71404 research outputs found
Sort by
KEBIASAAN ORAL SEKS DAN MINUM ALKOHOL SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT PERIODONTAL PADA WANITA PEKERJA SEKS (STUDI DI RESOSIALISASI ARGOREJO KOTA SEMARANG)
Latar Belakang : Penyakit periodontal merupakan penyakit inflamasi kronis pada jaringan penyangga gigi karena bakteri periodontopatogen. Faktor risiko penyakit periodontal yang dapat dimodifikasi adalah faktor perilaku host. Wanita pekerja seks merupakan host yang mempunyai perilaku kesehatan yang melibatkan rongga mulut, yaitu perilaku oral seks, merokok,dan minum alkohol. Belum diketaui faktor perilaku wanita pekerja seks yang menjadi faktor risiko penyakit periodontal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor kebiasaan oral seks dan minum alkohol merupakan faktor risiko kejadian penyakit periodontal pada wanita pekerja seks
Metode : Desain penelitian ini merupakan penelitian observational dengan pendekatan cross sectional. Analisis statistik menggunakan chi-square
Hasil Penelitian : Variabel receptive oral seks (p=0,001;PR 5,6; 1,965-15,928); Variabel minum alkohol (p=0,013;PR=4,7; 95%CI 1,467-14,943)
Simpulan : Kebiasaan oral seks dan minum alkohol terbukti menjadi faktor risiko penyakit periodontal pada wanita pekerja seks
Kata kunci : Wanita pekerja seks; Penyakit periodontal; Faktor risiko
Background: Periodontal disease is a chronic inflammatory disease in the tooth supporting tissue due to periodontal pathogenic bacteria. Modifiable risk factors for periodontal disease are host behavior factors. Female sex workers are hosts who have health behaviors that involve the oral cavity, namely oral sex behavior, smoking, and drinking alcohol. It is not yet known the behavior factors of female sex workers who become risk factors for periodontal disease. This study aims to determine whether oral sex and drinking alcohol habits are risk factors for the cases of periodontal disease in female sex workers
Method: The design of this study was an observational study with a cross sectional approach. The statistical analysis used chi-square
Results: Oral sex receptive variables (p = 0.001; PR 5.6; 1,965-15,928); Drinking alcohol variables (p = 0.013; PR = 4.7; 95% CI 1,467-14,943)
Conclusion: The habits of oral sex and drinking alcohol proved to be a risk factor for periodontal disease in female sex workers
Keywords: Female sex workers; Periodontal disease; Risk factor
HUBUNGAN PAJANAN PESTISIDA DENGAN KADAR ENZIM CHOLINESTERASE DALAM DARAH PADA PETANI PENYEMPROT SAYURAN DI GINTUNGAN, KECAMATAN BANDUNGAN, KABUPATEN SEMARANG
Menurut WHO, ada 1 hingga 5 juta kasus keracunan pestisida di seluruh dunia. Bank Dunia memperkirakan 355.000 kematian setiap tahun karena keracunan yang tidak disengaja akibat pajanan pestisida. Gintungan merupakan salah satu daerah penghasil sayuran terbesar di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dan petani terpajan pestisida akibat pencampuran dan penyemprotan pestisida. Hasil pengukuran enzim cholinesterase pada saat studi pendahuluan menunjukkan bahwa tiga responden memiliki aktivitas cholinesterase yang tidak normal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pajanan pestisida dengan kadar enzim cholinesterase pada petani penyemprot sayuran di Gintungan, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Penelitian ini dilakukan pada petani sayuran dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dengan para petani dan pengukuran kadar enzim cholinesterase yang diuji oleh tenaga ahli dari Laboratorium Kesehatan Semarang menggunakan uji cholinesterase dengan menggunakan spektrofotometer. Uji chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara pajanan pestisida dan kadar enzim cholinesterase. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dan melibatkan 50 perempuan petani sayuran. Hasil analisis univariat didapatkan 11 responden (22%) memiliki kadar enzim cholinesterase tidak normal, 27 responden (54%) berusia ≤ 39 tahun, 28 responden (56%) tamat SD, 32 responden (64%) berstatus gizi buruk, 15 responden (30%) memiliki lama penyemprotan > 3 jam, 24 responden (48%) menyemprot pestisida saat hujan > 1 kali/minggu, 8 responden (16%) menyemprot pestisida pada saat kemarau > 1 kali/minggu, 24 responden (48%) memiliki masa kerja > 13 tahun, dan 48 responden (96%) menggunakan > 1 jenis pestisida. Hasil analisis uji bivariat didapatkan usia (p-value = 0,007, RP = 5,283, 95% Cl 1.267-22.023) dan lama penyemprotan (p-value = 0.01, RP = 4.08, 95% Cl = 1.402-11.896 ) memiliki hubungan dengan kadar enzim cholinesterase dan tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan (p = 0,573), frekuensi penyemprotan pestisida saat hujan (p = 0.881 RP = 1.300, Cl 95% 0.455-3.712), frekuensi penyemprotan pestisida saat kemarau (p = 1.000 RP = 1.167, 95% Cl 0.308-4.423), lama bekerja (p = 0.240; RP = 1.896; 95% CI = 0.634-5.673) dan jumlah campuran pestisida (RP 0.395 = 0,417,95 % Cl 0.094-1.852) dengan kadae enzim cholinesterase. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p = 0,007; RP = 5,283; CI 95% = 1,267-22,023) dengan lama penyemprotan (p = 0,01; RP = 4,083; CI 95% = 1,402- 11.896) dengan kadar enzim cholinesterase pada petani sayuran di Gintungan, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang.
