Diponegoro University

Diponegoro University Institutional Repository
Not a member yet
    71404 research outputs found

    STRATEGI KOMUNIKASI HUMAS POLDA JATIM DALAM MENANGANI PEMBERITAAN HOAX DI MEDIA SOSIAL

    Get PDF
    The phenomenon of hoaxes through social media is a new challenge for the Public Relations Department in an institution including the East Java Regional Police Public Relations Division. In the midst of this hoax, the duties and functions of PR as information managers are demanded to be able to present the certainty of correct information and be able to provide peace to the public. This effort has been done by the East Java Regional Police Public Relations Division, however the hoax coverage on social media is still going on among the people, this is interesting to study. This study aims to: (1) Know and analyze communication strategies in the East Java Regional Police Public Relations in handling hoaxes about making SIMs on social media; (2) Knowing and analyzing obstacles in implementing communication strategies. Communication strategy is an important thing that must be done in order to achieve effective communication. The strategy in this study refers to the overall communication approach used in order to face the challenges faced during the communication process as stated by Middleton (1980). In this research, what is meant by communication strategy is the best combination of all communication elements ranging from communicators, messages, channels (media), recipients, to the effects (effects) that are designed to achieve optimal communication goals. The primary data collection in this study was carried out from the results of observations and in-depth interviews and supplemented it with secondary data obtained from searching relevant documents. Research data analysis was performed using an interactive analysis model. The findings of this study are as follows: 1. Communication strategies in the East Java Regional Police Public Relations in handling hoax reporting on social media are done through: a) Institutional approach by showing its identity as an institution that has the authority and credibility through communication that is carried out horizontally either directly or indirectly live; b) Messages are delivered in verbal form and the contents / material of the message is written in a language that is easily understood, communicated through a persuasive and educative approach; c) The targets are the general public through informative and persuasive communication; and d) Delivered through social media. 2. The obstacles encountered by the East Java Regional Police Public Relations Sector in implementing the communication strategy in handling hoax reporting on social media are related to the time and scarcity of human resources

    ANALISIS KATA BERMAKNA TEMAN DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA 日本語とインドネシア語の友達の言葉の意味の分析

    Get PDF
    ABSTRACT Afifah, Ismi. 2020. “Analysis of Friend's Meaningful Words in Japanese and Indonesian”. Undergraduate Thesis, Japanese Language and Culture Department, Faculty of Humanitie, Diponegoro University. Thesis advisor S.I Trahutami, S.S, M.Hum. This thesis aims to describe how to use it and to look for similarities and differences in meaningful words of friends in Japanese and Indonesian. The data used in this thesis was obtained from various titles of short stories, novels, and online articles in Japanese and Indonesian. Simak and catat technique. Analysis of Friend's Meaningful Words in Japanese and Indonesian uses agih method with distributional method applied. Then, to know the similarities and differences of the friend noun Based on data analysis, it can be concluded that in Japanese there are nouns tomodachi, yuujin, and nakama. While in Indonesian there are nouns teman, rekan, and sahabat. All three are used to mention the relationship between one person and another. The word tomodachi in Japanese has the same meaning and usage as the word teman in Indonesian. . Then the word Nakama in Japanese has similarities with the word rekan in Indonesian. Furthermore, the word yuujin in Japanese and sahabat in Indonesian have several different uses and meanings. In addition there are also differences in the word nakama in Japanese the word nakama in Japanese is not only used in formal situations but can also be used in informal situations. Keywords : Noun, Tomodachi, Tema

    KORELASI PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL (PEL ) DENGAN PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH (Studi Kasus: Kampung Tematik Batik Dan Sentra Bandeng KotaSemarang )

