71404 research outputs found
Sort by
PUSAT SENI BUDAYA DI KOTA SEMARANG
Kota Semarang sebagai pusat kegiatan dan ibu kota Jawa Tengah yang mempunyai kekayaan budaya bernuansa jawa, arab, cina dan juga kolonial. Keanekaragaman budaya Semarang juga terlihat dari banyaknya seni lokal yang berkembang. Dari data organisasi kesenian yang ada di Kota Semarang tercatat sebanyak 713 grup kesenian yang terdiri dari organisasi kesenian musik, dangdut, karawitan, campursari, ketoprak, rebana, qosidah, seni lukis, vokal (paduan suara), orkes melayu, band, solo organ, tari, pedalangan, teater film, keroncong, dan lain-lain. (Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, 2019). Keanekaragaman tersebut, memerlukan pendokumentasian agar budaya tersebut tetepa lestari dan berkembang, hal itu dapat berupa antara lain tersedianya museum dan perpustakaan kesenian untuk menyimpan dan memamerkannya. Kemudian untuk seni pagelaran memerlukan ruang pagelaran untuk melatih, mengajarkan dan mementaskannya secara rutin sehingga dapat diketahui dan dikembangkan masyarakat.
Pemerintah Kota Semarang telah memulai langkah dengan pengadaan fasilitas kesenian Semarang dengan mendirikan Taman Budaya Raden Saleh yang diperuntukkan bagi seniman Kota Semarang. Namun fasilitas yang ada dirasa kurang dapat memenuhi kebutuhan budaya dan komunitas seni lokal yang ada di Kota Semarang. Keadaan ini berbanding terbalik dengan perkembangan kesenian Kota Semarang yang semakin beragam ini ditandai dengan pertumbuhan komunitas ataupun kelompok seni di kota Semarang. Dalam dua tahun terakhir juga terdapat 1700an poster acara yang di inisiasi oleh korporasi, komunitas, atau artis inisiatif (Korespondensi Komunitas Gerobak Hysteria,2016). Hal ini menunjukan bahwa minat warga Kota Semarang semakin tahunnya semakin meningkat, sedangkan fasilitas sarana prasarananya belum tersedia dengan baik.
Kota Semarang memerlukan wadah Pusat Seni Budaya di Kota Semarang untuk mengembangkan serta melestarikan potensi budaya dan seni lokal, sehingga dapat mewadahi kegiatan pementasan budaya, pendokmentasian hasil karya seni budaya maupun kegiatan seni lokal yang ada di Semarang sebagai pusat pelatihan dan pengembangan
ANALISIS STRATEGI PEMASARAN BUAH SEMANGKA DI GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN) TANI MAKMUR DI DESA CABEAN KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pemasaran yang efektif dengan mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal pada pemasaran buah semangka di Gapoktan Tani Makmur Desa Cabean, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2018 sampai dengan Februari 2019. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Purposive. Metode pengambilan sampel dengan Metode Snowball Sampling dan Purposive Sampling. Total responden dalam penelitian ini berjumlah 40 orang, 20 orang responden merupakan anggota Gapoktan Tani Makmur yang menanam semangka dan 20 responden lain merupakan orang diluar Gapoktan yang masih terkait dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan Matriks IFE, Matriks EFE, Matriks IE, Analisis SWOT dan Matriks QSP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 7 strategi alternatif yang bisa diterapkan Gapoktan Tani Makmur dalam memperbaiki sistem pemasaran buah semangka. Berdasarkan hasil Matriks QSP diperoleh prioritas strategi sebagai berikut: Menjalin kerjasama dengan perusahaan terkait pemasaran dan produksi, pembentukan koperasi dan Bidang Pemasaran Gapoktan, mempertahankan dan meningkatkan produk Gapoktan, melakukan segmentasi produk, melakukan kerjasama dengan pemerintah, membentuk forum diskusi antar Gapoktan dan pemilihan waktu penjualan yang tepat.
