71404 research outputs found
Sort by
PeerReview_Mutu Kimiawi dan Mutu Organoleptik Kaldu Ayam Bubuk dengan Penambahan Sari Bayam Hijau
PeerReview_Development Policy of Sustainable Life Community in Central Java Tourism Village, Indonesia
METODE OPTIMASI PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BERDASARKAN OBJEKTIVITAS DAN SENSITIVITAS MENGGUNAKAN FUZZY MOLP(F-MOLP) DAN FUZZY AHP(F-AHP)
Supply chain management (SCM) memiliki pengaruh yang besar di setiap perusahaan, SCM yang baik memiliki manajemen yang tepat di semua komponennya. Salah satu komponen tersebut adalah pemilihan supplier bahan baku. Untuk menyelesaikan pemilihan supplier ini, dibutuhkan factor tangible dan intangible pada tiap supplier.Metode fuzzy AHP dan metode fuzzy MOLP telah mencakup dua faktor tersebut sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Selain itu perlu dilakukan analisis apakah memungkinkan penggunaan dua metode tersebut secara bersamaan. Pada penelitian ini, digunakan kedua metode tersebut untuk mendapatkan supplier terbaik. Hasil perhitungan berupa perangkingan agar pengambil keputusan lebih mudah dilakukan berdasarkan tiap supplier. Studi kasus dilakukan pada sebuah perusahaan woodworking dengan 5 supplier dimana tiap supplier memiliki 6 kriteria yang unik satu sama lain. Hasil perangkingan dari kedua metode dibandingkan untuk melihat perbedaan rangking. Bila terdapat perbedaan rangking, maka analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui metode mana yang lebih robust sehingga akan dipilih sebagai metode yang lebih disarankan. Hasil penelitian menunjukkan kedua metode memberikan hasil yang sama. Namun, ditemukan bahwa fuzzy AHP sangat dipengaruhi oleh tingkat kepakaran Expert dimana Expert 1 dan Expert 2 memberikan hasil perangkingan berbeda sedangkan Fuzzy MOLP jauh lebih objektif karena berdasarkan data. Selanjutnya, analisis sensitivitas dilakukan seandainya kedua metode memberikan hasil yang berbeda. Analisis sensitivitas dengan perubahan variabel dari 0%-100% menunjukkan bahwa fuzzy AHP memiliki perubahan rangking sebesar 30% sedangkan fuzzy MOLP sebesar 100%. Hal tersebut menunjukkan bahwa fuzzy AHP lebih robust daripada fuzzy MOLP. Hasil tersebut menandakan bahwa tiap metode memiliki karakteristik masing-masing sehingga karakteristik tersebut harus dipertimbangkan ketika akan mengggunakan metode tersebut.
Kata kunci:Pemilihan supplier, Fuzzy AHP, Fuzzy MOLP, Analisis Sensitivitas
Supply chain management (SCM) plays a great role in any company, a good SCM has a good management to all its components. One of the components is raw material supplier selection. To choose the best supplier, we need to consider both tangible and intangible factors in each supplier. Therefore, we can use fuzzy AHP and fuzzy MOLP which covered those approach.However, further analysis is needed to check the compatibility between two methods. In this paper, we aim to use both fuzzy AHP and fuzzy MOLP to get the best supplier from all alternatifs, the result will be in rank order to make it easier for decision maker to understand the importance of each supplier. The case study for this research is supplier selection in a woodworking company from five suppliers and compared with six criteria which each is unique for every supplier. Then the result from both methods will be compared. If there are any differences, sensitivity analysis will be used to choose the most robust one to be the preferred method to use.The result shows that both methods can work together as the rank order from both methods give the same result. We also found that fuzzy AHP is influenced heavily by the Expertise of the Expert as Expert 1 and Expert 2 gives different result while fuzzy MOLP is more objective-oriented using real data. Next, sensitivity analysis is done in case both methods give different rank order. Sensitivity analysis shows that change in criteria from 10% to 100%makeschange in rankfuzzy AHP to 30% while fuzzy to 100%. That means fuzzy AHP is more robust than fuzzy MOLP. These results suggest that each Method has its own characteristics that must be put into mind when we use it.
