71404 research outputs found
Sort by
GAMBARAN SIKAP PERAWAT TERHADAP GANGGUAN JIWA DI RSJD DR. AMINO GONDOHUTOMO PROVINSI JAWA TENGAH
Description of Nurses’ Attitudes toward Mental Illness at Dr. Amino Gondohutomo Mental Hospital Central Java Province
lxx + 97 Pages + 15 Tables + 2 Pictures + 13 Attachments
Nurses are health care providers who play a role in the care and rehabilitation of people with mental illness. The attitude of nurses toward mental illness is a determinant of the quality of care for clients with mental illness. This study aims to describe the nurses' attitudes toward mental illness. The research method used is descriptive research design with a survey approach. This study was conducted on 143 nurses at Dr. Amino Gondohutomo Mental Hospital Central Java Province using a purposive sampling technique by considering the inclusion criteria. The research instrument used was the CAMI (Community Attitudes toward the Mentally Ill) questionnaire, which contained 40 items of statements consisting of 20 pro statements and 20 counter statements. There are four attitude subscales in the CAMI questionnaire, namely authoritarian, benevolence, social restrictiveness, and community mental health ideology. The analysis used is the univariate analysis with frequency distribution. The results of this study show that 64.3% of respondents were pro to authoritarian, 54.5% of respondents were pro toward social restrictiveness, 54.5% of respondents were pro to benevolent, and 60.1% of respondents were pro to community mental health ideology. Pro attitudes toward the four attitude subscales show a combination of positive and negative attitudes toward mental illness. The results of this study recommend that the mental hospital institution needs to conduct continuing education programs, seminars, and training for mental health nurses to improve the nurses’ positive attitudes to mental illness.
Keywords: Attitude, nurses, mental illness.
Bibliography: 89 (1959-2018
KOREAN POP SEBAGAI IDENTITAS SUBKULTUR iKONIC
Skripsi ini membahas bagaimana kebudayaan populer Korean Pop dapat menjadi
sebuah acuan tersendiri pada remaja untuk dijadikan sebuah tombak pendewasaan
yang berakhir pada terbentuknya sebuah subkultur. Dalam skripsi berjudul
“Korean Pop Sebagai Identitas Subkultur iKONIC” ini, akan dibahas mengenai
bagaimana para remaja yang berangsur-angsur mengikuti perkembangan
boygroup iKON. Mereka rela menyisihkan sebagian besar uang yang mereka
dapat demi memenuhi hasrat mereka untuk iKON.
iKON adalah sebuah boygroup terkenal asal Korea Selatan yang saat ini
sangat dikagumi. Grup ini bahkan sudah meraih banyak penghargaan dan berhasil
menjadi salah satu bintang tamu penutup festival olahraga terkenal seasia yaitu
ASIAN GAMES 2018 dengan lagu mereka Rhythm Ta dan Love Scenario.
Dengan adanya fenomena ini, semakin banyak remaja yang memutuskan untuk
menjadi seorang iKONIC, sebuah komunitas penggemar iKON.
Penelitian bersifat etnografis dan kualitatif ini akan mengangkat mengenai
teori interpretivisme simbolik dari Clifford Geertz yang menjelaskan bahwa
kebudayaan merupakan sistem keteraturan makna dan simbol-simbol. Dengan
makna tersebut, setiap individu akan berkomunikasi, menetapkan, dan
mengembangkan pengetahuan tentang kehidupan juga menyikapi kehidupan.
Seperti halnya para remaja yang tergabung dalam komunitas iKONIC, mereka
belajar, menerima dan menyebarkan simbol-simbol dari iKON. Para iKONIC akan
menjadikan iKON sebagai acuan dalam melakukan segala hal pada kehidupannya.
