7065 research outputs found
Sort by
PENGELOLAAN KREATIVITAS DAN INOVASI MELALUI INTEGRASI SENI DAN TEKNOLOGI DALAM PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL 5.0
The development of digital technology has brought significant changes in various aspects of life, including in
the world of education. The integration of art and technology is an important strategy in facing challenges and
opportunities in the digital era 5.0, especially in efforts to increase creativity and innovation among students.
This community service work aims to develop a learning model that combines elements of art and technology,
in order to enrich the learning experience and prepare the younger generation to be actively involved in an
increasingly digital and creative society. Through training programs and workshops, educators and students
are introduced to various digital tools and platforms that can be used to create works of art, ranging from
graphic design, animation, to digital music. In addition, the application of technologies such as Augmented
Reality (AR) and Virtual Reality (VR) in art education is also introduced as an innovative way to increase
understanding and appreciation of art. The results of this activity show a significant increase in students'
ability to think creatively and produce innovative works. Students also show a higher interest in project-based
learning that integrates technology, which has a positive impact on their engagement in the learning process.
This publication provides an overview of best practices and challenges in implementing the integration of art
and technology in the world of education, as well as recommendations for further development.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan,
termasuk dalam dunia pendidikan. Integrasi seni dan teknologi menjadi strategi penting dalam menghadapi
tantangan dan peluang di era digital, khususnya dalam upaya meningkatkan kreativitas dan inovasi di
kalangan siswa. Karya pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan model
pembelajaran yang menggabungkan elemen seni dan teknologi, guna memperkaya pengalaman belajar
serta mempersiapkan generasi muda untuk terlibat aktif dalam masyarakat yang semakin digital dan
kreatif. Melalui program pelatihan dan workshop, para pendidik dan siswa diperkenalkan dengan berbagai
alat dan platform digital yang dapat digunakan untuk menciptakan karya seni, mulai dari desain grafis,
animasi, hingga musik digital. Selain itu, penerapan teknologi seperti Augmented Reality (AR) dan Virtual
Reality (VR) dalam pendidikan seni juga diperkenalkan sebagai cara inovatif untuk meningkatkan
pemahaman dan apresiasi terhadap seni. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan
dalam kemampuan siswa untuk berpikir kreatif dan menghasilkan karya yang inovatif. Siswa juga
menunjukkan minat yang lebih tinggi dalam pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan
teknologi, yang berdampak positif pada keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Publikasi ini
memberikan gambaran tentang praktik terbaik dan tantangan dalam implementasi integrasi seni dan
teknologi di dunia pendidikan, serta rekomendasi untuk pengembangan lebih lanju
Sengkarut Royalti Musik
Esai ini mengangkat permasalahan mengenai pengelolaan royalti musik di Indonesia, khususnya dalam era digital yang serba terhubung. Fokus utama adalah relevansi lembaga manajemen kolektif dalam menangani isu hak cipta musik, dengan mempertimbangkan kompleksitas dan fragmentasi kepentingan di industri musik. Ditekankan bahwa meskipun sistem royalti digital dapat mempercepat distribusi, transparansi dan responsivitas terhadap kebutuhan pencipta lagu serta pengguna hak cipta masih menjadi tantangan besar. Esai ini juga mempertanyakan apakah lembaga manajemen kolektif masih relevan dalam menjembatani masalah hak cipta, serta perlunya reformasi sistem untuk menciptakan ekosistem yang lebih adil dan efisien. Selain itu, perhatian juga diberikan pada keberlanjutan dan keadilan bagi karya musik tradisional Indonesia yang sering kali terabaikan dalam sistem yang ada saat ini
KEBERTAHANAN GENDERANG SISIBAH OLEH SANGGAR KASEA DI KECAMATAN SIDIKALANG KABUPATEN DAIRI SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang upaya seniman Tamsir Padang dalam menjaga kesenian tradisional Genderang Sisibah Suku Pakpak. Penelitian ini berusaha menjelaskan tiga poin utama yakni, (1) Bagaimana Eksistensi, Konservasi dan Kebertahanan Genderang Sisibah yang dilakukan oleh Genderang Sisibah (2) Bagaimana bentuk musik repertoar Tatak Garo Garo melalui garapan Genderang Sisibah, (3) Bagaimana tantangan dan dampak dari konservasi yang dilakukan Tamsir Padang. Untuk mendeskripsikan dan menjawab persoalan mengenai hal tersebut, penulis menggunakan teori konservasi menurut Aylin Orbasli dalam Syaifuddin dan teori kebertahanan oleh Shatte dan Reivich sebagai inti dari teori yang penulis gunakan. Penelitian ini bersifat kualitatif, yang sumber datanya sudah dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, wawancara, tayangan Youtube dan beberapa sumber dari website dari internet.
Lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Hasil dari penelitian ini mengetahui mengenai keberadaaan Genderang Sisibah yang saat ini sudah mulai jarang ditemui. Oleh karena itu Tamsir Padang melakukan sebuah upaya konservasi dan kebertahanan melalui sanggar kasea dengan melatih anak-anak, mempertahankan unsur melodi musiknya dan melakukan sebuah pengembangan dengan menciptakan instrumen lobat dengan nada dasar baru. Kemudian Tamsir Padang juga membuat sebuah kreativitas baru dengan menggabungkan instrumen Genderang Sisibah pada repertoar tatak garo garo. Berdasarkan aktivitas yang dilakukan Tamsir Padang menimbulkan dampak yang positif bagi seniman tradisional dan masyarakat Suku Pakpak. Namun dalam menjaga kebertahanan Genderang Sisibah Tamsir Padang juga memiliki tantangannya adalah Suku Pakpak minoritas di Kecamatan Sidikalang, minimnya kesadaran masyarakat Suku Pakpak dan adanya pengaruh budaya musik luar.
Kata Kunci : Genderang Sisibah, Konservasi, Tamsir Padan
Transformasi Estetika Musik Gamelan Jawa, Dampak Kolonialisme dan Nasionalisme
Makalah ini mengkaji transformasi estetika musik gamelan Jawa yang dipengaruhi oleh kolonialisme Belanda dan nasionalisme Indonesia. Sebelum pengaruh kolonial, musik gamelan berkembang tanpa notasi tertulis dan lebih mengutamakan improvisasi antar musisi. Namun, kolonialisme memperkenalkan konsep-konsep Barat, termasuk dalam seni dan pendidikan musik, yang menyebabkan gamelan diubah menjadi lebih terstruktur dan terukur, mirip dengan musik klasik Barat. Salah satu perubahan signifikan adalah pengenalan notasi dalam gamelan, yang mempermudah pelestarian dan pengajaran, meskipun ada kritik terhadap ketidakmampuannya menangkap kompleksitas dan improvisasi dalam musik gamelan. Proses ini diperkuat oleh tokoh seperti Ki Hadjar Dewantara, yang berupaya memodernisasi gamelan agar diakui secara internasional. Pengenalan pendidikan musik formal dan notasi juga menyebabkan peralihan dari seni gamelan yang bersifat kolektif dan improvisatif menjadi seni yang lebih terstruktur dan terstandarisasi. Dalam konteks ini, konsep waktu dalam gamelan juga berubah dari "waktu yang dirasakan" menjadi "waktu jam", yang mengutamakan keteraturan. Meskipun ini membawa gamelan ke dalam kerangka yang lebih objektif, hal ini juga menurunkan kebebasan ekspresi yang sebelumnya menjadi inti dari seni gamelan
Sukatani controversy: Music and resistance
This article examines the controversy surrounding the Indonesian music group Sukatani, highlighting the role of music as a tool of resistance against institutional hegemony, particularly in the context of social media influence and social control. Sukatani’s song "Buyar Bayar Bayar" went viral on social media, prompting a reaction from authorities, such as the Indonesian National Police, who sought to suppress its critical message. In this context, music serves not only as a medium of free expression but also as an instrument of social control used by those in power to maintain the status quo. However, music also holds the potential to be an effective form of resistance, amplifying dissenting narratives within society. Despite institutional pressure to remove the song, public discourse continued across social media, demonstrating that resistance to hegemony remains possible. This article connects theories such as Gramsci’s concept of hegemony and Adorno’s critique of music’s role in sustaining or challenging power structures. Through social media, music has become a space for discussion, enabling the mobilization of public opinion and resistance against institutional domination
