71404 research outputs found
Sort by
ANALISIS KADAR ENZIM CHOLINESTERASE DALAM DARAH PETUGAS FOGGING KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II AMBON
Insektisida peritroid yang dipakai untuk fogging merupakan racun berbahaya, penggunaan insektisida tersebut memiliki dampak bagi tubuh manusia. Dalam 1 tahun di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Ambon dapat melaksanakan fogging sebanyak 4 kali atau per 3 bulan sekali di wilayah perimeter maupun buffer. Pengaruh pemaparan insektisida terhadap pemakaian insektisida dapat diketahui secara dini dengan cara mengukur aktivitas cholinesterase darah pemakai insektisida tersebut. Tujuan penelitian adalah untuk melihat adanya residu peritroid dalam darah berdasarkan pemeriksaan enzim cholinesterase dan enam faktor yang mempengaruhinya pada petugas fooging Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Ambon. Ke-6 faktor tersebut, antara lain: masa kerja, frekuensi fogging, penggunaan APD, pengetahuan, sikap dan praktek. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi cross sectional. Jumlah sampel 18 petugas fogging Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Ambon. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan rata-rata kadar enzim cholinesterase hasilnya dalam rentang normal yaitu 5,320 - 12, 920 U/L maka tidak bisa diuji bivariat. Masa kerja terbanyak 6-10 tahun 44,5%, frekuensi fogging terbanyak 44,4% sebanyak 4x setahun, penggunaan APD yang lengkap dan tidak lengkap masing-masing 50%, pengetahuan baik terdapat 88,9%, sikap baik 77,8% dan praktek baik83,3%.
Kata kunci : Enzim Cholinesterase, Petugas Fogging, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Ambo
ANALISIS KOMPARASI PENDAPATAN USAHATANI SALAK PONDOH PADA LAHAN MILIK PETANI DENGAN LAHANMILIK PERHUTANI DI DESA KAJEKSAN KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN WONOSOBO
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komparasi pendapatan dan nilai R/C Ratio usahatani salak pondoh pada lahan milik petani dengan lahan milik Perhutani serta menganalisis kelayakan usahatani salak pondoh di lahan milik petani dan lahan milik Perhutani di Desa Kajeksan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Februari 2019 di Desa Kajeksan, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo. Metode penentuan lokasi dilakukan dengan cara purposive. Metode penelitian menggunakan survey. Metode penentuan sampel menggunakan sampling quota dengan jumlah sebanyak 60 responden terdiri dari 30 reponden lahan milik petani dan 30 responden lahan milik Perhutani. Analisis data menggunakan analisis kuantitatif yaitu perhitungan biaya usahatani, penerimaan, pendapatan, dan R/C Ratio. Uji beda pendapatan dan nilai R/C Ratio usahatani salak pondoh menggunakan independent sample t-test dan kelayakan usahatani salak pondoh menggunakan one sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata antara rata-rata pendapatan usahatani salak pondoh pada lahan milik petani dengan lahan milik Perhutani, rata-rata pendapatan lebih besar pada lahan milik petani. Pendapatan pada lahan milik petani adalah Rp 45.391.584 sedangkan lahan milik Perhutani adalah Rp 21.011.333. Terdapat perbedaan nyata antara rata-rata nilai R/C Ratio usahatani salak pondoh pada lahan milik petani dengan lahan milik Perhutani, rata-rata nilai R/C Ratio lebih besar pada lahan milik petani. Nilai R/C Ratio pada lahan milik petani adalah 3,9 sedangkan lahan milik Perhutani adalah 2,7. Usahatani salak pondoh pada lahan milik petani dan lahan milik Perhutani layak dijalankan karena rata-rata nilai R/C Ratio lebih dari satu
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN CABAI RAWIT MERAH (Capsicum frutescens L.) TINGKAT RUMAH TANGGA DI KABUPATEN SEMARANG
Cabai rawit merah merupakan bahan masakan yang mempunyai permintaan yang tinggi di tingkat konsumen rumah tangga. Permintaan cabai rawit merah dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor – faktor permintaan cabai rawit merah antara lain harga cabai rawit merah, harga cabai merah keriting, pendapatan konsumen rumah tangga, jumlah anggota keluarga konsumen dan selera konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan cabai rawit merah dan untuk menganalisis elastisitas permintaan cabai rawit merah di Kabupaten Semarang. Lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Metode yang digunakan adalah metode survei dan pemilihan sampel ditentukan dengan metode quota sampling dengan memilih sebanyak 90 responden dari 3 kecamatan di Kabupaten Semarang dengan produksi cabai rawit paling tinggi, sedang dan paling rendah. Pengambilan responden menggunakan metode snowball. Data dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukan bahwa variabel – variabel bebas secara serempak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat. Secara parsial pendapatan konsumen, jumlah anggota keluarga dan selera konsumen berpengaruh terhadap permintaan cabai rawit merah. Sedangkan harga cabai rawit merah dan harga cabai merah keriting tidak berpengaruh terhadap permintaan cabai rawit merah. Elastisitas harga cabai rawit merah bersifat inelastis 0,135 sehingga termasuk kategori barang normal. Elastisitas pendapatan sebesar 0,317. Cabai merah keriting merupakan barang pengganti cabai rawit merah dengan elastisitas 0,122.