Para iKONIC rela untuk membeli banyak barang-barang yang berkaitan
dengan iKON seperti album, merchandise, streaming pass, dan bahkan tiket
konser yang bernilai sangat mahal. Semakin mereka menggilai adanya kehadiran
iKON, mereka semakin berpegang teguh pada prinsip-prinsip yang ditanamkan
oleh iKON. Kebiasaan-kebiasaan mereka sehari-hari dalam meniru, mengakses
informasi terus menerus, mengakibatkan adanya ketergantungan tersendiri untuk
mereka. Terjadinya banyak proses seperti kontak sosial, pemahaman kebudayaan,
sistem kogisi yang menjadi sistem simbol, kemudian di bagikan, hal tersebut yang
mempelopori adanya kebiasaan-kebiasaan yang terus menerus terjadi sehingga
menjadi sebuah kebudayaan untuk kaum iKONIC. Sehingga terbentuklah
subkultur ditengah-tengah budaya masyarakat yang sudah luas dan mengakar.
This under graduated thesis discusses how popular Korean Pop culture can be
used as a reference for adolescents to become a spear of maturity which ends in
the formation of a subculture. In this under graduated thesis titled "Korean Pop
as the Identity of the iKONIC Subculture", we will discuss about how young
people who gradually follow the development of iKON boygroup. They are willing
to set aside most of the money they get, in order to fulfill their desire for
satisfaction for iKON.
iKON is a famous South Korean boy group that is currently very admired.
This group has even won many awards and managed to become one of the closing
guest stars of the well-known sports festival named ASIAN GAMES 2018 with
their song Rhythm Ta and Love Scenario. With this phenomenon, more and more
teenagers have decided to become iKONIC, an iKON fan community.
This ethnographic and qualitative research will address the symbolic theory
of interpretivism by Clifford Geertz which explains that culture is a system of
regularity of meanings and symbols. With this meaning, each individual will
communicate, establish, and develop knowledge about life as well as addressing
life. Like teenagers who are members of the iKONIC community, they learn,
receive and share the symbols from iKON.
iKONIC will make iKON as a reference in doing everything in their lives.
iKONIC is willing to buy many items related to iKON such as albums,
merchandise, streaming passes, and even concert tickets that are very expensive.
The more they are fond of the presence of iKON, the more they cling to the
principles instilled by iKON. Their daily habits in imitating, accessing
information continuously, result in their own dependence on them. The
occurrence of many processes such as social contact, cultural understanding, the
cognition system which became a symbol system, then shared, this is the reason
existence of habits that continue to occur to become a culture for the iKONIC. So
that a subculture is formed in the midst of a culture that has become widespread
and entrenched
AGAMA DAN SENI (Studi Pemanfaatan Seni pada Liturgi Ekaristi di Gereja Katolik St. Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang)
Penelitian ini berfokus pada seni apa yang terkandung dalam perayaan Ekaristi, bagaimana proses perayaan Ekaristi tersebut dan apa relevansinya terhadap upaya peningkatan kesadaran religiusitas umat yang melaksanakannya dengan tujuan untuk memahami simbol, makna dan nilai estetis (seni) yang terkandung dalam perayaan liturgi Ekaristi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data di lapangan, diperoleh dari wawancara, observasi partisipasi dan studi pustaka. Peneliti menggunakan metode snowball sampling dalam menentukan subjek penelitian yang kemudian menghasilkan 7 orang yang berbeda sebagai informan.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa simbol ekspresif atau seni merupakan unsur yang harus ada dalam perayaan liturgi Ekaristi. Melalui berbagai macam simbol-simbol seni yang dibangun oleh jemaat gereja dalam sebuah perayaan Ekaristi, umat dapat mengungkapkan tanggapannya terhadap misteri Allah secara manusiawi yaitu melalui perjamuan kudus. Manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan raganya mampu mengkomunikasikan apa yang terkandung dalam hati dan budinya melalui berbagai macam ekspresi seni. Oleh karena itu seni merupakan salah satu bahasa pengungkapan diri manusia. Keberadaan berbagai macam simbol seni dalam perayaan Ekaristi dapat meningkatkan kesadaran religiusitas umat Katolik, sementara inkulturasi dalam perayaan Ekaristi dapat mengembangkan dorongan estetis (seni) yang terkandung didalamnya.
