71404 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KUALITAS INFORMASI SISTEM REKAM MEDIS RAWAT JALAN ELEKTRONIK DENGAN KEPUASAN PENGGUNA DI RSUD DR. (H.C) IR. SOEKARNO
Sistem informasi rekam medis memegang peran yang sangat besar dalam pemenuhan keperluan kesehatan, untuk itu harus bisa menghasilkan informasi yang berkualitas. Adanya perbedaan jumlah kunjungan pada sistem informasi rekam medis dengan data manual yaitu pada jumlah kunjungan yang dibuat petugas, menjadikan sistem informasi kesehatan tersebut tidak mampu menghasilkan kualitas informasi yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan kualitas Informasi dengan kepuasan pengguna sistem informasi rekam medis. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pada akhir bulan desember 2019. Sampel pada penelitian merupakan total populasi, yaitu semua pengguna SIRM sebanyak 90 pengguna sistem informasi rekam medis. Analisis data secara deskriptif dan analitik menggunakan uji statistic chi square. Hasil uji statistik responden sebagian besar pengguna sistem informasi berumur 21 – 30 tahun (51,11%), tingkat pendidikan Akademi / D3 (75,56%), masa kerja lebih dari 7 tahun (42,22 %), dan pengguna sistem informasi rekam medis di unit Poliklinik (28,89 %), didapatkan ada hubungan yang signifikan antara kepuasan kualitas informasi rekam medis ( relevan (p = 0,001), akurat (p = 0,001), penyajian informasi (p = 0,001)) dengan kepuasan pengguna sistem informasi rekam medik di RSUD Dr. (H.C) Ir. Soekarno 2020. Sebagai kesimpulan, kualitas informasi yang dihasilkan SIRM mengenai relevansi, akurasi dan penyajian informasi memiliki hubungan positif dengan kepuasan pengguna. Disarankan kualitas informasi perlu dievaluasi secara periodik sehingga pengguna tetap merasa puas terhadap SIMRM.
Kata kunci : Sistem Informasi Rekam Medis, Kepuasan Penggun
REVIEW : DISTRIBUSI SPASIAL VEKTOR PENYAKIT FILARIASIS DI DAERAH ENDEMIS FILARIASIS
Nyamuk merupakan vektor penyakit filariasis. Beberapa daerah di Indonesia telah dinyatakan sebagai daerah endemis filariasis. Setiap daerah endemis memiliki vektor yang berbeda-beda dan memiliki perilaku yang berbeda. Oleh karena itu, perlu adanya data mengenai sebaran vektor filariasis di daeran endemis filariasis. Sumber data semacam itu dapat dimanfaatkan oleh pemegang kebijakan kesehatan sebagai informasi yang berkaitan dengan distribusi vektor untuk pengendalian penyakit filariasis. Tinjauan ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi vektor filariaisis pada daerah endemis filariasis di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian tinjauan pustaka dengan pendekatan yang disederhanakan. Artikel-artikel penelitian dikumpulkan dari Google Cendekia, Portal Garuda, Sciencedirect, Springer Link, Researhgate, dan PubMed. Hasil dari tinjauan ini mendapatkan spesies nyamuk yang tertangkap di daerah endemis filariasis berasal dari empat genus yaitu Culex, Aedes, Anopheles, dan Mansonia. Kepadatan nyamuk menggigit yang dihitung dengan MHD dan MBR di setiap daerah penelitian berbeda karena waktu penangkapan nyamuk yang berbeda-beda. Tingginya dominansi pada suatu spesies menjadikan spesies tersebut berpotensi menjadi vektor potensial. Perbandingan nyamuk parous dan nulliparous pada hasil penangkapan di tempat penelitian menunjukkan proporsi parous lebih besar. Umur nyamuk tertinggi yaitu Culex quinquefasciatus (28 hari). Hanya terdapat dua spesies nyamuk yang terkonfirmasi sebagai vektor filariasis yaitu Culex quinquefasciatus dan Mansonia indiana.
