71404 research outputs found
Sort by
PROSEDUR PEMBAYARAN TAGIHAN MATERIAL DI PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK DISTRIBUSI JAWA TENGAH DAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
GAMBARAN KEPATUHAN MINUM OBAT PENCEGAHAN MASSAL FILARIASIS (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Semarang)
Cakupan minum obat pencegahan massal filariasis di Puskesmas Jetak pada putaran kedua pengobatan mengalami penurunan dari 99,6% menjadi 77,2%. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan partisipasi masyarakat dalam mengikuti POPM filariasis. Tujuan dari penelitian ini adalah menggambarkan kepatuhan minum obat pencegahan massal filariasis di wilayah kerja Puskesmas Jetak, Kabupaten Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang deskriptif menggunakan metode survei cepat. Populasi studi merupakan seluruh penduduk sasaran POPM filariasis putaran kedua tahun 2018 di wilayah kerja Puskesmas Jetak yang berusia ≥ 18 tahun. Besar sampel adalah 210 responden dari 30 kluster yang ditentukan melalui probabilitas proporsional dengan besar kluster (PPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan minum obat pencegahan massal filariasis di wilayah kerja Puskesmas Jetak Kabupaten Semarang sebesar 78,6%. Karakteristik responden yang cenderung patuh dalam meminum obat adalah: responden pada kelompok umur 26-45 tahun (82,6%), laki-laki (80,5%), tamat SMP (89,5%), bekerja (81,5%), memilikitingkat pengetahuan filariasis (84,6%) dan POPM (91,6%) yang baik, memiliki persepsi kerentanan (84,9%), keparahan (84,0%), dan manfaat (90,4%) yang positif, persepsi hambatan negatif (91,5%), mendapatkan dukungan kader (91,7%) dan dukungan sosial (88,9%), serta memiliki pengalaman merasakan efek samping obat putaran pertama (93,8%). Diperlukan peningkatan sosialisasi terkait filariasis dan POPM sehingga kepatuhan masyarakat dalam meminum obat pencegahan massal filariasis meningkat.
Kata Kunci : Kepatuhan, POPM,Filariasis, Health Belief Mode
GAMBARAN PELAKSANAAN POSYANDU REMAJA DI KELURAHAN PANGGUNG KIDUL KECAMATAN SEMARANG UTARA
Posyandu remaja merupakan program pemerintah untuk remaja dalam memahami permasalahan kesehatan remaja, menemukan alternatif pemecahan masalah, membentuk kelompok dukungan remaja, memperluas jangkauan PKPR Puskesmas terutama bagi remaja daerah yang masih memiliki keterbatasan akses. Pembentukan posyandu remaja Kelurahan Panggung Kidul Kecamatan Semarang Utara merupakan posyandu remaja percontohan di Kota Semarang setelah diresmikan pada Januari 2019, namun dalam keberjalanannya partisipasi remaja semakin menurun setiap bulannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan posyandu remaja di Kelurahan Panggung Kidul Kecamatan Semarang Utara dengan pendekatan teori sistem.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subyek penelitian berjumlah 12 orang yang terdiri dari 5 orangkader, 2 orang peserta remaja, 2 orang keluarga, 1 orang petugas puskesmas, 1 orang tokoh masyarakat dan 1 orang Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) yang diambil dengan menggunakan metode purposive sampling dan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum terdapat pelatihan bagi kader, ketidaksesuaian usia kader dengan sasaran posyandu remaja, sumber dana yang masih belum jelas, sarana prasana dan pedoman yang kurang lengkap. Pelaksanaan posyandu remaja juga dirasa masih membutuhkan inovasi dengan penyajian yang menarik agar peserta tidak bosan, evaluasi masih belum dilaksanakan dan dukungan puskesmas, keluarga, dan tokoh masyarakat serta FKK masih sangat diperlukan perbaikan komunikasi untuk pelaksanaan kegiatan posyandu remaja.
