7065 research outputs found
Sort by
INTERPRETASI DEPRESI MAYOR DALAM KARYA TARI GUTTED
Skripsi karya Ilmiah berjudul "Interpretasi Depresi Mayor dalam Karya Tari Gutted" (Agrissa Gathrie Sakathresna, 2023). Skripsi karya Ilmiah Program Studi S-1 Tari, Prodi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Tari Gutted terinspirasi dari pengalaman pribadi koreografer yang merujuk pada gangguan kesehatan mental yang banyak dialami masyarakat karena adanya pandemi covid 19. Hal ini karena peristiwa covid berpotensi membuat kehidupan bermasyarakat menjadi tertekan, depresi, stress, dan ketakutan berlebih yang memicu terjadinya gangguan kesehatan mental. Karya tari Gutted dikemas dengan sajian tari duet, bentuk gerak, kostum, dan musik dalam karya tari Gutted banyak menggunakan intensitas gerak pelan dan mengalir.
Untuk menganalisa masalah bentuk tari Gutted menggunakan konsep Y. Sumandyo Hadi, sedangkan untuk membedah proses penciptaan karya tari Gutted menggunakan teori Alma Hawkins dalam buku Bergerak Menurut Kata Hati Metode Baru dalam Mencipta Lewat Tari yang diterjemahkan oleh I Wayan Dibia.
Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa tari Gutted berbentuk duet, garapan tari terdiri bagiaan pertama, bagian kedua, dan bagian ketiga. Proses karya tari Gutted terdiri dari empat taham utama yaitu melihat, merasakan, mengkhayalkan dan pembentukan. Pada tahap pembentukan dilakukan lagi beberapa proses. Proses eksplorasi merupakan tahap pencarian berbagai hal meliputi bentuk, teknis, dan eksperimentasi. Improvisasi merupakan pengalaman secara spontanitas atau mencari-cari kemungkinan ragam gerak silat yang di peroleh pada waktu eksplorasi kemudian di kembangkan dari aspek tenaga, ruang atau tempo dan ritmenya. Komposisi, elemen-elemen tersebut di susun menjadi satu rangkaian alur garapan yang utuh. Evaluasi, pengukuran serta penilaian dari susunan karya yang telah dibuat.
Kata kunci: Tari Gutted, gangguan mental, bentuk, proses
MONTOR-MONTOR CILIK INTERPRETASI LAGU DOLANAN
Karya seni ini berjudul “Montor-Montor Cilik: Interpretasi Lagu Dolanan”. Penciptaan karya musik ini dilatarbelakangi oleh pengalaman empiris pengkarya atas lagu dolanan yang berjudul “Montor-Montor Cilik”, yang lekat di benak penulis semasa kecil. Interpretasi lagu “Montor-Montor Cilik” diekspresikan dengan suasana gembira. Representasi tersebut sesuai dengan rasa yang dialami pengkarya selama masa kecil ketika bermain yang diliputi rasa senang. Senang karena bermain meninggalkan beban. Lagu tersebut kemudian diinterpretasi dan diumgkapkan ulang dengan karya musik garapan baru dengan sentuhan konsep-konsep musik kontemporer. Pendekatan garap musik karya ini adalah konsep-konsep karawitan gadon dan keroncong, yang kemudian dipadukan dengan pola-pola musik eksperimental. Proses penciptaan karya ini dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan, tahan pengerjaan dan tahap penyajian. Tahap persiapan meliputi menentukan dan mengumpulkan bahan. Tahap pengerjaan meliputi penuangan konsep, eksplorasi, mengkonstruksi pola, kemudian pengemasan. Tahap terakhir adalah penyajian, penyajian dilakukan dengan perekaman video secara live. Karya musik ini dibentuk oleh enam instrumen, yaitu gender, gambang, darbuka, cello, ketuk kempyang, dan suling Jawa. Konstruksi musiknya dibangun dengan tema gembira. Tema gembira dibangun melalui ritik keroncong nyemek
Strategi Mempertahankan Popularitas Melalui Kegiatan Promosi Media Digital (Studi Kasus Pada Produksi Musik Hendra Kumbara)
