71404 research outputs found
Sort by
PENGUKURAN TINGKAT LAYANAN PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN SERVQUAL DAN IMPORTANCE-PERFORMANCE ANALYSIS (IPA)
Pembuatan kuesioner evaluasi layanan merupakan salah satu hal krusial di dalam sistem penjaminan mutu internal pendidikan tinggi. Umumnya, atribut kuesioner tidak dikelompokkan ke dalam dimensi kualitas layanan &hanya mengukur pada tingkat kinerja. Saat perguruan tinggi memiliki sumber daya terbatas, akan lebih baik jika memprioritaskan perbaikan pada atribut yang dinilai penting bagi mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah membangun sistem pengukuran tingkat layanan perguruan tinggi pada program studi menggunakan SERVQUAL &importance-performance analysis (IPA).IPA bisa memberikan pandangan yang jelas mengenai atribut layanan mana yang perlu diprioritaskan perbaikannya. Selanjutnya dimensi SERVQUAL(Tangible, reliability, responsiveness, assurance&empathy) akan memudahkan untuk mengenali &merumuskan atribut layanan yang harus dimasukkan ke dalam kuesioner.Kuesioner dibagikan kepada 145 mahasiswa prodi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang. Menggunakan alat ukur SERVQUAL &IPA, program studi dinilai sudah mencapai level layanan yang sangat baik, dengan rata-rata tingkat kesesuaian mencapai 97.22%. Rekomendasi diberikan kepada pihak program studi untuk meningkatkan sarana pembelajaran di dalam kelas &laboratorium yang dinilai belum memadai.
Kata kunci: Kuesioner Evaluasi Layanan, Dimensi Layanan, SERVQUAL, Importance-PerformanceAnalysis (IPA)
Making a service evaluation questionnaire is one of the crucial things in higher education's internal quality assurance system. Generally, questionnaire attributes are not grouped into service quality dimensions &only measure the performance level. When higher education has restricted resources, it would be finer to prioritize refinements to the attributes that are assessedimportant by students. This research's aim is for building a system to measure higher education's service level in the study program using SERVQUAL &importance-performance analysis (IPA). The IPA can provide an evident outlook of which service attributes should be prioritized for improvements. Furthermore, dimension of SERVQUAL(Tangible, reliability, responsiveness, assurance&empathy) will make it easier to recognize &formulate service attributes that must be included in the questionnaire. The questionnaire was sharedto 145informatics engineering study programstudents at the Muhammadiyah University of Malang.By using SERVQUAL & IPA measurement tools, the assessed study program has reached very good level of service, with an average suitability level reaching 97.22%. Recommendations are given to study programs to improve learning facilities in the classroom &laboratory which are rated to be inadequate.
Keywords: Service Evaluation Questionnaire, Service Dimensions, SERVQUAL, Importance-Performance Analysis (IPA
EVALUASI PENERAPAN SISTEM RUJUKAN ONLINE BPJS KESEHATAN DI KOTA SEMARANG
Guna mengatasi permasalahan yang terjadi dalam penerapan sistem rujukan berjenjang, BPJS Kesehatan membuat inovasi berupa sistem rujukan online yang akan memberikan kemudahan dan kepastian dalam mendapatkan layanan rujukan sehingga dapat meningkatkan kepuasan dari Peserta BPJS Kesehatan. Namun, tingkat kepuasan peserta BPJS Kesehatan belum diketahui hingga saat ini dikarenakan belum terdapat evaluasi terhadap penerapan sistem rujukan online khususnya di Kota Semarang.Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem rujukan online BPJS Kesehatan di Kota Semarang dari sisi Peserta BPJS Kesehatan dengan menganalisis faktor – faktor yang berhubungan dengan kepuasan pengguna. Variabel bebas dan terikat dalam penelitian ini mengacu pada teori UTAUT dan teori kesuksesan sistem informasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 100 responden yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang merasa puas terhadap penerapan sistem rujukan online baru mencapai 54% dikarenakan efisiensi administrasi dan efektivitas sistem rujukan online dalam mengurangi antrian masih belum optimal. Hasil analisis statistik menunjukkan variabel yang berhubungan dengan user satisfaction terhadap penerapan sistem rujukan online adalah performance expectancy, effort expectancy, facilitating condition, dan information quality dengan p-value <0,05. Disarankan kepada BPJS Kesehatan untuk menetapkan indikator dari kepuasan peserta BPJS terhadap penerapan sistem rujukan online, mengintegrasikan sistem rujukan online dengan sistem pendaftaran pada fasilitas kesehatan rujukan guna meningkatkan persepsi peserta BPJS Kesehatan terhadap efisiensi sistem, serta memastikan ketersediaan fasilitas pendukung.