Kata kunci : Posyandu Remaja, Kader, Peserta, Keluarga, Puskesmas, Tokoh Masyarakat, FK
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LAMA PENGOBATAN TUBERKULOSIS PARU PADA PASIEN TUBERKULOSIS DENGAN DIABETES MELLITUS (Studi di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo, Puskesmas Tlogosari Kulon, dan Puskesmas Pegandan)
Prevalensi kasus TB pada pasien TB dengan DM yang mengalami pengobatan TB lebih lama meningkat di dunia. Berdasarkan studi pendahuluan, 62 dari 75 pasien TB dengan DM yang menjadi responden mengalami pengobatan TB lebih dari 6 bulan (82,6%). Pasien TB dengan DM memiliki risiko lebih besar mengalami pengobatan TB lebih lama. Tujuan penelitian yaitu menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan lama pengobatan tuberkulosis paru pada pasien tuberkulosis dengan diabetes mellitus di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo, Puskesmas Tlogosari Kulon dan Puskesmas Pegandan. Jenis penelitian yaitu observasional analitik dengan desain studi cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Bandarharjo, Puskesmas Tlogosari Kulon dan Puskesmas Pegandan pada Bulan Oktober 2019-Maret 2020. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Sampel penelitian berjumlah 75 sampel, terdiri dari 62 responden TB dengan DM dengan lama pengobatan TB >6 bulan dan 13 responden TB dengan DM dengan lama pengobatan 6 bulan. Analisis data menggunakan uji Chi Squaredengan hasil faktor yang berhubungan dengan lama pengobatan TB pada pasien TB dengan DM adalahstatus kontrol gula darah (p=0,001) dan status kepatuhan minum obat (p=0,011). Tidak terdapat hubungan jenis kelamin,umur, status pekerjaan, status gizi, tingkat pengetahuan, intensitas olahraga dan aktivitas fisik, konsumsi rokok, peran pengawas minum obat, kondisi lingkungan fisik rumah, peran keluarga dan akses pelayanan kesehatan dengan lama pengobatan TB pada pasien TB dengan DM. Oleh karena itu, edukasi mengenai TB dengan DM, kontrol gula darah rutin serta kepatuhan minum obat dinilai penting untuk menunjang optimalisasi 6 bulan pengobatan TB.
Kata Kunci : Lama Pengobatan, TB dengan DM, Kepatuhan Minum Obat, Kontrol Gula Dara
HUBUNGAN TINGKAT KEPUASAN HIDUP, TINGKAT KEPERCAYAAN POLITIK, TINGKAT RELIGIUSITAS DALAM TINGKAT PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA TERHADAP SIKAP VIOLENT EXTREMISM PADA GENERASI Z
The development from technology have impacts not only on the economic side
but also on social and political values. Indonesia, which recently carried the
era of reform, is currently in conflict with the conditions and difficulties of the
ideological system above. Extremist movements regulate various societies, both
grassroots and political elites. Surprisingly, extremist notions have inflated
youth in the locus of education. The spread of both the movement and the
ideology of extremism encompasses not only in digital youth discussions on
social media. This study discussed the relationship between life satisfactions,
political beliefs, and religiousity in the use of social media which has an impact
on violent extremism. The methodology used is quantitative with multiple
regression analysis to prove the hypothesis. This research had applied UGT as
the grand theory for analyzing the use of sosial media. The findings of the study
showed the result on the significant positive influence between life satisfaction,
political beliefs and religiosity in the use of social media on violent extremism.
