Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    PENGARUH SIKAP DAN MOTIVASI PETANI TERHADAP ADOPSI PROGRAM KARTU TANI PADA PETANI TANAMAN PADI DI KABUPATEN GROBOGAN

    Get PDF
    Kebijakan subsidi pupuk merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ketersediaan dan distribusi pupuk yang tidak merata, akan tetapi adanya program kartu tani masih mengalami pro dan kontra di kalangan petani. Penelitian telah dilaksanakan di Kabupaten Grobogan pada tanggal 12 Februari 2019 sampai tanggal 5 Maret 2019. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis sikap, motivasi, adopsi dan pengaruh sikap dan motivasi petani tanaman padi terhadap adopsi program kartu tani. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah petani tanaman padi anggota kelompok tani berprestasi di Kabupaten Grobogan (Kelompok tani Maju, Kelompok tani Margo Husodo, Kelompok tani Karya Mukti). Sampel penelitian ditentukan secara acak dengan jumlah 86 responden diperoleh dari rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dan observasi langsung. Data kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden didominasi oleh laki-laki berusia produktif yang memiliki pengalaman bertani cukup lama, tetapi memiliki tingkat pendidikan relatif rendah. Sikap, motivasi dan adopsi petani terhadap program kartu tani berturut-turut tergolong sedang. Faktor sikap dan motivasi berpengaruh terhadap adopsi. Variabel sikap dan motivasi mempengaruhi variabel adopsi sebesar 79,4% dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel sikap dan motivasi memiliki pengaruh sangat nyata terhadap variabel adopsi (sig<0,05). Kata Kunci: adopsi, analisis regresi linear berganda, kartu tani, motivasi, sika

    ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BAWANG MERAH PADA PETANI BAWANG MERAH DI KELOMPOK TANI MEKAR JAYA KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan petani bawang merah dan menganalisis faktor yang mempengaruhi pendapatan petani bawang merah di Kelompok Tani Mekar Jaya. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei 2018 di Kelompok Tani Mekar Jaya Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey. Metode penentuan jumlah sampel penelitian dilakukan menggunakan slovin dari 90 anggota menjadi 70 anggota Kelompok Tani Mekar Jaya. Analisis data yang digunakan yaitu uji beda dan uji regresi linier berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa pendapatan petani bawang merah lebih tinggi jika dibandingkan dengan upah minimal Kabupaten Brebes. Tenaga kerja, biaya bibit, biaya pupuk, biaya produksi, dan luas lahan berpengaruh secara serempak terhadap tingkat pendapatan petani. Faktor pendapatan yang berpengaruh nyata terhadap produksi bawang merah adalah yaitu tenaga kerja dan luas lahan. Kata kunci : bawang merah, faktor pendapatan, kelompok tani, pendapatan. ABSTRACT This study aims to analyzed income and income factor of Red Onion Farming in Mekar Jaya Farmer Group. The study was conducted in May 2018 at Mekar Jaya Farmer Group Bulakamba Districk Brebes Regency. The method used in the study was survey. The method of determining the number of research sample conducted use slovin of 90 member becomes 70 member of Mekar Jaya Farmer Group. Data were analyzed by different test and multiple linear regression. The result of this analysis implied that income of red onion farmer more than minimum salary of Brebes Districk. Factor labour, seed cost, fertilizer cost, production cost, and land area has had simultaneously influence to the income farmers. Factors of income that significantly affect on red onion production are seed cost and land production. Keywords : red onion, income factor, farmer group, income

    ANALISIS PELUANG PENGHEMATAN KONSUMSI ENERGI LISTRIK MELALUI SISTEM PENCAHAYAAN (STUDI KASUS: GEDUNG PASCASARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO)