Kata Kunci: Kepuasan, Sistem Rujukan Online, BPJS Kesehata
SISTEM INFORMASI PEMETAAN DISTRIBUSI GURUMENGGUNAKAN K-MEANS CLUSTERINGDAN METODE ELBOWGUNA MENDUKUNG KEBIJAKAN ZONASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Pemetaan distribusi Guru merupakan upaya mencapai salah satu tujuan kebijakan Zonasi Pendidikan di Indonesia yaitu pemerataan distribusi Guru pada sekolah-sekolah. Pemetaan dilakukan dengan mengelompokkan sekolah berdasarkan kebutuhan dan ketersediaan Guru, menggunakan metode clustering dengan algoritma K-Means. Algoritma inimemiliki kelemahan pada penentuan jumlah cluster berdasarkan asumsi dan sangat bergantung pada penentuancentroid awal. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, pada penelitian ini digunakan metode Elbow untuk penentuan jumlah clusteroptimal dan perbandingan centroidawal berdasarkan meanataumedian dengan centroid awal secara acak. Hasil penelitian ini adalah Sistem Informasi Pemetaan distribusi Guru yang diujicobakan pada data Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) di Kota Semarang, Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga untuk mengetahui sekolah yang kelebihan atau kekurangan Guru kemudian dianalisis pengaruh penggunaan metode pada kinerja sistem. Hasil analisis kinerja sistem pada proses iterasi dengan jumlah clusteroptimal menggunakan metode Elbowdiperoleh efisiensiiterasi 22,86% dengan tingkat heterogenitas cluster sebesar 75,86%, sedangkan penggunaan centroid awal berdasarkan nilai mean atau median diperoleh efisiensi iterasi 25% dengan cluster yang konsisten dibanding dengan menggunakancentroid awal secara acak. Interprestasi hasil cluster yang divalidasi menggunakan Rekapitulasi Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Form R10) menyatakan bahwa cluster satu dengan enam anggota cluster merupakan cluster dengan sekolah-sekolah yang kelebihan dan ketercukupan Guru, cluster dua dengan enam belas anggota cluster merupakan cluster dengan kekurang Guru paling banyak dibandingkan dengan cluster tiga dengan delapan anggota cluster.
Kata kunci: metode partisi, K-Means, metode Elbow, optimasi centroid, pemetaan guru
Mapping teacher distribution is an effort to achieve one of the objectives of the Education Zoning policy in Indonesia, namely equality of teacher distribution in schools. Mapping is done by grouping schools based on the needs and availability of teachers, using the clustering method with the K-Means algorithm. This algorithm has a weakness in determining the number of clusters based on assumptions and is very dependent on initial centroid determination. To overcome these weaknesses, in this study the Elbow method is used to determine the optimal number of clusters and the comparison of initial centroids based on the mean or median with the initial centroid randomly. The results of this study are the Teacher Distribution Mapping Information System which was tested on State High School (SMAN) data in Semarang City, Semarang Regency, and Salatiga City to find out which schools lack or excess teachers,then analyzed the effect of the use of methods on system performance. The results of the analysis of system performance in the iteration process with the optimal number of clusters using the Elbow method obtained an iteration efficiency of 22.86% with a cluster heterogeneity level of 75.86%, while the use of initial centroids based on the mean or median values obtained 25% iteration efficiency with consistent clusters compared by using random initial centroids. Interpretation of the results of the cluster which was validated using the Data Recapitulation of Educators and Education Personnel (Form R10) states that the cluster one with six cluster members is a cluster with schools with excess and sufficient teachers, cluster two with sixteen cluster members is the cluster with the most teachers lacking compared to cluster three with eight cluster members.