Kata kunci : pajanan pestisida, kadar enzim cholinesterase, petani sayuran
perempuan, Gintunga
SISTEM INFORMASI PEMILIHAN LAHAN BUDIDAYA KELAPA SAWIT MENGGUNAKANMETODE AHP ARAS
Tujuan penelitian ini adalah membangun sebuah sistem informasi dengan mengimplementasikan sistem pendukung keputusan spasial untuk memilih lahan budidaya kelapa sawitmenggunakan kombinasi metode AHP ARAS.Parameter kriteria yang digunakan untuk menilai alternatif lahan budidaya kelapa sawit berasaljurnal Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dan Permentan Nomor 131 Tahun 2013 yang terdiri kriteria curah hujan, topografi, lereng, kedalaman efektif, tekstur tanah, pH tanah, tinggi tempat, dan drainase. Penggunaan 8 kriteria tersebut dapat menentukan prioritas alternatif lahanbudidaya kelapa sawit.Hasil penerapan sistem,bahwa dari 46 alternatif lahanterdapat lahan dengan prioritas utama yaitu lahan mendik makmur dengan nilai 1 berdasarkan analisis perhitunganmetode AHP ARAS.Validasi lahanmenggunakan Mean Absolute Error (MAE)menghasilkan nilai 76,5% yang berarti sistem tersebut dapat diterima dan validasi lahanjuga menggunakan korelasi Spearman Rank yang menghasilkannilai 0.814 berarti terdapat hubungan sangat kuat antara pemberian rangking alternatif lahan oleh sistem dengan pakar. Berdasarkan hasil validasi tersebut, maka sistem informasi menggunakan metode AHPARAS tersebut dapat dijadikansebuahsolusi terbaik dalammemilih prioritas lahan budidaya kelapa sawit.
Kata kunci :Pemilihan Lahan, Budidaya Kelapa Sawit, Metode AHP ARAS
The purpose of this research is to build an information system by implementing a spatial decision support system for selecting oil palm cultivation land using a combination of AHP ARAS methods.Criteria parameters used to assess alternative land for oil palm cultivation are from the journal Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), and Permentan No. 131 of 2013criteria consist of rainfall, topography, slope, effective depth, soil texture, soil pH, place height, and drainage.Using these eight criteria can determine alternative priorities for oil palm cultivation land.The results of the implementation of the system, that of the 46 alternative lands there is a land with the highest priority, namely mendik makmur with a value of 1 based on the calculation analysis of the AHP ARAS method.Land validation using Mean Absolute Error (MAE) produces a value of 76.5% which means the system can be accepted and land validation also usesSpearman Rank Correlation which produces a value of 0.814 means that there is a very strong relationship between the ranking of alternative land and the system with experts.Based on the results of the validation, the information system using the AHP ARAS method can be used as the best solution in choosing the priority of oil palm cultivation land.
