71404 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERTUMBUHAN, MORTALITAS DAN TINGKAT EKSPLOITASI KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI PERAIRAN MANGKANG WETAN TUGU KOTA SEMARANG
Upaya pengelolaan penangkapan Kepiting Bakau (Scylla serrata) perlu
dilakukan, salah satunya dengan studi pertumbuhan yang dapat digunakan sebagai
acuan untuk mengetahui kondisi populasi Kepiting Bakau. Permintaan yang
meningkat baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor mendorong
nelayan untuk melakukan penangkapan berlebihan (over exploitation) yang
mempengaruhi penurunan populasi Kepiting Bakau di alam. Tujuan penelitian ini
adalah untuk menduga laju pertumbuhan, mortalitas, serta eksploitasi Kepiting
Bakau jantan dan betina. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel
Kepiting Bakau yang diambil nelayan pada perairan Mangkang Wetan Tugu Kota
Semarang dari bulan Oktober 2018 hingga Januari 2019. Metode yang digunakan
adalah metode survei, Kepiting Bakau diambil seminggu sekali, selama 4 bulan.
Data yang didapat berupa data berat kepiting dan lebar karapas kepiting. Laju
pertumbuhan S. serrata sebesar 0,93/tahun (jantan) dan 0,69/tahun (betina). Laju
mortalitas alami S. serrata sebesar sebesar 1,08/tahun (jantan) dan 0,89/tahun
(betina), mortalitas karena penangkapan (F) sebesar 0,55/tahun (jantan) dan
1,09/tahun (betina). Laju eksploitasi S. serrata jantan mencapai 0,34 atau sebesar
34%, sedangkan laju eksploitasi S. serrata betina sebesar 0,55 atau 55%.
Eksploitasi S. serrata betina menunjukkan bahwa telah terjadi over exploitation
STUDI MORFOMETRIK KEPITING BAKAU (Scylla serrata) DI KECAMATAN WEDUNG, DEMAK, JAWA TENGAH
Kepiting bakau (Scylla serrata) adalah jenis kepiting yang hidup di
perairan pantai, tambak, dan hutan bakau (mangrove). Kepiting bakau
(Scylla serrata) merupakan komoditas ekspor bernilai ekonomis tinggi yang
sangat potensial untuk dikembangkan dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi di
Indonesia, terutama kepiting yang sudah dewasa serta gemuk.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik morfometrik
kepiting bakau (Scylla serrata) seperti kelimpahan relatif kepiting bakau (Scylla
serrata), distribusi lebar karapas, dan hubungan lebar karapas – berat kepiting
bakau (Scylla serrata). Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
kelimpahan realatif kepiting dan analisis regresi. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Februari – April 2019 di Kecamatan Wedung, Demak. Materi yang
digunakan pada penelitian ini adalah sampel kepiting bakau (Scylla serrata) hasil
tangkapan nelayan di daerah tersebut. Kepiting bakau hasil tangkapan nelayan
tersebut dihitung jumlahnya, diidentifikasi jenis kelaminnya, diukur lebar karapas
dan ditimbang beratnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepiting bakau (Scylla serrata) yang
tertangkap pada bulan Februari – April 2019 diperoleh 300 individu yang terdiri
dari 202 jantan dan 98 betina. Rata – rata ukuran lebar karapas tertinggi berkisar
9.8 cm pada hasil tangkapan di bulan Februari. Hubungan lebar karapas – berat
Kepiting bakau (Scylla serrata) baik jantan maupun betina menunjukkan pola
pertumbuhan allometrik negatif
ESTIMASI STOK KARBON LAMUN SPESIES Enhalus acoroides DAN Cymodocea serrulata DI PERAIRAN TELUK AWUR JEPARA
Pemanasan global telah menjadi perhatian dunia. Riset karbon dilakukan
dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Ekosistem pesisir memiliki
fungsi penyerap karbon di lautan (carbon sink) yang dikenal dengan istilah blue
carbon. Karbon bebas yang diserap kemudian tersimpan pada sedimen dan organ
pada lamun dalam bentuk biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung
estimasi stok karbon pada lamun jenis Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata
di Teluk Awur, Jepara Jawa Tengah pada Desember 2018. Sampling survey method
digunakan dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan nilai kerapatan lamun,
penentuan titik sampling lamun dengan metode purposive sampling. Analisis
kandungan karbon dengan metode pengabuan, sampel lamun dicuplik 3 individu
pada jenis Enhalus acoroides dan 6 individu pada jenis Cymodocea serrulata dari
