Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    INOVASI PENANGANAN LIMBAH MEDIS PADAT SKALA PUSKESMAS DENGAN SISTEM TERMAL DAN SISTEM GELEMBUNG ASAP DALAM AIR PENCUCI

    Get PDF
    Hingga saat ini peningkatan fasilitas kesehatan dan jumlah puskesmas tidak di imbangi dengan peningkatan fasilitas pengolahan limbah yang dihasilkan terutama limbah medis padat. Data limbah medis padat di 21 puskesmas di Kabupaten Bima rata-rata tiap tahun 23.052 kg, yang tertangani hanya 30% yang di musnahkan ke pihak ke 3 yang berijin dan sisanya dimusnahkan secara tradisional, dikubur atau dibakar dan di buang ke TPA yang dicamput dengan limbah non medis. Masalah pengelolaan limbah dengan menggunakan alat insinerator yaitu ketiadaan alat dan spesifikasi alat yang tidak memenuhi syarat sampai pada tahap perizinan pengelolaan limbah medis padat. Oleh karena tujuan penelitian ini ini membuat dan mengembangkan alat insinerator mini secara sederhana serta mengujicoba untuk mengetahui efisiensi kinerja insinerator sederhana dalam mereduksi limbah medis padat danhasil kandungan emisiyang ramah lingkungan. Hasil pengujian parameter meliputi suhu maksimum incinerator 975-1082 ºC, dengan laju pembakaran 0,8 kg/jam, redemen arang yang dihasilkan 6,7% dari 3 kg bahan yang dibakar, redemen abu 3,95%. Efisiensi pembakaran dalam mengurangi massa sampah 90,2% dan Efisiensi Pembakaran (EP) emisi 89,20% serta Efisiensi penghancuran dan penghilangan (DRE) dalam penurunan kandungan emisi sebesar 73,82%. Rancangan alat insinerator mini memenuhi syarat sesuai standar kesehatan dan diperuntukkan untuk puskesmas, efektifitas alat dalam mereduksi limbah medis padat rata-rata sebesar 89,35% dan efisiensi alat dalam penurunan emisi buangan rata-rata sebesar 73,534%. Kata kunci : Insinerator sederhana, limbah medis padat, Puskesmas, efisiensi, emisi udar

    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN MODA TRANSPORTASI UNTUK PERJALANAN KERJA DI KAWASAN DUKUH ATAS, KOTA JAKARTA

    Get PDF
    Transportasi umum yang telah disediakan Pemerintah Kota Jakarta diduga masih belum mampu menampung berbagai aktivitas masyarakat Kota Jakarta terutama untuk tujuan perjalanan kerja. Penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor – faktor yang mempengaruhi penggunaan moda transportasi untuk perjalanan kerja khususnya pada Kawasan Dukuh Atas. Kawasan Dukuh atasi ini yang merupakan jantung Kota Jakarta. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi DKI Jakarta tahun 2010 – 2030 dan Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2014 tentang RDTR dan Peraturan Zonasi, Kawasan Dukuh Atas dijadikan sebagai pusat kegiatan primer dengan fungsi stasiun terpadu dan titik perpindahan antara moda transportasi dengan konsep Transit Oriented Development (TOD) yang memiliki moda transportasi umum yang paling lengkap dibandingkan dengan kawasan yang lain di Kota Jakarta. Kawasan Dukuh Atas ini juga berada tepat di sisi utara Sudirman Central Business District (SCBD) yang mana kawasan tersebut didominasi oleh aktivitas pekerja dan menjadi salah satu titik lokasi kemacetan yang terjadi di Kota Jakarta

    KAJIAN KERANGKA REGULASI DAN KEBIJAKAN MENGENAI INTEGRASI MULTISPECIES DALAM PERENCANAAN TATA RUANG

    Get PDF
    Aktivitas dan jumlah manusia yang tinggi di perkotaan suatu wilayah dapat menimbulkan dampak negatif bagi keseimbangan non-human species baik tumbuhan maupun satwa liar. Sementara itu, seringkali kerangka regulasi dan kebijakan dilakukan dengan mengabaikan aspek multispesies mulai dari kerangka regulasi perencanaan dan sektoral dengan tingkat nasional hingga daerah beserta kebijakan daerah mengenai perencanaan spasial dan rencana pembanguan. Kerangka regulasi yang dimaksud adalah peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyusunan perencanaan kota/kabupaten dan memiliki pembahasan mengenai perencanaan serta pebahasan lainnya (kehutanan, lingkungan hidup, konservasi SDA, perairan). Sedangkan, kebijakan yang dimaksud adalah perencanaan spasial (RTRW) dan rencana pembangunan (RPJMD) Kota Semarang dan Kabupaten Barito Utara

    POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DI KAWASAN RAWAN BENCANA KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Pertambahan jumlah penduduk di Kota Semarang berpengaruh terhadap berubahnya tren penggunaan lahan. Ketersediaan lahan yang terbatas sedangkan kebutuhan lahan semakin meningkat mendorong penduduk memilih tempat tinggal di lokasiyang tidak sesuai dengan peruntukannya. Beberapa permukiman di Kota Semarang diketahui berkembang pada lokasi rawan bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik permukiman di kawasan rawan bencana, termasuk aspek penggunaan lahan, tingkat kerawanan bencana dan pola persebaran permukiman

    POLA PERSEBARAN PERMUKIMAN DI KAWASAN RAWAN BENCANA KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Pertambahan jumlah penduduk di Kota Semarang berpengaruh terhadap berubahnya tren penggunaan lahan. Ketersediaan lahan yang terbatas sedangkan kebutuhan lahan semakin meningkat mendorong penduduk memilih tempat tinggal di lokasiyang tidak sesuai dengan peruntukannya. Beberapa permukiman di Kota Semarang diketahui berkembang pada lokasi rawan bencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik permukiman di kawasan rawan bencana, termasuk aspek penggunaan lahan, tingkat kerawanan bencana dan pola persebaran permukiman

    MOTIVATING DEAF PARTICIPATION THROUGH COMMUNITY PLACE ATTACHMENT

    Get PDF
    highest subdivision of “sense of place”, “community place attachment” (CPA) has been proven in a lot of studies as a common ground to motivate community participation. Deeply attached community are proven to be participative in city and society improvement efforts. However, there are no urban planning literature who spesifically studied Deaf participation by focusing on people-place bonds. Deaf as marginalized group in the city who experience linguistic discrimination throughout their life, certainly have different CPA condition. Deaf participation in city improvement efforts also crucial to realize an inclusive city. Therefore the goal of this research is to understand how to motivate Deaf participation using CPA. The research focus on Deaf place attachment to their city (Semarang City) as the scope which people attach deeper. As the 2 n

    Analisis Kebijakan Otonomi Khusus ( Otsus ) Terhadap Pembangunan Pendidikan dan Kesehatan di Kabupaten Manokwari Selatan, Provinsi Papua Barat.

    Get PDF
    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan gabungan antara kualitatif dan kuantitatif yang membandingkan pembangunan prasarana sebelum dan pada saat era otonomi khusus dijalankan. Fokus utama pada penelitian ini adalah kebijakan otonomi khusus terhadap pembangunan pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Manokwari Selatan. Studi ini membahas “apakah kebijakan otonomi khusus mampu meningkatan pembangunan pendidikan dan kesehatan di Provinsi Papua Barat khususnya Kabupaten Manokwari Selatan? Secara khusus penelitian ini ditujukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh otonomi khusus terhadap pembangunan pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Manokwari Selatan

