71404 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU DAN PELAYANAN KESEHATAN DENGAN PRAKTIK PERAWATAN NIFAS (STUDI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PUSKESMAS PURWODADI II KABUPATEN GROBOGAN)
Perawatan Nifas yang baik merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya angka kematian ibu (AKI). AKI di Kabupaten Grobogan pada tahun 2018 sebesar 152,5 per 100.000 KH lebih besar dibandingkan AKI di Provinsi Jawa Tengah yaitu 78,6 per 100.000 KH. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik ibu dan pelayanan kesehatan dengan praktik perawatan nifas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian explanatory research dengan desain cross sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah ibu melahirkan pada bulan Januari – Juni 2019 dengan total sebanyak 140 orang. Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah minimal sampel 54 orang. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (deskriptif dan analitik) dengan uji chi – square menggunakan metode continuity correctiondengan α 5%. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persentase sebagian besar adalah ibu nifas dengan pendidikan dasar (61,1%), pendapatan keluarga tinggi (55,6%), budaya patuh (66,7%), pelayanan kesehatan baik (57,4%), dan praktik perawatan nifas yang baik (64,8%). Persentase praktik perawatan nifas yang baik lebih besar pada ibu yang menempuh pendidikan lanjut (76,2%), pendapatan keluarga yang rendah (70,8%), budaya patuh (66,7%), dan pelayanan kesehatan yang baik (77,4%). Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada hubungan pendidikan ibu (pvalue = 0,270), pendapatan keluarga (pvalue = 0,588), dan budaya (pvalue = 0,920) dengan praktik perawatan nifas. Ada hubungan pelayanan kesehatan dengan praktik perawatan nifas (pvalue = 0,05). Saran pada penelitian ini adalah dengan memberikan penyuluhan ataupun KIE dan juga komunikasi interpersonal kepada ibu nifas agar praktiknya lebih baik lagi
Kata Kunci: Praktik Perawatan Nifas, Pendidikan Ibu, Pendapatan Keluarga, Budaya, Pelayanan Kesehata
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN, PERSENTASE LEMAK TUBUH, AKTIVITAS FISIK DAN STATUS MEROKOK DENGAN DAYA TAHAN AEROBIK ATLET SOFTBALL (Studi di UKM Softball Universitas Diponegoro)
Prestasi olahraga softball yang mengalami pasang surut menjadi keprihatinan bagi atlet di Indonesia, dibuktikan dari acara Sea Games 2015 dan Asian Games 2018 tidak menyumbang medali emas dikarenakan kurangnya perhatian terhadap kesehatan atlet. Atlet softball dituntut untuk memperhatikan kadar hemoglobin, persentase lemak tubuh, aktivitas fisik, dan gaya hidup seperti status merokok dikarenakan hal-hal tersebut sangat berpengaruh dengan daya tahan aerobik seorang atlet sehingga dapat mempengaruhi prestasi saat bertanding. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan kadar hemoglobin, persentase lemak tubuh, aktivitas fisik, dan status merokok dengan daya tahan aerobik atlet softball. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory research dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan besar sampel sebanyak 30 atlet. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara, kadar hemoglobin dengan metode cyanmethemoglobin, persentase lemak tubuh menggunakan BIA, aktivitas fisik menggunakan recall aktivitas fisik dan daya tahan aerobik menggunakan metode Multistage Fitness Test. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan Rank Spearman. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki kadar hemoglobin normal, persentase lemak tubuh termasuk obesitas, aktivitas fisik termasuk sedang, status merokok termasuk perokok ringan, serta daya tahan aerobik dalam kategori ringan dan sedang. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kadar hemoglobin (p=0,011;r=0,458), persentase lemak tubuh (p=0,000;r=−0,742) dan aktivitas fisik (p=0,000;r=0,942) dengan daya tahan aerobik, serta tidak terdapat hubungan antara status merokok dengan daya tahan aerobik (p=0,725;r=−0,067). Pengelola UKM maupun atlet disarankan untuk melakukan latihan fisik diluar jam latihan serta memperhatikan asupan zat gizi
