7065 research outputs found
Sort by
PROSESI UPACARA ADAT CEPROTAN SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK UNTUK BUSANA CASUAL
Prosesi upacara adat ceprotan di Desa Sekar Kabupaten Pacitan merupakan
tradisi yang dilaksanakan setiap tahun. Tradisi ini memiliki keunikan dan
mengandung banyak nilai budaya, nilai sosial, nilai kesenian bahkan nilai
ekonomi. Tugas akhir karya ini bertujuan untuk mendiskripsikan gagasan dan
menciptakan busana casual dengan menerapkan motif prosesi upacara adat
ceprotan sebagai ide dasar dalam penciptaan karya dengan pendekatan estetik.
Ruang lingkup pada prosesi upacara adat ceprotan menimbulkan gagasan untuk
dikembangkan ke dalam penciptaan motif batik tulis. Proses penciptaan karya
dimulai dari tahap eksplorasi, yakni menyaksikan secara langsung prosesi upacara
adat ceprotan yang kemudian dituangkan pada tahap perancangan desain alternatif
untuk dipilih sebagai motif batik yang akan diaplikasikan pada busana casual.
Tahap yang terakhir adalah tahap perwujudan, dalam proses ini diawali dari
membuat pola busana, mencanting, mewarna kain, pelorodan, memprodo,
menjahit hingga finishing. Teknik yang digunakan dalam proses penciptaan karya
adalah teknik colet dan usap. Bahan dan alat yang digunakan adalah lilin, canting,
remasol, kain katun sutra, kain lurik, kain broklat dan kain organza. Hasil karya
berjumlah 5 busana. Masing-masing karya diberi judul sesuai dengan prosesi nya,
yakni karya 1 dengan judul Balangan Cengkir, karya 2 dengan judul Kirab
Panjang Ilang, karya 3 dengan judul Tabur Sekar, karya 4 dengan judul Arakarakan Jolen, dan karya 5 dengan judul Arak-arakan Cengkir. Perancangan ini
menghasilkan sebuah inovasi untuk melestarik
PENYUTRADARAAN NASKAH DALAM BAYANGANTUHAN ATAWA INTROGASI I KARYA ARIFIN C. NOER
Deskripsi karya seni Penyutradaan Naskah Dalam Bayangan Tuhan atawa Introgasi I karya Arifin C Noer ini berusaha mendeskripsikan dan menganalisis naskah tersebut dalam sudut pandang penyutradaraan. Penyaji mencoba mengangkat permasalahan keinginan dan kebutuhan yang dapat dijabarkan melalui teori dominasi simbolik dari Pierre Bourdieu.
Skripsi karya seni ini menganalisis struktur dramatik dan mendeskripsikan permasalahan dominasi simbolik pada naskah yang nantinya akan dipentaskan dalam pertunjukan teater dengan gaya surealis. Dalam metode penciptannya memerlukan beberapa tahapan, yaitu tahap mencari-cari, pengembangan, dan pemantapan
KREATIVITAS PURBO ASMORO DALAM SAJIAN PAKELIRAN WAYANG KULIT DI ERA PANDEMI COVID-19 STUDI KASUS LAKON TAMBA TEKA LARA LUNGA
Penelitian dengan judul “Kreativitas Purbo Asmoro dalam Sajian Pakeliran Wayang Kulit di Era Pandemi Covid-19 Studi Kasus Lakon Tamba Teka Lara Lunga” ini bertujuan untuk menjawab permasalahan tentang: (1) Bagaimanakah tinjauan umum dan struktur dramatik lakon Tamba Teka Lara Lunga sajian Purbo Asmoro? (2) Bagaimana kreativitas Purbo Asmoro dalam menggarap lakon Tamba Teka Lara Lunga di era pandemi Covid-19? Untuk menjawab permasalahan tersebut, digunakan pendekatan yang berdasarkan konsep kreativitas menurut Rhodes dalam tulisan Utami Munandar yang berjudul “Kreativitas dan Keberbakatan Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat”. Kreativitas Purbo Asmoro dijelaskan menggunakan teori Rhodes yang dikutip oleh Munandar dengan konsep 4p yaitu pribadi (person), pendorong (press), proses process), produk (product). Sumber data penelitian adalah rekaman audiovisual dari lakon Tamba Teka Lara Lunga sajian Purbo Asmoro di tahun 2021. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan data diperoleh dari wawancara, studi pustaka, dan analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kreativitas dapat dilihat dari kemampuan Purbo Asmoro merealisasikan ide gagasan dan mengimplementasikan pengalamannya ke dalam karya lakon Tamba Teka Lara Lunga, lakon tersebut merupakan lakon baru yang terinspirasi dari peristiwa pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun 2020 sampai 2022an. Purbo Asmoro dalam penggarapan karya lakon Tamba Teka Lara Lunga tidak terlepas dari unsur 4p, seperti pengalaman, keahlian dalang, faktor eksternal, dan faktor internal
FUNGSI TARI GANDAI PELITO SANGGAR BUKIT SANGGUL PINANG BELAPIS DI KECAMATAN MARGA SAKTI SEBELAT BENGKULU UTARA
Penelitian dengan judul “Fungsi Tari Gandai Pelito Sanggar Bukit Sanggul Pinang Belapis di Kecamatan Marga Sakti Sebelat Kabupaten Bengkulu Utara” dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis pada properti yang digunakan dan juga intensitas pertunjukan dalam kehidupan masyarakat suku Pekal khususnya di Desa Suka Merindu. Fokus penelitian ini adalah mengenai bentuk dan fungsi tari Gandai Pelito dalam masyarakat. Pengkajian masalah menggunakan beberapa teori di antaranya: Teori bentuk oleh Suzanne K. Langer dan juga elemen tari Soedarsono serta Teori Fungsi primer dan sekunder Soedarsono. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan bentuk deskriptif analisis. Data yang digunakan adalah data lapangan dan data tertulis, kemudian dideskripsikan sesuai fakta-fakta di lapangan. Tahap penelitian yang dilakukan adalah tahap pengumpulan data yang meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka, dilanjutkan pada tahap analisis data. Hasil penelitian ini dapat diperoleh gambaran yang berkaitan dengan bentuk dan fungsi tari Gandai Pelito yang hidup di masyarakat suku Pekal Desa Suka Merindu Kecamatan Marga Sakti Sebelat. Bentuk tari Gandai Pelito memiliki tiga struktur di dalamnya yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir. Tari Gandai Pelito termasuk dalam kategori tari tradisi adat suku Pekal. Tidak terlepas dari elemen-elemen yang membentuknya dan saling bergelayutan seperti gerak tari, desain lantai, musik, tema, rias dan kostum, tempat pertunjukan, dan properti. Fungsi tari Gandai Pelito terbagi menjadi dua yaitu, fungsi primer dan fungsi sekunder. Fungsi primer berupa sarana ritual pernikahan adat suku Pekal, hiburan pribadi bagi penari dan masyarakat sekitar, serta presentasi estetis pada acaraacara penyambutan tamu. Sedangkan fungsi sekunder tari Gandai Pelito yaitu berfungsi sebagai pengikat kebersamaan antar warga Suka Merindu yang hadir dan berpartisipasi dalam pertunjukan, dan menjadi lahan penghasilan tambahan bagi seniman dan masyarakat sekitar dengan menjual barang dagangan yang bermacam-macam
PERUBAHAN BENTUK TARI TAYUB KELOMPOK WARTI CS DI DESA KROPAK KECAMATAN WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN
PERUBAHAN BENTUK TARI TAYUB KELOMPOK WARTI CS DI DESA KROPAK, KECAMATAN WIROSARI, KABUPATEN GROBOGAN, (Mella Elyana, 2023). Skripsi Program Studi S1, Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Surakarta. Tari Tayub adalah salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dan berkembang dengan subur di Kabupaten Grobogan. Tari Tayub merupakan tari pergaulan yang banyak diminati oleh masyarakat baik di desa maupun kota, biasa dipertunjukkan dalam acara-acara sedekah bumi, hajat perkawinan, pelepas nadzar, khitanan, dan syukuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perubahan bentuk tari Tayub kelompok Warti CS yang ada di Kabupaten Grobogan, dan bagaimana faktor pendukung perubahannya. Penelitian ini menggunakan landasan teori bentuk fisik, oleh Sri Rochana Widyastutieningrum dan perubahan bentuk, digunakan konsep TOR (Tantangan Organisme Respons) dari Slamet MD. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis berdasarkan data lapangan, dan teknik yang digunakan yaitu observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perubahan bentuk tari Tayub, tampak pada unsur gerak, karawitan, rias, dan busana. Perubahan bentuk tari Tayub dilakukan sebagai upaya pengembangan, terlihat lebih tertata dan lebih menarik, baik dari segi sajian pertunjukan, gerak, karawitan, maupun rias dan busananya. Penambahan cucuk lampah dalam pertunjukan tari Tayub diharapkan memberi kesan baru yaitu bertugas mengantarkan atau mengiring Larasati untuk naik ke atas panggung, pada kenyataannya menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Disebabkan oleh perilaku cucuk lampah yang tidak sesuai etika yaitu menggendong, mencolek, mencubit dan mencium Larasati. Faktor-faktor pendukung perubahan tari Tayub yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi kreativitas seniman dan regenerasi seniman tari Tayub (Larasati, pengarih, dan pengrawit). Faktor eksternal yaitu kondisi sosial budaya masyarakat dan pembinaan pemerintah
TRANSFORMASI MUSIK PATROL DI KABUPATEN JEMBER Studi Kasus Grup Patrol Bhâkoh Kêrrêng Rampak Pandhalungan dan Jember Putra Percussion
Musik Patrol merupakan ensembel musik perkusi berbentuk kentongan yang terbuat dari kayu atau bambu. Kesenian ini memiliki keterkaitan dengan kesenian perkusi yang berkembang di Madura yakni tongtong atau dhungdhung. Di Jember, ensembel kentongan ini mayoritas menggunakan kayu sebagai bahan alat musiknya. Kemunculan ensembel kentongan/musik patrol di Jember diawali dari inovasi Misnawar dalam mencari kemungkinan-kemungkinan bunyi dan komposisi baru melalui beberapa tong-tong/kentongan kecil yang sebelumnya digunakan sebagai musik pengiring tradisi totta’an merpati atau kerapan sapi.
Pada perkembangan selanjutnya, musik patrol di Jember telah mengalami berbagai perubahan dan penyesuaian serta mencari bentuk terbaiknya sebagai upaya menjawab tantangan zaman yang terus bergeser ke arah kemajuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perubahan-perubahan dalam musik patrol yang terakumulasi menjadi sebuah transformasi baik secara musikal maupun non-musikal melalui dua grup patrol yang representatif yakni Jember Putra Percussion dan Bhâkoh Kêrrêng Rampak Pandhalungan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif.
Melalui teori transformasi yang ditawarkan oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra, ditemukan bahwa proses perubahan musik patrol di Jember tidak terjadi secara keseluruhan (total), namun terjadi secara parsial yakni musikal, bentuk fisik instrumen dan fungsinya.
Hasil penelitian menunjukan bahwa musik patrol di Kabupaten Jember telah mengalami transformasi yang progresif baik dari segi musikal maupun non-musikal. Transformasi tersebut dapat dilihat dari hasil proses kreatif dan inovatif yang dilakukan oleh grup musik patrol Jember Putra Percussion dan Bhâkoh Kêrrêng Rampak Pandhalungan dalam setiap komposisi dan aransemen musik yang dihadirkan
PERANCANGAN INTERIOR PONOROGO CREATIVE HUB DENGAN MENERAPKAN KONSEP SUSTAINABLE DESIGN
PERANCANGAN INTERIOR PONOROGO CREATIVE HUB DENGAN
MENERAPKAN KONSEP SUSTAINABLE DESIGN (Tafta Gilang Pratama,
2023, xxv dan 385 halaman). Tugas Akhir Karya S-1 Program Studi Desain
Interior, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia
Surakarta.