This research focuses on what art is contained in the celebration of the Eucharist, what is the process of celebrating the Eucharist and its relevance to efforts to increase the awareness of religiosity of the people who carry it out in order to understand the symbols, meanings and aesthetic values contained in the celebration of the Eucharistic liturgy.
The method used in this study is a qualitative approach with ethnographic methods. Data in the field, obtained from interviews, participant observation and literature. The researcher used the snowball sampling method in determining the subject of the study which then produced 7 different people as informants.
Based on the results of this study concluded that expressive symbols or art is an element that must be present in the celebration of the Eucharistic liturgy. Through various kinds of art symbols built by church members in a celebration of the Eucharist, the people can express their response to the mystery of God humanely, namely through communion. Humans as creatures consisting of soul and body are able to communicate what is contained in their hearts and minds through various kinds of artistic expressions. Therefore, art is one of the languages of human self-disclosure. The existence of various kinds of art symbols in the celebration of the Eucharist can increase the awareness of religiosity of Catholics, while inculturation in the celebration of the Eucharist can develop an aesthetic (art) impulse contained therein
ASPEK SOSIAL-BUDAYA DALAM MANAJEMEN KUD PRINGGODANI KECAMATAN GAJAH, KABUPATEN DEMAK
Budaya perusahaan mampu memberi arah bagi kelangsungan hidup perusahaan dan memberi suatu identitas khas bagi perusahaan. Agar hal itu betul-betul dapat terjadi, perlu budaya perusahaan disosialisasikan dengan baik sehingga dapat terinternalisasi dalam diri anggotanya. KUD Pringgodani yang terletak di Kecamatan Gajah adalah koperasi yang masih stabil bertahan dari perkembangan zaman dan memiliki unit-unit usaha yang masih berjalan dibandingkan KUD lainnya yang sudah mengalami kemunduran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek sosial budaya yang ada di KUD Pringgodani sehingga menciptakan sebuah kondisi organisasi yang stabil dalam menjalankan berbagai usahanya. Metode penelitian yang digunakan adalah etnografi sehingga peneliti melakukan observasi partisipatif, dan wawancara untuk mengumpulkan data, Sehingga mendapatkan native’s point of view dari informan yang telah ditentukan.Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa kuatnya kepemimpinan di KUD Pringgodani dipengaruhi oleh profesionalitas, integritas dan pengalaman pimpinan koperasi yang telah lama menjabat sehingga perannya berpengaruh terhadap aktivitas sosial-budaya di tempat kerja. Selain itu, dengan masih dilestarikannya beberapa ritual-ritual yang positif di tempat kerja, seluruh karyawan dapat memahami dan mempraktekkan nilai kepemimpinan, nilai agama, nilai kekeluargaan, dan nilai solidaritas. Beberapa komponen di atas menjadikan koperasi ini tetap stabil sehingga dapat bertahan seiring berkembangnya zaman. Berdasarkan penemuan, peneliti menyimpulkan bahwa KUD Pringgodani memiliki budaya organisasi yang baik karena mempunyai pola kepemimpinan yang kuat dan masih melestarikan ritual-ritual sosial budaya.
