71404 research outputs found
Sort by
GAMBARAN PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI (APD) PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN HIV/AIDS DI RSUD TUGUREJO
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan seseorang dalam melakukan
pekerjan untuk melindungi diri dari sumber bahaya yang berasal dari pekerjaan. APD
merupakan komponen utama Personal Precaution yang digunakan perawat sebagai
kewaspadaan standar (Standard Precaution) dalam melakukan tindakan keperawatan.
APD penting bagi perawat yang melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan
penyakit berbahaya dan menular, antara lain penyakit HIV/AIDS. Penelitian ini
menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan metode survey. Sampel penelitian
menggunakan total sampling dengan jumlah 79 perawat di Ruang Penyakit Dalam.
Pengambilan data menggunakan kuisioner yang meliputi pengetahuan, sikap dan
perilaku. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan perawat tinggi dengan
persentase 73,5%, sikap positif dengan persentase 63,3% dan perilaku baik dengan
persentase 78,5%.
Kata kunci: Alat Pelindung Diri (APD), Perawat, HIV/AID
Gambaran tingkat kecemasan mahasiswa perantauan semester awal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang
Mahasiswa perantauanFakultas Kedokteran Universitas Diponegoro berasal dari berbagai daerah dimana mempunyai kondisi adat istiadat, bahasa dan lingkungan yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat beresiko menjadi stressor bagi mahasiswa, sehingga menimbulkan kecemasan. Kecemasan merupakan perasaan yang tidak menyenangkan sebagai respon patologis tubuh terhadap antisipasi bahaya yang tidak nyata.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan mahasiswa perantauan Semester Awal Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro yang di dapat dengan tekniktotal sampling. Sampel dalam penelitian ini yaitu 96 mahasiswa perantauan semester awal. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety Scale (ZSRAS) versi Indonesia. Data dianalisis dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak cemas yaitu sebanyak 89 responden (92,7%), dan sebanyak 6 responden (6,1%) mengalami kecemasan ringan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa perantauan Fakultas Kedokteran semester awal masih ada beberapa yang mengalami kecemasan. Diharapkan ada program khusus dari Intitusi Pendidikan atau Universitas untuk mengurangi kecemasan mahasiswa
GAMBARAN PELAKSANAAN KEWENANGAN KLINIS PADA PERAWAT KLINIK DI RUANG ANAK
Perawat dalam melakukan praktik keperawatan memiliki kewenangan klinis berdasarkan level jenjang karir. Beberapa perawat di Ruang Anak yang melaksanakan kewenangan klinis belum sesuai dengan jenjang karirnya, namun melaksanakan kewenangan klinis jenjang karir yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang pelaksanaan kewenangan klinis pada perawat klinik di Ruang Anak. Metode penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain survey deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi pada setiap responden selama 3 kali shift kemudian disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mandiri keperawatan tidak sesuai dengan kewenangan klinis meliputi Perawat Klinik I A (44,4%), Perawat Klinik I B (100%), Perawat Klinik II B (100%), dan Perawat Klinik III A (63,7%), sedangkan yang sesuai hanya Perawat Klinik III B saja. Praktik kolaborasi keperawatan tidak sesuai dengan kewenangan klinis meliputi Perawat Klinik I A (55,6%), Perawat Klinik I B (100%), Perawat Klinik II B (100%), sedangkan yang sesuai yaitu Perawat Klinik III A (100%) dan Perawat Klinik III B (100%). Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu Perawat Klinik I, II, dan III dalam melaksanakan kewenangan klinis mandiri belum sesuai dengan kewenangan klinisnya. Peneliti merekomendasikan agar pelayanan kesehatan mereview kewenangan klinis pada setiap jenjang karir perawat untuk meminimalkan ketidaksesuaian kewenangan klinis yang diberikan
KEPRIBADIAN TOKOH SAKURA DALAM ANIME KIMI NO SUIZOU WO TABETAI (KIMISUI) KARYA YORU SUMINO (KAJIAN PSIKOANALISIS) 住野夜が制作したアニメ「君の膵臓をたべたい」のさくらキャラクターの個性 (精神分析の研究)
ABSTRACT
Syawali, Noorasani. 2020. “Personality of Sakura’s Character from Kimi no Suizou wo Tabetai by Sumino Yoru”. Thesis, Department of Japanese, Faculty of Humanities, Diponegoro University. Advisor Yuliani Rahmah, S.Pd., M.Hum.
This research takes on anime by Sumino Yoru entitled by Kimi no Suizou wo Tabetai. The author’s purpose is to analyze the elements of movie in this anime and analyze to know the personality of the Sakura’s character in the anime Kimi no Suizou wo Tabetai.