    Get PDF
    Konservasi energi berdasarkan PP No. 70 tahun 2009 menganjurkan penggunaan energi secara efektif dan efisien yang harus dilaksanakan di seluruh sektor kehidupan tidak terkecuali pada lingkungan akademik. Ruang kuliah sebagai tempat belajar mengajar membutuhkan pencahayaan yang baik untuk mendukung kegiatan sehari-hari dengan tetap memperhatikan kebijakan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi sistem pencahayaan dan konsumsi energinya pada Gedung Pascasarjana Universitas Diponegoro dan mencari peluang penghematan yang dapat dilakukan. Penghematan pada sistem pencahayaan dipilih karena mudah dilakukan serta dapat dilakukan dengan tanpa mengeluarkan biaya hingga rendah biaya. Penghematan diamati melalui penurunan konsumsi energi dari obyek penelitian. Penelitian ini mengambil 15 sampel ruang yang digunakan untuk kuliah dan sidang/seminar yang berada di Gedung A dan B Pascasarjana Universitas Diponegoro. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah obsevasi, pengukuran intensitas pencahayaan, perhitungan konsumsi energi, dan analisa data serta simulasi menggunakan software Ecotect untuk menemukan peluang penghematan. Pencahayaan dalam ruang kuliah harus memenuhi standar minimal intensitas pencahayaan sebesar 350 lux sesuai SNI 6197:2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 33,3% ruangan yang memiliki intensitas pencahayaan sesuai standar. Terdapat 15 sampel ruangan dengan kondisi awal ruang-ruang tersebut memiliki 76 buah lampu tipe CFL 18 Watt yang beroperasi mulai Senin-Sabtu pukul 08:00-18:00 sehingga memiliki konsumsi energi dalam 1 tahun sebesar 5.909.760 Wh/tahun yang setara dengan Rp 5.318.784,-. Peluang upaya penghematan dilakukan diantaranya dengan manajemen penggunaan ruang dan manajemen penggunaan lampu. Manajemen penggunaan ruang meliputi pengaturan letak media pembelajaran dan pemilihan ruang dengan orientasi jendela di sisi selatan. Pada manajemen penggunaan lampu digunakan dua skenario, skenario pertama adalah ketika hasil pengukuran intensitas pencahayaan alami pada suatu ruangan bernilai ≥ 350 lux, maka lampu pada ruangan tersebut dapat dimatikan. Skenario kedua adalah ketika hasil pengukuran intensitas pencahayaan alami 350 lux. Agar intensitas pencahayaan mendekati 350 lux, maka dilakukan simulasi pengurangan jumlah lampu yang menyala dalam skenario dua. Upaya perbaikan ruangan yang intensitas pencahayaannya tidak memenuhi standar ternyata memerlukan biaya Rp 3.776.026,- per tahun dan bahkan konsumsi energi meningkat hingga 70,99%. Rekomendasi yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah penghematan dengan manajemen ruangan dan gabungan dua skenario dengan tanpa memperbaiki ruangan agar tercapai penghematan sebesar 15,26% atau sebesar Rp 811.814,- per tahun. Kata Kunci : sistem pencahayaan, peluang penghematan, SNI 6197:2011 Energy conservation based on PP No. 70 of 2009, advocating the effective and efficient of energy use must be implemented in all sectors of life including the academic environment. Lecture rooms as a place of learning, requires good lighting to support the daily activities with regard to the policy. This research was conducted to determine the lighting system condition and energy consumption at Diponegoro University Graduate Building and find the savings opportunities that can be done. The savings on the lighting system chosen because it easy to do and can be done at no cost or low cost. The savings observed through the reduction of energy consumption of the research object. This research took 15 room samples that used for lectures and sessions/seminars that are in Building A and B of Diponegoro University Postgraduate. The method that used in this research was observation, lighting intensity measurement, energy consumption calculation, data analysis and simulation using Ecotect software to find savings opportunities. The lighting in lecture rooms must meet a minimum standard of ≥ 350 lux illumination intensity according to SNI 6197:2011. The results showed that only 33,3% rooms that has a lighting intensity according to the standards. There are 15 room samples with initial conditions the room has 76 pieces of 18 Watt CFL lamps which operate from Monday to Saturday at 08:00-18:00, so energy consumption in one year is 5.909.760 Wh/year which equivalent to IDR 5.318.784,-. The opportunities for savings achieved by management use of the room and the lights. Room use management includes the setting location of learning media and room selection with south side window orientation. On the management use of lighting, using two scenarios: first when the measurement intensity of natural lighting in a room is worth ≥ 350 lux, then the lights in the room can be turned off. The second scenario is when the natural light intensity measurement results 350 lux. In order to approach the lighting intensity of 350 lux, the simulation is done by reducing the number of lights on in the second scenario. Room improvement that the lighting intensity does not meet the standards require a cost of IDR 3.776.026,- per year and even energy consumption increased up to 70,99%. The recommendations produced in this research are savings with room management and a combination of two scenarios without improving the room in order to achieve savings of 15,26% or IDR 811.814,- per year. Keywords: Lighting System, Savings Opportunities, SNI 6197:201