Setiap tahun Industri musik selalu menampilkan musisi baru dan memiliki ciri khas masing-masing dalam berkarya, tentu akan banyak seniman baru dengan karakter berbeda-beda. Salah satu strategi industri musik yang dilakukan yaitu meningkatkan marketing pada produksi musik. Hal ini tidak hanya soal promosi akan tetapi industri musik juga memikirkan tentang mencuri perhatian, membangun loyalitas, mendorong aksi, hingga bagaimana cara mengedukasi dan menghibur lewat konten yang disajikan. Hendra Kumbara merupakan musisi Jawa yang memiliki popularitas dikalangan anak muda di era digitalisasi, lagu Dalan Liyane merupakan salah satu karya yang menunjang kepopuleranya dimedia digital. Selain itu, Ia juga mengembangkan industri musik untuk ruang kreatif di kota Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi produksi musik Hendra Kumbara dalam mempertahankan popularitas melalui kegiatan promosi media digital. Penelitian yang digunakan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka yang dipilih sesuai dengan topik pembahasan mengenai kreativitas bermusik dalam mempertahankan popularitas melalui media digital. Hasil penelitian membuktikan bahwa: (1) produksi musik Hendra Kumbara dalam mempertahankan popularitas melalui kegiatan promosi media digital dengan mengetahui konsep produksi musik dan strategi pemasaran melalui platform media digital. (2) strategi yang dilakukan dengan mengetahui kemampuan musikal dan memasarkan karya musik melalui media platform digital Youtube, Instagram, TikTok, Spotify, Joox, I Tunes Apple music, Dezzer.
Kata kunci: strategi, popularitas, musisi, media digital
GARAP DAN PERAN MUSIK DALAM PERTUNJUKAN SORENG WAHYU SANTOSO BUDOYO DI DESA NGABLAK, KECAMATAN NGABLAK, KABUPATEN MAGELANG
Penelitian dengan judul “Garap dan Peran Musik dalam Pertunjukan Soreng Wahyu Santoso Budoyo di Desa Ngablak, Kecamatan Ngablak ,Kabupaten Magelang” ini berusaha memecahkan permasalahan tentang garap dan peran musik, meliputi : (1) Bagaimana garap musik pertunjukan Soreng Wahyu Santoso Budoyo di Dusun Bandongan Kulon Desa Ngablak?; dan (2) Bagaimana peran musik dalam pertunjukan soreng Wahyu Santoso Budoyo?. Dua permasalahan tersebut dikaji dengan landasan teori mengenai garap dan peran musik kemudian dideskripsikan tentang garap dan peran musik menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik observasi, wawancara, dan studi pustaka dalam pengumpulan data. Dalam penelitian ini penulis juga menggunakan teknik analisis data meliputi: pemrosesan data, kategorisasi, dan penafsiran data.
Hasil penelitian yang telah ditemukan atas pertanyaan yang menjadi masalah yakni: Pertama, bentuk kesenian soreng dan garap musik soreng yang digunakan pada pertunjukan soreng Wahyu Santoso Budoyo. Garap musiknya yang meliputi tiga hal diantaranya: (1) materi garap (2) sarana garap dan (3) prabot garap. Kedua, peran musik pada kesenian soreng Wahyu Santoso Budoyo yang meliputi (1) peran musik sebagai pengiring (2) peran musik sebagai pemberi suasana dan (3) peran musik sebagai ilustrasi.
Kata kunci: Soreng, Garap, Peran Musi
SURANINGRAT, GENDHING KETHUK 4 ARANG MINGGAH 8 LARAS PELOG PATHET BARANG : KAJIAN TAFSIR GARAP GENDER
Skripsi karya seni yang berjudul Suraningrat, Gêndhing kêthuk 4 Arang Minggah 8 Laras Pélog Pathêt Barang : Kajian Tafsir Garap Gêndèr ini menjelaskan tentang kajian gendèran Gêndhing Suraningrat. Suraningrat merupakan repertoar gending Surakarta yang belum pernah terdokumentasikan serta perlu direvitalisasi. Penyajian gending ini dilakukan dengan garap mandhêg, garap ciblon irama wilêd, dan rangkêp.
Penelitian ini berpijak pada penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi yaitu studi pustaka, observasi, dan wawancara. Landasan konseptual yang digunakan mengacu pada teori garap, konsep pathet, céngkok mati, dan mungguh.
