71404 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK MORFOLOGI KAMPUNG KOTA GANDEK PUSPO KELURAHAN JAGALAN, SEMARANG
Kampung kota merupakan kawasan permukiman perkotaan yang tumbuh secara organik (tidak
terencana) dengan karakteristik masyarakat bercirikan pedesaan yaitu masih mempertahankan nilai-nilai
kekerabatan, kekeluargaan, dan adat-istiadat. Kemunculan kampung kota di Kota Semarang dimulai sejak
masa penjajahan Belanda dengan karakteristik yang berbeda-beda, terdapat tiga jenis kampung kota di Kota
Semarang berdasarkan karakteristik penduduk yaitu Kampung Kota Belanda (penduduk asal Belanda),
Kampung Kota Melayu (penduduk asal Arab, Cina, dan Melayu), dan Kampung Kota Pribumi (penduduk asli
Kota Semarang). Kelurahan Jagalan merupakan salah satu kawasan kampung kota Pribumi pada masa
penjajahan Belanda, yang menjadi sejarah kejayaan Keluarga Tasripin sebagai tuan tanah di Kota Semarang
ANALISIS TARIF MRT BERDASARKAN ATP DAN WTP PEKERJA DI KAWASAN TOD DUKUH ATAS
Mass Rapid Transit (MRT) merupakan moda transportasi umum massal yang dioperasikan
sejak Maret 2019 di DKI Jakarta. Stasiun Dukuh Atas merupakan salah satu stasiun MRT yang berada
di kawasan Transit Oriented Development (TOD) pertama yang saat ini tengah dikembangkan oleh
PT. MRT. Kawasan TOD Dukuh Atas merupakan kawasan dengan dominasi penggunaan lahan area
komersil dan penggunanya pekerja kantoran. Kawasan Dukuh Atas merupakan kawasan melting point
dari 5 moda transportasi umum massal, yang menyebabkan pengguna memiliki karakteristik yang
beragam. Pengadaan MRT diharapkan dapat mengalihkan pengguna kendaraan pribadi agar
menggunakan transportasi umum masal
STUDI KEMAUAN MEMBAYAR (WILLINGNESS TO PAY) MASYARAKAT PERMUKIMAN KUMUH DI KELURAHAN KEMIJEN UNTUK MENDAPATKAN AIR BERSIH
Ketersediaan air bersih yang setiap hari digunakan masyarakat untuk kegiatan sehari-hari
kini mulai menurun. Masyarakat mencoba memenuhi kebutuhan air bersihnya dengan berbagai cara
seperti menggunakan air sungai yang kotor, membeli air dalam jerigen, membeli air kemasan galon,
atau membangun sumur artesis. Masyarakat di permukiman kumuh terus berjuang untuk bertahan
hidup dengan menggunakan pendapatan mereka yang terbatas untuk mendapatkan air bersih.
Keterbatasan kondisi ekonomi dan beberapa faktor lain menyebabkan mereka mengakses air bersih
dengan cara-cara yang kurang tepat sehingga biaya yang dikeluarkan untuk mengkonsumsi air
bersih membengkak dan menurunkan daya beli untuk barang dan jasa yang lain
OPTIMALISASI PENYEDIAAN FASILITAS UMUM YANG LAYAK HUNI DI RUSUNAWA KUDU KOTA SEMARANG
Penyediaan rumah susun merupakan bentuk perwujudan tanggung jawab
pemerintah a dalam melindungi segenap bangsa melalui pemenuhan kebutuhan tempat
tinggal yang layak huni, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Salah satu rumah susun
yang disediakan oleh pemerintah yaitu Rusunawa Kudu yang dibangun pada tahun
2013 oleh Pemerintah Kota Semarang. Namun, dalam operasionalnya masih terdapat
permasalahan yang berkaitan dengan aspek layak huni yaitu akses Rusunawa Kudu
yang jauh terhadap fasilitas umum
DINAMIKA PELAYANAN FASILITAS PENDIDIKAN ANTARKAWASAN DI KABUPATEN KERINCI PADA MASA OTONOMI DAERAH
Pendidikan merupakan salah satu urusan penting dalam pembangunan nasional. Hal
ini telah diamanatkan dalam Pasal 31 UUD Tahun 1945 bahwa setiap warga negara
berhak mendapatkan pendidikan. Oleh karena itu, Sejak berlakunya otonomi daerah,
pemerintah daerah diberi kewenangan dalam mengelola urusan-urusan pemerintahan
yang didesentralisasikan oleh Pemerintah Pusat dalam upaya mengoptimalkan fungsi
pelayanan publik kepada warga negara seperti halnya urusan pendidikan. Ditinjau dari
Fenomena pemekaran wilayah Kabupaten Kerinci pada tahun 2008, yang mana telah
memisahkan wilayah pada 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Penuh dan
Kecamatan Hamparan Rawang sebagai basis wilayah pembentukan Kota Madya Sungai
Penuh. Hasil Pemekaran wilayah tersebut mempengaruhi perubahan pada organisasi,
sistem kewilayahan serta sistem pusat pelayanan di Kabupaten Kerinci, yang mana
sebelum pemekaran dilakukan, pusat-pusat kegiatan berada di Sungai Penuh
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP REVITALISASI ALUN- ALUN KOTA SEMARANG SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK
Alun- alun merupakan suatu landmark bagi sebuah kota. Alun-alun juga berfungsi sebagai tempat
masyarakat untuk saling bersosialisasi dan beraktivitas baik secara individu maupun berkelompok.
