Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    Perkembangan Gonad Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dengan Penyuntikan Hormon hCG (Human Chorionic Gonadotropin) Dosis Berbeda secara Berkala

    Get PDF
    Ikan nilem (Osteochilus hasselti) merupakan salah satu ikan yang bernilai ekonomis. Produksi ikan nilem pada tahun 2009 – 2011 bersifat fluktuatif. Penyebab fluktuasi tersebut adalah ketersediaan ikan nilem yang masih terkendala. Hal tersebut menunjukkan bahwa sistem reproduksi pada induk betina ikan nilem perlu ditingkatkan. Kelebihan dari induk betina adalah memiliki sifat matang gonad yang lebih cepat dibandingkan dengan induk jantan. Secara alami ikan nilem membutuhkan waktu tiga bulan untuk proses matang gonad. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan induk ikan nilem masih terkendala karena para pembudidaya hanya mendapatkan induk dari perairan umum. Hal tersebut dikarenakan siklus reproduksi ikan nilem masih bergantung pada musim. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut diperlukan upaya dengan melakukan sistem rekayasa hormonal dengan menggunakan hormon hCG. Sistem kerja hormon hCG seperti hormon FSH dan LH, dimana FSH merangsang produksi estradiol dari sintesis testosteron dengan enzim aromatase pada sel granulosa, kemudian estradiol akan diteruskan ke hati untuk proses pembentukan vitelogenin yang selanjutnya akan diserap oleh oosit melalui peredaran darah dan menyebabkan perkembangan gonad pada ikan nilem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penyuntikan hormon hCG secara berkala dan pemberian dosis terbaik pada perkembangan gonad ikan nilem (O. hasselti). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2019 di Loka Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Ngrajek, Magelang, Jawa Tengah. Hewan uji yang digunakan adalah ikan nilem betina dengan bobot sekitar 100 gram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dosis yang digunakan adalah 0, 100, 200 dan 300 IU/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dengan dosis 200 IU/kg secara keseluruhan memberikan hasil lebih baik karena memiliki nilai pertumbuhan bobot mutlak 28,00±2,82 gram, nilai gonado somatic index (GSI) 23,61±1,47% dan nilai hepato somatic index (HSI) 1,20±0,08%. Kata kunci: Perkembangan gonad, Nilem, hC

    Pengaruh Salinitas yang Berbeda terhadap Tingkat Kematangan Gonad pada Kerang Darah (Tegillarca granosa)

    Get PDF
    Kerang darah (Tegillarca granosa) mempunyai sebaran geografis yang luas di Indoneisa, dikarenakan habitat asli kerang darah adalah hutan mangrove dan Indonesia memiliki hutan mangrove yang tersebar di beberapa pulau. Salah satu parameter kualitas air yang menunjang kematangan gonad adalah salinitas. Saat ini budidaya kerang darah hanya mengandalkan benih dari alam dan terkendala kurangnya informasi mengenai biologi reproduksinya, terutama mengenai perkembangan gonad. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perkembangan gonad kerang darah. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2018 - April 2019 di Laboratorium Departemen Akuakultur, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Semarang. Hewan uji yang digunakan adalah 240 ekor kerang darah dengan ukuran panjang cangkang dari dorsal hingga ventral 2,31±0,09 cm. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, dimana 2 ulangan untuk sampling kematangan gonad dan 2 ulangan untuk survival rate. Perlakuan yang digunakan adalah salinitas 25 ppt, 28 ppt, 31 ppt dan 34 ppt. Dipelihara selama 56 hari dan sampling dilakukan setiap 14 hari sekali. Parameter yang diamati adalah pertumbuhan kerang darah, meliputi panjang cangkang, lebar cangkang, tebal cangkang, bobot, dan tingkat kematangan gonad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan salinitas tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, dan bobot kerang darah, serta tidak berpengaruh juga terhadap perkembangan gonad kerang darah. Pertumbuhan kerang darah merupakan pertumbuhan allometrik negtif atau allometrik minor dikarenakn pertumbuhan panjang lebih besar dibandingkan pertumbuhan bobot kerang. Pada awal dan akhir pemeliharaan tingkat kematangan gonad tidak berubah yaitu tetap pada tingkat 3

