7065 research outputs found
Sort by
ESTETIKA BENTUK PERAHU FIBER BERCADIK DI DESA LENGKONG CILACAP
Perahu fiber bercadik di Cilacap dianggap memiliki nilai estetika. Untuk
melihat hal itu terdapat persoalan terwujudnya, persoalan elemen-elemen
bentuk, dan persoalan estetika bentuk yang utuh. Perspektif etnoart
digunakan untuk mengungkap persoalan nilai estetika dari pandangan
nelayan sendiri. Teori peristiwa perubahan produk budaya
memperlihatkan peneladanan, pembayangan, dan peniruan perahu lama
dalam konteks budaya, teknologi, dan pasar sangat berpengaruh. Teori
estetika ekspresif bersama teori sistem digunakan untuk melihat elemenelemennya
membentuk tujuan bentuk perahu dibuat. Teori semiotika
mengungkap pendekatan nilai estetika formal fokus pada tanda visual dan
verbal dalam memahami nilai estetika bentuk perahu secara utuh.
Terwujudnya bentuk perahu fiber bercadik tidak lepas dari sejarah panjang
masyarakat nelayan yang berada di wilayah ini. Elemen-elemen bentuk
perahu fiber bercadik berasal dari ekspresi kebutuhan dan keinginan
nelayan. Setiap elemen bentuk didukung prinsip-prinsip agar tujuan
pelayaran dilakukan dengan aman dan nyaman sehingga membentuk
properti perahu khas perairan laut lepas. Nilai estetika bentuk
menampilkan citra perahu tradisional. Hasil penelitian berupa nilai-nilai
estetika bentuk perahu fiber bercadik dari solusi kebutuhan praktis nelayan
yang dibentuk oleh bahan, teknik, dan tradisi budaya karena mampu
beradaptasi dengan kondisi alam, perilaku nelayan, keyakinan
masyarakatnya, sehingga bernilai fungsi praktis, ekonomi, dan estetika
KACANG TANAH SEBAGAI MOTIF HIAS PADA BILAH KERIS
Kacang tanah merupakan tanaman pangan yang mempunyai nilai ekonomi karena kandungan gizinya terutama protein dan lemak yang tinggi. Kebutuhan kacang tanah dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, diversifikasi pangan, serta meningkatnya kapasitas industri pakan dan makanan di Indonesia. Selain itu ada satu ungkapan istilah di masyarakat yang cukup menarik yaitu “kacang jangan lupa pada kulitnya”. Hal ini menunjukkan bahwa kacang tanah menyiratkan makna filosofis serta mengandung pesan penting dalam kehidupan. Penulis mengambil tumbuhan kacang tanah selain pada persoalan bentuk visualnya yang menarik, juga lebih kepada makna filosofi. Hal ini sekaligus menjadi dasar kenapa penulis ingin menjadikan bentuk kacang tanah sebagai sumber inspirasi dalam memunculkan ide gagasan dalam penciptaan karya motif tinatah yang diterapkan pada bilah keris. Rumusan masalah penciptaan karya ini menjadi dua bagian, bagaimana membuat desain keris dengan tumbuhan kacang tanah dan bagaimana mewujudkan bilah keris dengan motif hias tumbuhan kacang tanah. Metode penciptaan yang diterapkan meliputi tahap eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Proses penciptaan karya ini menggunakan kriteria penilaian bilah keris yang dirumuskan pada buku “keris jawa antara mistik dan nalar” yaitu kriteria lahiriah dan kriteria emosional. Penciptaan Tugas Akhir ini berjumlah tiga bilah keris. Pertama” Keris dhapur brojol raket oyot kacang pamor udan emas, Ke dua “ Keris dhapur brojol winih kacang pamor udan emas, dan ke tiga “Keris dhapur tilam upih lung kacang pamor udan emas”
TUMPENG MEGANA SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN MOTIF BATIK PADA BUSANA CASUAL
