7065 research outputs found
Sort by
Wanci Ratri: Catatan-Catatan Tentang Bambang Sukmo Pribadi
Wanci Ratri, adalah tembang yang diciptakan
Bambang Sukmo Pribadi. Tembang ini dimainkan dalam
laras slendro, berisi tentang lamunan, pertarungan batin
antara; rasa dan rasio, perasaan dan logika, tentang sebuah
perjalanan hidup, dan pilihan-pilihan yang menyertainya.
Wanci Ratri sekaligus menjadi judul besar dalam buku ini,
untuk mengisahkan sebuah mimpi, angan, dan cita-cita indah
tentang tumbuhnya keilmuan karawitan Jawatimuran di
masa mendatang. Dengan demikian, tidak berlebihan apabila
dalam konteks buku ini, kata Wanci Ratri sekaligus menjadi
benang merah, menghubungkan gagasan antara satu penulis
dengan penulis lainnya. Sebuah upaya dalam merajut bingkai
“kajian” dan “wacana” karawitan Jawatimuran lewat tubuh dan
pemikiran Bambang Sukmo Pribadi
KONSEP IDENTITAS PEREMPUAN BARU PADA KARAKTER HEROINE
Heroine merupakan karakter fiksi yang menjadi representasi kecantikan dan citra ideal kaum perempuan di seluruh dunia. Citra yang ada pada heroine merupakan gejala kapitalisme dan menjadi wacana dalam merekontruksi identitas perempuan agar dapat diterima secara global serta meningkatkan penjualan produk-produk yang menggunakan citra mereka sebagai heroine. Representasi perempuan dalam karakter heroine bukan sekedar mengenai citra yang diidealkan namun juga representasi ideologi posfeminisme serta politik identitas yang ada pada dunia perfilman dan desain komunikasi visual. Tujuan Penelitian ini adalah menjelaskan konsep perempuan baru dari karakter heroine yang muncul di film Hollywood dan Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kajian kualitatif interdisiplin yaitu dengan menggunakan lintas teori yang meliputi teori hipersemiotika (Yasraf Amir Piliang), posfeminisme (Ann Brooks & Gadis Arivia) dan teori media (John Fiske). Penelitian ini menggunakan model
analisis konten serta menghasilkan temuan baru mengenai konsep identitas “perempuan baru” yang berkaitan dengan representasi ras, kelas, femininitas dan seksualitas ada dalam karakter heroine. Penelitian ini menemukan adanya hubungan antara karakter heroine, teori hipersemiotika dan ideologi posfeminisme (relasi antar teks) yang bersifat
dekontruksi (intertekstual dekontruksi). Penelitian ini juga menemukan konsep perempuan baru yang merupakan bagian dari nilai-nilai posfeminisme yaitu penggabungan sifat-sifat superior dari feminitas dan maskulinitas
Perang Tiket, Musik, dan Gimik
Penjualan tiket daring diniatkan mereduksi tubuh untuk tak berkerumun, tidak capek, siapa saja dapat memesan dari manapun. Namun, ternyata terjadi monopoli pembelian tiket oleh kalangan tertentu, terutama jastip. Jastip memiliki banyak sumber daya manusia yang secara khusus dipersiapkan untuk memburu tiket, bertarung dengan penggemar senyatanya. Jumlahnya banyak, dengan perangkat teknologi mumpuni, tentu akan mengalahkan penggemar sejati yang sekadar berbekal telepon pintar dengan sinyal kembang kempis di pojok kampung. Selain itu, terjadi histeria perang tiket, pamer di medsos atas keberhasilan mendapatkan tiket. Menghalalkan segala cara termasuk melalui pinjaman, urgensi menonton konser musik menjungkirbalikan logika ekonomi. Kiranya perlu dibangun ekosistem penjualan tiket yang ideal
STUDI GAYA INTERIOR BATIK KERIS HERIATGE PADA OMAH LOWO DI SURAKARTA
Studi Gaya Interior Batik Keris Heritage pada Omah lowo Di Surakarta penelitian yang mencoba mengidentifikasikan unsur-unsur visual tentang gaya interior yang terdapat pada Batik Keris Heriatge. Berdasarkan tujuan tersebut, maka digunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan desain interior. Meskipun Interior Batik Keris Heritage telah mengalami berbagai perubahan dan pergeseran fungsi ruang, setiap ruang tetap mempertahankan gaya interior yang melekat di dalamnya. Hasil dari penelitian interior Batik Keris Heritage/Omah Lowo memiliki gaya interior Kolonial. Gaya Kolonial yang dominan di berbagai sudut interior dan Arsitekturnya yang nampak menjadi pusat perhatian merupakan usaha dari pemilik untuk menunjukan bahwa bangunan yang dulunya dianggap menyeramkan kini menjadi bangunan nan megah dan cantik, sekarang menjadi salah satu destinasi tujuan wisata kota Surakarta, berganti nama menjadi Batik Keris Heritage.
