71404 research outputs found
Sort by
Pengaruh Intensitas Menonton Pemberitaan Perceraian Pada Infotainment Silet, Intensitas Kegiatan Literasi Media dan Intensitas Komunikasi Interpersonal Suami-Istri Terhadap Sikap Pada Perceraian di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat
Every year, the divorce rate in Indonesia is increasing, there are many underlying
factors such as the economy, domestic violence, infidelity, and so on. However,
along with the development of the mass media industry, the triggering factors for
divorce are increasingly complex, one of which is the use of television mass media as
an alternative to entertainment and information needs. The presence of the
infotainment of Silet which is rife in announcing the artist's divorce makes the
divorce trend more exposed to the public space. Nanggroe Aceh Darussalam which is
nicknamed Serambi Mekkah is one of the provinces with a high divorce rate based
on data from the Syar'iyah Court.
This study aimed to see the influence between the intensity of watching divorce news
on the razor blade infotainment, the intensity of media literacy activities, and the
intensity of interpersonal communication between husband and wife on attitudes
towards divorce. This research uses Phillip Palmgreen's Uses and Gratifications
theory. The research sample was 110 people from three villages in Samatiga District,
West Aceh Regency.
The results showed that there was an influence between the intensity of watching
divorce news on the razor blade infotainment, the intensity of media literacy
activities, and the intensity of interpersonal communication between husband and
wife on attitudes towards divorce (R = 0.891; Adjusted R = 78.8%). However, the
findings show that husband-wife interpersonal communication contributes to a
greater effect on attitudes towards divorce.
The author's suggestion to media industry activists should anticipate the negative
influence of the mass media given the massive use of television in society, such as
producing content according to journalistic principles, not solely for the political
economy of the media. Suggestions for the government to continue to optimize
media literacy activities. Suggestions for the community should be to build Intimate
Relationships by maximizing interpersonal communication between husband and
wife to minimize conflicts that can lead to divorce. In addition, people must be
selective in choosing viewing programs and be proactive in media literacy activities
ANALISIS STRATEGI MARKETING MIXUNTUK PENINGKATAN CAKUPAN PELAYANAN IVA (INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT) DI PUSKESMAS KEDUNGMUNDU KOTA SEMARANG
Kasus kanker tertinggi pada perempuan salah satunya yaitu kanker serviks dikarenakan keterlambatan pengobatan dan diagnosis maka diperlukan suatu cara pencegahan salah satunya yaitu pelayanan IVA. Pelayanan IVA merupakan pelayanan untuk mendeteksi kanker serviks yang praktis dan memungkinkan tersedia di Puskesmas. Namun cakupan pelayanan IVA di Puskesmas Kedungmundu masih rendah.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi marketing mix pelayanan IVA di Puskesmas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam. Subjek penelitian ini adalah Kepala Puskesmas, Bidan Pelaksana dan Pemegang Program sebagai informan utama dan Bidan Yang Belum Mendapat Pelatihan serta Pasien sebagai informan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Puskesmas belum memiliki target spesifik,pada aspek product tahapan pelayanan sudah baik namun informasi konseling belum lengkap dan pasien masih merasa takut. Pada aspek price tidak ada kendala. Pada aspek place, lokasi maupun durasi pelayanan sudah baik. Pada aspek promotion, promosi pelayanan IVA belum dilakukan secara rutin dan penggunaan media lain tentang pelayanan IVA belum optimal. Pada faktor internal, jumlah tenaga kesehatan terlatih IVA masih kurang. Pada faktor eksternal, Puskesmas belum mendapat peraturan khusus tentang komitmen petugas untuk meningkatkan cakupan. Selain itu pengadaan fasilitas penunjang IVA sudah bekerjasama dengan pihak lain.