Nyamuk yang telah terkonfirmasi sebagai vektor filariasis ditemukan menyebar dan berkumpul di sekitar lokasi di mana terdapat kasus filariasis.
Kata kunci : distribusi vektor, vektor filariasis, limfatik filariasi
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN, PENERAPAN PROSEDUR KERJA, PUNISHMENT DAN STRES KERJA TERHADAP SAFETY BEHAVIOR PADA PEKERJA KONSTRUKSI DI PT X
Industri konstruksi memiliki risiko kecelakaan industri yang tinggi dan sebagian besar disebabkan oleh perilaku tidak aman dan tidak melakukansafety behavior. Safety behavioradalah perilaku yang mendukung praktik dan aktivitas keselamatan di tempat kerja, untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Safety behavior dipengaruhi oleh pengetahuan dan kemampuan perilaku tertentu, serta motivasi individu untuk melakukan perilaku tersebut. Berdasarkan teori Antecedents-Behaviour-Consequence (ABC), safety behavior pekerja dikaitkan dengan faktor anteseden dan konsekuensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan, penerapan prosedur kerja, punishment dan stres kerja dengan safety behavior. pada pekerja konstruksi. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dan desain studi cros-sectional. Besar sampel pada penelitian ini sebanyak 60 orang pekerja konstruksi yang dilakukan dengan menggunakan metode accidental sampling. Instrumen penelitian adalah lembar kuesioner untuk pengetahuan, prosedur kerja dan punishment, DASS 21 (Depresi Anxiety Stress Scale 21) kuesioner untuk stres kerja dan, lembar observasi CBC (Critical Behavior Checklist). Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara penerapan prosedur kerja, (p-value= 0,001), punishment (p-value= 0,011), dan stres kerja (p-value= 0,035) dengan safety behavior dan tidak ada korelasi antara safety behavior dengan pengetahuan (p-value= 0,111). Perusahaan harus melakukan pengawasan kepada pekerja dalam menerapkan perilaku keselamatan di tempat kerja dan juga memberikan rewards dan punishment untuk meningkatkansafety behavior pada pekerja.
Kata Kunci : Safety behavior, Pengetahuan, Prosedur Kerja, Punishment, Stres
kerj
PREFERENSI BURUH INDUSTRI LAJANG TERHADAP HUNIAN SEWA DI KECAMATAN UNGARAN TIMUR KABUPATEN SEMARANG
Sektor industri berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian nasional serta menciptakan lapangan
pekerjaan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Semarang, Kecamatan Ungaran Timur ditetapkan sebagai salah satu kawasan
industri dan mayoritas adalah perusahaan industri garmen. Sektor industri di Kecamatan Ungaran Timur didominasi oleh
pekerja perempuan yaitu sebanyak 9.004 pekerja. Tenaga kerja yang terserap di perusahaan industri mengakibatkan
adanya permintaan hunian sewa sementara di sekitar kawasan industri. Pemerintah berupaya untuk menyedikan hunian
sewa formal yang layak huni melalui Program Sejuta Rumah dengan menyediakan Rusunawa Ungaran Tipe Lajang
berukuran 24 m
2
sebagai tempat tinggal sementara bagi para buruh industri lajang perempuan. Namun pada faktanya,
Rusunawa Ungaran Tipe Lajang masih kurang menarik animo dan keinginan para buruh industri lajang. Berdasarkan
data dari pengelola Rusunawa Ungaran tahun 2019, dari 104 unit kamar komposisi penghunian oleh buruh industri lajang
perempuan hanya sebanyak 29 unit. Rendahnya kemampuan mengakses hunian layak yang disediakan secara formal
seringkali mendorong buruh industri lajang untuk memilih tinggal di kamar sewa/kost yang disediakan secara informal
oleh masyarakat di sekitar kawasan industri. Disisi lain hunian sewa informal memiliki akses yang rendah terhadap
pelayanan publik dan seringkali dibangun ala kadarnya. Penyediaan hunian sewa sementara seringkali hanya
berdasarkan persepsi penyedia dan kurang mempertimbangkan preferensi buruh industri lajang yang menjadi target
sasarannya. Buruh industri lajang memiliki perbedaan preferensi saat memilih dan menentukan tempat tinggal sementara.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakteristik hunian sewa buruh industri lajang, karakteristik sosial
ekonomi buruh industri lajang, dan menganalisis preferensi buruh industri lajang berdasarkan tingkat kepentingan dan
kinerja hunian sewa di Kecamatan Ungaran Timur. Metode yang digunakan yaitu statistik deskriptif, skala likert, dan
Importance Performace Analysis. Sampel yang digunakan sebanyak 100 responden meliputi penghuni Rusunawa Ungaran
Tipe Lajang dan Rumah Sewa/Kost. Berdasarkan hasil observasi karakteristik hunian sewa di Kecamatan Ungaran Timur
meliputi rumah sewa/kost yang berukuran 5-10 m
2
dan Rusunawa Ungaran Tipe Lajang dengan ukuran kamar 24 m
.