Corporate culture is able to provide direction and special identity for companies. To make it happen, the corporate culture needs socialized well to internalized within its members. KUD Pringgodani which located in Kecamatan Gajah is cooperative still stable for time to time. On the other hand, it has business units that still working if compared with other KUDs that have suffered setbacks. This study aims to determine the socio-cultural aspects that exist in KUD Pringgodani to create a stable organizational condition in running various businesses. The research method used is ethnography research. In this research, researchers conduct participatory observations and interviews to get a native's point of view from the informants who have been determined. The results of this study indicated that the strong leadership in KUD Pringgodani was influenced by the professionalism, integrity and experience of cooperative leaders who had long served so his role affected the socio-cultural activities in the workplace. In addition, by maintaining some positive rituals at work, all employees understood and practiced the values of leadership, religious values, family values, and solidarity values.The components above make this cooperative still stable in development era. Based on the findings, the researchers concluded that the KUD Pringgodani has a good organizational culture because it has a strong leadership pattern and still preserves socio-cultural rituals
TEKNIK PENERJEMAHAN ISTILAH BUDAYA TIONGKOK KE ISTILAH BAHASA INDONESIA OLEH MAHASISWA D3 BAHASA MANDARIN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
The high need of mandarin translators influences the students to learn
more about translation. Besides learning mandarin, the students are expected to
learn about the Tiongkok culture. The differences between Tiongkok and
Indonesian culure cause the students confronting difficulties in finding the equal
word. Therefore,the student of D3Mandarin use various translation techniques in
order to translate the cultural words of Tiongkok to Indonesia. This research
aims to identify translation techniques of cultural words used by the students of
D3 Mandarin, find out the implication of translation techniques use toward the
loss and gain of meaning, and the effect of loss and gain of meaning toward the
result of translation. This study is qualitative research and used descriptive
method. The object of the study is students’ written translation that was obtained
from their mid test, final examination and assignments in translation course.
Thus, this research used interview method to informants to gain information
about translation technique and its implication towards loss and gain of meaning.
Based on data, there are 75 cultural words that were translated by 25 students
with various results from 178 data. The results show that there are two types of
translating cultural words including 12 translation techniques and 9 combination
translation techniques. The inaccurate use of translation technique cause loss
and gain of the meaning. The use of generalization, borrowing, adaptation,
reduction, particularization, calque and borrowing, borrowing and
generalization show the loss of meaning. The use of description, amplification,
adaptation, transposition, modulation, calque and description show the gain of
meaning. The effects of loss of meaning toward the result of translation are less
acceptable translation and less equal translation. The effects of gain of meaning
toward the result of translation are less acceptable translation and less equal
translation. The effects of loss and gain toward the result of translation are less
acceptable translation and less equal translation. Translation techniques that do
not cause the loss and gain of meaning of cultural words are calque, borrowing
(borrowed words that are acceptable in target language), established equivalent,
literal, adaptation and amplification, calque and amplification.
Tingginya kebutuhan penerjemah bahasa Mandarin di Indonesia
mempengaruhi minat mahasiswa dalam mempelajari terjemahan. Selain
mempelajari bahasa Mandarin, mahasiswa juga diharapkan dapat menguasai
istilah budaya Tiongkok. Perbedaan kebudaya Tiongkok dengan kebudaya
Indonesia menyebabkan mahaiswa kesulitan dalam mencari kata yang sepadan.
Sehingga, mahasiswa program studi D3 Bahasa Manadarin menggunakan teknik
penerjemahan yang bervariasi untuk menerjemahkan istilah budaya Tiongkok ke
istilah bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi teknik
terjemahan istilah budaya Tiongkok oleh masiswa D3 Bahasa Mandarin,
mengetahui implikasi teknik penerjemahan terhadap penghilangan dan
penambahan makna terjemahan dan dampak penghilangan dan penambahan
makna terjemahan terhadap hasil terjemahan. Jenis penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data penelitian ini
adalah hasil terjemahan mahasiswa yang diperoleh dari hasil ujian tengah
semseter (UTS), ujian akhir semester (UAS) dan tugas pada mata kuliah
Terjemahan. Peneliti menggunakan metode wawancara untuk memperoleh data
dari informan mengenai teknik terjemahan dan dampak teknik yang digunakan.