    STRATEGI PENGEMBANGAN MAROON MANGROVE EDUPARK DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH

    Get PDF
    Abstract Maroon Mangrove Edupark (MMEP) is one of the most visited mangrove forests in Semarang. It is located close to Maroon beach and Ahmad Yani International Airport. MMEP was classified as a new tourism site that expected to provide an economic value for local community. Economic benefits that was obtained by visitors and manager can be known through economic valuation. Development strategy is needed to maintain its existence and bring a great economic benefit in the future. The primary aim of this study was to analyze MMEP’s sustainable preserve strategies. Economic valuation as well as internal and external factors evaluation can be used as a reference in managing and developing MMEP. Components of economic valuation were total economic value and price of tourist entrance ticket. Individual Travel Cost Method (ITCM) was used to analyze the economic value of MMEP. Total economic value of MMEP was IDR 421.169.436. The tourism potential that has been utilized was only 36.83% of the total economic value. The value can be increased by increasing MMEP's received costs directly from the travel cost incurred by respondents. Willingness To Pay (WTP) value that can be used as a reference in determining a tourist entrance fee at MMEP was IDR 9.000. The condition of MMEP management was in quadrant III. The step should be taken to develop MMEP is the Weakness-Opportunity (WO) conservative strategy, which is strategy to minimize the weaknesses and to maximize the opportunities. Keywords: economic valuation, individual travel cost method, SWOT analysis, conservatif strategy, mangrov