27 titik sampling. Penghitungan total stok karbon dilakukan dengan konversi data
biomassa hasil perhitungan kerapatan lamun menjadi kandungan karbon. Hasil
analisis menunjukkan estimasi stok karbon jenis lamun Enhalus acoroides (1,07
ton/ha) lebih tinggi daripada Cymodocea serrulata (0,64 ton/ha). Hal ini dapat
disimpulkan bahwa ekosistem lamun berperan sebagai carbon sink. Untuk
selanjutnya diharapkan adanya pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara
terpadu untuk mempertahankan keberadaan lamun agar kontribusi terhadap
ekosistem di sekitarnya semakin stabi
PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN TOTAL LIPID MIKROALGA Chaetoceros calcitrans PADA KULTIVASI DENGAN INTENSITAS CAHAYA BERBEDA
Chaetoceros calcitrans dapat digunakan sebagai pakan alami dalam bidang
budidaya. Mikroalga memanfaatkan cahaya pada proses fotosintesis, sehingga
intensitas cahaya yang tepat diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan
kandungan lipid C. calcitrans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui taraf
intensitas cahaya yang tepat sehingga mendapatkan pertumbuhan dan kandungan
total lipid dari mikroalga C. calcitrans yang terbaik. Penelitian ini menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 taraf perlakuan intensitas cahaya dan 2
kali ulangan. Perlakuan taraf intensitas cahaya yang diberikan adalah 1000 lux,
1500 lux, 2000 lux, dan 2500 lux, dengan lama pencahayaan 12 jam terang : 12 jam
gelap. Sampel mikroalga yang digunakan yaitu C. calcitrans yang diperoleh dari
koleksi stok murni laboratorium pakan alami, BPBAP, Situbondo. Perhitungan
kepadatan sel mikroalga, serta pengukuran kualitas air dilakukan setiap hari selama
proses kultivasi. Kandungan total lipid di analisis dengan metode ekstraksi
menggunakan soxhlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kepadatan sel dan
kandungan total lipid tertinggi pada perlakuan 2500 lux, yaitu 67 x 10
5
(sel/ml) pada
hari ke-10 kultivasi dan 0,576 % berat kering, sedangkan kepadatan sel dan
kandungan total lipid terendah pada perlakuan 1000 lux, yaitu 38,5 x 10
5
(sel/ml)
pada hari ke-8 kultivasi dan 0,487 % berat kering. Berdasarkan hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa intensitas cahaya berbeda berpengaruh terhadap
pertumbuhan C. calcitrans (p<0,05), tetapi tidak berpengaruh terhadap kandungan
total lipidnya (p≥0,05). Intensitas cahaya 2500 lux dapat menghasilkan
pertumbuhan tinggi dan kandungan total lipid C. calcitrans terbaik
POTENSI SIMPANAN KARBON PADA LAMUN Cymodocea serrulata DI PANTAI PRAWEAN, KABUPATEN JEPARA
Pemanasan global merupakan akibat dari peningkatan gas-gas rumah kaca
(GRK), seperti halnya gas karbondioksida, metana, nitro dioksida, maupun gas
alam lainnya. Ekosistem padang lamun di perairan Pantai Prawean, Kabupaten
Jepara memiliki fungsi ekologis yang sangat penting sebagai penyangga
ekosistem lain di perairan tersebut. Potensi padang lamun diantaraanya adalah
sebagai penyimpan emisi karbon, sehingga mampu mencegah terjadinya
pemanasan global (global warming) atau biasa disebut sebagai blue carbon.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan potensi simpanan karbon pada
lamun jenis Cymodocea serrulata di perairan Pantai Prawean, Kabupaten Jepara.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2018 dan Maret 2019 dengan
metode pengukuran karbon pada lamun Loss of Ignition (LOI). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa biomassa terbesar terletak pada bagian Below Ground (akar
dan rhizoma) dengan persentase di atas 50% pada kedua waktu pengamatan bila
dibandingkan dengan jaringan lamun di atas substrat (daun). Rata-rata kandungan
karbon tertinggi pada kedua waktu penelitain terletak pada bagian akar lamun
dengan persentase nilai simpanan karbon mencapai 55 – 57%. Terjadi penurunan
nilai simpanan karbon dalam dua kali pengambilan data, yakni pada bulan
Desember 2018 total simpanan karbon pada lamun Cymodocea serrulata
mencapai 6,77 ton sedangkan pada bulan Maret 2019 nilainya turun menjadi 5,38
ton. Penurunan total simpanan karbon pada lamun ini di duga diakibatkan oleh
adanya perubahan faktor fisik perairan serta adanya faktor antropogenik di
wilayah perairan tersebut.