Tumpeng megana adalah kuliner tradisional nusantara yang disajikan pada acara syukuran kelahiran seorang bayi atau memperingati hari lahir. Penyajian tumpeng megana sebagai bentuk simbolik untuk menyampaikan maksud permohonan atau ucapan rasa syukur. Ciri-ciri tumpeng megana adalah nasi putih membentuk kerucut dan dikelilingi lauk pauk dan sayurmayur disekitar nasi dan terdapat tusukan telur, bawang merah, dan cabe diatas nasi. Nasi yang bewarna putih yang merupakan lambang kesucian dan sayurmasyur yang merupakan lambang pengharapan doa bagi kehidupan sang anak kelak, sedangkan tusukannya melambangkan kebulatan tekat yang penuh semangat dalam menghadapi tantangan dalam kehidupannya kelak. Tujuan dari penciptaan karya ini untuk memperkenalkan kembali kuliner nusantara yang hampir hilang ditengah kuliner asing yang masuk dan berkembang di Indonesia. Dituangkan kedalam wujud karya motif batik pada busana casual. Busana casual merupakan busana yang dibuat dengan mengedepankan kenyamanan si pemakai yang cocok digunakan sehari-hari dalam suasana santai. Landasan penciptaan pada proses penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan metode penciptaan dengan 3 tahapan yaitu tahap eksplorasi, tahap perancangan, dan tahap perwujudan. Desain motif yang terpilih dengan bersumber ide dari tumpeng megana diciptakan melalui teknik batik tulis dan cabut warna. Batik tulis merupakan batik yang dibuat dengan mneggunakan canting sebagai alat untuk menorehkan malam. Dalam proses pembuatan batik menggunakan pewarna remasol dan cabut warna dengan mengunakan sulfurit.
Kata kunci : Tumpeng Megana, Batik Tulis, Cabut Warna, Casua
MAKNA SIMBOL RAGAM HIAS UPUH KERAWANG GAYO DI KAMPUNG SERE KABUPATEN GAYO LUES ACEH
Kerawang Gayo merupakan identitas masyarakat Gayo. Kerawang Gayo adalah salah satu ragam motif dalam menghias kain atau membordir Kerawang Gayo. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai latar belakang upuh (kain) kerawang Gayo, makna simbol yang terdapat pada upuh Kerawang Gayo, serta mendeskripsikan tentang sejarah singkat Kabupaten Gayo Lues. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif, metode yang digunakan oleh penulis untuk mendeskripsikan terkait upuh Kerawang Gayo, mengunakan teori Ernst Cassirer dan Langer, teori digunakan untuk membedah makna dan simbol, pendekatan ragam hias dalam lingkup budaya menggunakan teori Jacob Burchardt guna mengetahui sebagai suatu proses bagaimana satu tatanan budaya. Penulis menggunakan pendekatan historis teori miliknya Aristoteles mengetahui sejarah, pendekatan estetika menggunakan teori Monroe Beardsley guna mengetahui keindahan upuh kerawang Gayo, serta teorinya Goet Poespa guna mengetahui teknik pembuatan. Sumber data diperoleh dengan teknik observasi lapangan, wawancara dengan para narasumber, mendokumentasikan segala bentuk foto baik secara langsung maupun internet
DIMENSI EDUKASI ASSILEO’ DALAM TARI GANDRANG BULO DI MAKASSAR
Ketertarikan terhadap dimensi edukasi yang tersebunyi telah melatarbelakangi terwujudnya penulisan tesis ini. Dalam hal ini, edukasi terkuat terletak pada unsur kelong (nyanyian). Kurangnya apresiasi terhadap kelong menjadikan “Assileo’” (‘menyatu’ dengan proporsional) memiliki penting dalam tari gandrang bulo. Unsur drama satire dan gerak pakakkala’ (banyolan) seringkali mendapat perhatian lebih dibandingkan kelong yang membawa pesan edukasi dan motivasi tau-riolo (orang terdahulu). Assileo’ berusaha memaparkan dimensi edukasi melalui aktivitas penghayatan/penyatuan rasa melalui penggabungan unsur-unsur secara proporsional. Sebelum mencapai Assileo’ (menyatu), konsep ini memiliki tahap beserta prosesnya seperti; A’leo’ (mencampur/memahami unsurnya masing-masing), Appasileo’ (saling menyatukan unsur), Akkaleo’ (sedang berproses), kemudian menjadi Assileo’ (menyatu).