Pada Rusunawa Ungaran Tipe Lajang telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang bagi buruh industri lajang
perempuan. Sedangkan karakteristik sosial ekonomi buruh indutri lajang di Kecamatan Ungaran Timur adalah buruh
industri lajang perempuan yang berada pada usia <20 tahun dengan status sebagai pekerja kontrak dan merupakan
migran/pendatang, tingkat pendidikan terakhir SMA/SMK, memiliki penghasilan total 2,5 juta rupiah-3,5 juta rupiah serta
total pengeluaran berada pada rentang 1juta rupiah-2 juta rupiah. Berdasarkan hasil IPA menujukkan bahwa preferensi
buruh industri lajang terhadap Rusunawa Ungaran Tipe Lajang meliputi aspek privasi kamar, interaksi sosial antar
penghuni, manajemen pengelolaan yaitu terkait harga sewa hunian serta lokasi hunian sewa yang dekat dengan tempat
kerja. Namun pemerintah sebagai penyedia rusunawa belum memperimbangkan efektifitas dari aspek tersebut, disisi lain
berdasarkan hasil penelitian di rumah sewa/kost, keempat aspek tersebut sebagai Sucess Factor penyedia kost dalam
menyediakan tempat tinggal yang sesuai dengan preferensi buruh industri lajang. Melalui kajian analisis ini diharapkan
penyedia rusunawa ungaran tipe lajang dapat menyediakan hunian sewa yang sesuai dengan preferensi buruh industri
lajang kedepannya
KAJIAN PEMODELAN TARIKAN PERJALANAN DAN POLA PERGERAKAN PADA PUSAT PERBELANJAAN BERKONSEP MULTI ACTIVITY COMMERCIAL DI PUSAT KOTA SEMARANG
Pusat perbelanjaan sebagai salah satu guna lahan pada aktivitas perdagangan dan jasa,
memiliki intensitas permintaan perjalanan yang cukup tinggi untuk menarik pergerakan dan
menimbulkan tarikan perjalanan. Duta Pertiwi Mall adalah pusat perbelanjaan berkonsep multi
activity commercial yang terletak di pusat Kota Semarang dan berpotensi menarik pengunjung dalam
jumlah yang tinggi.
Diperlukan pemahaman antara karakteristik pusat perbelanjaan berkonsep multi activity
commercial dengan tarikan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan tarikan
perjalanan dengan karakteristik kawasan perdagangan dan jasa melalui model tarikan perjalanan
dan pola pergerakan pada Duta Pertiwi Mall sebagai pusat perbelanjaan di pusat kota berkonsep
multi activity commercial.
Metode penelitian yang digunakan adalah trip rate, analisis regresi linier berganda, dan
analisis pola pergerakan. Data yang akan digunakan pada penelitian berupa jenis dan luas aktivitas,
serta jumlah pengunjung Duta Pertiwi Mall dan jumlah pengunjung tiap aktivitas.
