71404 research outputs found
Sort by
Penguatan Platform Media Cetak di Tengah Generasi Z (Studi pada Harian Suara Merdeka dan Kedaulatan Rakyat)
Technological developments brought significant changes to the presentation patterns and
marketing strategies of newspapers. Strengthening the newspaper platform is urgently needed
in order to survive in this era of media competition. This study aims to determine the strategy
of strengthening the Suara Merdeka and People's Sovereignty platform to win the young
reader market. The reasons for choosing the platform and its impact on increasing circulation,
legibility and revenue in advertisement. In the print media business, platforms are closely
related to the rubrics that are published every day or periodically presented to the reader.
Rubrication is like a menu that is served and becomes a characteristic or identity of the
media. The content content in each rubric represents media ideology in conveying messages
to the public. This study uses a constructivist paradigm with case study research and uses a
cybernetic approach. Data was obtained by conducting in-depth interviews with the chief
editor, editors, bureau chiefs and reporters of Suara Merdeka and Kedaulatan Rakyat daily.
Researchers used the Social Construction Theory put forward by Peter Berger and Thomas
Luckmann to see the media construction of reality created in the rubrications, as well as the
Theory of Technological Determinism initiated by Marshall McLuhan to see the choice of
communication technology used in accessing information and its relation to the formation of
audience's image. The twilight era of print media requires that both newspapers reduce the
number of pages and their rubrics. However, to maintain young readership readership, both of
them still provide rubrics intended for generation Z. In addition, both of these newspapers
also take an off-print approach in an effort to get closer to young readers and increase
advertising revenue for the sustainability of the print media business. The use of
communication technology has not yet contributed to the formation of an image as youth
newspaper. Newspapers are still seen as old communication platform. The strategy used by
Suara Merdeka and Kedaulatan Rakyat daily has not had a significant impact in increasing
circulation, readability and advertisement revenue
ANALISIS SPASIAL PENCEMARAN LOGAM BERAT TIMBAL (PB) DI ALIRAN SUNGAI KOTA PEKALONGAN
Batik diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009, ini akan berdampak terhadap peningkatan permintaan batik dipasar dunia. Pertumbuhan industri batik tentunya juga berbanding lurus, Kota Pekalongan merupakan salah satu Kota yang dikenal sebagai kota batik. Industri batik yang tidak memiliki surat izin lingkungan tentunya akan berisiko besar terjadinya pencemaran lingkungan seperti tidak tersedianya instalasi pembuangan air limbah serta penggunaan zat warna kimia anorganik seperti logam berat timbal dalam proses produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran timbal pada aliran sungai (Banger dan Pekalongan) dengan mengukur kadar timbal dan menganalisis spasial. Metode pada penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan keruangan (spasial), sebanyak 13 sampel air sungai (Banger dan Pekalongan) diambil secara grab sampling dari 13 lokasi titik sampling dengan jarak masing masing titik sejauh 1,2 Km. Berdasarkan hasil uji kadar logam berat oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan dengan menggunakan AAS secara keseluruhan hasil uji melebihi baku mutu yang ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah nomor 82 tahun 2001 dengan klasifikasi sungai kelas 3. Kemudihan hasil uji dianalisis secara spasial dan divisualisasi dalam bentuk peta sebaran logam berat timbal dengan analisis spasial. Terdapat tiga kategori dalam hasil analisis spasial yaitu, kategori pencemaran dalam pemantauan, pencemaran dalam pengawasan dan pencemaran perlu penanganan (titik sampling 9,10 dan 11) bagian hilir.