Kata Kunci : Biomassa, Lamun, Cymodocea serrulata, Pantai Prawean,
Simpanan Karbon
STUDI KONSENTRASI LOGAM BERAT TEMBAGA (Cu) NIKEL (Ni) DAN MANGAN (Mn) PADA SEDIMEN DASAR PERAIRAN PANTAI MARUNDA TELUK JAKARTA
Perairan Pantai Marunda terletak di Teluk Jakarta, merupakan pantai wisata
dan tempat bermuaranya aliran sungai Tiram. Aliran Sungai Tiram berasal dari
daerah Jabodetabek yang merupakan kawasan industri dan pemukiman, berpotensi
membawa limbah antropogenik diantaranya logam berat (Cu, Ni, dan Mn). Limbah
logam berat yang masuk ke perairan akan mengendap dan terakumulasi di sedimen
dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi logam berat
Tembaga (Cu), Nikel (Ni), dan Mangan (Mn) berdasarkan kedalaman sedimen dan
korelasi antara konsentrasi logam berat dengan ukuran butir. Pengambilan sampel
dilakukan pada tanggal 29 Juni 2018 di 4 stasiun menggunakan metode sediment
coring kemudian sampel dipisahkan per kedalaman (1-3 cm, 4-6 cm, dan 7-9 cm).
Analisis konsentrasi logam berat Cu, Ni, dan Mn pada sedimen menggunakan
metode ekstraksi logam dan analisis AAS serta analisis ukuran butir sedimen
menggunakan metode sieving dan pipetting. Hasil penelitian menunjukan nilai
konsentrasi rata-rata logam berat Cu, Ni, dan Mn pada lapisan atas setiap stasiun
berurutan sebesar 7,74 ppm; 8,17 ppm; 1.345,03 ppm. Lapisan tengah sebesar 6,91
ppm; 7,48 ppm; 1.279,35 ppm. Lapisan bawah sebesar 7,36 ppm; 7,79 ppm;
1.413,66 ppm. Konsentrasi logam berat Cu hanya memiliki korelasi positif terhadap
fraksi pasir, sedangkan logam berat Ni dan Mn hanya memiliki korelasi positif
terhadap fraksi lumpur.
Kata kunci: Konsentrasi, Logam Berat, Sedimen, Pantai Marund
PENGARUH FAKTOR HIDRO-OSEANOGRAFI TERHADAP PERUBAHAN MORFOLOGI MUARA SUNGAI BODRI, KABUPATEN KENDAL
Perairan Delta Sungai Bodri merupakan perairan yang mengalami proses
akumulasi sedimen yang secara terus-menerus. Akumulasi tersebut seiring
bertambahnya waktu menyebabkan pendangkalan di muara sungai sehingga badan
sungai yang masih menjadi daerah estuary, selain itu akibat sedimentasi pada badan
delta terbentuk daratan baru sehingga delta menjadi semakin luas.
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini untuk mengetahui perubahan
morfologi delta Sungai Bodri akibat faktor-faktor Hidro-Oseanografi. Penelitian ini
dilakukan pada tanggal 23-26 Oktober 2017 di Perairan Delta Sungai Bodri, Kendal.