Kata Kunci : PelayananIVA, Marketing Mix, Puskesma
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PENGUNJUNG DALAM MERUMUSKAN STRATEGI PENGEMBANGAN AGROWISATA JOLLONG PATI MELALUI PENDEKATAN SERVQUAL
Kepuasan pengunjung menjadi prioritas utama guna mempertahankan keberlangsungan bisnis agrowisata. Menciptakan strategi pengembangan yang berbasis pada kepuasan pengunjung menjadi salah satu solusi dalam mempertahankan keberlangsungan agrowisata. Tujuan penelitian 1) menganalisis kepuasan pengunjung dari aspek kualitas pelayanan; 2) merumuskan alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan Agrowisata Jollong. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2019 – Januari 2020 di Agrowisata Jollong dengan metode survei. Metode penentuan lokasi dilakukan secara purposive dengan alasan bahwa Agrowisata Jollong menjadi salah satu objek wisata populer di Kabupaten Pati yang menawarkan konsep wisata alam dan edukasi. Sampel yang digunakan pada tujuan 1) pengunjung Agrowisata Jollong yang dipilih secara accidental, jumlah sampel yang digunakan yaitu 100 orang, ditentukan dengan metode quota; 2) 20 pengunjung Agrowisata Jollong, 3 perwakilan dari pihak pengelola Agrowisata Jollong, 1 perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Pati, 1 perwakilan dari PT. Perkebunan Nusantara dan Kepala Desa Sitiluhur, dipilih dengan metode purposive. Kepuasan pengunjung ditinjau dari aspek kualitas pelayanan dianalisis melalui Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan rata-rata skor kesesuaian (Tki) 86,70% artinya masih ada kinerja yang belum memenuhi harapan pengunjung, sedangkan indeks kepuasan pengunjung hasil analisis Customer Satisfaction Index (CSI) 67,2% artinya pengunjung puas terhadap kualitas pelayanan yang diberikan; 2) strategi pengembangan hasil analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats) menunjukkan posisi Agrowisata Jollong pada kuadran I artinya memiliki lingkungan internal dan eksternal yang kuat, dengan alternatif strategi yang dapat diterapkan yaitu strategi SO (Strengths-Opportunities) yang mengkolaborasikan kekuatan dan peluang yang ada untuk meningkatkan daya tarik wisatawan.
Kata kunci: agrowisata, CSI, IPA, kualitas pelayanan, strategi pengembanga
ANALISIS PREFERENSI KONSUMEN RUMAH TANGGA TERHADAP SUSU CAIR KEMASAN DI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR
Peningkatan konsumsi susu nasional merupakan peluang besar bagi produsen susu. Dalam memenuhi keinginan pasar seorang produsen harus memahami prefrensi konsumen. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik konsumen rumah tangga, proses pengambilan keputusan dan preferensi terhadap atribut susu kemasan di Kecamatan Jaten. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2019 – Januari 2020 di Kecamatan Jaten, Karanganyar. Metode penelitian yaitu survei dengan jumlah responden sebanyak 100 konsumen rumah tangga. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara, observasi dan studi pustaka. Data dianalisis dengan analis deskriptif dan analisis konjoin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden rumah tangga di Kecamatan Jaten memiliki karakteristik wanita (80%), usia 31-40 (36%), jumlah keluarga 6 orang (25%), pendidikan SMA (36%), pendapatan Rp 2.000.000-5.000.000/bulan (58%), pengeluaran membeli susu Rp 10.000-25.000/bulan (56%) dengan konsumsi sebanyak 3-4 kemasan/bulan (50%). Pengambilan keputusan pembelian susu kemasan terdiri dari lima tahap yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Preferensi konsumen rumah tangga pada produk susu kemasan yaitu yaitu memiliki rasa mocca, harga kurang dari Rp 5.000 per kemasan, memiliki merek yang terkenal, kemasan kotak dan memiliki informasi kadaluarsa yang jelas. Atribut yang diprioritaskan secara beurutan yaitu informasi kadaluarsa, harga, rasa, merek, dan kemasan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi oleh produsen untuk memaksimalkan mutu produk susu kemasan berdasarkan atribut yang ada