Kata kunci: buah semangka, gapoktan, strategi pemasara
SIKAP PETANI TERHADAP PRODUK BANK SYARIAH MANDIRI DI KECAMATAN GUBUG KABUPATEN GROBOGAN
Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang menjadi alternatif sumber permodalan bagi petani untuk memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani, menganalisis pengaruh faktor-faktor pembentuk sikap petani meliputi umur, pendidikan, lamanya usahatani, jumlah tanggungan keluarga dan pendapatan rumah tangga petani per bulan terhadap sikap petani pada produk Bank Syariah Mandiri di Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Juni - 28 Juli 2019 di Desa Trisari, Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive). Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sensus. Jumlah responden 47 orang Kelompok Tani Subur Makmur. Data dianalisis dengan analisis deskriptif untuk menganalisis sikap petani dan faktor-faktor pembentuk sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri sedangkan analisis kuantitatif digunakan untuk mengetahui pengaruh antara faktor pembentuk sikap terhadap sikap petani pada produk Bank Syariah Mandiri di Kecamatan Gubug Kabupaten Grobogan menggunakan regresi linier berganda. Sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri dalam kategori setuju dengan skor 77,78%. Berdasarkan uji F menunjukkan bahwa secara serempak ada pengaruh yang signifikan antara umur petani, tingkat pendidikan, lamanya usahatani, jumlah tanggungan keluarga, dan pendapatan rumah tangga petani per bulan pada sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri. Berdasarkan uji t didapatkan hasil bahwa umur petani, tingkat pendidikan dan pendapatan rumah tangga petani per bulan secara parsial berpengaruh pada sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri. Lamanya usahatani dan jumlah tanggungan keluarga secara parsial tidak berpengaruh pada sikap petani terhadap produk Bank Syariah Mandiri.
Kata Kunci: Faktor, Petani, Produk, Sikap
ANALISIS HUBUNGAN ASPEK PERILAKU PETANI HORTIKULTURA DENGAN KEBERHASILAN POLA KEMITRAAN DI ASOSIASI ASPAKUSA MAKMUR KABUPATEN BOYOLALI
Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, ketrampilan petani hortikultura di Asosiasi Aspakusa (2) Menganalasis keberhasilan pola kemitraan petani hortikultura di Asosiasi Aspakusa (3) Menganalisis hubungan perilaku petani hortikultura dengan keberhasilan pola kemitraan di Asosiasi Aspakusa. Penelitian dilaksanakan pada 19 Maret – 19 April 2019 di Asosiasi Aspakusa Makmur Kabupaten Boyolali. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah survey. Pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive dengan mengambil 35 anggota populasi sebagai sampel penelitian. Data dianalisis menggunakan analisis korelasi spearman untuk mengetahui ada hubungan yang signifikan antara perilaku petani dengan keberhasilan pola kemitraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan,sikap,dan ketrampilan tergolong tinggi, tingkat keberhasilan pola kemitraan tergolong tinggi, perilaku petani hortikultura yang meliputi sikap mempunyai hubungan yang signifikan dengan keberhasilan pola kemitraan sedangkan pengetahuan dan ketrampilan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap keberhasilan pola kemitraan di Asosiasi Aspakusa Makmur.
Kata Kunci: korelasi, petani, kemitraan, hortikultur
Markas dan Pusat Pelatihan Pemadam Kebakaran Kota Semarang
Kebakaran merupakan bencana yang tidak dapat terhindari lagi, hal ini pun menyebabkan kerugian bagi korbannya baik secara materiil dan juga moril. Untuk menanggulangi adanya bencana kebakaran, maka pemerintah pun membentuk satuan petugas pemadam kebakaran yang ada ditiap daerah. Petugas pemadam kebakaran tentunya membutuhkan adanya wadah bagi kesiagaan mereka berupa bangunan Gedung. Gedung pemadam kebakaran sendiri memiliki beberapa ketentuan dan standar yang harus ditetapkan. Sayangnya di Indonesia belum ada secara khusus peraturan yang membahas terkait kekhususan kantor dan gedung pemadam kebakaran.
