71404 research outputs found
Sort by
SUSTAINABLE SUPPLY CHAIN MANAGEMENT:PENGUKURAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PADA RANTAI PASOK PANGAN
HUBUNGAN POSTUR KERJA, DURASI MENGEMUDI DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH (NPB) PADA SOPIR TRUK BARANG ANTAR KOTA DI CV SEMERU PUTRA SEMARANG
Nyeri Punggung Bawah (NPB) ialah sensasi nyeri yang dirasakan pada bagian punggung belakang, otot, saraf, bagian bawah tulang rusuk nomor 12 sampai menuju ujung dalam lipatan pantat dapat disertai penjalaran nyeri dibagian kaki. Berprofesi sebagai sopir truk memiliki risiko gangguan pada otot yang menyebabkan NPB. Faktor penyebabnya berasal dari personal yakni usia, masa kerja, dan indeks masa tubuh. Serta faktor pekerjaan yakni durasi mengemudi dan postur kerja. Dari hasil wawancara sopir truk banyak mengeluhkan nyeri pada punggung bagian bawah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik individu, postur duduk, dan durasi mengemudi dengan keluhan Nyeri Punggung Bawah (NPB) pada sopir truk CV Semeru Putra Semarang. Metode penelitian ini menggunakan explanatory dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan menggunakan rumus Lemeshow sehingga didapat 46 sopir truk dan dilakukan secara daring menggunakan google form. Instrumen penelitian adalah kuesioner, menggunakan BRIEF Survey untuk mengukur postur kerja punggung, lembar VAS (Visual analoque scale) untuk mendeskripsikan keluhan nyeri secara subjektif dan foto postur saat mengemudi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sopir truk mengeluhkan NPB dengan kategori ringan 76,1%, dan berat 23,9%. Dari hasil uji statistik analisis chi-square didapatkan hubungan bermakna antara keluhan NPB pada sopir truk dengan Indeks masa tubuh (α=0,013) dan durasi mengemudi (α =0,047). Sedangkan yang tidak berhubungan yakni masa kerja (α =0,447), postur kerja punggung (α =0,474), dan usia (α=0,247). Saran bagi sopir truk menurunkan berat badan, lakukan peregangan, lakukan perawatan mesin secara rutin dan istirahat apabila sudah lelah.
Kata Kunci : Nyeri Punggung Bawah, Postur Kerja, Durasi Mengemudi, Sopir Tru
EKSISTENSI TOKOH RINDI PADA CERITA PENDEK “NYOMAN RINDI” DAN “POHON KELAPA DI KEBUN BIBI” DALAM KUMPULAN CERITA PEREMPUAN KETUT RAPTI KARYA NI KOMANG ARIANI (KAJIAN FEMINIS EKSISTENSIALIS)
Rakhmah, Nimas Ayu Sofia. 2020. “The existence of the Caracter Rindi in the Short Story “Nyoman Rindi” and “Coconut Tree in Aunt’s Garden” in Collection of Women’s Stories by Ni Komang Ariani. Thesisi. Strata I Program in Indonesian Literature. Faculty of Cultural Sciences, Diponegoro University. Advisor I Laura Andri Retno M., S.S., MA. Advisor II Khothibul Umam, S.S., M.Hum.,
“The existence of the Caracter Rindi in the Short Story “Nyoman Rindi” and “Coconut Tree in Aunt’s Garden” in Collection of Women’s Stories by Ni Komang Ariani are two stories whose contents are interrelated. These two short stories tell about the Balinese women who are still trapped in a patriarchal system. This study reveals the oppression and resistance that occurred in the character Rindi. The goal is to showRindi’s existence as an independent female figureand women who struggle to reject the patriarchal system.
The method in this research is a qualitative method by producing a descriptive data in the form of written sentence from verbal and observed character behavior. The result of the analysis of this studyindicate that the character Rindi is able to show her existence as an independent woman and resisting the oppression she receives. Rindi proves that she is an independent woman and able to determine her own path in life.