Ponorogo merupakan salah satu kota dengan perkuatan ekonomi dibidang
kerajinan, khsusnya aksesoris. Dengan menjadikan reyog sebagai nilai jual,
mengahsilkan banyak aksesoris turunan yang mampu menghidupi
masyarakatnya. Modal, bahan baku, dan tenaga kerja menjadi permasalahan
utama dalam keberlangsungan produk-produk tersebut. Selain itu faktor
eksternal yang juga menjadi penghambat berkembangnya produk adalah
pemasaran, sosialisasi, pelatihan, dan kurang tereksposnya komunitas.
Perancangan interior Ponorogo Creative Hub diharapkan menjadi ruang publik
yang mengkoneksikan antara publik dengan komunitas untuk menemukan
jejaring baru dengan output menghasilkan inovasi produk. Kehadiran Ponorogo
Creative Hub ini sekaligus menjadi motorik penggerak sebagai upaya
meningkatkan pertumbuhan ekonomi di bidang kerajinan. Ponorogo Creative
Hub mengakomodir beragam kegiatan melalui fasilitas ruang seperti working
space untuk salaing terkoneksi dan berkolaborasi, workshop dan beberapa studio
untuk pelatihan dengan output inovasi pruduk, ruang rapat untuk diskusi intensif,
auditorium untuk kegiatan seminar, area komunitas dan mini library, ritel, kafe,
hingga area bermain di lantai 2.
Interior Ponorogo Creative Hub dirancang dengan memperhatikan fungsi,
ergonomi, estetika, sosiologi, teknis, dan sosiologi untuk menunjang kebutuhan
dan aktivitas ruang. Metode pemrograman Kurtz dipakai dalam tahapan
perancangan dimana dosen pembimbing selaku klien memberikan masukan
kepada penulis. Perancangan interior Ponorogo Creative Hub ini mengambil ide
dasar tari reyog dipadukan dengan gaya postmodern yang dianggap selaras
dengan ide dasar sebagai visualisasi desain. Konsep sustainable design
dihadirkan melalui banyaknya bukaan pada bengunan dan penggunaan beberapa
material daur sebagai elemen pengisi ruang.
Kata kunci: Ponorogo, Interior, Creative Hub, Sustanable Design
PENERIMAAN MASYARAKAT USIA LANJUT PADA PROGRAM REYUNIAN INEWS TV SEBAGAI SARANA MEMBANGUN INTERAKSI SOSIAL
PENERIMAAN MASYARAKAT USIA LANJUT PADA PROGRAM TELEVISI REYUNIAN INEWS TV SEBAGAI SARANA MEMBANGUN INTERAKSI SOSIAL.
(Desi Putri Puspa Sari, 2022) Skripsi S-1 prodi Film dan Televisi, Jurusan Seni media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penelitian ini berawal dari hadirnya masyarakat usia lanjut yang terus mengalami penurunan pada intensitas kegiatannya bahkan pola pikir ingatannya dan juga mempengaruhi pada interaksi mereka. Masyarakat usia lanjut masih menjunjung tinggi media televisi sebagai pusat informasi dan hiburan serta intensitas. Mereka juga sangat mengenal dengan nostalgia seperti musik-musik era 80 hingga 90-an. Pengamatan awal juga bermula dari masyarakat usia lanjut yang melihat program televisi Reyunian dengan menghadirkan musik nostalgia melalui musik-musik era 80 hingga 90-an. Masyarakat kelompok senam Prolanis terpilih menjadi informan karena sebagian dari mereka memiliki pengalaman menonton televisi dan mempunyai porsi jam menonton yang cukup tinggi. Kemudian penelitian ini mencoba menggali bagaimana penerimaan masyarakat usia lanjut pada program televisi Reyunian sebagai sarana membangun interaksi sosial. Skripsi ini menggunakan metode kualitatif. Dalam memahami penerimaan masyarakat terhadap program acara tersebut digunakan reception analysis. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayak menerima isi pesan yang disampaikan oleh media. Teknik pengumpulan data menggunakan Observasi, Wawancara secara mendalam (indepth interview) dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat usia lanjut yang tergabung dalam senam Prolanis pada program Reyunian sebagai sarana membangun interaksi sosial berada pada posisi Dominant dan Oppositional. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor yang menimbulkan adanya interaksi pada masyarakat usia lanjut seperti latar belakang sosial, pekerjaan, usia, jenis kelamin, pendidikan dan lingkungan sosial.