Untuk membentuk gedung pemadam kebakaran harus memperhatikan mulai dari kebutuhan ruang, pola ruang, hingga zonasi ruang. Hal ini memungkinkan petugas pemadam kebakaran akan lebih efektif dalam menjalankan aktivitasnya. Selain itu, gedung pemadam kebakaran dalam perancangan kali ini tidak hanya berfokus pada kantor dan pos jaga pemadaman namun juga sebagai pusat Pendidikan dan pelatihan pemadam kebakaran.
Dengan adanya beberapa fungsi gedung, maka pembagian zonasi ruang dan juga pola ruang dari gedung ini menjadi dasar dalam merancang gedung Markas dan Pusat Pelatihan Pemadam Kebakaran Kota Semarang ini. Sehingga gedung ini dapat berfungsi baik sebagai kantor markas pemadam kebakaran, dan juga pusat pendidikan dan pelatihan pemadam kebakaran
SHOWROOM DAN BENGKEL MOBIL SUZUKI DI BSB SEMARANG
Perkembangan suatu kota memberikan efek terhadap meningkatnya aktivitas masyarakat kota. Aktivitas masyarakat kota ini membutuhkan sistem transportasi yang memadai sehingga dapat memperlancar aktivitas. Namun, pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali menyebabkan permintaan sarana transportasi meningkat, dan sampai saat ini pemerintah belum mampu menyediakan sarana angkutan umum massal (SAUM) yang memadai untuk mengantisipasi hal tersebut. Karena pemerintah tidak mampu menyediakan SAUM yang memadai maka masyarakat lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, pertumbuhan kendaraan di Indonesia sangat tinggi.
Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia juga mengalami pertumbuhan kendaraan yang tinggi, hal ini dapat terlihat pada ruas jalan di Semarang yang sering mengalami kemacetan pada jam-jam sibuk. Dengan pertumbuhan kendaraan rata-rata kota besar di Indonesia sekitar 8% per tahun dan pertumbuhan ruas jalan 2-5% per tahun (www.hubdat.web.id) maka semakin lama akan menyebabkan kemacaten yang parah. Di samping itu, Kota Semarang memiliki pertumbuhan kendaraan umum (bus dan mikrolet ) rata-rata sebesar -5,94 %. Sedangkan kendaraan pribadi (mobil dan sepeda motor) sebesar 2,00 % (BPS Kota Semarang). Hal ini disebabkan karena berkembangnya industri kendaraaan bermotor yang sangat pesat dan mudahnya masyarakat untuk mendapatkan kendaraan pribadi dengan sistem perkreditan kendaraan bermotor dengan uang muka yang kecil.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi berupa mobil berakibat pada meningkatnya penjualan mobil. Peningkatan tidak hanya pada kuantitas mobil namun juga pada kualitas mobil yang diluncurkan Agen Tunggal Pemegang Merk (ATPM). Dari sekian banyak mobil yang terjual di kota Semarang, Suzuki indomobil hadir untuk melayani masyarakat Jawa Tengah khususnya Kota Semarang. Namun, Keberadaan Suzuki di Kota Semarang masih belum menjangkau sepenuhnya pangsa pasar yang semakin meluas. Beberapa outlet Suzuki yang ada di Kota Semarang masih belum sepenuhnya mampu mewadahi fasilitas pelayanan purna jual mobil seiring meluasnya pangsa pasar.
Tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dari skripsi ini adalah untuk menentukan dan merancang showroom dan bengkel mobil yang baik dan dapat menjawab kebutuhan showroom dan bengkel Suzuki di Kota Semarang. Dengan acuan desain berupa High Tech Architecture. Sehingga menghasilkandesain showroom dan bengkel sesuai dengan standard yang ada serta dapat memenuhi kebutuhan
BEBERAPA FAKTOR RISIKO YANG BERPENGARUH TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN ANTIRETROVIRAL PADA PENDERITA HIV/AIDS: Studi Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu
Latar Belakang : Kepatuhan pengobatan Antiretroviral masih menjadi masalah kesehatan di kota Palu. Terjadi peningkatan kasus HIV yang signifikan dan semakin banyak penderita memasuki stadium AIDS, disebabkan menurunnya tingkat kepatuhan dalam pengobatan antiretroviral.Kepatuhan antiretroviral merupakan salah satu faktor memperpanjang umur harapan hidup penderita HIV/AIDS secara bermakna.antiretroviral bekerja melawan infeksi dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.
