71404 research outputs found
Sort by
Haydar Anak yang Saleh
Anakku sayang, rajinlah
belajar untuk masa depanmu.
Bekali dengan ilmu agama
agar kalian bisa melihat jalan
yang lurus dan teran
SYSTEMATIC REVIEW: PAPARAN KARBON MONOKSIDA (CO) DAN GANGGUAN TEKANAN DARAH PADA DEWASA DAN LANSIA
Karbon monoksida (CO) merupakan polutan udara yang berasal dari mesin kendaraan, emisi industri, dan asap rokok. Paparan CO dalam jumlah tertentu dapat mengakibatkan keracunan yang seringkali berakibat fatal karena interaksinya dengan hemoglobin menyebabkan berkurangnya kapasitas oksigen dalam darah dan menyebabkan hipoksia. Hubungan pajanan CO dengan tekanan darah belum diteliti secara sistematis. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji literatur terkait dengan hubungan paparan CO dengan tekanan darah. Penelusuran artikel dilakukan melalui Portal Garuda, Google Scholar, Pubmed, Scopus, dan PROQUEST. Krtiteria inklusi yang digunakan yaitu penelitian dengan desain studi observasional, usia subjek lebih dari 15 tahun, diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, dan membahas mengenai hubungan paparan CO dengan tekanan darah. Didapatkan 20 artikel yang akan dikaji. Hasil kajian pustaka menunjukkan paparan CO dapat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan darah 0.39 mmHg-15 mmHg dan penurunan tekanan darah 0.13 mmHg-0.88 mmHg. Pada ibu hamil yang terpapar CO selama masa kehamilannya dapat mengalami hipertensi pada kehamilan dan meningkatkan resiko terjadinya preeklamsia. Sehingga disimpulkan bahwa paparan CO dapat mempengaruhi tekanan darah baik meningkatkan tekanan darah maupun menurunkan tekanan darah.
Kata Kunci : polusi udara; karbon monoksida; tekanan darah; COH
STUDI KUALITATIF : ANALISIS KESESUAIAN PENGGUNAAN SAFETY SIGN TERHADAP KESIAPSIAGAAN BENCANA DI PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO), TBK. KANTOR CABANG SEMARANG
Safety signadalah tanda – tanda atau rambu keselamatan yang dapat menarik perhatian dan dapat memberikan informasi dengan jelas tentang potensi bahaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian penggunaan safety sign terhadap kesiapsiagaan bencana di PT. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk Kantor Cabang Semarang. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dengan enam orang informan utama dan dua orang informan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa safety sign yang terpasang berbahan glow in the dark sehingga tulisan dan gambar masih dapat terlihat jelas dalam kondisi ruangan gelap. Kondisi safety sign yang terpasang tahan terhadap air, panas, dan goresan, memiliki daya rekat yang tinggi sehingga tidak mudah lepas atau terjatuh saat dipasang. Tata letak safety sign tidak menghalangi jarak pandang dan tulisan dapat terbaca dengan jelas. Terdapat pelatihan kesiapsiagaan bencana yaitu fire drill alat tradisional dan modern serta pelatihan evakuasi.