Keywords: Short Story, Feminism, Existensialism, Women
HUBUNGAN PENGETAHUAN, KARAKTERISTIK INDIVIDU, INFORMASI DAN KETERSEDIAAN FASILITAS KESELAMATAN TERHADAP PERSEPSI KESELAMATAN PENUMPANG DALAM MENGGUNAKAN KERETA API
Keselamatan penumpang tidak hanya ditentukan oleh keahlian personel atau kru, tetapi juga wawasan dan kemampuan penumpang untuk menerapkan prosedur keselamatan dan menggunakan fasilitas keselamatan dengan benar dan tepat setiap saat dalam keadaan darurat. Persepsi keselamatan dapat mengarahkan penumpang pada perilaku yang efisien dan bertanggung jawab atas keselamatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan usia, jenis kelamin, pengetahuan, informasi dan fasilitas keselamatan dengan persepsi keselamatan penumpang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 penumpang kereta api yang dioperasikan oleh PT KAI Daop IV Semarang yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena dilakukan ketika pandemi Covid-19 sehingga pengambilan data tidak bisa dilakukan secara langsung melainkan menggunakan angket online. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan antara usia dengan persepsi keselamatan penumpang (p-value = 0,050), ada hubungan antara jenis kelamin dengan persepsi keselamatan penumpang (p-value = 0,047), ada hubungan antarainformasi keselamatan dengan persepsi keselamatan penumpang (p-value = 0.000) dan ada hubungan antara fasilitas keselamatan dengan persepsi keselamatan penumpang (p-value = 0.000).
Kata kunci : Persepsi keselamatan penumpang, pengetahuan, karakteristik individu, informasi keselamatan, fasilitas keselamatan di kereta, penumpang kereta ap
Kecernaan Protein dan Retensi Nitrogen pada Domba yang Diberi Silalse Pakan Komplit Berbahan Eceng Gondok dengan Starter Lactobacillus plantarum
Kecernaan Bahan Kering, Bahan Organik, Lemak Kasar dan Total Digestible Nutrients Berbagai Hijauan Secara In Vitro
PEMODELAN DAN KONTRIBUSI TARIKAN PERJALANAN KAWASAN PERDAGANGAN DAN JASA PADA JALAN MENOREH RAYA, SEMARANG
Kawasan perdagangan dan jasa memiliki fungsi untuk melayani kebutuhan masyarakat. Seiring
dengan peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap barang dan jasa, maka semakin mendorong tarikan
perjalanan ke kawasan perdagangan dan jasa. Jalan Menoreh Raya termasuk jalan arteri sekunder dengan
fungsi sebagai kawasan perdagangan dan jasa yang melayani aktivitas berbelanja masyarakat. Kawasan
perdagangan dan jasa ini menghasilkan tarikan perjalanan yang berkontribusi terhadap arus lalu lintas jalan.
Dengan demikian, pemodelan tarikan perjalanan dibutuhkan untuk mengantisipasi permasalahan di masa
mendatang.
Tujuan penelitian adalah untuk memahami hubungan antara tarikan perjalanan dan karakteristik
kawasan perdagangan dan jasa melalui model tarikan perjalanan serta mengetahui kontribusi tarikan
perjalanan kawasan perdagangan dan jasa di Jalan Menoreh Raya.
Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda dan penghitungan kontribusi tarikan
perjalanan kawasan perdagangan dan jasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam satu koridor jalan,
persamaan yang dihasilkan adalah Y = -1,096 + 0,105X
2
+ 0,149X
5
dengan X
2
adalah luas area parkir dan
X
5
adalah jam operasional. Artinya, masyarakat lebih memilih toko dengan area parkir yang luas dan jam
operasional yang tinggi. Variabel luas area parkir dan jam operasional dapat memberikan keleluasaan saat
berbelanja. Semakin luas area parkir yang tersedia menandakan bahwa toko tersebut mempunyai pelanggan
yang banyak, sehingga meningkatkan tarikan perjalanan. Selain itu, semakin tinggi jam operasional dari suato
toko, artinya dapat menyediakan kebutuhan masyarakat dalam rentang waktu yang lebih lama.