Kata kunci : analisis spasial, timbal, industri bati
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESIAPSIAGAAN PERAWAT RUMAH SAKIT JIWA DALAM MENGHADAPI BAHAYA KEBAKARAN
Rumah sakit jiwa adalah institusi pelayanan kesehatan khusus yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan jiwa secara paripurna selama 24 jam dan berpotensi mengalami
gangguan fungsional maupun struktural sehingga berisiko tinggi menimbulkan korban jiwa
saat terbakar. Kesiapsiagaan dalam menghadapi bahaya kebakaran sangat penting dimiliki
oleh perawat mengingat kebakaran dapat terjadi kapan saja karena selain menjalankan
tugasnya merawat pasien dengan gangguan mental, perawat juga memiliki peran sebagai
petugas red code di setiap shitnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini melibatkan seluruh perawat
UPIP. Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan google form. Berdasarkan
hasil penelitian dengan menggunakan uji chi-square diperoleh variabel yang berhubungan
dengan kesiapsiagaan perawat adalah pengetahuan ( value=0,026), sikap ( value=0,001),
pelatihan dan sosialisasi pemadaman ( value=0,041) dan pengawasan petugas K3\ud
( value=0,010). Sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan kesiapsiagaan
perawat dalam menghadapi bahaya kebakaran adalah umur
( value=0,608), jenis kelamin ( value=1,000), masa kerja ( value=1,000), tingkat
pendidikan ( value=0,179), ketersediaan sarana proteksi kebakaran
( value=0,282), keterjangkauan sarana proteksi kebakaran ( value=1,000), petunjuk jalur
evakuasi ( value=0,467), dan komitmen manajemen
( value=0,467). Peneliti menyarankan untuk penyediaan sarana proteksi kebakaran yang
masih kurang.
Kata kunci : Kesiapsiagaan, Tanggap Darurat, Kebakaran, Perawat Psikiatr
HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DAN SAFETY CLIMATE DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA PENGEMUDI OJEK ONLINE DI TEMBALANG SEMARANG
Sebagaipengemudi ojek online yang menggunakan sepeda motor sangat rentan
mengalami kecelakaan kerja jika mereka tidak memprioritaskan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Berdasarkan teori Loss Causation Model, kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti stres kerja dan safety climate. Pengemudi ojek online mengalami stres kerja disebabkan oleh tuntutan penumpang dan juga sistem yang diterapkan oleh perusahaan. Hal-hal tersebut dapat mengurangi konsentrasi dalam bekerja dan menyebabkan kecelakaan kerja. Berkaitan dengan iklim keselamatan, pengemudi ojek online yang memiliki persepsi kurang baik tentang keselamatan dalam bekerja, tentu akan bekerja tanpa memprioritaskan aspek keselamatan, halini juga dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara stres kerja dan safety climate dengan kecelakaan kerja pada pengemudi ojek online di Tembalang Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 70 orang dengan metode accidental sampling yang kemudian dianalisis dengan analisis statistik chi-square. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket. Hasil analisis univariat dalam penelitian ini 74,3% responden memiliki stres kerja dan 51,4% responden memiliki safety climate yang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara stres kerja (p = 0,012) dan safety climate(p = 0,047) dengan kecelakaan kerja pada pengemudi ojek online di Tembalang Semarang. Pengemudi ojek online dapat sharing terkait masalah mereka di tempat kerja dan sistem yang diterapkan oleh perusahaan kepada sesama pengemudi ojek online lainnya dan juga kepada perusahaan. Pengemudi ojek online juga wajib mengikuti pelatihan keselamatan berkendara yang diselenggarakan oleh perusahaan.
Kata kunci : kecelakaan kerja, stres kerja, safety climate, pengemudi ojek onlin
Eufemisme dalam Debat Capres Indonesia
Presidential debate in Indonesia is a phenomenon of language use involving euphemism. The focus of this study is to show the realization of the use of euphemism uttered by candidates in the 2019 presidential debate which includes the types and the function of euphemisms, the influence of social cultural aspect toward the use of euphemisms and the implication of the use euphemisms. The research data were verbal utterances of presidential candidates made by orthographic transcription in the text form. The text analyzed is the sentences that are indicated as euphemisms. This study is qualitative and quantitative research. This study used descriptive and explanative method, identity method, distributional method and inferential method. The analysis shows that ten types of euphemisms uttered by candidates include: (1) absorption words and loan words, (2) pheriprasis, (3) litotes, (4) metaphors, (5) hedges, (6) underspecification, (7) understatement, (8) overstatement, (9) downtoner, (10) apologetic expressions. The types of euphemisms spoken by the candidates have eight functions, they are (1) the function of disguising the taboo meaning, (2) replacing abusive statements, (3) mitigating face threatening, (4) criticizing by subtle ways, (5) expressing uncertain statements , (6) reducing conflict, (7) showing positive self-image, and (8) the defense function. The results indicate that one type of euphemism has a potential to have more than one function, so it can be said that euphemism has discursive function in communication. This study also shows that there is a correlation between the use of euphemisms and Indonesian cultural aspects. The cultural aspects that influence the use of euphemism in the presidential debate include (1) indirect speaking culture, (2) culture of respect, and (3) culture of togetherness. The use euphemisms and its functions with the correlation of cultural aspect implies that candidates use them by different intensity because the candidates have different communication style, goals, social and cultural background. Finally it can be concluded that the effect of the use of euphemism in debate is that the essence of the debate itself does not visible.