Kata Kunci: Batik Keris Heritage, Gaya Kolonial, Gaya Interior,
Omah Lowo, Galeri Bati
KENDHANGAN LADRANG IRAMA TANGGUNG NARTASABDAN PEMBENTUK KARAKTERISTIK GENDING SEMARANGAN
Penelitian yang berjudul “Kendhangan Ladrang Irama Tanggung
Nartasabdan Pembentuk Karakteristik Gending Semarangan” ini adalah
mengupas tentang pola-pola kendhangan Nartasabda sehingga menjadi
penciri gending Semarangan. Permasalahan yang muncul adalah
bagaimana ragam garap kendang kalih irama tanggung? Apa faktor
pembentuk karakteristik gending Semarangan? Bagaiamana ukuran ideal
dalam menyajikan gending Semarangan? Permasalahan ini dikupas
dengan menggunakan empat teori, 1. Garap oleh Rahayu Supanggah, 2.
Kreativitas oleh Stenberg, 3. Karakteristik Musik oleh E.A. Estrella, dan 4.
Rasa oleh Marc Benamou. Metode pengumpulan data melalui tiga tahap,
studi pustaka, observasi, dan wawancara.
Hasil penelitian ini adalah ditemukan bahwa pola kendang kalih
irama tanggung yang menjadi penciri gending Semarangan yaitu; pola
kendhangan congklangan, pola kendhangan ketipungan, pola kendhangan
gagahan, pola kendhangan semi jaipongan, dan pola ketipungan nartasabdan.
Ditemukan juga faktor pembentuk karakteristik gending Semarangan
yaitu; irama dan laya, garap ricikan, dan garap vokal. Tabuhan dari ricikanricikan
ini merupakan penggabungan dari tabuhan karawitan gaya lain,
seperti gaya Yogyakarta, Banyumas, Surakarta, dan Jawa Timur.
Nartasabda berhasil mengemas tabuhan-tabuhan tersebut menjadi satu dan
diterapkan dalam sajian gending-gending ciptaan Nartasabda. Kreativitas
seorang Narta selain membuat pola kendhangan juga ditunjukkan dalam
membuat gérongan pada gending-gending tradisi yang sudah ada
maupun dalam gending ciptaan sendiri.
Dalam sajian gending Semarangan ditemukan rasa sigrak, prenès, dan
gobyog, karena didukung oleh gérong, keplok dan alok Ukuran ideal dalam
sajian gending gending Semarangan antara lain; kondisi gamelan
memadai, bahan perunggu pelarasan baik. Materi garap terbatas pada
bentuk ladrang, seniman penggarap profesional, prabot garap dinamika
dan laya terpenuhi. Pada akhirnya gending Semarangan ini memiliki nilai
ix
guna yang cukup tinggi karena banyak dikonsumsi oleh masyarakat seni
maupun masyarakat pengguna seni
PROSES PENCIPTAAN TARI KUMOLO BUMI KARYA RURY NOSTALGIA
Penelitian dengan judul “Proses Penciptaan Tari Kumolo Bumi Karya Rury Nostalgia” dilatar belakangi dari keterlibatan peneliti dalam proses penciptaan. Fokus dari penelitian ini adalah mengenai bentu, garap, dan proses penciptaan Tari Kumolo Bumi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis, Tahapan yang dilakukan adalah pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan studi pustaka. Untuk menganalisis garap tari peneliti menggunakan teori garap menurut Rahayu Supanggah, untuk menganalisis struktur serta elemen-elemen koreografi peneliti menggunakan teori bentuk dalam Kajian Tari Teks dan Konteks menurut Sumandiyo Hadi, dan untuk menganalisis proses penciptaan, penelitian ini menggunakan teori yang diungkapkan oleh Sumandyo Hadi dalam buku Aspek-aspek Koreografi Kelompok.
