7065 research outputs found
Sort by
BENTUK, FUNGSI DAN MAKNA ORNAMEN PADA INTERIOR MASJID CHENG HOO PANDAAN
Penelitian dengan judul “Bentuk, Fungsi, dan Makna Ornamen Pada Interior
Masjid Cheng Hoo Pandaan” ini dilatarbelakangi oleh keunikan arsitektur dan
interior bangunan Masjid Cheng Hoo Pandaan yang menggambarkan akulturasi
budaya Timur Tengah, Tiongkok dan Jawa secara harmonis dalam
pengaplikasiannya, termasuk pada ornamen-ornamen di dalamnya. Penelitian ini
bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk, fungsi dan makna ornamen pada interior
hingga eksterior Masjid Cheng Hoo Pandaan. Strategi penelitian menggunakan
deskriptif kualitatif dengan Teknik pengumpulan data melalui observasi,
wawancara dengan narasumber, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan
berlandaskan teori bentuk, fungsi dan semiotika untuk menafsirkan makna yang
terkandung dalam tiap ornamen. Hasil penelitian sebagai berikut, ornamen yang
diaplikasikan merupakan hasil representasi budaya Timur Tengah, Tiongkok dan
Jawa. Terdiri dari ornamen geometris, floral, dan dekoratif. Makna ornamenornamen tersebut merepresentasikan nilai-nilai spiritual Islam yang dipadukan
dengan filosofi budaya Tiongkok dan Jawa, menciptakan harmoni antara kedua
budaya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ornamen pada Masjid Cheng Ho
tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai simbol akulturasi
budaya yang memperkaya khazanah arsitektur masjid di Indonesia
REDESAIN INTERIOR GEDUNG SOLO TRADE CENTER SEBAGAI CREATIVE HUB BERGAYA KONTEMPORER DI SURAKARTA
ABSTRAK
REDESAIN INTERIOR GEDUNG SOLO TRADE CENTER SEBAGAI
CREATIVE HUB BERGAYA KONTEMPORER DI SURAKARTA, Tugas Akhir Karya
S-1 Program Studi Desain Interior, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut
Seni Indonesia Surakarta.
Kota Surakarta, sebagai pusat budaya dan industri kreatif, telah mengembangkan
berbagai ruang kreatif untuk mendukung pertumbuhan sektor industr kreatif. Pemerintah
setempat berkomitmen untuk menjadikan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung
pendapatan daerah. Dalam konteks ini, Gedung Solo Trade Center di Solo Technopark
menjadi fokus perancangan ulang untuk menciptakan Creative Hub yang dapat
memfasilitasi kebutuhan komunitas kreatif. Proyek ini bertujuan untuk mendesain interior
gedung dengan menerapkan gaya kontemporer dan tema "Pohon Sala", yang
mencerminkan identitas lokal serta memberikan suasana yang mendukung kreativitas dan
produktivitas. Redesain ini menggunakan metode desain kurtz, dalam metode ini terdapat
tiga tahap, tahap orientasi, tahap pembuatan program dasar, pengulangan pemrograman,
desain. Redesain ini akan mengatasi masalah kurangnya ruang bagi generasi muda untuk
menyalurkan ide-ide kreatif dan berkolaborasi. Dengan mengintegrasikan elemen-elemen
alam dan pencahayaan alami, diharapkan desain baru ini tidak hanya memenuhi kebutuhan
fungsional tetapi juga menciptakan lingkungan yang estetis dan nyaman. Melalui
perancangan ini, diharapkan Gedung Solo Trade Center dapat berfungsi sebagai wadah
inovasi dan kreativitas, serta mendorong kemajuan budaya dan ekonomi lokal
BLUEPRINT KALIMANTAN SAAT INI : KONTINUITAS DAN TANTANGAN
Hak Cipta Buku berjudul BLUEPRINT KALIMANTAN SAAT INI : KONTINUITAS DAN
TANTANGA
Musik dalam Historiografi
Artikel ini mengkaji pentingnya musik sebagai sumber sejarah alternatif yang selama ini terpinggirkan dalam historiografi Indonesia. Musik, terutama lagu-lagu rakyat dan pop tradisional dari daerah seperti Banyuwangi, tidak hanya mencerminkan ekspresi estetik, tetapi juga mengandung narasi sosial-politik yang kuat. Penulis menyoroti bagaimana karya musik di masa lalu, seperti lagu “Kembang Sore” atau “Mandur Jagung”, memuat kritik terhadap ketimpangan agraria dan menjadi sarana artikulasi kelompok yang dimarginalkan, termasuk dalam konteks represi politik Orde Baru. Dengan pendekatan hermeneutik dan refleksi Foucault tentang kuasa-pengetahuan, artikel ini mengusulkan penulisan sejarah musik yang lebih inklusif dan partisipatif, melibatkan musikus lokal sebagai narasumber aktif, bukan objek pasif. Musik dipandang bukan sekadar simbol ideologis, melainkan sebagai medium penyintas trauma kolektif dan alat rekonsiliasi sejarah. Kajian ini menekankan perlunya kerangka metodologis yang mengintegrasikan tradisi lisan dan ekspresi musikal ke dalam historiografi. Dengan demikian, musik dapat memperkaya narasi sejarah bangsa yang lebih beragam, kritis, dan manusiawi, serta membuka ruang bagi pemaknaan ulang masa lalu secara lebih egaliter dan reflektif