Keberadaan alun-alun dalam suatu kota membantu meningkatkan adanya jumlah ruang terbuka perkotaan
dan meningkatkan vitalitas kawasan serta nilai historis kawasan tersebut. Kota Semarang merupakan Ibu
Kota Provinsi Jawa Tengah yang merupakan kawasan padat bangunan dikarenakan semakin meningkatnya
pembangunan kawasan perkotaan. Perkembangan kawasan perkotaan tersebut tentu saja terjadi bersamaan
dengan kebutuhan lahan akan kawasan perdagangan yang semakin meningkat
KAJIAN PENGELOLAAN KAWASAN MANGROVE BERDASARKAN INDIKATOR SMART ENVIRONMENT Studi Kasus: Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang
Lingkungan seringkali diabaikan atau tidak diprioritaskan dalam pembangunan, sehingga pada
akhirnya lingkungan menjadi rusak. Sebagai kota pesisir, Semarang merupakan kawasan yang strategis
untuk berbagai kegiatan dan pembangunan. Hal ini memicu kerusakan lingkungan di Kota Semarang,
terutama kawasan pesisir. Salah satu akibat dari pembangunan di pesisir Kota Semarang merupakan
abrasi. Penanggulangan abrasi dapat dilakukan melalui pelaksanaan rehabilitasi mangrove. Kelurahan
Mangunharjo merupakan kelurahan dengan kawasan mangrove terbesar di Kota Semarang. Meskipun
telah dilakukan rehabilitasi mangrove, masih ditemukan beberapa permasalahan dalam pengelolaannya,
sehingga dibutuhkan pengkajian mengenai pengelolaan mangrove di Kelurahan Mangunharjo. Kajian ini
diharapkan dapat menjadi alat untuk meninjau keberhasilan pengelolaan mangrove yang dilakukan
dalam upaya menciptakan lingkungan pesisir yang cerdas
IMPLIKASI PERUBAHAN KERAPATAN BANGUNAN DAN KERAPATAN VEGETASI TERHADAP RTH DI KOTA TANGERANG
Kota Tangerang memiliki lokasi yang dekat dengan pusat Ibu Kota, maka banyak masyarakat yang
memilih untuk tinggal di Kota Tangerang, agar mendapatkan akses pekerjaan dan pelayanan. Berdasarkan
hal tersebut, peningkatan jumlah penduduk di Kota Tangerang rata-rata per-tahun sebesar 1.87% antara
tahun 2009-2019. Peningkatan jumlah penduduk akan mempengaruhi kebutuhan ruang untuk mewadahi
aktivitas masyarakat. Meningkatnya kebutuhan ruang, akan menyebabkan alih fungsi lahan. Terjadinya alih
fungsi lahan vegetasi ke lahan terbangun maka akan memicu perubahan kerapatan bangunan dan vegetasi,
sehingga dapat berdampak kepada ruang terbuka hijau. Apabila hal tersebut tidak ditangani dengan tepat
maka ruang terbuka hijau di Kota Tangerang akan semakin berkurang
STRATEGI PENGEMBANGAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN PADA SEKOLAH ADIWIYATA KOTA SEMARANG
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pelaksanaan program Adiwiyata sebagai implementasi Pendidikan Lingkungan Hidup di SDN Tlogosari Kulon 03, SMPN
31 dan SMA Don Bosko Semarang dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif (Mixed method). Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan angket dengan teknik analisis diskriptif kualitatif dan kuantitatif. Sampel sebagai sumber data diambil dengan teknik purposive sampling. Rumusan strategi pengembangan disusun dengan memperhatikan faktor internal dan eksternal menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan ke tiga sekolah sudah melaksanakan keempat komponen Adiwiyata dengan capaian; SDN Tlogosari Kulon 03 kategori sangat baik, SMPN 31 kategori sangat baik dan SMA Don Bosko kategori baik. Sedangkan kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan, dalam pelaksanaannya telah mencakup semua aspek pembangunan berkelanjutan yaitu aspek Sosial, Lingkungan, dan Ekonomi dengan cakupan paling tinggi pada aspek lingkungan dan aspek ekonomi cakupannya paling rendah. Hasil analisis uji statistik menunjukkan terdapat pengaruh program Adiwiyata terhadap perilaku peduli