    Penambahan Ekstrak Sargassum sp. Hasil Ekstraksi Enzimatik pada Pakan terhadap Performa Pertumbuhan dan Sistem Imun Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)

    Get PDF
    Intensifikasi budidaya udang vaname (L. vannamei) menyebabkan akumulasi limbah budidaya di perairan sehingga dapat menjadi masalah baru yaitu menyebabkan stres lingkungan dan menjadi faktor berkembangnya organisme patogen. Organisme patogen yang berkembang dan menyerang pada budidaya udang, dapat menyebabkan kematian massal. Upaya mengatasi kematian massal dilakukan melalui tindakan preventif dengan pemberian pakan yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh, selain itu juga meningkatkan pertumbuhan. Bahan alam yang memiliki kedua fungsi tersebut yaitu rumput laut sargassum. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak sargassum hasil ekstraksi enzimatik pada pakan terhadap performa pertumbuhan dan sistem imun udang vaname (L. vannamei). Penelitian dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, pada bulan Mei-Juli 2018. Hewan uji yang digunakan yaitu udang vaname sejumlah 300 ekor dengan bobot rata-rata 10,63±0,3 g/ekor. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL), terdiri dari 3 perlakuan dan 2 ulangan. Perlakuan yang diterapkan, A (pakan dengan penambahan ekstrak sargassum 0 g/kg pakan), B (pakan dengan penambahan ekstrak sargassum secara enzimatik protease 2 g/kg pakan) dan C (pakan dengan penambahan ekstrak sargassum secara enzimatik karbohidrase 2 g/kg pakan). Hasil penelitian menunjukkan, penambahan ekstrak sargassum hasil ekstraksi enzimatik pada pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap laju pertumbuhan spesifik (SGR) masing-masing 1,36±0,06 %/hari (perlakuan B) dan 1,38±0,03 %/hari (perlakuan C), serta rasio konversi pakan (FCR) masing-masing 1,96±0,01 (perlakuan B) dan 1,94±0,04 (perlakuan C). Selain itu, penambahan ekstrak sargassum hasil ekstraksi enzimatik pada pakan juga mampu meningkatkan sistem imun baik pada total hemocyte count (THC) dan aktivitas fagositosis (FA), dengan nilai tertinggi pada akhir penelitian masing-masing sebesar 49,69 (x10 6 sel/mL) dan 72,50 %

    Analisis Pengembangan Pelabuhan Perikanan Pantai Berwawasan Lingkungan (Ecoport) di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang

    Get PDF
    Kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang mengalami permasalahan lingkungan hidup. Hal ini mengakibatkan rendahnya kebersihan, keindahan, kenyamanan dan sanitasi di PPP Tasikagung Rembang. Hal itu harus menerapkan konsep ecoport supaya menjadi pelabuhan perikanan yang bersih, nyaman dan tidak ada pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi fasilitas di PPP Tasikagung Rembang. Menganalisis kesesuaian kondisi PPP Tasikagung sebagai pelabuhan ecoport seseuai dengan standart ecoport dan merumuskan strategi pengembangan PPP Tasikagung menuju pelabuhan ecoport. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan metode pengumpulan data secara purposive sampling, analisis data dengan analisis ecoport dan road map. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi fasilitas yang ada di PPP Tasikagung Rembang memiliki tingkat kelengkapan fasilitas yang baik. Kondisi fasilitas yang belum tersedia berkaitaan dengan standar ecoport adalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL), tempat pembuangan sampah (TPS) dan studi analisis dampak lingkungan (AMDAL). PPP Tasikagung belum termasuk katagori pelabuhan ecoport karena belum sesuai dengan strategi pengelolaan pelabuhan perikanan pantai menuju ecoport yaitu menyusun analisis peta jalan dengan pembangunan dalam dua periode, pada jangka pendek (1-5 tahun) dapat melakukan pemabangunan instalasi pengolahan air limbah (IPAL),tempat pembuangan sementara (TPS), optimalisasi tempat pelelangan ikan (TPI) higenis serta penambahan ruang terbuka hijau pada jangka lima tahun perlu dilakukan pembuatan penampungan sampah dan sedime

    ANALISIS PEMASARAN HASIL TANGKAPAN IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp) DI TPI TAWANG KABUPATEN KENDAL