Kata kunci :Safety sign, letak, kondisi, kesiapsiagaan bencan
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI DAN MPASIDENGAN STATUS ANTROPOMETRI BADUTA (6-24 BULAN) PADA KELUARGA NELAYAN (STUDI DI WILAYAH DESA BETAHWALANG KECAMATAN BONANG KABUPATEN DEMAK)
Pemberian ASI terhadap bayi usia diatas 6 bulan dapat ditambah dengan pemberian makanan pendamping (MPASI). Pemberian MPASI yang kurang tepat dapat berpengaruh terhadap status gizi. Desa Betahwalang merupakan salah satu desa lokus stunting di pesisir kabupaten Demak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pemberian ASI dan MPASI dengan status antropometri baduta (6-24 bulan) pada keluarga nelayan. Jenis penelitian yang digunakan explanatory reasearch dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian (61 orang) dipilih secara purposive, menggunakan kriteria inklusi:masih diberi ASI, memiliki ayah nelayan serta tidak cacat fisik dan mental. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, penimbangan menggunakan dacin serta pengukuran panjang badan dengan infantometer. Analisis dilakukan dengan uji korelasi Rank spearman, Pearson Product Moment dan Chi Square. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, form recall 2x24 jam. Analisis data dilakukan dengan uji korelasi Rank Spearman, Pearson Product Moment, dan Chi Square. Hasil uji korelasi frekuensi pemberian ASI (p=0,008) dan durasi pemberian ASI (p=0,001) berhubungan dengan TKE total, tetapi tidak berhubungan dengan TKP total baduta. TKE total baduta tidak berhubungan dengan status antropometri baduta. TKP total baduta berhubungan dengan skor Z BB/PB (p=0,005) dan BB/U (p=0,000), tetapi tidak berhubungan dengan indeks PB/U. Frekuensi pemberian ASI berhubungan dengan skor Z BB/U (p=0,012), tetapi tidak berhubungan dengan skor Z indeks BB/PB, dan PB/U. Durasi pemberian ASI berhubungan dengan skor Z BB/U (p=0,006) dan PB/U (p=0,007), tetapi tidak berhubungan dengan skor Z BB/PB. Disarankan agar dalam pemberian MPASI memperhatikan jumlah dan porsinya sehingga dapat mencukupi kebutuhan energi dan protein baduta.
Kata kunci : ASI, MPASI, baduta, status antropometr
PeerReview_THE EFFECT OF AGRIBUSINESS SYSTEM APPLICATION TOWARDS SEAWEED FARMERS’ INCOME: A CASE STUDY IN PAHUNGA LODU DISTRICT OF EAST SUMBA REGENCY, INDONESIA
PeerReview_Analysis of Agribusiness Factors of Dairy Cattle in Relation to The Improvement of Milk Production in Semarang Regency of Indonesia
EVALUASI PELAYANAN HIPERTENSI PADA MASA PANDEMI COVID−19 DI PUSKESMAS MLATI II KABUPATEN SLEMAN
Pelayanan kesehatan penderita hipertensi merupakan salah satu indikator SPM Bidang Kesehatan yang harus dipenuhi oleh daerah dengan capaian 100%. Puskesmas Mlati II pada tahun 2019 telah melaksanakan pelayanan hipertensi dengan capaian 95,31%, namun pada tahun 2020 capaian tersebut menurun drastis menjadi 21,10% akibat adanya pandemi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelayanan hipertensi pada masa pandemi COVID−19 di Puskesmas Mlati II dilihat dari aspek input dan aspek proses. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan metode wawancara mendalam kepada informan penelitian yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Informan utama terdiri dari pengelola program, dokter dan perawat pelayanan hipertensi. Sedangkan informan triangulasi terdiri dari kepala puskesmas, penanggung jawab program hipertensi dari Dinas Kesehatan, kader kesehatan, dan pasien hipertensi. Hasil penelitian pada aspek input menunjukkan kader belum memiliki pedoman deteksi dini pada masa pandemi, keterbatasan jumlah perawat, tidak tersedianya media KIE, dan penggunaan dana yang belum terserap sesuai anggaran. Sedangkan hasil penelitian pada aspek proses menunjukkan bahwa kondisi pandemi menyebabkan pelaksanaan deteksi dini di posbindu terhambat, dan adanya penurunan kunjungan pemeriksaan pasien di puskesmas. Puskesmas perlu membuat pedoman deteksi dini untuk kader, melakukan analisis beban kerja perawat, mengembangkan media KIE, dan mengubah metode edukasi di luar gedung.