BUKU ILUSTRASI SEBAGAI MEDIA BELAJAR PENGENALAN EMOSI EKSPRESI PADA ANAK AUTISME STUDI KASUS: SISWA SLB AUTIS ALAMANDA SURAKARTA
Data Kemenkes mengatakan bahwa berdasarkan data terakhir tahun 2021 kenaikan drastis anak dengan autisme mencapai 2,4 juta penderita, dengan lonjakan pertumbuhan 1:500 orang per tahunnya yang dalam kesehariannya mengalami kesulitan dalam membedakan dan mengungkapkan emosi ekspresinya. Beberapa topik pembelajaran kurikulum Sekolah Luar Biasa yang memenuhi syarat yang perlu diberikan pada siswa di antaranya pengembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Anak dengan autisme memiliki emosi yang tidak stabil sehingga akan lebih sulit untuk mengajarkan mereka dengan secara langsung karena dapat menyebabkan gejolak emosi itu bertentangan dengan keinginan anak itu sehingga terbentuklah ide untuk membuat media belajar yang menarik bagi siswa SLB Autis Alamanda untuk belajar emosi ekspresi yaitu dengan menggunakan buku ilustrasi soft book interaktif yang memungkinkan pengguna untuk mengenal berbagai macam ekspresi yang ada pada diri manusia dengan mengimplementasikannya di kehidupan sehari hari yang memadukan unsur permainan puzzle agar lebih menarik minat anak yang perancangannya menggunakan metode perancangan ADDIE dengan pengumpulan jenis data primer dan sekunder. Selain itu juga menggunakan metode AISAS sebagai acuan dalam menciptakan media promosi yang menarik. Perancangan buku melalui pengawasan pihak guru dan ahli psikolog SLB Autis Alamanda Surakarta.
Kata Kunci: autisme, emosi ekspresi, media belajar, SLB Autis Alamanda Surakart
MELAWAN GARIS KUNING, MELANTAS MEMORY OF THE WORLD
Orasi ilmiah ini mengelaborasi perjalanan artistik Dr. Eko Supriyanto dalam mengembangkan praktik penciptaan tari sebagai bentuk refleksi sosial dan diplomasi budaya. Berangkat dari pengalaman personal di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste, khususnya Kabupaten Belu, pidato ini menjadikan trauma pascakonflik sebagai latar penciptaan karya tari "IbuIbu Belu: Bodies of Border". Karya tersebut tidak hanya menyoroti beban psikologis perempuan akibat konflik politik, tetapi juga mengangkat nilai-nilai tradisi Likurai sebagai narasi rekonsiliasi dan agensi budaya. Pengalaman bersama masyarakat pedesaan, khususnya di Bandungrejo (Magelang), menjadi laboratorium budaya yang mempertemukan ekologi pertanian dengan praktik tari Soreng. Melalui pendekatan new dramaturgy dan inkuiri koreografis, orasi ini menegaskan pentingnya memahami seni sebagai proses investigatif, bukan sekadar produk estetika. Dengan merujuk pada narasi Panji yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World, orasi ini merefleksikan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi alat diplomasi budaya, pengobatan kolektif, dan pembangunan kepemimpinan berbasis etika. Praktik seni tari dipahami sebagai bentuk perlawanan simbolik sekaligus upaya regeneratif dalam menjaga keberlanjutan budaya dan lingkungan
BATIK SINDU MELATI SEBAGAI CERMINAN PENGUATAN IDENTITAS KABUPATEN KLATEN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan makna yang terkandung di dalam Batik Sindu Melati yang telah ditetapkan sebagai batik khas Kabupaten Klaten. Kehadiran batik tersebut dapat menjadi bentuk penguatan identitas khususnya dalam kesenian batik Klaten yang selama ini dianggap banyak mendapat pengaruh dari batik Solo dan Yogyakarta. Hal tersebut membuat eksistensi batik Klaten seringkali kalah pamor dan membuat batik Klaten kurang dikenali akan ciri khasnya. Penelitian ini dirasa penting sebagai upaya pelestarian kesenian batik khas Kabupaten Klaten serta bentuk pengenalan mengenai Batik Sindu Melati sehingga dapat dipahami masyarakat secara lebih luas. Metode penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif dan perspektif analisis semiotika. Teori yang digunakan adalah semiotika Roland Barthes yang berkaitan dengan pemaknaan denotatif, konotatif serta mitos. Hasil penelitian menunjukkan motif Batik Sindu Melati mencerminkan kekayaan alam dan kearifan lokal daerah. Sindu merepresentasikan potensi umbul, sedangkan melati berkaitan dengan asal-usul nama Kabupaten Klaten dan upaya mengangkat tokoh penting Kabupaten Klaten yaitu Kiai Melati. Mitos yang muncul pada Batik Sindu Melati yaitu mitos keanggunan, kemurnian, kesetiaan, kebanggaan dan identitas loka