Kata Kunci: Daya Tahan Aerobik, Kadar Hemoglobin, Persentase Lemak Tubuh, Aktivitas Fisik, Status Merokok, Atlet Softbal
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERBEDAAN TERJADINYA SKABIES PADA SANTRI (Studi di MTs Salafiyah Safiiyah Tebu Ireng dan SMP A. Wahid Hasyim Tebu Ireng Tahun 2019)
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi Sarcoptes scabiei var. hominis yang menyebabkan rasa gatal. Sanitasi kamar yang tidak memenuhi syarat, personal hygiene yang buruk , dan perilaku yang buruk dapat mempengaruhi terjadinya skabies. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian faktor apa saja yang mempengaruhi perbedaan terjadinya skabies pada santri MTs dan SMP. Penelitian ini adalah penelitian anallitik dengan metode cross-sectional comparatif melalui pendekatan kuantitatif. Variabel penelitian ini adalah sanitasi kamar, kondisi personal hygiene, dan perilaku santri. Sampel penelitian ini diambil secara purposive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi subyek penelitian yang berjumlah 95 santri SMP dan 95 santri MTs. Data diperoleh dari wawancara menggunakan kuesioner kepada responden dan menggunakan lembar observasi langsung ke wisma para santri. Analisis data menggunakan uji beda dengan pendekatan non parametik, yaitu chi square two sample dan fisher’s exact test dengan derajat kepercayaan 95 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sanitasi kamar (p-value=0,5), pengetahuan tentang skabies (p-value=0,542), sikap positif tentang skabies (p-value=0,765), kebiasaan praktik bertukar pakaian atau alat shalat (p-value=0,62), kebiasaan praktik bertukar handuk (p-value=0,229), kebiasaan praktik bertukar selimut (p-value=0,188), dan personal hygiene tentang skabies (p-value=0,771). Upaya pencegahan seperti tidak bertukar pakaian atau alat shalat, tidak bertukar selimut, menjemur kasur di bawah sinar matahari seminggu sekali, dan menjemur handuk di bawah sinar matahari setelah mandi
Kata Kunci: Skabies, Sanitasi, Perilaku, Personal Hygien
ANALISIS KESIAPAN PUSKESMAS DALAM PELAKSANAAN PROGRAM PUSKESMAS TANPA ANTRIAN KOTA SEMARANG (PUSTAKA) DI KOTA SEMARANG (STUDI KASUS DI PUSKESMAS GAYAMSARI, PUSKESMAS SRONDOL, PUSKESMAS GUNUNGPATI, DAN PUSKESMAS TOGOSARI KULON)
Latar Belakang : Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan. Terdapat inovasi Program Puskesmas tanpa Antrian Kota Semarang (PUSTAKA). Program ini bertujuan untuk mengurai antrian di Puskesmas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesiapan Puskesmas dalam Pelaksanaan Program PUSTAKA. Penelitian ini berlokasi di Puskesmas Gayamsari, Srondol, Gunungpati, dan Tlogosati Kulon.
Metode : Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview dengan purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah tenaga, dana, sarana prasarana, kebijakan dan SOP, sosialisasi, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, penilaian dan lingkungan.
Hasil : Variabel SDM sudah mencukupi dan tersedia, dana berasal dari BLUD Puskesmas dan untuk operasional saja, serta sarana prasarana tidak ada kendala, kebijakan masih belum diimplementasikan secara optimal, untuk sosialisasi pada puskesmas pengguna rendah hanya menggunakan metode media sosial. Sedangkan terkait variabel perencanaan, pengorganisasian belum dilakukan dengan maksimal. Sedangkan variabel penilaian untuk puskesmas pengguna rendah dilakukan rutin. Terkait aspek lingkungan, telah ada dukungan dari masyarakat untuk menggunakan program ini, namun belum ada dukungan dari kader kesehatan maupun tokoh masyarakat. Kendala terdapat pada golongan lanjut usia yang terbatas kemampuannya dalam penggunaan teknologi.
Simpulan dan Saran : Puskesmas harus membuat serta menaati SOP internal, membuat perencanaan yang sesuai, memaksimalkan sosialisasi secara langsung dan informasi yang disampaikan lebih rinci, serta berkolaborasi dengan kader kesehatan, dan membentuk tim khusus pelaksana Program PUSTAKA
Kata Kunci: Puskesmas Tanpa Antrian Kota Semarang (PUSTAKA), Puskesmas, Layanan Antrian Berbasis Elektroni
ANALISIS PENCEMARAN TIMBAL (Pb) PADA PERAIRAN PESISIR SEMARANG