Keywords: Supplier Selection, Fuzzy AHP, Fuzzy MOLP, Sensitivity Analysi
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG DI DESA POLOSIRI KECAMATAN BAWEN KABUPATEN SEMARANG (FEASIBILITY ANALYSIS OF BEEF CATTLE FATTENING IN POLOSIRI VILLAGE OF BAWEN DISTRICT, SEMARANG REGENCY)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis pendapatan peternak sapi potong 2)
menganalisis kelayakan finansial usaha penggemukan sapi potong. Penelitian ini
dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober 2018 sampai dengan 3 Desember 2018 di Desa
Polosiri, Kecamatan Bawen, Kabupaten Semarang. Metode penelitian yang digunakan
adalah survei dengan penentuan sampel secara purposive sebanyak 64 responden. Metode
analisis data menggunakan perhitungan pendapatan dan analisis kelayakan finansial. Hasil
penelitian menunjukkan pendapatan bersih yang diperoleh peternak sapi potong di Desa
Polosiri pada tahun 2016 sebesar Rp 4.536.724,01,-, tahun 2017 sebesar Rp 5.130.495,32,-
dan tahun 2018 sebesar Rp 5.020.790,40,-. Analisis kelayakan finansial dengan discount
factor 14%/tahun diperoleh ROI sebesar 47,42%, NPV sebesar Rp 1.929.189,98,-, B/C
Ratio yang dihasilkan adalah 1,19, IRR sebesar 24,66% serta Payback Period lebih cepat
dari umur usaha yang dijalankan yaitu 29,67 bulan. Berdasarkan hasil analisis dapat
disimpulkan bahwa usaha penggemukan sapi potong di Desa Polosiri layak untuk
dikembangkan.
Kata Kunci: kelayakan, penggemukan, peternak, sapi potong
POLA KEPATUHAN INDONESIA TERHADAP CONVENTION ON INTERNATIONAL TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF WILD FLORA AND FAUNA DALAM MENGATASI PERDAGANGAN ILEGAL TRENGGILING ANTARA INDONESIA DAN TIONGKOK
Indonesia merupakan rumah bagi salah satu jenis spesies trenggiling dunia yang statusnya dilindungi secara internasional dalam kategori daftar merah IUCN.Artinya, trenggiling masuk ke dalam kategori rentan terhadap kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan secara bebas.Namun, jumlah populasi trenggiling di Indonesia kian menurun akibat ancaman perburuan dan perdagangan ilegal. Dalam langkah merespon ancaman kepunahan trenggiling di Indonesia, Indonesia meratifikasi CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Sayangnya, meski telah diratifikasi dan diimplementasikan di Indonesia, fakta lapangan menunjukkan bahwa pada tahun 2015 hingga 2018 aliran perdagangan ilegal trenggiling masih terjadi antara Indonesia menuju Tiongkok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola kepatuhan Indonesia terhadap CITES dalam menangani kasus perdagangan ilegal trenggiling antara Indonesia dan Tiongkok. Untuk itu, peneliti menggunakan tipe eksplanatif dalam metode kualitatif dan menggunakan analisa Teori Kepatuhan Robert M. Mitchell dan Abraham Chayes. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kondisi perdagangan ilegal trenggiling di Indonesia dapat dikategorikan sebagai pola low compliance dan low effectiveness. Pola tersebut terbentuk karena faktor internal yang mencakup keterbatasan negara dalam menguatkan peraturan penegakan hukum, peningkatan kapasitas aparatur negara dan keterbatasan sumber daya peralatan untuk memantau dan mengidentifikasi temuan perdagangan ilegal trenggiling. Selain itu juga terdapat faktor eksternal yang mencakup ambiguitas dalam konvensi CITES, dinamisnya perkembangan sosial dan politik global, ketegasan dan komitmen aktor dalam Konvensi CITES khususnya dalam pengambilan keputusan, serta dimensi temporal yang berkaitan dengan pelaksaaan CITES. Berdasarkan penyebab terbentuknya pola tersebut, peneliti merekemondasikan lima strategi prioritas penguatan kerjasama penanganan perdagangan ilegal trenggiling melalui skema kerjasama CITES, yakni penguatan kemitraan Indonesia dan Tiongkok untuk pengelolaan dan pengawasan perdagangan ilegal flora dan fauna liar, penguatan implementasi dan penyempurnaan berbagai peraturan perundangan, peningkatan kapasitas penyidik sipil dan lembaga peradilan, peningkatan koordinasi dan kerjasama instansi terkait dalam pengawasan dan penegakan hukum sampai ke tingkat daerah, dan peningkatan kepedulian masyarakat melalui sosialisasi dan kampanye tentang peraturan perundangan, pengenalan jenis dilindungi, dan nilai manfaat keanekaragaman hayati.