    Get PDF
    Aktivitas Pengembangan Ekonomi Lokal merupakan proses produksi, diawali dengan pengadaan bahan baku, proses produksi dan pemasaran produk. Dalam aktivitas PEL secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada lingkungan. Dampak dari akses distribusi produk PEL adalah kerusakan jalan dan sirkulasi kendaraan yang makin padat, sedangkan dari sisa hasil produksi diantaranya limbah dan sampah. Dampak dari aktivitas PEL jika tidak ditangani secara baik, maka dapat menurunkan kualitas permukiman. Penelitian ini bertujuan membuat rumusan penanganan permukiman kumuh melalui korelasi dengan aktivitas PEL. Lokasi penelitian di kampung tematik Kampung Batik Rejomulyo dan Kampung Sentra Bandeng Tambakrejo. Lingkup aktivitas PEL meliputi lama usaha dan pendapatan usaha PEL. Penanganan permukiman kumuh difokuskan pada aspek jalan, limbah dan sampah dari aktivitas PEL. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif, dengan teknik kuesioner pertanyaan tertutup. Proses penelitian diawali dari penentuan populasi melalui nonprobability sampling dengan teknik sampling jenuh. Jumlah responden di Kampung Batik berjumlah 33 dan Kampung Sentra Bandeng sebesar 31. Tahapan kedua adalah input data melalui teknik pengisian kuesioner dengan bertatap muka dan mengisi langsung. Kelengkapan data didukung hasil observasi dan wawancara. Tahapan ketiga analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik sosial ekonomi dengan aktivitas PEL dan penanganan permukiman kumuh, sedangkan uji Chi-Square untuk menguji hubungan antara aktivitas PEL dengan penanganan permukiman kumuh. Tahapan akhir adalah hasil penelitian dengan membuat konsep penanganan permukiman kumuh melalui aktivitas PEL dan membuat kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penghasilan usaha PEL di Kampung Batik berkorelasi sedang dengan aspek jalan (iuran) dan lama usaha PEL berkorelasi kuat dengan aspek jalan (iuran). Hubungan terjadi dikarenakan jalan merupakan kebutuhan penting dalam mendukung aktivitas PEL, diantaranya untuk distribusi produk dan mendatangkan wisatawan. Lokasi Kampung Sentra Bandeng korelasi kuat terjadi pada pendapatan PEL dengan aspek jalan (bentuk dan iuran), lama usaha PEL berkorelasi kuat pada aspek jalan (bentuk dan iuran). Korelasi sedang sampai kuat terjadi pada pendapatan PEL dengan bentuk penanganan limbah dan iuran limbah, sedangkan dengan aspek sampah terjadi dengan bentuk penanganan sampah. Pada klasifikasi lama usaha PEL terjadi korelasi sedang dengan iuran limbah, sedangkan aspek sampah terjadi korelasi rendah dengan bentuk penanganan dan iuran sampah. Hubungan terjadi aspek jalan dikarenakan aktivitas distribusi menggunakan moda angkut kendaraan. Korelasi lemah terjadi pada aspek limbah dan sampah dikarenakan adanya keterlibatan yang masih sedikit dari pelaku PEL. Adanya korelasi positif diperlukan peningkatan kepedulian pelaku usaha melalui cost sharing dengan menyisihkan anggaran dari keuntungan usaha yang digunakan untuk lingkungan dan kegiatan pengurangan limbah pada tiap proses usaha. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk pemerintah kota dan pelaku usaha dalam meningkatkan kepeduliannnya terhadap penanganan permukiman kumuh yang diakibatkan adanya aktivitas PEL

    Hubungan antara Kesejahteraan Psikologis dengan Work-Family Conflict pada Ibu yang Bekerja sebagai Polwan di Polda Jawa Tengah

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesejahteraan psikologis dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai polwan di Polda Jawa Tengah. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 290 polwan dengan subjek penelitian berjumlah 168 polwan. teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik cluster random sampling. Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah polwan yang sudah menikah, masa dinas di atas 1 tahun. Penelitian ini menggunakan Skala Kesejahteraan Psikologis (34 aitem; α=0,929) dan Skala Work-Family Conflict (18 aitem; α=0,893). Analisis data menggunakan analisis regresi sederhana didapatkan rxy -0,475 dengan p = 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kesejahteraan psikologis dengan work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai polwan di Polda Jawa Tengah. Artinya, semakin tinggi kesejahteraan psikologis, maka work-family conflict semakin rendah. Kesejahteraan psikologis memberikan sumbangan efektif sebesar 20,9% terhadap work-family conflict pada ibu yang bekerja sebagai polwan di Polda Jawa Tengah. Kata kunci: kesejahteraan psikologis; work-family conflict; Polda Jawa Tenga

