71404 research outputs found
Sort by
ANALISIS BREAK EVEN POINT USAHATANI JAMBU AIR DI DESA TEMPURAN KECAMATAN DEMAK KABUPATEN DEMAK Break Even Point Analysis of Water Apple Farming In Tempuran Village Demak District Demak Regency
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani yang diperoleh petani jambu air, menganalisis profitabilitas usahatani jambu air dan menganalisis break even point usahatani jambu air. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2019 di Desa Tempuran, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik sensus dimana seluruh petani jambu air di bebankan sebagai responden. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder melalui wawancara kepada responden petani dan tinjauan pustaka. Analisis data dilakukan menggunakan analisis kuantitatif, yaitu perhitungan biaya, penerimaan, pendapatan, profitabilitas dan break even point, Sedangkan uji statistik yang diterapkan menggunakan uji one sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani jambu air sebesar Rp. 54.320.886 dalam skala lahan rata-rata 634m2 per tahun, nilai profitabilitas sebesar 243% berbeda dan lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga perbankan dengan nilai sebesar 4,5%. Usahatani jambu air telah mencapai break even point dimana rata-rata jumlah produksinya sebesar 2.048 kg dan break even point pendapatan sebesar Rp. 54.320.886.
Kata-Kata Kunci: Pendapatan, Profitabilitas, Break even point Usahatani Jambu ai
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPETENSI PETANI KOPI DI DESA WISATA KESENENG KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG JAWA TENGAH
Faktor-faktor untuk meningkatkan kompetensi petani dalam pengembangan usaha perlu dikaji lebih dalam, mengingat Desa Keseneng berstatus sebagai Desa Wisata. Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1) menganalisis kompetensi petani kopi di Desa Keseneng, 2) menganalisis hubungan faktor-faktor internal dan eksternal dengan kompetensi petani kopi di Desa Keseneng. Penelitian di laksanakan pada bulan Agustus 2019 di Desa Keseneng Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Penelitian menggunakan metode survei, metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara langsung kepada petani kopi sebagai responden. Penentuan responden dengan menggunakan metode purposive sampling sebanyak 32 responden. Metode analisis data menggunakan analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani kopi di Desa Keseneng memiliki kompetensi dalam pengembangan usaha kopi pada kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan peubah pendidikan formal dan pengalaman petani tidak berhubungan nyata dengan kompetensi petani dalam mengembangkan usaha kopi. Peubah penerimaan kopi (0,751) dan keikutsertaan dalam kegiatan penyuluhan (0,794) berhubungan nyata dan positif dengan kompetensi petani pada tingkat keeratan hubungan sangat kuat. Peubah interaksi sosial masyarakat perkebunan (0,713) berhubungan sangat nyata dengan kompetensi petani pada tingkat keeratan hubungan kuat.
Kata Kunci : Kompetensi, Petani, dan Kopi
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI CABAI MERAH KERITING (Capsicum Annum L) DI KECAMATAN SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG
ABSTRACT
The purpose of this study was to analyze the production factors of land area, labor, number of seeds, chemical fertilizers, and manure that affect the production of red curly chili farming in Sumowono District, Semarang Regency. The study was conducted in the villages of Kebonagung, Candigaron, Jubelan and Losari, Sumowono District, Semarang Regency in July-December 2018. The research was conducted using survey method, it is taking 96 samples. Data were analyzed using a one-sample t-test and multiple linear regression test using SPSS 17 software. The average production yield of red curly chili in the Sumowono District was 1.172,094 kg per one planting period. Simultaneously the factors of land area, labor, number of seeds, chemical fertilizer and manure have a significant effect on the production of curly red chili in the Sumowono District. Partially the number of seeds, chemical fertilizers and manure significantly affected the production of red curly chili, while the area of land area and labor did not significantly affect the production of red curly chili.
Keywords: chili, factors, farming, influence, productio
TRANSFORMASI WILAYAH KABUPATEN DEMAK SEBAGAI KAWASAN PINGGIRAN DI DALAM PROSES METROPOLITANISASI SEMARANG
Perkembangan Kabupaten Demak ditandai dengan semakin bertambahnya jumlah
penduduk Kabupaten Demak yang mendorong terjadinya perluasan kawasan perkotaan dan juga
peningkatan penduduk perkotaannya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir yang diikuti dengan
terjadinya perubahan lahan sebagai bentuk kebutuhan ruang. Ketersediaan jaringan jalan sebagai
infrastruktur pengakomodasian kegiatan serta interkasi antar kecamatan di Kabupaten Demak
menyebabkan kecamatan-kecamatan di Kabupaten Demak terbagi menjadi beberapa kawasan.