    KAJIAN TEKNIS PENGELOLAAN SAMPAH DI KOTA PALANGKA RAYA

    Get PDF
    Kota Palangka Raya adalah salah satu kota di Indonesia yang menghadapi permasalahan sampah dengan tingkat pelayanan sampah sebesar 47,72 % dan rendahnya kesadaran warga untuk mendukung pengelolaan sampah yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya timbulan dan komposisi sampah, mengetahui faktor yang mempengaruhi timbulan sampah, mengetahui kondisi pengelolaan sampah, dan mengetahui rencana pengembangan teknis operasional pengelolaan sampah di Kota Palangka Raya. Tipe penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui pengukuran sampling, kuesioner, wawancara dan observasi sistem pengelolaan persampahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa timbulan sampah di Kota Palangka Raya sebesar 0,45 kg/orang/hari atau 2,81 liter/orang/hari dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik berupa sampah sisa makanan, sisa sayuran dan daun-daunan yaitu sebesar 38,09 %, kemudian diikuti oleh sampah anorganik berupa sampah plastik sebesar 24,07 % dan kertas sebesar 21,33 %. Faktor yang signifikan mempengaruhi timbulan sampah rumah tangga di Kota Palangka Raya adalah variabel kepedulian terhadap lingkungan dan tingkat pendapatan pada tingkat kepercayaan 95 %. Sementara variabel jumlah anggota keluarga mempengaruhi timbulan sampah rumah tangga pada tingkat kepercayaan 99 %. Untuk meningkatkan pelayanan persampahan, pemerintah daerah perlu menyediakan pewadahan berupa tong sampah mobile untuk daerah yang kesulitan mengakses sarana pewadahan, menambah truk armroll sebanyak 4 unit, menambah jumlah petugas kebersihan dan meningkatkan kesadaran warga masyarakat dalam pengelolaan sampah. Timbulan sampah diproyeksi semakin meningkat dari tahun ke tahun karena peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan kota, sehingga dalam pengelolaan sampah membutuhkan penambahan pewadahan, alat angkut dan TPA yang baru. Dari hasil analisis selama 20 tahun diperlukan pewadahan berupa 3 unit transfer depo, 51 unit TPS kontainer, 20 unit tong sampah mobile dan 26,65 hektar lahan untuk TPA baru. Sedangkan kebutuhan alat angkut berupa 16 unit truk armroll, 4 unit truk dump dan 4 unit pick up. Kata kunci : teknis operasional, pengelolaan sampah, timbulan sampah, proyeksi Palangka Raya City is one of the cities in Indonesia that faces waste problems with a solid waste service level of 47.72% and the low awareness of citizens to support waste management carried out by the local government. The purpose of this study was to determine the amount of waste generation and composition, to know the factors that influence waste generation, to know the condition of waste management, and to know the plan for developing technical operational management of waste in Palangka Raya City. The type of research is quantitative and qualitative research with data collection techniques through sampling measurements, questionnaires, interviews, and observation of waste management systems. The results showed that solid waste generation in Palangka Raya City was 0.45 kg/person/day or 2.81 liters/person/day with the composition of the garbage being dominated by organic waste in the form of food scraps, vegetable scraps, and leaves, amounting to 38,09 %, then followed by inorganic waste in the form of plastic waste at 24.07 % and paper at 21.33 %. Significant factors affecting household waste generation in Palangka Raya City are environmental awareness variables and the level of income at a 95% confidence level. While the variable number of family members affects household waste generation at a 99% confidence level. To improve solid waste services, the local government needs to provide storage services in the form of mobile garbage cans for areas that have difficulty accessing storage facilities, add 4 units of arm roll trucks, increase the number of cleaners staff and increase community awareness in waste management. Waste generation is projected to increase from year to year due to an increase in population and urban growth so that waste management requires the addition of container, transportation, and new landfill. From the results of the analysis for 20 years, it requires 3 units of depot transfer, 51 units of TPS containers, 20 units of mobile waste bins and 26.65 hectares of land for the new landfill. While the need for conveyance in the form of 16 units of arm roll trucks, 4 units of dump trucks and 4 units of pick up. Keywords : technical operations, waste management, waste generation, projection

    PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI BATIK DENGAN SISTEM AEROBIK GRANUL SEBAGAI SALAH SATU UPAYA DALAM MENDUKUNG INDUSTRI BERWAWASAN LINGKUNGAN