Analisis yang dilakukan mendapat hasil bahwa inggah gêndhing dapat disajikan menggunakan irama wilêd dan rangkêp dengan analisis inggah setara versi Rondhon (sak Rondhon). Terdapat céngkok mati ya bapak yang digarap rangkêp. Penerapan wilêdan céngkok gendèr bagian mérong menggunakan teknik kêmbang tiba dan inggah menggunakan teknik ukêl pancaran. Analisis pathêt gêndhing Suraningrat menggunakan biang pathêt laras sléndro. Penulis mengungkap fakta bahwa di dalam gending pathêt pélog barang tidak semata-mata hanya menggunakan céngkok bercorak pathêt manyura saja. Terdapat indikasi pathêt lain yaitu nêm dan sanga tapi kedua pathêt tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang sehingga pathêt manyura lebih mendominasi.
Kata kunci: Suraningrat, gêndhing, gendèran, tafsir garap
KARAKTERISTIK GARAP SULUK SENDHONAN DALAM PAKELIRAN BANYUMASAN
Skripsi ini mengkaji tentang karakteristik garap suluk sendhonan dalam pakeliran Banyumasan. Permasalahan utama yang diungkap adalah: (1) Bagaimana garap suluk sendhonan dalam pakeliran Banyumasan? (2) Bagaimana karakteristik garap suluk sendhonan dalam pakeliran Banyumasan? (3) Mengapa terdapat perbedaan garap dan karakteristik pada sajian suluk sendhonan Banyumasan dengan suluk sendhonan gaya Surakarta? Permasalah tersebut dikaji menggunakan konsep garap dari Rahayu Supanggah.
Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data-data yang didapat dan dikumpulkan bersumber dari studi pustaka, catatan hasil wawancara dengan narasumber, rekaman-rekaman suluk sendhonan Banyumas yang kemudian ditranskripsi menjadi notasi karawitan, dan dokumentasi peristiwa yang terkait dengan objek penelitian. Data penelitian yang telah terkumpul kemudian diolah secara sistematis agar menjadi sebuah informasi yang urut dan jelas.
Hasil penelitian ini adalah sajian garap suluk sendhonan Banyumasan menunjukkan karakteristik garap yang khas. Garap vokal yang khas dan sangat spesifik, ditunjukkan pada garap swara mêthit dan céngkok laras miring dalam lagu suluk sendhonan. Sajian vokal pada bagian umpak-umpakan mirip dengan teknik sindhenan. Garap Garap Garap suluk sendhonan Banyumasan menggunakan vokabulervokabulervokabulervokabuler vokabuler vokabuler suluk pathetansuluk pathetansuluk pathetan suluk pathetansuluk pathetansuluk pathetan suluk pathetan suluk pathetansuluk pathetan, suluk palaran suluk palaran suluk palaransuluk palaransuluk palaran suluk palaran suluk palaran, dan dan garap garap garap jin êman di bagian bagian bagian bagian umpakumpak -umpakanumpakan umpakanumpakan. Ricikan garap icikan garap icikan garap icikan garap icikan garap icikan garap icikan garap icikan garap yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian yang terlibat dalam bagian umpakumpak -umpakanumpakan umpakanumpakan menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler menggunakan vokabuler garap cengkok garap cengkok garap cengkok garap cengkok garap cengkokgarap cengkok garap cengkokgarap cengkok-cengkok seleh. cengkok seleh.cengkok seleh. cengkok seleh.cengkok seleh.cengkok seleh.cengkok seleh. cengkok seleh. Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut Kendhangan pinatut digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian digunakan pada sajian umpakumpak -umpakanumpakan umpakanumpakan. Unsur Unsur Unsur garap garap garap dalam sajian alam sajian alam sajian alam sajian alam sajian alam sajian suluk uluk uluk uluk sendhonan sendhonan sendhonan sendhonan sendhonan sendhonan Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik Banyumasan membentuk karakteristik garap garap garap sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi sekaligus menjadi ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan ciri yang membedakan dengan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan garap suluk sendhonan gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. gaya Surakarta. Keragaman vokabuler garap yang digunakan dalam sajian suluk sendhonan Banyumasan menimbulkan karakteristik garap yang khas, yaitu umêk.