PERPAJAKAN
Pembaca akan menjelajahi beragam
aspek yang mendasari sistem perpajakan, mulai dari prinsi prinsip dasar hingga evolusi inovasi dan tren terbaru. Dari sini,pemahaman mengenai jenis-jenis pajak dalam Bab 2,
perencanaan pajak, pemeriksaan pajak, hingga kebijakan fiskal
dalam bab-bab berikutnya akan semakin terbentuk secara
utuh. Bab pertama menjadi landasan yang kokoh untuk
memahami peran serta dampak sistem perpajakan terhadap
berbagai aspek kehidupan ekonomi dan sosial
PLATFORM INDONESIANA : STUDI TENTANG TATA KELOLA FESTIVAL SENI BUDAYA OLEH NEGARA
Penelitian ini membahas tentang Platform Indonesiana, untuk menjelaskan mengenai bagaimana Negara melakukan pengelolaan kebudayaan melalui kegiatan festival, strategi yang diterapkan, persoalan-persoalan yang dihadapi serta hasil yang dicapai. Sebuah program dengan nama Platform Indonesiana, dilansir oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, pada tahun 2017 sebagai implementasi dari amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Program Platform Indonesiana yang diwujudkan melalui aktivitas tata kelola festival dimaksudkan untuk menguatkan ekosistem kebudayaan, pengelolaan pengetahuan dan mendorong cara kerja gotong-royong dalam pemajuan kebudayaan daerah-daerah.
Penelitian ini secara kualitatif menjelaskan mengenai bagaimana program Platform Indonesiana dirancang dan dilaksanakan untuk menunjukkan proses, kerumitan-kerumitan yang ada, serta resistensi, negosiasi, simbiosis yang terjadi. Melalui telaah kritis secara partisipatoris terhadap sejumlah kasus penyelenggaraan festival yang pendanaanya didukung oleh pemerintah.
Penelitian ini menemukan bahwa tata kelola objek pemajuan kebudayaan oleh negara guna membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan menemui beberapa persoalan yang bersumber pada perbedaan atau kesenjangan antara konstruksi dan tata kelola sekurang-kurangnya tiga pihak, yaitu konstruksi dan tata kelola formal oleh pemerintah, individu-individu yang menjadi agen pemerintah dan komunitas. Perbedaan dan kesenjangan tersebut berpeluang untuk disinergikan melalui agen-agen yang terlibat, tetapi berpotensi pula melahirkan disharmony bahkan konflik. Keberhasilan mengelola perbedaan dan kesenjangan tersebut mempengaruhi keberhasilan platform dalam festival-festival tersebut
KELENGKAPAN RITUAL SADRANAN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA KEBAYA SRADDHA
Tugas Akhir Kekaryaan ini mengangkat tema Kelengkapan Ritual Sadranan
Sebagai Sumber Ide Penciptaan Motif Batik Untuk Busana Kebaya. Komponen
proses dan karakteristik pada ritual sadranan membangun jiwa pengkarya untuk
lebih lanjut mengeksplorasi ke dalam bentuk motif batik dengan tujuan sebagai
salah satu cara untuk mengenalkan ritual sadranan dengan kemasan yang baru.
Batik tulis motif ritual sadranan diaplikasikan kedalam busana kebaya dengan
menekan kenyamanan dan mencermikan gaya hidup masyarakat Indonesia tanpa
melupakan trend mode busana saat ini. Informasi data didapat dari studi pustaka.