The method used by the authors in this study is a method data collection stage with same as research and data presentation. The approach of psychological literature is used because this research raises the question of Sakura’s character personality from anime Kimi no Suizou wo Tabetai. The theory used in this research is the theory of personality depiction and psychoanalytic personality theory according to Carl Gustav Jung.
The results of this study indicate that according to the theory of Carl Gustav Jung, Sakura’s character personality from anime Kimi no Suizou wo Tabetai the Shiosai based on the consciousness that can be seen from the soul functionality Sakura’s is type-sensed personality. While viewed from the attitude of the soul, Shinji has an extrovered personality. Based on his unconsciousness, Sakura has a intuitive personality type and has a persona
Keywords: Psychoanalytic literature, personality, Sakura, Kimi no Suizou wo Tabetai
Gambaran Faktor Kegagalan Berhenti Merokok pada Remaja Putra di SMK Wilayah Kerja Puskesmas Srondol
Merokok pada usia remaja lebih rentan mengalami masalah kesehatan yang serius karena berada pada usia pertumbuhan. Berdampak negatif pada kesehatan dan emosional. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan gambaran faktor kegagalan berhenti merokok pada remaja putra di SMK wilayah kerja Puskesmas Srondol. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Wawancara kuesioner di lakukan pada 36 responden dengan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden berusia 17 tahun (33,3%). Sebanyak 86,1% responden merupakan perokok lama. Semakin muda usia mulai merokok responden semakin besar kemungkinan untuk menjadi perokok berat serta semakin susah untuk menghentikan perilaku merokok tersebut. Responden berpendidikan SMK kelas XI (58,3%) dan memiliki uang saku per bulan diatas rata-rata (61,1%), uang saku responden di dapatkan dari orang tua, saudara serta dari hasil kerja paruh waktu. Uang saku yang didapatkan dari beberapa sumber dapat memenuhi kebutuhan responden yang dapat digunakan untuk membeli rokok. Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik (80,6%), sikap yang baik (52,8%), ketersediaan rokok yang tersedia (55,6%) dan keterjangkauan rokok yang terjangkau (61,1%), semakin banyak dan mudah fasilitas atau tempat untuk mendapatkan rokok maka semakin tinggi kemungkinan seseorang untuk gagal berhenti merokok. Responden yang mengetahui adanya kebijakan KTR di sekolah (88,9%), memiliki dukungan orang tua yang mendukung (69,4%), dukungan teman yang mendukung (66,7%) dan dukungan guru yang mendukung (80,6%). Menghentikan perilaku merokok bagi yang mengalami kecanduan merupakan hal yang sulit untuk dihentikan, karena sebagian karakteristik responden masih tidak peduli dengan lingkungan sekitar bahkan bersama anggota keluarga mereka saling berbagi rokok. Saran bagi sekolah yaitu perlu memantau lingkungan sekitar sekolah supaya para siswa tidak mudah menjangkau transaksi jual beli rokok
Kata Kunci: Merokok, Berhenti Merokok, Remaja Putr
ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN TB PARU (TUBERKULOSIS) DI KABUPATEN REMBANG (STUDI KASUS PADA PUSKESMAS PANCUR DAN PUSKESMAS KRAGAN 2)
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang merupakan penyebab kematian nomor satu kategori penyakit infeksi di dunia. Indonesia merupakan negara nomor dua dengan beban tertinggi akibat Tuberkulosis di dunia setelah India. Penemuaan penderita Tuberkulosis di Kabupaten Rembang masih rendah dan belum memenuhi target, sehingga penting untuk dilakukan analisis pelaksanaan program. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis pelaksanaan program pengendalian TB paru di puskesmas dengan menggunakan metode kualitatif dimana informasi yang
didapat dari wawancara mendalam kepada Informan Utama yaitu Kepala
Puskesmas, Pemegang Program, dan Analis Laboratorium. Sedangkan untuk
informan triangulasi yaitu Kepala TU, Kasie P2 Dinkes Kabupaten Rembang,
Pengelola Program TB Dinkes Kabupaten Rembang, serta penderita TB Paru.
Variabel yang diteliti adalah Input (man, money, material, method) dan Proses(perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan).