The result stated the calculated F value (16.526) was greater than the F table
(2.381) and the Significance value is 0,000 <0.05 which mean the core
hypothesis is accepted. These findings clarified that life satisfaction, religiosity
and political beliefs are interrelated and are indeed part of individual psychosocial
factors, social factors, political factors, religious, ideological
dimensions, the role of culture and the issue of identity in VE. Meanwhile, the
media factor, such as sosial media posed as an echo-chamber and catalysator
of the radicalization process resulting in violent extremism
HUBUNGAN FAKTOR PREDISPOSSING ENABLING AND REINFORCING DENGAN PRAKTIK SAFETY RIDING PADA KURIR PERUSAHAAN EKSPEDISI KOTA SEMARANG
Safety riding adalah caramengendaraisepeda motor dengan tetap mengutamakan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya agar terhindar dari kecelakaan lalu lintas. Beberapa faktor penyebab kecelakaan lalu lintas adalah manusia, kendaraan, jalan (sarana prasarana) dan lingkungan (cuaca). Berdasarkan observasi awal 80% kurir mengakui pernah mengalami kecelakaan lalu lintas pada saat bekerja selama kurun waktu tiga tahun terakhir dan 60%kurir pernah melanggar peraturan lalu lintas selama bekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor predisposing, reinforcingand enabling dengan praktik safety ridingpada kurir perusahaan ekspedisi kota Semarang. Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 121 kurir sepeda motor dengan jumlah sampel 36 kurir dengan menggunakan teknik incidental sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor predispossing (pengetahuan, tingkat pendidikan, sikap dan masa kerja), faktor enabling (kondisi kendaraan dan pelatihan) dan faktor reinforcing (peran atasan dan peran rekan kerja). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah safety riding. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 47,2% kurir berkendara dengan tidak aman dan 52,8% kurir berkendara dengan aman. Menurut analisis Chi Square, variabel yang berhubungan dengan praktik safety riding adalah pengetahuan (p-value : 0,021), sikap (p-value : 0,003), pelatihan (p-value :0,047), peran atasan (p-value :0,048), peran rekan kerja (p-value : 0,020) dan kondisi kendaraan (p-value : 0,019). Peneliti menyarankan adanya pelatihan safety riding untuk meningkatkan pengetahuan kurir, memperketat aturan penggunaan kendaraan yang harus sesuai standar dan memantau keberjalanan servis kendaraan secara berkala.
Kata kunci : Kurir,Ekspedisi, Safety ridin
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA PENGGILINGAN PADI: KAJIAN SISTEMATIS
Gangguan fungsi paru dapat diakibatkan oleh berbagai faktor, hal ini telah ditemukan dalam beberapa penelitian. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru dalam penelitian terdahulu masih belum memiliki kepastian mengenai faktor yang menjadi peyebabnya. Tujuan dilakukannya tinjauan ini guna mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru pada pekerja penggiIingan padi. Tinjauan ini dilakukan dengan menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews dan Meta-Analyses). Langkah awal dilakukan identifikasi untuk mengumpulkan artikel dari beberapa database jurnal dan grey literatur. Setelah itu penyeleksian artikel dengan melihat judul, kata kunci dan abstrak artikel. Penilaian kelayakan artikel dilakukan dengan melihat secara keseluruhan teks, tahap ini digunakan untuk menentukan kelayakan artikel yang digunakan. Terdapat 7 artikel yang dianalisis dalam kajian ini, indikator gangguan fungsi paru dinilai dengan pengukuran kapasitas paru dalam 6 artikel dan gejala gangguan pernafasan dalam 1 artikel. Faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi paru pada pekerja penggilingan padi berdasarkan hasil analisis artikel meliputi umur, lama kerja, masa kerja, kebiasaan merokok, penggunaan alat pelindung diri (APD), paparan debu dan kadar debu.Faktor gangguan fungsi paru yang dominan dalam ketujuh artikel adalah masa kerja. Semakin lama pekerja bekerja dalam penggilingan padi akan semakin berisiko untuk terkena gangguan fungsi paru akibat paparan debu padi yang semakin lama pula. Sehingga sangat diperlukan kesadaran dan koordinasi antara pemilik usaha dengan para pekerja untuk meminimalisir paparan debu yang dapat dilakukan melalui penggunaan APD, dan penata ruang yang tepat terkait sistem pembuangan residu hasil penggilingan.