Data yang digunakan adalah data garis pantai dari susur pantai, dengan data pendukung
data garis pantai digitasi Citra Landsat 8 OLI/TIRS, data debit sungai pengukuran
lapangan, konsentrasi sedimen tersuspensi di badan sungai, sedimen dasar, data angin
hasil pengukuran automated weather station di lapangan, dengan data pendukung data
angin ECMWF, data pasang surut lapangan dan data pendukung data pasang surut
BMKG, peta RBI lembar Bleder (1409-214) tahun 1999 publikasi BIG. Pengolahan
data menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.4, Microsoft Excel untuk membantu
melakukan perhitungan dan analisa spasial untuk pembuatan hasil berupa peta-peta
pendukung tulisan ini.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa perubahan morfologi delta pada lokasi
penelitian selaman Tahun 2007-2017 mengalami akresi dengan pertambahan luas
sebesar 0,23 km
2
. Tinggi gelombang datang (Hs) 0,224 m dengan periode (Ts) 2,28 s,
kelerengan pantai sebesar 0,61 %. Rerata input debit sedimen dari sunga sebesar 2,34
kg/s dan Longshore Transport di sisi timur >0.15 m/s sedangkan di sisi barat <0.05 m/s
yang mengakibatkan akresi di sebelah barat dan erosi di sebelah timur. Pembentukan
delta oleh gelombang sangat berpengaruh terhadap penentuan wilayah yang mengalami
akresi dan erosi di delta Muara Sungai Bodri ini. Namun, input sedimen dari sungai
menuju ke muara menjadi faktor dalam pendangkalan dan pengendapan sedimen di
ujung muara sehingga dalam kurun waktu tahunan menjadi daratan. Mayoritas jenis
sedimen pada perairan adalah lanau dengan pemusatan sedimen berjenis pasir pada
wilayah muara sungai.
Kata Kunci: Perubahan Morfologi Delta, Influks Sediment, Difraksi Gelombang Laut,
Perubahan Garis Pantai, Sedimen Dasar, Perairan Delta Sungai Bodr
REKAM JEJAK LOGAM BERAT Pb, Cu, Ni, Cr, Ba PADA KERANGKA KARANG MASIF Porites lutea DAN HUBUNGANNYA DENGAN CURAH HUJAN DI PERAIRAN LOMBOK
Meningkatnya aktivitas pariwisata dan jumlah penduduk di Pulau Lombok
menyebabkan pencemaran logam berat di perairan semakin meningkat. Pulau
Lombok mempunyai kekayaan ekosistem terumbu karang dan potensi perikanan
karang yang tinggi sehingga diperlukan pemantauan lingkungan perairan untuk
mengukur sejauh mana pencemaran logam berat di perairan Lombok. Karang
masif Porites lutea memiliki kemampuan yang cukup tinggi dalam
mengakumulasi logam dan tahan terhadap perubahan lingkungan sehingga dapat
dijadikan indikator adanya pencemaran. Pengambilan sampel dilaksanakan pada
28-30 April 2015 di perairan Lombok Utara dan analisa sampel dilakukan pada
Desember 2018 - Januari 2019 di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR)
BATAN. Data yang diperlukan untuk mengetahui kaitan konsentrasi logam berat
dan curah hujan yaitu, coral core dan data curah hujan dari BMKG. Metode
pengambilan sampel yang dipakai adalah purposive sampling. Analisa
Laboratorium menggunakan ICP-OES. Pengolahan data dilakukan menggunakan
Microsoft Excel dan ArcGIS 10.3. Keterkaitan antara logam berat Ni, Cr, Ba, Cu,
dan Pb dengan curah hujan memiliki hubungan yang berbeda-beda. Konsentrasi
logam berat Ni, Cu, dan Pb akan menurun ketika intesnitas curah hujan lebih dari
5 mm, sedangkan konsentrasi logam berat Ba akan menin gkat ketika curah hujan
meningkat. Berbeda dengan logam lainnya, keberadaan logam berat Cr tidak
dipengaruhi oleh curah hujan di daerah tersebut.