Melalui proses perkembangannya tersebut, dapat diketahui bahwa kawasan perkotaan di Kabupaten
Demak memiliki proses transformasi yang bertahap dan berbeda dinamikanya pada tiap kawasan.
Dengan demikian, penting untuk diketahui bagaimana proses transformasi yang terjadi pada
masing-masing kawasan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses transformasi wilayah pada masing-masing
kawasan di Kabupaten Demak dan mengetahui kawasan mana saja yang mengalami transformasi
atau perkembangan secara cepat. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan
beberapa variabel, yaitu: penggunaan atau pemanfaatan lahan, kependudukan, dan ekonomi.
Transformasi penggunaan atau pemanfaatan lahan akan dianalisis menggunakan teknik analisis
Maximum Likelihood dan Calculate Area pada Arcgis. Transformasi kependudukan akan dianalisis
menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan transformasi ekonomi akan dianalisis
menggunakan teknik analisis LQ dan deskriptif kuantitatif.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan terjadi transformasi atau perubahan wilayah di
Kabupaten Demak baik itu dari aspek kependudukan, aspek penggunaan lahan, dan pergeseran
aktivitas ekonomi. Kawasan yang berlokasi dekat dengan kawasan Metropolitan Semarang dan
dilalui oleh jaringan jalan regional cenderung memiliki perkembangan atau transformasi yang lebih
besar daripada kawasan yang lokasinya jauh dari Metropolitan Semarang adalah kawasan baratselatan
dan
kawasan
barat-utara.
Berdasarkan
analisis
yang
telah
dilakukan
juga
dapat
diketahui
bahwa
terdapat faktor-faktor yang menyebabkan kawasan-kawasan di Kabupaten Demak
berkembang secara cepat seperti kedekatan dengan Metropolitan Semarang, ketersediaan jaringan
jalan di kawasan tersebut, serta aktivitas di kawasan tersebut. Pada penelitian ini juga diketahui
bahwa penyusunan RTRW Kabupaten Demak belum memperhatikan perkembangan atau dinamika
yang terjadi pada beberapa kawasan. Sehingga terdapat kawasan yang membutuhkan perhatian dari
pemerintah Kabupaten Demak yaitu kawasan timur-utara dan kawasan tengah yang
perkembangannya masih di bawah arahan RTRW sehingga perkembangannya perlu didorong hal
ini sebagai akibat dari penyusunan RTRW yang belum memperhatikan perkembangan atau dinamika
di masing-masing kawasan tersebut
Hubungan antara Pencarian Sensasi dengan Intensi Agresi pada Siswa SMK di Semarang
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara pencarian sensasi dengan intensi agresi pada siswa SMK Muhammadiyah 2 Semarang. Pencarian sensasi dapat diartikan sifat mencari pengalaman yang mengandung sensasi baru, kompleks, intens, serta memberikan stimulus luar biasa dan mengandung risiko. Intensi agresi merupakan niat individu untuk menyakiti seseorang secara fisik maupun verbal. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu siswa SMK Muhammadiyah 2 Semarang yang berada di kelas XI dan XII, dengan subjek penelitian sebanyak 66 siswa dan jumlah sampel tryout yang digunakan sebanyak 50 siswa. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel yaitu dengan menggunakan teknik sampel jenuh. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan Skala Pencarian Sensasi (19 aitem, α=0,845) dan Skala Intensi Agresi (43 aitem, α=0,916). Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi sederhana,dan diperoleh nilai rxy=0,838; dengan p=0,000 (p<0,05), sehingga terdapat hubungan positif antara pencarian sensasi dengan intensi agresi pada siswa SMK Muhammadiyah 2 Semarang. Semakin tinggi pencarian sensasi maka semakin tinggi intensi agresi, sebaliknya semakin rendah pencarian sensasi maka semakin rendah intensi agresi
PEMODELAN SPASIAL PERUBAHAN KUALITAS LINGKUNGAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KECAMATAN SAYUNG, KABUPATEN DEMAK)
Wilayah pesisir merupakan daerah yang rentan terhadap perubahan dan penurunan
kualitas lingkungan akibat dari bencana abrasi dan inundasi/banjir rob salah satunya yaitu
Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Selain itu, adanya isu global perubahan iklim yang
memicu kenaikan muka air laut dapat memperparah kualitas lingkungan di Daerah Pesisir
Sayung. Lingkungan dapat didefinisikan sebagai suatu kesatuan kondisi fisik dan makhluk hidup
yang saling mempengaruhi. Dampak negatif perubahan lingkungan di pesisir Kecamatan Sayung
mendorong untuk dilakukannya penelitian terkait perubahan kualitas lingkungan yang terjadi.