Kata Kunci : Gangguan Fungsi Paru, Debu Padi, Penggilingan Pad
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMANFAATAN POSYANDU USIA LANJUT (STUDI KASUS DI WILAYAH KERJA 6 PUSKESMAS KOTA SEMARANG)
Program puskesmas santun usia lanjut bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan usia lanjut agar tetap sehat dan mandiri. Puskesmas melakukan upaya pelayanan diluar gedung salah satunya berupa posyandu usia lanjut dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah cakupan usia lanjut dalam mendapatkan upaya pelayanan kesehatan. Pada pelaksanaannya di Kota Semarang, pelayanan kesehatan usia lanjuttidak dimanfaatkan secara optimal yang berdampak pada rendahnya cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan posyandu usia lanjut di wilayah kerja 6 Puskesmas Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian survei dengan metode kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah kelompok usia lanjut di 6 puskesmas Kota Semarang (Poncol, Miroto, Halmahera, Krobokan, Bandarharjo, dan Mangkang). Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 70 usia lanjut. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara sikap (p=0,048), kepercayaan (p=0,000), akses (p=0,000), peran kader (p=0,000), peran petugas kesehatan (p=0,000), dukungan keluarga (p=0,015), fasilitas (p=0,000), dan persepsi kerentanan penyakit (0,002) masing-masing terhadap pemanfaatan posyandu usia lanjut di Wilayah Kerja 6 Puskesmas Kota Semarang. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan agar dilakukan kegiatan monitoring dan evaluasi dari Dinas Kesehatan Kota Semarang setiap 3 bulan sekali, dilakukan kerja sama dengan lurah dan petugas kesehatan dalam bentuk sosialisasi, puskesmas memberikan pelatihan dalamberkomunikasi bagi kader posyandu, pengembangan kegiatan berupa senam dan menyanyi bersama, dilakukannya sosialisasi untuk memberikan pemahaman kepada kelompok usia lanjut dan keluarganya terkait pentingnya pemanfaatan posyandu kesehatan usia lanjut.
Kata Kunci : posyandu, puskesmas, usia lanju
BEBERAPA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRAKTIK ANTENATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BULU KABUPATEN TEMANGGUNG
BBLR merupakan berat badan bayi lahir rendah dan menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi di kabupaten Temanggung dalam kasus penyebabstunting, kesakitan dan kematian neonatal. Antenatal care menjadi salah satu pencegah terjadinya BBLR. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari beberapa faktor yang berpengaruh terhadap praktik antenatal care pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Bulu dikabupaten Temanggung tahun 2020.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan metode cross-sectional melalui pendekatan kuantitatif. Data diperoleh menggunakan kuesioner terstruktur yang telah dilakukan ujicoba kuesioner. Subjek penelitian adalah dari ibu hamil dengan usia kehamilan trimester ketiga pada bulan februari 2020. Jumlah sampel menggunakan teknik total populasi yaitu sebanyak 55 ibu hamil. Analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dan Logistic Regression.
Sebanyak 30 orang dari 55 orang ibu hamil trimester tiga (54.5%) sudah mempunyai Praktik Antenatal Care yang baik. Hasil uji bivariate dengan chi square menunjukan 7 variabel memiliki hubungan yang bermakna dengan dengan praktik anc pada ibu hamil, Usia (p = p.039), pekerjaan (p = 0.049), pengetahuan (p = 0.025), sikap (p = 0.023), keterjangkauan akses (p = 0.013), kualitas pelayanan (p 0.013), dukungan petugas (p = 0.001). Hasil uji multivariate dengan regresi logistic berganda menunjukan bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap praktik anc pada ibu hamil yaitu Keterjangkauan akses pelayanan anc dengan (p= 0.011) OR = 10.557, dan dukungan petugas kesehatan dengan (p= 0.006) OR = 8.959.Saran: Meningkatkan kualitas pelayanan dan dukungan petugas kesehatan berupa edukasi dan pendampingan dan konseling mengenai pentingnya anc, penguatan konsep suami siaga dan kesehatan kehamilan pada semua kalangan masyarakat khususnya ibu hamil, remaja putri dan calon pengantin agar angka kejadian BBLR dapat ditekan
Kata Kunci: Praktik ANC, Ibu Hamil, Keterjangkauan Akse