Secara lebih spesifik, hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap klasifikasi jenis perdagangan dan
jasa menghasilkan persamaan yang berbeda-beda. Tarikan perjalanan pada jenis toko pakaian dan aksesoris,
toko serba ada, dan warung makan dipengaruhi oleh jumlah pegawai (X
4
). Sementara tarikan perjalanan
restoran serta jasa fotokopi dan jasa pengiriman barang dipengaruhi oleh variabel omset penjualan (X
3
).
Artinya, saat suatu toko memiliki omset penjualan dan jumlah pegawai yang banyak, maka toko tersebut
menarik pelanggan lebih banyak pula, sehingga akan meningkatkan tarikan perjalanan ke setiap jenis
perdagangan dan jasa.
Kawasan perdagangan dan jasa ini berkontribusi 9,75% terhadap arus lalu lintas pada jam puncak
di Jalan Menoreh Raya. Kontribusi terbesar dihasilkan oleh toko serba ada sebesar 24,93%, restoran sebesar
21,09%, dan warung makan sebesar 10,62%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada jam puncak sore
hari, masyarakat cenderung berbelanja kebutuhan sehari-hari dan mencari makan. Fungsi Jalan Menoreh
Raya sebagai penghubung antara pusat kota dengan sub pusat kota membuat arus lalu lintas didominasi oleh
aktivitas pulang dari bekerja. Hal ini berdampak pada kontribusi tarikan perjalanan yang dihasilkan oleh
restoran dan warung makan di mana para pekerja mencari makan dalam perjalanan pulang.
Model ini dapat digunakan untuk mengetahui kontribusi volume lalu lintas yang diakibatkan oleh
aktivitas perdagangan dan jasa terhadap arus lalu lintas pada jalan arteri sekunder yang memiliki kesamaan
karakteristik dengan Jalan Menoreh Raya. Model ini berguna untuk mengantisipasi tarikan perjalanan
kawasan perdagangan dan jasa yang berdampak pada penambahan volume kendaraan. Hal ini dapat
berpotensi meningkatkan beban jalan dan hambatan lalu lintas
ANALISIS SISTEM PROTEKSI KEBAKARAN AKTIF PADA RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT X DI KOTA BANDUNG
Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) adalah bangunan yang memiliki resiko kebakaran yang tinggi. Apabila RSGM mengalami kebakaran akan membawa dampak yang sangat luas. Oleh karena itu diperlukan suatu sistem proteksi kebakaran aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis sistem proteksi kebakaran aktif yang ada pada Rumah Sakit Gigi dan Mulut X di Kota Bandung mengacu pada Permen PU Nomor 26 tahun 2008 dan Pedoman Teknis Prasarana Rumah Sakit, Sistem Proteksi Kebakaran Aktif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam secara daring melalui telfon atau chat, melibatkan 3 (tiga) informan utama dan 3 (tiga) informan triangulasi. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa sistem proteksi kebakaran aktif di Rumah Sakit Gigi dan Mulut X sudah cukup baik di beberapa point, seperti: sudah adanya kebijakan secara tertulis; sudah melakukan identifikasi potensi bahaya dan penilaian resiko; persyaratan dan perundangan yang diacu oleh rumah sakit tidak hanya K3 secara umum, namun sudah terdapat peraturan khusus mengenai sistem proteksi kebakaran dan sudah bekerjasama dengan Dinas Pemadam dan pihak ketiga terkait APAR; rumah sakit sudah memiliki tim penanggulangan bencana kebakaran. Tetapi terdapat juga kekurangan yang ada seperti kebijakan yang belum tersampaikan ke seluruh pekerja dan masih terdapat peralatan sistem proteksi kebakaran aktif yan belum tersedia. Peneliti menyarankan agar kebijakan yang sudah ada sebaiknya di komunikasikan ke semua pekerja agar pekerja memahami maksud dan tujuan tersebut serta perlunya penambahan peralatan untuk melengkapi sistem proteksi kebakaran aktif.