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH PEMBELIAN BUAH SALAK DI AGROWISATA OMAH SALAK KECAMATAN TURI KABUPATEN SLEMAN
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah pembelian konsumen terhadap buah salak dan menganalisis pengaruh faktor harga buah salak, harga produk subtitusi, pendapatan konsumen, jumlah anggota keluarga konsumen, dan selera konsumen terhadap jumlah pembelian buah salak di Agrowisata Omah Salak Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan pada Juni-Agustus 2019. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive pada Agrowisata Omah Salak di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan sampel sebanyak 100 pengunjung yang diambil secara accidental sampling. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pembelian salak di Agrowisata Omah Salak rata-rata sebanyak 5,3 kg pada setiap pembelian dan jenis buah salak yang paling banyak dibeli adalah salak pondoh super. Variabel harga buah salak (X1), harga buah jeruk (X2), pendapatan konsumen (X3), jumlah anggota keluarga konsumen (X4), selera konsumen (X5) secara serempak berpengaruh nyata terhadap jumlah pembelian salak di Agrowisata Omah Salak. Secara parsial variabel pendapatan konsumen (X3), jumlah anggota keluarga konsumen (X4), dan selera konsumen (X5) berpengaruh nyata terhadap jumlah pembelian salak di Agrowisata Omah Salak. Variabel harga buah buah salak (X1) dan harga buah jeruk (X2) tidak berpengaruh terhadap jumlah pembelian salak di Arowisata Omah Salak.
Kata kunci : buah salak, faktor, jumlah pembelia
EVALUASI RUMAH SUSUN KLENDER BERDASARKAN KRITERIA LAYAK HUNI
Perumahan merupakan kebutuhan dasar manusia. Namun, perumahan masih menjadi masalah
bagi kota-kota di Indonesia. Salah satu masalah perumahan yang dihadapi ialah meluasya permukiman
kumuh dan permukiman liar (Berner, 2012). Permukiman kumuh merupakan sebuah kondisi dimana
kualitas lingkungan permukiman yang tidak layak, akses air bersih yang tidak memadai dan kualitas rumah
yang buruk (Singh, Panda, dan Thakur, 2018). Salah satu program yang dilakukan oleh pemerintah ialah
peremajaan kota dengan membangun rumah susun sederhana.
Rumah Susun Klender merupakan rumah susun sederhana pertama yang berhasil dikembangkan
oleh Perum Perumnas di tahun 1985. Rumah Susun Klender telah berdiri sejak 34 tahun silam. Pada awal
rumah susun didirikan, Rumah Susun Klender diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan permukiman
kumuh dan permukiman liar dengan menyediakan lingkungan hunian yang layak huni. Kini, kondisi fisik
Rumah Susun Klender memprihatinkan serta kondisi lingkungannya tidak lagi terawat. Hal ini
mengindikasikan bahwa setelah 34 tahun Rumah Susun Klender terbangun, Rumah Susun Klender kembali
menjadi lingkungan permukiman yang kumuh. Sehingga penelitian ini disusun untuk mengevaluasi
kelayakhunian Rumah Susun Klender.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan objek penelitian berupa Rumah Susun
Klender. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah melalui kuesioner, wawancara, telaah dokumen,
dan observasi. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, dan
analisis jangkauan. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kelayakhunian Rumah Susun Klender
berdasarkan kriteria layak huni.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kondsi Rumah Susuk Klender berdasarkan kriteria
kondisi fisik, kondisi layanan dasar, dan pengelolaannya, terkategori cukup layak huni. Sedangkan kondisi
Rumah Susun Klender berdasarkan kriteria akses Rumah Susun Klender terhadap fasilitas lingkungannya
telah terkategori layak huni. Hasil tersebut menunjukan bahwa Rumah Susun Klender dibangun di wilayah
yang strategis, sehingga sangat memudahkan penghuni untuk mencapai akses ke fasilitas lingkungannya.