Namun, belum banyak penelitian terkait pemantauan perubahan kualitas lingkungan dengan
menggunakan metode spasial. Oleh karena itu, penggunaan sistem informasi geografis melalui
penginderaan jauh dapat digunakan untuk memetakan dan menilai perubahan kualitas
lingkungan pada penelitian ini.
Analisis dilakukan dengan empat variabel utama melalui pendekatan Risk-Screening
Ecological Index (RSEI) yang meliputi kerapatan vegetasi, kelembapan tanah, kualitas tanah dan
ruang terbangun serta temperatur permukaan. Analisis yang dilakukan menggunakan teknik
analisis raster calculator dan spatial principal component analysis (SPCA). Adapun hasil yang
didapat yaitu terjadi penurunan kualitas lingkungan dari nilai RSEI pada tahun 1999, 2009 dan
2019 dengan masing-masing nilai menunjukkan angka 0,614; 0,4749; dan 0,3933.
Penelitian ini juga memperlihatkan proporsi klasifikasi RSEI dalam lima klasifikasi.
Gabungan klasifikasi sangat buruk, buruk dan sedang pada tahun 1999, 2009 dan 2019 masingmasing
adalah 27,74%, 48,80% dan 39,12 %. Sedangkan, untuk proporsi gabungan klasifikasi
sangat baik dan baik pada tahun 1999,2009, dan 2019 masing-masing adalah 54,34%, 18,39%,
dan 18,68 %. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas lingkungan yang terdiri dari
empat variabel mengalami tren semakin memburuk pada tahun 1999-2009 dan sedikit
mengalami perbaikan pada tahun 2009-2019. Selain itu penelitian ini juga memperlihatkan
perubahan tubuh air mengalami peningkatan yang menandakan terjadinya perluasan tubuh air di
Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak
The growth model of Eucheuma cottonii cultivated in Karimunjawa Islands, Indonesia
Seaweed cultivation has a strategic role in fisheries development in Indonesia. Indonesia is
the second largest seaweed producer in the world. Seaweed cultivation is relatively easy and low-cost.
Therefore, there are many coastal communities in the small islands that culture it, including in
Karimunjawa Islands. Thus, seaweed cultivation has a large contribution to the economy of coastal
communities. The most cultivated species of seaweed in Indonesia is Eucheuma cottonii. The purpose of
our research was to develop the growth model of Eucheuma cottonii cultivated in Karimunjawa Islands.
We used 9 (nine) observation (basket) units that were measured the growth weekly for 42 days. Our
research location was on the coastal waters of Kemojan Village, Karimunjawa Islands. This research has
proven that the polynomial growth model has the largest R2 compared to the exponential model and the
linear model. Based on polynomial growth model, the growth of E. cottonii follows the equation: Y = -
0.29t2 + 49.73t + 1969.3 (R² = 0.9967) that Y is the biomass of seaweed and t is the day of culture.
This growth model can be used to estimate the seaweed biomass and profit related to the harvest time
ANALISIS RISIKO PRODUKSI SUSU SAPI PERAH DI KELOMPOK TANI TERNAK PANGUDI MULYO KECAMATAN GUNUNGPATI SEMARANG
Risiko produksi pada usaha ternak sapi perah memicu terjadinya penurunan kuantitas maupun kualitas susu. Penurunan produksi susu ini menyebabkan fluktuasi pada hasil produksi. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerugian, maka peternak dituntut untuk menangani risiko produksi yang dihadapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian risiko, agen risiko dan prioritas agen risiko produksi susu sapi perah serta menganalisis strategi penanganan yang tepat untuk menangani risiko. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2019-Januari 2020 di Kelompok Tani Ternak Pangudi Mulyo, Dukuh Randusari, Kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive). Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus. Metode pengambilan sampel menggunakan metode sampling jenuh yaitu mengambil seluruh anggota kelompok sejumlah 33 responden. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara sesuai kuesioner kepada seluruh anggota aktif Kelompok Tani Ternak Pangudi Mulyo. Metode analisis data menggunakan metode House of Risk (HOR) Fase 1 dan Fase 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasi sebanyak 17 kejadian risiko dan 17 agen risiko, kemudian digunakan sebagai input dalam HOR Fase 1. Pada HOR Fase 1 dilakukan penilaian severity dan occurrence, diperoleh 8 prioritas agen risiko berdasarkan nilai ARP (Aggregate Risk Potential) yang tergolong tinggi. Strategi penanganan risiko dengan HOR Fase 2 diperoleh 7 prioritas penanganan berdasarkan nilai ETD (Effectiveness to Difficulty) yang tergolong tinggi. Menambah jumlah pemberian komboran dan membuat manajemen pemeliharaan menjadi strategi utama bagi peternak untuk mempertahan produksi susu yang rawan mengalami penurunan akibat risiko produksi
ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM JOGO TONGGO DI DUSUN PELEM DESA SENDANGASRI KABUPATEN REMBANG
Pada awal tahun 2020, wabah Coronavirus Disease 2019 menjadi masalah kesehatan dunia. Hingga tanggal 12 Juli 2020, di Indonesia dilaporkan sebanyak 75.699 kasus positif COVID-19. Langkah-langkah penanggulangan COVID-19 terus dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk dapat menuntaskan covid-19. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan Instruksi Nomor 1 Tahun 2020 tentang Pemberdayaan Masyarakat Dalam Percepatan Penanganan COVID-19 Di Tingkat Rukun Warga (RW) Melalui Pembentukan Satuan Tugas (SATGAS) Jogo Tonggo. Kabupaten Rembang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur. Sejak dilaporkan kasus covid-19 pertama kali pada bulan maret, jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Rembang terus mengalami peningkatan hingga bulan Juli. Desa Sendangasri merupakan salah satu desa di Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang yang menerapkan Jogo Tonggo tepatnya di Dusun Pelem. Pada awal bulan Juli dilaporkan terdapat 1 kasus positif covid-19 di Dusun Pelem. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam terhadap informan yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Pelaksanaan Jogo Tonggo di Dusun Pelem baru mencakup dua bidang, yaitu bidang kesehatan dan bidang sosial keamanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Program Jogo tonggo belum berjalan secara optimal karena dipengaruhi beberapa faktor yaitu belum semua pelaksana mengetahui pedoman jogo tonggo, Sumber daya dalam program jogo tonggo yang belum mencukupi dan memadai, kurangnya komunikasi antar organisasi. Selain itu, belum terdapat sosialisasi terkait program jogo tonggo kepada satgas, kewenangan pelaksana terbatas dan adanya ketergantungan yang tinggi kepada pemerintah desa dalam pemenuhan sumber daya, serta budaya masyarakat menjadi penghambat dalam upaya pencegahan Covid-19.
Kata Kunci: Covid-19, Jogo Tonggo, Pemberdayaan Masyarakat, Rukun Warg
HUBUNGAN RIWAYAT PAPARAN PESTISIDA DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI PADA KEHAMILAN DI AREA PERTANIAN HORTIKULTURA KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG
Pertanian Hortikutura menjadi sub sektor pertanian yang terus berkembang pesat hingga saat ini. Penggunaan pestisida dalam pertanian hortikultura sebagai upaya pengendalian serangan OPT (organisme pengganggu tanaman) oleh petani untuk meningkatkan produktivitas pertanian. perilaku petani dalam pemakaian pestisida yang tidak sesuai dosis dan aturan yang tepat, praktktik pencampuran, frekuensi tinggi menyebabkan wanita yang terlibat dalam kegiatan pertanian terpapar pestisida yang berdampak bagi kesehatan. Hipertensi menjadi prioritas utama masalah kesehatan di Kecamatan Sumowono yang menyebabkan 2-3% komplikasi pada masa kehamilan, berdampak pada peningkatan angka kesakitan seperti preeklampsia, eklampsia, pendarahan hingga kematian ibu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan riwayat paparan pestisida dengan kejadian hipertensi pada kehamilan di wilayah pertanian hortikultura Kecamatan Sumowono. Jenis penelitian bersifat deskriptif analitik dengan desain studi case control selama bulan Februari hingga April 2020. Sampel penelitian pada ini adalah 102 responden yang terbagi menjadi kelompok kasus 34 responden dan kelompok control 68 responden. Pengolahan data menggunakan aplikasi statistik SPSS dan analisis dengan uji Chi-Square. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa pekerjaan ibu hamil (p-value = 0,011), keterlibatan dalam kegiatan pertanian (p-value = 0,011), penggunaan pestisida (p-value =0,002), pengelolaan pestisida di rumah (p-value = 0,008) berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi pada kehamilan (p-value < 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pekerjaan ibu hamil, keterlibatan dalam kegiatan pertanian, penggunaan pestisida dan pengelolaan pestisida di rumah menjadi faktor risiko penyebab kejadian hipertensi pada kehamilan di wilayah pertanian hortikultura Kecamatan Sumowono.
Kata Kunci : Pertanian Hortikultura, Paparan Pestisida, Hipertensi, Kehamilan, Gestasional Hipertens