Hasil dari penelitian ini merupakan deskripsi dari bentuk, garap, dan proses penciptaan. Bentuk Tari Kumolo Bumi memiliki struktur lima adegan. Elemen-elemen yang terdapat di dalam tarian ini meliputi judul tari, tema tari, tipe atau jenis tari, jumlah penari dan jenis kelamin, mode atau cara penyajian, gerak tari, musik tari, tata rias dan busana, tata cahaya atau lighting, properti. Garap dalam Tari Kumolo Bumi meliputi materi garap, penggarapan, sarana garap, prabot dan piranti garap, penentu garap, dan pertimbangan garap. Sedangkan proses penciptaanya meliputi tahap persiapan, tahap proses penciptaan,dan tahap persiapan penyajian.
Kata Kunci: Tari Kumolo Bumi,Bentuk, Garap, Proses
KETANGGUHAN MASYARAKAT NGLAROH DALAM KARYA TARI BANDOL NGROMPOL
Karya Tari Bandol Ngrompol merupakan tari garapan baru yang
disusun oleh Aisyah Uyi Sista Pusdyatara dan ditarikan secara
berkelompok pada tahun 2022.
Karya Tari Bandol Ngrompol terinspirasi dari cerita rakyat
dilingkungan masyarakat daerah Nglaroh tentang sifat dan karakteristik
masyarkat tersebut pada masa kepemimpinan Raden Mas Said saat
melawan penjajah Belanda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan bentuk Karya Tari Bandol Ngrompol serta proses yang
dilalu koreografer pada saat penciptaan tari. Teori yang digunakan yaitu
teori bentuk oleh Slamet MD. Landasan pemikiran tentang proses
penciptaan oleh Alma M. Hawkins dengan beberapa tahapan yang
meliputi eksplorasi, improvisasi dan komposisi.
Hasil dari penelitian dalam Karya Tari Bandol Ngrompol ini
menunjukan bahwa bentuk dalam karya ini merupakan tari kelompok
dengan tema persatuan, ketangguhan dan perjuangan. Struktur sajian
karya tari ini terdiri dari intro dengan suasana tegang dan sedih, adegan 1
suasanan tenang, adegan 2 suasana ceria dan energik, dan adegan 3 dengan
suasanan tegang dan mencengkam. Proses penciptaan karya tari ini melalui
beberapa tahapan, seperti eksplorasi, improvisas dan komposisi.
Penciptaan karya tari ini memberi pesan kepada generasi muda bahwa
masyarakat Nglaroh adalah masyarakat yang kuat, tangguh dan saling
bergotong royong.
Kata Kunci : Tangguh, Bandol Ngrompol, Bentuk, Proses
GARAP KARAWITAN WAYANG ORANG NGESTI PANDOWO SEMARANG DALAM LAKON SEMBADRA LARUNG
Tesis ini berjudul Garap Karawitan Wayang Orang Ngesti Pandowo
Dalam Lakon Sembadra Larung. Tesis ini bertujuan untuk menganalisis garap
dari kelompok wayang orang Ngesti Pandowo, sebuah kelompok yang
memiliki nama besar di kalangan wayang orang. Berangkat dari melihat
kekhasan garap pada pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo yang
mana membuatnya terkenal dan menjadi salah satu kiblat pertunjukan
wayang orang, terdapat sistem yang unik dalam penggarapan gendingnya.
Nama Ngesti Pandowo juga terkenal lekat dengan Nartasabda, seorang
tokoh karawitan yang dikenal dengan karya fenomenalnya. Dalam tulisan
ini, penulis menganalisis bagaimana aplikasi garap pada karawitan wayang
orang Ngesti Pandowo, kreativitas Nartasabda sebagai pencetus garap dan
melihat faktor yang mendasari kegiatan garap tersebut. Dengan sampel lakon
Sembadra Larung, penulis menggunakan konsep garap Supanggah untuk
membedah pengaplikasian garapnya. Konsep kreativitas Rhodes digunakan
dalam melihat kreativitas Nartasabda. Wawancara dilakukan dalam melihat
faktor-faktor penggarapannya. Studi pustaka, observasi, dan wawancara
dilakukan sebagai cara mengumpulkan data.