Kata kunci: Karakteristik, garap, sendhonan, Banyumasan
FILOSOFI KEHIDUPAN SEMUT SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya
yang teratur beranggotakan ribuan semut per koloni. Anggota koloni terbagi
menjadi semut pekerja, semut pejantan, dan ratu semut. Satu koloni dapat
menguasai daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka. hal tersebut,
buat ketertarikan pencipta mencoba menafsirkan kehidupan semut dalam filosofi
perilaku semut. Filosofi perilaku dalam artian komunikasi dalam koloni, taktik
pertahanan, melestarikan rasnya, mencari makan dan pengorbanan semut dalam
koloninya, kehidupan semut di jadikan metafora dalam konteks perilaku semut.
Tujuan penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan tahapan-tahapan
berdasarkan landasan teori L.H Chapman tentang proses penciptaan karya, yang
menyebutkan ada 3 tahapan penciptaan karya yaitu, 1). Upaya menemukan
gagasan, 2). Observasi, Menyempurnakan, mengembangkan dan memantapkan
gagasan awal 3). Visual dalam ke medium. Teknik yang digunakan dalam
mewujudkan karya pada penciptaan karya ini adalah dengan teknik blocking
(plakat) yang mengacu kepada cara kerja penciptaan karya dekoratif seperti
membuat komposisi objek, menciptakan gelap terang, penambahan aksen.
Hasil dari penciptaan ini berupa karya seni lukis, dalam wujud karya yang
dibuat mengandung beberapa aspek, baik aspek gagasan serta konsep yang dikenal
dengan aspek ideoplastis dan wujud karya secara fisik meliputi hasil dari teknik
penggarapan elemen visual dengan segala aturan seni lukis disebut dengan aspek
fisikoplastis dari hasil proses penciptaan ini semuanya bertemakan kehidupan
semut sebagai objek utama. yang diungkap secara imajinatif
PROSES KREATIF PENYUTRADARAAN DOKUMENTER PERFORMATIF FILM “SUNGAI” OLEH TONNY TRIMARSANTO
“Proses Kreatif Penyutradaraan Dokumenter Performatif Film “Sungai” Oleh Tonny Trimarsanto.” (Syifa’ Ghaits Nabila Salsabil, i-xiii. 1-98) Skripsi Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Tonny Trimarsanto adalah sutradara film dokumenter asal Klaten. “Sungai” menjadi salah satu film dokumenter performatif karya Tonny Trimarsanto. Penelitian ini mengkaji tentang proses kreatif eksperimentasi Tonny Trimarsanto sebagai sutradara, dalam penyutradaraan film “Sungai” sebagai film non dialog dengan penekanan aspek performa, eksplorasi subjektivitas, peristiwa, tempat, kejadian, dan subyek film. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan menjabarkan tahapan proses produksi film dokumenter performatif “Sungai” dari pengembangan ide, penerapannya dalam visual mise en scene hingga editing. Pengumpulan data untuk penelitian ini dilakukan dengan (1) Wawancara, dan (2) Observasi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, film “Sungai” melakukan penekanan aspek subjektivitas, eksplorasi, dan eksperimentasi gaya performatif sebagai bentuk proses kreatif penyutradaraan sebuah film. Penekanan unsur dokumenter performatif yang dilakukan oleh Tonny Trimarsanto dibaca melalui teori tahapan berpikir kreatif Graham Wallas, terdiri dari: (1) Preparation: Keinginan Tonny Trimarsanto dalam menjawab pertanyaan tragedi sejarah yang menjadi tujuan penciptaan film “Sungai”, (2) Incubation: Proses penghayatan dengan wawancara untuk menyegarkan data terkait tragedi politik tahun 1965. (3) Illumination: Menerapkan aspek dokumenter performatif yaitu penekanan subjektivitas dan fleksibelitas dalam penyutradaraan film “Sungai”. (4) Verification: Penarapan ciri khas proses kreatif penyutradaraan Tonny Trimarsanto pada film, melalui penggunaan draf naskah sebagai acuan penyutradaraan namun tetap fleksibel dalam proses produksi filmnya