Menurut Raperda tentang Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, perairan Semarang Utara diperuntukan sebagai zona transportasi laut dan industri, namun masih dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya Kerang Hijau (Perna viridis). Perairan Semarang Utara telah tercemar Timbal (Pb) berdasarkan studi pendahuluan penulis dan penelitian sebelumnya yang diakibatkan oleh aktivitas di lokasi tersebut. Munculnya Timbal (Pb) di perairan dapat menyebabkan akumulasi pada biota dan membahayakan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) pada air dan biota di perairan Semarang Utara.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel ditentukan secara purposive dan dibagi menjadi 2 zona (radius 1 km dan 2 km)dari bibir pantai sehingga diperoleh 24 sampel air serta 4 sampel Kerang hijau. Analisis secara analitik digunakan untuk menguji beda kadar Timbal (Pb) antar zona.Rata-rata Timbal (Pb) pada zona 1 (0,869 mg/l) dan pada zona 2 (1,057 mg/L) telah melebihi baku mutu Timbal (Pb) dalam air untuk biota sebesar 0,008 mg/L. Uji independent t-test menunjukan hasil sig(2-tailed) 0,095 (>0,05) yang artinya tidak ada perbedaan antara kadar Timbal (Pb) perairan pada zona 1 dan zona 2. Kadar Timbal (Pb) dalam kerang hijau sebanyak 2 sampel (50%) melebihi baku mutu dan 2 sampel (50%) pada batas baku mutu (0,3 mg/kg). Kualitas perairan Semarang utara termasuk dalam cemar sedang dengan rata-rata Indeks Pencemaran (PI) 8,81. Akumulasi Timbal (Pb) pada kerang hijau adalah akumulasi rendah (Bioconcentration Factor<100; 0,62). Konsumsi kerang hijau pada lokasi ini dapat membahayakan kesehatan berdasarkan hasil pengukuran akumulasi Timbal (Pb) pada jaringan lunak kerang dan kondisi pencemaran perairan dikarenakan bersifat akumulatif pada tubuh manusia
Kata Kunci: Pencemaran, Timbal (Pb), Perairan Semaran
PENYALAHGUNAAN PRINSIP KEPENTINGAN MILITER DALAM KASUS PENYERANGAN BENDA BUDAYA OLEH ISIS DI SURIAH
Kepentingan militer merupakan salah satu prinsip dasar Hukum
Humaniter Internasional. Pada dasarnya, prinsip ini berarti bahwa angkatan
bersenjata dapat melakukan tindakan apapun yang diperlukan untuk mencapai
tujuan militer dalam peperangan selama tidak melanggar Hukum Humaniter
Internasioal. Namun dalam praktiknya penyalahgunaan prinsip ini kerap terjadi
sebagaimana dalam kasus penyerangan terhadap benda budaya oleh ISIS di
Suriah. Oleh karena itu dilakukan penelitian untuk menganalisis penyebab
penyalahgunaan prinsip kepentingan militer dalam berbagai konflik bersenjata
dan tindakan ISIS menerapkan prinsip kepentingan militer dalam kasus
penyerangan benda budaya di Suriah menurut Hukum Humaniter Internasional.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan
spesifikasi penelitiannya deskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data
sekunder, yang kemudian dianalitis secara kualitatif. Penyebab penyalahgunaan
prinsip kepentingan militer adalah sifat Hukum Humaniter Internasional yang
lemah, kurang efektifnya lembaga pengawas penegakan Hukum Humaniter
Internasional dan terdapat perbedaan penafsiran mengenai prinsip kepentingan
militer. Tindakan penyerangan benda budaya yang dilakukan oleh ISIS di Suriah
tidak dapat dibenarkan atas dasar kepentingan militer, karena tidak memenuhi dua
kriteria yang bersifat kumulatif agar serangan tersebut dianggap sah sebagaimana
diatur dalam Pasal 6 (a) Protokol II Konvensi Den Haag 1954. Oleh karena itu
perlu dibuat peraturan baru yang lebih komprehensif berkaitan dengan prinsip
kepentingan militer
PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP SELISIH HARGA PADA RAK DENGAN STRUK KASIR DI INDOMARET SEMARANG
Masyarakat sering dihadapkan pada perilaku pelaku usaha di bidang retail yang cenderung merugikan konsumen. Perilaku tersebut diantaranya pencantuman harga yang tertera pada barang yang di pajang di etalase toko berbeda dengan harga di kasir toko tersebut. Hal ini tentu saja akan memberikan dampak yang merugikan konsumen karena adanya ketidakpastian terhadap harga suatu barang. Maka dari itu perlunya aturan yang mengatur mengenai hal tersebut, guna untuk melindungi hak-hak konsumen yang telah diatur oleh pemerintah.