Keywords: presidential debate, euphemism, candidates, cultur
PENGARUH TAHAPAN SIKLUS HIDUP KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN FISIK RUMAH DI KAWASAN PERUMAHAN BUKIT KENCANA JAYA SEMARANG
Saat membeli rumah, masyarakat cenderung mempertimbangkan faktor ekonomi dan
mengabaikan tahapan siklus hidup keluarga. Hal ini mengakibatkan adanya pertambahan kebutuhan
ruang anggota keluarga yang tidak terakomodir oleh rumah yang dimiliki, sehingga dilakukan upaya
perubahan kondisi fisik rumah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana tahapan
siklus hidup keluarga mempengaruhi perubahan kondisi fisik rumah di Kawasan Perumahan Bukit
Kencana Jaya Semarang. Penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif dan teknik analisis
diskriminan berganda dengan menggunakan satu variabel tergantung yaitu tahapan siklus hidup
keluarga dan empat variabel bebas yaitu atribut rumah, kondisi finansial, kondisi lingkungan, dan
pertimbangan jarak. Hasil analisis menunjukkan lima sub-variabel bebas sebagai prediktor paling
baik dalam membentuk preferensi rumah berdasarkan tahapan siklus hidup keluarga yaitu (a)
ketersediaan jumlah kamar mandi sesuai dengan jumlah anggota keluarga; (b) ketersediaan klinik;
(c) ketersediaan jumlah kamar tidur sesuai dengan jumlah anggota keluarga; (d) ketersediaan taman
kanak-kanak; dan (e) pertimbangan jarak menuju tempat kerja. Terkait dengan perubahan kondisi
fisik rumah, diketahui bahwa rumah tangga di tahapan siklus hidup keluarga yang berbeda
melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan. Hasil analisis menemukan bahwa tahapan lajang
cenderung tidak melakukan perubahan kondisi fisik rumah. Lalu, tahapan keluarga dengan anak
menjadi tahapan yang paling banyak melakukan perubahan kondisi fisik rumah di Kawasan
Perumahan Bukit Kencana Jaya Semarang, seiring dengan pertambahan ukuran rumah tangga yang
dimiliki. Pada umumnya, perubahan dilakukan dengan cara penambahan ruang, penambahan jumlah
lantai bangunan, dan perubahan fungsi ruang. Riset ini membuktikan bahwa preferensi membeli
rumah masih mengutamakan faktor ekonomi, khususnya kemampuan finansial. Lalu, faktor tahapan
siklus hidup keluarga menjadi pengaruh pada besar kecilnya perubahan fisik yang dilakukan
terhadap rumah tinggal. Literatur dan pembelajaran dari beberapa negara yang menjadi dasar
kajian memperjelas karakteristik rumah tangga di Kawasan Perumahan Bukit Kencana Jaya
Semarang yang spesifik yaitu rumah tangga cenderung mempertimbangkan ketersediaan tempat
ibadah, kelompok keluarga baru cenderung mempertimbangkan jarak menuju sekolah daripada
tempat kerja, kelompok keluarga dengan anak cenderung menempati rumah dengan tipe kecil karena
pendapatan keluarga lebih dialokasikan untuk konsumsi, dan kelompok keluarga lanjut usia
cenderung mempertimbangkan jarak menuju sekolah karena adanya peluang usaha yang dapat
dilakukan, seperti membuka jasa antar jemput sekolah
Kekerabatan Bahasa Melayu Langkat, Melayu Makasar, Melayu Riau, dan Sakai
The study of “The Kinship of Melayu Langkat, Melayu Makasar, Melayu Riau, and Sakai Language” aims to describe the kinship plot and percentage within Melayu Langkat, Melayu Makasar, Melayu Riau, and Sakai language. The method in this study is the referential identity method. Also, the writer uses the note-taking method as the data collection. There are 250 vocabularies used as the data which is collected through compared regional language dictionary. The data are analyzed by using language collection method with calculating the vocabulary similarity of compared languages as the technique. As result, there are 187 pairs betwen Melayu Langkat and Melayu Riau. Meanwhile, between Melayu Langkat and Melayu Makasar there are 177 pairs of appearance. Also, there are 159 pairs between Melayu Makasar and Melayu Riau. While between Melayu Langkat and Sakai there are 157 pairs, and 156 pairs between Melayu Makasar and Sakai language are, as for the kinship between Melayu Riau and Sakai there are 149 pairs. The percentage of the kinship between Melayu Langkat and Melayu Riau is 76%, Melayu Langkat and Melayu Makasar is 72%, Melayu Makasar and Melayu Riau is 65%, Melayu Langkat and Sakai is 64%, Melayu Makasar and Sakai is 63%, also between Melayu Riau and Sakai is 61%. All four compared languages are classified as family category.