Kata kunci : evaluasi, pelayanan hipertensi, pandem
TOPONIMI KELURAHAN DAN DESA DI KECAMATAN BERGAS KABUPATEN SEMARANG (KAJIAN ANTROPOLINGUISTIK)
This study aims to identify the meanings of the names of sub-districts and villages in the Bergas District, Semarang Regency and to describe the forms between words and the concept of their references. The results of this study are expected to provide an understanding of the toponymy of sub-districts and villages in the District of Bergas.This research uses interview and literature study to supply the data. Then the data were analyzed using descriptive method. The results of the analysis of this study are as follows: 1) there are twelve of toponymy found in the names of sub-districts and villages in Bergas District, toponymy of Bergas Village, toponymy of Karangjati Village, toponymy of Ngempon Village, toponymy of Wujil Village, toponymy of Jatijajar Village, toponymy of Wringinputih Village, toponymy of Munding Village, toponymy of Diwak Village, toponymy of Pagersari Village, toponymy of Randugunting Village, toponymy of Gondoriyo Village, and toponymy of Gebugan Village; 2) There are seven villages whose naming concept shifted based on the version of the story, namely Bergas Village, Karangjati Village, Ngempon Village, Wujil Village, Munding Village, Diwak Village, and Randugunting Village. There are two villages whose naming concept still exists, namely Wringinputih Village and Jatijajar Village. Meanwhile, there are two villages where the existence of the naming concept developed due to changes in the community, namely Gondoriyo Village, Pagersari Village, and Gebugan Village.
Keywords: anthropolinguistics, meaning, toponym
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MEROKOK PEGAWAI DINAS KESEHATAN KABUPATEN GROBOGAN
Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu perilaku beresiko dalam jangka panjang. Tidak hanya perokok aktif yang merasakan dampak dari perilaku merokok, namun juga dirasakan oleh perokok pasif yang ada disekitarnya yang menyebabkan berbagai penyakit degeneratif hingga menyebabkan kematian. Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan merupakan salah satu instansi kesehatan, dimana perilaku yang tidak mendukung kesehatan harusnya dapat dihindari. Seperti perilaku merokok, karena perilaku merokok memiliki dampak merugikan bagi kesehatan. Dalam hal perilaku merokok, pegawai yang bekerja di instansi kesehatan merupakan role model bagi masyarakat pada umumnya guna meningkatkan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok pada pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan. Metode : Penelitian observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi yaitu seluruh pegawai yang sesuai dengan kriteria inklusi berjumlah 34 pegawai. Sampel penelitian menggunakan total sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pengetahuan,latar belakang pendidikan, sikap, ketersediaan fasilitas, ketersediaan informasi, kemudahan akses mendapatkan rokok, ketersediaan KTM, dan sikap dan perilaku rekan kerja. Variabel terikat yaitu perilaku merokok. Pengumpulan data dengan menggunakan metode angket. Analisis data menggunakan uji univariat dan uji bivariat menggunakan Uji Chi Square Test dengan SPSS.
Hasil : Sebesar 68% responden berpengetahuan baik, 53% responden dengan latar belakang pendidikan kesehatan, 74% responden dengan sikap mendukung perilaku merokok di kantor, 65% KTM (Kawasan Terbatas Merokok) telah tersedia, 65% informasi mengenai bahaya rokok telah tersedia, 85% akses mendapatkan rokok mendukung, 59% fasilitas merokok telah tersedia, 74% sikap dan perilaku rekan kerja yang mendukung untuk berperilaku merokok. Sebesar 35% responden dengan perilaku merokok dan 25% diantaranya tergolong dalam perokok berat dengan jumlah konsumsi rokok harian tertinggi mencapai 32 batang/hari. Variabel yang berhubungan yaitu pengetahuan (p-value 0,005), sikap dan perilaku rekan kerja (p-value 0,000). Simpulan : Pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan mayoritas tidak merokok. Predisposing factor yang berhubungan yaitu Pengetahuan dan reinforcing factor yang berhubungan yaitu sikap dan perilaku rekan kerja.
Kata Kunci : Perilaku, Merokok, Pegawa