Keywords : Land Selection, Oil Palm Cultivation, AHP ARAS Metho
KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN PADA PROSES DAUR ULANG SAMPAH PLASTIK DENGAN PENDEKATAN LIFE CYCLE ASSESMENT
Tingginya penggunaan produk plastik saat ini mengakibatkan penumpukan sampah plastik yang tidak terkendali sehingga diperlukan suatu upaya untuk meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan ke lingkungan.Salah satu upaya yang tepat guna dalam mengolah sampah plastik ini adalah daur ulang untuk menghasilkan berbagai macam produk yang bermanfaat.Setiap tahapan proses dalam pengelolaan daur ulang sampah plastik dimulai dari pengumpulan bahan baku hingga menghasilkan suatu produk baru bagi konsumen membutuhkan energi yang dapat dihitung dan dianalisis dampaknya terhadap lingkungan dengan menggunakan metode LCA.Energi diperoleh dari konsumsi bahan bakar solar pada proses pencacahan untuk menggerakan mesin diesel dan tahapan distribusi bahan baku serta pembangkit listrik pada proses produksi biji plastik daur ulang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting dalam proses daur ulang sampah plastik dimulai dari pengumpulan, pemilahan, pengolahan hingga menghasilkan output berupa biji plastik, melakukan penilaian dan evaluasi dampak lingkungan pada setiap tahapan daur ulang sampah plastik serta memperoleh skenario pengelolaan daur ulang sampah plastik menggunakan pendekatan LCA “cradle to gate”. Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa industri daur ulang plastik sebagai salah satu upaya dalam mengurangi timbulan sampah plastik ke lingkungan terdiri dari 3 (tiga) tahapan utama, yaitu Tahapan Pencacahan, Distribusi bahan baku serta Tahapan Produksi Biji Plastik. Beban lingkungan yang dianalisis mencakup proses produksi daur ulang limbah plastik hingga menghasilkan output berupa 1 ton biji plastik dimana total emisi GRK yang ditimbulkan sebesar 2.36E+03 kg CO2 eq, dengan rincian kontribusi potensi pemanasan global sebesar1.30E+02 kg CO2 eq pada tahapan pencacahan, 3.52E+01 kg CO2 eq pada tahapan distribusi serta 2.15E+00 kg CO2 eq pada tahapan produksi biji plastik. Efisiensi produk biji plastikpada kajian ini menunjukkan hasil yang baik, dimana nilai NEV dan NER dari produk biji plastik hasil daur ulang ini berturut-turut sebesar 39664.1 MJ dan 2,11 MJ.Alternatif perbaikan yang dapat dilakukan berdasarkan temuan hasil observasi diantaranya adalah pengembangan energi alternatif biomassa yang dapat mereduksi sekitar 67,77% emisi CO2 apabila dibandingkan dengan penggunaan energi listrik konvensional serta penggunaan bahan bakar gas (BBG) jenis CNG (Compressed Natural Gas) dan LNG (Liquifed Natural Gas) untuk sistem transportasi yang dapat menurunkan emisi GRK sekitar 7,5%.
Kata Kunci : Daur ulang, sampah plastik, energi, emisi GRK, LCA
The high use of plastic products is currently causing uncontrolled accumulation of plastic waste so that an effort is needed to minimize the negative impacts caused to the environment. One of the appropriate efforts in processing plastic waste is recycling to produce a variety of useful products.Each stage of the process in managing plastic waste recycling starts from collecting raw materials to producing a new product for consumers requiring energy that can be calculated and analyzed for their impact on the environment using the LCA method. Energy is obtained from the consumption of diesel fuel in the enumeration process to move the diesel engine and the distribution stages of raw materials and electricity generation in the production process of recycled plastic pellets. The purpose of this study is to identify the existing conditions in the process of recycling plastic waste starting from collection, sorting, processing to produce output in the form of plastic pellets, conducting assessments and evaluating environmental impacts at each stage of plastic waste recycling and obtaining a scenario of plastic waste recycling management using "cradle to gate" LCA approach. From this study can be concluded that the plastic recycling industry as one of the efforts in reducing the generation of plastic waste to the environment consists of 3 (three) main stages, namely the stages of enumeration, the distribution of raw materials and the stages of production of plastic pellets. The environmental burden analyzed includes the production process of recycling plastic waste to produce an output in the form of 1 ton of plastic where the total GHG emissions generated are 2.36E + 03 kg CO2 eq, with details of the potential contribution to global warming of 1.30E + 02 kg CO2 eq at the stage enumeration, 3.52E + 01 kg CO2 eq at the distribution stage and 2.15E + 00 kg CO2 eq at the plastic seed production stage.The efficiency of plastic seed products in this study showed a good results, where the NEV and NER values of the recycled plastic seed products were 39664.1 MJ and 2.11 MJ. Alternative improvements based on the observations is the development of alternative biomass energy that can reduce about 67.77% of CO2 emissions when compared to the use of conventional electricity and the use of CNG (Compressed Natural Gas) and LNG (Liquifed Natural Gas) for transportation systems that can reduce GHG emissions by around 7.5%.