Kata Kunci: Logam Berat, Porites lutea, Curah Hujan, Lombo
PENGARUH PEDOMAN PENDOKUMENTASIAN DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN DENGAN P-ASKEP TERHADAP PENINGKATAN MUTU DOKUMENTASI DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN DI RUANG RAWAT INAP RST. dr. SOEJONO MAGELANG
Program Studi Magister Keperawatan
Konsentrasi Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan
Departemen Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro
September 2019
ABSTRAK
Arif Puji Atmanto
Pengaruh Pedoman Pendokumentasian Diagnosa dan Intervensi Keperawatan Dengan P-Askep Terhadap Peningkatan Mutu Dokumentasi Diagnosa dan Intervensi Keperawatan di Ruang Rawat Inap
101Halaman + 7 Gambar + 6 Tabel + 4 Diagram + 12 Lampiran
Mutu dokumentasi asuhan keperawatan adalah kesesuaianterhadap standarpendokumentasianyangsudahditetapkanyang berdasarkan 10 besar kasus penyakit dan berdasarkan NANDA, NIC-NOC, SDKI dan Depkes RI sehinggaberpengaruhterhadapkesempurnaan dalam pelaksanaan standar tersebut. Ketidaksesuaian terhadap standar menyebabkan menurunnya mutu dokumentasi keperawatan. Mutu dokumentasi keperawatan sampai saat ini sebagian besar masih kurang dari standar, salah satunya karena pedoman pendokumentasian bentuk text bookkurang fleksibel digunakan dan tidak semua perawat dapat menggunakan setiap saat, sehingga diperlukan sebuah pedoman yang praktis dan mudah digunakan dan mudah dipasang padasmartphone sehingga perawat mudah mengaplikasikan dan dapat menghemat waktu perawat dalam pendokumentasianyaitu dengan penerapan pedoman pendokumentasian berbasis aplikasiAndroidyaitu P-Askep. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh pedoman P-Askep terhadap peningkatan mutu dokumentasi diagnosa dan intervensi keperawatan. Penelitian ini dilakukan melalui dua tahap yaitu pengembangan pedoman dan uji coba pedoman dengan desain kuantitatif quasi-experiment pre-post control group design dengan jumlah sampel 70 responden terdiri dari 35 responden kelompok kontrol dan 35 responden kelompok intervensi. Hasil penelitian menunjukkan responden mampu menginstal aplikasi dan menggunakan sebagai pedoman dalam pendokumentasian, analisis perbedaan mutu dokumentasi dengan ujiwilcoxon sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok kontrol dengan p-value=0,005 atau tidak ada perbedaan mutu, dan pada kelompok intervensi menunjukkan p-value=0,000 atau terjadi perbedaan mutu dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi P-Askep berpengaruh meningkatkan mutu dokumentasi diagnosa dan intervensi keperawatan.
KataKunci : Aplikasi-P-Askep; Mutu Asuhan Keperawatan;PedomanDokumentasi
Referensi : 61 (2006-2018)
Master Program in Nursing
Nursing Leadership and Management
Department of Nursing
Faculty of Medicine
Diponegoro University
September 2019
ABSTRACT
Arif Puji Atmanto
The Influence of Guidelines for Documenting the Diagnosis and Nursing Interventions with P-Askep on Improving the Quality of the Documentation of Diagnosis and Nursing Interventions in the Inpatient Room.
101 Pages + 7 Pictures + 6 Tables + 4 Diagram 12 Attachments
The quality of nursing care documentation is conformity with established documentation standards so that it affects the perfection in the implementation of these standards based on the top 10 cases of illness in hospitals and based on NANDA, NIC-NOC, SDKI and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia so that it affects the perfection in the implementation of these standards. Non-compliance with standards causes a decrease in the quality of nursing documentation. The quality of nursing documentation to date is still largely below standard, one of which is because the documentation guidelines for the form of text books are less flexible to use and not all nurses can use them at any time, so a practical, easy-to-use and easy-to-use guide is installed on smartphones so nurses are easy applying and saving nurses' time in documentation is by applying the Android application-based documentation guidelines namely P-Askep. This study aims to analyze the influence of guidelines P-Askep on improving the quality of documentation of diagnoses and nursing orders. This research was carried out through two stages, namely the development of guidelines and pilot testing with quantitative quasi-experiment pre-post control group design with a sample size of 70 respondents consisting of 35 respondents in the control group and 35 respondents in the intervention group. The results showed respondents were able to install applications and use as guidelines in documenting diagnoses and nursing interventions, analysis of differences in documentation quality using Wilcoxon before and after intervention in the control group with p-value = 0.005 or no difference in quality, and in the intervention group showed p- value = 0,000 or there is a difference in the quality of documentation. The results of this study indicate that the application of P-Askep is effective in improving the quality of documentation of diagnoses and nursing orders.
Keywords: Application-P-Askep; Documentation Guidelines; Quality of Nursing Care
Reference: 61 (2006-2018