Kata Kunci : Sistem Proteksi Kebakaran Aktif, Kebakaran, Rumah Sakit Gigi dan Mulu
KAITAN ANTARA PAPARAN BISING DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI: SYSTEMATIC REVIEW
Hipertensi memiliki prevalensi yang tinggi di seluruh dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ada kurang lebih 1,13 miliar orang di dunia mengalami hipertensi. Salah satu faktor timbulnya hipertensi adalah pajanan bising yang berlebihan di lingkungan kerja. Namun, bagaimana pengaruh bising terhadap kejadian hipertensi masih belum terlalu jelas.Oleh karena itu peneliti ingin mengkaji kaitan antara paparan bising dengan kejadian hipertensi melalui systematic review. Penelitian dilakukan menggunakan systematic review dengan melakukan penelusuran artikel dalam rentang tahun 2011-2020 melalui database online. Artikel dalam jurnal nasional minimal terindeks Sinta 2 diperoleh dari Google Scholar. Artikel dalam jurnal internasional yang tidak termasuk dalam kategori jurnal predator diperoleh dari PubMed, Scopus, EBSCOhost, dan ProQuest.Dari lima belas artikel, hanya sepuluh artikel yang terkait dengan hipertensi sedangkan lima artikel lain terkait dengan kenaikan tekanan darah. Empat artikel melaporkan tekanan darah mengalami kenaikan setelah terpapar bising dan empat artikel lain melaporkan perbedaan tekanan darah kelompok terpapar dan tidak terpapar bising. Empat artikel menunjukkan paparan bising sebagai faktor risiko hipertensi dan tujuh artikel melaporkan dampak bising terhadap prevalensi hipertensi. Tingginyarisiko dan prevalensi hipertensi dipengaruhi oleh tingkat paparan bising. Melalui Systematic reviewdapat disimpulkan bahwa paparan bising di lingkungan tempat kerja terkait dengan tekanan darah, risiko hipertensi, dan prevalensi hipertensi.
Kata Kunci : paparan bising, hipertensi, lingkungan tempat kerja, systematic
revie
EVALUASI PROGRAM STBM PADA PILAR PERTAMA STOP BABS DI KABUPATEN PEKALONGAN
STBM ini merupakan program untuk mendukung mencapai SDG’s pada poin ke-6, dan STBM ini memiliki 5 pilar dan pada pilar pertama STOP BABS ini merupakan pintu untuk mencapai kondisi higienis dan saniter. BABS juga menyumbang pencemaran pada sumber air, dan menimbulkan penyakit seperti kecacingan dan diare. Kabupaten pekalongan ini termasuk peringkat ke-3 terendah se Jawa Tengah dalam pencapaian ODFnya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi program STBM khususnya pilar pertama di kabupaten pekalongan berdasarkan aspek Input, Proses, dan Outputnya. Penelitian ini merupakan penelitian evaluative deskriptif dengan metode kualitatif, teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan wawancara mendalam dan observasional kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, Fasilitator Kabupaten Pekalongan, dan Sanitarian di Puskesmas Kesesi 1, Puskesmas Wonopringgo, dan Puskesmas Doro 1. Hasil dari penelitian menunjukan pada aspek input kuantitas dan kualitas tenaga masih kurang, kekurangan dana untuk pembangunan fisik, sarana dan prasarana sudah baik dan cukup, tidak adanya kebijakan daerah untuk mendukung penciptaan lingkungan yang kondusif, dan sosialisasi sudah cukup dilakukan. Pada aspek Proses menunjukan belum optimalnya pelaksanaan advokasi, belum terbentuknya fasilitator desa, belum optimalnya kerjasama lintas sektor, tidak dilakukan transect walk yang merupakan tahapan pemicuan, dan juga pelaksanaan monev yang belum maksimal. Kemudian output belum tercapai sesuai target yang ditentukan.Diharapkan dinas kesehatan mengusulkan pembuatan peraturan daerah tentang STBM atau tentang Gerakan STOP BABS, kompetisi desa untuk inovasi untuk mencapai kondisi ODF, dan puskesmas agar membentuk fasilitator desa, atau pengadaan kegiatan gotong royong arisan jamban.
Kata Kunci : Evaluasi, Program STBM, BAB