    Get PDF
    Air limbah industri batik mengandung polutan yang sebagian besar berasal dari sisa pewarna dan lilin/malam sehingga dapat mencemari lingkungan jika tidak diolah terlebih dahulu. Pengolahan air limbah industri batik yang pernah dilakukan baik secara fisika-kimia maupun biologi belum dapat menurunkan polutan secara optimal oleh sebab itu perlu dicoba alternatif teknologi yang lain. Aerobik granul merupakan salah satu sistem pengolahan air limbah secara biologi, dimana selain mengolah polutan dengan beban COD yang tinggi, sistem ini juga mampu mereduksi polutan nutrient dan cemaran toksik air limbah dengan waktu tinggal hidraulik yang pendek. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan salah satu alternatif teknologi pengolahan air limbah industri batik dengan sistem aerobik granul yang diharapkan akan lebih efektif, efisien dan ramah lingkungan dibandingkan dengan teknologi yang telah dicoba sebelumnya. Penelitian dilakukan di laboratorium BBTPPI dengan sampel air limbah diambil dari IKM Batik Semarang 16. Uji coba dilakukan dengan menggunakan SBR (sequencing batch reactor) dengan volume 10 L. Aerobik granul berhasil dikembangkan dari sludge IPAL lumpur aktif dengan umpan berupa natrium asetat konsentrasi COD 900-1200 mg/L. Granul terbentuk setelah 14 hari operasi reaktor dengan dua kali siklus per hari, satu siklus dijalankan selama 310 menit terdiri dari feeding (pemasukan umpan) 2,5 menit, kondisi anaerob 90 menit, kondisi aerob 210 menit, pengendapan 5 menit dan withdraw (pengeluaran efluen) 2,5 menit dan exchange ratio 60%. Jumlah granul asetat mencapai 76,74% dengan persentase tertinggi adalah granul dengan ukuran partikel 0,3mm2mm. Jumlah granul pada pengolahan air limbah industri batik konsentrasi 100% turun menjadi 65,01% dengan fraksi tertinggi adalah partikel flok dengan ukuran d<0,3mm sebanyak34,99%. Nilai SVI5 pada tahap pengolahan air limbah industri batik mencapai 74,26 mL/g sedangkan nilai SVI30 adalah sebesar 79,21 mL/g. Kecepatan pengendapan granul meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi air limbah batik dan berkurangnya jumlah biomassa dalam reaktor mencapai 18,5 cm/menit. Konsentrasi biomassa dalam reaktor dan efisiensi removal COD menurun seiring dengan peningkatan konsentrasi air limbah industri batik. Rata-rata efisiensi removal COD pada pengolahan air limbah industri batik sebanyak 25%, 50% dan 100% masing-masing adalah 84,35%, 73,80% dan 56,04%. Performa removal polutan BOD5, COD, TSS dan minyak lemak pada pengolahan 50% air limbah industri batik masing-masing adalah sebesar 73,44%, 69,77%, 85,65% dan 83,44%. Performa removal polutan BOD5, COD, TSS dan minyak lemak pada pengolahan 100% air limbah industri batik masing-masing adalah sebesar 63,54%, 54,62%, 77,94% dan 59,68%. Kata kunci : air limbah, industri batik, aerobik granul, berwawasan lingkungan Batik industry wastewater contains pollutants mostly come from the remaining dyes and wax that can pollute the environment if not treated first. Treatment of batik industry wastewater has been carried out both physically-chemically and biologically has not been able to reduce pollutants optimally yet, therefore it is necessary to try other alternative technology. Aerobic granule is a biological wastewater treatment system, which in addition treats pollutants with high COD load, this system is also capable of reducing nutrient pollutants and toxic wastewater contamination with short hydraulic retention times. The aim of this research is to obtain an alternative technology for wastewater treatment of batik industry with aerobic granule system which is expected to become more effective, efficient and environmentally friendly compared to previous technologies. The study was conducted in the BBTPPI laboratory with wastewater sample taken from IKM Batik Semarang 16. The experiment was carried out using SBR (sequencing batch reactor) with volume of 10 L.Aerobic granules were successfully developed from sludge WWTP activated sludge with feed of sodium acetate with COD concentration 900-1200 mg/L. Granules formed after 14 days of reactor operation with two cycles per day, one cycle run for 310 minutes consisting of 2.5 minutes of feeding, 90 minutes of anaerobic condition, 210 minutes of aerobic condition, 5 minutes of settling and 2.5 minutes withdrawing (effluent removal) and exchange ratio of 60%. The number of acetate granules reaches 76.74% with the highest percentage is granule with particle size of 0.3mmd>2mm. The number of granules in batik industry wastewater treatment 100% concentration dropped to 65.01% with the highest fraction is floc particles with size of d<0.3mm as much as 34.99%. SVI5 value at batik industry wastewater treatment stage reaches 74.26 mL/g while SVI30 value is 79.21 mL/g. Settling velocity of granules increases with the increase of concentration of batik wastewater and the reducing amount of biomass in the reactor reaches 18.5 cm/minute. Concentration of biomass in the reactor and COD removal efficiency decreases with increasing concentration of batik industry wastewater. The average COD removal efficiency in batik industry wastewater treatment 25%, 50% and 100% respectively are 84.35%, 73.80% and 56.04%. The performance of BOD5, COD, TSS and oil&grease pollutant removal in the 50% treatment of batik industry wastewater are 73.44%, 69.77%, 85.65% and 83.44%, respectively. The performance of BOD5, COD, TSS and oil&greasepollutant removal in the 100% of batik industry wastewater treatment are 63.54%, 54.62%, 77.94% and 59.68%, respectively. Keywords : wastewater, batik industry, aerobic granule, environmentally friendl

    ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BUNGA MELATI(Jasminum sambac)DI KABUPATEN BATANGPROVINSI JAWA TENGAH

    Get PDF
    Abstrak Bunga melati termasuk jenis tanaman florikulturadengan warna kelopak putihdan memiliki aroma yangsangat harum. Bunga melati banyak dimanfaatkan untukkegiatan yang berkaitan dengan adat istiadat maupunsebagai bahan baku industri. Penggunan bunga melatisemakin mengalami penurunan karena banyak industrilebih memilih menggunakan essence bunga melati. Hargajual bunga melati cenderung mudah mengalami fluktuasikarena produksi bunga melati ditentukan oleh musimdan permintaan pada peringatan hari raya serta upacaraadat tertentu. Tujuan penelitian adalah menganalisistentang pendapatan yang diterima petani bunga melatidan menganalisis adanya faktor-faktor yang dapatmempengaruhi pendapatan usahatani bunga melati.Penelitian di laksanakan pada bulan September 2018 diKecamatan Batang dan Kecamatan Kandeman,Kabupaten Batang. Metode penelitian menggunakanmetode survei dan metode pengumpulan data melaluiwawancara. Metode untuk mengambil sampel denganmenggunakan teknik Slovin, penentuan jumlahresponden dari masing-masing kecamatan menggunakaalokasi proporsional. Metode analisis data menggunakananalisis pendapatan, uji dengan model regresi linierberganda dan uji beda dengan one sample t test. Hasilpenelitian menunjukan pendapatan petani bunga melatisebesar Rp 3.330.909,-/0,51 ha/bulan. Hasil analisis onesample t test menunjukan pendapatan petani lebih besardibandingkan Upah Minimum Kabupaten (UMK). Faktorbiaya bibit, biaya tenaga kerja, biaya pestisida, biayapupuk, dan harga jual berpengaruh secara simultanmaupun parsial pada pendapatan yang diterima petanibunga melati diKabupaten Batang. Kata Kunci:Pendapatan,bunga melati,faktorpendapata

    ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI MINAPADI DI KABUPATEN SUKOHARJO

    Get PDF
    Permintaan terhadap komoditas padi tinggi, sehingga produktivitas padi perlu ditingkatkan. Salah satu cara yang ditempuh untuk meningkatkan produktivitas adalah diversifikasi lahan melalui minapadi. Kabupaten Sukoharjo menjadi salah satu lokasi pengembangan minapadi. Peralihan dari sistem monkultur padi ke minapadi memberikan perubahan bagi petani baik dari input, biaya dan pendapatan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pendapatan minapadi dan monokultur padi, profitabilitas minapadi dan monokultur padi, perbedaan pendapatan bersih minapadi dan monokultur padi, perbedaan profitabilitas minapadi dan monokultur padi serta perbedaan profitabilitas minapadi dengan suku bunga deposito bank. Metode penelitian yang digunakan adalah sensus dengan 33 responden yang menerapkan minapadi dan sebelumnya menerapkan budidaya monokultur padi. Penelitian dilaksanakan pada November-Desember 2018 di Desa Geneng Kecamatan Gatak dan Desa Dalangan Kecamatan Tawangasari Kabupaten Sukoharjo. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan bersih dan analisis profitabilitas. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji beda paired sample t test dan one sample t test. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan bersih minapadi (Rp 11.417.133/musim/ 4.152 m2) lebih besar dari pendapatan bersih monokultur padi (Rp7.564.842/musim/4.152m2),profitabilitas minapadi(77.69%) dan profitabilitas monokultur padi (142.86%) berbeda secara signifikan. Profitabilitas minapadi lebih besar dari pada suku bunga deposito bank (5,5%). Kata Kunci:minapadi, padi, pendapatan bersih,usahatani

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