Peneliti memperoleh 75 istilah budaya Tiongkok yang diterjemahkan oleh 25
mahasiswa. Teknik terjemahan yang digunakan mahasiswa menghasilkan
terjemahan yang bervasriasi dan memperoleh 178 data. Hasil penelitian
menunjukan dua varian yang digunakan dalam menerjemahkan istilah budaya
yaitu 12 teknik penerjemahan varian tungal dan 9 teknik penerjemahan varian
ganda. Teknik yang menunjukan adanya penghilangan makna terjemahan adalah
teknik generalisasi, peminjaman, adaptasi, reduksi, partikulasi, kalke dan
peminjaman, peminjaman dan generalisasi. Teknik yang menunjukan
penambahan dalam makna terjemahan adalah teknik deskripsi, amplifikasi,
adaptasi, transposisi, modulasi, kalke dan deskripsi. Teknik yang menunjukan
keduanya yaitu penghilangan dan penambahan adalah teknik peminjaman dan
amplifikasi, generaisasi dan deskripsi, peminjaman dan deskripsi. Dampak
penghilangan makna terjemahan terhadap hasil terjemahan adalah kurang
sepadan dan tidak berterima. Dampak penambahan makna terjemahan terhadap
hasil terjemahan adalah kurang sepadan dan kurang berterima. Sedangkan
dampak penghilangan dan penambahan makna terhadap hasil terjemahan adalah
tidak sepadan dan tidak berterima. Teknik yang dapat digunakan untuk
menerjemahkan istilah budaya yang tidak menyebabkan penghilangan dan
penambahan makna terjemahan adalah kalke, peminjaman (peminjaman kata
yang berterima pada bahasa sasaran), padanan lazim, harfiah, adaptasi dan
amplifikasi, kalke dan amplifikasi
ANALYSIS OF THE ADULT AND CHILD SPEECH COMPARISON FOUND IN THE BANE CHRONICLES BY CASSANDRA CLARE AND THE ADVENTURE OF PINOCCHIO BY CARLO COLLODI
“The Bane Chronicles” by Cassandra Clare is a novel consists of the short stories which portray some of Magnus Bane‟s thrilling adventures throughout many eras since he is described as an immortal being; and “The Adventure of Pinocchio” by Carlo Collodi tells the readers of how Pinocchio and his little wooden feet‟s adventure leads him found what is important in life. The objectives of this thesis are present to examine the style mostly used by speakers and also the comparison between those speech styles. The writer uses library research to compile the data. To examine the data compiled, the writer chose the theory of Speech Style by Joos and SPEAKING theory by Dell Hymes. The result of this thesis shows the readers that formal, consultative and casual are speech styles used by Magnus Bane as the adult; and consultative, casual and intimate are styles used by Pinocchio as the child. The comparison shows different characteristics, such as sarcasm, hedges, and emotion involved in the speech
PILIHAN PERAWATAN PASCA PERSALINAN PADA DUKUN BAYI (Studi Kasus di Desa Robayan Kecamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara)
Perkembangan dunia medis sudah berkembang, namun dalam faktanya masih terdapat perbedaan konsep sehat dan sakit yang berbeda menurut pandangan medis dengan pandangan sosial budaya yang berkembang dalam masyarakat. Misalnya perbedaan dalam kesehatan ibu dan bayi yang menjadi pokok bahasan dalam penelitian ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini konsep sehat dan sakit menurut studi antropologi kesehatan, konsep health seeking behaviour (perilaku pencarian pengobatan), dan health belief model (model kepercayaan atas perilaku sehat). Penelitian termasuk penelitian kualitatif yang menggunakan metode observasi partisipasi, wawancara mendalam serta studi literatur dalam pengumpulan data. Informan terdiri dari dukun bayi dan ibu yang sedang maupun pernah mendapat pelayanan dari dukun bayi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa masyarakat Desa Robayan masih menggunakan perawatan dukun bayi pada masa kehamilan maupun masa pasca persalinan. Dukun bayi tetap memiliki peranan penting bagi kesehatan ibu dan anak pada masyarakat Desa Robayan serta ikut melestarikan tradisi dan adat-istiadat masyarakat Jawa pada seputar kehamilan dan persalinan. Hal ini dapat dilihat pada konsep sehat dan sakit masyarakat Desa Robayan yang menunjukkan perilaku kesehatan yang mengikuti saran medis akan tetapi masih kental dengan tradisi kebudayaan, dimana membutuhkan peran seorang dukun bayi. Pemilihan perawatan pada dukun bayi tidak terlepas dari beberapa faktor, diantaranya adalah faktor keluarga, stereotipe, kepercayaan serta jarak dan biaya.