Hasil dari penelitian ini adalah Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan program TB berpedoman kepada peraturan dari pusat (kementerian kesehatan), tenaga kesehatan dalam penemuan penderita TB kurang, dana cukup dan sarana guna penemuan penderita TB kurang. Proses, perencanaan di
puskesmas belum sesuai dengan pedoman, struktur organisasi dan pembagian
tugas belum ada, koordinasi tim kurang, kerjasama lintas program dan lintas
sektor kurang, pelaksanaan dalam penemuan penderita TB belum berjalan
dengan baik, monitoring dan evaluasi dalam penemuan penderita TB belum
berjalan dengan baik.. Hasil penelitian ini menyarankan untuk perbaikan program pengendalian TB sesuai dengan pedoman yakni memfasilitasi pelatihan lanjutan, efisiensi sarana dan menyediakan sesuai kebutuhan, membentuk struktur organisasi dan pembagian tugas yang jelas, menjalin kerjasama lintas program dan lintas sektor, melaksanakan koordinasi rutin, menggiatkan kegiatan penjaringan kasus, serta merealisasi tindak lanjut dari permasalahan
Kata Kunci: program pengendalian, tuberkulosis, penemuan penderit
ANALISIS HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR DENGAN PEMANFAATAN PELAYANAN KUNJUNGAN KE-4 (K4) PADA IBU HAMIL TAHUN 219 (STUDI KASUS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KALIMAS, KECAMATAN RANDUDONGKAL, KABUPATEN PEMALANG)
Pada tahun 2018 Puskesmas Kalimas memiliki capaian K4 tertinggi dan telah memenuhi Standar Pelayanan Minimal (100.71%). Pada pelaksanaan K4 ada perbedaan cakupan K4 standar, K4 akses, dan target K4. Hal inidapatdilihatdariBulan Mei 2019 cakupan K4 standar sebesar 31.24%, cakupan K4 akses sebesar 35.59%, dan target 41.67%. Penelitian ini bertujuan menganalisisihubungan beberapa factor dengan pemanfaatan pelayanan K4 di Wilayah Kerja Puskesmas Kalimas Tahun 2019. Jenis0penelitian ini adalah explanatory research dengan desainocross sectional study. Pop ulasi penelitian berjumlah 122 ibu hamil. Dengan menggunakan teknik simple random sampling, sampel terpillih sebanyak 93. Uji statistik meliputi univariat dan bivariat (Chi Square; Continuity Correction). Hasil0penelitian menunjukkan 75.3% ibu memiliki paritas rendah, 71.0% ibu memiliki pendapatan keluarga yang tinggi (≥UMK), 71.0% ibu memiliki kemudahan dalam menjangkau aksesisibilitas, 81.7% ibu memiliki otoritas dalam pengambilan keputusan tinggi, 73.1% mendapatkan dukungan dari kader, 64.5% tersedianya informasi kehamilan, 53.8% ibu mendapatkan pelayanan tidak lengkap, 82.8% ibu tidak pernah megalami keguguran, dan 82.8% ibu memanfaatkan pelayanan K4 secara akses. Tidak ada hubungan paritas, pendapatan keluarga, aksesibilitas, otoritas wanita dalam pengambilan keputusan, dukungan kader kesehatan, riwayat keguguran dengan pemanfaatan pelayanan K4. Ada hubungan ketersediaan informasi kehamilan dengan (p-value = 0.006), kelengkapan pelayanan (p-value = 0.032) dengan pemanfaatan pelayanan K4. Optimalisasi pemberian informasi melalui cara penyuluhan kepada ibu, pemberian KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), melakukan komunikasi interpersonal, dan melakukan kunjungan rutin kepada ibu dengan bantuan bidan
Kata Kunci: K4, Informasi Kehamilan, Pelayanan Kehamilan, Aksesibilita
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGAYU KOTA SEMARANG
Berdasarkan data Operasi Timbang Balita Kota Semarang 2017, Karangayu
merupakan salah satu Puskesmas dengan kasus balita stunting terbanyak di Kota Semarang, yaitu 16,7% pada tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Karangayu Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan menggunakan desain studi crosssectional yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Karangayu Kota
Semarang pada bulan Juli - Agustus 2019. Sampel penelitian adalah 115 ibu di wilayah kerja Puskesmas Karangayu. Uji statistik menggunakan chi square
dengan hasil faktor yang berhubungan dengan stunting adalah riwayat KEK,
riwayat pemberian ASI, tingkat pengetahuan gizi, tingkat pengetahuan kehamilan, tingkat pengetahuan stunting dan tingkat pendapatan keluarga. Sedangkan, faktor yang tidak berhubungan adalah jenis kelamin, status berat lahir bayi, panjang lahir dan riwayat penyakit infeksi. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Karangayu Kota Semarang adalah riwayat KEK, riwayat pemberian ASI, tingkat pengetahuan gizi, tingkat pengetahuan kehamilan, tingkat pengetahuan stunting dan tingkat pendapatan keluarga
Kata Kunci: stunting, balita, faktor risiko, Kota Semaran