Tujuan : Membuktikan beberapa faktor risiko yang berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral pada penderita HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu.
Metode : Pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mix method) dengan menggunakan jenis penelitian kasus-kontrol. Variabel dependen yaitu kepatuhan pengobatan ARV, dan variabel dependen yaitu pengetahuan kurang, memiliki riwayat efek samping, akses ke pelayanan kesehatan yang jauh, sikap pelayanan petugas kesehatan yang kurang, jumlah obat ARV yang dikonsumsi, ketepatan waktu mengkonsumsi ARV, pengobatan tradisional dan mengalami depresi. Sampel dalam penelitian ini 35 kasus dan 35 kontrol dengan teknik pengambilan sampel consecutive sampling, pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, dan catatan rekam medis.
Hasil : Variabel yang terbukti berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral pada penderita HIV/AIDS adalah mempunyai riwayat efek samping dengan nilai p-value 0,016 Odds ratio : 4,998 dan 95% CI : 1,344-18,515, Mengalami depresi dengan nilai p-value 0,017Odds ratio = 5,460 dan 95 CI = 1,358-21,950, pelayanan petugas kesehatan yang kurang dengan nilai p-value 0,040 Odds ratio 4,401 dan nilai CI = 1,069-18,125, dan Akses pelayanan kesehatan yang jauh dengan nilai p-value 0,003 Odds ratio 7,948 dan nilai CI = 2,006-31,491.
Simpulan : Faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan antiretroviral yaitu mempunyai riwayat efek samping, mengalami depresi, pelayanan petugas kesehatan yang kurang, dan akses ke pelayanan kesehatan yang jauh.
Kata Kunci : HIV/AIDS, Faktor Risiko,Kepatuhan,Antiretroviral
Background: Compliance with Antiretroviral treatment is still a health problem in the city of Palu. There has been a significant increase in HIV cases and more and more patients are entering the AIDS stage, due to decreased levels of adherence in antiretroviral treatment. Antiretroviral adherence is a significant factor in extending the life expectancy of HIV / AIDS sufferers. Antiretrovirals work against infections by slowing down HIV reproduction in the body.
Objective: To prove several risk factors that influence the compliance of antiretroviral treatment in patients with HIV / AIDS in Undata District General Hospital, Palu
Method: Quantitative and qualitative approaches (mix method) using case-control research. The dependent variable is adherence to ARV treatment, and the dependent variable is lack of knowledge, have a history of side effects, access to distant health services, attitudes of health service providers are lacking, the number of ARV drugs consumed, the accuracy of consuming ARVs, traditional medicine and experiencing depression. The sample in this study was 35 cases and 35 controls with consecutive sampling technique, data collection was carried out using questionnaires, in-depth interviews, and medical records.
Results: Variables that were proven to influence the adherence of antiretroviral treatment in people with HIV / AIDS were having a history of side effects with a p-value of 0.016 Odds ratio: 4.998 and 95% CI: 1,344-18,515, Having depression with a p-value of 0.017 Odds ratio = 5,460 and 95 CI = 1,358-21,950, poor health services with p-value of 0.040 Odds ratio of 4.401 and CI value of 1.069-18.125, and access to remote health services with p-value of 0.003 Odds ratio of 7.948 and CI value of = 7.948 and CI value of 2,006-31,491.
Conclusion: Factors that have been proven to influence the adherence of antiretroviral treatment are having a history of side effects, experiencing depression, lack of health services, and access to remote health services.