lingkungan di kalangan siswa ditunjukkan dengan Fhitung lebih besar dari Ftabel dengan sig 0.000<0,05. Sedangkan dari analisis IFAS-EFAS menujukkan program unggulan sekolah di bidang lingkungan merupakan bagian yang mempunyai kekuatan paling tinggi, sedangkan penegakan peraturan sekolah merupakan bagian paling lemah. Posisi SDN Tlogosari Kulon 03 dalam kuadran III, SMPN 31 pada kuadran I, SMA Don Bosko pada kuadran III. Warga sekolah belum sepenuhnya menjadikan Adiwiyata sebagai budaya, sekolah harus memprioritaskan strategi pertumbuhan disertai diversifikasi program dengan mengoptimalkan kerja tim Adiwiyata, mengintensifkan pengawasan peraturan sekolah terutama yang terkait dengan lingkungan, dan internalisasi Adiwiyata. Dibutuhkan kreatifitas dalam pengelolaan kegiatan pembiasaan perilaku ramah lingkungan di kalangan siswa yang disesuaikan dengan tingkat usia dan perkembangan diri siswa SD, SMP, dan SMA. Pihak terkait hendaknya secara keberlanjutan melakukan monitoring pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup yang terintegrasi pada program sekolah sebagai pembiasaan dan pembudayaan bagi warga sekolah.
Kata kunci: strategi, sekolah berwawasan lingkungan, adiwiyata
This study aims to describe the Adiwiyata program as an implementation of Environmental Education at SDN Tlogosari Kulon 03, SMPN 31 and SMA Don Bosko Semarang in supporting sustainable development. This type of research is a descriptive study with a combination of qualitative and quantitative approaches (Mixed method). Data collection using the method of observation, interviews and questionnaires with qualitative and quantitative descriptive analysis techniques. Samples as data sources were taken by purposive sampling technique. The formulation of the development strategy was prepared by taking into account internal and external factors using a SWOT analysis. The results showed that the three schools had carried out the four Adiwiyata components with achievements; SDN Tlogosari Kulon 03 is very good category, SMPN 31 is very good and SMA Don Bosko is good. While its relation to sustainable development, in its implementation it has covered all aspects of sustainable development, namely the Social, Environmental and Economic aspects with the highest coverage on the environmental aspects and the lowest economic aspects of the coverage. The results of the statistical test analysis showed that there was an influence of the Adiwiyata program on environmental care behavior among students as indicated by the Fcount greater than Ftable with sig 0.000 <0.05. While the IFAS-EFAS analysis shows that the school's superior program in the environmental field is the part that has the highest power, while the enforcement of school regulations is the weakest part. The position of Tlogosari Kulon 03 Public Elementary School in Quadrant III, SMPN 31 in Quadrant I, Don Bosko High School in Quadrant III. School residents have not yet fully made Adiwiyata a culture, schools must prioritize growth strategies accompanied by diversification of programs by optimizing the work of the Adiwiyata team, intensifying supervision of school regulations especially those related to the environment, and internalization of Adiwiyata. Creativity is needed in the management of environmentally friendly behavioral activities among students which are adjusted to the level of age and self-development of elementary, middle and high school students. Related parties should continuously monitor the implementation of environmental education integrated in the school program as habituation and acculturation for school residents.
Keywords: strategy, school with environmental insights, adiwiyat