Namun, perlu di ingat bahwa selama 35 tahun terbangun, Rumah Susun Klender mengalami berbagai
macam kerusakan, baik kerusakan pada fisik bangunan maupun layanan dasar. Rumah Susun Klender juga
dihadapi oleh pengelolaan yang belum maksimal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa berdasarkan kriteria
kondisi fisik, kriteria kondisi layanan dasar, dan kriteria pengelolaannya, Rumah Susun Klender merupakan
hunian yang cukup layak huni, dan berdasarkan kriteria akses Rumah Susun Klender terhadap fasilitas
lingkungannya terkategori layak huni. Maka guna menjadikan Rumah Susun Klender menjadi layak huni,
diperlukan kegiatan pemeliharaan dan perawatan dengan tujuan menyelesaikan permasalahan kerusakan
yang ada di Rumah Susun Klender, baik pada kondisi fisik maupun pada kondisi layanan dasar
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP PERILAKU DIET PADA MAHASISWA KOTA SEMARANG
Media sosial merupakan alat komunikasi yang pada saat ini banyak digunakan oleh seluruh kalangan masyarakat. Akses informasi yang didapatkan dalam waktu singkat dapat meningkatkan pengetahuan penggunanya mengenai segala informasi yang ingin diakses. Berdasarkan data Statista, penggunaan media sosial pada kisaran usia 15-19 tahun sebesar 91% dan 20-24 tahun sebesar 88,5% merupakan pengguna terbesar se Indonesia.Informasi tentang diet dapat dengan mudahnya diakses melalui media sosial. Masih banyak ditemukan informasi mengenai perilaku diet yang tidak sehat, dimana hal ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Di temukannya nilai cantik ideal dan bentuk tubuh ideal di media sosial dapat meningkatkan ketidakpuasan tubuh terutama pada kalangan remaja. Berdasarkan Social Learning Theory (SLT) oleh Abert Bandura, perilaku dipengaruhi dan saling mempengaruhi antara faktor personal dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara penggunaan media sosial terhadap perilaku diet pada mahasiswa kota Semarang menggunakan metode cross-sectional dengan pengambilan sampel purposive. Subjek penelitian adalah 269 mahasiswa dengan kriteria inklusi. Berdasarkan analisis data yang diperoleh, sebesar 49,1% mahasiswa melakukan perilaku diet tidak sehat. Hasil uji chi-square yang didapatkan α = 0,05 terdapat pada variabel pengetahuan (p value=0,304), sikap (p value=0,000), ketidakpusan tubuh (p value=0,000), Media sosial (p value=0,072). Faktor yang berpengaruh pada perilaku diet mahasisw adi kota Semarang adalah sikap dan ketidakpuasan tubuh. Sedangkan pengaruh media sosial dalam perilaku diet adalah kepercayaan untuk mencari informasi dan meningkatkan niat untuk melakukan diet.
Kata Kunci : media sosial, perilaku diet, ketidakpuasan tubu
The multi-species fisheries model of fringescale sardinella and largehead hairtail in Rembang Regency, Indonesia
The characteristics of fisheries in Rembang Regency are multi-species fisheries. There is a
production relationship between fringescale sardinella fish (Sardinella sp.) and largehead hairtail fish
(Trichiurus sp.). It is suspected that the two types of fish have a predator-prey relationship (largehead
hairtail fish as predator and fringescale sardinella fish as prey). The purpose of this study was to develop
the multi-species model of fringescale sardinella and largehead hairtail in Rembang Regency. This study
used time series data from 2010 to 2018, both production and fishing effort data. We also conducted
observations and indepth interviews. This study produced a predator-prey model that can be used as a
basis for fisheries management especially for fringescale sardinella and largehead hairtail fisheries. The
results of the study can be used to estimate the optimal level of fishing effort for the production of
fringescale sardinella (459 units of mini purse seine) and largehead hairtail (176 units of mini purse
seine). While the optimal profit occurs in the fishing effort of 184 units of mini purse sein