Perlunya konsumen harus dilindungi oleh hukum yang sifat dan tujuannya adalah memberikan perlindungan dan kepastian hukum terhadap konsumen, salah satunya yaitu Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Yang berisi mengenai bagaimana hak-hak konsumen diakui dan diatur di dalam hukum, serta bagaimana hukum tersebut ditegakkan di dalam praktik hidup bermasyarakat. Dimana aturan tersebut tidak hanya mengatur mengenai hak dan kewajiban konsumen, melainkan juga mengatur mengenai hak dan kewajiban pelaku usaha.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode pendekatan yuridis empiris bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan kepustakaan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tanggung jawab dari pihak Indomaret Semarang, terhadap selisih harga pada rak dengan struk kasir dan untuk mengetahui upaya penyelesaian hukum atas tanggung jawab dari pihak Indomaret Semarang terhadap selisih harga pada rak dengan struk kasir.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu, bahwa tanggung jawab dari pihak Indomaret Semarang terhadap selisih harga pada rak dengan struk kasir, diselesaikan dengan memberikan harga terendah bagi konsumen yang mengalami selisih harga pada rak dengan struk kasir dengan cara musyawarah atau secara kekeluargaan. Selain itu upaya perlindungan hukum dalam penyelesaian sengketa juga dilakukan oleh pemerintah, guna mengantisipasi kecurangan yang dilakukan oleh pengusaha yang bertujuan supaya konsumen terhindar dari kerugian yang diderita akibat perbedaan harga pada display dan kasir di Indomaret.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa jika terdapat perbedaan antara harga barang yang dicantumkan dengan harga atau tarif yang dikenakan pada saat pembayaran, yang berlaku adalah harga atau tarif yang terendah (Pasal 7 ayat (2) Permendag Nomor 35 Tahun 2013. Perbuatan pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap perbedaan harga pada rak dengan struk kasir akan diselesaikan secara negosiasi yaitu dengan cara memberikan harga yang terendah antara rak dan kasir. Berdasarkan dari uraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa dalam hukum perlindungan konsumen, pelaku usaha harus dapat dimintakan pertanggungjawaban yaitu jika perbuatannya telah melanggar hak-hak dari kepentingan konsumen, yang menimbulkan kerugian atau kesehatan konsumen terganggu
EVALUASI PELAKSANAAN PILAR PERTAMA STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN PADA PROGRAM SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DI KABUPATEN NAGEKEO
Latar Belakang: Sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) merupakan suatu pendekatan untuk mengubuh perilaku higiene dan sanitasi dengan melakukan pemicuan di komunitas.Pilar pertama dalam program STBM adalah stop buang air besar sembarangan (BABS). Dalam kurun waktu 6 tahun pelaksanaan STBM di Kabupaten Nagekeo terdapat 18 desa yang sudah mencapai desa ODF (Open Defecation Free). Hal ini menunjukan terdapat 95 desa/kelurahan yang belum mencapai ODF(Open Defecation Free). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pilar pertama stop buang air besar sembarangan pada program sanitasi total berbasis masyarakat di Kabupaten Nagekeoyang meliputi tahapan input, proses dan output. Metode: Penelitian ini menggunakan metode evaluasi dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling dan dilakukan dengan wawancara mendalam. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak tujuh orang pengelolah STBM Puskesmas. Penelitian dilaksanakan di tujuh Puskesmas di Kabupaten Nagekeo Provinsi NTT pada bulan Mei tahun 2019. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan seperti minimnya kuantitas dan kualitas sumber daya manusia, keterbatasan anggaran, keterbatasan sarana, kurangnya monitoring evaluasi, ketidakaktifan tim fasilitator desa, kurangnya kerja sama lintas sektor. Kesimpulan: Pelaksanaan program STBM pilar pertama Stop BABS di Kabupaten Nagekeo belum dapat berjalan dengan baik karena terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaannya
Kata Kunci: Evaluasi, STBM, Stop BAB
Faktor Penyebab Kejadian Cidera Tertusuk akibat Pengelolaan Limbah Medis Jarum pada Tenaga Kesehatan dan Non Kesehatan di Instalasi Rajawali (RSUP dr. Kariadi)
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi merupakan pelayanan kesehatan yang menyeluruh mencakup promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang menghasilkan limbah medis. Peningkatan jumlah limbah medis dapat memberi dampak negatif berupa cidera tertusuk jarum pada tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan dan dapat mentransmisikan penyakit infeksi berupa Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian cidera tertusuk jarum pada perawat dan housekeeping akibat kegiatan pengelolaan limbah medis jarum. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden dalam penelitian yakni 52 perawat dan 13 housekeeping. Teknik pengambiln sampel penelitian menggunakan purposive sampling. Penelitian menunjukkan sebanyak 7,7% perawat dan 7,7% housekeeping pernah mengalami kejadian cidera tertusuk jarum. Analisis statistik menggunakan Rank Spearman didapatkan hasil variabel yang berhubungan dengan kejadian cidera tertusuk jarum yaitu sikap pada perawat (p value = 0,036; r=0,291). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kejadian cidera tertusuk jarum adalah pengetahuan pada perawat (p value = 0,874), pengetahuan pada housekeeping (p value = 0,429), sikap pada housekeeping (p value = 0,101), praktik pada perawat (p value = 0,890), praktik pada housekeeping( p value = 0,090), riwayat pelatihan pada perawat (p value = 0,214), dan riwayat pelatihan pada housekeeping (p value = 0,606). Kesimpulan penelitian ini adalah variabel yang memiliki hubungan dengan kejadian cidera tertusuk jarum yakni sikap perawat
Kata Kunci: Cidera Tertusuk Jarum, Perawat, housekeeping, RSUP dr. Kariad