Output yang dihasilkan pada penelitian ini yaitu nilai trip rate total DP Mall sebesar 5
pengunjung per 1000 sq. ft GFA (dengan luas lantai kotor dalam unit satuan kaki persegi). Penelitian
ini juga menghasilkan model dengan persamaan y = 0,007 – 0,269x
1
+ 0,027x
2
+ 0,458x
,
dengan x
1
trip rate aktivitas belanja, x
2
trip rate aktivitas makan, x
trip rate aktivitas menonton, dan
trip rate aktivitas bermain
,
3
dengan y sebagai variabel dependen (trip rate Duta Pertiwi Mall). Di
samping itu, Duta Pertiwi Mall memiliki skala pelayanan regional dengan pengunjung dari luar kota
hingga 14% dan pengunjung lokal 86%. Sebagian besar pengunjung memiliki beberapa tujuan
aktivitas, yaitu berbelanja dan makan. Sebaliknya, aktivitas bermain menjadi tujuan aktivitas terkecil
yang diminati oleh pengunjung.
3
+ 0,126x
POLA PENYEDIAAN HUNIAN SEWA UNTUK BURUH INDUSTRI LAJANG BERDASARKAN PERSPEKTIF PENYEDIA DI KECAMATAN UNGARAN TIMUR, KABUPATEN SEMARANG
Perkembangan sektor industri di suatu wilayah akan menyerap banyak tenaga kerja yang
mengakibatkan peningkatan permintaan hunian semakin tinggi di sekitar kawasan industri. Keterbatasan lahan
menjadi salah satu kendala dalam penyediaan hunian untuk buruh industri. Selain keterbatasan lahan, kawasan
industri juga dinilai tidak didukung oleh sistem perencanaan hunian yang baik dan layak untuk pekerja
industrinya (Widyasari, 2017). Hal ini mengakibatkan akses untuk mendapatkan hunian yang layak dan
terjangkau menjadi semakin sulit. Padahal perumahan yang layak dan terjangkau termasuk ke dalam target
tujuan Sustainable Development Goals yang kesebelas, yaitu masyarakat dan permukiman yang berkelanjutan.
Kecamatan Ungaran Timur merupakan salah satu kawasan industri yang ditetapkan di RTRW
Kabupaten Semarang. Kecamatan Ungaran Timur didominasi oleh perusahaan garmen yang menyerap tenaga
kerja perempuan usia muda lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini sejalan dengan pembangunan
Rusunawa Gedanganak yang diperuntukan bagi buruh industri lajang tepatnya untuk perempuan. Di sisi lain,
karena permintaan hunian yang tinggi tanpa disertai sistem perencanaan hunian yang baik di sekitar kawasan
industri maka berkembang juga hunian sewa berupa rumah kos yang dilakukan oleh masyarakat lokal.
Rusunawa Gedanganak dan rumah kos merupakan bentuk hunian yang memiliki perbedaan karakteristik.
Kedua hunian tersebut memiliki kualitas dan fasilitas hunian yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat dari
kelima aspek pola penyediaan hunian yaitu motif penyedia, desain hunian, lahan, konstruksi hunian dan
pemasarannya (Agunbiade, Rajabifard, & Bennett, 2013). Oleh karena itu, menarik jika dilakukan suatu
penelitian mengenai pola-pola penyediaan hunian sewa untuk buruh industri lajang yang dilihat dari perspektif
penyedianya.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah dengan menggunakan metode kualitatif.