    Get PDF
    Pemanfaatan sumberdaya ikan Kembung (Rastrelliger sp) di TPI Tawang tidak hanya masalah produksi tetapi meliputi masalah distribusi pemasaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pola distribusi pemasaran ikan Kembung, marjin dan fisherman’s share serta efisiensi pemasaran pada setiap pelaku usaha. Metode penelitian yaitu deskriptif studi kasus. Metode penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian yaitu 15 orang nelayan mini purse seine, 15 orang nelayan payang, 5 orang pedagang luar kota, 5 prang pedagang Pasar Kobong, 10 orang pedagang sedang, dan 15 orang pedagang skala kecil. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis pendapatan usaha, R/C ratio, marjin pemasaran, efisiensi pemasaran dan fisherman’s share. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan hasil bahwa terdapat 2 bentuk saluran pemasaran pemasaran ikan Kembung ukuran besar dan 2 bentuk saluran pemasaran pada ikan kembung ukuran kecil. Persentase marjin pemasaran ikan Kembung ukuran besar pada saluran pemasaran 1 adalah sebesar 85,29% dan saluran pemasaran 2 yaitu sebesar 81,43%. Persentase marjin pemasaran ikan Kembung ukuran kecil pada saluran pemasaran 1 adalah sebesar 77,39% dan saluran pemasaran 2 yaitu sebesar77,62%. Persentase Fisherman’s share pada ikan Kembung ukuran besar saluran pemasaran 1 yaitu 14,71% dan pada saluran pemasaran 2 yaitu sebesar 18,57%. Persentase Fisherman’s share pada ikan Kembung ukuran kecil saluran pemasaran 1 yaitu 22,61% dan pada saluran pemasaran 2 yaitu sebesar 22,68%. Nilai efisiensi pemasaran terbesar untuk ikan Kembung ukuran besar untuk saluran pemasaran 1 yaitu pedagang pasar Kobong sebesar 0,07 dan saluran pemasaran 2 yaitu pedagang sedang sebesar 0,08. Sedangkan nilai efisiensi pemasaran terbesar ikan Kembung ukuran kecil untuk saluran pemasaran 1 yaitu pedagang sedang sebesar 0,08 dan saluran pemasaran 2 sebesar 0,16. Berdasarkan hasil nilai efisiensi pemasaran ikan Kembung di TPI Tawang diketahui efisien, karena didapatkan nilai efisiensi kurang dari 1

    ANALISIS ALAT TANGKAP KEPITING BAKAU (Scylla Sp) BERDASARKAN KRITERIA PENANGKAPAN YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN FAKTOR EKONOMIS DI PERAIRAN PEMALANG

    Get PDF
    Kabupaten Pemalang merupakan salah satu daerah di sepanjang pantai utara Jawa Tengah yang memiliki potensi kepiting bakau yang dapat dikembangkan. Pengelolaan perikanan tangkap tidak dapat terlepas dari 3 aspek yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial. Kondisi perikanan tangkap di Indonesia, khususnya perairan Pemalang, dianggap masih belum dapat menyeimbangkan ketiga aspek tersebut. Maka dari itu dibutuhkan strategi agar usaha perikanan tangkap ramah lingkungan secara ekologi, efisien secara ekonomi, dan dapat diterima secara sosial. Alat penangkap kepiting bakau yang ada di Desa Mojo adalah Bubu, Trammel net, dan Pancing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis alat tangkap ramah lingkungan, dan analisis kelayakan usaha melalui Revenue Cost Ratio (RC Ratio). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus mengenai alat tangkap ikan yang berkelanjutan dan kelayakan usaha dilihat dari nilai R/C ratio usaha penangkapan ikan didesa Mojo dengan wawancara dan observasi lapangan. Responden pada analisis ramah lingkungan dan analisis kelayakan usaha diambil dengan metode snowball sampling. Rentang nilai 4 kategori alat tangkap ramah lingkungan sebagai berikut: 1 – 9 sangat tidak ramah lingkungan, 10 – 18 tidak ramah lingkungan, 19 – 27 ramah lingkungan, 28 – 36 sangat ramah lingkungan. Hasil yang dipereroleh dari penelitian ini adalah yang termasuk dalam kategori sangat ramah lingkungan di Desa Mojo adalah pancing dengan skor 33,93. sedangkan bubu termasuk alat tangkap ramah lingkungan dengan skor 32,18. Sementara itu skor trammel net adalah 27,57 yang dikategorikan sebagai alat tangkap yang ramah lingkungan. Analisis kelayakan usaha meggunakan metode RC Ratio pada masing-masing alat tangkap didapatkan hasil yang layak untuk dilanjutkan dari segi ekonomi. Untuk alat tangkap bubu, trammel net, dan pancing dengan nilai RC ratio 2.5, 3.0, 6.4