    Hotel Bisnis Bintang 4 di Semarang

    Get PDF
    Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan cukup penting dalam pembangunan perekonomian yang dapat mendorong pertumbuhan disektor lain seperti sektor perdagangan, trasportasi serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Perkembangan bisnis properti di Indonesia saat ini menjadi suatu bidang atau usaha yang menarik dan mempunyai peranan yang besar dalam konsumsi masyarakat setiap harinya. Semarang termasuk dalam kawasan yang kian dilirik dunia perhotelan karena potensi pasar hotel Semarang terus tumbuh pesat dari tahun ke tahun, sehingga menjadikan kota semarang menjadi lokasi yang strategis dalam perancangan hotel yang di rancang untuk mengakomodasi tamu wisatawan bisnis. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan RI no. SK 241/h/70, tanggal 5 Agustus 1970, Hotel bisnis adalah hotel yang meyediakan akomodasi dan fasilitas bagi pengunjung yang menginap dalam waktu singkat. Umumnya terletak di kota-kota besar dan berlokasi di jantung kota sehingga dekat dengan fasilitas-fasilitas penunjang kota dan mudah dicapai oleh sarana transportasi. Karakteristiknya antara lain tingginya perbandingan pemakaian ruang-ruang yang bersangkutan, bangunan bertingkat tinggi, dan keteraturan pemanfaatan ruang-ruang yang disediakan sehingga dalam pengembangannya memungkinkan keberhasilan hotel tersebut. Secara geografis kota Semarang terletak di sebelah utara pulau Jawa, yang merupakan jalur yang sangat strategis dan menguntungkan. Hal ini di dukung dengan adanya pelabuhan Tanjung Mas dan bandar udara Ahmad Yani yang sudah bertaraf internasional. Kedua akses tersebut merupakan pintu gerbang baik bagi para pembisnis maupun para wisatawan yang akan berkunjung ke kota Semarang. Kalangan tamu pada hotel bisnis umumnya berasal dari kalangan pengusaha, karyawan atau profesional yang memiliki kepentingan berbisnis, berdagang, tugas dinas hingga menghadiri acara acara formal, dan berbagai tujuan lainnya. Pembangunan hotel dan usaha jasa akomodasi lainnya di kota Semarang saat ini menunjukkan tren yang cukup meningkat. Hal ini dapat dilihat dari data Badan Pusat Statistik mengenai rata- rata tingkat penghunian kamar hotel yang menunjukkan peningkatan sebesar 9,87 %. Untuk mengantisipasi membludaknya kedatangan wisatawan dalam negeri maupun asing ke Semarang untuk melakukan kegiatan berbisnis, berwisata ataupun melakukan kegiatan yang lain ( Kegiatan Expo, pentas seni, wedding, wisuda, meeting ) maka Semarang memerlukan fasilitas pendukung seperti akomodasi hotel bisnis berbintang, terutama hotel bisnis bintang 4 yang menyediakan fasilitas lengkap yang dapat menunjang untuk kegiatan pertemuan bisnis yang di lengkapi juga dengan fasilitas untuk ber-rekreasi

    EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM PEDULI GIZI BALITA LAMONGAN (PELITA LA) DI KABUPATEN LAMONGAN (STUDI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DRADAH LAMONGAN)