The medical world is developing nevertheless there are still differences in the concepts of health and sick that are differences based on medical views and socio-culture views developing in society. For example, the differences between maternal and child health's that will be discussed in this study. The theories of this study were health and sick concepts according to health anthropology studies, health-seeking behavior concepts, and health belief model. This study was a qualitative study used participatory observation method, in-depth interview, and literature studies to collect the data. The informants were a shaman and maternals who got service from a shaman in the past or present. Based on the study can be concluded that the service from shaman during pregnancy or postpartum period by the society of Robayan Village was needed. The shaman had an important role in maternal and child health's in the society of Robayan Village and had participation in preserving tradition and custom of Javanese society about pregnancy and birth. It can be seen in the concept of health and sick of Robayan Village society that shown health behaviors to follow medical advice actually there was cultural traditions needed the role of a shaman. The care selection to a shaman was inseparable from several factors, including family factors, stereotypes, belief, distance, and cost
ENHANCING SPEAKING SKILLS AND THE FOUR Cs THROUGH PROJECT-BASED LEARNING FOR THE ELECTRICAL ENGINEERING STUDENTS OF SULTAN AGUNG ISLAMIC UNIVERSITY IN THE ACADEMIC YEAR OF 2017/ 2018
The rapid change of information and technology in the 21st century demands students to adapt. They are required not only to master English communication as an international language, but also to provide themselves with the essential skills of the era. Project-Based Learning (PjBL) is a challenging, interesting, and motivating method represented by end products. This study was aimed to investigate the effectiveness of PjBL to enhance speaking skills and promote the “Four Cs‟ (critical thinking and problem solving, communication, collaboration, and creativity and innovation) as the 21st century skills. Quantitative and qualitative research design was used in this study. Quasi experimental research was conducted to 53 students of electrical engineering Sultan Agung Islamic University. Speaking tests, observations, Likert scale questionnaires, and semi-structured interviews were employed as the instruments. The results showed that the experimental group consisting of 27 students experienced better improvement compared to the control group. The mean score of the experimental group was 15.32, while the mean score of the control group was 11.62. Furthermore, Independent Sample T-test showed sig. value (2 tailed) of 0.00, which was lower than 0.05, meaning that there was statistically significant difference between the two groups. From the results of questionnaires, most respondents strongly agreed that PjBL helped them speak more actively and encourage their higher-order thinking, interaction, teamwork, and creativity. The results of the interviews also indicated the students‟ positive perspectives towards the implementation of PjBL since they were excited and challenged during all the speaking project time. It can be concluded that PjBL proved effective to enhance the students‟ speaking skill and foster their “Four Cs”. PjBL can be an alternative method for English teachers in teaching non-English students in the higher education level.