    PENGARUH SPEKTRUM WARNA JARING KRENDET DAN LAMA PERENDAMAN TERHADAP HASIL TANGKAPAN LOBSTER (Panulirus Sp.) DI PERAIRAN PACITAN, JAWA TIMUR

    Get PDF
    Krendet merupakan alat tangkap pasif dan tergolong ke dalam perangkap untuk menangkap Lobster (Panulirus sp). Lobster merupakan salah satu target tangkapan utama nelayan di Kabupaten Pacitan, Lobster (Panulirus sp) sendiri merupakan spesies ekonomis penting dan menjadi komoditas ekspor. Penelitian tentang teknologi penangkapan Lobster (Panulirus sp) dengan modifikasi warna jaring krendet dan lama perendaman diperlukan untuk mengoptimalkan hasil tangkapan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan warna jaring krendet (biru, merah dan transparan) dan lama perendaman (12 jam dan 24 jam) terhadap hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-April 2019 di Perairan Tawang, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Pacitan dengan menggunakan metode experimental fishing dengan 6 kombinasi perlakuan dan 8 pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan warna jaring krendet berpengaruh terhadap jumlah hasil tangkapan, dengan tangkapan tertinggi diperoleh oleh krendet dengan warna jaring biru. Hal ini dikarenakan warna biru cenderung sama dengan warna perairan, sehingga kehadiran alat tangkap tidak diketahui Lobster (Panulirus sp). Sedangkan lama perendaman yang cocok dilakukan yaitu selama 12 jam. Semakin lama alat tangkap direndam maka akan mempengaruhi kualitas umpan

    PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK Eucheuma cottonii TERHADAP PROSES OKSIDASI LEMAK PADA FILLET IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsk) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN

    Get PDF
    Fillet ikan Bandeng mempunyai kandungan asam lemak tak jenuh yang rentan teroksidasi selama proses filleting dan penyimpanan. Ekstrak dari Rumput laut Eucheuma cottonii mempunyai potensi sebagai zat antioksidan alami dikarenakan mempunyai kandungan senyawa fitokimia yang bisa menghambat oksidasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan antioksidan dari Ekstrak E. cottonii dana lama penyimpanan terhadap proses oksidasi lemak pada fillet ikan bandeng (Chanos chanos Forsk). Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah E. cottonii yang didapatkan dari Gunung Kidul, Yogyakarta dan ikan Bandeng (Chanos chanos Forsk) dari Juwana. Metode yang digunakan adalah percobaan laboratorium dengan menggunakan rancangan faktorial dengan pola acak yaitu faktor konsentrasi dari ekst rak E. cottonii. (0% (kontrol ) dan 2%) dan faktor lama penyimpanan (hari ke 0, hari ke 2, hari ke 4, dan hari ke 6). Data Asam Lemak Bebas, Bilangan Peroksida, dan TBA dianalisis dengan uji ANOVA, dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Hasil didapatkan Nilai fenol ekstrak E. cottonii sebesar 96,74 mg GAE/1000g dan flavonoid sebesar 47,19 mg GAE/1000g. Aktivitas antioksidan ekstrak E. cottonii mempunyai nilai IC50 sebesar 102,40 ppm (sedang). Hasil didapatkan mulai hari ke-2 hingga ke-6 menunjukkan berbeda nyata. Asam lemak bebas kontrol adalah 3,52 + 0,06% dan konsentrai 2% sebesar 2,52 + 0,01% diakhir penyimpanan. Bilangan peroksida kontrol diakhir penyimpanan adalah 6,86 + 0,25 mEq/kg sementara konsentrasi 2% sebesar 4,76 + 0,05 mEq/kg. TBA kontrol menunjukkan nilai 4,76 + 0,03 mg malonaldehid/kg lebih tinggi dibandingkan 3,64 + 0,05 mg malonaldehid/kg pada konsentrasi 2%