    Get PDF
    Stunting merupakan suatu bentuk kegagalan pertumbuhan akibat dampak jangka panjang dari pola asuh keluarga yang tidak baik. Prevalensi stunting di Indonesia masih cukup besar yaitu 30,8 % sedangkan target stunting dari WHO adalah 20%. Kabupaten Lamongan memiliki program yang bernama Peduli Gizi Balita Lamongan sebagai upaya penurunan prevalensi stunting di Lamongan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan Program Peduli Gizi Balita Lamongan (PELITA LA) terhadap Stunting di Lamongan Jawa Timur.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode kualitatif indepth interview. Subjek penelitian ini adalah kader kesehatan, pemegang program dan peserta program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa belum semua kader mendapat pelatihan, sarana prasarana belum mencukupi dan juga tidak ada pedoman pelaksanaan program. Kesimpulan aspek input berupa man, material dan methode belum berjalan dengan baik sehingga berpengaruh terhadap pelaksanaan program dan prevalensi stunting di Puskesmas Dradah Lamongan. Kata kunci : evaluasi program, stunting, balit

    PERBEDAAN KANDUNGAN FITOKIMIA DAN EFEKTIVITAS ANTIBAKTERIAL BAWANG PUTIH (Allium sativum) SEGAR,EKSTRAK DAN SERBUK BAWANG PUTIH TERHADAP PERTUMBUHAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS (Studi Eksperimen di Laboratorium Terpadu UNDIP Semarang)

    Get PDF
    Latar Belakang: Penggunaan antibiotik untuk mengobati penyakit infeksi bakteri banyak menimbulkan efek samping dari yang ringan sampai yang berat. Selain efek samping yang berat seperti syok , antibiotik bisa menyebabkan resistensi. Oleh karena itu diperlukan obat alternatif yang berfungsi sebagai antimikroba berasal dari tanaman salah satu diantaranya adalah bawang putih dengan efek samping minimal dan dapat dikonsumsi tiap hari sebagai bahan makanan. Tujuan: Mengetahui kandungan fitokimia dan efektivitas antibacterial pada bawang putih segar, ekstrak dan serbuk bawang putih dalam pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Metode : Penelitian menggunakan desain Eksperimen murni dengan Randomized post test with control group design yaitu pemberian bawang putih segar, ekstrak bawang putih dan serbuk bawang putih pada media kultur bakteri melalui metode dilusi. Sedangkan untuk kandungan fitokimia pada 3 jenis sediaan menggunakan Uji Flavonoid, Uji GCMS, Uji FTIR dan Uji HPLC. Analisa data menggunakan uji Kruskalis Wallis dan uji kebermaknaan konsentrasi dengan analisis Post Hoc Mann Whitney. Hasil: Dari 3 jenis Sediaan yang memiliki kandungan fitokimia lebih banyak jumlahnya melalui uji GCMS adalah bawang putih segar sebanyak 18 zat aktif dibandingkan ekstrak dan serbuk. Sedangkan untuk aktivitas antibakterial dari 3 jenis sediaan adalah bawang putih segar dengan konsentrasi 50% memiliki aktivitas antibakterial sedang dibandingkan ekstrak dan serbuk memiliki aktivitas antibakterial lemah. Jika dibandingkan dengan kontrol positif (amoksilin), bawang putih segar belum bisa memberikan hasil yang efektif dalam menghambat Staphylococcus aureus Kesimpulan: Kandungan fitokimia pada bawang putih segar lebih banyak dan bawang putih segar 50% belum bisa memberikan hasil yang efektif dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Kata Kunci: Bawang putih segar, Ekstrak bawang putih, Serbuk bawang putih, Allium sativum, Fitokimia, Daya hambat bakteri,Staphylococcus aureus Background: The use of antibiotics to treat bacterial infections cause many side effects from mild to severe. In addition to severe side effects such as shock, antibiotics can cause resistance. Therefore we need an alternative medicine that functions as an antimicrobial derived from plants, one of which is garlic with minimal side effects and can be consumed every day as food. Objective:. To know the phytochemical content and antibacterial effectiveness of fresh garlic, garlic extract and powder in the growth of Staphylococcus aureus bacteria. Method: This study used a pure experimental design with randomized post test with control group design that is giving fresh garlic, garlic extract and garlic powder to the bacterial culture media through the dilution method. As for phytochemical content in 3 types of preparations using Flavonoid Test, GCMS Test, FTIR Test and HPLC Test. Data analysis used the Wallis Kruskalis test and the concentration significance test with Mann Whitney Post Hoc analysis. Result : The 3 types of preparations that have more phytochemical content through the GCMS test, there are 18 active ingredients in fresh garlic compared to extracts and powders. As for the antibacterial activity of the 3 types of preparations are fresh garlic with a concentration of 50% having moderate antibacterial activity compared to extracts and powders having weak antibacterial activity. When compared with positive control (amoxcilin), fresh garlic has not been able to provide effective results in inhibiting Staphylococcus aureus growth. Conclusion: : Phytochemical content in fresh garlic more numerous compared to both and 50% fresh garlic has not been able to provide effective results in inhibiting the Staphylococcus aureus . Keywords: Fresh garlic, Garlic extract, Garlic powder, Allium sativum, Phytochemical, Bacterial inhibition, Staphylococcus aureu