Kata Kunci: Kepatuhan, CITES, Perdagangan Ilegal, Trenggiling
Indonesia is home to one of the world's pangolins species whose status is protected internationally in the IUCN red list category. This means that pangolins fall into the category of vulnerable to extinction and are outlawed from being freely traded. However, the number of pangolins in Indonesia has declined due to the threat of poaching and illegal trade. In response to the threat of pangolin extinction in Indonesia, Indonesia ratified CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Unfortunately, although it has been ratified and implemented in Indonesia, the facts reveal that from 2015 to 2018, the flow of illegal pangolin trade still occurred between Indonesia and China. This study aims to analyze the pattern of Indonesia's compliance with CITES in handling cases of illegal pangolin trade between Indonesia and China. For this reason, the researcher used the explanative type in qualitative methods and used Robert M. Mitchell and Abraham Chayes's Compliance Theory analysis. The results obtained from this study are the conditions of illegal pangolin trade in Indonesia can be categorized as low compliance and low effectiveness pattern. The pattern was formed due to internal factors that included state limitations in strengthening law enforcement regulations, the capacity of the state apparatus, and limited equipment resources to monitor and identify the findings of illegal pangolin trade. Furthermore, there are also external factors that include ambiguity in the CITES, dynamic global political and social development, the firmness and commitment of actors in the CITES; especially in decision making, as well as the temporal dimensions related to the implementation of CITES. Based on the cause of this pattern, the researcher recommend five priority strategies to strengthen cooperation in handling illegal pangolin trade through the CITES cooperation scheme, namely strengthening the partnership between Indonesia and China for the management and supervision of illegal trade in wild flora and fauna; strengthening implementation and improvement of various laws and regulations; increasing civil investigator and judicial institutions capacity; increasing coordination and cooperation of related agencies in supervision and law enforcement up to the regional level; as well as increasing public awareness through socialization and campaigns on regulations, introduction of protected species, and the value of biodiversity benefits.
Keywords: CITES, Compliance, Illegal Trade, Pangoli
KAJIAN PELUANG PENERAPANPRODUKSIBERSIH PADAINDUSTRIPEMBUATANKECAP CAPUDANG KABUPATENGROBOGAN
Industri pembuatan kecap merupakan salah satu industri pengolahan pangan dengan bahan baku kedelai hitam. Kajian peluang penerapan produksi bersih perlu dilakukan karena selain menghasilkan produk utama berupa kecap dalam proses produksinya juga menyebabkan timbulan limbah cair, limbah padat dan emisi gas sebagai produk samping. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis proses produksi kecap dan terjadinya timbulan limbah serta solusi untuk mengatasi timbulan limbah tersebut, menganalisis alternatif peluang produksi bersih yang dapat diterapkan dan keuntungan yang diperoleh melalui penerapan produksi bersih berdasarkan analisis kelayakan teknis, ekonomi dan lingkungan, membuat skala prioritas penerapan alternatif produksi bersih.
Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan metode observasi, pengukuran dan wawancara. Lokasi penelitian di industri pembuatan kecap cap Udang di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah.
Hasil penelitian di industri pembuatan kecap cap Udang menunjukkan bahwa konsumsi kedelai hitam sebanyak 20 kg per hari, gula merah sebanyak 40 kg per hari dan garam sebanyak 16,67 kg per hari sebagai bahan baku, konsumsi air sebanyak 5,16 m3 per hari, konsumsi listrik 26,052 KWh per hari. Beberapa peluang penerapan produksi bersih yang dapat dilakukan yaitu menyortir kedelai hitam sebelum dilakukan proses pencucian, mempersingkat waktu penyimpanan
gula merah, membuka karung kemasan bahan sesuai dengan SOP, segera mematikan bara api begitu proses produksi selesai, menjual ampas kedelai hitam, menjual ampas kecap, menggunakan pelet kayu sebagai bahan bakar pengganti kayu, menggunakan exhaust fan, memperpanjang masa penggunaan air, mengumpulkan karung bekas untuk dijual kembali, menggunakan kembali botol bekas sebagai botol kemasan produk, membuat kerajinan tas dari karung bekas dan mengambil kembali karung bekas untuk tempat pembuangan limbah padat.