    ANALISIS POTENSI PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI PERAIRAN TELUK AWUR, KABUPATEN JEPARA

    Get PDF
    Perairan Teluk Awur merupakan perairan yang berlokasi di Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Berdasarkan PERDA Kabupaten Jepara Nomor 2 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Jepara tahun 2011 – 2031 dinyatakan bahwa Kecamatan Tahunan merupakan salah satu kawasan peruntukan budidaya air laut. Rumput laut adalah komoditas yang sangat menjanjikan untuk dibudidayakan. Semakin bertambahnya industri yang berbasiskan bahan baku rumput laut maka sekamin bertambah pula permintaan pasar baik nasional maupun internasional. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut di perairan Teluk Awur, Kabupaten Jepara pada Bulan November - Desember agar diketahui area yang lebih spesifik yang terbagi menjadi kelas sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Penelitian ini dilakukan pada bulan November – Desember tahun 2018 berlokasi di perairan Teluk Awur, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Parameter yang diteliti adalah parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter fisika meliputi suhu, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, keterlindungan. Parameter kimia berupa salinitas, pH, oksigen terlarut, nitrat, fosfat , substrat dasar perairan. Parameter biologi berupa data komposisi jenis dan jumlah ikan. Selanjutnya data diolah secara komputasi menggunakan perangkat lunak sistem informasi geografis ArcGis 10.3. Pengolahan data ini menggunakan teknik matching and scoring. Pengolahan ini memberikan hasil berupa peta kesesuaian lahan budidaya rumput laut dan luasannya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lahan budidaya rumput laut di perairan Teluk Awur Jepara pada bulan November – Desember terbagi menjadi tiga kelas, yaitu sangat sesuai (S1) seluas 207,7 ha (36%), sesuai (S2) seluas 324,2 ha (55%) dan tidak sesuai (N) seluas 51,2 ha (9%). Kata Kunci: Teluk Awur, Rumput Laut, Sistem Informasi Geografis, Kesesuaian Peraira

    ANALISIS PERUBAHAN LUASAN HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN BREBES DAN WANASARI, KABUPATEN BREBES MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT TAHUN 2008, 2013, DAN 2018

    Get PDF
    Mangrove merupakan ekosistem daerah peralihan antara darat dan laut yang banyak dipengaruhi oleh parameter fisik. Ekosistem mangrove sendiri memiliki fungsi fisik, biologi dan ekonomi. Kondisi hutan mangrove di Kecamatan Brebes dan Wanasari telah mengalami kerusakan sebelum dilakukan rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan untuk memulihkan dan mengembalikan fungsi perlindungan pelestarian dan fungsi produksinya. Untuk melihat keberhasilan dari kegiatan rehabilitasi dan luas mangrove secara luas dilakukan an alisis spasial menggunakan citra Landsat tahun 2008, 2013, dan 2018. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan luas area mangrove di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes dan Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari secara spasial menggunakan citra satelit Landsat 5 Tahun 2008 dan Landsat 8 Tahun 2013 dan 2018. Selain itu dapat digunakan untuk menentukan kesuksesan rehabilitasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif bersifat eksploratif yang bertujuan untuk menggambarkan keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta- fakta yang ada. Selain itu juga menggunakan metode overlay untuk mengetahui perubahan luas mangrove dalam rentang waktu lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan luas mangrove di Desa Kaliwlingi dan Sawojajar bertambah dalam rentang waktu lima tahun. Luas mangrove di Kaliwlingi pada tahun 2008-2013 bertambah 101,25 ha yakni 48,42 ha di tahun 2008 dan 149,67 ha tahun 2013. Pada tahun 2013-2018 juga bertambah 184,23 ha yaitu 333,9 ha di tahun 2018. Di Sawojajar luas mangrove juga bertambah 0,09 ha yaitu 24,39 ha pada tahun 2008 dan 24, 48 ha tahun 2013. Tahun 2013-2018 bertambah 12,24 ha sehingga menjadi 36,72 ha di tahun 2018. Spesies mangrove yang mendominasi di Desa Kaliwlingi dan Sawojajar adalah Rhizophora mucronata dan Avicennia marina

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