Penciptaan karya batik tulis menggunakan metode penciptaan seni yaitu eksplorasi,
inkubasi, konsepitualisasi dan materialisasi (perwujudan). Teknik yang digunakan
dalam proses penciptaan karya adalah teknik batik tulis dengan menggunakan kain
jenis katun primisima. Teknik pembatikan yang digunakan adalah teknik batik
dengan proses pewarnaan tutup celup dan colet. Pemilihan warna yang akan
digunakan pada pembuatan batik busana kebaya ini menggunakan tone warna
coklat kehitaman yang berasal dari pewarna batik remasol. Hasil karya berjumlah
4 busana kebaya dengan judul sraddha, smara, rahayu, sandya
TANAMAN PORANG DI MADIUN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK DALAM BUSANA CASUAL HARAJUKU
Tugas akhir berjudul “Tanaman Porang di Madiun Sebagai Sumber Ide
Penciptaan Motif Batik Dalam Busana Casual Harajuku”. Tujuan penciptaan
yaitu menerapkan motif tanaman porang beserta olahannya menjadi busana casual
Harajuku. Gagasan penciptaan dalam pembuatan karya difokuskan pada (1)
Bagaimana menciptakan desain motif tanaman porang beserta olahannya; (2)
Bagaimana menciptakan desain busana casual Harajuku; (3) Bagaimana
mengaplikasikan motif porang kedalam busana casual Harajuku. Metode yang
digunakan dalam penciptaan karya menggunakan empat tahap yaitu eksplorasi,
inkubasi, konseptualisasi, dan perwujudan. Proses batik dalam karya melalui
teknik batik tulis yang dilanjutkan pada proses pewarnaan berupa teknik colet dan
lukis. Luaran tugas akhir ini berupa (1) Empat busana casual Harajuku; (2)
Teasaer proses tugas akhir; (3) Katalog; dan (4) Draf artikel ilmiah. Pada karya ini
terdapat empat judul karya busana yaitu “Rasa Khanti”, “Mukti Bija”, “Raras
Puspita”, dan “Aruna Porang” yang mengangkat tentang bagian dari tanaman
porang beserta hasil dari olahan tanaman tersebut. Hasil akhir dari penciptaan
karya ini sesuai untuk busana casual streetwear
KOMPARASI INDIVIDUAL DAN PENEMUAN VARIASI ELEMEN VISUAL STUDI KASUS POSTER FILM ANIMASI DAN LIVE ACTION THE LITTLE MERMAID
Poster film berperan dalam menarik perhatian serta membentuk ekspektasi audiens terhadap sebuah film. Seiring dengan perkembangan industri film, desain poster mengalami perubahan yang signifikan, terutama dalam transisi dari film animasi ke live action. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan individual dan penemuan variasi elemen visual dalam poster The Little Mermaid versi animasi (1989) dan live action (2023), fokus pada warna, gambar, tipografi, dan tata letak. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis visual berdasarkan teori dari Timothy Samara (2007) dalam bukunya Design Elements: A Graphic Design Style Manual dan teori studi komparatif dari Pickvance (2015). Penelitian ini mengungkap perbedaan individual dan penemuan variasi elemen visual dalam poster film mencerminkan perubahan pendekatan estetika yang disesuaikan dengan target audiens serta perkembangan desain. Hasil komparasi individual menunjukkan bahwa poster animasi (1989) menggunakan warna dengan saturasi tinggi, ilustrasi kartun, serta tipografi sederhana. Sebaliknya, poster live action (2023) menampilkan warna dengan saturasi lebih rendah, tone realistis, dan tipografi minimalis. Tata letak animasi lebih dinamis dan terpusat pada karakter utama, sedangkan live action dengan pencahayaan dramatis. Sementara itu, komparasi penemuan variasi mengungkap bahwa perubahan elemen visual mencerminkan perbedaan target audiens dan tren desain di setiap era. Poster animasi (1989) menampilkan ilustrasi cerah dan ekspresif yang menarik bagi anak-anak (2-12 tahun), sementara poster live action (2023) mengusung ilustrasi fotorealistik dengan efek CGI, lebih sesuai dengan preferensi remaja dan dewasa muda (13-25 tahun).
Kata kunci: Elemen Visual; Poster Film; Studi Komparasi; The Little Mermai