Keywords: kinship; Melayu Langkat; Melayu Makasar; Melayu Riau;Sakai
MASA KERJA, STATUS GIZI, IKLIM KERJA, BEBAN KERJA FISIK, DAN POSTUR KERJA DENGAN KELELAHAN KERJA : LITERATURE REVIEW
Kelelahan merupakan mekanisme perlindungan yang dimiliki seseorang terhadap stres psikososial yang dialaminya selama kurun waktu tertentu. Kelelahan merupakan bahaya di tempat kerja karena dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berpikir jernih dan merespon dengan tepat serta berhubungan dengan cedera yang dapat terjadi di tempat kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara masa kerja, status gizi, iklim kerja, beban kerja fisik, dan postur kerja dengan kelelahan kerja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Studi Banding Literatur Review. Literatur dilakukan secara online melalui beberapa website atau situs internet terpercaya seperti Sciendirect, JSTOR, Cambridge Core, Scopus, dan Google Scholar. Penelitian ini dilakukan terhadap 20 artikel yang terdiri dari 15 artikel nasional dan 5 artikel internasional. Artikel diproses melalui tahapan-tahapan berupa pengorganisasian, sintesis, identifikasi, dan perumusan. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa hubungan Tenur dengan kelelahan kerja dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan, hanya ada tiga pasal yang menyatakan sebaliknya. Hubungan antara status gizi dengan kelelahan kerja dinyatakan memiliki hubungan yang lemah, terdapat lima pasal yang menyatakan tidak ada hubungan. Hubungan antara iklim kerja dengan kelelahan kerja dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan, tidak ada pasal yang menyatakan sebaliknya. Hubungan beban kerja fisik dengan kelelahan kerja dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan, tidak ada pasal yang menyatakan sebaliknya. Hubungan antara postur kerja dengan kelelahan kerja dinyatakan memiliki hubungan yang signifikan, tidak ada pasal yang menyatakan sebaliknya.
Kata kunci : Masa Kerja, Status Gizi, Iklim Kerja, Beban Kerja Fisik, Postur Kerja, dan Kelelahan Kerj
ANALISIS EMERGENCY RESPONSE PREPAREDNESS PADA KESELAMATAN SELURUH PENGHUNI DI KEBUN BINATANG GEMBIRA LOKA YOGYAKARTA
Kesiapsiagaan keadaan darurat merupakan salah satu kesiapan suatu tempat untuk bereaksi secara konstruktif terhadap ancaman dari lingkungan dengan cara meminimalisir dampak negatif baik dampak pada kesehatan atau keselamatan individu. Kebun binatang X memiliki jumlah pengunjung mencapai angka 1000 orang per harinya. Tingginya jumlah pengunjung mengakibatkan munculnya risiko jika terjadi keadaan darurat, meminimalisir hal tersebut perlu dilakukan kesiapsiagaan keadaan darurat atau emergency response preparedness. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis penerapan emergency response preparedness pada keselamatan seluruh penghuni di Kebun Binatang X saat terjadi keadaan darurat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam. Terdapat tiga informan utama dan satu informan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukan kebijakan dan komitmen terkait keselamatan di Kebun Binatang X berupa penyediaan fasilitas keselamatan bagi para pengunjung. Perencanaan tanggap darurat dibedakan menjadi keadaan darurat pada pengunjung dan keadaan darurat pada satwa. Implementasi perencanaan tanggap darurat berupa penyediaan fasilitas keselamatan seperti kotak P3K dan APAR serta tim medis khusus. Kegiatan pelatihan dan simulasi keadaan darurat berupa pelatihan penanganan bencana, penanganan kecelakaan, penanganan kebakaran, dan satwa lepas yang bekerja sama dengan pihak eksternal. Kegiatan evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan perencanaan tanggap darurat, implementasi, pelatihan dan simulasi.