Kata Kunci : Penerimaan, Interaksi Sosial, Reyunian, Usia Lanjut, Pengalaman Menonton
FUNGSI KOSTUM DALAM MEMBANGUN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA FILM BUMI MANUSIA
FUNGSI KOSTUM DALAM MEMBANGUN KARAKTER TOKOH UTAMA PADA FILM BUMI MANUSIA (Olivia Cholifatul Aisyah Masyitoh, 16148155, hal i-xvi dan 1-127) Skripsi S-1 Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penelitian ini berawal dari ketertarikan terhadap Film Bumi Manusia yang menghadirkan cerita tentang seorang pemuda yang berjuang untuk melawan ketidakadilan diskriminasi pada masa kolonial Belanda. Film Bumi Manusia merupakan film kolonial yang di adaptasi dari Novel karya legendaris dari pengarang kenamaan yaitu Pramoedya Ananta Toer. Salah satu kelebihan yang menonjol tentang film ini selain terletak pada ceritanya terletak juga pada kostumnya. Karena pada film Bumi Manusia masyarakat pribumi maupun Eropa, mengenakan busana yang digunakan pada tahun 1890-an hingga 1920-an. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana tata kostum dapat menciptakan 3D karakter yang terdapat pada film Bumi Manusia.Tujuannya untuk mendeskripsikan tata kostum tokoh dalam film Bumi Manusia serta 3D Karakter pada Bumi Manusia. Sedangkan untuk manfaat penelitian ini, diharapkan memberikan ilmu wawasan tentang deskripsi kostum pada film Bumi Manusia dan juga menambah referensi bagi mahasiswa dalam membuat penelitian skripsi mengenai Kostum dalam membangun 3D Karakter. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka dan wawancara. Observasi dengan cara menggunakan media pengamatan pada sumber dari file film dan buku novel dengan objek kajian kostum dan karakter tokoh. Studi Pustaka mengambil beberapa data film dari internet, melalui website resmi rumah produksi Falcon Pictures. Wawancara dalam penelitian ini menggunakan narasumber penata kostum dalam film Bumi Manusia, Retno Ratih Damayanti.Kostum tokoh yang dianalisis yakni Minke, Annelies Mellema, Nyai Ontosoroh, Robert Mellema, Robert Suurhof dan Jan Dapperste.Sekaligus mendeskripsikan karakter tokoh yang terbangun atas dasar penciptaan pemilihan kostum.
Kata kunci :kostum, 3D karakter, film, Bumi Manusia, penata kostum
VISUALISASI GERAKAN TARI BALET KLASIK “SWAN LAKE” DALAM KARYA FOTOGRAFI
Tari Balet klasik merupakan gaya balet yang paling formal, melekat pada teknik balet tradisional. Cerita Swan Lake yang sudah berusia lebih dari dua abad, namun tetap menarik sehingga masih populer hingga saat ini di seluruh dunia. Tujuan penciptaan tugas akhir karya yang berjudul Visualisasi Gerakan Tari Balet Klasik “Swan Lake” Dalam Karya Fotografi sebagai sarana pengenalan dan pembelajaran mengenai teknik serta makna-makna dan pesan yang terkandung dalam tarian balet kepada khalayak luas, khususnya nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya, dengan media seni fotografi. Swan Lake divisualisasikan ke dalam karya fotografi sesuai dengan teknik foto studio. Hasil penciptaan karya ini menyajikan karya-karya fotografi tentang tari balet Swan Lake yang menggambarkan makna dan pesan di setiap gerakan balerina, sebagai sarana untuk pemahaman dan pembelajar bagi khalayak luas.
Kata Kunci : Fotografi, Balet Klasik, Swan Lak