Keywords: partition method, K-Means, Elbow method, centroid optimization, teacher mapping
EFEKTIVITAS PROGRAM GERSASI (GERAKAN IBU SAYANG BAYI WAJIB ASI) DI PUSKESMAS JATI KABUPATEN KUDUS
Salah satu penyebab kematian Bayi di Indonesia yaitu disebabkan dengan masalah gizi yang tentunya sangat erat katiannya dengan pemberian ASI Eksklusif. Indonesia adalah telah melakukan program pemberian ASI Eksklusif guna menciptakan generasi yang memiliki status gizi baik. Program pemberian ASI Eksklusif diselenggarakan di fasilitas pelayanan kesehatan. Puskesmas Jati membuat program pemberian ASI Eksklusif yang bernama GERSASI (Gerakan Ibu Sayang Bayi Wajib ASI) Terhadap Cakupan Asi Eksklusif dengan tujuan utamanya untuk menaikkan angka cakupan ASI Eksklusif. Salah satu permasalahan tentang gizi anak di lingkungan BLUD UPT Puskesmas Jati adalah kurangnya kesadaran dan Pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif atau menyusui bayinya dari umur 0-6 bulan ASI saja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilakukan dengan wawancara mendalam. Penelitian ini dilakukan pada Juli-Agustus 2020. Informan dari penelitian terdiri dari informan utama dan triangulasi. Objek dalam penelitian ini adalah aspek pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi. Pencapaian tujuan dinilai sebagai proses. Sasaran dalam Program GERSASI adalah ibu hamil dan ibu menyusui di Desa Jati Kulon. Program GERSASI melakukan sosialisasi di Desa Jati Kulon pada bulan Maret 2017. Konsensus dilakukan oleh pihak Desa Jati Kulon kepada warga Desa Jati Kulon. Sarana prasarana Program GERSASI adalah buku monitoring, stiker dan sertifikat. Pendampingan dilakukan oleh kader kesehatan yang merupakan motivator ASI. Kader kesehatan dipilih karena dianggap yang dekat dengan masyarakat. Efektivitas Program GERSASI masih kurang efektif dan perlu adanya perbaikan dibeberapa aspek.
Kata Kunci : Efektivitas, ASI Eksklusif, Program GERSAS
PENGARUH MUSIK TERHADAP PENURUNAN TEKANAN DARAH (Studi Intervensi dengan Pemberian Musik Tradisional Degung Sunda dan Musik Instrumental Koi Kitaro Pada Penderita Hipertensi)
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menyumbang tingginya angka kesakitan dan kematian secara global. Hipertensi di Indonesia telah mencapai 34,1% tahun 2018. Penanganan hipertensi secara farmakologi dengan pemberian obat antihipertensi pada penderita hipertensi primer telah dilakukan namun kurang optimal dalam menurunkan angka penyakit hipertensi primer. Pemberian musik sebagai terapi adjuvant yang penting agar dapat menurunkan tekanan darah lebih optimal sehingga terjadi peningkatan angka kesembuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh musik tradisional degung sunda dan musik instrumental koi kitaro terhadap penurunan tekanan darah. Metode penelitian ini pre exsperiment dengan pendekatan One Group Pre and Post Test Design. Populasi penelitian ini seluruh pasien hipertensi primer yang berobat di Puskesmas Gayamsari. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling. Pengukuran besar sampel dengan rumus Federer dan didapatkan sampel penelitian 16 orang diberi musik tradisional degung sunda dan 16 orang diberi musik instrumental koi kitaro selama 30 menit. Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan mann whitney. Hasil penelitian ini signifikan terdapat perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian musik tradisionalmaupun musik instrumental (p=0,0001), pada kelompok musik tradisional penurunan tekanan sistole14,06 mmHg (9,6%) dan penurunan diastole 4,56 mmHg (4,6%) sedangkan pada kelompok musik instrumental penurunan sistole 10,13 mmHg (6,9%) dan penurunan diastole 3,06 mmHg (3,3%) sertaterdapat pengaruh yang signifikan pemberian musik berbagai jenis musik (musik tradisonal dan instrumental) terhadap penurunan tekanan darah (sistole p=0,0001, diastole p=0,002). Kesimpulannya musik tradisional degung sunda dan instrumental koi kitaro dapat menurunkan tekanan darah dan direkomendasikan pasien hipertensi setiap hari melakukan minum obat antihipertensi diikuti dengan mendengarkan dua jenis musik tersebut terutama mendengarkan musik tradisional degung sunda.selama 30 menit agar penurunan tekanan darah lebih optimal dan berlangsung lama.