FOTOGRAFI SEBAGAI MEDIA DALAM MENINGKATKAN PENGUNJUNG DAN MENGEMBANGKAN MINAT BELAJAR ANAK-ANAK DI TAMAN CERDAS SOEKARNO HATTA SURAKARTA
Penelitian pemula ini berjudul Fotografi sebagai Media dalam Meningkatkan Pengunjung dan Mengembangkan Minat Belajar Anak-Anak di Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta. Tujuan dari penelitian ini yakni pertama, untuk mengetahui bagaimana teknik fotografi yang tepat untuk menampilkan keindahan dan keeksotikan Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta. Kedua, untuk mengetahui bagaimana strategi mempromosikan Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta melalui media fotografi sehingga menarik minat belajar dan mengembangkan intelegensi anak-anak. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode penciptaan, yakni dengan tahapan metode observasi, eksplorasi, eksperimen dan selanjutnya pengerjaan karya. Observasi yang telah dilakukan, penulis melihat bahwa taman cerdas ini telah menyediakan fasilitas antara lain tempat bermain anak, ruang serbaguna, perpustakaan, ruang IT, ruang teater terbuka, dan ruang audio visual. Ada juga radio anak dan ruang gamelan dan masih banyak fasiltas permainan lainnya. Ruang, fasilitas dan pengunjung merupakan objek pemotretan yang selanjutnya akan menjadi karya fotografi. Hasil penelitian ini berupa teknik fotografi dan strategi mempromosikan Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta melalui media fotografi. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi meningkatkan pengunjung Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta, yakni dengan membuat karya fotografi sebagai media promosi sehingga secara tidak langsung dapat mengembangkan minat belajar anak-anak melalui Taman Cerdas Soekarno Hatta Surakarta
PENGARUH TREND FAST FASHION PADA REMAJA SEBAGAI INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI GRAFIS
Laporan penciptaan Karya Tugas Akhir yang berjudul “Pengaruh Trend Fast
Fashion pada Remaja sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Grafis” terinspirasi dari
fenomena fast fashion. Penciptaan karya seni grafis pada Tugas Akhir disusun sebagai
bentuk refleksi dan ekspresi terhadap fenomena fast fashion pada kalangan remaja saat ini.
Karya-karya yang diciptakan juga menyampaikan dampak negatif dari trend fast fashion.
Penciptaan karya Tugas Akhir seni grafis diwujudkan dengan tahapan teknik silkscreen
pada media kertas. Penciptaan karya seni grafis ini menggunakan metode yang
dikemukakan oleh L.H. Chapman, meliputi tiga tahapan yaitu: upaya menemukan gagasan
awal, mengembangkan, menyempurnakan dan memantapkan gagasan awal, dan visualisasi
dalam medium. Penciptaan karya seni grafis Tugas Akhir ini dapat memberikan wawasan
tentang dampak negatif dari fast fashion. Hasil yang diperoleh dari penciptaan karya Tugas
Akhir adalah karya seni grafis dengan visual dan deskripsi yang dihadirkan terinspirasi dari
fast fashion. Adapun harapan pada penciptaan karya Tugas Akhir ini bisa berguna bagi
pribadi, Lembaga Pendidikan dibidang seni khususnya Institut Seni Indonesia Surakarta,
dan bagi Masyarakat
Senja Kala Ruang Publik
Fenomena sound horeg di ruang publik memunculkan polarisasi tajam di masyarakat. Sebagian pihak mendukungnya sebagai bentuk ekspresi budaya dan hiburan yang sah, sementara pihak lain menentangnya karena dianggap sebagai polusi suara yang berdampak buruk pada kesehatan. Perdebatan ini tidak sekadar menyangkut volume suara yang mengguncang gendang telinga, tetapi juga mencerminkan benturan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial di era modern. Sound horeg menjadi simbol dinamika masyarakat kontemporer dalam berinteraksi dengan teknologi, memanfaatkan ruang publik, dan menegosiasikan norma kolektif. Kontroversi ini memicu pertanyaan ulang mengenai relevansi regulasi, tingkat kesadaran akan kesehatan publik, serta makna ruang bersama dalam konteks sosial yang semakin individualistik. Penyelesaiannya tidak cukup dengan mengurangi intensitas suara, melainkan memerlukan peningkatan empati, kebijaksanaan kolektif, dan pemahaman lintas kelompok. Pendekatan ini dapat menciptakan keseimbangan antara penghormatan terhadap budaya populer dan perlindungan hak masyarakat atas lingkungan akustik yang sehat. Fenomena ini menuntut keterlibatan pemerintah, pelaku budaya, dan masyarakat luas untuk merumuskan solusi yang adil, adaptif, dan berkelanjutan