Keywords: HIV / AIDS, Risk Factors, Compliance, Antiretroviral
BEBERAPA FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTINGPADAANAKUSIA 12-36 BULAN: Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Woha Kabupaten Bima
Latar Belakang:Stunting merupakan indikator adanya masalah kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu yang lama. Angka prevalensi stunting di Kecamatan Woha Kabupaten Bima (39,6%) lebih tinggi dari angka prevalensi nasional (30,8%).
Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor penyebab kejadian stunting pada anak usia 12-36 bulan di Puskesmas Woha Kabupaten Bima
Metode Penelitian: Penelitian menggunakan rancangan kasus kontrol dengan pendekatan retrospektif pada 96 sampel di wilayah kerja Puskesmas Woha. Penentuan sampel dengan teknik simplerandomsampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan pengukuran tinggi badan atau panjang badan anak per umur dan tingi badan orang tua menggunakan alat ukur stadiometer. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik dengan metode enter.
Hasil Penelitian:Hasil analisis bivariatterdapat 9 variabel yang terbukti signifikan secara statistik terhadap kejadian stunting antara lain berat badan lahir rendah (p=0,018), panjang badan lahir (p=0,011), tingkat asupan energi (p=0,011), tingkat asupan protein (p=0,005), riwayat penyakit infeksi (0,002), tinggi badan ayah (p=0,012), tinggi badan ibu (0,002), riwayat paparan pestisida (0,004), tingkat pendidikan ibu (0,025). Hasil analisis multivariat yang terbukti signifikan diantaranya asupan energi OR= 3,81 (95% CI= 1,28-11,30), penyakit infeksi OR= 4,837 (95% CI= 1,64-14,27), paparan pestisida OR= 3,47 (95% CI= 1,214-9,95), Tinggi badan ayah OR= 2,484 (95% CI= 1,02-7,95), tinggi badan ibu OR= 5,03 (95% CI= 1,75-14,40). ASI tidak eksklusif, riwayat imunisasi, akses pelayanan kesehatan, pendapatan keluarga dan pemberian makanan papahan tidak terbukti sebagai faktor risiko kejadian stunting.
Kesimpulan:Tinggi badan orang tua (genetik) merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi kejadian stunting
Kata Kunci: Kejadian stunting, paparan pestisida, pemberian makanan papahan
Background:Stunting is an indicator of chronic malnutrition in the long time. The stunting prevalence rate in Woha District, Bima Regency (39.6%) is higher than the national prevalence rate (30.8%).
Objective:To find out the risk factors that cause stunting in children aged 12-36 months in the working area of Woha Community Health Center Bima Regency
Methods: The study used a case-control design with a retrospective approach to 96 samples in the working area of the Woha Community Health Center. Determination of the sample by simple random sampling technique. Data collection using a questionnaire and measurement of height or length of the child per age and height of parents using a stadiometer measuring instrumen. Data analysis using chi-square and logistic regression with the enter method.
Result:The results of bivariate analysis found 9 variables that were proven to be statistically significant to the incidence of stunting including low birth weight (p = 0.018), length of birth body (p = 0.011), energy intake level (p = 0.011), protein intake level (p = 0.005), history of infectious diseases (0.002), father's height (p = 0.012), maternal height (0.002), history of pesticide exposure (0.004), maternal education level (0.025). The results of multivariate analysis that proved significant include energy intake of OR = 3.81 (95% CI = 1.28-11.30), infectious disease OR = 4.837 (95% CI = 1.64-14.27), exposure to OR pesticides = 3.47 (95% CI = 1,214-9.95), Father's height OR = 2.484 (95% CI = 1.02-7.95), maternal height OR = 5.03 (95% CI = 1 , 75-14,40). Non-exclusive breastfeeding, a history of immunization, access to health services, family income and history of preswallowed feeding are not proven to be risk factors for stunting.
Conclusion:Parental height (genetic) is the most dominant variable affecting the incidence of stunting.
Keywords:Stunting, exposure to pesticides, pre-swallowed feedin