Kata Kunci : Musik Degung Sunda dan Koi Kitaro, Penurunan, Tekanan Darah
Hypertension was a non-communicable disease that contributed to high morbidity and mortality globally. Hypertension in Indonesia has reached 34.1% in 2018. Treatment of pharmacological (antihypertensive medication) has been done but was less than optimal in reducing the rate of primary hypertension. Giving music as adjuvant therapy was important to reduce blood pressure more optimally so that increased cure rates for hypertension.This study aimed to determine the effect of traditional music of Sundanese Degung andinstrumental music of Koi Kitaro to decrease blood pressure. This method was pre experiment with One Group Pre and Post Test Design. The population were all primary hypertension patients in Gayamsari’s community health center. The sampling technique was purposive sampling. The sample size using the Federer formula and the sample 16 people were given the traditional music of Sundanese Degung and 16 people were given instrumental music of Koi Kitaro for 30 minutes. Analyze used paired t test and mann whitney. The results,there were differenceblood pressure before and after the giving of traditional and instrumental music (p=0,0001), thetraditional music groupdecrease of systole14,06 mmHg (9,6%) and decrease of diastole 4,56 mmHg (4,6%), the instrumental music group decrease of systole 10,13 mmHg (6,9%) and decrease of diastole 3,06 mmHg (3,3%). The effect of giving various types of music (traditional and instrumental) was significantly to decrease of blood pressure (systole p=0,0001 and diastole p=0,002). In conclusion, traditional music of Sundanese Degung and instrumental music of Koi Kitaro coulddecrease blood pressure and and recommended for hypertension patient everyday to drink antihypertensive medication followed by listening to two types of music, especially listening to traditional music degung sunda for 30 minutes so that decreased blood pressure more optimal and permanently.
Keyword:Music of Degung Sunda and Koi Kitaro, Decrease, Blood Pressur
ANALISIS KEUTUHAN WACANA: KOHESI DAN KOHERENSI PADA DONGENG BAHASA JEPANG 日本の昔話における結束性と一貫性
ABSTRACT
Safina, Ghaida. 2020. “Discourse Analysisof Integrity: Cohesion and Coherence in Japanese Fairy Tales”. Thesis, Japanese Language and Culture Study Program, Faculty of Cultural Sciences, Diponegoro University. Supervisor: Elizabeth Ika Hesti ANR., S.S., M.Hum.
This study aims to describe the cohesion and coherence signs, as well as to analyze the cohesiveness and coherence of discourse in Japanese fairy tales. The data in this study were taken from Japanese fairy tales entitled ‘Kaguya Hime’ 、 and ‘Tsuru no Ongaeshi’.
The data collection method in this thesis uses observation method, using tapping as a basic technique, and note taking technique as a follow-up technique. Furthermore, at the data analysis stage using the equivalent method with the technique of sorting the determining elements. Then in presenting the data, using informal methods and presenting the results of the analysis descriptively.
