of community behavior. The object is the lease of a boarding house in Jekan Raya District related to default. The data collection techniques used are interviews, observation and documentation as supporting tools for research. The results of this study can be seen that the lease of a boarding house is not in accordance with the contents of the agreement regarding the chronology of default in the lease of a boarding house, namely the payment period, not maintaining the boarding house facilities properly, not maintaining the cleanliness of the boarding house, increasing the occupants of the boarding house. Regarding these problems, the tenant violates the agreement so that it is not in accordance with the theory of pacta sunt servanda. The settlement in this default is carried out through non-litigation channels, namely negotiation and mediation, such as deliberative settlement from the owner of the boarding house due to default in the form of being expelled from the boarding house, warning and peace between the owner and the tenant. Basically, the settlement is a form of responsibility for the loss of the lease so that this settlement is in accordance with the theory of responsibility

    Status Halal Makanan Pada Layanan Go-Food Di Kota Palangka Raya

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi dari berkembangnya kemajuan teknologi go-food yang diminati masyarakat sebagai pelaku usaha maupun konsumen dalam penggunaan jasa layanan pesan antar makanan pada go-food dengan tujuan mengetahui perlindungan makanan halal pada layanan go-food di kota Palangka Raya. Fokus penelitian ini adalah mengkaji status halal makanan pada layanan go-food di Kota Palangka Raya. Subjeknya adalah driver gojek di Kota Palangka Raya yang didasarkan pada teori perlindungan hukum, teori Sadd aż-Żarī’ah dan teori maṣlaḥah. Data penelitian dihimpun dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini: (1) upaya driver memberikan layanan kepada konsumen terkait informasi produuk halal pada aplikasi go-food hanya sebatas pada jika ada konsumen yang menanyakan mengenai kehalalan rumah makan tersebut karena pada dasarnya belum ada kewajiban driver dalam memberikan informasi kehalalan makanan kepada konsumen. (2) Belum adanya syarat dan ketentuan yang spesifik mengatur kehalalan makanan pada aplikasi Go-Food bagi pelaku usaha yang mendaftarkan usaha rumah makan membuat konsumen belum sepenuhnya mendapatkan perlindungan hukum. Salah satu bentuk perlindungan hukum sementara untuk konsumen mengenai produk makanan dan minuman yang tidak bersertifikat halal pada saat ini yaitu dengan melihat daftar menu yang ditampikan, bahan, serta komposisi produk makanan dan minuman maupun lainnya. Hal ini bertujuan untuk mencegah mengenai produk makanan dan minuman yang belum jelas jaminan kehalalannya. Abstract The background of this research is the development of advances in go-food technology which is of interest to the public as business actors and consumers in the use of food delivery services on go-food with the aim of knowing the protection of halal food in go-food services in the city of Palangka Raya. The focus of this research is to examine the halal status of food in go-food services in Palangka Raya City. The subject is gojek drivers in Palangka Raya City which are based on the theory of legal protection, Sadd aż-Żarī'ah theory and masṣlaḥah theory. The research data was collected using observation, interview and documentation methods. The results of this study: (1) the efforts of drivers to provide services to consumers related to information on halal products on the go-food application are only limited to if there are consumers who ask about the halalness of the restaurant because basically there is no obligation for drivers to provide information on halal food to consumers. (2) The absence of specific terms and conditions governing food halalness in the Go-Food application for business actors registering restaurant businesses means that consumers do not fully receive legal protection. One form of temporary legal protection for consumers regarding food and beverage products that are not halal certified at this time is by looking at the list of displayed menus, ingredients, and composition of food and beverage products and others. This aims to prevent food and beverage products whose halal guarantee is unclea

    Praktik Jual Beli Tanah Secara Pemisahan Horizontal Di Desa Sungai Cabang Barat Kabupaten Sukamara