Perubahan informasi dan teknologi yang sangat cepat memberikan tantangan kepada siswa untuk mampu beadaptasi. Mereka tidak hanya dituntut untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris sebagai bahasa international, tetapi juga diharuskan menguasai kemampuan-kemampuan yang penting dari abad ke-21. Pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebuah metode yang menantang, menarik, dan memotivasi yang menghasilkan proyek akhir. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan keefektifitasan Pembelajaran Berbasis Proyek dalam meningkatkan 4Cs (berpikir kritis dan memecahkan masalah, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas dan inovasi) sebagai kemampuan-kemampuan abad ke-21 dan meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris melalui proyek-proyek berbicara. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuasi eksperimen dilakukan terhadap 53 mahasiswa jurusan teknik elektro dari Universitas Islam Sultan Agung. Tes berbicara, pengamatan, kuesioner dengan skala Likert dan wawancara dilakukan sebagai instrument dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang terdiri dari 27 mahasiswa mengalami peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok control. Nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 15.32, sedangkan nilai rata-rata kelas control adalah 11.62. Lagipula, uji Independent T-test menunjukkan nilai sig. (2 tailed) sebesar 0,00 yang lebih kecil dari 0.05, yang berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara kedua kelompok. Berdasarkan hasil kuesioner, hampir semua responden sangat setuju bahwa PjBL membantu mereka berbicara lebih aktif dan mendorong higher-order thinking, interaksi, kerjasama tim, dan kreativitas mereka. Hasil wawancara pun menunjukan pandangan positif responden terhadap pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek karena mereka merasa senang dan tertantang selama waktu pengerjaan proyek berbicara. Hal ini dapat disimpulkan bahwa PjBL terbukti efectif meningkatkan kemampuan berbicara dan 4C mahasiswa. PjBL dapat menjadi metode alternatif bagi pengajar bahasa Inggris dalam mengajar mahasiswa bukan jurusan bahasa Inggris di tingkat perguruan tinggi
REDESAIN GOR MANAHAN SURAKARTA
Indonesia mendapat gelar juara umum dalam ajang Asean Para Games 2017 di Malaysia, disusul dengan peringkat 4 Asian Games 2018 dan peringkat 5 Asian Para Games 2018 di Jakarta – Palembang. Hal ini membuat pemerintah di berbagai daerah semakin berbenah dalam memberikan fasilitas yang baik demi pembinaan dan pengembangan potensi atlet tanah air . Pada tahun 2018, Kota Surakarta menjadi tempat atlet Asian Para Games 2018 menjalankan pemusatan latihan nasional (pelatnas) disusul dengan peresmian Sekolah Khusus Olahraga Difabel Indonesia (SKODI) di akhir tahun. Pernyataan Staf Ahli Kemenristek Dikti di akhir tahun 2017 mengenai Surakarta sebagai pionir kota ramah difabel di Indonesia perlahan mulai direalisasikan oleh pemerintah.
Hal tersebut melatarbelakangi pembangunan fasilitas olahraga yang baik dan memenuhi standar di Kota Surakarta, salah satunya Gedung Olahraga (GOR) Manahan yang sering menjadi tempat diselenggarakannya kompetisi olahraga hingga tingkat internasional. Pengembangan GOR Manahan merupakan salah satu perwujudan dari Perpres No. 64 tahun 2018. Stadion Utama Manahan, lapangan tenis dan beberapa titik di kawasan Gelora Manahan juga mulai menjalani tahap renovasi di akhir tahun 2018.
Dari permasalahan di atas, diperlukan solusi dalam bentuk Redesain GOR Manahan Surakarta yang adaptif terhadap standar internasional dan ramah bagi difabel. Untuk mewujudkan perancangan dari studi kasus GOR Manahan, diperlukan pedoman perencanaan dan perancangan yang solutif untuk dilanjutkan ke tahap eksplorasi.
Pedoman perencanaan dan perancangan Redesain GOR Manahan Surakarta dirumuskan dari persyaratan bangunan gedung olahraga yang dikeluarkan pemerintah, standar arena olahraga oleh organisasi internasional cabang olahraga terkait, standar bangunan ramah difabel serta tinjauan dari GOR Manahan sebagai acuan dalam perancangan sehingga didapatkan solusi dari permasalahan yang ada. Dilakukan pula pendekatan fungsional, kinerja dan kontekstua