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan edukatif dan estetika yang berusaha mengungkap dimensi edukasi dalam kelong melalui penghayatan secara estetik. Pendekatan tersebut dilakukan dengan cara menghayati sajian kelong yang disajikan secara kontras dengan bentuk drama satire dan gerak pakakkala’. Kemudian dipotret melalui pertanyaan seorang estetikawan menurut Suryajaya yang menyatakan “apa yang membuat suatu karya menjadi indah?” (Suryajaya 2016, 3). Penelitian ini mendapatkan hasil mengenai dimensi edukasi yang tersembunyi, mengetahui bentuk beserta makna unsur yang kontras pada sajiannya, dan mendapatkan makna yang tersembunyi dari hasil Assileo’ sehingga mampu menjadi landasan konseptual bagi kesenian lainnya
PENGENALAN BUDAYA SUKU SASAK MELALUI PERANCANGAN BUKU POP UP
Pengenalan budaya suku Sasak merupakan topik yang penting untuk diketahui oleh
masyarakat luas, khususnya bagi mereka yang tinggal di wilayah Nusa Tenggara
Barat. Untuk mempermudah pemahaman tentang budaya suku Sasak, kami
mengajukan rancangan buku Pop Up yang bertujuan untuk menjadikan media
pembelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak. Buku ini akan memperkenalkan
beberapa aspek budaya suku Sasak, seperti adat istiadat, tradisi, budaya dan lain
lain. Selain itu, buku ini juga akan menampilkan gambar-gambar yang menarik
serta informasi yang jelas dan mudah dipahami. Dengan demikian, kami yakin buku
POP UP ini akan menjadi media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan
bagi anak-anak dalam memahami budaya suku Sasak
AKSARA JAWA SEBAGAI MOTIF BATIK UNTUK BUSANA PENGANTIN WANITA
Penciptaan karya Tugas Akhir ini berjudul “Aksara Jawa Sebagai Motif Batik Untuk Busana Pengantin Wanita”. Pengambilan tema aksara Jawa dalam penciptaan motif batik untuk busana kebaya yaitu sebagai langkah untuk memperkenalkan dan melestarikan salah kebudayaan Indonesia melalui sebuah karya. Tujuan penciptaan karya yaitu 1. Menciptakan desain motif batik tulis yamg dengan sumber ide aksara Jawa. 2. Menciptakan desain busana yang difungsikan untuk kebaya. 3. Mengaplikasikan motif batik tulis yang bersumber ide aksara Jawa untuk kebaya. Pengumpulan data dilakukan dari studi pustaka dan studi lapangan. Penciptaan karya batik tulis menggunakan metode penciptaan seni
dari SP. Gustami yaitu eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Hasil yang didapat adalah terciptanya 4 karya motif batik dengan sumber aksara Jawa untuk busana kebaya. Masing-masing karya diberi judul sesuai dengan karakter dan
penampilannya, yakni karya 1 Puspa Nala, karya 2 Puspa Kara, karya 3 Puspa Hayu, dan karya 4 Puspa Jawi, Perancangan ini menghasilkan inovasi yaitu menciptakan motif baru dengan menggunakan aksara Jawa ke dalam bentuk seni tradisi batik dan diterapkan pada karya busana kebaya.
Kata Kunci :Aksara Jawa, Batik, Busana Kebaya
KESENIAN BANYUMASAN SEBAGAI SUMBER IDE DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS
Kesenian merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
masyarakat di Indonesia sebagai cerminan karakter masyarakatnya yang beraneka
ragam suku. Pengalaman penulis yang sering berkegiatan di dalam kegiatan
berkesenian tradisional di daerah Banyumas dan sekitarnya yang memberikan ide
bagi penulis sebagai pembuatan karya lukis dikarenakan penulis merasa bahwa
kesenian-kesenian Banyumasan sangatlah penting bagi kehidupan bermasyarakat
sebagai suatu ciri khas yang sangat perlu dijaga kelestariannya.
Penciptaan karya tugas akhir ini menggunakan tahapan-tahapan berdasarkan
landasan teori L.H Chapman tentang proses penciptaan karya, yang menyebutkan
3 tahapan penciptaan karya yaitu, 1). Upaya menemukan gagasan (inception of an
idea), 2). Menyempurnakan, mengembangkan dan memantapkan gagasan awal
(elaboration and refinement), 3). Visual dalam ke medium (tension in a medium).