Kata Kunci : kesiapsiagaan tanggap darurat, keadaan darurat, kebun binatan
PENGARUH REVITALISASI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT
Kawasan Kota Lama Semarang merupakan salah satu kawasan bersejarah yang dikembangkan
sebagai desnitasi wisata dimana menjadi sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah.
Namun demikian, kawasan ini memiliki beberapa permasalah seperti rob, kondisi bangunan kuno yang
kurang terawat, dan kurang nya fasilitas penunjang wisata. Pada akhirnya, permasalah ini membuat
Kota Lama Semarang tidak berkembang secara signifikan sebagai salah satu tujuan wisata. Hal ini
kemudian mendasari pemerintah Kota Semarang melakukan revitalisasi. Revitalisasi ini difokuskan
pada perbaikan fisik kawasan seperti upaya untuk menghidupkan kembali kawasan, bangunanbangunan,
jalan-jalan
dan
kondisi
lingkungan
di
Kota
Lama
Semarang
yang
mengalami
kemunduran.
Revitalisasi
yang dilakukan memiliki beberapa implikasi seperti perubahan pemanfaatan ruang,
perubahan aktivitas, masuknya pendatang sebagai pekerja di Kota Lama, peningkatan harga dan sewa
lahan. Implikasi ini memberikan pengaruh terhadap masyarakat yang tinggal di Kota Lama, khususnya
pada aspek sosial ekonomi.
Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis secara mendalam mengenai
pengaruh revitalisasi di Kawasan Kota Lama Semarang terhadap kondisi sosial dan ekonomi
masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuatitatif dengan sistem pengambilan
sampel proportional random sampling kepada masyarakat yang tinggal sebanyak 40 responden dan
masyarakat yang memiliki usaha sebanyak 33 responden di Kawasan Kota Lama Semarang.
Pengambilan dua jenis responden ini karena di Kawasan Kota Lama Semarang mempunyai
karakteristik masyarakat yang berbeda. Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh
hubungan revitalisasi dengan kondisi sosial ekonomi yaitu regresi linier. Variabel independent dibagi
menjadi dua kelompok sesusai dengan kondisi sosial dan kondisi ekonomi untuk mengetahui perubahan
yang terjadi. Variabel dependent yang akan dicari adalah proses revitalisasi, dimana dikaitkan dengan
variabel independen yang terdiri atas tingkat keamanan dan tingkat kriminalitas dan hubungan
interaksi sosial masyarakat untuk mengetahui pengaruh perubahan kondisi sosial dan variabel
independent jenis mata pencaharian, tingkat pendapatan, lokasi pekerjaan dan harga sewa lahan untuk
mengetahui pengaruh perubahan kondisi ekonomi.
Hasil analisis menunjukan bahwa proses revitalisasi yang dilakukan cenderung berpengaruh
positif terhadap kondisi sosial dan cenderung berpengaruh negatif terhadap kondisi ekonomi
masyarakat yang tinggal dan masyarakat yang memiliki usaha di Kawasan Kota Lama. Hal ini
ditunjukkan dari adanya terjadi penurunan terhadap tingkat pendapatan, perubahan mata
pencaharian, penurunan kemampuan harga sewa lahan dan ketidaknyamanan dalam bertempat tinggal
setelah adanya proses revitalisasi. Dampak tersebut terutama dialami oleh masyarakat yang tinggal di
Kawasan Kota Lama Semarang sedangkan masyarakat yang memiliki usaha adanya revitalisasi
membuat tingkat pendapatan menurun. Disisi lain, revitalisasi memberikan dampak positif terhadap
aspek sosial, yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya interaksi masyarakat. Selain itu,
kawasan menjadi lebih aman setelah revitalisasi dimana tingkat kriminalitas semakin kecil. Proses
revitalisasi seharusnya dilakukan secara seimbang baik secara fisik dan non fisik agar kondisi sosial
ekonomi masyarakat tidak terkena dampak negatif dari adanya proses revitalisasi