Kata kunci : cabai rawit merah, elastisitas permintaan, faktor permintaa
Permalan Persediaan Bahan Setengah Jadi dengan Metode Economical Order Quantity (EOQ) di PT. Kayu Lapis Indonesia
Perusahaan dapat meminimalkan ketidakpastian di masa mendatang dengan menghitung peramalan dan perencanaan persediaan bahan setengah jadi agar dapat mengoptimalkan total biaya persediaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kuantias pemesanan ekonomis, persediaan aman, titik pemesanan ulang, total biaya persediaan. Lokasi penelitian dilakukan secara purposive di PT Kayu Lapis Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah Exponential Smoothing dan Economical Order Quantity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peramalan kebutuhan veneer beli dengan menggunakan metode exponential smoothing didapatkan hasil pada tahun 2020 PT. Kayu Lapis Indonesia membutuhkan veneer, sebanyak 24.778,89 m3 dengan kesalahan peramalan (MAD) alpha 0,9 sebesar 8.988,45 m3. Kuantitas pemesanan ekonomis (EOQ) mendapatkan hasil sebesar 1.923,48 m3 dengan frekuensi pemesanan dilakukan 13 kali setahun. Persediaan aman veneer 12.039,76 m3 dan titik pemesanan ulang sebesar 12.272,06 m3. Biaya total persediaan veneer menggunakan metode kuantitas pemesanan ekonomis sebesar Rp 51.529.236,76,- lebih hemat Rp 27.788.726,6,- dari biaya yang seharusnya dikeluarkan perusahaan
The Stability of Supply and Rice Price in Sukoharjo Regency
Abstract
The economic conditions of rice, whether aspect of supply, demand, or rice price is continue to fluctuate due to changes of the phenomena. Therefore, this commodity needs to be examined in regarding its supply, demand and price aspects. This study aims to analyze the supply and price stability of rice. The study used a secondary data method. The study was conducted in Tawangsari and Mojolaban Districts of Sukoharjo Regency. Data were analyzed by Co variance analysis. The study results showed that supply and rice consumption were surplus and stable. The stability of prices and supply for paddy and rice is occurred in Tawangsari and Mojolaban Districts and Sukoharjo regency as well.
Keywords
paddy, price, rice, stability, suppl
RESPONSE OF CHRYSANTHEMUM’S FARMERS ON THE DEVELOPMENT OF AGROPOLITAN AREA IN BANDUNGAN SUB-DISTRICT, SEMARANG REGENCY
The agropolitan program should get active participation from the community in the surrounding area including farmers, entrepreneurs and the general public where the government as a facilitator in order to improve the welfare of the community. The research objective is to analyze the response of farmers, analyze the relationship of variables to the development of agropolitan areas, and analyze
the socio-economic impact of chrysanthemum’s farmers in the area of development of the Agropolitan program. This research was carried out on 3 December to 3 January 2020 in Clapar Hamlet, Duren Village, Bandungan Sub-district, Semarang Regency in the Gemah Ripah Farmer Group. The method in this research in quantitative and qualitative approaches. The data used in the study are primary and secondary data. Qualitative data analysis by providing labels and narrative descriptions, while quantitative analysis with multiple linier regression. The results showed that in general the farmer’s response to the development of the Agropolitan area was classified as medium, knowledge included medium (83%), attitudes were classified as medium (82%), skills were classified as medium (68%); the results of multiple linier regression analysis showed knowledge, attitudes, and skills affect the response rate of farmers amounted to 55.7% while the remaining 44.3% influenced by other variabels. Variabels X1 and X3 have a positive effect, while variabel X2 have a negatif effect, social and economic impact for the community include: increasing the sense of brotherhood between neighbors, reducing people’s desire for urbanization, openness, mutual cooperation, increased income. Negatif impacts include the fading of local culture, the knowledge of village youth does not develop.