Hasil menunjukkan bahwa Ngesti Pandowo adalah kelompok yang
berinovasi dalam merangkai garap paket khusus, yang disebut blangkon
gendhing. Lakon Sembadra Larung adalah salah satu contoh produk asli
Ngesti Pandowo. Hasil garap tersebut telah dibakukan dan digunakan turun
temurun sebagai garap khas Ngesti Pandowo. Kreativitas Nartasabda dalam
penggarapan karawitan Wayang Orang Ngesti Pandowo adalah meramu
sajian lakon dengan garap karawitan yang beragam sesuai dengan kondisi
penontonnya. Produk berupa blangkon gendhing, garap santiswaran, adaptasi
langendriyan, dan gaya Nartasabdan, merupakan gambaran kreativitasnya
dalam meramu sajian Sembadra Larung. Faktor hiburan dan bisnis adalah
faktor yang mendasari penerapan garap. Garap blangkon gendhing
memudahkan pelaksanaan garap dan menciptakan identitas bagi Ngesti
Pandowo, sehingga dapat menjangkau penonton dengan baik. Ngesti
Pandowo juga menerapkan peremajaan garap disesuaikan dengan situasi
zaman. Penggarapan gaya baru dilakukan dengan tidak mengubah bagian
blangkon gendhing yang sudah terbentuk sebagai identitas Ngesti Pandowo
PITUTUR LUHUR: TRANFORMASI DAN EKSPRESINYA DALAM BATIK SAMIN SUROSENTIKO BOJONEGORO
Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan eksplorasi, ekspresi, dan kontekstualisasi Pitutur Luhur Samin Surosentiko Bojonegoro. Pitutur Luhur merupakan ajaran kebaikan yang diyakini oleh masyarakat Samin. Ajaran ini disampaikan secara lisan dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Proses pewarisan secara lisan memiliki keterbatasan dalam ingatan memori. Namun pada jalur yang lain, proses pewarisan Pitutur Luhur mengalami transformasi dari bentuk verbal menjadi visual ke dalam desain motif dan kain batik Samin. Penciptaan karya ini menggunakan perspektif laku prasaja. Metode penciptaan menggunakan transformasi metaforis. Motif batik dirancang secara artistik, estetik dan filosofis sebagai transformasi nilai-nilai Pitutur Luhur dan secara kontekstual sesuai dengan kehidupan masyarakat Samin Bojonegoro. Batik Samin menjadi ekspresi simbolik dan media visual sebagai pelengkap dalam pewarisan nilai ajaran Pitutur Luhur. Penelitian menghasilkan: 1) sepuluh desain motif batik yaitu motif Obor Sewu, Kamulyan Jati, Manunggal Jati, Margo Mulyo, Margo Utomo, Margo Kinasih, Sri Kuncoro, Paseksen Luhur, Bekti Pertiwi, dan Guyub Rukun; 2) Sepuluh kain batik Samin terdiri dari satu udeng, satu selendang, dan kain jarik delapan; dan 3) Kontekstualisasi penggunaan kain batik Samin dalam kehidupan masyarakat Samin sebagai busana adat, busana ritual, maupun busana keseharian
KAJIAN MUSIKAL KOMPOSISI FANTASIA PUPUH PUCUNG SUCITA SUBUDI KARYA BUDHI NGURAH
Skripsi karya ilmiah ini berjudul “Kajian Musikal Komposisi “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi” karya Budhi Ngurah”. Penelitian ini mengungkap dua permasalahan yang berkaitan dengan proses kekaryaan “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi”, meliputi: (1) Bagaimana proses kekaryaan “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi”?; dan (2) Bagaimana peran komponis dalam mencampurkan unsur musikal dari musik Bali dan Barat pada komposisi “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi”? Dua permasalahan tersebut dikaji berdasarkan teori komposisi musik oleh Jack Jarrett dan teori musik oleh Leon Stein. Permasalahan yang bersifat auditif dan tekstual dianalisis menggunakan teori musik tradisi Bali dan teori musik barat. Penelitian ini bersifat kualitatif. Data-data dihimpun melalui studi pustaka, wawancara, dan pengamatan terhadap “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi” karya Budhi Ngurah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, bahwa proses kekaryaan “Fantasia Pupuh Pucung Sucita Subudi” tersusun melalui tiga tahap penciptaan komposisi, yaitu pengembangan gambaran emosional, pengumpulan materi musikal, dan penyusunan komposisi yang sebenarnya. Kedua, melalui kajian musikal, peran Budhi Ngurah dalam mencampurkan unsur-unsur dari musik, Bali dan Barat, adalah secara jeli melihat kesamaan dan perbedaan yang terdapat dalam keduanya, sehingga muncul ide-ide kompositoris yang selaras dan berimbang.
Kata kunci: Fantasia, pupuh, orkes gesek, musik Bali