CANDRANINGSIH, GENDHING KETHUK 2 KEREP MINGGAH 4 LARAS PELOG PATHET BARANG,SAJIAN MRABOT : KAJIAN GARAP KENDANG
Skripsi karya seni ini berjudul Candraningsih, Gendhing Kethuk 2 Kerep Minggah 4 Laras Pelog Pathet Barang. Sajian Mrabot : Kajian Garap Kendang. Gagasan dalam skripsi karya seni ini adalah (1) bagaimana menggarap sebuah gending dengan rangkaian mrabot, dan (2) bagaimana garap kêndhangan gending dalam rangkaian mrabot. Dua permasalahan ini dikaji berdasarkan konsep garap, laya, irama, matut, dan mungguh. Data penelitian dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada sejumlah seniman karawitan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penulis mendapatkan sajian gending mrabot dengan rangkaian dari bentuk lagon, gendhing kêthuk 2 (loro) kêrêp minggah 4 (papat), ladrang, ayak-ayak, srêpêg, dan palaran. Gending garap mrabot ini terdiri dari kêndhangan ciblon sêkaran pêmatut gaya Surakarta, kêndhangan sêtunggal sléndro, ciblon sêkaran baku, ciblon sêkaran Singgêtan, kêndhang kalih ladrang tanggung, kêndhang kalih ladrang dadi gaya Yogyakarta, ciblon gambyakan gaya Nartosabdho, dan ciblon sêkaran pêmatut ayak-ayak, srepeg, palaran gaya Surakarta. Konsep garap mrabot diterapkan untuk mendapatkan ragam kêndhangan dalam satu kesatuan rangkaian gending.
Kata kunci: mrabot, kêndhangan, laya, sêkaran, matut
TANGNGÈH SAOR, KAJIAN KARYA MUSIK BARU BERTOLAK DARI MUSIK UL DAUL DALAM TRADISI MASYARAKAT PAMEKASAN
Skripsi karya seni ini berusaha mengkaji Tangngèh Saor, kajian karya musik baru yang bertolak dari musik Ul Daul dalam tradisi masyarakat Pamekasan. Dua permasalahan yang diajukan dalam skripsi karya seni ini adalah: (1) Bagaimana cara agar musik Ul Daul dapat dikenal di daerah perkotaan? (2) Bagaimana spirit kebersamaan masyarakat Madura dapat memelihara persaudaraan dalam konteks pertemanan. Dua permasalahan ini dikaji berdasarkan kaidah-kaidah musikal Ul Daul, Teori Produk Kreativitas Yasraf Amir Pilliang, Teori Kreativitas Mihalyi Csikszentmihalyi, Konsep Garap Ekspresi Johan dalam buku Psikologi Musik. Data-data penelitian dikumpulkan melalui observasi, studi pustaka, dan wawancara kepada pelaku musik Ul Daul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik Ul Daul merupakan musik yang berasal dan berkembang di Kabupaten Pamekasan. Pada awal kemunculannya merupakan musik patrol yang biasanya membangunkan warga kampung untuk melakukan kegiatan makan sahur pada bulan Ramadhan. Seiring dengan perkembangan jaman, musik Ul Daul tetap bertahan sebagai musik yang fleksibel sehingga dapat dikategorikan ke dalam musik populer di kalangan masyarakat Pamekasan secara khusus dan masyarakat Madura secara luas. Spirit kebersamaan yang ada pada masyarakat Madura dapat dilihat dari salah satu falsafah hidup orang Madura yang berbunyi:” Sapa’ andhani, sapa’ ngarep, sapa’ tangkal, sapa’ trung yang berarti semangat untuk saling menyapa, saling mendukung, saling membela dan saling menguatkan antar sesama anggota masyarakat Madura. Hal tersebut dapat dimaknai sebagai spirit mempertahankan identitas sebagai orang Madura dan dapat ditinjau dari sajian musikalitas pada musik Ul Daul baik dari segi karakteristik tabuhan dengan suasana semangat yang ditunjukkan oleh para pemusik dalam satu kesatuan sajian musik Ul Daul yang ditunjukkan dengan teknik tabuhan rampak, unisono, irama yang mengalami prinsip pertumbuhan serta tempo yang dinamis.
Kata Kunci: Tangngèh Saor, musik Ul Daul, Karya musik bar