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK ANAK, SUMBER PENCEMARAN UDARA DALAM RUANG, DAN PRAKTIK KELUARGA DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK BERUSIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEBDOSARI SEMARANG

    Get PDF
    ISPA di Puskesmas Lebdosari menjadi penyakit infeksi yang menduduki posisi pertama dari sepuluh besar penyakit puskesmas yang paling sering diderita oleh masyarakat, khususnya pada anak dengan insiden 3,32%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan karakteristik anak, sumber pencemaran udara dalam ruang, dan praktik keluarga dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak berusia 6-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Lebdosari Semarang. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 1.207 anak berusia 6-24 bulan dengan jumlah sampel 121 responden yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan teknik pengambilan data secara self administered. Variabel bebas pada penelitian ini yaitu status BBLR, status ASI, status imunisasi, keberadaan asap dapur, penggunaan insektisida rumah tangga, keberadaan perokok dalam rumah, kebiasaan tidur dengan kasur menempel di lantai, praktik cuci tangan pakai sabun, menjemur alas tidur, praktik membuka jendela, dan praktik membersihkan rumah. Variabel terikat pada penelitian ini yaitu kejadian ISPA pada anak. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA anak antara lainpenggunaan insektisida rumah tangga (nilai p = 0,045 RP = 4,947 95% CI = 1,136-21,538), keberadaan perokok dalam rumah (nilai p = 0,042 RP = 2,561 95% CI = 1,016-6,456),keberadaan asap dapur ( nilai p = 0,029 RP = 3,850 95% CI = 1,278-11,601), praktik membuka jendela (nilai p = 0,001 RP = 4,698 95% CI = 1,767-12,491), dan praktik membersihkan rumah ( nilai p = 0,033 RP = 0,373 95% CI = 0,148-0,942). Sedangkan faktor-faktor yang tidak memiliki hubungan dengan ISPA anak antara lain beratlahir anak, status ASI, status imunisasi, kebiasaan tidur dengan kasur menempel langsung di lantai, praktik menjemur alas tidur, dan praktik cuci tangan pakai sabun. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara penggunaan insektisida rumah tangga, keberadaan perokok dalam rumah, keberadaan asap dapur, praktik membuka jendela, dan praktik membersihkan rumah dengan kejadian ISPA pada anak di wilayah Kerja Puskesmas Lebdosari. Kata Kunci : ISPA, anak, Puskesmas Lebdosar

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK SEKS BERISIKO IMS PADA ANAK JALANAN USIA 12-18 TAHUN DI RUMAH PERLINDUNGAN SOSIAL ANAK (RPSA) KOTA SEMARANG