Keywords: Recycling, plastic waste, energy, GHG emissions, LC
KAJIAN LINGKUNGAN DALAM KEBIJAKAN KANTONG PLASTIK BERBAYAR DI KOTA SEMARANG
Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar kedua di lautan. Inisiatif pemerintah pusat melalui KLHK dalam mengurangi timbulan sampah plastik adalah dengan meluncurkan kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan ini diatur oleh surat edaran yang dikeluarkan KLHK kepada pemerintah daerah dan pelaku usaha. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis implementasi kebijakan, menganalisis perilaku konsumen dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam kebijakan kantong plastik berbayar yang diterapkan di Kota Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pengumpulan data menggunakan data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukan bahwa kebijakan kantong plastik berbayar mendapatkan dukungan pemerintah daerah, pelaku usaha dan konsumen. Dengan berbagai upaya telah dilakukan sebagai bentuk dukungan untuk mengurangi timbulan sampah sesuai tujuan dalam kebijakan ini. Meskipun konsumen mengetahui dan mendukung kebijakan ini tetapi tidak banyak merubah perilaku konsumen. Mereka masih menggunakan kantong plastik dari ritel ketika selesai berbelanja. Konsumen tidak merasa keberatan untuk membayar Rp. 200. Kebijakan ini tidak banyak membawa perubahan signifikan dalam perilaku konsumen dalam menggunakan kantong plastik baru, meskipun kecenderungan konsumen mengetahui dampak sampah kantong plastik jika tidak dikelola dengan baik. Konsumen masih terkesan acuh dalam menganggap sampah kantong plastik sebagai prioritas persampahan yang mendesak. Sehingga kebijakan ini masih kurang efektif dalam merubah perilaku konsumen.
Kata Kunci : implemnetasi kebijakan, kantong plastik berbayar, lingkunga
SYSTEMATIC REVIEW FAKTOR YANG MEMPENGARUHI GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA TERPAPAR DEBU SILIKA
Perkembangan sektor konstruksi dan manufaktur di berbagai daerah menyebabkan pengingkatan kebutuhan akan bahan baku seperti bahan mineral nonlogam. Saat ini, industri pertambangan memliki peran yang penting dalam perekonomian negara. Namun disisi lain, dampak buruk yang terjadi adalah pencemaran udara hasil dari proses industri. Salah satu patogen berbahaya yang tekandung pada tempat kerja pertambangan dan pengolahan hasil tambang galian adalah debu mineral meliputi silika, batu bara dan debu semen. Inhalasi jenis debu mineral secara berulang dapat menyebabkan terganggunya fungsi paru. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap gangguan fungsi paru pada Pekerja yang Berisiko Terpapar Debu Mineral. Systematic review kuantitatif melalui studi meta analisis menggunakan program Ms. Excel oleh Sopiyudin dengan hasil pencarian awal 44 artikel dan dilakukan eliminasi menggunakan kriteria inklusi menghasilkan 20 artikel. Tahun publikasi artikel yaitu 2007-2020 dan terindeks Portal Garuda Dikti, SINTA, DOAJ dan Scopus. Dari hasil uji meta analisis menggunakan nilai PR pada semua variabel berpengaruh, menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabal bebas dengan gangguan fungsi paru pekerja yaitu pada variabel umur (p = 0,001), status gizi (p = 0,037), kadar debu terhirup (p = 0,007), masa kerja (p = 0,000), lama paparan (p = 0,027), penggunaan APD (p = 0,004), kebiasaan merokok (p = 0,021) dan tidak ada hubungan pada variabel jenis kelamin (p = 0,854), riwayat penyakit paru (p = 0,101), serta kebiasaan olahraga (p = 0,356. Pekerja industri pertambangan dan pengolahan bahan mineral galian memiliki risiko yang besar terjadinya gangguan fungsi paru sehingga perlunya dilakukan pencegahan dan pengendalian terhadap faktor risiko.