Based on the results of data analysis, it can be concluded that there are 59 data from 10 cohesion signs, namely: reference, substitution, ellipsis, conjunction, repetition, synonym, antonym, hyponym, and collocation. Furthermore, there are coherence in both Fairy Tales showed implicitly and explicitly. This study found some cohesion and coherence signs which indicate that the discourse contained in the Japanese fairy tales entitled “Kaguya Hime” and “Tsuru no Ongaeshi” is cohesive and coherent.
Keywords: discourse, cohesion, coherension
DISONANSI KOGNITIF PADA TOKOH KENJI DALAM NOVEL IN THE MISO SOUP KARYA RYU MURAKAMI 村上龍に書かれた「インザ・ミソスー プ」の主人公のケンジの認知的不協和音の分析である
ABSTRACT
Blair. 2020. "Cognitive Dissonance on Kenji Characters in Ryu Murakami's Novel In The Miso Soup". Thesis, Japanese Language and Culture Study Program, Faculty of Cultural Sciences, Diponegoro University, Semarang. Supervisor Yuliani Rahmah, S. Pd., M.Hum.
This study aims to analyze the intrinsic elements and cognitive dissonance experienced by Kenji of The Novel In The Miso Soup by Ryu Murakami. This study uses the sociology of literature method. The author uses a structural approach and literary psychology approach of analyzing the problems to be studied. The structural approach is used to analyze the intrinsic elements. Meanwhile, literary psychology approach is used to analyze the cognitive dissonance experienced by Kenji's character. This research is classified as a type of library research. The material object used is the novel 「イ ン ザ ・ ミ ソ ス ー プ」by 村上龍 published in Japan by Gentosa Publisher in 1998. The formal object in this study the author uses structural theory by Burhan Nurgiyantoro and cognitive dissonance theory popularized by Leon Festinger.
The results of the analysis in this study that there are intrinsic elements which include characterization, plots, setting, and perspective. The main character is Kenji and the main supporting character is Frank. The storyline in this novel uses a mixed plot. The settings contained in this novel include place settings, time settings, and social settings. The point of view used is the point of view of the first persona "I" as the main character. The author also found that the cognitive dissonance experienced by Kenji's characters was often caused by logical inconsistencies. The efforts to overcome the dissonance experienced by Kenji are more dominant using efforts to reduce dissonance by changing the elements of his behavior.
Keywords: Cognitive Dissonance, Instrinsic Elements, Sociology of Literature, In The Miso Sou
MODALITAS EPISTEMIK ~TO OMOU, ~KAMOSHIRENAI, ~DAROU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG 日本語~と思う、~かもしれない、~だろうにおける モダリティ
ABSTRACT
Santosa, Nadya Rachmania. 2020. "Epistemic Modality ~ To Omou, ~ Kamoshirenai, ~ Darou in Japanese Sentences". Thesis, Japanese Language and Culture Study Program, Faculty of Cultural Sciences, Diponegoro University. The Advisor: Elizabeth Ika Hesti ANR, S.S., M.Hum.
This study aims to describe the structure and meaning of the epistemic modalities ~ to omou, ~ kamoshirenai, ~ darou and to explain the similarities and differences of the epistemic modalities ~ to omou, ~ kamoshirenai, ~ darou. The data in this study were taken from the official Japanese website.
The data collection method in this thesis uses the library method. Then to analyze the structure and meaning of the epistemic modality ~ to omou, ~ kamoshirenai, ~ darou using a qualitative descriptive method. Meanwhile, to analyze the similarities and differences of the epistemic modalities ~ to omou, ~ kamoshirenai, ~ darou using the agih method.