Metode kualitatif adalah metode penelitian naturalistik yang didasari pada kondisi alamiah dan bertujuan
untuk mengkonstruksikan situasi sosial yang diteliti secara lebih jelas dan mendalam. Teknik analisis yang
digunakan ialah analisis deskriptif kualitatif dan deskriptif komparatif. Analisis deskriptif kualitatif bertujuan
untuk menganalisia, mendeskripsikan, dan merumuskan pola penyediaan hunian. Adapun penerapan teknis
analisis komparatif pada penelitian ini digunakan untuk mengetahui perbandingan antara pola penyediaan
hunian pada rusunawa dan rumah kos.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan yang paling signifikan antara rusunawa dengan
rumah kos terlihat pada motif penyedia huniannya. Rusunawa termasuk dalam sosial housing yaitu untuk
pemenuhan kebutuhan tempat tinggal sementara rumah kos termasuk dalam private housing dengan tujuan
untuk mendapatkan keuntungan. Perbedaan motif penyedia pada rusunawa dan rumah kos berimplikasi pada
pertimbangan desain, kepemilikan lahan, izin perencanaan, modal, fasilitas, produk, harga, dan cara promosinya. Kedua bentuk hunian tersebut juga memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing jika
dilihat dari standar hunian layak SDGs. Rusunawa memiliki infrastruktur yang lebih lengkap dibandingkan
dengan rumah kos dan ukuran kamar yang telah sesuai dengan standar kebutuhan luas hunian yang diatur
dalam SNI 03-1733-200. Namun, meskipun demikian buruh industri lajang banyak yang lebih memilih kamar
kos dibandingkan dengan rusunawa karena harga sewa yang lebih murah, adanya privasi kamar, aksesibilitas,
dan juga fleksibilitas yang tinggi. Maka itu, pemerintah dalam melakukan penyediaan hunian harus
memperhatikan karakteristik dari segmen pasarnya
NILAI-NILAI KEPEMIMPINAN PADA TOKOH RIKU DALAM ANIME NO GAME NO LIFE: ZERO KARYA ATSUKO ISHIZUKA (KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA) 石塚あつこにされたアニメ「ノーゲームノーライフ:ゼロ」というリクの先導の価値「文学社会の研究」
ABSTRACT
Akbar, Juan. 2020. "Leadership Values of Riku in Anime No Game No Life: Zero by Atsuko Ishizuka Sociology of Literature". A thesis of Japanese Language and Culture Studies, Faculty of Humanities, Diponegoro University. The Advisor Budi Mulyadi, S.Pd, M.Hum.
The material object of this study is a anime titled No Game No Life: Zero. While the formal object in this study is leadership values. The method of the data collection is by library research. This study used theory of the structure of movie narrative by Himawan Pratista, theory of leadership by John Calvin Maxwell and sosiology theory from Rene Wallek and Austin Warren.
The results of research based on the theory of John Calvin Maxwell show that the Riku character has twentyone points that represent leadership, namely courage, initiative, commitment, communication, generosity, understanding, problem management, charisma, responsibility, relationship, focus, and vision. The purpose of this research is to reveal the narrative elements of the anime in No Game No Life: Zero and provide an overview of the value of this leadership to create a good life in a small or large scale community group.
Key word : anime, riku, no game no life: zero, sociology of literatur
REPRESENTASI MAKNA EMPAT MUSIM DALAM ANTOLOGI KODOMO NO UTA DAIHYAKKA KARYA MATSUYAMA YUUSHI (KAJIAN SEMIOTIKA) 松山祐士のアンソロジー『こどものうた大百科』における四季の意味の表現(記号論的研究)
ABSTRACT
Susilo, Muhammad Garuda. 2020. “Representasi Makna Empat Musim Dalam Antologi Kodomo No Uta Daihyakka Karya Matsuyama Yuushi (Kajian Semiotika)”. Thesis, Department of Japanese Language and Culture, Faculty of Humanities, Diponegoro University. The Advisor: Nur Hastuti, S.S., M.Hum.
This study aims to describe the representation of the meaning of the four seasons in Japan through the lyrics of children's songs contained in the anthology Kodomo No Uta Daihyakka by Matsuyama Yuushi. The method use to attain the material object was Library Research.
The approach used in this research is the semiotic approach. Semiotic approach was use to analyze icons, indexes, and symbols in children's song lyrics in the anthology of Kodomo No Uta Daihyakka, then continued by analyzing the representation of the meaning of the four seasons contained in the children's song lyrics.
The results of this study indicates that in the sixteen children's songs that the authors have researched there are 18 icons, 24 indexes, and 71 symbols. Furthermore, from the sixteen songs have meanings that describe the situation / atmosphere and culture that exists in Japan in each season.