Kata kunci: kecap, kedelai hitam, produksi bersih, manajemen lingkungan
The soy sauce manufacturing industry is one of the food processing industries with black soybean as raw materials. The study of opportunities for implementing cleaner production needs to be done because in addition to producing the main product in the form of soy sauce, the production process also causes the generation of liquid waste, solid waste and gas emissions as a by- product. The purpose of this study is to analyze the soy sauce production process and the occurrence of waste generation and solutions to overcome the waste generation, analyze the net alternative production opportunities that can be applied and the benefits obtained through the implementation of clean production based on technical, economic and environmental feasibility analysis, making priority scale of implementation alternative clean production.
The research is a descriptive study with observation, measurement and interview methods. The research location in the cap Udang soy sauce plant in Purwodadi Subdistrict, Purwodadi District, Grobogan Regency, Central Java.
The results of the research in the cap Udang soy sauce plant showed that consumption of black soybeans as much as 20 kg per day, brown sugar as much as
40 kg per day and salt as much as 16,67 kg per day as raw material, water consumption of 5,16 m3 per day, consumption electricity 26,052 KWh per day. Several opportunities for implementing cleaner production can be done, namely sorting black soybeans before the washing process, shortening the storage time of brown sugar, opening sacks of material packaging in accordance with the standar
operational procedure, immediately turning off the embers once the production process is finished, selling black soybean dregs, selling soy sauce dregs, using wood pellets as wood substitute fuel, use exhaust fan, extend water usage period, collect used sacks for resale, reuse used bottles as product packaging, making handicraft bags from used sacks and reclaiming sacks for solid waste disposal sites.
Keywords: soy sauce, soybeans, cleaner production, environmental managemen
KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI PADI TERHADAP PENDAPATAN TOTAL RUMAH TANGGA PADA PETANI ANGGOTA GAPOKTAN TANI MAKMUR KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK
ABSTRACT
The study aimed to analyzed paddy farm enterprise incom, determined the
profitability of paddy farm enterprise, determined the paddy farm enterprise family
incom, compared the paddy farm enterprise incom with the outside income from paddy
farm enterprise and determined the contribution of paddy farm enterprise to the
household farm income. The study of contribution paddy farm income to the household
farm income was held in October – November 2018 at Tani Makmur Farmer Group
Combination, Demak Sub-District, Demak. The method was used survey method. The
method of determined sample amount was used slovin methode with 60 paddy’s farm
household from 150 farm household population by propotional simple random sampling.
The analysis method was used one sample t-test and paired sample t-test. The result
showed that paddy farm interprise income was ID 43,347,178 per year with the average
area of land was 1,5 hectare. Profitability of paddy farm enterprise was 85,65%. There
were differences between the paddy farm enterprise income with the outside income from
paddy farm enterprise each by IDR 43,347,178 and IDR 29,047,254. The contribution
paddy farm enterprise income to the farm households income amounted to 65%.
Keywords: contribution income, paddy farm, income
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI PENGELOLAAN NILAI MAHASISWA AKADEMI KOMUNITAS NEGERI DEMAK MENGGUNAKAN PERSONAL EXTREME PROGRAMMING (PXP)
Nilai akademik merupakan prestasi yang didapatkan melalui kegiatan formal pada suatu
lembaga pendidikan. Nilai akademik merupakan data penting pada perguruan tinggi, dimana
nilai akademik menjadi faktor dalam menentukan kelulusan mahasiswa. Akademi
Komunitas Negeri Demak (AKN Demak) merupakan perguruan tinggi vokasi untuk jenjang
Diploma 2 yang berada di Kabupaten Demak. Pada AKN Demak, bentuk pelaporan nilai
mahasiswa sepenuhnya masih dilakukan oleh admin. AKN Demak menginginkan dosen
dapat mengunggah nilai secara mandiri. Selain itu, mahasiswa dapat melihat informasi nilai
secara online. Penelitian ini menghasilkan Sistem Informasi Pengelolaan Nilai Mahasiswa
berbasis web yang dikembangkan dengan metode Personal Extreme Programming (PXP).
PXP merupakan metode yang dapat diterapkan pada pengembang perangkat lunak tunggal
dan lebih menekankan komunikasi yang berkelanjutan dengan user. Karena sistem yang
dikembangkan berorientasi pada user, maka sistem ini dapat mengadopsi kebutuhan dari
user. Pada sistem ini dosen dapat mengunggah rincian nilai seperti Ujian Tengah Semester
(UTS), Ujian Akhir Semester (UAS), nilai tugas, dan nilai praktek dengan ketentuan bobot
nilai oleh masing-masing dosen. Selain itu, mahasiswa dapat melihat Kartu Rencana Studi,
Hasil Studi Mahasiswa tiap semester, transkrip nilai, kartu UTS, dan kartu UAS. Proses
pengujian sistem ini menggunakan pengujian black box. Berdasarkan pengujian black box,
sistem telah sesuai dengan kebutuhan fungsional sistem.