    KAJIAN KINERJA PENGELOLAAN DAMPAK PARTIKEL DEBU: STUDI KASUS PLTU TANJUNG JATI B JEPARA DAN PLTU JAWA TENGAH I REMBANG

    Get PDF
    Operasional pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara merupakan kegiatan penyediaan pasokan energi yang memberikan dampak crucial yaitu berupa debu. Berdasarkan Amdal PLTU Tanjung Jati B Jepara (4 x660 MW) dan PLTU Jawa Tengah I Rembang (2x315 MW) belum melakukan identifikasi dampak potensial dan prediksi serta evaluasi dampak debu ukuran kecil dalam fly ash dari emisi cerobong pembangkit. Dengan demikian Amdal mengalami ketidakcukupan (inadequacy) dalam pengelolaan dampak kegiatan tahap operasional PLTU yang menghasilkan debu ukuran kecil yaitu debu halus (PM2.5) dan debu kasar (PM2.5-10). Tujuan dari penilitian ini untuk mengetahui kinerja pengelolaan dampak partikel debu ukuran kecil di PLTU sehingga dapat melakukan pencegahan pencemaran dan perbaikan berkelanjutan. Sesuai rekomendasi studi Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) sebagai indikator manajemen adalah penggunaan air pollution control device berupa ESP (electrostatic presipitator) dan kombinasi ESP dengan W-FGD (wet-flue gas desulfuritation), serta melaksanakan pemantauan pada lokasi pengelolaan dampak debu. Evaluasi kinerja dengan menetapkan indikator kondisi lingkungan dengan berupa kajian terhadap emisi debu halus (PM2.5) dan debu kasar (PM2.5-10) dalam fly ash dari cerobong PLTU. Analisis yang dilakukan meliputi analisis unsur logam dengan menggunakan ICP-MS (Inductively coupled plasma-mass spectrometry); analisis kontribusi dengan PMF (Positive Matrix Factorization); analisis resiko kesehatan dengan pedoman Analisa Resiko Kesehatan Lingkungan dari Direktorat Jenderal PP. dan PL., Kementrian Kesehatan tahun 2012; analisis persepsi dan respon masyarakat dengan metode wawancara; serta analisis pola sebaran debu halus (PM2.5) dan debu kasar (PM2.5-10) dengan menggunakan AERMOD VIEW. Hasil analisis karakterisasi sebagian besar unsur logam dalam debu halus dan kasar didominasi oleh trace element ; pada udara ambien kontribusi PLTU pada R1-R6 berkisar antara 15-31%; resiko kesehatan dari unsur karsinogenik dan non karsinogenik masih pada nilai aman namun dengan lamanya umur operasional PLTU paparan logam dalam PM2.5 dan PM2.5-10 perlu dikelola; masyarakat pada wilayah sebaran debu halus dan kasar sebagian besar tidak mengetahui risiko kesehatan PM2.5 dan PM2.5-10 (60-78.6%) dan respon masyarakat untuk upaya mengelola dampak dengan memakai masker didapatkan nilai yang rendah (1-11.7%). Model sebaran debu menunjukkan bahwa dalam Amdal belum mengantisipasi wilayah yang akan terkena dampak sebaran debu ukuran kecil. Sebagai rekomendasi penelitian diusulkan model pengelolaan debu dengan pengaturan prosedur pengelolaan yaitu menetapkan baku mutu baru untuk emisi pembangkit yaitu PM2.5 dan PM2.5-10 dan tolok ukur baru dalam pengelolaan dan pemantauan debu emisi yaitu terdiri dari 1). menetapkan analisa kontribusi PLTU berdasarkan PM2.5 dan PM2.5-10 ; 2). analisa risiko kesehatan akibat unsur logam dalam PM2.5 dan PM2.5-10; 3). analisis persepsi dan respon masyarakat akibat risiko kesehatan; (4). analisis sebaran PM2.5 dan PM2.5- 10 untuk mengantisipasi dampak pada pemukiman masyarakat. Kata kunci : pembangkit listrik tenaga uap; debu halus dan kasar; sebaran; resiko kesehatan, model pengelolaan Energy supply activities of coal-fired power plant operation creates crucial impact in the form of dust. Based on the Environmental Impact Assessment (EIA) of Tanjung Jati B Power Plant (4 x 660MW) and Jawa Tengah I Rembang Power plant (2 x 315 MW), both of the power plants have not conducted an identification of potential impact and prediction, as well as impact evaluation of fine dust in fly ash from the emission of the stacks. Thus, the EIA is considered as inadequacy in managing the impact of the operational activities which generates fine (PM2.5) and coarse (PM2.5-10) particles. The objective of this study is to determine the performance in managing the impact of fine particles in the power plants to be able to prevent pollution and for sustainable improvements. In accordance with the recommendation of the EIA, the management indicator is air pollution control devices namely electrostatic precipitator (ESP) and the combination of ESP and wet-flue gas desulfurization (W-FGD), the monitoring of the study site was also conducted. The evaluation of the performance is conducted by determining the environmental condition indicators in the form of study of fine (PM2.5) and coarse (PM2.5- 10) particles emission in fly ash from the stacks. Several analysis were conducted namely metal element analysis by using inductively coupled plasma-mass spectrometry (ICP-MS); contribution analysis by using Positive Matrix Factorization (PMF); health risk analysis by using Environmental Health Analysis guidelines of Diektorat Jendral PP and PL of The Ministry of Health 2012; communities ‘perception and response analysis by using interview method; and for the dust distribution pattern of fine (PM2.5) and coarse (PM2.5-10) particles was using AERMOD VIEW. Most of the results of metal element characterization in fine and coarse particles are dominated by trace elements; Power plant contribution in R1-R6 is 15-31%; health risks due to carcinogenic and non-carcinogenic are still in the safe threshold, but due to the length of the operational life of power plants, metal exposure in PM2.5 and PM2.5-10 need further management. The community in fine and coarse particle dispersion area did not know the health risks of PM2.5 and PM2.5-10 (60-78.6%) and the response of the community for the impact management by using facemask is found to be low (1-11.7%). Dust dispersion model shows that the EIA has not anticipate some area that will be effected by the fine dust dispersion. For the future studies, this study recommends new quality standards for power plant emission namely PM2.5 and PM2.5-10 and new benchmark for emission monitoring and management which consist of 1). Determining contribution analysis of power plant based on PM2.5 and PM2.5-10 ; 2). Health risk analysis due to metal element in PM2.5 and PM2.5-10 ; 3). Perception and response analysis due to health risk; (4). Dispersion analysis PM2.5 and PM2.5-10 to anticipate the impact in the residential area. Keywords: Coal-fired power plant, Fine and coarse particle, Dispersion, Health risk, management mode

    MORPHOLOGICAL PROCESS OF TECHNICAL TERMS IN COMPUTERWORLD MAGAZINE

    No full text

    ETHNOCENTRISM AND THE IMPACTS IN SAVING FACE MOVIE

    Get PDF

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