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi adanya praktik jual beli tanah seperti yang telah terjadi di Desa Sungai Cabang Barat Kab. Sukamara yang menerapkan jual beli tanah tanpa pohon kelapa yang melekat dengan tanah tersebut dengan alasan masih membutuhkan kelapanya atau biasa disebut secara pemisahan horizontal yang kemudian terjadi permasalahan ketidak jelasaan akad di awal tentang jual beli tanah ini. Oleh karena itu kajian ini difokuskan pada praktik jual beli tanah secara pemisahan horizontal serta perspektif hukum ekonomi syariah mengenai praktik jual beli tanah secara pemisahan horizontal yang metode melalui pendekatan socio-legal dengan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukan permasalahan yang melatarbelakangi praktik jual beli tanah secara pemisahan horizontal terjadi karena transaksi itu hanya diikrarkan secara lisan karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat serta tidak di buatnya surat jual beli atau kwitansi, pada ikrar tersebut tidak ada membahas tentang pemisahan tanah dan kelapanya tetapi hanya ingin memanfaatkan hasil kelapa tersebut. Serta perspektif hukum ekonomi syariah dalam jual beli tanah secara pemisahan horizontal transaksinya hanya diikrarkan secara lisan menurut teori jual beli tsunaya batal jual beli yang terjadi secara pemisahan horizontal karena ketidak jelasan perjanjian atau kesepakatan diawal yang terkait pemanfaatan pohon kelapanya. Abstract This research is motivated by the practice of buying and selling land as has occurred in Sungai Branch Barat Village, Kab. Sukamara implemented the sale and purchase of land without coconut trees attached to the land on the grounds that they still needed the coconuts or what is usually called horizontal separation, which then resulted in the problem of unclear contracts at the beginning regarding the sale and purchase of this land. Therefore, this study focuses on the practice of buying and selling land using horizontal separation as well as a sharia economic law perspective regarding the practice of buying and selling land using horizontal separation using a socio-legal approach with qualitative methods. The results of the research show that the problem behind the practice of buying and selling land using horizontal separation occurs because the transaction is only pledged verbally because it has become a community habit and no sale and purchase letter or receipt is made. utilize the coconut products. As well as the perspective of sharia economic law in buying and selling land in a horizontal separation, the transaction is only pledged verbally according to the Tsunaya sale and purchase theory, the sale and purchase which occurred in a horizontal separation was canceled due to the lack of clarity in the agreement or agreement at the beginning regarding the use of coconut trees

    Kewajiban Nafkah Rumah Tangga Bagi Suami Yang Serumah Dengan Mertua Di Kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya

    No full text
    Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya pasangan suami isteri yang tinggal bersama mertua di kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya dikarenakan adanya keterbatasan ekonomi sehingga memunculkan konflik dalam pemberian nafkah oleh suami yang dirasa kurang mencukupi bagi isteri dan juga harus memberikan nafkah kepada mertua. Oleh karena itu, Penelitian ini difokuskan pada kewajiban nafkah rumah tangga bagi suami yang serumah dengan mertua di kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya. Penelitian ini merupakan Penelitian hukum empiris dengan tipe sosiologi hukum yang bersifat deskriptif kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam Penelitian adalah dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Subjek Penelitian adalah 6 (enam) orang atau 3 (tiga) pasangan yang tinggal serumah dengan mertua di kecamatan Pahandut Kota Palangka Raya dan 3 (tiga) informan dengan kriteria yang telah ditentukan. Hasil penelitian: (1) Dalam kewajiban suami yang serumah dengan mertua hanya terpenuhi nafkah primer saja, namun nafkah sekunder, tersier belum dipenuhi dengan baik. (2) Kewajiban memberikan nafkah kepada mertua bagi suami wajib jika memiliki kecukupan dari segi ekonomi, namun jika tidak memiliki kecukupan ekonomi maka tidak wajib dan hanya wajib memberikan nafkah kepada isteri dan anak lebih dulu. (3) Adapun faktor ekonomi yang sulit dan larangan mertua untuk tinggal terpisahlah yang menjadi alasan pasangan suami isteri di Kota Palangka Raya tetap tinggal satu rumah dengan mertua. Abstract The research was motivated by the fact that there are post-married husband and wife couples who live under the same roof with their in-laws in Palangka Raya due to economic limitations, which creates conflicts in providing a living by the husband who is felt to be insufficient for the wife and also has to provide a living for the in-laws. Therefore, the research focused on the obligation to support husbands who live with their parents-in-law after marriage in Palangka Raya. This research is empirical legal writing with the type of legal sociology and descriptive qualitative. The data collection techniques carried out were observation, interviews, and documentation. The subjects in the research were 3 (three) couples living with their parents-in-law after marriage in Palangka Raya and 3 (three) informants with predetermined criteria. The results of the research: (1) In terms of the husband's obligation to live in the same house with his parents-in-law after marriage, only primary income is fulfilled, but secondary, tertiary, and spiritual income has not been fulfilled properly. (2) The obligation to provide maintenance to the parents-in-law for the husband is obligatory if he is economically sufficient, but if he does not have economic sufficiency then he is not obligated and is only obliged to provide maintenance to his wife and children first. (3) The difficult economic faktors and the prohibition of parents-in-law living separately are the reasons why married couples in Palangka Raya still live in the same house as their in-laws

    5,416

    full texts

    6,024

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    IAIN Palangkaraya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