Based on the data analysis that the author has done, it is concluded that the epistemic modalities ~ to omou, ~ kamoshirenai, ~ darou can be attached to verbs, i-adjectives, na-adjectives, and nouns. The epistemic modality ~ to omou states the meaning of possibility that shows personal ideas or opinions that are subjective in the mind of the speaker. The epistemic modality ~ kamoshirenai expresses the meaning of the possibility of situations and general opinion. The epistemic modality ~ darou states the meaning of possibility which indicates the meaning of the conjecture and confirmation.
Keyword: epistemic modality, to omou, kamoshirenai, darou
PAJANAN PESTISIDA SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR): SEBUAH KAJIAN SISTEMATIK
Bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi. Salah satu faktor yang terbukti berhubungan dengan kejadian BBLR yaitu pajanan pestisida pada ibu hamil. Angka petani perempuan yang tinggi pada sektor pertanian akan meningkatkan risiko pajanan pestisida pada wanita hamil. Penelitian bertujuan untuk menggambarkan bagaimana pajanan pestisida dapat menjadi faktor risiko kejadian BBLR. Penelitian ini merupakan kajian sistematik dengan pendekatan meta-sintesis agregasi. Penelusuran artikel difokuskan pada artikel yang meneliti faktor risiko pajanan pestisida terhadap kejadian BBLR pada ibu hamil yang dilakukan pada database online Science Direct, Scopus, PubMed, Springer, Google Scholar, dan Portal Garuda yang dipublikasikan pada tahun 2010-2020. Kriteria artikel yang digunakan yaitu artikel nasional minimal terindeks sinta 4 dan jurnal internasional terindeks. Terdapat 7 artikel yang sesuai dengan kriteria dan topik penelitian. Faktor-faktor yang terbukti meningkatan risiko kejadian BBLR pada ibu hamil yaitu aktivitas pertanian yang berkaitan dengan pestisida, keikutsertaan dalam kegiatan pertanian, kelengkapan APD, penyimpanan pestisida, lama pajanan pestisida, frekuensi pajanan pestisida, jumlah campuran pestisida, dan jenis pestisida yang digunakan. Kelengkapan APD merupakan faktor risiko terbesar terhadap kejadian BBLR dengan tingkat risiko 19 kali. Pajanan pestisida pada ibu hamil menimbulkan akumulasi residu pestisida di dalam tubuh sehingga menurunkan pembentukan hormon tiroid dan IGF-1 yang dapat memicu BBLR.
Kata kunci : berat badan lahir rendah; pajanan pestisida; ibu hami
HUBUNGAN FAKTOR MOBILITAS DAN PRAKTIK PENCEGAHAN DENGAN KEJADIAN MALARIA DI KABUPATEN PURWOREJO
Seorang pekerja migran yang memiliki mobilitas yang tinggi dari daerah endemis malaria dapat meningkatkan faktor pencegahan agar tidak menimbulkan kejadian malaria impor. Oleh karena itu perlu diketahui faktor mobilitas serta praktik pencegahan selama berada di daerah endemis malaria pada pekerja migran masyarakat Kabupaten Purworejo. Penelitian ini menggunakan desain studi case control dan analisis data chi-square dengan tingkat koefisiensi 95%. Teknik sampling dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 200 responden. Hasil penelitian ini terdapat hubungan antara jenis daerah migrasi (p=0,001), pemakaian kelambu berinsektisida (p=0,047) dan pemakaian kemoprofilaksis (p=0,023) dengan kejadian malaria. Tidak terdapat hubungan antara frekuensi mobilitas (p=0,118), lama tinggal di daerah migrasi (p=0,130), pemakaian obat anti nyamuk (p=<1,000), penggunaan pakaian panjang pada malam hari (p=0,128) dan pemasangan kawat kasa (p=<1,000) dengan kejadian malaria. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara frekuensi mobilitas, pemakaian obat anti nyamuk, penggunaan pakaian panjang pada malam hari dan pemasangan kawat kasa dengan kejadian malaria.
Kata Kunci: Mobilitas, Kelambu Berinsektisida, Obat Anti Nyamuk, Kemoprofilaksis, Pakaian Lengan Panjang, Kawat Kasa, Malari