Keywords: Representation, song lyrics, season, semiotic
GAMBARAN PERILAKU IBU DALAM POLA ASUH BALITA DENGAN GANGGUAN SPEECH DELAY (STUDI KASUS DI YPAC KOTA SEMARANG)
Keterlambatan bicara merupakan masalah perkembangan yang sering terjadi pada balita, dan semakin meningkat terutama di kota-kota besar seperti Semarang. Keterlambatan bicara pada masa balita (golden age) dapat berdampak negatif pada aspek kesehatan dan non-kesehatan, seperti keterlambatan perkembangan anak (kognitif, bicara, dan sensorik motorik), terganggunya kehidupan sosial pribadi anak, dan hambatan belajar di masa depan. Hal ini mendorong para orang tua di kota Semarang untuk mempercayakan YPAC sebagai tempat terapi wicara anak-anaknya. Pada anak speech delay, stimulasi wicara harus dilakukan terus menerus antara terapis dan ibu di rumah, namun ditemukan kasus ibu yang tidak rutin memberikan stimulasi wicara di rumah. Pengumpulan data dalam penelitian deskriptif kualitatif ini dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap lima subjek penelitian dengan metode purposive sampling. Uji validitas dilakukan oleh lima subjek triangulasi yang merupakan keluarga terdekat subjek penelitian, sedangkan uji reliabilitas dilakukan dengan audit data. Dalam penelitian ini subjek penelitian memiliki pemahaman yang kurang mendalam terkait stimulasi sehingga memasukkan anaknya ke terapi wicara YPAC. Meski begitu, kesibukan ibu bekerja mempengaruhi waktu bermain dengan anak membuat ibu lebih mempasrahkan tanggung jawab stimulasi pada terapis. Hal unik yang ditemukan dalam penelitian ini adalah perasaan ibu yang terpengaruh akibat kurangnya dukungan suami, kurangnya motivasi dari terapis, dan tidak ada arahan untuk stimulasi di rumah dari terapis. Sehingga mereka memberi stimulasi berdasarkan informasi dari sumber lain mengakibatkan ibu merasa kurang percaya diri dalam melakukan stimulasi di rumah karena takut melakukan kesalahan. Alasan-alasan tersebut akhirnya membentuk pola asuh ibu yang terlalu permisif atau otoriter, dan berpengaruh pada karakter anak di masa depan.
Kata kunci : perilaku ibu,pola asuh ibu,gangguan bicara balit
BUKU AJAR PENGANTAR PERANCANGAN TAPAK
Mata Kuliah Pengantar Perancangan Tapak merupakan mata kuliah Program Mahasiswa S1 Arsitektur semester 2, yang berisi tentang pengenalan pengetahuan teori memahami teori tentang merancang tapak dengan metode dan format perancangan tapak dengan 60% benar. Mata kuliah tersebut bertujuan untuk memberikan dan/ atau membekali pengetahuan tentang agar keseluruhan program ruang dan kebutuhan-kebutuhannya dapat diwujudkan secara terpadu dengan memperhatikan kondisi, lingkungan alam, lingkungan fisik buatan dan lingkungan sosial disekitarnya. Jadi pengertian tapak cukup luas, dan sangat tergantung dari kontekstual permasalahan yang dibahas. Perencanaan Tapak adalah suatu proses yang kreatif yang mengkehendaki kemampuan pengolahan dari berbagai faktor-faktor kemungkinan.
Pada pokok bahasan “Pengenalan Definisi Perancangan Tapak” menjelaskan mengenai pengertian Tapak secara umum, Dalam ilmu Arsitektur perancangan tapak lebih mengkaji tapak yang telah ditentukan dengan tepat, maka perlu dilakukan analisis terhadap kondisi rona awal tapak dalam kelebihan dan kekurangannya. Selain itu pada pembahasan awal perancangan tapak terdapat unsur-unsur lainnya yaitu tujuan dari perancangan tapak, kaidah-kaidah perancangan tapak, unsur-unsur perencanaan dan perancangan tapak, faktor-faktor yang berpengaruh dalam perancangan tapak serta hubungan terhadap permukaan disekitarnya