Keywords : agropolitan, chrysanthemum, respons
Financial Feasibility Analysis of Jasmine Flower (Jasminum Sambac L.) Farming Business in Batang Regency, Central Java
Abstract. The objectives of the research were to: (i) analyze the productivity of jasmine flower farming business; (ii) analyze the production cost, revenue, and income of jasmine flower farming business; and (iii) analyze the financial feasibility of jasmine flower farming business in Batang Regency. Survey method was used among farmers of
jasmine flower in Batang Regency. The sampling method was Purposive Quota Non Probability Sampling Method with the number of samples was 63 respondents. The data was analyzed by descriptive qualitative, descriptive quantitative using statistic i.e. data tabulation, business financial analysis, and analysis of One-Sample t-Test. The result of the research shows that: (i) average scale of jasmine flower farming business in Batang Regency was 0.499 acre/farmer with the productivity of 2,793.86 kg/year, or equal to 5,598.92 kg/acre/year; (ii) the value of jasmine flower farming business income was of Rp 36,999,466.74/0.499 acre/year, or equal to the value of Rp 74,147,277.93/acre/year; and (iii) comparison result with Regency’s Minimum Wage and the Level of Deposit Interest Rate shows that jasmine flower farming business had a potential and was feasible to run and developed in Batang Regency
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI KELAPA KOPYOR DI DESA NGAGEL, KECAMATAN DUKUHSETI, KABUPATEN PATI
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani kelapa kopyor di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Penelitian dilaksanakan pada 24 Desember 2019 sampai 20 Januari 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah survei. Metode penentuan sampel yang digunakan yaitu dengan purposive sampling. Jumlah responden sebanyak 45 petani kelapa kopyor. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara dan observasi. Analisis data yang digunakan adalah analisis biaya produksi, penerimaan dan pendapatan, serta analisis statistik yaitu regresi linier berganda Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi rata-rata kelapa kopyor 14 butir, rata-rata biaya produksi Rp 105.907,21/0,030ha/bulan, rata-rata penerimaan Rp 470.000,00,-/0,030ha/bulan untuk kelapa kopyor tipe dalam dan Rp 595.000,00,-/0,030ha/bulan untuk kelapa kopyor tipe genjah, serta rata-rata pendapatan sebesar Rp 338.952,43,-/0,030ha/bulan untuk kelapa kopyor tipe dalam Rp 484.323,55,-
/0,030ha/bulan untuk kelapa kopyor tipe genjah. Faktor jumlah produksi, tenaga kerja dan tipe berpengaruh signifikan terhadap pendapatan kelapa kopyor, sedangkan faktor jumlah pohon tidak berpengaruh secara signifikan.
Kata Kunci: Faktor, Kelapa Kopyor, Pendapatan
FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LAMPER TENGAH KOTA SEMARANG
Kasus pneumonia di Indonesia menempati urutan kedua penyebab kematian pada balita setelah diare. Profil Kesehatan Kota Semarang 2016 menyebutkan bahwa pada tahun 2016 kasus pneumonia balita yang terjadi pada kelompok umur 1 – 4 tahun berjumlah 2.963 kasus (36,5%). Di wilayah kerja Puskesmas Lamper Tengah, jumlah penderita pneumonia yang ditemukan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko kejadian pneumonia pada balita yaitu jenis dinding, jenis lantai, tingkat kepadatan hunian rumah, keberadaan perokok dalam rumah, penggunaan obat nyamuk dalam rumah, penggunaan jenis bahan bakar memasak, keberadaan balita di dapur saat kegiatan memasak, luas ventilasi kamar, keberadaan lubang asap dapur, kebiasaan membuka jendela dan durasi balita dalam rumah
Desain penelitian kasus kontrol dengan jumlah responden 76 orang yang terdiri atas kasus 38 orang dan kontrol 38 orang yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak secara sederhana. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square
Hasil analisis bivariate menunjukan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia adalah jenis dinding rumah (p-value = 0,025), tingkat kepadatan hunian rumah (p-value = 0,021; OR = 3,32), keberadaan perokok dalam rumah (p-value = 0,010; OR = 3,98), keberadaan lubang asap dapur (p-value = 0,039; OR = 2,94), kebiasaan membuka jendela (p-value = 0,022; OR = 3,29). Kesimpulan penelitian ini ialah ada hubungan antara jenis dinding rumah, tingkat kepadatan hunian rumah, keberadaan perokok dalam rumah, keberadaan lubang asap dapur, dan kebiasaan membuka jendela dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lamper Tengah Kota Semarang
Kata kunci : pneumonia, balita, faktor risiko, kasus kontro