Kata kunci : gangguan fungsi paru, faktor risiko, meta analisi
HUBUNGAN HIGIENE SANITASI DEPOT AIR MINUM DENGAN KEBERADAAN BAKTERI Escherichia coli PADA AIR MINUM ISI ULANG DI KECAMATAN MONDOKAN KABUPATEN SRAGEN
Air minum isi ulang merupakan salah satu sumber air minum yang lebih dipilih oleh masyarakat dibandingkan air kemasan bermerek dengan alasan harganya yang relatif lebih murah. Apabila dalam praktiknya depot air minum isi ulang tidak dikelola dengan baik dapat menghasilkan air yang tidak memenuhi syarat kesehatan, yaitu tidak sesuai dengan Permenkes RI Nomor 492 Tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan higiene sanitasi depot air minum dengan keberadaan bakteri Escherichia coli pada air minum isi ulang di Kecamatan Mondokan Kabupaten Sragen. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian adalah seluruh usaha depot air minum di Kecamatan Mondokan Kabupaten Sragen sebanyak 27 unit depot air minum dan penjamah depot air minum berjumlah 45 responden. Sampel dalam penelitian menggunakan teknik total sampling. Data dianalisis menggunakan uji fisher exact test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22,2% keberadaan bakteri Escherichia coli pada air minum isi ulang tidak memenuhi syarat. Sebanyak 40,7% sanitasi tempat, 22,2% sanitasi peralatan dan 62,2% higiene penjamah depot air minum kategori kurang baik. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidakada hubungan antara sanitasi tempat dengan keberadaaan bakteri Escherichia coli (p value=0,187), tidak ada hubungan sanitasi peralatan dengan keberadaan bakteri Escherichia coli (p value=0,284) dan ada hubungan antara higiene penjamah dengan keberadaan bakteri Escherichia coli (p value=0,016).Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara kondisi sanitasi tempat, sanitasi peralatan depot air minum dengan keberadaan bakteri Escherichia coli dan terdapat hubungan antara higiene penjamah depot air minum dengan keberadaan bakteri Escherichia coli pada air minum isi ulang di Kecamatan Mondokan Kabupaten Sragen.
Kata Kunci : Air minum isi ulang, higiene sanitasi, Escherichia col
CITRA DESTINASI WISATA YANG TERBENTUK MELALUI IMPLEMENTASI E-TOURISM DI KABUPATEN SLEMAN
Pengembangan pariwisata dapat dilakukan dengan pembentukan citra destinasi, dimana citra destinasi dapat
dibentuk dengan informasi baik yang berupa artikel, gambar, video, atau lainnya. Konsep pengembangan
pariwisata yang berfokus pada penyediaan informasi tersebut dapat ditemukan pada e-tourism, yakni proses
digitalisasi kegiatan wisata untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan pariwisata. Mengetahui citra
destinasi yang terbentuk melalui e-tourism menurut persepsi wisatawan dapat membantu pemerintah dan
pengelola destinasi dalam mengevaluasi rencana pembentukan citra destinasinya. Penelitian ini dapat
membantu Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mengkaji citra destinasi menurut persepsi wisatawan yang
terbentuk melalui platform e-tourism. Sehingga pemerintah dapat memperbaiki ataupun meningkatkan
pelayanannya guna mendapatkan persepsi citra destinasi sesuai dengan harapan mereka. Hal tersebut
kemudian memunculkan pertanyaan penelitian mengenai “Bagaimana citra destinasi wisata yang terbentuk
melalui e-tourism di Kabupaten Sleman?”
ANALISIS DIFUSI INOVASI PADA INOVASI PRODUK BATIK DI KELURAHAN JENGGOT DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL KOTA PEKALONGAN
Terjadinya perkembangan sebuah inovasi di wilayah tertentu, tidak terlepas dari adanya
difusi inovasi. Difusi inovasi ini terjadi karena adanya proses interaksi sosial oleh pelaku terkait di
wilayah tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Rogers (2003), bahwa difusi inovasi merupakan suatu proses
ketika inovasi dikomunikasikan atau disebutkan melalui saluran tertentu selama jangka waktu
tertentu terhadap anggota suatu sistem sosial, yang kemudian inovasi tersebut menjadi bagian dalam
system social tersebut. Dengan adanya difusi inovasi, maka suatu wilayah akan mengalami
perubahan kondisi tertentu yang diakibatkan adanya pengaruh dari inovasi yang muncul, yang mana
akan berperan dalam pengembangan kualitas mutu dari wilayah tersebut