STUDI META–ANALISIS FAKTOR–FAKTOR LINGKUNGAN RUMAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA
Pneumonia merupakan salah satu infeksi atau peradangan saluran pernapasan akut yang menyerang organ paru-paru manusia. UNICEF menyatakan bahwa sekitar 802.000 kematian anak diseluruh dunia disebabkan oleh pneumonia dengan insidens rate sebesar 10,4%. Jumlah kejadian pneumonia banyak terjadi khususnya di negara yang berpenghasilan menengah dan rendah. Salah satu faktor risiko terjadinya pneumonia pada balita adalah faktor lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor-faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita melalui pendekatan meta–analisis, serta menghimpun 22 penelitian case–control yang berasal dari beberapa jurnal.Penilaian besar pengaruh suatu penyakit diperoleh dari nilai odds ratio dalam efek gabungan yang digunakan. Efek gabungan odds ratio di hitung melalui fixed effect model dan random effect model menggunakan Microsoft Excel Epiyudin. Berdasarkan hasil analisis pada 8 variabel faktor lingkungan yang berhubungan dengan pneumonia pada balita, didapatkan hasil odds ratio &confident interval variabel kepadatan hunian rumah 2,29 (95% CI 1,70–3,06); kepadatan hunian kamar 1,94 (95% CI 1,41–2,68); kelembaban hunian 1,87 ( 95% CI 1,35–2,59); intensitas pencahayaan hunian 11,12 (95% CI 8,45–14,64); luas ventilasi 2,46 (95% CI 1,94–3,11); suhu 1,93 (95% CI 1,42–2,64); jenis lantai 2,18 (95% CI 1,59–2,97); dan jenis dinding 1,92 (95% CI 1,37–2,68). Hasil tersebut dapat dijadikan sebagai metode skrining dan intervensi tepat terhadap penyakit pneumonia pada balita.
Kata kunci : Pneumonia, Balita, Faktor Risiko Lingkungan, Meta–analisi
ANALISIS SPASIAL FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP KEJADIAN FILARIASIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SOTIMORI KECAMATAN LANDU LEKO KABUPATEN ROTE NDAO
Terjadinya kasus filariasis di masyarakat dipengaruhi oleh tiga unsur utama yaitu agent, host dan environment. Penularan filariasis dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah faktor lingkungan yang meliputi lingkungan fisik. Banyaknya kasus filariasis dan beragamnya karakteristik lingkungan di wilayah kerja Puskesmas Sotimori Kecamatan Landu Leko Kabupaten Rote Ndao, menyebabkan perlunya dilakukan pendekatan secara spasial untuk mengetahui faktor lingkungan sebagai salah satu penyebab utama penularan filariasis. Usaha pemantauan aspek kesehatan lingkungan dan faktor risiko filariasis dengan analisis spasial belum pernah dilakukan pada penelitian filariasis terdahulu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara spasial faktor lingkungan dengan kejadian penyakit Filariasis di wilayah kerja Puskesmas Sotimori. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode observasional deskriptif dengan desain penelitian cross sectional dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Populasi dalam penelitian ini adalah faktor lingkungan yang mempengaruhi kejadian filariasis. Sampel yang digunakan adalah keberadaan semak, rawa, laguna, sawah, dan keberadaan ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi kasus dan habitat spesifik positif habitat vektor filariasis ada dalam satu titik dalam buffer 200 meter. Kondisi ini menggambarkan bahwa desa-desa yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sotimori antara lain desa Bolatena, Daiama, Daurendale, Lifuleo dan Sotimori masih sangat rentan terjadi penularan filariasis. Penyebaran kasus tertinggi terdapat di desa Daiama dan Daeurendale dengan masing-masing 11 kasus (28,2%) dan 2 desa lainnya yaitu Desa Tenalai dan Desa Pukuafu tidak ada kasus. Keberadaan semak ditemukan di 5 dari 7 desa kecuali desa Pukuafu dan Tenalai, keberadaan sawah ada di 5 dari 7 desa kecuali Desa Pukuafu dan Desa Tenalai, keberadaan rawa di 7 desa, keberadaan Cekdam di 2 desa yaitu Desa Daiama dan Desa Daurendale dan keberadaan ternak terdapat di 7 desa.
Kata Kunci: Filariasis, Faktor Lingkungan, Puskesmas Sitomori dan Rote Ndao