Teknik yang digunakan dalam mewujudkan karya pada penciptaan karya ini
adalah dengan teknik plakat, transparan, dan cipratan. Berdasarkan konsep non
visual objek real kemudian divisualkan dengan cara dideformasi bentuknya
menyerupai karakter bentuk wayang purwa. Hasil akhir karya lukis bercorak
dekoratif dengan perwujudan bentuk objek stilasi. Dari penyusunan unsur visual
dan komposisi unsur visual dihasilkan 8 buah karya yang berjudul: Ruwat Bumi,
Ruwat Sukerta Banyumasan, Ebeg Banyumasan, Lenggeran, Kothekan Lesung,
Sintrenan, Wayang Jemblung, dan Cowong Wulan Sari Wung
FUNGSI KESENIAN BANTENGAN PAGUYUBAN NOGOSEKTI MULYO JOYO DESA BELIK KECAMATAN TRAWAS KABUPATEN MOJOKERTO
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap fungsi Kesenian Bantengan Nogosekti Mulyo Joyo Desa Belik Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto dengan merumuskan masalahnya sebagai berikut. Bagaimana konsep, bentuk dan fungsi kesenian Bantengan Paguyuban Nogosekti Mulyo Joyo di Kecamatan Trawas, Mojokerto ?. Teori yang digunakan peneliti untuk mengungkap konsep dan bentuk kesenian Bantengan Paguyuban Nogosekti Mulyo Joyo, menggunakan pandangan Maryono. Teori fungsi yang digunakan menurut pandangan Gendhon Humardani yang membagi fungsi tari berdasarkan rasa tari dan tujuan diluar tari. Metodologi penelitian bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data: observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil temuan penelitian bahwa kesenian Bantengan paguyuban Nogosekti Mulyo Joyo merupakan kesenian rakyat di desa Belik, Trawas, Mojokerto berfungsi sebagai pengungkapan kepercayaan, perasaan, nilai, pelestarian budaya, hiburan penonton dan pengisi acara resepsi
KREATIVITAS HAPSARI MUSTIKANINGRUM DALAM KARYA TARI ROBYONGAN
Penelitian ini mengungkap dua pemasalahan yang berkaitan dengan bentuk tari Robyongan dan Kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan, meliputi: (1) bagaimana bentuk tari Robyongan. (2) Bagaimana kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan. Pendeskripsian mengenai bentuk dalam tari Robyongan menggunakan teori yang dipaparkan Soedarsono. Bentuk yang dimaksud dalam sajian tari meliputi elemen-elemen yang saling berkaitan meliputi: gerak tari, desain lantai, musik atau iringan, rias dan busana, properti, waktu dan tempat pertunjukan. Untuk mengupas tentang kreativitas Hapsari Mustikaningrum dalam karya tari Robyongan menggunakan teori 4P’s Rodhes yang dikutip oleh Utami Munandar yaitu pribadi (person), pendorong (press), proses (process), produk (product). Penelitian ini bersifat kualitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi pustaka, wawancara, dan observasi terhadap tari Robyongan karya Hapsari Mustikaningrum. Hasil penelitian menujukkan : pertama, Tari Robyongan merupakan tari kreasi baru yang ditariakan berkelompok oleh tujuh orang penari perempuan. Tari Robyongan berangkat dari ide garap cerita mitos alam yang menghidupi. Gerak pada tari Robyongan merupakan hasil eksplorasi gerak tradisi Jawa Timuran dan Tulungagungan yang dikembangkan perihal unsur-unsurnya yang meliputi volume, dinamika, dan tempo. Kedua, Kreativitas Hapsari Mustikaningrum sebagai seorang koreografer pada karya tari Robyongan tidak telepas dari unsur pribadi, yang di dalamnya memuat faktor internal dan eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh keluarga, bekat, serta pengalaman. Dan faktor eksternal dilatar belakangi oleh lingkungan budaya dan pendidikan. Proses penciptaan karya tari Robyongan ini, melalui beberapa tahapan yang meliputi eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Produk karya tari Robyongan termasuk kedalam produk kreatif, karena menekankan unsur orisinalitas, kebaruan, dan kebermaknaan