    Get PDF
    Perilaku seksual berisiko pada anak jalanan merupakan perilaku akibat hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Kota Semarang tidak lagi fokus pada anak jalanan di usia belasan tahun, melainkan lebih pada anak. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko pada anak jalanan usia 12-18 tahun dalam pengawasan dan pengembangan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Kota Semarang. Metode dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi cross-sectional dan dilakukan dengan teknik pengambilan sampel populasi total. Populasi dalam penelitian ini adalah 50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Praktik Menonton Video Pornografi (0.000), Pengetahuan Kesehatan Reproduksi (0.000), Pengetahuan tentang Perilaku Seksual (0.000), Pengetahuan tentang Infeksi Menular Seksual (0.000), Dukungan Teman Sebaya ( 0,041), Dukungan Keluarga (0,032), Penggunaan Media Informasi (0,001), Ketersediaan Layanan Kesehatan Reproduksi (0,006) memiliki hubungan yang signifikan dengan praktik seks berisiko IMS. Sedangkan Usia Responden (0,190), Sikap Responden Terhadap Perilaku Seks Berisiko (0,836), Dukungan Rumah Perlindungan Sosial Anak (0,425), Akses Penggunaan Kondom (0,777) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan praktik seks berisiko IMS. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Dinas Sosial harus bekerjasama dengan petugas kesehatan mengenai pencegahan perilaku seksual berisiko pada anak jalanan dan perlunya memberikan pelayanan kesehatan reproduksi di Rumah Perlindungan Sosial Anak. Kata Kunci : Anak Jalanan, Praktik Risiko IMS, Rumah Perlindungan Sosia

    SISTEM INFORMASI KLASIFIKASI SISWA PENERIMA KARTU INDONESIA PINTAR (KIP) MENGGUNAKAN METODE DECISION TREE DENGAN ALGORITMA C4.5

    Get PDF
    Penelitian ini bermaksud membuat perangkat lunak yang mampu membuat data analisis di sekolah untuk mengklasifikasikan siswa yang berhak menerima Kartu Indonesia Pintar. Ini merupakan program pemerintah yang bertujuan untuk membiayai pendidikan sekolah secara gratis, untuk anak-anak dari keluarga miskin. Permasalahan kemudian muncul ketika kartu tersebut didistribusikan kepada siswa, beberapa anak dari keluarga miskin tidak mendapatkannya tetapi beberapa dari keluarga kaya atau mampu secara ekonomi mendapatkannya. Analisis dan cara yang tepat sangat diperlukan agar distribusi Kartu Indonesia Pintar dapat tepat sasaran bagi siswa yang memenuhi syarat kurang mampu secara ekonomi atau miskin. Penelitian ini menggunakan metode pohon keputusan dengan algoritma C4.5 untuk mengklasifikasikan siswa yang berhak menerima Kartu Indonesia Pintar. Dengan cara mengklasifikasikan siswa dalam kategori-kategori yang nanti akan membentuk aturan-aturan klasifikasi. Aplikasi ini dikembangkan dengan algoritma C4.5 untuk menentukan metode pohon keputusan. Data penelitian dilakukan di SMP 1 Jatibarang, Brebes. Data penelitian 150 siswa, dengan 120 sebagai data pelatihan sementara 30 sebagai data pengujian. Dari hasil pengujian yang ketepatannya adalah 97%, terbukti metode ini memiliki akurasi yang tinggi sehingga aplikasi dapat membantu pengambil keputusan memecahkan masalah distribusi kepada siswa yang memenuhi syarat. Dampaknya distribusi Kartu Indonesia Pintar akan tepat sasaran, sehingga siswa miskin akan mendapatkan haknya untuk menerima Kartu Indonesia Pintar. Kata kunci: Kartu Indonesia Pintar, siswa, klasifikasi, algoritma C4.5, pohon keputusan The research intends to create a software which is able to make analysis data in a school to classify students who is entitled to accept Indonesia Smart Card. It was a government program that aims to finance school education free of charge, for children from poor families. Problems arose when the distribution to students, some children from poor families did not get it but rich families actually got it. Analysis and the right way are needed so that the distribution can be right on target to eligible students. This study used a decision tree method with C4.5 algorithm to classify students who are entitled to receive the Indonesian Smart Card. This application is developed with C4.5 algorithm to determine the decision tree method. Research data was carried out at Junior High School One of Jatibarang, Brebes. Data record of 150 students, with 120 as training data while 30 as testing data. From the test results were accuracy was 97%, it is proven this method has a high accuracy so that the application can help the decision makers solved the distribution problems to eligible students. The impact is that poor students will get the right to receive Indonesia Smart Card. Keywords: indonesia smart card, students, classification, algorithm C4.5, decision tre

    65,209

    full texts

    71,404

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Diponegoro University Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