Kata Kunci: Nilai Akademik, Pengelolaan Nilai Mahasiswa, Personal Extreme
Programming, Black Box
EVALUASI TATA KELOLA SISTEM INFORMASI MONIKA (STUDI KASUS: BPS Provinsi Jawa Tengah)
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu lembaga
yang memberikan layanan bagi masyarakat. Dalam mengawasi kegiatan – kegiatan
karyawannya sehingga dapat memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, BPS
Provinsi Jawa Tengah mempunyai sebuah sistem infomasi yang bernama MONIKA
(Monitoring Karyawan). Sistem informasi ini berfungsi untuk memonitor kegiatan
karyawan BPS Provinsi Jawa Tengah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
tingkat kapabilitas dari sistem informasi MONIKA. Metode yang digunakan adalah
framework COBIT 5 domain DSS01, DSS02, MEA01 dan MEA03. Dari hasil
penelitian Sistem Informasi MONIKA domain DSS01 memperoleh hasil sebesar
88,75%, domain DSS02 memperoleh hasil sebesar 91.67% dari sisi pengelola dan
85.294% dari sisi pengguna, domain MEA01 memperoleh hasil sebesar 91.67% dari
sisi pengelola dan 89.70588% dari sisi pengguna dan untuk domain MEA03
memperoleh hasil sebesar 83.33% dari sisi pengelola dan 82.3529412% dari sisi
pengguna. Berdasarkan hasil penilaian self assessment dinyatakan bahwa tingkat
kapabilitas Sistem Informasi MONIKA terdapat pada level 0 (Incomplete) dengan
status Fully Achieved untuk domain DSS01, DSS02 dan MEA01 sedangkan untuk
MEA03 adalah Largely Achieved. Dari hasil tersebut maka dapat ditentukan
kesenjangan tingkat kapabilitas dari Sistem Informasi MONIKA yakni sebesar 3.
Sehingga rekomendasi yang diberikan kepada BPS Provinsi Jawa Tengah adalah
dengan mendokumentasikan peraturan dari Sistem Informasi MONIKA.
Kata Kunci : Audit, Sistem Informasi MONIKA, Operasional, Monitoring karyawan
APLIKASI KLASIFIKASI KANKER SERVIKS MENGGUNAKAN DATA MICRORNA DENGAN ALGORITMA RANDOM FOREST
Kanker serviks merupakan salah satu penyakit paling mematikan bagi kaum wanita di dunia.
Kematian akibat kanker serviks terbesar dialami negara-negara berpenghasilan rendah atau
menengah, termasuk Indonesia. Salah satu upaya pencegahan untuk menanggulangi
kematian akibat kanker serviks adalah melakukan deteksi dini kanker serviks. Teknologi
terbaru deteksi dini kanker adalah dengan menggunakan pembelajaran mesin untuk klasifikasi
yang menghasilkan prediksi kondisi pasien, sehingga bisa digunakan untuk pedoman awal
pengobatan kanker. Tetapi, para peneliti biomedis tidak semuanya bisa melakukan klasifikasi
dan memerlukan sebuah alat yang bisa memfasilitasi mereka dalam melakukan klasifikasi.
Dengan demikian, dibuat aplikasi menggunakan framework Django untuk klasifikasi kanker
serviks menggunakan data microRNA dengan algoritma Random Forest. Dalam kasus
kanker, microRNA bisa digunakan sebagai biomarker diagnostik untuk deteksi dini kanker
sehingga bisa membantu perencanaan perawatan penderita kanker. Algoritma Random Forest
dipilih karena menghasilkan visualisasi model berupa pohon keputusan yang mudah
dipahami oleh peneliti biomedis dan bisa melakukan perhitungan feature importance untuk
rekomendasi biomarker. Aplikasi ini dibangun menggunakan model proses waterfall yang
pada fase pengumpulan persyaratan aplikasinya didasarkan pada analisis metodologi
CRISP-DM. Hasil pengujian aplikasi ini menyatakan bahwa aplikasi ini layak digunakan
sebagai solusi baru untuk memfasilitasi peneliti biomedis pada domain kanker serviks.
Kata Kunci : Aplikasi, Klasifikasi, Kanker Serviks, MicroRNA, Random Forest, Model
Proses Waterfall, CRISP-DM, Djang